Jangan ke Ora, kalau tidak siap pulang!


Jalan Jalan / Wednesday, July 27th, 2016

Satu setengah tahun yang lalu, saya sudah pernah merencanakan untuk mengunjungi Pantai Ora ini. Sudah siap tiket, tinggal packing tiba-tiba kepergian itu batal, karena saya harus mengikuti proses akhir pekerjaan yang sekarang. tentu saja keputusan mendadak itu membuat Ifan, sahabat saya kecewa berat. Tak disangka, satu bulan yang lalu, Ifan menawarkan lagi, untuk kesini.  Mumpung waktunya pas banget sama liburan, akhirnya bertepatan dengan hari kedua Idul Fitri, bersama tiga orang teman lainnya, kami pun meluncur ke Pulau Seram.

Di tulisan sebelumnya, saya sudah bercerita gimana melelahkannya untuk sampai ke Desa Saleman yang menjadi titik awal kami mengeksplore keindahan Pantai Ora dan sekitarnya. Tapi, baru mencium wanginya air laut saja, rasa capek akibat perjalanan lebih kurang 15 jam dari Jakarta, menguap seketika. Sungguh, Saleman membuat saya jatuh cinta.

fffff

Hari pertama, kami menginap di sebuah homestay penduduk yang sangat nyaman di Saleman. Keluarga Bang Andre pemilik “Moluccas Tour” homestay, bahkan yang mengatur seluruh akomodasi islands hoping, antar jemput ke Masohi plus menjadi guide kami selama disana. Lebih mantep lagi, karena makanan yang disajikan di homestay ini, super enak! Serius!! bahkan jauh jauh lebih enak dari makanan di Ora Resort. Hari kedua, demi merasakan “maskot” pantai ini kami pindah ke Ora Beach Resort. Memang harganya lumayan merogoh kocek, untuk seorang budget traveler seperti saya. Tapi apa yang kita rasakan dan temukan disana, dijamin spektakuler. Hanya ada kurang dari 10 cottage di atas air di resort ini. Harganya dihitung per orang bukan per kamar. Fasilitas yang didapat makan 3 kali, jika perlu bisa sekaligus dengan antar jemput dari dan ke Masohi plus pelayanan islands hoping di seputar Ora.

best home ever...
best home ever…

Di bawah kamar, ikan dori berenang bergerombol kesana kemari. Selama ini  semua  cuma saya lihat dari film animasi Amerika; Finding Dory. Di bagian lain sekelompok ikan bergaris garis yang dengan santai menghampiri manusia yang duduk di pinggir darmaga. Di tepi pantai, kumpulan ikan kecil-kecil seperti teri bisa ditangkap semudah menciduk air dengan gayung. Deuhhh kayaknya enak banget dibikin perkedel! Sepanjang mata memandang, air biru toska tanpa gelombang dan cuaca cerah membuat langit makin biru. Semua itu dilengkapi dengan latar belakang pemandangan bak kalender; bukit karang yang dipenuhi hutan tropis. 

hhhhhhh

Saya baru saja pulih dari sakit gejala typus ketika berangkat ke Ora. Namun, ketika melihat tenangnya biru laut, ada hasrat untuk segera menikmati air dan pemandangan bawah lautnya. Agak ragu-ragu juga awalnya, bukan karena gak bisa berenang dan nerpes (baca: nervous), tapi kepikiran sampai Jakarta harus makan lagi obat yang buanyakk. Namun seperti ada kekuatan magis akhirnya byurrr…nyebur juga! Lupa deh sama  yang namanya sakit! (Dont try this at home!)

IMG-20160710-WA0055

Islands hoping di Ora bukan cuma melihat indahnya taman bawah laut, tapi paket komplit dengan kontur atas lautnya. Tebing-tebing tinggi menjulang membentuk lekukan-lekukan eksotis dan gua-gua laut yang menantang untuk dieksplore. Ketenangan air laut Ora dan sekitarnya membuat siapa pun bisa menikmati sejuknya air laut disini. Tidak perlu khawatir ada ombak besar, bahkan di beberapa tempat, dasar laut yang dipenuhi pasir putih nampak jelas dari permukaan. Ibarat kolam raksasa yang menyatu dengan laut lepas.

must have picture..
must have picture..

Ada banyak spot yang menarik untuk islands hoping di Ora. Pada beberapa titik sudah dibangun semacam gazebo di tengah laut, sebagai titik awal snorkeling. Tebing tebing karang tinggi memanjakan mata dan sangat instagramable. Uniknya, banyak gua-gua di tengah tebing yang lautnya sangat dangkal dan asyik banget sebagai tempat berendam. Lokasi paling menantang adalah spot yang sering disebut “Gua Tebing”. Gua ini serupa kolam kecil berada di bawah tebing dengan kedalaman laut sekitar 6-8 meter. Untuk masuk kesini kita harus melewati bawah tebing, yang artinya harus menyelam beberapa detik dan harus super hati-hati, agar kepala tidak terbentur ujung bawah tebing. Kalau mau berfoto, harus diambil dari sisi lain, oleh orang yg sudah pengalaman, karena harus naik ke bagian tebing yang lebih tinggi dan menyerupai jendela. Hati hati ya!

Gua Tebing
Gua Tebing

Satu hal yang sangat otentik dari Ora adalah kandungan air tawarnya yang banyak. Mungkin karena dikelilingi banyak gunung, mata air tawar sebagai kebutuhan pokok jumlahnya sangat berlimpah. Tidak ada air payau sedikitpun. Ajaibnya ada satu mata air yang disebut penduduk sekitar; mata air Belanda. Letaknya tepat di pinggir pantai dan menyatu dengan air laut! Bayangin, di tengah gelombang pantai, ada air tawar yang melebur dengan air laut. Mata air besarnya hanya sekitar 10 meter dari tepi pantai, kita bisa mandi dan berendam disana. Lucunya suhu air tawar ini dinginn bangett, sangat kontras dengan air laut yang hangat. 

berendam di air tawar super dingin..
berendam di air tawar super dingin..

Duh,Tuhan, maafkan..saya hampir lupa.. kalau Engkau-lah Sang Maha Arsitek di muka bumi ini 🙂

Buat yang senang hiking atau treking, banyak lokasi cihuy yang bisa dijajal di Ora. Saya sempat ikut rute pendek, treking sekitar 10-15 menit di salah satu tebing. Memang semua tebing, lokasinya terjal dan berbatu tajam. Tapi, ketika tiba di puncak, huaaaaa… pengen rasanya gak pulang karena mata dan hati tidak henti-hentinya terkagum-kagum atas surga yang tersembunyi ini.. 

nongkrong cantik abis treking..
nongkrong cantik abis treking..

Terakhir, buat yang bertanya-tanya gimana kesini (sebenernya udah banyak yg nulis juga), ini saya kasih ancer-ancernya. Dari Jakarta naik pesawat ke Ambon (rata-rata via Makassar), ambil penerbangan malam agar bisa tiba di Ambon pagi harinya. Saya sarankan pilih penerbangan Garuda, harganya tidak beda jauh dari Lion namun yang pasti lebih nyaman, karena kita perlu saving energy yang cukup menuju Ora. Dari Bandara Pattimura, menuju Pelabuhan Tulehu (bisa sewa mobil) sekitar 30 menit lanjut menyebrang ke Pulau Seram dengan kapal cepat (hanya ada 2 kali sehari). Dari Pelabuhan Masohi di Pulau Seram masih perlu waktu sekitar 2,5 jam untuk tiba di Saleman. Bagi yang suka mabok, siapin diri baik-baik..karena jalanannya berliku, meliuk-liuk, naik turun dan berbatu.  

Total tiket pesawat PP sekitar Rp2,5-3 juta PP. Kalau sendirian atau berdua, sangat disarankan ikut open trip alasannya biar lebih hemat, itinerary-nya jelas dan bisa dapat teman baru. Kalau mau pergi berkelompok, bisa arrange sendiri dengan kisi-kisi yang tadi saya jelaskan. Total jenderal siapin kocek yang “aman” sekitar 5-6 juta untuk perjalanan 3 hari 2 malam (plus satu malam perjalanan).

Kalau perlu bantuan, jemputan dan lain-lain, silakan kontak Bang Andre di 0853-54506962! Dijamin memuaskan!

 

 

 

 

(Visited 436 times, 1 visits today)

9 Replies to “Jangan ke Ora, kalau tidak siap pulang!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *