Menengok Lilifuk, kolam ikan raksasa di Kupang

lilfuk5jpg

Menuju ke Kawasan Lilifuk, benar-benar seperti menonton acara TV My Trip My Adventure. Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari pusat Desa Kuanheun, jalanannya pun sudah cukup baik, tapi lumayan menantang buat yang mau kesini. Dari tepi jalan raya, masih perlu jalan kaki ke lokasi sekitar 700 meter. Kalau mau lebih cihuy bisa jalan kaki sekitar 3 km dari pusat desa.

Kontur tanah berbatu karang tajam yang harus dilewati membuat langkah pun menjadi lebih hati-hati. Di tanah gersang itu, terlihat hamparan tanaman kacang tanah dan jagung yang tidak terlalu terawat. Dua jenis tanaman ini, adalah yang paling mampu bertahan di iklim Kupang yang sangat panas.  Siang itu saja, walau masih di musim penghujan, cuacanya cukup terik. “Tapi ini cukup bersahabat, kok”, kata Pak Desa (sebutan untuk Kepala Desa) yang ikut menemani kami. Bahkan katanya ini belum apa-apa dibandingkan musim kemarau disekitar pertengahan tahun. “Saking panasnya, wajah-wajah orang sini juga bisa ikut kering”, lanjutnya sambil bercanda. Meski berpeluh keringat, langit Nusa Tenggara yang biru tanpa asap polusi dengan awan putih berarak dan pemandangan lautan di ujung mata membuat semua tetap menyenangkan.

menuju Lilifuk
menuju Lilifuk

“Panen ikan di lilifuk dilakukan dua kali dalam setahun, biasanya bulan Juni dan Desember”, ujar Pak Desa kembali. Memang, pertama kali menjejakkan kaki di desa ini, Ia sudah menawari saya dan teman-teman untuk melihat kolam Lilifuk, kebijakan lokal masyarakat Desa Kuanheun. Cerita punya cerita, ternyata Lilifuk adalah tradisi menjaga alam khususnya laut dan ikan-ikannya yang sudah dimulai sejak tahun 1940an. 

Intinya begini: Lilifuk adalah kolam air laut raksasa yang dibentuk dengan cara menutup satu kawasan laut selama 6 bulan- 1 tahun. Selama masa itu, ribuan ekor ikan dibiarkan berkembang biak bebas tanpa diganggu populasinya. Pada saat ditutup, tidak boleh dilakukan penangkapan ikan di daerah tersebut baik oleh masyarakat setempat ataupun orang luar, Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi adat seperti denda berupa uang atau hewan (babi dan kambing).

Saat panen, kolam Lilifuk dibuka satu hari penuh dimulai saat surut terjauh sekitar pukul 4 pagi. Seluruh penduduk bahkan masyarakat luar desa bisa datang untuk mengambil ikan sepuasnya. Saking banyaknya ikan, kita bahkan tidak memerlukan alat bantu yang canggih untuk menangkap ikan-ikan itu. Bijaknya lagi, masyarakat tidak diperkenankan untuk menggunakan alat tangkap yang merusak lingkungan, cukup menggunakan serok saja.

Keunikan lain, sehari sebelum panen dan saat pembukaan biasanya dilakukan upacara adat lengkap dengan doa dan tari-tarian dan penyembelihan hewan untuk  dimakan bersama-sama.

sejauh mata memandang...
sejauh mata memandang…

Wah. sebagai mantan mahasiswa kelautan  yang kenyang dicekoki ilmu-ilmu tentang perikanan, saya terkagum-kagum sendiri, ternyata masyarakat disini sudah memikirkan kelestarian alam jauh sebelum berbagai kampanye lingkungan menggempur kita.

Mereka sudah memikirkan pola konservasi yang mengedepankan kekerabatan dimana hasil panennya dinikmati bersama. Kegiatan ini juga diikuti upacara dan ritual sebagai wujud rasa spiritual yang dalam kepada Pencipta. Hmm dulu, mungkin di kuliah dulu, saya tidak belajar sampai sejauh itu. 

Ngobrol dengan Pak Desa  di tepi Lilifuk
Ngobrol dengan Pak Desa di tepi Lilifuk

Lilifuk kini sudah banyak dikenal di masyarakat NTT. Tidak heran, saat panen banyak masyarakat luar Desa Kuanheun yang datang. Desa pun mengeluarkan kebijakan retribusi bagi pengunjung yang hasilnya menjadi pemasukan desa. Sayangnya, upacara ini belum sepenuhnya menjadi atraksi wisatawan. Dari bincang-bincang dengan Kepala Desa dan Kepala Adat, mereka belum sadar bahwa local wisdom ini dapat menjadi sebuah pertunjukan yang bisa dikemas dan dijual. Padahal, jika dikelola dengan baik, ritual ini dapat menghasilkan sumber pendapatan baru bagi desa Kuanheun.

Lokasi Desa Kuanheun yang hanya sekitar 25 km atau kurang lebih 40 menit dari Kota Kupang seharusnya dapat menjadi faktor pendukung datangnya para wisatawan.  Desa ini juga memiliki potensi pantai-pantai cantik nan perawan seperti Pantai Bali dan Pantai Asem yang bisa jadi obyek wisata pendamping. 

Menuju Pantai Asem
Menuju Pantai Asem
pantai bali
Pantai Bali

Nah, saya masih penasaran untuk kembali saat panen Lilifuk di bulan Juni atau akhir tahun ini. Namun, sepertinya, Desa Kuanheun perlu binaan dan sentuhan pihak ketiga agar kebiasan baik ini lebih dikenal dunia luar dan menjadi inspirasi bagi daerah-daerah pesisir lain.  Ada yang berminat membantu?

(Visited 387 times, 1 visits today)

3 Comment

  1. cerita Menengok Lilifuk, kolam ikan raksasa di Kupang sangat menarik, unik dan menghibur.. titan gel

  2. Duh aku terlewat lokasi Lilifuk, sepertinya kebiasaan ini bisa dikemas menjadi atraksi wisata yang bisa menarik wisatawan..

    1. vika says: Reply

      banget, mas.. Indonesia memang kaya kan…

Leave a Reply