Kendaraan Umum, Etalase Kehidupan Metropolitan


Obrolan, Opini / Friday, November 16th, 2018

Terus terang, perluasan ganjil genap saat pelaksanaan Asian Games kemarin membawa dampak signifikan buat hidup saya. Kenapa? Karena Jakarta-Bogor via Jagorawi pada jam sibuk, bisa ditembuh kurang dari 1,5 jam! Bahkan kalau lagi hoki, bisa hanya sekitar 50 menit. Saat itu, perluasannya bukan hanya dari wilayah namun juga dari ukuran waktu. Kalau biasanya hanya jam-jam tertentu di pagi dan sore, saat Asian Games jadi seharian penuh.

Padahal, saya juga pengguna kendaran pribadi loh! Adanya ganjil genap membuat saya lebih berhitung tentang efisiensi waktu dan biaya. Misalnya, saat tanggal genap (karena mobil saya bernomor ganjil), sebisa mungkin saya kurangi beraktivitas yang jauh-jauh. Nah, pas tanggal ganjil saya justru memadatkan semua agenda perjalanan luar kantor. Jadinya efisien, secara waktu, biaya dan tentu saja energi tubuh. Bahkan saya ikut bangga, karena berkontribusi pada penurunan tingkat polusi. Data membuktikan terjadi penurunan polusi udara yang cukup signifikan karena perluasan ganjil genap tersebut (Sila googling deh…)

Sayangnya, satu bulan setelah Asian Games dan Asian Para Games berlalu, periode ganjil genap waktunya kembali ke jam yang sama. Habbit masyarakat pun kembali ke semula. Berangkat siang, pulang malam dan macet hanya berpindah waktu. Mobil-mobil dengan nomor plat berlawanan, kembali menguasai jalan-jalan tikus, menghabiskan waktu untuk masuk ke jalan besar yang dibatasi ganjil genap.

Apa boleh buat, Perda yang dibuat Pemda DKI awalnya memang menyebutkan perluasan ganjil genap tersebut hanya berlaku selama dua event olahraga tadi. Satu-satunya cara kita untuk tidak merasakan macet adalah naik kendaraan umum!

Duh, basi yaa, Jus Semangka nyuruh-nyuruh orang naik bus melulu!

Memang, bagi yang terbiasa duduk nyaman di kendaraan pribadi (apalagi disupirin) pasti enggan banget naik kendaraan umum. Kalau saya, sekarang memilih naik kendaraan pribadi, jika perginya rame-rame karena hitungan ekonominya akan lebih efisien. Tapi kalau sendirian, mending naik umum deh. Males kan nge-galau sendirian sambil duduk di belakang kemudi. Serius loh ini! Naik kendaraan umum (bis atau KRL) bagi saya adalah cara bersosialisasi dengan manusia lain. Iya, sih, tidak harus kenalan juga sama semua orang, tapi saya paling suka mengamati tingkah laku dan gerak gerik orang di kendaraan umum.

Bergabung dengan sekian banyak orang yang tidak kita kenal di bis, menumbuhkan rasa bersyukur yang dalam. Penumpang dengan beraneka ragam model dan datang dari berbagai lapisan ekonomi membuat kita melek kalau perjuangan hidup manusia itu salah satunya dilihat dari mobilitasnya.  Terbukti, kendaraan umum sejatinya adalah etalase kehidupan sosial di Jakarta. Apalagi sekarang, kendaraan umum bukan hanya milik kalangan ekonomi menengah bawah.

Di kendaraan umum juga sering lahir ide-ide kreatif yang kemudian menjadi rencana kegiatan besok hari. Bahkan beberapa tulisan di blog ini, juga lahir dalam perjalanan yang  awalnya ditulis pada ponsel.

Etapi ini bukan curhat loh, saya hanya ingin bercerita, bahwa naik kendaraan umum itu fungsi sosialnya banyak sekali. Kalau belum biasa naik kendaraan umum, dicobalah sekali-kali. Seandainya setiap pemilik mobil dalam seminggu minimal satu kali saja naik kendaraan umum, selain mengurangi macet, makna sosial yang akan kita temui pasti bisa membuka mata hati kita bahwa hidup itu, bukan hanya duduk di belakang kemudi, atau tidur sambil membiarkan supir membawa kita.

Ayo Naik Bus!

Picture : https://www.acd.org.au/ndis-research-forum-student-transportation/bus-cartoon/

 

 

 

 

(Visited 30 times, 1 visits today)

2 Replies to “Kendaraan Umum, Etalase Kehidupan Metropolitan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *