Habibie, Pada Sebuah Masa…


Obrolan, Opini / Tuesday, August 9th, 2016

“Nonton Rudi Habibie yuk”, kata saya ke seorang teman saat kami sama-sama bingung mau melakukan apa di sebuah akhir pekan bulan lalu.

Upss, dua setengah jam tak terasa berlalu. Saya menengok arloji, sudah menjelang tengah malam rupanya. Rasanya belum ingin beranjak dari kursi empuk sinema ini. Masih belum ingin meninggalkan Reza Rahardian yang memainkan lakonnya begitu apik di film itu. Reza benar-benar menjelma menjadi Habibie muda dengan kobaran nasionalisme yang tertular pada Saya. 

Setelah film usai, saya bergegas meng-update sosial media saya. Tidak sabar ingin menularkan rasa cinta kepada negeri yang mendadak menjalari sekujur tubuh Saya. Saat yang sama, sebagian teman-teman saya justru enggan menonton film Indonesia, karena menganggap film lokal tidak sekeren film Amerika yang penuh efek canggih mengagumkan. Mungkin mereka lupa, ini bukan soal film, tapi tentang seorang yang turut membesarkan bangsa ini.

***

Sekitar delapan belas tahun lalu, Ia pernah memimpin negara ini walau hanya selama 512 hari. Tampuk pemerintahan “mampir” padanya setelah gejolak besar terjadi dan memberi perubahan luar biasa pada Republik ini. Sebelum itu, jabatan Menteri Riset dan Teknologi menjadi jabatan yang melekat bertahun-tahun padanya sejak Ia kembali dipanggil pulang untuk mengabdi ke tanah kelahiran. 

Kala benda bernama pesawat terbang masih jadi barang langka dan mewah sebagai moda transportasi, Habibie bahkan sudah membuat dan merakit sendiri pesawat untuk negeri ini. Sederhana, baginya gugusan kepulauan Nusantara yang luas ini hanya dapat terhubung dengan industri kedirgantaraan yang mandiri. Konteks yang sama pernah dicetuskan Patih Gajah Mada ketika bersumpah Palapa, bahwa Indonesia adalah Nusantara. Habibie meneruskan cita-cita itu dengan membangun mimpi menghubungkan Indoensia melalui pesawat ciptaannya.

Habibie pun menjelma menjadi merek bagi manusia Indonesia yang jenius. Ketekunan, keuletan dan kegigihannya mengilhami banyak orang. Terlebih kecintaanya pada Indonesia yang membuatnya memilih kembali mengabdi pada negeri, walaupun Jerman sudah menganugerahi warga negara kehormatan karena paten-paten yang Ia hasilkan untuk industri aerodinamika penerbangan.

 

Memang, perjalanan hidup Habibie tak selamanya mulus dan tak bergelombang. Kehilangan figur Ayah di masa kecil, dibesarkan oleh Ibu yang single parent dan berjuang sendiri menuntut ilmu di negeri orang bukan perkara yang mudah yang harus dilalui Habibie Pun ketika berhasil menduduki kursi orang nomer satu di negara ini. Cibiran, penolakan hadir dari berbagai lapisan karena Habibie sejatinya bukan dibesarkan dari politik. 

Pada masanya, Ia berprestasi dalam diam. Mungkin orang mengira Habibie cuma tahu soal pesawat terbang dan teknologi. Tidak lebih dari itu. Namun di kurang dari dua tahun pemerintahannya, Ia menelurkan berbagai peraturan yang hingga kini berpengaruh signifikan bagi Indonesia. Masih ingat, nilai dollar yang naik hingga 500% pada 1998? Cuma Habibie yang dalam waktu singkat mampu mengawal penurunannya menjadi ke Rp6700 saja. Habibie hadir saat Indonesia dalam kondisi sakit parah. Ekonomi kacau, politik amburadul dan masyarakat kian lemah. Habibie ada di masa transisi besar bangsa ini. Masa yang kemudian menjadi salah satu milestone paling penting sejarah bangsa.  

Ah, sungguh…saya malas dan muak dengan politik!  Walau para politikus itu berkampanye (katanya)  atas nama rakyat, selalu ada kepentingan lain atas nama kekuasaan dibaliknya. Tiga puluh tahun berkuasa, Eyang meninggalkan begitu banyak prasasti kebaikan dan meninggalkan dosa-dosa masa lalu. Para suksesornya seluruhnya orang-orang hebat, namun akhir-akhir ini, semua seakan kembali berebut panggung.  Maju ke depan kembali dan lagi lagi atas nama rakyat.  Entah itu demi masa depan partai, entah karena masih belum puas atas kekuasaan

Namun Habibie berbeda. Pidato Pertanggungjawabannya sebagai Preseiden RI pada 1999 memang ditolak MPR, tapi itu bukan menjadi alasan  mundur untuk berkontribusi. Bola matanya yang besar, seolah  ingin menunjukkan semangatnya yang menyala-nyala. Dijembataninya seluruh kepentingan. Tidak memihak, tidak sibuk mencari-cari kesalahan pelaku politik. Habibie sadar, di usia senjanya sudah sepatutnya Ia mendorong generasi yang kini berjuang mengisi kemerdekaan. Habibie jauh dari riak-riak kepentingan satu golongan. Ia ada di setiap kondisi yang membangkitkan semangat, motivasi dan inspirasi. Ia berpikiran terbuka, pandangannya jauh ke depan. tidak terdoktrin cara-cara lama. Bagi saya Habibie adalah Bapak Bangsa Generasi Millenium. 

Sementara tanpa disadari, kita hidup di generasi yang nyaris kehilangan figur. Kita ada di masa ketika selebgram (sebutan pengguna aplikasi instagram dengan ribuan pengikut) justru menjadi idola dan panutan. Baru-baru ini seorang artis Amerika komplain dengan panitia konsernya di Jakarta, yang tidak memperbolehkannya menggunakan baju terbuka. Gara-gara itu, katanya Ia tidak dapat berekspresi secara maksimal. Aspirasi yang dituliskan di akun sosial media -dengan lebih dari 90 juta pengikut-, justru didukung oleh penggemarnya di Indonesia. Mereka ikut-ikutan mem-bully negara sendiri yang seharusnya mereka banggakan karena punya prinsip dan budaya. Banyak anak-anak muda kemudian yang dimanjakan teknologi namun lupa menghasilkan karya. 

***

Minggu lalu, senang rasanya bisa mengunjungi Pameran Foto Habibie sebagai penghormatan terhadap Ulang Tahun beliau yang ke 80. Acara ini bertajuk Pameran Foto Habibie dan Gebyar Aneka Lomba yang diselenggarakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends of Mandiri Museum.  Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli – 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua.

Sosok cerdas, nasionalis dan penuh cinta dirunut dalam rangkaian foto yang bercerita. Bangga masih ada juga komunitas anak muda yang menjadikan Habibie sebagai panutan bagi negeri.  Habibie adalah inspirasi yang sebenarnya.

 

 

(Visited 149 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *