Sepotong Cerita Rindu dari Sabang


Aceh Lon Sayang, Cerita Cinta, Jalan Jalan / Tuesday, April 12th, 2016

Kembali ke Sabang bagi saya adalah kembali menyusuri harapan. Harapan yang sembilan tahun lalu pernah menemani hari-hari saya. Dulu, Sabang mungkin hanya sebuah kata yang saya dengar dari salah satu lagu wajib anak sekolah. Sabang cuma sebuah kata yang menunjukkan pangkal dari luasnya wilayah negara ini. Pesona Bahari Sabang laksana magnet yang terlalu kuat sehingga saya tidak kuasa untuk menolak panggilannya kembali,

Melewati kontur Sabang yang berkelok mengingatkan saya pada jalan menuju Pantai Senggigi di Pulau Lombok, tempat pertama kita bertemu. Saya mencoba meresapi sisa-sisa cinta yang mungkin masih membekas di tepi Pantai Iboh dan Pantai Gapang. Dulu disini kita pernah memandang temaramnya bulan dari bibir pantai berpasir putih yang landai hanya beralaskan tikar lusuh. Saat itu saya berharap ada bintang jatuh, kemudian saya ingin meminta kepada Penciptanya, agar kita bisa disini lebih lama. Membangun villa kecil di tepi Iboh dan mewujudkan mimpi saya untuk lebih banyak menulis sambil memandang laut lepas berhiaskan pohon nyiur dari jendela kamar kita. Ya, saya bosan dengan kehidupan dan hiruk pikuk Jakarta. Memandang laut lepas dengan siluet perahu nelayan dan membiarkan waktu seolah berhenti berputar adalah tujuan saya kembali kesini.

Malamnya, kita menikmati seafood yang bumbunya kamu racik sendiri sembari mendengar debur ombak yang seolah bercerita tentang kita. Obrolan malam kita selalu dilengkapi dengan meneguk nikmatnya kopi Aceh. Meskipun banyak perbedaan diantara kita, kamu sama seperti saya; penikmat kopi. Kopi itu sama seperti cinta, dia menyatukan meskipun selalu terasa getir diawal, manis akan kita rasakan di ujung hirupannya. Seperti cinta, kopi pun membuat candu, meskipun rasa pahit tak sepenuhnya hilang dari aromanya. Dan ini Aceh, si penghasil kopi kelas dunia. Namun sejatinya Ini bukan hanya tentang kopi. Ini bukan hanya tentang dimana kita menikmati kopi itu. Ini adalah cara kita berbagi cerita, cari kita berbagi rasa. Kopi adalah suara hati dan potongan rindu. Rindu kamu, rindu Aceh, rindu Sabang.

Di sebuah pagi kamu menantang untuk berenang dari Iboh menuju Rubiah yang hanya berjarak sekitar 350 meter. Gila memang… tapi itu biasa bagi turis, divers dan penikmat wisata bahari seperti kita. Bagi saya, pesona taman laut Rubiah tetap bisa dinikmati tanpa harus berenang menuju pulaunya. Teman-teman divers yang saya kenal, bahkan pernah mengatakan Rubiah adalah salah satu spot terbaik untuk diving dan snorkeling terbaik di Indonesia bahkan di dunia. Begitu banyak kegiatan wisata bahari di Sabang yang kamu ceritakan kepada Saya. Saya bahkan baru tahu, Sabang juga menawarkan kegiatan memancing di laut dalam (deep sea fishing) di dekat Pulau Rondo.

 

Mari-Rayakan-Sabang-Marine-Festival-2016-Lewat_Tulisan (1)

 

Kamu juga sempat mengajak Saya, berjalan kaki menuju Tugu KM 0. Menyusuri tepian tebing dengan pepohanan rindang. Luar biasa bahagianya saya bisa sampai di ujung terbarat Indonesia itu. Sesuatu  yang dulu mungkin cuma mimpi. Tugu itu, kini telah direnovasi menjadi lebih menarik, meskipun bentuk aslinya masih sama. Konon di Merauke, batas terujung timur Indonesia pun memiliki bentuk tugu yang seragam. Yang selalu saya ingat, kamu bahkan hapal hewan-hewan yang sudah lama berdiam di seputaran tugu itu. Sampai-sampai kamu punya nama untuk menyebut seekor monyet dan seekor babi hutan yang sepertinya sudah sangat welcome terhadap turis-turis disana. Uniknya lagi, mungkin Tugu KM 0 adalah satu-satunya tempat di Indonesia yang memberikan sertifikat kepada para pengunjungnya. Dan, nomer sertifikat saya adalah 59525. Artinya saya adalah pengunjung ke 59525 yang mendapat sertifikat dari Walikota Sabang. Cinderamata paling unik yang pernah saya dapatkan dari sebuah daerah bahari. Tidak hanya tugu, dibanding dulu hampir semua fasilitas wisata mulai dibenahi. Saya merasakan nafas wisata bahari sudah menjadi bagian seluruh penjuru Sabang. Kota kecil yang tenang, rindang, penduduk yang ramah membuat saya betah berlama-lama disini. 

Hari ini, disini, Saya duduk di batuan terujung Indonesia. Tadi malam sepertinya hujan, pepohonan disini pun masih basah. Namun Saya suka bau hujan,  seperti rasa suka saya pada kopi Aceh, pun seperti  rasa damai yang menyergap kala memandang birunya air Samudera Hindia. Merasakan indahnya negeri ini membuat saya makin bangga jadi warga nusantara. Bedanya, saat ini Saya sendiri. Sembilan tahun lalu, saya kehilangan berita tentang kamu, namun cerita sesaat kebersamaan kita akan selalu jadi cerita abadi bagi Saya. Kamu memang pergi, tapi jejak-jejak cerita kita di Sabang akan selalu jadi prasasti di hati Saya. Kapan pun dan kemana pun saya melangkah, Sabang adalah tempat kembali.

 

(Visited 414 times, 1 visits today)

7 Replies to “Sepotong Cerita Rindu dari Sabang”

Leave a Reply to Indrakurniadi Travel Blog Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *