Kampanye Naik Kendaraan Umum


Obrolan / Saturday, March 21st, 2015

Gara-gara punya kantor baru yang tepat di pinggir jalan tol, saya sempat kepikir untuk sesekali bawa kendaraan ke kantor. Biarpun tol juga tetep ada macetnya, alternatif ini boleh dicoba karena keliatannya cukup praktis, gak perlu nyambung ojek dan lain-lain. Namun karena sering naik ojek juga saya akhirnya mengurungkan niat itu. Saat macet, saya melihat ratusan mobil di sekeliling saya yang hanya berisi 1 orang! Bahkan kalau iseng dihitung, mungkin yang berpenumpang lebih dari satu orang bisa dihitung dengan jari. Tiba-tiba saya mengurungkan “niat mulia” nyetir sendiri tadi.

Di hujan deras yang mengguyur Jakarta malam lalu, saya sempat stag di jalanan sampe nyaris lumutan, padahal saya sudah menumpang bis APTB yang sangat nyaman, meski AC nya lumayan mencekik. Jakarta-Bogor yang biasanya maksimal dua jam dengan bis -yang melalui jalur busway ini-, semalam ditempuh HANYA 5 jam sajahh! Saya pun landing dengan sukses di rumah pukul 2 pagi. Pengalaman yang luar biasa.. atau mungkin “biasa” buat sebagian warga Jakarta.

Kalau beberapa waktu lalu, saya sebel sama motor yang ugal-ugalan kali ini saya “sebel” sama mobil berpenumpang satu yang jumlahnya mungkin ratusan ribu di Jakarta ini. Iseng, saya mencoba sms Gubernur Ahok melalui nomer yang tertera di akun twitter beliau. Isinya, meminta Pemda DKI untuk menggagas Kampanye Naik Kendaraan Umum. Entahlah, saya juga belum tahu apakah program seperti ini sudah ada atau belum. Yang saya tahu, semasa Pak Jokowi masih Gubernur ada program yang mengharuskan PNS di lingkup Pemda DKI tidak menggunakan kendaraan pribadi di hari-hari tertentu.

Coba bayangkan, data Polda Metro Jaya menyebutkan ada 16-17 juta kendaraan yang beredar di Jakarta setiap harinya. Ambil nilai kecil, mobil misalnya hanya 1 juta unit dan jika 30%-nya hanya diisi oleh 1 orang, jadi tau kan siapa yang bikin macet? Percuma pemerintah tiap tahun menambah ruas jalan, karena pertumbuhan penjualan mobil lebih besar dari penambahan jalan. Eitss, saya gak “nyalahin” naiknya penjualan mobil ya.. Yang saya garis bawahi adalah mobil yang berpenumpang HANYA 1 ORANG, yang berkontribusi besar terhadap kemacetan Jakarta.

Bagaimana dengan penduduk Jakarta, eh.. lebih tepatnya mereka yang mencari nafkah di Jakarta? Mau gak naik kendaraan umum? Pasti beberapa diantara kalian langsung ngomelin saya sambil bilang: ngapain nyusahin diri, kendaraan umum di Jakarta tidak nyaman, tidak aman, bla-bla… Sebentarrr sabar dulu, saya ceritanya loncat-loncat nih.. Saya sempat miris ketika beberapa waktu lalu ada seorang teman yang posting foto lagi di dalam Commuter Line yang nyaman banget (saat gak penuh) dan menulis seperti di Jepang. Ada satu lagi teman yang langsung bercerita enaknya naik APTB ke kantor dari rumahnya di lingkar luar Jakarta. Catat, dua orang teman tadi adalah mereka yang biasa naik kendaraan pribadi. Rasanya sedih, karena artinya mereka tidak pernah tahu, pemerintah sudah banyak sekali berupaya membuat kendaraan umum kita lebih baik. Bahasa gaulnya: Eh, kemana aja luuu ? Baru tau? Kesian banget deh..

Pastilah naik kendaraan umum tidak senyaman mobil pribadi. Naik bis, kereta kadang emang bikin susah, tapi terus-terusan naik kendaraan pribadi apalagi yang hanya sendirian juga bikin susah orang! Memang harus diakui lagi-lagi kendaraan umum disini belum sepenuhnya nyaman dan yang nyaman pun masih terbatas. Namun, alangkah indahnya kalau mereka yang punya uang lebih, bermobil bagus menurunkan sedikit kenyamannya dengan naik kendaraan umum minimal 1 kali sajaa dalam seminggu. Gak usah tiap hari kok! Coba kita lihat, saya yakin banget..macetnya pasti berkurang.

Saya salut tuh dengan kerjaan beberapa orang kreatif yang membentuk komunitas seperti Nebengers. Komunitas ini membuat para pengendara mobil yang biasa sendirian bisa ngajak orang yang searah dengannya. Menurut saya ini solusi yang cerdas daripada mereka yang sendiri di belakang kemudi, lalu ngomel-ngomel menyalahkan banyak pihak karena Jakarta yang muacett. Heyy, wake up! Kalau kamu nyetir sendirian, berarti ada ribuan orang lain yang seperti kamu juga! Dan sadarkah, bahwa kalian juga berkontribusi terhadap kemacetan itu?

Sebuah artikel menyebutkan satu mobil pribadi menghasilkan 250 kg emisi CO2 per penumpang per 1000 km, sementara bus hanya menghasilkan 50 kg emisi CO2 per penumpang per 1000 km. Artinya dengan naik kendaraan umum, kita juga sudah menjaga lingkungan.

Terakhir, bagi saya ukuran kemapanan bukan dengan membawa mobil pribadi, tapi kemauan berbaur dengan banyak orang lain.

Kata Rumi: Yesterday I was clever, so I wanted to change the world. Today, I am wise, so I am changing my self. 🙂

 

(Visited 486 times, 1 visits today)

5 Replies to “Kampanye Naik Kendaraan Umum”

  1. saya meskipun bukan warga jakarta pernah mikir gini juga sih kak, bagaimanapun luas jalanan Jakarta, tetap bakalan macet kalo laju pertumbuhan kendaraan pribadi (mobil) tidak dikontrol. Dan tulisan kakak ini mungkin bisa jadi bahan masukan untuk obrolan masalah kemacetan di Jakarta.
    Salam. 🙂

  2. […] Di Jakarta, saat pertumbuhan jumlah kendaraan tidak sebanding dengan jumlah jalan, transportasi umum belum memadai ditambah lagi dengan sebagian masyarakat yang masih gengsi naik kendaraan umum, kita memang butuh sebuah terobosan transportasi. Harus diakui, selama dua tahun terakhir Pemda DKI Jakarta sudah banyak sekali melakukan terobosan, walaupun hasilnya belum bisa dikatakan optimal. Misalnya, jalur busway Trans Jakarta (TJ) terus menerus ditambah, PT KAI memperbanyak jaringan stasiun dengan fasilitas yang lebih memadai. Kemudian ada bis-bis penghubung dengan kota satelit yang terintegrasi dengan jalur TJ. Lalu, kebijakan ganjil genap, yang lumayan mengurangi kepadatan kendaraan di wilayah-wilayah tertentu. Belum lagi “bantuan” dari sektor swasta akan transportasi online. Eh, soal transportasi online ini juga bisa jadi tantangan sendiri sih buat Pemda DKI. Mungkin yang belum adalah mengubah budaya masyarakatnya yang masih sering bepergian dengan mobil ber…. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *