Tips menulis ala Jus Semangka

10511145_10153180865727679_1853704996222895639_n

Pertanyaan yang paling sering akhir-akhir ini datang ke saya adalah: Bagaimana caranya bisa menulis, gimana caranya memulai untuk menulis atau apa sih yang bisa kita tulis. Eh, ini sumpah bikin GR loh! Berasa kayak gw udah mahir banget dan keren gitu… Hahaha. Padahal mungkin mereka-temen-temen gw yang suka baca blog- ini cuma iseng doang, mau bikin eyke GR. Secara di luar sana, temen-temen saya yang lain sudah canggih-canggih sampe bikin buku bahkan nulis di harian-harian ternama ibukota. Apalah awak ini. ūüôĀ Tapi okelah, untuk menghargai mereka para fans saya itu, saya akan sedikit memberikan tips menulis,wejangan atau lebih tepatnya sharing tentang topik ini. Sama sekali saya belum merasa jago loh.., tapi ini saya anggap sebagai¬†sarana pembelajaran juga. Tarikkk mang…

Menulis itu dimulai, bukan “dipelajari”
Menurut saya sih awalnya emang agak lucu pertanyaan seperti itu. Toh, hal pertama yang diajarkan ketika kita masuk sekolah adalah membaca dan menulis. Namun ternyata menulis dengan baik, nyaman dibaca, runut dan punya isi itu, memang bukan pekerjaan mudah. Saya pun hingga kini masih terus belajar. Ini dia jawaban pertama dari pertanyaan-pertanyaan tadi: Belajar! Bagaimana cara belajarnya?! Saya percaya belajar menulis yang baik itu adalah memulainya. Bukan mempelajari teorinya. Nah loh?! Toh, sebenarnya menulis sudah jadi pekerjaan sehari-hari kita sejak jaman sekolah. Minimal banget deh kita pernah merangkai kata saat menjawab pertanyaan essay. Memulainya pun sebenarnya bisa dimana saja, apalagi saat ini ketika gadget sudah menjadi pendamping yang paling setia karena ditenteng kemana-mana. Bagi mereka yang kerja kantoran, berkomunikasi via email sebenarnya¬†bisa sebagai ajang belajar untuk mengungkapkan ide melalui tulisan. Ini susah-susah gampang sebenarnya. Oleh karena itulah saya membiasakan diri memberi laporan secara tertulis dibandingkan laporan secara lisan. Manfaatnya, selain akan punya “record” tentang pekerjaan, kita juga bisa belajar banyak menulis dari sini.

12645068_1078677352184496_3629225290308695949_n

Mulai dari ide sederhana.
Pasti banyak yang sering merasakan susahnya mencari ide menulis. Sama!! saya juga begitu. Tapi setelah sering-sering main ke tetangga, maksudnya ke blog-blog orang, ternyata banyak tulisan sederhana tapi menarik. Tidak usah dululah berpikir untuk¬†menghasilkan tulisan cerdas yang penuh dengan teori-teori keren yang¬†seolah menunjukkan tingkat intelektualitas¬†penulisnya. Terkadang banyak hal-hal di sekitar kita yang keliatan bodoh tetapi menarik untuk ditulis. Pernah baca buku-buku Raditya Dika kan? Dia sukses mengangkat cerita-cerita yang kayaknya “cemen” jadi luar biasa.¬†Idenya yang “sederhana” itu justru kena di segmen yang ia tuju. Tidak heran kalau bukunya pun laris manis. Intinya, simplicity is the best. Banyak juga yang enggan menulis karena takut salah, takut dihujat,¬†takut hantu, padahal menulis sesungguhnya¬†adalah berbagi persepsi, bukan masalah benar atau salah. ¬†Urusan benar atau salah jadi nomer enam (karena nomer 1 sampai 5 tetep Pancasila).¬†Semakin sering kita menulis, pendapat kita akan semakin berkembang, percaya diri kita pun turut meningkat. Tentu tetap dengan mengindahkan kaidah kaidah tata bahasa dan kepatutan ya, bukan menjurus ke tulisan-tulisan penyebar kebencian yang marak saat ini.

Lebih banyak membaca
Kemampuan menulis, pada dasarnya berbanding lurus dengan kekerapan membaca. Dari sering membaca, kita jadi tahu bagaimana merangkai kalimat, menyampaikan maksud dan tujuan penulisan. Sering dtemukan, banyak orang-orang pandai tapi kalau membuat kalimat panjang-panjang bahkan satu paragraf kadang hanya untuk 1 kalimat. Kebiasaan seperti ini, saya yakin karena ia jarang membaca. Repot kan kalau kita harus bolak balik membaca ulang satu kalimat, karena terlalu panjang yang ujungnya malah membuat bingung. Lebih dari itu, dari membaca, kosa kata kita akan bertambah banyak, ini akan mempengaruhi cara pemilihan kata (diksi) saat menulis, Paling penting lagi, dengan menulis, wawasan kita akan bertambah yang akan berguna banget untuk menjaring ide.

Jadi diri sendiri!
Tulisan kita sejatinya adalah jati diri kita. Banyak orang yang mencoba menggunakan cara dan gaya penulis yang sudah tenar. Yah, gak ada salahnya sih, tapi terus menerus menulis dengan cara orang akan membuat kebosanan dan kelelahan (lelah hayati, bang,,,)¬†Tidak usah berpikir¬†bahwa menulis harus sesuai pola bahasa yang baku. Tulisan itu sama seperti bahasa, kuncinya komunikatif alias nyambung dengan pembacanya. Untuk menemukan gaya masing-masing, jalan satu-satunya: mulailah menulis! Seorang teman pernah¬†bercerita, bahwa dia masih bingung mau menulis, padahal sudah ikut kursus. Balik lagi, teori is nothing tanpa praktek. Membiasakan diri menulis memang tidak mudah, tapi percayalah…kalau sudah dijalani pasti jadi candu.

Bagi saya, menulis adalah wujud eksistensi diri. Mungkin blog saya belum sepopuler mereka-para profesional blogger. Saya juga tidak terlalu peduli, tulisan-tulisan saya akan jadi hits atau tidak, nantinya akan dibaca orang atau tidak,  bagi saya menulis ibarat mencatatkan pengalaman-pengalaman hidup yang bisa jadi warisan untuk anak cucu kelak.  If you would not be forgotten as soon as you are dead, either write things worth reading or do things worth writing (Benjamin Franklin)

(Visited 386 times, 1 visits today)

5 Comment

  1. Yang paling penting sih istiqomah aja.. jadi kalo punya bakat nulis bener-bener ditelatenin, jangan cuma at the moment tertentu aja. hehe

    1. Vika says: Reply

      terima kasih sarannya, mbak sis.. ūüôā

  2. Membaca ini, mencamkan baik-baik! ūüôā

    1. Vika says: Reply

      ah..kamu mah udah expert.. hehehe..

      1. Ah enggak Mbak, masih belajar banget ūüôā

Leave a Reply