Jam Weker

Setelah melakukan perenungan dengan seksama dan mendalam (sambil menghela nafas) saya pikir satu satunya mahluk di dunia yang paling konsisten dan selalu tepat waktu selain beduk/azan sholat adalah jam weker, ada juga yang menyebutnya jam beker. Sekarang sih, sudah lebih umum orang menggunakan alarm di telepon selular untuk menggantikan fungsi weker ini.

source: http://hendrik-online.blogspot.com/2011/04/alarm-clock.html

Coba bayangin, dia tidak pernah telat bekerja dengan berbunyi nyaring di setiap waktu yang dikehendaki oleh si empunya. Meski yang punya lebih sering mematikan lalu tidur lagi (bahkan kadang dengan marah marah), ia tidak kecewa apalagi putus asa. Besoknya di jam yang sama ia kembali melakukan aktivitas itu. Pada beberapa handphone, alarm ini bisa tetap menjerit jerit meski  waktu berbunyinya sudah habis selama pemiliknya belum memencet pilihan “dismiss”. Filosofinya, jam weker memang tidak pernah menyerah dalam bekerja, meski sudah ditolak berkali kali bahkan dimaki maki, ia tetap datang dan selalu datang. Pun tanpa disadari ia sangat dibutuhkan oleh jutaan manusia (apalagi yang tidurnya kayak kebo). Walau sering dibenci, weker ternyata juga sangat dicintai. Banyak sekali orang yang kebablasan tidurnya dan melewatkan berbagai kesempatan penting gara gara gak ada yg bangunin atau wekernya mogok (karena batereinya habis).

Ngomong ngomong soal jam weker, ketika saya masih kecil, hadiah paling berkesan yang diberikan (alm) ayah saya adalah sebuah jam weker kecil berwarna biru berbentuk rumah lengkap dengan cerobong asapnya. Jam ini tidak menggunakan baterei, tapi masih dengan sistem di-engkol (yang gitu deh, diputer puter sampe mentok puterannya). Minimal dua hari sekali harus diengkol agar mesinnnya tetap berjalan dan bekerja dengan optimal. Duh, sayang saya gak sempet mengabadikan si weker biru ini. Weker ini bahkan menemani saya hingga lulus kuliah di IPB. Jangan ditanya bunyinya, satu kost bahkan tetangga kost bisa bangun semua saking nyaringnya. Karena sudah tua, jam weker ini sudah lama pensiun dan wafat. Menyesal rasanya, karena saya tidak menyimpan jasadnya. Hiks

Mungkin sekarang penggunaan jam weker sudah sulit ditemukan. Manusia manusia modern sudah menggunakan alarm digital pada handphone-atau berbagai gadget lainnya sebagai reminder. Tapi apapun wujudnya, sejatinya mereka bersaudara. Saudara yang sama sama berjasa. Bukan hanya untuk menggantikan kokok ayam jantan (jadul dan sangat berbau pedesaan), tetapi juga mengingatkan hal hal penting dalam hidup kita yang kadang tidak semua cukup ditampung di memori otak manusia yang (semakin) terbatas. Mulai dari alarm bangun tidur, meeting, janji kencan hingga tanggal tanggal penting seperti ulang tahun sahabat, keluarga pacar atau tanggal pernikahan. Bahkan saya pernah menghadiahkan sebuah jam weker untuk seseorang yang sempat istimewa, dengan harapan kalau si weker pagi pagi bunyi, dia selalu ingat saya. Hihihhi.. Maaf, bagian ini memang agak alay. 😀

Wajar saja, kalau jam weker sebenernya bisa jadi salah satu penemuan paling penting dalam sejarah hidup manusia. Kita semua berhutang budi kepada penemunya.

 

 

(Visited 439 times, 1 visits today)

3 Comment

  1. erdent says: Reply

    yang paling menyebalkan menurut saya adalah, jika jam weker ini berbunyi ketika di hari libur hehe…

  2. Lala says: Reply

    Kalo jam weker lantai 2 dikosan itu masuk kategori apa yak?

  3. daveskywalker says: Reply

    Wkwkwk sampai hari ini gw belum bisa mematuhi weker/alarm. Tiap 1/2 5 pagi reflek mencet dismiss dalam keadaan 1/2 sadar dan baru bangun sejam kemudian dengan penuh penyesalan..mudah2an lebih bisa mematuhi weker/alarm ini besok-besok..

Leave a Reply