Kalau ada travel blogger paling kasian di Indonesia mungkin sayalah orangnya. Bayangin, udah setua dan selama ini saya belum pernah ke Labuan Bajo. Goblok gak sih? Ceritanya ini adalah destinasi impian saya sejak dulu. Sungguh, bukan Amerika yang jadi mimpi saya. Tapi entah kenapa selalu saja batal kesini, bahkan beberapa tahun lalu, saya pernah menang lomba blog yang hadiahnya tiket Garuda gratis ke satu destinasi pilihan di tanah air dan saya pilih kesini. Itu pun nggak bisa digunakan, karena berbagai alasan. Mungkin memang belum takdirnya kesana sih, jadi ya sudahlah..

Bulan lalu, salah seorang teman baik memberikan saya hadiah ulang tahun tiket Jakarta-Labuan Bajo (PP). Sudah siap-siap deh saya 11 oktober merayakan ulang tahun di Pulau Padar. Lucunya, dua hari menjelang hari keberangkatan, teteppp ajaaa harus dimundurkan. Gw tetiba berasa menteri-nya Jokowi banget, yang super duper sibuk. Daripada hangus total, akhirnya saya mundurin deh, dengan konsekuensi nambah biaya.

Dengan waktu disana hanya tiga hari dua malam, dan persiapan pun yang kurang lebih nggak sampe dua hari, saya cuma mengeluarkan dana satu juta rupiah saja (di luar tiket pesawat), untuk hotel, makan, transportasi dan biaya trip keliling beberapa pulau. Mahal atau murah? Mungkin relatif ya, tapi untuk semua fasilitas dan kenyamanan private yang saya dapat sih, menurut saya ini murah banget untuk solo traveling. Malah mungkin bisa lebih murah loh, kalau perginya rame-rame.

Kalau saya bikin trip liburan mahal di Labuan Bajo, pasti nggak bakal banyak yang baca. Makanya  saya bikin tips ala sobat Misqueen dan berikut tips dari saya.

Nginep di Hostel

Disini, kisaran tarif penginapan dari yang cuma 150 ribu semalam hingga 10 juta pun ada. Bener deh, Labuan Bajo sudah menjelma menjadi surga wisata bahari untuk semua kelas dan golongan. Nah ke tujuan manapun komponen yang bisa menghabiskan budget terbesar itu adalah hotel, so saya menemukan beberapa hostel lucu imut, murah pake banget, instagramable, bersih dengan view yang nggak kalah dengan hotel bintang 5. Serius! Namanya One Tree Hill Hostel. Saya cuma bayar kurang lebih 300 ribu untuk menikmati panorama seindah ini (lihat foto).  Jangan gengsi, tempatnya enak banget kok!

Saya memilih kamar dormitory paling atas, yang seharusnya dihuni kurang lebih 10 orang, soalnya ini yang paling bagus posisinya. Thank God, ketika saya kesana kamarnya kosong dan saya sendirian. Jadi tetap berasa kamar private dengan balkon yang juga private. Sejujurnya ini bukan total liburan, karena saya masih menenteng laptop buat menyelesailkan beberapa pekerjaan. Meski bekerja, suasananya sangat mendukung, sepi, adem dengan aroma biru laut sejauh mata memandang membuat semua terasa menyenangkan. Ini suasana liburan yang saya suka.

Kontur dataran hostel ini berundak-undak seperti bukit. Makanya kamarnya terpisah-pisah dan dihubungkan dengan banyak tangga. Lucunya bentuk setiap kamar seperti rumah-rumah pantai di Brighton Beach, Melbourne Australia. Kamar mandinya bersih, terawat dan karyawannya pun memiliki keramahan khas orang Indonesia Timur. Di sisi paling atas ada bar dengan konsep terbuka yang cocok banget buat duduk “ngegalau” sambil memandang birunya laut Labuan Bajo yang luarrr biasa. Makanannya pun cukup murah, bahkan jika mau lebih hemat, disediakan dapur untuk memasak sendiri.

Oya, jarak antara hotel ini ke tengah kota atau pelabuhan memang sedikit jauh. Kurang lebih 5 km. Tapi, hostel menyediakan mobil yang siap mengantar kemana saja dengan biaya Rp30 ribu saja per trip. 

Datang pada bulan bulan Oktober-November

Kata orang bulan dengan akhiran ber-ber bukan waktu yang tepat untuk berkunjung ke daerah pantai, tapi itu tidak berlaku untuk jalan-jalan ke NTT. Provinsi ini diketahui, salah satu daerah dengan curah hujan terendah. Jadi jangan takut, justru ini bulan terbaik karena harga-harga yang murah dan cenderung sepi. Nggak perlu liat Pulau Padar penuhnya kayak cendol dan nggak perlu liat orang di Pulau Komodo seperti komodo semua. Hahaha.. Bulan terbaik memang April-Mei, karena deretan pepohonan sedang menghijau, menjadi perpaduan yang cantik  bersama tosca-nya laut. Tapi tentu saja ini bulan termahal. Ayo, kamu yang nafsu liburan kenceng, tapi dompet tipis mana suaranya?!

Kalo bisa jangan sendirian (kecuali terpaksa)

Ini bukannya ngomongin kaum jomblo ya, tapi barengan dengan beberapa orang teman akan sangat membantu. Di Labuan Bajo, nyaris nggak ada kendaraan umum. So, kalau mau kemana-mana harus sewa kendaraan, lebih irit kalau dengan rombongan kan? Selain itu, kalau nginep di hostel barengan dengan orang-orang yang kita kenal, mungkin akan mengurangi rasa canggung. Mau sewa kapal juga lebih murah urunannya. Makanan pun bisa sharing. Intinya banyak yang bisa dibeli dengan urunan. Katanya sewa motor juga bisa lebih murah loh! Sayang, saya nggak bisa nyetir motor. Hehehe..

Daftar oneday trip setelah tiba di lokasi.

What?! Nggak salah?!! Pasti banyak yang nggak setuju nih, keliatan kurang prepare padahal sekarang jamannya online. Jujur, saya ikut oneday trip juga pesan online duluan dari Jakarta. Ternyata, kalau kita datang pada musim-musim sepi, lebih baik pesan di lokasi. Banyak sekali agen-agen di seputaran pelabuhan dan Kampung Ujung yang menawarkan islands hoping. Biasanya mereka bisa banting harga pada hari keberangkatan atau H-1, daripada kapalnya kosong, iya kann? Gamling? Pasti! Makanya datangnya jangan sendirian. Kalau rame-rame pasti lebih seru. Susahnya juga rame-rame

Beli makan di sekitar pelabuhan dan kampung ujung.

Ini adalah lokasi para pelancong backpacker. Banyak warteg dan rumah makan sederhana disini. Penjualnya rata-rata orang perantauan. Harga seporsi lengkap dengan lauk ayam atau ikan, tidak lebih dari Rp15 ribu saja. Kalau tinggal lebih lama, misalkan seminggu, masak saja di hostel! Dijamin lebih irit, tanpa mengurangi kesyahduan liburanmu.

Gimana, sudah siap ke Labuan Bajo (lagi) ?!

Hits: 3102

Kembali ke Seaworld, mengingatkan saya akan mata kuliah Ikhtiologi yang khusus mempelajari anatomi ikan. Kalau dulu jaman kuliah, saya masih hapal hampir seluruh nama latin biota-biota di Seaworld, sekarang boro-boro, sudah lupa semua. Tapi itu semua tidak mengurangi cintanya saya dengan laut dan semua keindahan di dalamnya.

Memang kehidupan bawah laut selalu menarik, tidak harus snorkeling atau diving lagi untuk melihat semua itu, cukup datang ke Sea World, kita sudah bisa dibuat takjub dengan indahnya ciptaan Tuhan ini. Seperti halnya wahana-wahana lain di Ancol, Seaworld tidak pernah berhenti berinovasi dan membuat atraksi-atraksi baru yang menarik. Tidak cuma jadi tontonan, tapi juga banyak sekali unsur edukasi di dalamnya.

Sebelum lanjut, ngomong-ngomong kalian tau nggak sih, setiap tahunnya ada 100 juta ekor hiu yang dibunuh? Siripnya yang mahal dan konon merupakan obat yang manjur bagi berbagai penyakit membuat hiu ganas pun tetap dicari. Walaupun tergolog karnivora yang bisa mengancam nyawa manusia, fakta menyebutkan dalam 1 tahun “hanya” 6 orang yang mati karena diserang hiu. Dari angka-angka itu kita bisa lihat siapa yang sebenarnya “the real predator”. Sebagai catatan juga, hiu tidak akan menyerang manusia, kalau tidak diserang duluan. Padahal, jika ada satu biota yang rusak pasti akan mengancam keseluruhan ekosistem yang pada akhirnya kembali merugikan manusia sendiri.

Beberapa jenis tergolong ganas seperti hiu kepala martil (hammerhead shark), menempati urutan keganasan nomor 6 dunia, disusul Hiu Sirip Hitam (blacktip reef shark), posisi 26,Hiu Buto  (giant nurse shark) urutan ke 32. Dann… semua jenis itu ada di Seaworld ini.

Nah, yang terbaru dari Seaworld bernama Face to Face with Shark. Ngapain tuh? Ngobrol sama hiu? Ini nggak cuma ngobrol, tapi ngasih makan tanpa menggunakan alat khusus. Kalau biasanya pakai kerangkeng, Seaworld menghadirkan langsung dua penyelam professional yang memberi makan hiu dengan tangan alias menyuapi hiu.

Wuih, serem nggak tuh?

Mas-mas penyelam menggunakan kostum khusus yang terbuat dari logam dan disebut Shark Suit. Beratnya mencapai 15 kg, loh! Katanya proses menggunakannya saja makan waktu sampai 20 menit. Tentu saja meskipun menggunakan pakaian yang ganti gigitan, tetap perlu pelatihan yang intensif. Satu penyelam akan berada di tengah-tengah hiu, satu lagi bertindak sebagai rescue yang menunggu di bibir kolam. para penyelam membawa ikan segar sekitar 5-7 kilo gram dalam sekali pemberian makan, yang berlangsung selama 10 menit. Ikan hiu akan agresif banget dengan bau amis ikan segar, mereka keliatan kelaparan yang membuat atraksi ini menegangkan, 

Para penyelam, setelah show

Pokoknya, atraksi unggulan Seaworld yang baru ini, wajib banget jadi tempat liburan baru. Pertunjukannya pun ada setiap hari di pukul 14.00. Buat yang penasaran, segara atur jadwal buat bisa kesini, sekalian Kembali Ke Ancol. Kuy lah!

 

Hits: 1874

Kamu kamu penikmat kereta saat ini, mungkin kamu belum pernah ngerasain kereta jaman dulu. Iya, nggak dulu-dulu banget sih, sekitar 10-15 tahunan yang lalu (*ketauan tua banget ya, gw..). Saat itu, kalau naik kereta ekonomi dari Stasiun Pasar Senen dimungkinkan sekali kamu bisa satu gerbong dengan kangkung dan sayur mayur lainnya. Belum lagi banyak orang tidur di lorong. Selain nggak nyaman, Aduh, bener-bener malu-maluin kalau ada turis asing.

Beda banget dengan sepuluh tahun terakhir, kereta api Indonesia sungguh sungguh berbenah. Pelan tapi pasti semua stasiun dibenahi. Nyaman, aman dan hampir tidak ada lagi kesan kumuh khas negara terbelakang. Tidak ada lagi namanya kereta ekonomi yang jadi simbol kemiskinan. Kereta ekonomi pun sekarag bersih, ber AC dan nyaman. Apalagi sekarang bisa pesan online. Yes banget! Kalau dulu hanya bisa lewat web PT KAI, sekarang beberapa travel agen online pun sudah membuka penjulan tiket kereta online. Salah satunya Pegipegi. Com. Terus terang, dari dulu saya sering cari hotel di Pegipegi karena harganya lebih miring dari travel agent online lain. Silakan buktikan sendiri, deh.. Nah, pas tau tiket kereta api juga bisa dibeli melalui Pegipegi, rasanya komplit banget deh! Makin bangga kan jadi warga +62…

Oya… catatan nih, kalau mau naik kereta, usahakan jangan beli mendadak, karena ada komunitas pekerja Jakarta asal Yogya yang menamakan diri PJKA (Pergi Jumat Pulang Ahad), yang pasti memenuhi gerbong kereta di akhir pekan. 

Saya terakhir naik kereta jarak jauh ke Yogyakarta. Entah kenapa, Yogya adalah salah satu kota yang membuat saya merasa “hommey”. Entah mungkin karena saya memang numpang lahir disana atau karena Yogya selalu menawarkan kedamaian yang membuat waktu seolah berjalan perlahan.

Saya menumpang kereta malam dari Stasiun Gambir pukul 22.00 dan tiba di Stasiun Tugu pukul 04.00. Nggak berasa, karena kita bisa tidur dengan enak sepanjang perjalanan. Saat tiket pesawat mahal banget beberapa waktu belakangan, kereta benar-benar jadi alternatif yang tepat. Dihitung-hitung waktu ke bandara, menunggu boarding kurang lebih sama deh dengan perjalanan dengan kereta. Enaknya lagi, stasiun Tugu kan berada di pusat kota, jadi nggak perlu rempong cari kendaraan seperti jika kita mendarat di bandara Adi Sucipto.

Selepas menyimpan koper, tujuan pertama saya di Yogya adalah Malioboro. Saya memang doyan banget hunting batik  dan aksesori murah. Lumayan bisa dapet celana batik adem yang modis hanya 50 ribu saja. Setelah itu biasanya dilanjutkan dengan makan gudeg. Nah, kali terakhir saya ke Yogya, aktivitasnya bertambah, apalagi kalau bukan ngopi. Ini gara-gara tahun 2017, film Ada Apa dengan Cinta syuting di salah satu warung kopi di daerah Prawirotaman. Sellie Kopi namanya. Seingat saya kopi-nya masih di-brew manual, tepatnya agak sempit dengan pencahayaan yang diatur remang-remang. Pas buat ngobrol santai. Tidak disarankan kesini membawa gadget buat kerja, tempatnya memang buat bercengkerama.

Prawirotaman bisa dibilang pusatnya warung kopi di Yogya. Disini penginapannya juga murah-murah, makanan pun terjangkau, tempat nongkrong dekat-dekat. Nggak heran banyak bule backpacker betah berlama-lama disini.

Yang paling unik, saya sempat main ke Klinik Kopi. Tempatnya di daerah Kaliurang dan agak blusukan. Saya bolak-balik dengan abang ojek online, nyaris nggak ketemu. Uniknya, cara pesannya bukan dengan daftar menu, tetapi dengan memberi nomer antrian sebagai nomer konsultasi tentang kopi. Persis seperti klinik dokter. Meski tempatnya jauh dan nyarinya susah, ternyata antriannya ramai, gaes! Buat kamu yang sukanya kopi sachet yang manis dan creamy, siap-siap aja di klinik kopi kita “dipaksa” minum kopi hitam secara utuh yang memang terasa mirip wine.

Jadi sekarang Yogya bukan hanya wisata budaya, tapi sudah jadi wisata kopi. Ikutan dong kalau mau ke Yogya!

 

 

Hits: 1757

Apa yang kalian tahu soal Nazi? Pastilah yang pertama disebut adalah Adolf Hittler, pemimpin Nazi yang sangat terkenal dengan kekejaman dan kediktatorannya. Saya – yang malas belajar sejarah- juga nggak banyak tahu, sampai akhirnya bulan lalu saya mampir ke Holocaust Museum di Washington DC, Amerika Serikat.

Saya kesini dengan keluarga, rombongan sirkus deh. Oya, kalau kesini naik kendaraan pribadi, parkirnya agak jauh, lumayan jalan kaki. Naik kendaraan umum saya kurang tahu deh gimana caranya. Hehehhe. Tapi banyak juga rombongan pelajar yang kesini dengan menyewa bus. Kalau di Jakarta (Indonesia) mirip mirip carter Big Bird gitu deh. Btw, sekarang juga sudah ada Big Bird Airport Shuttle, loh! Lebih variatif kan pilihan angkutan ke bandara. Nah, sekalian informasi, lihat harga big bird di situs ini deh…

Awalnya saya ke DC cuma pengen foto di depan gedung putih dan Capitol Building yang jadi salah dua landmark Amerika Serikat. Ini kali pertama saya ke DC, karena keluarga saya baru saja pindah dari Arizona ke New Jersey, dan DC bisa ditempuh hanya sekitar 4 jam dari rumah. Katanya, kalau ke DC nggak mampir ke museum favorit ini, rugi juga. Atraksi ini masuk “Must See” Museum di Amerika. Apa sih istimewanya? Check this out!

Futuristik vs Oldiest

Tidak seperti museum lain yang menyediakan konter pembelian tiket, Holocaust Museum tidak menjual tiket, tapi memberlakukan reservasi yang dengan pengaturan yang cukup unik. Selama periode September hingga Februari, museum ini bisa dikunjungi tanpa reservasi alias dateng aja langsung. Sementara untuk Maret hingga Agustus, ada beberapa cara; yaitu timed ticket dimana kamu boleh masuk dan berkeliling hanya dalam waktu kurang dari 90 menit. Reservasi harus dilakukan minimal 1 jam sebelumnya (itu juga kalau belum penuh) Untuk menghindari nggak dapet kuota, ada baiknya dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Bisa juga memilih tiket same day ticket online, jumlahnya terbatas dan dibuka mulai jam 6 pagi. Nah alternatif kedua ini, yang kemarin saya gunakan. Memang agak rempong, sih…

Museum ini, tampak depannya dirancang futuristik, tapi setelah melewati gate masuk pertama, kita justru naik lift yang berasa kayak ada di tahun 1940-an, persis saat kekejaman Holocaust terjadi. Saat masuk juga kita diberikan semacam kartu kecil berukuran sekitar 5×6 cm yang berisi biodata korban Holocaust. Jadi setiap pengunjung, bisa saja mendapatkan kartu yang berbeda.

Suasana mencekam sangat terasa ketika memasuki etape awal. Otak saya mencoba berpikir sebisanya dan seingatnya apa yang saya tahu tentang Nazi tapi ternyata memang saya nggak tahu banyak. Heheheh.. *contoh siswa malas belajar dan suka bolos pas pelajaran Sejarah.

Walau nggak terlalu dianjurkan buka HP untuk Googling, Holocaust Museum membuat semua kejadian runut dan saya seperti belajar kembali. Holocaust yang merupakan peristiwa terbesar pembantaian hampir 6 (bahkan ada yang bilang 17 juta) juta Yahudi dengan genosida (racun) yang dilakukan oleh Nazi pada tahun 1945. Pembantaian ini karena Nazi menganggap Yahudi adalah ras inferior yang akan membahayakan kekuasaan Nazi terhadap Jerman bahkan dunia.

Bagaimana cara mereka dibunuh? Korban Holocaust dimasukkan ke dalam camp-camp pembantaian yang diberi gas genosida dan orang-orang di dalamnya kemudian mati perlahan-lahan karena menghirup gas beracun tersebut. Rentetan peristiwa inilah yang ditampilkan di Museum ini. Sejarah Perang Dunia I yang menjadi latar belakang, kehidupan Nazi, dan berbagai peristiwa yang terjadi serta bagaiaman dunia melihat Holocaust ditampilkan disini.

Berbagai artefak Holocaust mulai dari dokumen-dokumen sejarah baik kertas, video maupun suara masih tersimpan dengan baik dan sungguh mampu membuat bulu kuduk berdiri. Antrian manusia yang dipaksa masuk ke camp camp pembantaian terlihat jelas dalam berbagai foto. Bukti-bukti material seperti pakaian para korban Nazi pun disajikan dengan “spooky”. Termasuk pula alat-alat penunjang digunakannya genosida.

Museum ini memiliki lebih dari 12 ribu artefak, 49 juta lembar dokumen, 80 ribu foto-foto, catatan 200 ribu nama orang yang selamat dan kurang lebih 9000 testimoni dari mereka yang menjadi saksi peristiwa penting di dunia ini.

Ruangan demi ruangan ditata dengan tema yang berbeda-beda. Mungkin kalau kita kurang tertarik sejarah,membaca dokumen pasti menjadi sesuatu yang membosankan. Namun museum ini memberikan rasa yang berbeda. Kita tidak cuma belajar sejarah, tapi seolah-olah kembali ke masa peristiwa ini terjadi. Sayangnya, saya nggak berani ngambil foto banyak-banyak di dalam ruangan. Memang tidak ada larangan sih, tapi melihat pengunjung lain yang gadgetless, saya pun membatasi menggunakan HP.

Rasanya waktu 2 jam berkeliling nggak cukup buat saya. Saya bener-bener belajar sejarah Nazi yang selama ini mungkin cuma Hittler-nya yang nempel di kepala saya. Tapi jalan-jalan kesini membuat saya semakin yakin kekerasan pada kemanusiaan adalah cara terburuk untuk melanggengkan kekuasaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Hits: 1952

Kalau ada orang yang seneng transit lama-lama, itu mungkin saya. Setiap berkunjung ke US menengok keluarga, saya sering mencari penerbangan dengan transit yang lama. Alasannya, tiketnya biasanya lebih murah plus ada kesempatan untuk keluar bandara jalan-jalan! Lumayan kan, bisa nambah cap paspor tanpa harus “sengaja visit”.

Selama ini, Saya sudah pernah transit dalam waktu hampir atau lebih dari 10 jam di beberapa negara seperti Malaysia, Singapura (yang dua ini, bosenlah ya, nggak usah diceritain), kemudian Seoul, Tokyo, Riyadh hingga Beijing. Dari semua itu, ada yang transit tengah malem, jadi nggak bisa keluar. Ketika di Jepang, sudah kebayang foto-foto gemes buat instagram, taunya sebelum berangkat saya flu berat. Ya, sudah.  Waktu mendarat di Narita, Saya justru mencari hotel jam-jam-an buat tidur enak. Cuaca yang saat itu yang hanya 2 derajat celcius juga tidak mengijinkan buat jalan-jalan.

Nah, minggu lalu dalam perjalanan New York-Jakarta dengan menumpang Air China, ada transit di Beijing selama 11 jam. Horee! Sebelumnya saya sudah googling tentang aktivitas long haul transit disini, dan Alhamdulillah ada free Visa transit untuk penumpang pesawat di seluruh bandara China selama hingga 144 jam. Sayangnya, di web resmi Pemerintah China, Indonesia tidak disebutkan sebagai salah satu negara yang eligible untuk mendapatkan visa transit on arrival tersebut. Belajar dari pengalaman di Seoul beberapa tahun lalu, saat landing di Beijing tetap saya coba dan tetap di-approve! Yeayy!!

Ini dia step-by step buat kalian yang akan transit di Beijing dalam waktu lama.

  1. Saat mendarat, langsung menuju bagian jalur ke imigrasi. Lakukan scan paspor di mesin-mesin yang tersedia
  2. Tanyakan pada petugas berseragam, dimana lokasi permohonan free visa on arrival
  3. Isi form, ikut antrian
  4. Balik ke gate imigrasi untuk cap paspor seperti prosedur biasa.
  5. Yess! China, I am coming!

Scan Paspormu…
Counter Apply Visa

Pertanyaan paling penting, mau kemana sih selama transit?! Banyak pilihannya, bahkan kalau kamu transitnya hingga 15 jam bisa ke Great Wall! Transit 10 jam pun bisa, namun sepertinya harus menyewa kendaraan, karena kalau naik angkutan umum (MRT), pasti banyak nyambung-nyambungnya dan memakan waktu relatif lebih lama. Ada juga tour khusus untuk penumpang transit, tapi harganya cukup mahal. Sila googling ya. 

Nah, tulisan kali ini khusus buat kalian yang mau transit “swasembada” alias jalan-jalan sendiri dengan budget yang ditentukan sendiri.

Setelah keluar dari imigrasi, cari counter Tourism Information. Jangan kaget, waktu saya kesana, hanya ada satu orang yang bisa berbahasa Inggris, so buat nanya-nanya pun harus antri.

Tanyakan kira-kira begini: I have about ten hours before my next departure this afternoon, could you give me any suggestion what is good place to go?! Saya diusulkan ke dua tempat yaitu Beijing City Center dan Forbidden City. Di pusat informasi ini, kamu juga bisa tanya-tanya transportasi ke lokasi tujuanmu. Saya memilih Forbidden City yang bisa ditempuh dengan MRT atau naik taksi. Kalau naik taksi kurang lebih 30 menit saja (tanpa capek-capek) dengan biaya kurang lebih 200 Yuan (sekitar Rp400 ribu), atau naik MRT (yang 3 kali nyambung, jalan kakinya panjangggg… dan capek) dengan biaya PP 60 Yuan (sekitar Rp120 ribu). Tentu saja saya memilih naik MRT, selain nggak punya duit, pengen ngerasain juga naik MRT di China, yang ternyata nggak beda dengan KRL Jabodetabek saat jam kerja. Rrrrr. Bedanya tentu saja, jalurnya sudah buanyaakk banget, nggak beda jauh dengan ke-crowded-an Subway di New York City. Hmm, bikin makin kagum sama China.

Tiket MRT Beijing

Oya, jangan lupa tukar uangmu ke yuan, ya! Nah, yang nyebelin ternyata penukaran uang di Bandara Beijing cukup menguras kantong, berapa pun nilainya akan dipotong sekitar USD 9, lumayan banget sih, tapi karena butuh, ya apa boleh buat. Kenapa perlu cash? Karena kayaknya nanggung aja, kalau beli minuman 5-10 Yuan doang harus pake kartu. Untuk beli tiket MRT pun baiknya cash, karena harganya relatif murah, repot amat kalau harus kena kurs CC atau debit yang mahal.

Menuju Forbidden City

Sebelum berangkat, ada baiknya minta peta rute MRT yang diberikan gratis di Tourism Center. Jangan kaget, kalau semuanya ditulis dalam huruf Han Zi. Biar gak stress (karena nggak bisa bacanya.. wakakakka), minta petugas tourism center menandai stasiun dimana kamu harus turun dan nyambung kemana. Di setiap stasiun, banyak ditempelkan peta yang sama tapi ada huruf latinnya. Saya selalu foto lokasi dan nama stasiun tujuan, supaya nggak perlu nanya-nanya lagi pas mau jalan balik ke bandara. Ke Forbidden City, harus transit 2 kali, berarti ada 3 stasiun yang harus diingat dengan baik.

Sepanjang perjalanan, Saya memilih berdiri dekat pintu, yang ada lampu penanda setiap stasiun. Jadi, nggak bakal kelewatan stasiun tujuan, karena setiap kereta mau berhenti lampunya akan kelap kelip. Hahaha, cara goblok tapi efektif kan? Memang ada voice over pemberitahuan stasiun berikutnya, tapi karena dalam dialek dan bahasa China, kadang-kadang nggak kedengeran dengan jelas. 

Pas sampai di Tiananmen Square yang merupakan pintu masuk ke Forbidden City, saya shock! Antriannya puanjangggg bangettt.. Beneran kali ada ribuan orang, dan lucunya sebagian besar justru orang lokal, mungkin lokalnya dari luar Beijing ya, kan tau sendiri, China adalah salah satu negara terluas dan terbanyak penduduknya. Antrian harus memasuki pemeriksaan security, x-ray dan menunjukkan tanda pengenal. Bagi warga lokal, seperti scan KTP, tapi kalau turis hanya melihatkan paspor. Kalau liat antriannya, pokoknya bikin males deh.

Bersama saya, seorang bule Itali yang juga penumpang transit, nekad ngajakin saya “cut the lane”. Katanya gini kira-kira dalam bahasa Indonesia: “Udah, kita motong aja, kita nggak ngerti juga bahasa-nya dan besok juga nggak ketemu lagi!” Awalnya ragu-ragu, tapi kami nggak punya pilihan. Ya sudah.. motong deh, dengan santainya. Eh, ajaibnya si orang-orang China itu nggak komplen loh, cuma ngeliatin doang. Mungkin sesama mereka sih bikin “ghibah”. Tapi bodo amatlah ya.. nggak ngerti juga mereka ngomong apa. *Nyengir Suster Ngesot*

Tiananmen Square

Ternyata Forbidden City sangattt amaat luas mencapai hampir 720 Ha. Bangunan peninggalan Dinasti Ming ini memiliki lebih dari 900 bangunan. Ada bangunan free untuk didatangi, ada juga yang berbayar karena telah dijadikan museum. Saking luasnya, sepertinya tidak mungkin dikelilingi dalam satu hari. Oya, di dalam Forbidden City nggak ada kendaraan loh, jadi benar-benar harus kuat jalan kaki, makanya angan lupa bawa air minum kalau kesini. Forbidden City ini ditetapkan oleh UNESCO sebagai situs warisan budaya dunia yang wajib dijaga.

Jangan kaget juga, ada ribuan manusia yang berkunjung kesini setiap harinya walaupun bukan akhir pekan. Oleh karena itu, jalur jalan-jalannya hanya dibuat satu arah, jadi pintu masuk dan keluar sangat amat jauh dan berlawanan arah. Kalau dua jalur, bisa-bisa tabrakan kayak Tragedi Mina jaman dulu. Di sisi jalan keluar banyak restoran dan toko-toko souvenir dengan nuansa yang China banget. Pas buat jadi lokasi foto.

Sayangnya, waktu saya terbatas buat mengeksplor lebih jauh. Setelah puas foto-foto, saya pun kembali ke bandara dengan rute yang sama seperti perginya. Sebenernya, masih cukup sih waktunya kalau mau main ke City Center, tapi kaki udah terlanjur pegel dan tegang plus belum tidur nyaman setelah perjalanan 14 jam dari Amerika Asia.

Btw, kalau ada yang nanya soal jaringan data, yes di China hampir semua aplikasi buatan Amerika di-blok. Jangan harap bisa Whats-App-an, apalagi bikin insta strory kalau beli kartu dan menggunakan wifi lokal. Saya sih kemarin, buka roaming internasional telkomsel pasca bayar, Rp120 ribu untuk 1 GB data, biar tetap bisa eksis. Alternatif lain, bisa sewa modem wifi bawa dari tanah air yang sekarang lagi hits.

 Thank you Beijing. Sehari yang sungguh menyenangkan.

 

 

 

 

Hits: 5772

Bogor memang hampir identik dengan kota pelajar. Mungkin karena disini berdiri Institut Pertanian Bogor sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Dalam satu dekade terakhir, ternyata Bogor juga menjadi lokasi favorit beberapa boarding school. Tahun ini saja, disini berdiri lagi sebuah boarding school yang terletak di Desa Tenjolaya sekitar 10 km dari Kampus IPB Dramaga. Berada di atas lahan kurang lebih 60 Ha, Aldepos lebih dulu dikenal sebagai restoran, villa dan resort. Di kawasan ini, sudah sejak lama berdiri megah Masjid Abdul Fatah yang menjadi milestone pertama lahirnya Aldepos Boarding School. Masjid indah ini akan menjadi salah satu fasilitas belajar mengajar para santri Aldepos nantinya.

Beberapa minggu lalu, saya sempat berkunjung kesini. Lokasinya yang berada di kaki Gunung Salak membuat Aldepos cocok banget sebagai tempat peristirahatan. Tidak salah jika disini disediakan sekitar 7 villa tematik yang unik dan nyaman. Kontur tanah yang berbukit-bukit menjadikan pemandangannya pun menakjubkan. Ditambah suasana yang tenang, sejuk, tidak hiruk pikuk dan paling penting dekat dengan Ibukota menjadikan Aldepos juga pas menjadi lokasi sekolah berasrama.

Nah, agar lebih detail berikut alasan kenapa Aldepos wajib menjadi top list pilihan untuk melanjutkan sekolah menengah SMP maupun SMA.

1. Rileks

Rileks adalah slogan Aldepos yang merupakan akronim dari Ramah, Ilmiah, Luwes, Edukatif, Kondusif, Spiritual. Rileks merupakan cerminan pendidikan serta keseharian kehidupan santri di Aldepos. Aldepos jauh dari suasana tegang seperti asrama belajar pada umumnya. Letaknya yang berada di bawah kaki gunung dan di tengah pedesaan membuat Aldepos menjadi sangat kondusif untuk belajar dengan nyaman. Kegiatan belajar mengajar pun menyatu dengan alam. 

2. Kurikulum Plus

Salah satu pembina dan “bidan” lahirnya Aldepos adalah Prof. Darwis Hude, seorang tokoh pendidikan yang telah banyak melahirkan sekolah-sekolah berbasis Islam. Prof Darwis memiliki pengetahuan yang luas tentang pengembangan kurikulum nasional yang dipadukan dengan kurikulum kepesentrenan plus. Pada dasarnya, kurikulum Aldepos mengacu pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan, yang dipadukan (integrated) dengan Kurikulum Kementerian Agama/Pesantren. 

Plus dalam arti bukan saja belajar sesuai kurikulum namun diberi berbagai keterampilan untuk siap menjadi entepreneur. Para pendiri Aldepos bercita-cita, lulusan Aldepos tidak hanya menguasai ilmu agama dan berdakwah, tetapi juga mampu  mandiri dengan mengembangkan bisnis sendiri

3. Biaya Terjangkau

Bukan rahasia lagi, kalau boarding school ternama mematok biaya pendidikan yang tidak tanggung-tanggung. Memang segmen yang dituju sebagian besar sekolah-sekolah ini adalah segmen ekonomi menengah atas. Tidak heran jika ada yang biayanya mencapai diatas 50 juta pertahun, bahkan tidak sedikit yang mencapai ratusan juta. Dengan kualitas yang bersaing, tahun ini Aldepos memberikan potongan uang pangkal sebesar 50%. Secara total yang harus dikeluarkan orang tua untuk masuk ke Aldepos kurang lebih 20 juta rupiah saja.

4. Fasilitas Lengkap

Nah, ini penting banget! Sebagai sebuah sekolah berasrama, sudah seharusnya dalam semua fasilitas ada dalam satu areal. Keunggulan utama Aldepos adalah terletak di tengah-tengah tanah perkebunan dan peternakan yang bisa langsung menjadi tempat praktek.

Didukung masjid yang megah dan luas, proses mempelajari Islam juga akan lebih baik. Di Aldepos selain infrastruktur yang memadai, fasilitas laboratorium juga lengkap ditambah jaringan broadband, perpustakaan hingga fasilitas olahraga yang canggih. Intinya semua proses pendukung belajar mengajar, tersedia disini. Super deh pokoknya!

5. Karakter Lulusan Terbaik

Aldepos mengedepankan proses pembelajaran dengan penguatan pada kompetensi pembelajaran abad 21 dalam aspek knowledge, life skills, literasi dan teknologi yang diramu oleh para ahli secara akurat. Para santri difasilitasi oleh tenaga yang berpengalaman, ahli, amanah, berkepribadian, komunikatif, kreatif, dan inovatif. Mau tau, karakter lulusan Aldepos ? Check this out! 

Karakter Lulusan SMP Aldepos

  1. Lulus Akademik (Ujian Nasional, Ujian Asrama dan Ujian Praktek) di atas standar.
  2. Lulus Ujian Bahasa Arab dan Inggris (Basic)
  3. Lulus Kriteria Akhlakul Karimah
  4. Memiliki hafalan Alquran minimal 3 juz (difasilitasi bagi mereka yang berniat menghafal 30 juz)
  5. Mampu membaca Alquran sesuai kaidah tajwid dasar
  6. Memiliki dasar-dasar kewirausahaan untuk kemandirian hidup
  7. Memiliki kemampuan memimpin do’a dan dasar-dasar khitabah (pidato, ceramah/kultum)

Karakter Lulusan SMA Aldepos

  1. Lulus Akademik (Ujian Nasional, Ujian Asrama, dan Ujian Praktek) di atas standar (bagi yang ingin melanjutkan pada jenjang berikutnya, difasilitasi upaya memperoleh Perguruan Tinggi yang sesuai).
  2. Lulus Ujian Bahasa Arab dan Inggris (Intermediate)
  3. Lulus Kriteria Akhlakul Karimah.
  4. Memiliki hafalan Alquran minimal 2 juz selain yang dihafalkan pada jenjang SMP (difasilitasi bagi mereka yang menghafal 30 juz)
  5. Mampu membaca Alquran sesuai kaidah tajwid mahir
  6. Memiliki dasar-dasar kewirausahaan untuk kemandirian hidup
  7. Memiliki kemampuan dasar imam,khitabah (pidato, ceramah/kultum) dan khutbah Jum’at
  8. Mampu mengikuti pendidikan jenjang perguruan tinggi (universitas)

Jadi, nggak usah ragu lagi buat daftar di Aldepos ya.. Info lebih lengkap bisa buka webnya: http://www.safboardingschool.sch.id

Hits: 4858

Apa ekspektasimu saat berlibur ke pulau kecil yang jauh dari pusat peradaban dan hiruk pikuk kota?

Memang, sudah banyak pulau-pulau terpencil yang menjadi daerah wisata dan fasilitasnya dapat dikatakan layak, mulai dari hotel, transportasi dan akomodasi. Namun, khusus untuk hotel Natuna saya sungguh tidak banyak berekpektasi. Pulau terdepan di utara di Indonesia ini, memang belum lama berbenah dalam bidang pariwisata. Menurut saya, bisa tidur nyaman tanpa diganggu nyamuk saja, sudah merupakan prestasi bagi daerah dulu yang lebih dulu dikenal sebagai pangkalan militer NKRI. 

Ternyata saya salah…

Awal Desember lalu saya berkunjung ke Natuna. Beberapa hari sebelumnya saya sudah memesan hotel melalui aplikasi traveloka. Tidak banyak pilihannya seingat saya. Saya memilih hotel De Best, yang keliatan dari foto-fotonya cukup nyaman dan lokasinya strategis. Harganya pun sangat terjangkau. Semalam sebelum kedatangan, saya dihubungi seseorang dari hotel yang mengatakan akan menjemput kami di bandara. Padahal saya nggak mesen penjemputan loh! Dan ternyata itu fasilitas gratis untuk tamu hotel. Wow..

Tiba di Natuna, ternyata yang menjemput kami langsung adalah Mas Edy, pemiliki hotel yang sering juga dipanggil Koko Edy, pemuda asli Natuna ganteng (yang konon mantan model, hahaha). Dia menyapa dengan ramah dan melayani seluruh pertanyaan kami selama dalam perjalanan menuju hotel. Dari mulai rumah makan, tempat hiburan sampai akomodasi untuk jalan-jalan. Semua dijawab komplit oleh beliau. Yang paling menyenangkan, selama 4 hari disana, Koko Edy setia menjadi tour guide kami! Yeay!

Sampai di hotel, kesan pertama; Oh Not bad at all kok! Meskipun bangunan asalnya ruko, ternyata kamarnya luas, bersih, amenities yang cukup lengkap, ada AC, TV, air panas untuk mandi, air dalam kemasan yang cukup dan tidak berisik walaupun dekat dari jalan raya. Ada meja tulis juga, cocok banget buat saya yang kemana-mana nenteng laptop. Hehehe

Ekspektasi saya sangat tidak berlebihan. Teringat sekitar dua tahun sebelumnya, saat kunjungan ke Pulau Selayar, hotelnya sempit, sumpek dan bukan tempat yang nyaman buat beristirahat. Mengingat karakteristik kedua pulau yang relatif sama, saya pun tidak banyak berharap.

Dengan kamar yang luas ini, kita nggak perlu khawatir jika barang bawaan berceceran dimana-mana. Bisa koprol! Hehehe.. Yang paling menyenangkan adalah, hampir setiap kamar dilengkapi dengan jendela ke luar. Ini penting banget sih buat saya, soalnya saya kurang suka kamar yang tidak memiliki cahaya matahari langsung.

Di ruang tengah, ada lobi yang lumayan lah buat ngobrol malam-malam dengan sesama pelancong. Sayangnya sofanya kurang banyak sih, padahal space-nya masih cukup luas.

Di lantai 1, ada ruangan luas yang dulunya ditujukan untuk restoran. Namun sayangnya, ketika kesana restorannya sedang tidak beroperasi. Namun tempat ini tetap nyaman untuk ngobrol dan minum-minum kopi sambil menikmati sore di Natuna.

Karena terhitung hotel budget, De Best tidak menyediakan sarapan, namun di sekeliling hotel banyak jualan makanan kok. Pegawai hotel juga akan dengan senang hati membelikan jika kita minta. Bukan cuma affordable, harga per malam yang rata-rata Rp300.000, malah bisa dibilang less price alias murah. Lumayan lah, buat subsidi silang dengan biaya tiket pesawat yang sudah mahal kesini.

De Best rekomen banget deh buat yang ada rencana berkunjung ke Natuna. Kalian bisa dengan muda booking via Traveloka.

Kalau ke Natuna, ajak-ajak saya ya… Saya mau banget lagi…

 

 

Hits: 1497

Mencari satu kalimat awal untuk membuka tulisan tentang Natuna ternyata bukan pekerjaan mudah. Sama tidak mudahnya dengan pura-pura bahagia saat hati sesungguhnya sedang tidak bahagia. Namun siapa sangka, pulau terdepan di utara Indonesia ini justru membolak-balikkan semua hanya dengan satu pandangan ke biru lautnya.

Sayangnya, semalam hujan, hari ini pun mendung. Pantai Tanjung memang masih biru, namun langitnya buram abu-abu. Saya duduk di sebuah pondok kecil disini, di pantai yang ditempuh kurang dari 15 menit dari pusat Ranai, ibu kota Natuna. Saya tidak yakin bisa mendapatkan atmosfer foto terbaik hari ini dengan cuaca mendung di awal Desember. Gerimis pun mulai turun. Terpaksa niat berburu foto diurungkan. Tapi siapa kira bahwa mendung memang tak selamanya hujan? Belum sempat berkemas, tiba-tiba matahari hadir seolah jadi pertanda itulah cara Tuhan mengabulkan doa. Seketika, dengan waktuNya sendiri, disaat mungkin yang terpikir adalah ketiadaan harapan.

Pantai landai berpasir putih ini sungguh masih alami. Belum ada deretan hotel apalagi villa mewah. Airnya berwarna biru tosca, jernih nyaris tanpa sampah. Perahu nelayan terombang ambing diatasnya, mengikuti irama gelombang diiringi lantunan deru ombak yang menenangkan. Seujung pandangan mata Pulau Senua nampak dari kejauhan, jaraknya mungkin kurang dari tiga mil saja. Katanya Senua adalah pulau wajib dikunjungi jika tiba di Natuna. Konon pulau ini merupakan jelmaan dari seorang perempuan yang tengah hamil. Bentuknya memang menunjukkan demikian. Sayang, hari ini cuaca kurang mendukung untuk bersampan kesana.

Langit abu-abu tadi mendadak cerak biru muda dengan arakan awan putih yang jadi pelengkap utama Tidak ada kosa kata lain yang menyusup ke sendi-sendi raga selain kedamaian.

Saya kemudian memesan tabel mando, katanya ini “pizza” khas Natuna. Sepiring makanan adonan tepung terigu, sagu bercampur dengan irisan tongkol kemudian datang ke meja saya. Ya, bentuknya bulat seperti pizza, diameternya mungkin sekitar delapan senti, persis seukuran piring makan. Makanan langka, kata penduduk disini. Rasanya gurih, pas dengan saus sambal kental yang dihidang bersamanya. Sebuah kelapa mudah hijau bertengger manis disampingnya. Mungkin ini hari yang sederhana bagi orang Natuna, tapi sungguh mewah bagi orang metropolitan yang makin muak dengan santapan polusi.

Tak jauh dari pantai Tanjung, berjejer batu-besar yang melindungi hampir seluruh pantai di Natuna. Eksotisme Natuna sejatinya ada pada batu-batu besar yang jika diperhatikan bentuknya menyerupai berbagai mahluk hidup. Konon, batu-batu ini adalah tumpahan dari perbukitan Natuna. Keindahan pegunungan yang berseberangan dengan pantai seolah beradu padu dan membuat saya yakin mengatakan bahwa pulau ini sungguh cantik.

Saya tidak pernah berpikir untuk bisa sampai disini. Terlalu jauh itu alasan utamanya. Mahal itu alasan keduanya. Namun terkadang jarak dan rupiah jadi bukan kendala, manakala yang kamu cari ada disana. Keindahan, kedamaian, dan kesejukan. Ya disana, di Natuna.

Tunggu tulisan saya tentang bagaiman ke Natuna dan akomodasinya seperti apa di posting berikutnya!

 

 

 

Hits: 1645

Arizona memang dikenal sebagai negara bagian penuh dengan ngarai (canyon) dan gurun. Iya, gurun.. Tapi disini tidak pernah sekali pun saya ketemu unta seperti halnya di jazirah Arab sana. Iya, sih beda banget. Beda banget lagi, karena Amerika sudah sangat maju dalam mengembangkan pariwisata-nya. 

Nah, kalau tahun lalu saya mampir ke Grand Canyon, tahun ini, sehari setelah Idul Fitri, saya dan keluarga menyempatkan ke Sedona Dessert, masih di wilayah Arizona juga. Lokasinya hanya sekitar 2 jam dari Phoenix, sedangkan kalau ke Grand Canyon kurang lebih 4 jam waktu tempuhnya.

Dalam bayangan saya, gurun ya gurun. Gersang, panas dan tidak ada apa-apa. Tapi Sedona beda, konturnya dengan ngarai berkelok membuat berada disini seperti kembali ke pedesaan Amerika jaman 1970-an. Ini kali pertama saya ke USA pada musim panas dan Arizona memang dikenal sebagai wilayah terpanas di USA. Bayangin aja, saat kesana Juni-Juli lalu, suhu tertinggi mencapai 45 derajat celcius. Alhamdulillah, waktu ke Sedona suhunya cukup bersahabat, di sekitaran 35 derajat celcius. Menuju kesini, ngarai berliuk-liuk indah kita lalui. Latar belakangnya bukit kapur berwarna cokelat menghiasi perjalanan. Sangat pemandangan west Amerika.

Gabungan landscape ngarai dan batuan yang unik, udara sejuk dan kontur perbukitan konon menobatkan Sedona sebagai salah satu tempat tercantik di Amerika. Langit dengan warna biru yang melimpah dan karakteristik batuan sedimentasi bergradasi cokelat kekuning-kuningan membuat saya juga percaya tempat ini memang cantik. Cahaya matahari yang berhamburan membuat pepohonan hijau tumbuh subur dan savana-nya berangin sepoi-sepoi.

Untuk sampai ke puncak dan melihat pemandangan dari atas kita harus hiking beberapa ratus meter atau bisa juga mengambil jalur memutar yang cukup jauh kalau mau sekalian eksplore dan berolahraga. Karena bulan lalu musim panas, tentu saja kita memilih jalur yang terdekat, meskipun sempat nyasar juga lewat jalur yang panjang.

Sedona berada di kawasan Taman Nasional Coconico. sama seperti hampir seluruh wisata alam di Amerika, selalu ada museum tak jauh dari pusat Sedona, tempat pengunjung mendapatkan informasi dan asal muasal Sedona tercipta. Saya dan keluarga juga sempat mampir kesini. Dasarnya orang Indonesia (yang malas belajar), kita cuma foto-foto saja, tidak sempat mengamati ragam informasi tentang Coconico yang dipamerkan disini. Hehehe..

Setelah hiking yang cukup melelahkan (ukurannya lelah bagi saya adalah langsung menghabiskan sekitar 1 liter air mineral), kami lanjut menyusuri down town Sedona. Sedona ini bukan nama gurunnya saja ya, tapi sudah menjadi satu kota kecil yang memang dirancang sebagai kota wisata. Jangan heran kalau disini juga ada down town lengkap dengan mall dan perkantoran. Tapi namanya kota wisata, Sedona dipenuhi resort dan villa-villa cantik buat liburan. Kebayang gak sih, kalau umumnya orang tropis beristirahat di pantai atau pegunungan, ini kita bersemedi di gurun.

Sedona, Down Town

Katanya kesini terbaik adalah saat musim gugur, karena pepohonan yang berubah warna berpadu dengan perbukitan berwarna tanah liat yang akan membuat pemandangan menjadi sungguh tidak biasa. Sayangnya saya lebih senang musim panas, musim gugur adalah pembuka musim dingin yang pasti bakal dingin banget.

Tapi dengan kecantikannya, Sedona akan selalu menawan sepanjang tahun, sepanjang musim.

Hits: 1445

Pertanyaan yang paling sering saya terima adalah: berapa sih biaya jalan-jalan ke Amerika? Dimana cari tiket murah ke Amerika? Nah, sekalian aja, berikut tips ringan dari saya tentang bagaimana liburan murah di Amerika Serikat. Lumayan sering bolak balik kesini, bikin saya niat banget nulis artikel ini. Hahahaha… Semoga membantu. Oya, sebelumnya, saya sudah pernah menulis tentang tips mendapatkan VISA USA disini.

Tiket Murah? Tidak Melulu Harus Beli di Travel Fair!

Biarpun nyaris tidak pernah ikut travel fair, selama ini saya Alhamdulillah, selalu dapet tiket yang masih terjangkau.  Beberapa website yang menjadi rujukan saya adalah cheapoir.com, oneflight.com, vayama.com dan kayak.com. Saya tidak terlalu merekomendasikan e-commerce tiket lokal untuk beli tiket ke USA, karena kebanyakan belum bekerja sama dengan seluruh airline internasional. Jika ada harganya bisa mahal sekali….

Dari situs-situs yang disebutkan diatas, sering (bahkan selalu) bisa didapatkan harga seperti di Travel Fair bahkan saat peak season. Aktifkan menu notifikasi email, sehingga kalian bisa mendapatkan informasi jika ada harga yang sedang turun. Contoh, Jakarta-Los Angeles, jika beruntung kamu bisa dapat di harga USD 600an (PP), dan itu pun sangat sering. Resepnya, cermat dan seksama memilih tanggal keberangkatan.

Jangan heran, kalau nanti akan ketemu nama-nama pesawat yang belum pernah kita dengar. Sebagai gambaran, sekarang banyak sekali penerbangan dari China. Bukan hanya penerbangan dari Ibukotanya, namun juga dari beberapa provinsi disana langsung menuju USA. Maju ya, China ini.. Pesawat-pesawat dari China ini memiliki harga cenderung stabil murah. Ngeri soal keamanan?! Semua pesawat yang bisa masuk Amerika sudah terjamin keamanannya. Tentu saja, soal kenyamanan jangan dibandingkan dengan level Emirates atau Singapore Airlines ya. Toh, prinsipnya kan yang penting sampai dengan selamat. Btw, berdasarkan pengalaman, menurut saya sementara ini kelas ekonomi ternyaman adalah Korean Airlines (tapi harganya juga lumayan…) daripada SQ. Beneran!

Biasanya, tiket ke USA via Malaysia hampir selalu lebih murah hingga USD 200-300 (PP) jika dibanding dari Jakarta. Namun kalau pun  kamu tergiur, perlu dihitung dengan akurat, biaya-biaya tambahan lain seperti tiket Jakarta-KL (PP) plus biaya bagasi. Umumnya pesawat ke Amerika memberikan bagasi gratis 2×23 kg per orang. Sementara pesawat dalam Asia maksimal bagasi adalah 30 kg/orang (bahkan ada yang tanpa bagasi) Kenapa perlu diwaspadai? Begini, kalau pulang ke via Malaysia, artinya perlu tambahan biaya lagi beli kuota bagasi ke Jakarta. Karena umumnya, kuota bagasi dari Malaysia ke Indonesia pasti lebih sedikit daripada kuota bagasi dari dan ke Amerika. Ini terutama kalau bagasi kalian dari Amerika memang di maksimal kuota 2×23 kg. Perlu juga dihitung, biaya yang dikeluarkan saat transit di KL pastinya kita perlu makan kan? Jangan lupa hitung biaya “capeknya” mondar mondar dan transit. Eh, ini mungkin cuma berlaku buat yang kopernya segede kulkas kayak saya (2 bijik pulak!)

Beli Tiket Pergi dan Pulang dari Kota yang Sama

Amerika itu luas buangett, gaes, dan hampir semuanya daratan kecuali Hawaii dan beberapa pulau-pulau kecil. Kota-kota utama yang jadi pusat pariwisata diantaranya Los Angeles dan New York. Los Angeles di west coast sementara New York di east coast. Jarak dua kota tersebut seperti naik pesawat dari Jakarta ke Ambon direct (kurang lebih 4 jam)  dengan perbedaan waktu sekitar 3 jam. Bener-bener hampir seperti dari ujung barat ke ujung timur Indonesia.

Kalau mau hemat, belilah tiket PP dari dan ke kota yang sama. Logikanya begini, maskapai penerbangan menghindari rugi dengan memberikan harga tiket PP jauh lebih murah daripada beli sekali jalan agar okupansi pesawat selalu mencukupi. Untuk tujuan yang sama saja jika tidak beli langsung sekaligus PP akan mahal, apalagi jika berbeda tujuan. Contoh, kalau landing di LA, maka pulangnya pun harus take off dari LA. Beli tiket satu kali jalan, misal Jakarta-LA dan pulangnya New York-Jakarta, akan membuat biaya untuk tiket naik hingga 100-200%. Nggak percaya, silakan cek sendiri. 

Untuk transportasi antar kota (domestik) di USA, tipe-tipe penawarannya kurang lebih sama dengan kita, pesan lebih cepat lebih baik. Hati-hati, beberapa waktu tertentu harga tiket domestik lebih mahal daripada harga ke Jakarta. Beneran! Kalau waktu kalian pendek dan biaya pas pasan, saran saya tidak usah visit kota kota yang berjauhan. Misal kalau West Coast cukup LA dan San Francisco yang bisa ditempuh dengan bis, atau ditambah ke Las Vegas dan San Diego dengan perjalanan darat rata-rata lebih 6-7 jam dari LA. Semoga di tahun berikutnya ada rejeki lagi, jadi bisa menjelajah East Coast seperti New York dan Washington DC.

Sedia Makanan Kemasan

Sobatmisqin-ku, biaya sekali makanan yang cukup enak, layak serta bukan fast food di USA, rata-rata USD 9-10 Itu udah standar banget restoran ya. Kalau mau lebih enak sekitar USD 15-20/porsi. Jika dirupiahkan, bisa buat makan di warteg sebulan kan? Nah, buat ngirit mau tidak mau kita harus sudah mulai akrab dengan gerai-gerai fastfood seperti McD, Wendys, Pizza atau Dunkin Donuts yang ada di setiap sudut kota. Standar paket makan fastfood antara USD 4-7/porsi. Oya, porsi orang disini besar-besar, kalau saya sih bisa buat makan dua kali.

Bosan fast food? Jangan khawatir, Amerika gudangnya makanan kemasan. Dari mi instan, sayuran hingga pizza instan semua ada di supermarket. Harganya pun murah bisa kurang dari USD 5 dan untuk makan hingga 2-3 kali. Tapi pastikan ada microwave di tempat kalian menginap, untuk menghangatkan makanan sebelum disantap.

Oya, suka makan di IKEA? Ini juga bisa dicoba, meskipun berasal dari Swedia, toko IKEA cukup banyak di USA. Ssst, disini ada sarapan murah omelette dan kentang hanya 99 sen saja! Kesini berdua, udah kenyang banget dengan hanya USD 10.

Kangen makanan Indonesia? Sekarang sudah banyak warung makanan kita terutama di kota-kota besar. Nanti salah satunya akan saya tulis menyusul. Harganya? Muahalll, rek! Sakit hati, kalau ingat harganya di Jakarta. Seporsi mi ayam bisa mencapai USD 10. Nasi padang sebungkus isi rendang dan telor USD 8. Arrgh…. Saran saya, bawa makanan kering dari rumah, yang tinggal dipanasin, seperti rendang kering, orek tempe kering, dll. Ini bakal lumayan banget hematnya. Packing serapih dan serapat mungkin, serta declare sebagai makanan kering, agar tidak terhambat di custom bandara.

 

Sewa Apartemen atau Dormitory

Gaes, selain makanan, biaya liburan yang paling mahal di USA adalah biaya penginapan. Jangan heran kalau hotel-hotel chain sekelas Hilton di USA nggak ada apa-apanya. Hotel-hotel di USA (yang kalau di Indonesia, udah top banget) disini biasa saja. Bahkan sekelas Hilton tidak menyediakan sikat gigi di kamar mandinya, boro-boro lemari pendingin. Saya pernah menginap di salah satu hotel lumayan bagus di Las Vegas, saya berpikirnya pasti di kamar ada kulkas (kebeneran kita bawa rendang), eh ternyata nggak ada loh! Untung lagi musim dingin, jadi rendangnya tetap awet. Hehehe

Hampir di setiap sudut kota dan desa, disini ditemukan hotel-hotel budget yang ujungnya pake Inn, seperti Holiday Inn, Days Inn. Bentuk bangunannya, bukan gedung tinggi menjulang, tapi kubus yang penampakannya lebih mirip kontrakan bertingkat. Jika sekelas Hilton rate-nya mencapai USD 80-150 per malam, hotel-hotel “Inn” tersebut hanya sekitar USD 50-70 per malam. Tapi fasillitasnya nyaris sama (jika tanpa sarapan). Kalau datang bersama keluarga atau rombongan, saya sarankan menyewa apartemen di Air BnB, kisaran per malam sekitar USD 100 dollar, lumayan irit untuk beramai-ramai. Jika solo traveling? Mending sewa dormitory (kisaran USD 30-50) atau paling irit numpang di rumah kerabat, teman, mantan, kecengan, atau siapalah.. Hehehe..

Oya, tiap kota memiliki rate harga yang berbeda-beda, New York dan Los Angeles pasti lebih mahal dari Phoenix atau Texas.

Cari Tempat Wisata Gratis

Cukup keluarga Anang-Ashanty saja yang kalau liburan ke USA mampir ke Disneyland. Hehehe.. Karena semua penjuru berbeda atmosfir-nya dengan negara kita, banyak sekali spot instagramable yang bisa bikin stok foto instagrammu penuh untuk setahun. Taman-taman umum biasanya gratis, kecuali kalau di tengahnya ada museum. Foto di Hollywood Walk of Fame juga gratis, naik ke puncak tulisan Hollywood gratis. Foto di Golden Gate gratis, main di Central Park juga gratis, menikmati pantai La Jolla di San Diego gratis, menyusuri bay walk Manhattan Beach di LA, gratis. Dan masih banyak gratis-gratisan lain!  Mau ke taman nasional seperti Grand Canyon? Cek postingan saya disini. Cukup terjangkau kok!

Seperti Eropa, Amerika juga negara yang sangat menghargai sejarah. Museum ada dimana-mana. Saya ceritakan dua diantaranya di tulisan Texas dan Prescott berikut ini.

Kalau datang bertepatan dengan perayaan tertentu seperti Thanks Giving, Independence Day sering banyak festival yang seru dan juga gratis.

Never Buy Anything At Full Price

Teman-teman, Amerika itu negara penuh diskon. Diskonnya pun bukan kayak Ramayana, yang dinaikin dulu baru diturunin. Pada awal November, menjelang Thanks Giving, selalu ada Black Friday dimana harga bisa turun gila-gilaan walaupun hanya 24 jam saja. Biasanya saat Black Friday, banyak yang sampai menginap di pusat-pusat perbelanjaan untuk mendapatkan barang idamannya.

Tapi kalau kesana nggak pas Black Friday gimana? Jangan khawatir, banyak barang bermerek yang bisa kita dapatkan murah. Ada beberapa toko retail seperti Ross, Target, Sears, (masih banyak lagi) dan premium outlet khusus untuk barang-barang branded premium. Jangan tergiur melihat harga murah di mall, karena di mall umumnya barang-barang Just Arrived. Pandai-pandai pula melihat musim, baju musim panas pasti jatuh banget harganya di musim dingin, begitu pula sebaliknya. Buat kita yang orang Indonesia, tentu kondisi musim tidak berpengaruh.

Di toko-toko retail yang saya sebutkan diatas, selalu ada stok barang bermerek yang harganya bisa turun hingga 50%. Memang stoknya terbatas, atau sudah bukan keluaran terbaru. Namun, tetap keren kok. Kalau mau souvenir murah buat oleh-oleh lebih baik beli di Wallmart atau Wallgreen daripada di toko souvenir atau di tempat wisata. Wallgreen juga surga buat yang suka belanja kosmetik, dari harga sedolar hingga puluhan dollar ada disini. Dari merek biasa hingga mereka mahal tersedia. Asal jangan tanya merek yang sekelas Beverly Hills ya.. Di beberapa toko juga selalu ada “garage sale”. Biasanya stoknya tingga 1-2 pieces, tapi kalau beruntung, siapa tahu itu barang incaranmu selama ini.

Jangan lupa, semua harga yang tertera di barang belanjaan selalu belum termasuk pajak. Nilai pajak ini bisa beda-beda tergantung negara bagiannya. Sebagai contoh di New York, pajaknya 10%, di Arizona 8,3%, tapi bisa juga 0% seperti di New Jersey.

Sebenarnya sih, meskipun tidak diskon gede, beberapa barang branded terutama keperluan wanita (kosmetik, body fragrance, dll), relatif lebih murah dibandingkan di Jakarta. Maklumlah, masuk negara tercinta ini kan, kena pajak lagi. Tapi jangan kalap ya, ingat bea cukai kita makin membatasi barang luar negeri masuk ke Indonesia.

So, sudah siap berangkat?!

Hits: 5500

Kalau jalan-jalan ke Malang, yang jadi top of mind pasti buah apel-nya. Apel Malang yang rasanya khas manis-manis asem ini bukan cuma jadi oleh-oleh tapi potensi wisata agro dan kuliner di Malang.  Ada juga Batu Night Park atau Eco Green Park yang wajib kamu kunjungi di kota ini.  Sebenarnya masih pilihan obyek wisata lain di Malang dan sekitarnya yang tak kalah menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut. 

Malang memang salah satu daerah wisata unggulan di Jawa Timur. Wajib banget jadi rekomendasi karena alamnya memiliki topografi yang beragam. Tidak hanya berkutat di sekitar dataran tinggi dengan Gunung Bromo sebagai maskot-nya, ternyata Malang juga menyajikan wisata pantai yang tak kalah eksotis. 

Enaknya lagi, ke Malang ini gak pake ribet. Hampir seluruh moda transportasi tersedia menuju Malang. Buat kita-kita yang tinggal di Jakarta, angkutan ke Malang sangat beragam, bisa transportasi darat (bis, mobil dan kereta) hingga pesawat terbang. Tapi buat kalian yang di luar Pulau Jawa, tentu lebih efektif menggunakan transportasi udara. Jadi yang perlu kamu lakukan adalah cari tiket pesawat murah, siapkan perbekalan dan nikmati berwisata alam di seluruh daftar tempat alam yang sangat eksotis ini. 

Kalau bosen dengan wisata kuliner, bosan ke museum angkut dan sudah sering ke Batu Night Park, ini ada delapan rekomendasi khusus buat kalian yang senang dengan adventure di alam lepas. Yuk, simak satu-satu

  1. Coban Tundo

Coban adalah nama lain dari air terjun. Tempat wisata ini terbilang baru di Malang sehingga masih relatif alami. Letaknya di Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Malang. Tempat wisata ini sangat cocok bagi kamu yang menyukai destinasi wisata ekstrim. Airnya berwarna biru muda dan memiliki kedalaman sekitar 2 meter. Untuk mencapainya, akan dibutuhkan waktu tempuh sekitar 3 jam dari Kota Malang.

  1. Pantai Kedung Celeng

Pantai Kedung Celeng berada di Desa Banjarejo, Kec. Donomulyo, Malang. Letaknya yang tersembunyi membuat Pantai Kedung Celeng jadi pilihan bagi Anda yang suka mengeksplorasi tempat baru. Kalau dilihat dari tebing atau ketinggian, pemandangan pantai ini persis pantai-pantai di pedalaman Indonesia Timur. Airnya masih bening serta tidak terlalu berombak. Bisa deh santai-santai sambil foto-foto buat stok instagram

  1. Pantai Licin

Pantai ini terletak di Dusun Licin, Desa Lebakharjo, Kec. Ampelgading, Kabupaten Malang. Rutenya terbilang sulit sehingga ada kemungkinan kamu harus berganti moda transportasi dengan sepeda motor ojek lokal. Selama perjalanan menuju pantai ini, kamu akan menemui pemandangan alam yang berliku-liku dan sangat menawan. Dan semua kelelahan akan terbayar setelah tiba di lokasi karena pantainya yang memang keren!

  1. Tebing Watu Talang

Berada di Dusun Sumbermulyo, Kec. Pujon, Malang, tempat wisata ini juga terbilang baru. Watu Talang masuk dalam denah wisata Coban Supit Urang. Di tempat ini, Anda akan disuguhi pemandangan yang berbeda dari wisata alam Malang biasanya karena kamu akan diajak mendaki tebing untuk menikmati keindahan yang tak ada duanya. Cocok buat yang suka hiking.

  1. Coban Pelangi

Air terjun instagramable ini, berada dalam wilayah konservasi alam di perum perhutani Jawa Timur, dan berjarak 32 Km dari kota Malang. Saran saya, untuk mengunjunginya, fisik kamu harus dalam keadaan yang prima. Kamu akan melihat pemandangan alam yang masih sangat asri dan hijau. Tak kalah istimewa, kamu  ada pelangi dimatamu yang melingkar di bawah air terjun. Penasaran kan??

  1. Pantai Ungapan

Pantai Ungapan berada di Desa Gajahrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Letaknya yang berdekatan dengan Pantai Bajulmati. yang berjarak sekitar 64 km dari Kota Malang. Di Pantai Ungapan, terpampang nyata deretan batu besar di sebelah kanan pantai yang mirip dengan buaya. Selain itu, pantai ini juga memiliki air laut berwarna biru dengan batu-batu besar di bibir pantainya. Kamu akan dikejutkan dengan keindahan gradasi warna air laut yang biru. Jangan lupa, momentum terbaik kesini adalah senja hari untuk menikmati sunset-nya yang unforgettable.

  1. Coban Rondo

Ini nih, lokasi yang akhir-akhir ini heitss banget di media sosial. Letaknya kurang lebih 12 km dari Kota Batu, tepatnya di desa Pandansari, Kecamatan Pujon. Air terjun yang eksotis ini memiliki ketinggian 60 meter. Di sini tersaji pemandangan alam khas Malang yang luar biasa indah. Konon, air terjun memiliki catatan mistis dari cerita cinta Dewi Anjarwati dan Raden Baron Kusuma. Hmm, siapa yaa? Selain air terjun disini juga ada lokasi labirin dari tumbuhan dan camping ground yang disewakan.

  1. Pantai Batu Bengkung

Pantai ini terletak di pesisir selatan Kabupaten Malang dan memiliki ombak yang cukup besar. Di bagian pantai, memang ada rambu dilarang berenang yang terlihat dengan jelas. Namun jangan khawatir,  ada beberapa titik di pinggir pantai yang bisa dijadikan sebagai laguna tempat berenang yang menawarkan sensasi berbeda dari sekedar berenang di pantai. Pemandangannya juga asyik banget, dengan tebing-tebing tinggi yang bikin tempat ini beda dengan pantai-pantai lain di Malang.

Jadi kapan jalan-jalan ke Malang? Saya diajak yaa…

Feature image : infomalang.co.id

Hits: 1943

Selalu ada cerita dibalik secangkir kopi. Saya percayai itu. Seperti sore ini, segelas Turkish Spices, kopi berempah unik menemani saya menulis baris demi baris tumpukan laporan yang membosankan. Dan, life memang begins after kopi. Ketika inspirasi sedang kemana-mana, saat semangat nyaris tidak ada, saya selalu menemukan mereka kembali dari cangkir-cangkir kopi yang terhidang di depan saya.

Aroma Turkis Spices kopi menyeruak, sensasi rempahnya membuat saya merasa berada di Jazirah Arab. Penyajiannya pun menggunakan canting kecil antik yang memberi kesan ekslusif. Jarang sekali ada coffee shop dengan penyajian khusus seperti ini. Sebelumnya, saya pernah mencicipi kopi serupa di sebuah restoran Timur Tengah, namun yang penyajiannya otentik seperti ini, mungkin hanya di Pikot.

Turkis Spices

Suasana cozy Pikot Coffee sore itu makin membuat saya betah berlama-lama. Musik jazz yang mengalun pelan seolah menjadi soundtrack hujan di luar sana. Saya memesan mie kering, salah satu sajian utama di café ini sebagai pendamping kopi saya. Rasanya sangat khas Ifumie yang ditambah bumbu rahasia ala Mi Titi yang sangat tenar di Makassar. Layak dan sangat wajib dicoba.

mie kering

Turkis Spices hampir habis, namun saya sepertinya masih butuh asupan kopi yang lebih ringan. Pilihan saya jatuh kepada Kopi Susu Pikot. Menurut Mas Hendro -barista andalan Pikot-, Kopi Susu Pikot bukan sekedar mengikut trend kopi susu kekinian yang marak saat ini. Sungguh saya membuktikan itu. Mungkin karena selera saya suka yang creamy-creamy, racikan Mas Hendro ini sangat pas buat saya. Kopinya tidak encer, komposisinya tepat dengan rasa yang khas karena ditambahkan gula merah asli. Kali kedua saya datang ke Pikot, rasanya tetap sama. Pastilah. menjaga konsistensi rasa menjadi tantangan yang tidak mudah.

Katanya, menciptakan racikan Turkis Spices dan Kopi Susu khas Pikot membutuhkan riset dan uji coba yang tidak sebentar. Pemilihan makanan pendamping pun dilakukan dengan test food yang serius. Pantas saja rasanya enak. Buat pencinta racikan kopi konvensional, Pikot juga menyediakan sajian black coffee, latte, cappuccino hingga minuman-minuman lucu non coffee. Kok lucu?  Iya, karena beraneka warna seperti Red Velvet, Lychee Tea dan Green Tea. Merah, kuning, hijau. Lucu kan ?! Ada pastri-pastri enak juga untuk makanan ringannya.

aneka pastri

Lokasinya sangat strategis buat yang berdomisili di Cibubur, Karanggan dan sekitarnya. Cocok buat kongkow asyik tanpa harus jauh-jauh ke Jakarta. Atau mau pulang tapi macet ? Nah, mampir deh ke Pikot, cuma sekitar 500 meter dari perempatan Plaza Cibubur. Posisinya yang agak mojok, bisa jadi tempat yang asyik buat kerja maupun cuma ngobrol.

Sambil menikmati kopi susunya, saya baru sadar saya sudah sering numpang kerja di berbagai café dan jarang-jarang ada café yang komplit enak dari minuman, makanan hingga tempatnya. Pas buat yang lagi hunting kopi di Cibubur  Harganya juga sangat bersahabat. Budget yang biasanya buat sendirian kalau di Jakarta, disini bisa buat berdua dengan bonus kenyang mantap. Lumayan nih, pikir saya,.. lain kali kalau kesini lagi jangan berdua laptop aja…  🙂

Kamu sudah ngopi hari ini?

Foto foto;

Ariefpokto , Hungerranger

Hits: 1090

Pernah ngerasain antri masuk restoran seperti antri audisi Indonesia Idol? Nah! ini! Tidak tanggung-tanggung, antrinya pun di luar ruangan yang suhunya “cuma” 10 derajat sajah plus gerimis yang mengundang! 

Anyway, saya bukan food blogger bukan juga pengamat kuliner, jadi tulisan ini sama sekali bukan ulasan. Ini cuma sedikit  pamer dan pengen bilang bahwa makanan paling enak itu (buat kita yang orang Indonesia) ya, makanan kita. Misalnya pecel lele pinggir jalan simpang Indomaret atau ayam cabe ijo yang mangkalnya di depan kantor PLN tidak jauh dari rumah saya. 

***

Pada sebuah hari di penghujung Februari, kami tiba di San Diego sekitar pukul  2 siang setelah berkendara kurang lebih 5 jam dari Arizona. Cuaca cukup ganas. Hujan badai yang kenceng banget, membuat kami ngendon di hotel hingga malam tiba. Hotel kami tepat menghadap pantai yang katanya sih buat ukuran sana udah keren banget. Eh, buat kita yang terbiasa dengan pantai Indonesia mah, gak ada apa-apanya. Entar deh saya tulis, sekarang saya ceritain dulu soal mengantri makan yang mirip menunggu pembagian raskin.

Setelah badai reda, Lisa mengajak untuk mencoba Raki Raki Ramen yang berlokasi di Japanese Town dan konon itu adalah ramen terenak di San Diego. Terakhir makan ramen di Pacific Place Mall Jakarta dan itu enak banget. Mungkin yang di Amerika ini bisa lebih enak, begitu pikir Saya.  Oya, San Diego termasuk kota yang paling banyak penduduk Asia-nya selain San Francisco di negara bagian California. Tidak heran, disini penuh dengan restoran makanan Asia di setiap sudutnya.

Tiba disana, antrian sudah mengular dan pengunjung harus antri dengan berdiri di luar yang suhunya hanya sekitar 10-an derajat dan gerimis! Saya merapat ke perapian yang modelnya mirip obor.  Restorannya memang kecil, jadi daya tampungnya memang tidak banyak. Melalui kaca-kaca besar aktivitas di dalam resto terlihat jelas. Kelihatan beberapa pelayannya memang orang Jepang asli, chef-nya pun begitu. Mereka sangat sibuk, sampai ada beberapa meja yang belum sempat dibereskan, padahal antrian di depan makin panjang. Hingga nyaris dua jam kami belum juga bisa masuk ke dalam restoran. 

Interior Raki Raki

Then… akhirnya tiba juga rombongan kami dipanggil masuk, sungguh Saya excited. Penasaran. Kemudian Buku menu terhidang di meja, (tentu saja banyak yang non halalnya). Sebagai bangsa kambing-kambingan, saya memesan Vegetable Ramen. Harganya?! Lumayan, US$ 13,95 saja. Kalau dirupiahkan sama saja Rp 150 ribu alias bisa makan 3 mangkuk ramen paling enak di Pacific Place. Emang Amerika kapitalis!! Hahahaha.. Mama dan Lisa memesan menu lain, minumnya air mineral yang tulisannya Kangen Water. Wow, sama dong kayak yang lagi hits di Jakarta, konon air ini mineralnya dan ionnya lebih banyak yang bikin dia lebih sehat. Total jenderal kami menghabiskan hampir US$ 50 buat makan bertiga. Mehong!

 

Akhirnya, pesanan pun tiba di meja, mau tau rasanya?!! Yahhh…so so aja sih. Kurang sebanding dengan perjuangan mengantri selama hampir 2 jam dengan bonus kedinginan. Enak yang gak enak-enak amat. Beneran.

Tau begini, rasanya saya pengen pulang saja ke rumah masak indomie kari ayam pake telor setengah mateng dengan irisan cabe rawit yang banyak! Atau menunggu dengan duduk manis di rumah dan membiarkan abang gojek yang mengantri selama dan sepanjang tadi. 

Tidak kapok ngantri, esoknya Lisa lagi-lagi mengajak sarapan pagi di restoran pancake yang konon (lagi-lagi) paling enak di San Diego, namanya Richard Walker’s Pancake. Saking larisnya, dia hanya buka hingga menjelang makan siang. Again, ukuran enak ternyata salah satunya dilihat dari antrian. Persis sama dengan Raki Raki Ramen, disini juga kita berjejer menunggu seperti antri sembako. Duh, bule mau makan susah bener ya.. Di Jakarta, antrian ayam goreng bensu dan kue artis saja gak segininya. Itu pun bisa diwakilkan dengan ke abang gojek yang setia.

Yang istimewa dari Richard Walker’s Pancake adalah porsinya yang besar-besar. Rasanya memang saya akui enak. Meskipun lidah kita mah, sarapan tetep nasi uduk yang paling nendang. Saya memilih Omelette Cheese Mushroom yang umum sering kita temui. Tapi ini memang gede banget porsinya, bisa buat bertiga. Hot dish mereka adalah Ginormous German Pancake, pancake yang bentuknya seperti baskom dan dimakan dengan butter. Sumpah enak! Kami juga memesan blueberry pancake yang rasanya tidak standar, memang mantap! Lebih mantap lagi karena kopi dan teh yang kita pesan bisa refill sampai kembung. Asik kan ?

Saking banyaknya, makan disini ibarat makan di Restoran All you can eat. Total sekitar US$60 dihabiskan buat bertiga. Lumayan banget buat kantong kita kebanyakan. 

Dua hari di San Diego, kami capek juga ngantri-ngantri terus. Besoknya kami kembali ke selera asal, makan rendang dan nasi yang kita bawa dari rumah. Karena cuaca masih terhitung musim dingin, tanpa kulkas pun semua tetap awet..

Makan puas di Richard Walker’s

 

Ya sudah, gimana cerita wisata kulinermu?

 

 

 

 

 

Hits: 3098

Kamu kapan terakhir ikut pawai berbaju nasional? Kalau saya, hmm.. mungkin waktu SD atau malah TK?  Setahu saya,  selain pada peringatan 17an, biasanya siswa-siswa sekolah akan berbusana nasional pada peringatan Hari Lahir Ibu Kartini. Iya, kan?! Kecuali kalau kamu memang penari atau orang yang kerjanya dekat dengan pertunjukan tradisional. Nah, apa jadinya jika yang berpakaian nasional adalah Bapak, Ibu pegawai pemerintahan yang biasanya berbatik atau berseragam cokelat kulit sapi? Ya, ini beneran kejadian di Tangerang beberapa waktu lalu.

Mengusung tajuk Festival Budaya, pada pagi itu ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Tangerang berbaris rapih, berdandan tampan dan cantik dengan puluhan jenis pakaian daerah. Ada juga rombongan yang berjumlah hingga 500 orang berbaju batik mengikuti kirab budaya pagi itu. Mereka dilepas oleh Walikota Tangerang, Bapak Arief R Wismansyah. Parade juga dimeriahkan oleh macam-macam tarian dari berbagai suku dan daerah. Tidak cuma dimerihkan oleh ASN Kota Tangerang tetapi juga ada  perwakilan dari 11 kota dan kabupaten di Indonesia, seperti Kota Kediri, Bandung  bahkan Kabupaten Merauke, Papua.  

Tidak main-main, seluruh Kepala Dinas, Pak Camat hingga Pak Lurah, wajib menyiapkan tim-nya dengan pakaian adat daerah manapun dari seluruh Indonesia.  Tepat di bawah Tugu Adipura, dua orang MC memperkenalkan setiap kontingen. Masyarakat tumpah ruah. menyaksikan dengan gembira. Mungkin ada yang baru hari itu melihat dengan mata langsung pakaian adata Aceh, pakaian adat Dayak atau bahkan koteka dari Papua. Seru. Beberapa kontingen bahkan tidak hanya berparade, tetapi juga menyuguhkan atraksi dari tari-tarian khas nusantara hingga atraksi barongsai. Siapa bilang Barongsai cuma milik suku Tionghoa? Para pemainnya, jelas-jelas bukan dari suku Tionghoa.

Sebagai informasi, Festival Budaya Nusantara 2017 tersebut digelar selama satu minggu, pada minggu pertama Desember 2017.  Kirab di minggu tadi, hanya merupakan salah satu rangkain. Masih ada kegiatan lain seperti  berbagai perlombaan, di antaranya lomba palang pintu, lomba tari kreasi nusantara, lomba baju pengantin tradisional, lomba standup comedy, serta penampilan Sendratari Ramayana dan pertunjukan lighting Tangerang dalam Visual di penutupan kegiatan.

Buat saya, inisiatif Kota Tangerang melaksanakan acara ini, patut diacungi jempol. Kapan lagi kita diingatkan bahwa Indonesia ini kaya dan beragam. Jangan cuma anak TK dan SD yang wajib menggunakan pakaian daerah pada hari-hari tertentu. Orang-orang dewasa pun sesekali perlu melakukan simbol-simbol Bhinneka Tunggal Ika seperti ini.

Festival-festival seperti ini seharusnya rutin diadakan. Apalagi Tangerang yang menjadi kota Satelit Jakarta adalah minatur Indonesia. Tangerang memang tidak mempunyai penduduk asli. Suku Betawi dan Keturunan Tionghoa sudah membaur jadi satu. Wilayahnya yang masuk Provinsi Banten (yang pecahan dari Jawa Barat), membuat disini juga banyak didiami orang Sunda. Kini, sebagai kota penyanggah, lebih banyak lagi asal muasal penduduk yang tinggal disini. Mungkin tingkat pluralismenya belum semajemuk Jakarta, tapi untuk ukuran Kota kecil dan menengah, harmoni keberagaman di Tangerang pantas jadi contoh daerah lain.

Ayo ke Tangerang!

Hits: 1292