Mengapa Aceh? (Saya, Aceh dan Cinta…)


Aceh Lon Sayang / Thursday, June 2nd, 2011

Saya tidak tinggal aceh, sama sekali tidak berdarah Aceh, tidak juga lahir di Aceh dan tidak punya keluarga di Aceh.. Tapi saya cinta Aceh, bukan karena saya pernah jatuh cinta dengan orang Aceh bukan juga karena saya pernah mampir bekerja di Aceh. Alasannya sederhana, karena saya feel hommy sejak pertama kali menginjakkan kaki di sana.

Saya pertama kali ke Aceh pertengahan 2007, untuk bekerja di suatu lembaga yang menangani proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami.  Itu adalah pengalaman pertama saya bekerja di luar Jakarta. Jenuh dengan segala tetek bengek ibu kota dan ingin sesaat lepas dari Jakarta, saya terima sebuah kontrak kerja selama enam bulan dan meninggalkan pekerjaan tetap saya yang cukup menjanjikan di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta.  Keputusan yang agak sedikit ribet dan meragukan waktu itu, tapi dengan berbagai lika liku, singkat cerita tepat 2 Juli 2007 saya terbang ke Aceh.

Apa bayangan saya sebelum berangkat? Aceh itu menyeramkan! Isu GAM masih mewarnai pemberitaan media, daerah rawan dimana mana, belum lagi saya akan bekerja untuk pembangunan kembali daerah yang sempat porak poranda karena tsunami ini. Bayangan saya tentang Aceh pun ketika itu jauh dari kondisi normal. Ibarat di pedalaman, jauh dari keramaian dan hedonitas penduduk Jakarta yang senang karaoke seperti saya. Saya ingat, koper pertama saya ke Aceh besarnya hampir segede kulkas satu pintu. Mau tau isinya? Mulai dari sabun cuci, peralatan mandi, indomie sampai buku buku bacaan untuk membunuh waktu, karena dalam pikiran saya pasti akan banyak waktu tanpa aktivitas berarti selain di rumah saja. Kalo ingat itu saya ketawa sendiri sekarang. Betapa waktu itu mata saya sangat tertutup akan Aceh.  Saya pikir selama 6 bulan kontrak kerja itu, akan sangat sulit pulang ke Jakarta, jadi semua stok harus siap.  Lebih Lucu lagi waktu berangkat, beberapa sahabat saya ikut mengantar ke Bandara, ibarat saya mau pergi jauh dan lama baru kembali, persis seperti rombongan kecil pengantar jamaah haji.  Eh, kalo sekarang inget itu gak lucu lagi sih.. Malah jadi norak. Hahahahaha.

Tiba di Aceh pertama kali jam 12 siang, disambut cuaca yang sangat panasss. Setelah mendarat saya sms semua kerabat mengabarkan saya sudah tiba di tujuan dengan selamat. Isi smsnya pun saya masih ingat: “Alhamdulillah saya udah sampe,.. Banda Aceh panass gilaaaa” dan dibalas dengan kata kata menyemangati.  Lalu, dasarnya saya bukan orang yang cepat bisa beradaptasi dengan lingkungan yang benar benar baru.. Saya takut sekali homesick, sayat gak betah, sampai takut gak punya teman (ini serius) yang akhirnya dikhawatirkan mempengaruhi ke kerja profesional saya. Terus terang ketakutan itu sempat membuat bimbang seminggu sebelum keberangkatan.  Yang ajaib, tiba tiba hal itu sirna begitu saja ketika pertama menginjakkan kaki di pintu gerbang tanah rencong ini, tepatnya ketika melewati Simpang Surabaya.

Why? I don’t know…. It was an undefined feeling.

Hari itu juga pertama berkantor di Lueng Bata. Bayangan saya akan penuh bekerja dengan penduduk asli Aceh sedikit berubah, karena ternyata di divisi saya itu, separuh lebih juga orang pendatang seperti saya. Lambat laun saya pun bisa menyesuaikan diri dengan rekan rekan kerja yang baru, lingkungan dan masyarakat disana. Asumsi saya sebelumnya, akan banyak waktu tanpa kegiatan yang jelas ternyata salah besar.  Hari hari saya disibukkan dengan menikmati Aceh yang sebenarnya. Kontrak enam bulan pertama itu akhirnya pun berlanjut hingga 2 tahun lebih itu masih ditambah sekitar 1 tahun  bolak balik Jakarta-Banda Aceh. Selama masa kontrak saya juga hampir sebulan sekali kembali ke Jakarta, sekedar melampiaskan rindu akan ibukota. Jauh dari bayangan saya sebelumnya yang seolah olah akan “terbenam” di pedalaman.

Aceh itu indah, hingga dua tahun menetap disana, saya hampir lupa dengan Jakarta. Nyaris tidak ada kesan seram yg selama ini didengungkan. Yah, ini juga mungkin karena saya menetap setelah Perjanjian Helsinki. Namun konotasi akan masyarakat yg tidak ramah, kejam yang beritanya sempat diwakili oleh GAM nyaris tidak pernah saya temui.

Kalau soal pantai, saya memang bukan traveler, tapi saya pernah berkunjung ke beberapa lokasi pantai di Indonesia seperti Bali, Yogya, Lampung, Makassar dan Lombok termasuk negara tetangga seperti Thailand, tapi saya berani bilang: Heiii.. Come to Aceh you will see more than those!! Intinya gak usah jauh jauh.. Aceh tidak kalah indah bahkan lebih indah dari semua itu.

Sebelum ke Aceh saya hampir tidak suka kopi pun nongkrong di warung kopi,  tapi balik dari Aceh saya adalah tukang ngopi, meski bukan kopi hitam. Saya penikmat berat sanger dingin (sejenis kopi susu ala Aceh), sekali duduk saya bisa minum hingga dua gelas ukuran besar. Hmm.. Apa nikmatnya? Jangan samakan warung kopi di Aceh dengan Starbucks yang menjual penyajian berstandar internasional, kursi empuk dan AC superdingin.  Semua itu hampir tidak akan ditemui di warung kopi Aceh. Kursinya keras (sungguh sebenarnya bukan dirancang untuk duduk berlama lama), tidak ada pelayanan kelas dunia dan jangan berharap ada AC.  Harga kopinya pun bisa hingga sepersepuluh Starbucks. Tapi saya yakin kalau anda pernah mencoba dan mengerti akan kopi, anda bisa jadi merasa rugi beli Starbucks yang lebih menjual gaya hidup itu. Kopi Aceh is amazing. Lebih dari itu ada hal lain karena ternyata dengan uang 5000 perak ada makna kekerabatan yang sangat kental dari segelas kopi. Pembauran berbagai strata masyarakat seolah mencerminkan kebersamaan dan kekeluargaan yang tanpa batas.

Ah, saya tidak bisa bercerita banyak soal pantai, keindahan alam dan segelas kopi Aceh dengan bau bau promo pariwisata. Terlalu banyak web dan artikel yang sangat ahli untuk itu. Saya cuma ingin bilang: Saya pernah menikmati semua itu dan its really priceless. Saya mencintai Aceh..mencintai sahabat sahabat saya dan masyarakat disana yang ramah dan mulai terbuka akan dunia luar, jangan salah lho, Aceh sekarang sudah menjelma menjadi salah satu provinsi digital di Indonesia. Saya berani bilang, jumlah WiFi di Aceh mungkin lebih banyak dari Jakarta dan semua itu bisa dinikmati dengan gratis alias  free, cukup dengan duduk di warung kopi dan memesan minuman seharga tidak lebih dari Rp 6000,-  Anda sudah bisa menjelajah dunia ditemani cuaca Aceh yang panas namun bebas polusi.

Datang ke Aceh nikmati indah alamnya, keramahan penduduknya, keunikan budayanya dan pelajari begitu banyak lesson learn pasca tsunami 2004 yang merupakan salah satu bencana besar dunia. Rasakan bagaimana tsunami yang sempat meluluhlantakkan Aceh kini nyaris tak bersisa kecuali berbagai monumen, museum, pemakaman massal dan tonggak tonggak sejarah lain sebagai wujud pembangunan yang siginifikan sekaligus menjadi bukti bahwa Aceh patut diperhitungkan. Hikmah besar tsunami adalah Aceh menjadi lebih terbuka akan pembaharuan demi kemajuan.

Aceh adalah cerita buat anak cucu-ku kelak. Pekerjaanku, sahabat-sahabatku, hari-hariku dan romantika suka duka didalamnya, dan yang paling penting; saya bangga pernah menjadi bagian dari Aceh meski itu hanya sesaat..

(tulisan ini menjadi Pemenang ke-3 Lomba Menulis dalam Rangka Visit Banda Aceh Year, 2011)

Sukses untuk Visit Banda Aceh Year 2011.

Berikut beberapa tulisan saya tentang Aceh :

http://www.vikaoctavia.com/2010/01/ngupi-ngupi/

http://www.vikaoctavia.com/2009/08/kenangan-puasa-tahun-lalu/

http://www.vikaoctavia.com/2009/03/296/

http://www.vikaoctavia.com/category/tentang-aceh/

http://www.vikaoctavia.com/2008/08/berburu-makan-enak-di-banda-aceh/

(Visited 279 times, 1 visits today)

9 Replies to “Mengapa Aceh? (Saya, Aceh dan Cinta…)”

  1. vika….. luph you deh…. akyu kan jadi kangen kopi sanger juga.. hiksss…
    kapan ya kita reunian lagi.
    aniwey, gud lak ya dear for ur study n career yah

  2. hai kak vika, salam kenal yaaa. kesasar di blog kakak waktu buka blognya iloveaceh. btw congratz ya dapat menang di lomba menulis VBA. ditunggu kedatangannya lagi ke aceh

  3. Saya juga bukan orang Aceh dan tidak berdarah Aceh, tapi sama seperti mbak Vika, saya juga merasakan cinta sama Aceh. 5 tahun 8 bulan hidup di Aceh menjadi pengalaman luar biasa bagi saya. Saking cintanya, pada hari terakhir di Aceh maret 2014 lalu saya berkali-kali meneteskan air mata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *