Ada Cinta di Museum Peranakan Penang


Jalan Jalan / Thursday, October 6th, 2016

Kalau ada yang bilang home is where the love is, mungkin Museum Peranakan Penang bisa menjadi contoh rumah yang penuh cinta.

Museum ini awalnya rumah biasa, kediaman seorang keturunan Tiongkok bernama Chung Keng Kwee yang didirikan pada akhir abad ke-19. Babah, sebutan untuk Chung Keng Kwee konon merupakan orang paling kaya di Penang pada masanya. Babah menikah dengan beberapa wanita lokal Melayu, karena itulah museum ini sering juga disebut Museum Babah Nyonya. Hebatnya istri-istrinya itu, dulu hidup rukun di rumah yang kini sudah menjelma menjadi museum tersebut. Kalau jaman sekarang ada gak yaaa, para madu yang mau tinggal serumah begitu?  Ada sih pasti ya, apalagi kalau suaminya semapan dan sekaya Baba. Hehehe.. 

museum9
Ruang Utama di Pintu Masuk

Salah satu itinerary jalan-jalan saya ke Penang beberapa waktu lalu adalah berkunjung kesini. Awalnya saya tidak memang terlalu banyak berekspektasi. Saat tiba di lokasi pun, museum ini hanya seperti rumah Melayu yang dari luar terlihat biasa saja, bahkan tidak tampak seperti museum. Halamannya sempit dengan kapasitas parkir tidak lebih dari lima enam buah mobil saja. Saya sempat berpikir: apa sih istimewanya sih tempat ini…

Ruang Keluarga
Ruang Keluarga

img-20160814-wa0155

Ternyata memang istimewa…

Ada dua bagian utama  yang saling terhubung di museum ini. Bagian pertama dulunya merupakan tempat tinggal keluarga Babah sementara bagian kedua menjadi tempat untuk mengelola bisnisnya. Pengunjung terlebih dulu akan memasuki rumah utama di bagian pertama sebelum menjelajah sisi bangunan yang lain. Baru masuk, sebuah ruang besar akan menyambut kedatangan pengunjung. Bagian tengah ruangan ini dibiarkan kosong dan terbuka tanpa plafon agar cahaya matahari bebas lepas masuk ke dalam rumah. Konsep ini sebenarnya ditemukan juga di kelenteng atau vihara. Fungsinya, selain memperlancar sirkulasi udara, juga mengandung filosofi  rejeki yang yang lebih lancar mendatangi empunya rumah.  

 

museum7

Berhadapan langsung dengan ruang terbuka itu, ada meja besar yang berfungsi selain sebagai meja makan keluarga, juga sering digunakan untuk menerima tamu bisnis. Uniknya, di kiri dan kanan meja tersebut, diletakkan dua kaca berukuran besar yang berfungsi layaknya CCTV. Seluruh aktivitas ruangan utama terpantul pada kedua cermin tersebut. 

Masih di lantai satu, berdampingan dengan ruang utama ada jalan tembus menuju vihara pribadi dan masih digunakan hingga saat ini. Konsepnya masih sama, kosong di bagian tengah, namun penuh ornamen khas Tionghoa. Bedanya hanya tidak didominasi warna merah, melainkan warna abu-abu dengan ukiran-ukiran besar yang didominasi warna hijau, abu abu dan emas.

vihara
vihara

Hampir seluruh sudut rumah penuh dengan guci antik dan kristal-kristal mahal. Semuanya dipajang pada lemari-lemari kaca yang tidak boleh disentuh. Lukisan lukisan bergaya tiongkok terlihat di beberapa bagian ruangan. Dengan penataan yang cenderung minimalis, dipilih perabot yang berkesan klasik dan menunjukkan kelas sosial sang pemilik rumah. Walau dipenuhi aksesoris, tata letak keselurahan tetap memberi kesan luas, yang membuat pengunjung bebas mengamati barang-barang koleksi. Mungkin dulunya memang dibuat leluasa, agar anggota keluarga dapat nyaman bercengkarama.  Secara total jumlah koleksi museum ini mencapai 1000 buah. Benar-benar gila dan gak tanggung-tanggung buat semua “rumah biasa”.

museum2

Dari lantai dua, seluruh aktivitas di lantai satu bisa dipantau, karena keduanya dibuat terbuka dan dihubungan dengan tiang kayu yang sangat eksotis. Lantai dua sebenarnya tidak terlalu luas, namun penempatan kaca-kaca yang nyaris sebesar dinding membuat ruangan tampak lebih leluasa. Disini juga ada kamar tidur utama, lengkap dengan seperangkat kursi dan dipan antik yang berkelambu. Pada satu sisi dipajang pula koleksi kain milik Nyonya Rumah. 

Ruang Tidur Utama
Ruang Tidur Utama

Nah, bangunan kedua yang terletak di belakang rumah utama dulunya memang digunakan sebagai workshop empunya rumah. Salah satu bisnis Baba dulunya adalah pembuat perhiasan emas. Di satu sisi, dipresentasikan perangkat pengerajin emas. Sementara pada sisi berdampingan, dipamerkan koleksi perhiasan keluarga ini. Wah, sampe tak berkedip mata ini melihat kinclongnya deretan perhiasan mahal dalam kaca-kaca kristal yang tebal. dengan pengamanan berlapis.

menempa emas..
menempa emas..

Kebayang dong harganya,… kalau jadi warisan kita di Indonesia, bisa gila bayar tax amnesty-nya!! Hehehehe. Sementara itu dinding workshop dihiasi koleksi  tekstil dan busana perempuan melayu kuno yang tertata apik dalam bingkai tembus pandang. Tidak itu saja, belok sedikit dari workshop, dipamerkan deretan perangkat dapur yang kini mungkin hanya bisa kita temui di rumah nenek. Uniknya, lantai di bangunan kedua, konon didatangkan dari Inggris. Motifnya memang unik, seperti ada karpet yang nempel di lantai.

museum8
Ruang Koleksi Perhiasan

Keseluruhan, isi museum ini menakjubkan. Pantas saja menjadi salah satu bagian dari World Heritage Site of Georgetown. Tampak depan yang biasa-biasa saja, ternyata tidak mencerminkan isi dalamnya. Buat yang mau ke Penang, saya rekomen deh tempat ini. Bukan cuma keren buat foto, tapi juga edukatif banget, pas untuk liburan keluarga.

 source featured image: www.kasublog.com

 

 

(Visited 256 times, 1 visits today)

One Reply to “Ada Cinta di Museum Peranakan Penang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *