Ekspedisi Krakatoa

Apa jadinya kalau anak pantai disuruh ke gunung?

Dari Jakarta ke Lampung dengan pesawat terbang, menurut saya agak-agak gimana gitu. Soalnya, Lampung dekat sekali dari Jakarta. Tinggal menyebrang Selat Sunda selama kurang lebih 2 jam sampai deh di Lampung. Memang sih dari Pelabuhan Bakauheni menuju Bandar Lampungnya masih butuh 2-3 jam lagi. Tapi, buat saya justru itulah nikmatnya. Sekarang kapal-kapal penyeberangan Selat Sunda juga sudah lebih bagus dan makin nyaman. Sementara naik pesawat hanya 40 menit, baru pasang seatbelt sudah siap-siap landing. Lebih lama menembus kemacetan menuju Bandara dan menunggu pesawatnya (itu juga kalau nggak delay)..

Namun -meski sering sekali ke Lampung- undangan dari Dinas Pariwisata Lampung bulan lalu sungguh sayang dilewatkan. Judulnya saja Festival Krakatau, dan benar saja ada agenda pendakian gunung ini. Saya penasaran sih, karena jika melintasi Selat Sunda, Pulau Anak Krakatau (yang dalam dunia internasional disebut Krakatoa) ini selalu tampak dari kejauhan. Eh, jangan salah…ini cuma anaknya saja, kalau Ibu Krakatau sudah lama almarhum sejak letusan ratusan tahun yang lalu. Kemunculan gunung-gunung kecil di seputaran Krakatau adalah proses vulkanologi yang berlangsung ratusan tahun. 

Rombongan

Jadilah saya dan beberapa blogger lain di sebuah dini hari bersiap-siap menuju Krakatau. Kami bertolak dari Pulau Sebesi, pulau berpenghuni yang terhitung paling dekat dengan Krakatau. Satu hari sebelumnya, kami sudah sampai di pulau kecil yang ditempuh kurang lebih dua jam dari Darmaga Bom, Kalianda Lampung Selatan ini.

Darmaga Bom, Kalianda

Masih terkantuk-kantuk, saya memaksakan diri untuk tetap melek, dan  tiba di kapal  semua peserta langsung mengambil posisi strategis. Niat menyaksikan sunrise dari balik jendela kapal terlewat begitu saja karena ombak yang tenang, udara yang masih dingin  dan kantuk yang luar biasa membuat saya memilih melanjutkan tidur yang tertunda.

disambut bak pejabat di Pulau Sebesi

Dan ini dia cerita anak pantai yang gunung…

Padahal nggak gunung-gunung amat ya, sebenarnya sih, karena tingginya kurang 500 meter saja. Hehehe.. Tapi bagi saya yang lebih suka pantai daripada gunung, ini adalah bonus karena gunungnya terletak di tengah pulau yang menuju kesana kita tetap harus ketemu dengan laut dan pantai. Jadi 2 in 1 kan? 

Kami tiba di Pulau Anak Krakatau tepat pukul 7 pagi. Meskipun masih ngantuk, saya cukup happy akhirnya bisa sampai di pantai lagi. Saya sudah menyiapkan sandal jepit agar ketika turun kapal, tidak perlu takut basah. Apalagi kapalnya tidak bisa berlabuh tepat di bibir pantai, jadi mau gak mau kita harus agak basah dong! Nah, yang nyebelin, ada peserta yang takut banget basah..sampai menunggu ombak dan buih lautnya surut baru berani turun dari kapal. Akibatnya, antri turun kapal pun jadi macett.. Adohh, mbak..kalo takut basah ya, jangan ke laut dong!

Sebenarnya, status pulau ini adalah areal konservasi yang dikelola oleh Badan Konservasi Sumbedaya Alam dibawah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Jadi, sama sekali bukan tempat wisata pada umumnya. Bedakan dengan Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Baluran atau Taman Nasional Bromo yang selain difungsikan sebagai habitat tumbuhan atau hewan yang dilindungi juga menjadi tujuan wisata. So, semua harus tahu dulu, nih.. Untuk mencapai lokasi ini memang diperlukan ijin. Belum lagi gunung Anak Krakatau memang masih terhitung aktif, jadi sewaktu-waktu bisa saja ada status siaga, demi keamanan para pengunjung.

Setelah mengisi perut seadanya, pendakian pun dimulai. Ciye, mendaki… padahal untuk sampai ke puncak jaraknya kurang dari 1 km saja. Pulau ini  pun sejatinya adalah lereng anak gunung krakatau, seperti perbukitan yang terjadi akibat proses vulkanologi dan menjadi titik pandang terbaik untuk melihat gugusan gunung-gunung yang terbentuk karena letusan Krakatau 1883 silam. Sejarah menyebutkan letusannya mematikan hingga 36 ribu jiwa karena tsunami yang ditimbulkan. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali  bom atom hirosima dan nagasaki. Bahkan, abu vulkaniknya membuat cuaca berubah karena menutupi atmosfer. 

Walaupun bukan seperti mendaki Rinjani, tapi tetap capek, loh! Lumayan curamnya. Tetap butuh tenaga ekstra dan berat badan seimbang untuk bisa sampai di atas. Eh, kenapa mesti seimbang, karena kalo terlau gendut, nafasnya pasti terengah-engah. Kalau terlalu kurus, takut ditiup angin.. Hehehe.. Setelah melewati hutan di kontur tanah yang masih datar, kita akan melewati lereng yang sama sekali tidak ada pepohonannya. Karena itu, disarankan kesini di pagi hari, jika menjelang siang udaranya sungguh HOT! Bisa-bisa gak sampe atas, langsung semaput!

etape awal
etape kedua

Kalau dipikir-pikir, saya lebih senang snorkeling daripada hiking. Tapi pengalaman kali ini beda banget, kapan lagi bisa sampai ke gunung Krakatau yang maha tenar itu.Untungnya, sepanjang jalan diisi dengan senda gurau bersama sahabat-sahabat blogger, lelah pun jaadi tidak terasa. Tentu pakai istirahat dengan foto-foto!

Akhirnya semua lelah terbayar, sampai juga kami di puncaknya. Sejauh mata memandang, laut kebiruan berlatar belakang gunung. Cantik sekali. Rasa malas yang tadi pagi menggelayut tiba-tiba hilang tanpa bekas. Wah, saya bersyukur sekali bisa sampai kesini. Nggak nyesel deh main ke gunung, meninggalkan pantai sekali-kali.

Finally…

***

Terima kasih untuk Pemda Prov. Lampung yang sudah memfasilitasi full kunjungan saya kesini. Namun, kalau boleh usul, mungkin untuk festival yang sama di tahun mendatang, harus lebih banyak kegiatan kreatifnya. Saya senang bisa diajak ke Pulau Sebesi dan Anak Krakatau, namun dua lokasi tersebut masih perlu banyak dibenahi agar dapat menarik lebih banyak wisatawan. 

Pulau Sebesi memang bagus, namun fasilitasnya masih minim dan jaraknya relatif jauh, masih sulit bersaing dengan pulau-pulau lain karena alamnya pun tidak terlalu istimewa. Sementara Pulau Anak Krakatau yang unik ini, terhitung daerah cagar alam, jadi wisatawan umum tidak mudah untuk masuk. Memang ini aset bagi Prov Lampung, tapi saya pribadi lebih setuju ini dijaga fungsinya sebagai cagar alam, daripada dibuka untuk umum malah dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Apalagi gunungnya masih aktif.

Kenapa ya,  tidak memperbanyak promosi wisata di dalam kota Lampung? Misalnya mengenalkan kami dengan makanan kuliner khas Lampung yang bisa jadi potensi wisata. Logikanya, gini…makin banyak orang datang ke Lampung (terutama yang naik pesawat terbang), maka mereka akan sampai duluan di Ibukota yaitu Bandar Lampung, bukan langsung menuju pulau. Kalau begitu, yang harus dipromosikan secara paralel dengan wisata bahari-nya adalah Tour De Bandar Lampung (hanya sebagai contoh). Sayang kemarin, blogger dan netizen yang jumlahnya ratusan itu tidak diberi agenda ini.

Menurut Saya, sektor pariwisata itu kini bergerak menuju kreativitas. Banyak daerah yang potensi wisata alamnya biasa saja, tapi pandai dalam kemasan sehingga menjadi menarik. Bukan hanya dalam bentuk festival yang satu dua hari selesai. Tapi kreativitas yang kontinu. Strategi pun harus disusun berdasarkan banyak pertimbangan. Saya juga percaya promosi pariwisata yang baik bukan hanya mengundang orang sebanyak-banyaknya untuk datang dan “meliput” lalu selesai. Lebih baik dilakukan oleh sekelompok orang saja tetapi secara regular, termonitor dan lebih penting lagi terukur.

Semoga saran kecil saya ini sudah banyak dilakukan oleh Provinsi Lampung! Selamat!

 

(Visited 87 times, 1 visits today)

15 Comment

  1. Setuju soal masukan perkaya kegiatan di Kota Lampung. Supaya bahan tulisan maksimal.

    1. vika says: Reply

      iyaaa…tetep harus kreatif..

  2. Bena says: Reply

    Wekawekawekawekaaaaa….
    Ka vika nggak kekurusan nggak juga kegemukan. Buktinya sampe titik aman pendakian :3

    1. vika says: Reply

      yg penting selamat dan bahagia.. :p

  3. Setuju banget sama saran Kak Vika demi kemajuan pariwisata Lampung!

  4. Irham says: Reply

    Iyaaa setuju kenapa gak memperkenalkan khas Lampungnya. Malah kita kan tertarik juga buat konten kita yaa mba. Tapi yakin naik kapal 2-2 jam “itu nikmatnya”? hahahaha

  5. betul juga sarannya… semoga bisa dibaca sama orang dinas pariwisatanya Lampung deh… hehehe…

  6. Rizka says: Reply

    Aku setuju, kenapa gak perbanyak wisata di ‘dalam’ Lampung nya saja?
    Aku setiap balik mudik, pasti lewatin Lampung dan belum pernah sekalipun ada niat untuk mampir wisata. Kayaknya di situ yg perlu digali lagi, ya.

    1. vika says: Reply

      Iyaa… ujug2 orang disuruh ke pulau yg jauhhh.. belum banyak fasilitas dan gak bagus2 amat..

  7. Jadi inget kita di Sebesi dan harus bangun jam 2 pagi. Tapi kapal berangkat jam 5 subuh. #kzl. Tapi yang penting kita bisa mencicipi titik aman Krakatau ya Mba, meski harus bersusah-susah dulu untuk sampai di atas. :))

    1. vika says: Reply

      haii apa kabaarr.. ??

  8. Anak Krakatau ini jawaban buat yang pengen naik gunung dengan view laut ya. Semuanya dapet!

  9. Daku dekat pun tak pernah mengunjungi nya

    1. vika says: Reply

      dekat pun susah keknya, kalo gak ada acara khusus..

  10. Perjalanan yang penuh perjuangan tapi seru juga ya bisa mendaki ke Gunung yang legendaris ini 🙂

Leave a Reply