Sebuah Memoar (Refleksi 10 Tahun Tsunami)


Aceh Lon Sayang, Jalan Jalan / Thursday, December 25th, 2014

Tidak terasa tujuh tahun berlalu sejak kedatangan saya pertama kali ke Tanah Rencong. Masih teringat jelas pagi itu 2 Juli 2007 dengan pesawat paling pagi saya diantar beberapa orang sahabat. Masih pula teringat pakaian apa yang saya pakai hari itu, apa isi koper saya, bahkan type ponsel baru yang sengaja saya beli satu hari sebelum berangkat. Pindah dan menetap (sementara) di Aceh bisa jadi salah satu keputusan terberat (atau mungkin terhebat) yang pernah saya ambil. Setelah lama menetap di Bogor dan bekerja di Jakarta yang nyaris tanpa masalah (bahkan punya potensi karir yang bagus). Ssst, bocorannya sebelum ini saya takut banget untuk kerja ke luar kota. Saya ada di zona nyaman mbak mbak kantoran Jakarta yang masuk jam 9 pulang jam 5 dengan hiburan karaoke dan teman-teman yang itu-itu saja. Sounds so boring, isnt it?

buku1Dan kemudian, Aceh menjadi bagian dari perjalanan hidup Saya, seperti juga menjadi bagian cerita yang tidak pernah habis untuk dituliskan di blog ini. Aceh mengubah dan menuntun pandangan saya tentang paradigma hidup, kehidupan spritual, kedewasaan berpikir, memberi cerita cinta (hmmm), jatuh bangun, susah senang dan tentu saja menjadi bagian terbesar dalam kehidupan pekerjaan saya. Lebih luas lagi, dari Aceh-lah saya menemukan sahabat-sahabat terbaik yang telah menjadi keluarga baru dan akan selalu dan selamanya ada di kehidupan Saya. Lebay mungkin.. Tapi jujur, apa yang Saya dapat sejauh ini adalah karena saya pernah di Aceh. Ya, hampir semua… 

Mengenal dunia menulis dan blogger pun karena Aceh. Pada waktu itu, satu-satunya yang bisa menjadi hiburan disana adalah internet kantor yang kencang. Di waktu senggang, mengutak ngatik blog adalah hal baru yang sangat menyenangkan. Jika akhirnya saya nekad menempuh Master di bidang Manajemen Sistem Informasi, juga karena terinspirasi pekerjaan di Aceh yang banyak berhubungan dengan IT. Agak gak nyambung memang dari S1 saya di Ilmu Perikanan dan Kelautan. Hehehe.. Contoh lain adalah kopi. Tak pernah terpikirkan saya jadi penggemar si hitam ini? Bisa dibayangkan, sebelum ke Aceh, minum kopi adalah pantangan buat saya karena bisa membuat kembung plus jantung yang rasanya berdetak lebih kenceng. Setahun di Aceh, semua berbalik. Sulit membayangkan bagaimana rasanya gak ngopi satu hari saja. Sampai-sampai pernah terpikir untuk punya warung kopi sendiri.

IMG-20120930-00653Tsunami telah mensyuhadakan hampir 10% penduduk Aceh saat itu. Mungkin banyak lupa Aceh dibantu lebih dari 600 organisasi yang datang dari 50 negara. Ini sungguh bantuan terbesar dalam semua bencana yang pernah terjadi di dunia. Tidak ada waktu untuk memilih siapa menolong siapa. Tidak ada batas negara, budaya dan agama. Alasan kemanusiaan-lah yang menjadi pondasi untuk membangun Aceh. Jika perbedaan bangsa, ras, warna kulit saja terabaikan apalagi hanya perbedaan etnik, suku, ideologi dan agama bagi sesama pekerja kemanusiaan asal Indonesia. Sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi barang langka. Ketika makin kerap kita temui perpecahan karena perbedaan pandangan, golongan, agama dan paham-paham tertentu. Bahkan setelah usai Pilpres tahun ini masih saja ada fitnah terhadap pihak-pihak tertentu yang terkadang jauh dari kata logis. Bukan cerita baru jika banyak persahabatan yang retak, hubungan saudara yang merenggang bahkan kebencian pada kelompok-kelompok tertentu.

Ketika semua bisa bersatu saat bencana, Mengapa kini kita harus terpecah hanya karena perbedaan pandangan?

Lucu, kenapa kita bisa bersatu justru saat terjadi bencana? Kenapa kini perbedaan membuat kita harus terpecah. Padahal sejatinya perbedaan ibarat minyak dan air. Tidak bisa bersatu tetapi bisa berdampingan. Saya percaya perbedaan itulah yang membuat hidup kita kaya dan berwarna. Dulu, pasca tsunami kita hanya punya satu tujuan yaitu membangun Aceh kembali setelah bangkit dari keterpurukan. Kita percaya pada siapa pun yang menjadi pimpinan kita. Tidak ada bedanya dengan Indonesia saat ini. Keinginan kita sama; hidup damai dan sejatera di negara yang sama-sama kita cintai. Seperti saat kita mencintai Aceh yang porak poranda setelah diterjang tsunami. Sudah seharusnya kita bisa belajar dari tsunami 2014.

(Visited 311 times, 1 visits today)

14 Replies to “Sebuah Memoar (Refleksi 10 Tahun Tsunami)”

  1. Halo Vika, duh, senang banget menemukanmu di twitter line barusan dan langsung mengantarkan daku ke sini. Sukacita membahana begitu ‘rumahmu’ ini kutemukan! Am so glad to see you here. Ternyata kita juga berada di dalam komunitas yang sama yaaa? Warung Blogger? 😀 *OOT dulu sebelum komen on the topic. 😀

    Vika, sebagai orang Aceh, ijinkan aku mewakili teman2 dan masyarakat Aceh lainnya, atas kehadiranmu dan teman2 relawan lainnya, yang telah rela melepaskan zona nyaman, untuk turut serta di dalam kancah bencana. Thanks a lots for your hardwork!

    Aceh kini telah molek dan berseri, semoga semakin maju, damai dan terhindar dari perpecahan yaaa. Aamiin. 🙂

  2. Miris memang ya kita sering terpecah belah karena perbedaan pandangan tapi kita bisa mudah bersatu jika terjadi bencana.
    Haruskan bencana selalu ada biar kita bisa terus bersatu, Aaaggghh sungguh ngawur aku ini.

    Wah bisa nih suatu saat bisa mampir ke Warung kopinya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *