Setelah berjuang selama hampir seminggu, akhirnya terwujud juga punya domain sendiri. Aslinya aku gak ngerti sama sekali, tapi dengan semangat pengen belajar (cieee…) dan semangat narsis aku beli domain dan hosting http://www.vikaoctavia.com walau yang kepake baru http://ngobrol.vikaoctavia.com  . Atas petuah orang-orang yang sudah berpengalaman –secara gue sekarang perlunya buat nge-blog- doang, lebih enak kalo ambil fitur WordPress (WP) trus ngisinya persis sama kayak WP yang gratisan. Seru, kan?!!

 

Read More

Hits: 1791

Mpok Depoy bilang waktu dia pulang ke Jakarta minggu lalu, keponakannya yang berumur 6 tahun merengek minta nonton AAC. Dari seminar minggu lalu di Unsyiah, moderatornya menyarankan seorang penanya untuk nonton AAC (gue lupa pertanyaannya apa), yang jelas sama sekali gak nyambung dangn topic seminar soal monitoring dan evaluasi proses rehab rekon di Aceh. Kemarin sore, Pak Eddie muter rekaman dia waktu main piano soundtrack ayat-ayat cinta (ah,..so sweet). Waktu aku bulan lalu ke Jakarta pun, Uni Novi nitip CD soundtracknya.

 

 Gue juga sih, waktu pulang kemaren sampe lima kali nyanyi soundtrack itu di HP, Fatmawati (biasa, narsis…). Gara-gara lagi booming juga, orang-orang di ruangan meng-copy file bajakannya.  Begitu juga di beberapa milis yang aku ikuti. Semua seolah-olah ingin memberi komentar yang paling benar. Katanya wapres bela-belain nonton di PS dan kabarnya lagi film ini bakal dibuat versi extended-nya, alias memasukkan kembali scene scene yang sempat tidak dimunculkan. Kata beberapa orang yang nonton belakangan, sekarang ngantri-nya panjang dan melelahkan. Wah, untung aku nontonnya waktu baru naik, jadi masih sepi malah banyak bangku bangku yang kosong.

 

Cerita-cerita sebagian penonton, berkesimpulan : “cerita yang mengharukan”.   Tak sedikit yang tanpa segan-segan menitikkan air mata. Apalagi pas adegan Fahri menikah dengan Maria di Rumah Sakit dan Aishah berlari ke luar kamar dengan membawa hati yang “hancur”, dimana ia harus mengikhlaskan suami yang begitu dicintainya menikah dengan wanita lain  di depan matanya, karena  kondisi yang tiba-tiba memaksa itu harus dilakukan.  Tapi aku, yang mungkin (baru mungkin, lagi)  kurang sensitif, gak sempet pake acara nangis.  Bahkan aku coba nonton lagi filmnya (versi bajakan) tetap gak nangis juga 😛 .  Mungkin otakku sudah diprogram untuk  bilang: masih banyak hal menyedihkan yang lebih layak “ditangisi” (hehehe).  Bagiku sendiri  film itu  tidak terlalu melahirkan “chemistry” yang dalam.  Bisa jadi karena aku buka movie freak, hanya seorang book addict, yang mungkin chemistry  sudah abis waktu baca bukunya.  Mungkin juga (masih mungkin) aku udah terbiasa mengikhlaskan apa-apa yang memang (sudah jadi takdir) bukan untukku.  Mungkin juga karena aku menganggap pengorbanan adalah hal yang  jamak di dunia ini. Apalagi “hanya” berkorban demi kebahagian orang lain atas nama cinta kek, ketaatan kek, atau apalah yang lain. 

 

Ya, okelah..filmnya bagus, soundtrack-nya juga keren.  Palingan aku cuman senyum penuh penghayatan untuk beberapa quote bagus di film itu. Misal: “Allah sedang berbicara dengamu, Fahri,  Allah sedang mengingatkanmu  untuk tidak sombong, maka mintalah kepadaNya”  Atau adegan di tepi sungai Nil, kata Maria: “Semua orang diciptakan dengan jodohnya”, atau “tidak pernah orang hidup minta susah, tetapi ketika ia datang, kepada siapa kita harus kembali?”. Sorry kalo kutipannya kurang tepat.

 

Selebihnya, aku malah berfikir tentang arti pengorbanan yang sesungguhnya karena menonton film itu. Pengorbanan atas nama cinta dan ketakwaan kepada Allah SWT yang dilakukan dengan keikhlasan tingkat tinggi  meski hati hancur berkeping keeping.  Itu mungkin hanya dimiliki oleh sangat sedikit perempuan di muka bumi ini. Tapi bisa jadi perempuan-perempuan lain pun akan menjadi Aishah Aishah baru jika terjebak dalam situasi seperti yang digambarkan dalam film itu.  Untungnya (semoga) situasi yang begitu pelik itu hanya ada di novel atau film (hehehehe…)

 

Satu lagi, aku pikir laki laki innocent, lugu dan merasa tidak sempurna itu hanya Fahri atau Azzam- tokoh lain rekaan Habbiburahman di Ketika Cinta Bertasbih-. Ternyata informasi dari Jolie : Ada. Hahahahha…hebatnya lagi, dia ada di lingkungan yang begitu sarat godaan duniawi.  Yang katanya selalu sholat di tengah riuh rendah suara musik.  Masih menyempatkan sholat taubat sehabis show yang mencampurkannya dengan lawan jenisnya.  Konon (konon loh), tidak pernah bersentuhan hingga “never been kissed” dengan teman wanita-nya. Masya sih ?? Padahal  dia ada di dunia hingar bingar  dengan pergaulan yang mampu meluluhkan iman.  Siapa lagi kalo bukan si bulet bulet lucu itu. Hahahaha… Salut deh!  Alhamdulillah masih ada dan semoga masih banyak laki laki seperti itu meski bukan dari kalangan pesantren.

 

 

 

Hits: 1690

Selain pindah blog, minggu ini ada pindahan lain yang gak kalah penting. Pindah rumah. Yup, setelah menempati mess lama, rumah besar bertiang tinggi yang menyeramkan itu selama nyaris sembilan bulan, akhirnya minggu ini semua penghuninya bedol desa ke rumah baru  yang lebih kecil tapi nyaman, hommy dan terpenting dekat dengan pusat peradaban.  Rumah berlantai dua dengan warna orange pupus (yang gimana tuh ya…) dilengkapi dengan pohon jambu dan pohon mangga (di tetangga) dengan halaman luas yang cocok untuk buka usaha parkiran.

 

Read More

Hits: 1888

Ini dia, kerjaan baru kalo pulang! Dititipin. Gara-gara nyempetin back to home, 28 Februari-4 Maret kemarin, ketiban rejeki-lah aku, diamanati titipan dari yang kecil dan paling mungkin sampai yang setengah mustahil. Entahlah maksud si penitip itu apa, tapi ya namanya udah janji, biar hujan, panas, gelombang, badai  hingga tsunami sekalipun tetep aku usahain semaksimal yang kubisa.

Dimulai dari titipan orang Jakarta buat dibawa dari Aceh. Suci yang nitip  tas Aceh, tiga biji. Katanya sih gak maksa, Tapi sms berkali-kali belum ditambah reminder via YM, pake webcam pula untuk menegaskan contoh tasnya. Cuman tetep pake embel-embel; “kalo lu ada waktu aja kok, vik…” Secara gue orangnya murah hati dan gak tegaan, apalagi untuk orang-orang yang pernah hidup di jaman romusha kayak dia, ya gimana gue gak iba!  So, H minus satu, aku ditemenin Bu Ruhama pun berburu tas etnik itu. Jolie kupluk itu laen lagi, tega-teganya dia nitip daun gan*** (titt..sensor).  Waduh, dengan berat hati, permintaan itu tak kululuskan karena ybs juga sepertinya tidak berminat menebus gue di bandara kalo terjadi apa-apa denganku. Insyaf-lah Hai anak manusia…. Haram!

Read More

Hits: 2779

Seorang kakak kelas ketika aku baru tiba di Aceh sempat bertanya; Eh, di kamarmu ada sarung, handuk lebar atau kain panjang, gak ?  Sebelum kujawab, kutatap matanya dalam-dalam, mencoba mencari arti pertanyaan ganjil itu. Mengerti kebingunganku, dia melanjutkan. Begini loh, Vik.. disini itu kan sering banget gempa, makanya di rumah harus selalu sedia kain panjang. Jadi misal nih, kamu mandi terus tiba-tiba terasa ada yang bergoyang-goyang, gak usah mikir lagi, langsung lari dan pake tuh handuk atau kain yang lebar.

Read More

Hits: 1988

pusdatin.jpg andreabna.jpg

Kurang lebih dua minggu yang lalu ketika Apop ngabarin Andrea Hirata bakal ke Banda Aceh, senengnya luar biasa. Sebab, waktu doi “show” di Botani Square Bogor, infonya telat banget, pas nyampe Bogor dari Banda udah malem. Tapi tadi pagi, bisa juga ketemu sama si Ikal ini. Aku juga berhasil “menggembosi” temen-temen  terutama  Pusdatin crew yang tadinya gak minat banget, jadi ikutan nonton.  

Meski sempat diwarnai perdebatan masalah kostum, mulai dari kostum putri duyung, kostum barongsai (untuk mengingatkan Andrea akan Aling) hingga kostum pegawai kantor pos Bogor akhirnya tetep balik lagi ke “kostum standar BRR”.  Alhasil, jam 9 pagi teng, rombongan anak panti pasuhan itu pun sudah nangkring dengan manis di depan AAC Dayan Dawood Unsyiah.  Sayangnya, Wasi (lagi-lagi) gak bisa join karena pekerjaannya sebagai ketua kelas yang begitu menyita waktu (hiks…hiks…)  Untuk ukuran AAC yang kapasitasnya sekitar 800 kursi, acara itu terbilang sukses, apalagi di Aceh yang pembaca bukunya belum segila di kota-kota besar, sambutannya pun terhitung luar biasa.  Rombonganku pun sebagian besar dengan sedikit maksa dan ancaman ke panitia duduk di barisan pertama yang menjadi center ke panggung.  

Read More

Hits: 3059

Kebayang gak sih, tiga tahun lalu 26 Desember 2004 adalah kejadian yang akhirnya membawaku ke Aceh ?

Masih jelas dalam ingatanku, minggu pagi itu Iin datang ke rumah dengan maksud memperkanalkan suami-nya. Kami sama-sama nonton TV dan melihat tayangan gempa di Aceh. Ah…gak ada yg spesial sepertinya…Seperti bencana bencana lain yang memang terlalu sering menimpa negeri ini. Dari dalam kamar, samar-samar berita di metrotv terus mengusik hingga akhirnya diketahui ada tsunami yang dulu aku tau hanya dari pelajaran Geografi. Awalnya diberitakan korban “hanya” ratusan tetapi beranjak sore, malam hingga paginya, kita semua baru menyadari, Ya Allah besar nian bencana ini…

Read More

Hits: 1943

obat-sakit-gigi-bekam-244x300Kalimat basi “lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati”, mungkin mulai diragukan kebenarannya. Kumpulan kata itu, lebih sering dibalik menjadi “lebih baik sakit hati daripada sakit gigi” untuk melukiskan betapa duka nestapanya jika gigi terserang sejuta rasa`nyeri, perih, nyut-nyut-an dan sejenisnya. Kata-kata itu sendiri kalo tidak salah dipopulerkan sekitar tahun 80an oleh penyanyi dangdut berambut keriting -yang kalo gak salah- bernama Hamdan ATT. Agak bingung juga mengingat pastinya, karena pertama; aku adalah penggemar dangdut pada posisi second level alias tidak terlalu maniak atau dengan kata lain malu-malu mengakui kalau sebenernya menggemari musik yg katanya sudah mulai go international itu (entah kemana…) Lalu, kedua; penyanyi dangdut bermodel semi kribo dengan video klip di taman bunga yang “india banget” bukan dia seorang. Anybody can help me ? Ona Sutra ??,.. Oww.. bukan!!

Tapi sutralah…bukan itu bahasan ceritaku kali ini. Ini cerita soal gigi geligiku yang kata beberapa dokter nyaris bener-bener gak bener. Penyebabnya, mungkin kurang kalsium, kebanyakan makan sambel, ato suka males gosok gigi (hihihi..). Seingatku, awal-awal kuliah di Bogor dulu pernah juga jadi pengunjung tetap klinik gigi di RS PMI Bogor, dimana, hampir sebulan laporan ke si dokter tiap hari Rabu. Cerita punya cerita pertengahan 2007, kambuh lagi tuh gigi ..dan gawatnya, di dokter pertama langsung 3 biji gigi di-oprek-oprek. Malangnya lagi tidak ada tanda-tanda menuju kesembuhan padahal kita sudah 4 kali berkencan! Hasilnya; bengkak total! Aku pun sempat ke kantor dengan gaya makan permen. Lanjutlah ke dokter ke-dua. OMG! Diagnosis dokter kedua berbeda sekali dengan dokter pertama, padahal dokter pertama sudah terlanjur nyaris menghancurkan gigi-gigi itu. Meski dokter kedua ini si asistennya cerewet banget, ada kemajuan pesat yang menyenangkan, Sebenarnya sih masa perawatannya sendiri belum selesai sampai aku berangkat ke Nanggroe Juli 2007 lalu.

Bulan Nopember kemarin, mengingat ada Askes kantor yang rugi kalo gak dipake, kulanjutkanlah mengurus gigi-gigi itu. Tidak banyak rujukan dan pilihan dokter yang bagus di Banda Aceh, tapi aku cobalah salah satunya dengan resiko terburuk ompong sampai memang tiba saatnya menjadi ompong. Dokter yang terakhir ini, ternyata orangnya asyik, umurnya setengah baya dan keliatannya sudah cukup senior. Selain melanjutkan pekerjaan dokter-dokter sebelumnya, dokter ini juga mendoktrin harus mencabut empat buah gigi bau yang tinggal akarnya saja. Wah, kalo yang ini bener-bener belum pernah. Terbayang di otakku; pasti sakit, parah, merah dan berdarah-darah!! *Hiiiiii…* Tapi mengingat saraf gigi yang konon nyambung kemana mana itu, memang sebaiknya gigi-gigi sialan itu dimusnahkan.

Karena masih fresh graduate alias belum berpengalaman dalam hal ini, aku pun bertanya pada si dokter; “Dok, sakit gak kalo dicabut?”
Dengan enteng dia menjawab “Oh..gak kok..cuman seperti orang beranak!”
*shocked*
Kujawab; “Tapi, dok.. Saya kan belum pernah beranak!” (sambil dalam hati mengutuk: “Emang lu pikir gue kucing angora!).
Si dokter cuek sambi bilang; “Tanya aja sama yang pernah!” (Hemmm…kelincinya Jolie pasti narasumber yang tepat untuk ini).

Lalu, dia melanjutkan mencatat resep sambil bernyanyi lagu Rasa Sayange.. Aku bertanya lagi;
“Dok, dokter orang Malaysia, yah, kok nyanyi lagu itu?”
Dia langsung menatapku dengan berapi-api. “Begini yah, orang Indonesia itu..baru satu lagunya dicontek saja sudah ribut tak keruan, padahal kamu tau gak, Indonesia itu negara penjiplak, pembajak nomor dua setelah China”
*again shocked*

Di pertemuan kedua, aku datang bersama seorang teman yang sudah lebih dulu menjadi pasiennya juga dengan tujuan pencabutan. Setelah dia keluar dari ruang praktek, aku bertanya, “sakit gak?” Masih dengan kapas yang disumpel di giginya -dan takut kapas itu meloncat dengan indah- melalui kode jari jari tangan dia menjawab yang kira kira artinya “dikit kok”. Ok, aku pun dengan pede masuk ke ruangan dokter. Lagi-lagi bertanya hal yang sama ke si dokter , si dokter kembali menjawab dengan aneh.. “Yang tadi teman kamu, kan ? Sesama jomblo, kan ?? “ Rasanya sama! *dalam hati : “Itu kata elo kaleeeeeeeeeeeeee…*

Tanpa terasa, sudah 2 minggu ini aku rajin menyambangi dokter itu. Tiga dari empat gigi yang harus dicabut pun sudah sukses ditanggalkan dari kedudukan. Alhamdulillah tidak ada rasa sakit sama sekali.. Malah aku merasa lebih sehat dan nyaman. Thank you, dokter!

Hits: 2144