Lebih baik sakit hati daripada sakit gigi..


Aceh Lon Sayang / Sunday, December 2nd, 2007

obat-sakit-gigi-bekam-244x300Kalimat basi “lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati”, mungkin mulai diragukan kebenarannya. Kumpulan kata itu, lebih sering dibalik menjadi “lebih baik sakit hati daripada sakit gigi” untuk melukiskan betapa duka nestapanya jika gigi terserang sejuta rasa`nyeri, perih, nyut-nyut-an dan sejenisnya. Kata-kata itu sendiri kalo tidak salah dipopulerkan sekitar tahun 80an oleh penyanyi dangdut berambut keriting -yang kalo gak salah- bernama Hamdan ATT. Agak bingung juga mengingat pastinya, karena pertama; aku adalah penggemar dangdut pada posisi second level alias tidak terlalu maniak atau dengan kata lain malu-malu mengakui kalau sebenernya menggemari musik yg katanya sudah mulai go international itu (entah kemana…) Lalu, kedua; penyanyi dangdut bermodel semi kribo dengan video klip di taman bunga yang “india banget” bukan dia seorang. Anybody can help me ? Ona Sutra ??,.. Oww.. bukan!!

Tapi sutralah…bukan itu bahasan ceritaku kali ini. Ini cerita soal gigi geligiku yang kata beberapa dokter nyaris bener-bener gak bener. Penyebabnya, mungkin kurang kalsium, kebanyakan makan sambel, ato suka males gosok gigi (hihihi..). Seingatku, awal-awal kuliah di Bogor dulu pernah juga jadi pengunjung tetap klinik gigi di RS PMI Bogor, dimana, hampir sebulan laporan ke si dokter tiap hari Rabu. Cerita punya cerita pertengahan 2007, kambuh lagi tuh gigi ..dan gawatnya, di dokter pertama langsung 3 biji gigi di-oprek-oprek. Malangnya lagi tidak ada tanda-tanda menuju kesembuhan padahal kita sudah 4 kali berkencan! Hasilnya; bengkak total! Aku pun sempat ke kantor dengan gaya makan permen. Lanjutlah ke dokter ke-dua. OMG! Diagnosis dokter kedua berbeda sekali dengan dokter pertama, padahal dokter pertama sudah terlanjur nyaris menghancurkan gigi-gigi itu. Meski dokter kedua ini si asistennya cerewet banget, ada kemajuan pesat yang menyenangkan, Sebenarnya sih masa perawatannya sendiri belum selesai sampai aku berangkat ke Nanggroe Juli 2007 lalu.

Bulan Nopember kemarin, mengingat ada Askes kantor yang rugi kalo gak dipake, kulanjutkanlah mengurus gigi-gigi itu. Tidak banyak rujukan dan pilihan dokter yang bagus di Banda Aceh, tapi aku cobalah salah satunya dengan resiko terburuk ompong sampai memang tiba saatnya menjadi ompong. Dokter yang terakhir ini, ternyata orangnya asyik, umurnya setengah baya dan keliatannya sudah cukup senior. Selain melanjutkan pekerjaan dokter-dokter sebelumnya, dokter ini juga mendoktrin harus mencabut empat buah gigi bau yang tinggal akarnya saja. Wah, kalo yang ini bener-bener belum pernah. Terbayang di otakku; pasti sakit, parah, merah dan berdarah-darah!! *Hiiiiii…* Tapi mengingat saraf gigi yang konon nyambung kemana mana itu, memang sebaiknya gigi-gigi sialan itu dimusnahkan.

Karena masih fresh graduate alias belum berpengalaman dalam hal ini, aku pun bertanya pada si dokter; “Dok, sakit gak kalo dicabut?”
Dengan enteng dia menjawab “Oh..gak kok..cuman seperti orang beranak!”
*shocked*
Kujawab; “Tapi, dok.. Saya kan belum pernah beranak!” (sambil dalam hati mengutuk: “Emang lu pikir gue kucing angora!).
Si dokter cuek sambi bilang; “Tanya aja sama yang pernah!” (Hemmm…kelincinya Jolie pasti narasumber yang tepat untuk ini).

Lalu, dia melanjutkan mencatat resep sambil bernyanyi lagu Rasa Sayange.. Aku bertanya lagi;
“Dok, dokter orang Malaysia, yah, kok nyanyi lagu itu?”
Dia langsung menatapku dengan berapi-api. “Begini yah, orang Indonesia itu..baru satu lagunya dicontek saja sudah ribut tak keruan, padahal kamu tau gak, Indonesia itu negara penjiplak, pembajak nomor dua setelah China”
*again shocked*

Di pertemuan kedua, aku datang bersama seorang teman yang sudah lebih dulu menjadi pasiennya juga dengan tujuan pencabutan. Setelah dia keluar dari ruang praktek, aku bertanya, “sakit gak?” Masih dengan kapas yang disumpel di giginya -dan takut kapas itu meloncat dengan indah- melalui kode jari jari tangan dia menjawab yang kira kira artinya “dikit kok”. Ok, aku pun dengan pede masuk ke ruangan dokter. Lagi-lagi bertanya hal yang sama ke si dokter , si dokter kembali menjawab dengan aneh.. “Yang tadi teman kamu, kan ? Sesama jomblo, kan ?? “ Rasanya sama! *dalam hati : “Itu kata elo kaleeeeeeeeeeeeee…*

Tanpa terasa, sudah 2 minggu ini aku rajin menyambangi dokter itu. Tiga dari empat gigi yang harus dicabut pun sudah sukses ditanggalkan dari kedudukan. Alhamdulillah tidak ada rasa sakit sama sekali.. Malah aku merasa lebih sehat dan nyaman. Thank you, dokter!

(Visited 322 times, 1 visits today)

2 Replies to “Lebih baik sakit hati daripada sakit gigi..”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *