Akhir-akhir ini saya kerap naik Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus TransJakarta (APTB) dibanding naik commuter line. Kenapa? Karena haltenya dari rumah lebih dekat daripada ke stasiun dan bisa turun pas di depan markas Kamadigital. Dulu, waktu masih bekerja di Bank Mandiri juga sama, tapi saya memilih APTB (yang sekarang disebut TransJabodetabek) jurusan Grogol dan turun pas di Semanggi. Bisnya nyaman sekali, jarang ada penumpang yang berdiri kecuali pada jam-jam sangat sibuk. Kaki bisa selonjoran, tidak seperti bis-bis reguler Mayasari atau Jakarta-Bogor lainnya yang tempat duduknya sempit dan bikin kaki kejepit dan turunnya keram.

Kabar baiknya, Transjabodetabek sekarang sudah ada yang premium, loh! Sedikit lebih mahal tapi fasilitasnya lebih oke, kursinya lebih luas, ada colokan dan wifi. Bener-bener gak bikin mati gaya di jalan.

Kebetulan minggu lalu saya diundang Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan menghadiri launching promo diskon 50% Transjabodetabek Bekasi-Jakarta di Bekasi. Kenapa mesti Bekasi yang duluan diskon? Tau sendiri-lah, Jakarta-Cikampek (yang melalui Bekasi) sejak adanya mega proyek LRT Cawang-Cikampek, macetnya nggak ketulungan. Bulan lalu, BPTJ meluncurkan paket kebijakan untuk mengurangi lalu lintas di tol Jakarta-Cikampek tersebut, seperti pengaturan jam operasional angkutan truk dan kontainer,memprioritaskan laju angkutan umum Bekasi-Jakarta pada jam-jam tertentu dan pembatasan mobil dengan skema ganjil genap.

Solusi Kemacetan Jakarta-Cikampek

Nah, atas kebijakan-kebijakan tersebut, BPTJ merasa berkewajiban menyediakan kendaraan umum yang lebih banyak dan layak untuk masyarakat Bekasi dan sekitarnya. Tapi tentu harus didukung keikhlasan kita (yang biasa naik mobil pribadi) untuk pelan-pelan membiasakan diri naik kendaraan umum. Perubahan perilaku harus dimulai dari sekarang karena ke depan sarana dan prasarana angkutan massal yang disiapkan pemerintah seperti KRL dan MRT akan segera selesai pembangunannya. “Siapa nanti yang akan naik KRL dan MRT kalau sampai hari ini kita tidak memulai merubah perilaku kita untuk beralih naik angkutan umum massal ?” kata Pak Bambang Prihartono, Kepala BPTJ.

Ini jadwalnya..

Jadwal Transjabodetabek Premium Bekasi
Jadwal Transjabodetabek Premium Bekasi

Hasilnya, ada trend positif pada peningkatan pengguna Bus Transjabodetabek Premium. Load factor-nya mulai menunjukkan kenaikan pada jam-jam sibuk. Namun untuk menjaga agar penumpangnya tetap stabil, dibuatlah promo-promo biar penumpang makin happy, salah satunya diskon 50% ini. Dari Rp 20 ribu menjadi Rp 10 ribu saja. Bukan itu saja, buat para pengendara pribadi bisa parkir di mall/pertokoan atau pool keberangkatan bisnya dengan tarif 5000 saja, all day long selama dapat menunjukkan tiket penumpang Transjabodetabek. Promo ini direncanakan hingga Juni 2018 atau bisa lebih panjang dengan melihat minat para penumpangnya

Saya sebagai pengguna setia kendaraan umum, tanpa diminta pun, akan dengan senang hati mengajak lebih banyak orang untuk naik kendaraan umum. Bertahun-tahun menjalani hidup Jakarta-Bogor, saya tahu betul bagaimana perubahan (baca: penambahan) kemacetan kota ini. Sepuluh tahun lalu, pemisah jalur Tol Jagorawi masih penuh tanaman dan taman kecil yang cantik. Namun kini nyaris hanya pada pembatas pagar baja, karena semakin tahun tol semakin diperlebar untuk menampung pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan penambahan luas jalan. Saya sadar banget yang bikin macet itu, adalah karena jumlah kendaraan pribadi yang terlalu banyak. Tidak usah bikin riset statistik yang canggih-canggih. Sesekali, saat macet lihat saja di kanan kiri kita kendaraan pribadi, rata-rata penumpangnya hanya 1 orang!

Riset membuktikan lebih dr Rp 100 triliun hilang setiap tahun akibat kemacetan di Jabodetabek. Sebuah artikel lain menyebutkan satu mobil pribadi menghasilkan 250 kg emisi CO2 per penumpang per 1000 km, sementara bus hanya menghasilkan 50 kg emisi CO2 per penumpang per 1000 km. Artinya dengan naik kendaraan umum, kita secara tidak langsung juga sudah menjaga lingkungan.

Jangan berharap hanya pemerintah beresin kemacetan, kalau kita sendiri tidak ikut berkontribusi. Memang, naik kendaraan umum tidak mungkin senyaman kendaraan pribadi (apalagi disupirin) tapi naik bus itu manfaat sosialnya banyak banget. Membantu mengurangi macet, mengurangi polusi dan membuat hidup kita pun makin berkualitas. Dulu kemapanan itu tersimbol dengan mengendarai mobil pribadi. Padahal jaman sudah berubah. Kini sejatinya “mapan” adalah mereka yg mau naik kendaraan umum. Keren kan naik, bus?

Kata seorang pakar; keadilan sosial dalam transportasi bermakna dimudahkannya akses bagi warga lintas kelas kepada moda yang paling banyak kapasitasnya: angkutan umum massal bukan kendaraan pribadi

Ngobrol Seru dengan Pak Menteri Perhubungan
Hits: 1881

“Loh, kok yang menyelamatkan Sayekti, malah calon ibu mertuanya?

Calon suaminya mana?”

“Gimana sih itu cowok..” Argghh..

Hahahaha..

Yah, namanya juga ludruk, namanya juga komedi, sah sah saja ceritanya mau gimana. Namun di akhir pertunjukan, akhirnya kita bisa mengambil hikmah, bahwa yang dilakukan si calon mertua sesungguhnya hanya untuk membahagiakan putranya yang akan menikahi Sayekti-calon istrinya yang diculik oleh bangsa jin. Kira-kira begitu sedikit sinopsis  Lakon Misteri Istana Songgoriti, pentas ludruk yang saya tonton minggu lalu.

****

Saya belum pernah nonton ludruk sebelumnya. Entah kenapa, yang terbayang di pikiran saya, pertunjukan seni daerah itu seringnya membosankan seperti nonton wayang semalam suntuk. Apalagi saya tidak paham Bahasa Jawa. Satu-satunya pertunjukan kolosal daerah yang pernah saya tonton adalah Tari Saman Massal beberapa waktu lalu. Tari Saman menjadi menarik, karena kita terpesona dengan gerakan kompak penarinya dan tidak ada dialog, jadi siapa pun bisa ikut menikmati.

bersama blogger-blogger kece
makan enak sebelum nonton..

Tapi, karena saya penggemar komedi, kita diajakin nonton ludruk saya oke-oke saja. Paling tidak wawasan saya tentang budaya negeri ini bertambah. Lagian, jarang-jarang ‘kan dapat kesempatan nonton seni tradisional yang dikemas ekslusif di Jakarta.

Dan…  Graha Bakti Budaya TIM hari minggu itu penuh. Nyaris 1200 kursi terisi semua. Saya gak nyangka juga, penggemar ludruk di Jakarta sebanyak ini, kirain yang menonton hanya alumni Malang saja, ternyata tidak juga..

Acara ini digagas oleh Paguyuban Genaro Ngalam, sekumpulan orang Malang, mantan siswa dan mahasiswa yang pernah belajar di Malang dan sekarang bermukim di Jakarta. Genaro Ngalam sendiri artinya Orang (dari) Malang, yang diambil dari bahasa Walikan yang biasa digunakan oleh orang-orang Malang dan sekitarnya. Jadi, orang-orang Malang memang suka membaca kata dari belakang. “Orang” jadi Genaro (muncul “e” karena ujung kata orang konsonan semua) dan Ngalam dari kata Malang. Buat saya sih, balik-balikin kata begini ribet. Tapi buat orang Malang sudah biasa, dan mereka bisa dengan cepat membaca dari kanan kiri. Hahahaha.

Opening yang keren

Dari judulnya saja “Ludruk Jaman Now”, setting panggung, wardrobe dan jalan cerita nya memang dikemas jaman “baheula”. Tapi dialog-nya sudah “jaman now” banget. Opening-nya saja dengan Ibu-ibu cantik berkebaya merah menyanyikan lagu Via Vallen. Pengen ikut nyanyi juga deh rasanya..

Sepanjang pertunjukan yang saya pikir kira sebelumnya akan membosankan- ternyata TIDAK sama sekali! Pentasnya sebagian besar menggunakan Bahasa Indonesia. Pantas, yang datang bukan cuma orang Jawa Timur. Dua jam pertunjukan menjadi tidak terasa, apalagi pemainnya banyak anggota Srimulat yang sudah punya nama seperti Tessy, Polo dan Kadir. Semua tampil all out. Memang sih ada sedikit bagian yang membosankan (mungkin karena saya tidak paham bahasanya sih, hehehe..) Tapi ini dimaklumi, karena sebagian besar pemain memang amatiran alias volunteer. Biarpun begitu, kerja keras mereka patut diacungi jempol. Tidak mudah loh, tampil di hadapan lebih dari 1000 orang di gedung pertunjukan begitu.

Saya seperti menemukan atmosfir Indonesia banget yang sudah lama hilang. Biasanya cuma nonton pertunjukan atau konser-konser artis luar dengan tata panggung high tech, sampai lupa kalau Indonesia juga punya seni pertunjukan yang menjual.

Saya juga baru tahu, biarpun formatnya komedi, ludruk sarat dengan makna dan filosofi hidup. Bahkan, di zaman penjajahan Jepang, ludruk digunakan warga pribumi untuk menyampaikan kode-kode rahasia dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sayangnya, ini tidak banyak orang tahu, apalagi generasi muda masa kini.

Salut dengan Paguyuban Genaro Ngalam karena di tengah hiruk pikuk hedonisme ibukota, masih ada sekelompok orang yang serius mengangkat tradisi lokal begini. Ini merupakan kali kedua, setelah penyelenggaraan pertama dua tahun lalu. Berita baiknya, pentas ini menjadi pentas pertama yang menjadi agenda tahunan Taman Ismail Marzuki. Jadi tahun-tahun depan minimal kita bisa nonton ludruk yang dikemas megah setahun sekali di Ibukota.

Btw, Indonesia ini kan kaya budaya banget ya.. Semoga pentas ludruk Genaro Ngalam ini bisa membuka ide orang-orang daerah lain membawa seni lokal masing-masing ke pentas nasional.

Jangan heboh nonton konser Cold Play, doang!

Foto foto by Cerita Mata

Hits: 2859

Katanya, topik-topik keberagaman sekarang lagi sangat seksi. Di tengah gempuran berbagai pihak untuk memecah belah Bhinneka Tunggal Ika, masih banyak orang yang berjuang untuk tetap mengutamakan perbedaan sebagai kekayaan bangsa. Saat membaca postingan orang-orang di Sosial Media yang penuh ujaran kebencian, saya sempat berpikir; beginikah sebenarnya wajah orang Indonesia di dunia nyata? Ternyata dunia sosmed, cenderung melebih-lebihkan alias lebay.

Tahun lalu saya ke Semarang, menyaksikan dari dekat bagaimana keberagamaan itu membaur menjadi bagian kehidupan masyarakatnya. Di Pohuwato, sebuah kabupaten yang ditempuh sekitar 4 jam dari Ibukota Gorontalo ada satu desa kecil yang dihuni lima agama sekaligus lengkap dengan rumah ibadahnya yang besar-besar. Atau tidak usah jauh-jauh sampai ke Indonesia Timur, coba deh perhatikan kota kalian masing-masing. Hampir semua kota di Indonesia punya daerah Pecinan yang tinggal berdampingan dengan penduduk asli. Bahkan di Aceh, -yang 99% penduduknya muslim yang taat dan peraturan Pemerintahnya dibuat dalam Syariat Islam- ada kawasan Pecinan-nya. Dan hebatnya, semua hidup aman bersama. Eniwei, di berbagai kota-kota besar di dunia daerah Pecinan adalah lokasi pariwisata unggulan, loh!

Minggu lalu, saya berkesempatan mengeksplor Kota Tangerang dan baru saya tahu bahwa daerah di pinggiran Jakarta ini, dahulu kala dibangun oleh berbagai suku dan golongan. Saya dan teman-teman blogger menyambangi Pasar Lama, sebuah kawasan yang merupakan cikal bakal Kota yang dibelah oleh Sungai Cisadane ini. Dulunya wilayah ini dibangun bersama antara orang-orang Betawi, SukuTionghoa dan para perantau dari Timur seperti Suku Bugis dan Makassar.

Pintu Air 10, Landmark Kota Tangerang

Di kawasan Pasar Lama ada beberapa klenteng diantaranya Klenteng Boen Tek Bio yang usianya sudah ratusan tahun dan masih difungsikan hingga sekarang. Letaknya yang berada tempat di tengah-tengah pasar tradisional keberadaannya yang menyatu dengan seluruh kelas masyarakat. Tidak jauh dari sana, ada Mesjid Kalipasir, masjid tua sederhana yang dibangun pada abad ke 17 dan arsitekturnya juga mengadopsi budaya Tionghoa. Konon, keduanya dibangun bersamaan dan dikerjakan juga secara bersama antara muslim dan Tionghoa.

Boen Tek Bio

Nah, yang paling baru disini adalah museum Benteng Heritage. Museum memang terhitung baru (sekitar 6 tahunan), tapi bangunan museum ini sama tuanya dengan Mesjid Kalipasir dan Klenteng Boen Tek Bio. Adalah seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang membeli dan merestorasi bangunan ini menjadi museum yang bernilai sejarah tinggi. Bentuk bangunan dan isinya persis seperti Museum Peranakan Penang yang saya kunjungi tahun lalu, hanya ukurannya saja yang lebih kecil.

Pintu Utama Benteng Heritage, sayang kamera gak boleh masuk…
Rombongan Blogger Kamadig

Bedanya, disini diceritakan bagaimana akulturasi Budaya antara Tionghoa, Betawi dan perantauan dari Bugis Makassar membangun Tangerang bersama-sama. Mirip-mirip dengan Klenteng Sam Poo Kong di Semarang, disini diceritakan juga perjalanan Laksamana Ceng Ho seorang muslim yang mendarat di Teluk Naga Tangerang dan diyakini sebagai nenek moyang orang Tangerang.

Btw, dari museum ini saya tahu.. Tangerang adalah salah satu penghasil kecap sejak jaman penjajahan Belanda. Dan ternyata, sejak dulu slogan “Kecap Nomer 1” sudah ada. Bahkan, karena semua ingin jadi nomer satu, tidak mau jadi nomer dua apalagi 10, akhirnya pada masa itu disepakati ada No 1a, 1b, 1c dan seterusnya yang didasarkan atas tingkat rasa manis atau asin masing-masing kecap. Hahahaha..

 

Kecap SH, sudah berdiri sejak 1920.

Kalau dilihat dari sejarahnya, Tangerang memang tidak mempunyai penduduk asli. Suku Betawi dan Keturunan Tionghoa sudah membaur jadi satu. Wilayahnya yang masuk Provinsi Banten (yang pecahan dari Jawa Barat), membuat disini juga banyak didiami orang Sunda. Kini, sebagai kota penyanggah, lebih banyak lagi asal muasal penduduk yang tinggal disini. Mungkin tingkat pluralismenya belum semajemuk Jakarta, tapi untuk ukuran Kota kecil dan menengah, harmoni keberagaman di Tangerang pantas jadi contoh daerah lain.

Foto foto : Team Kamadigital.com

 

 

 

 

Hits: 2435

Di Banda Aceh ada Taman Seribu Janji. Letaknya pas di tepi Sungai Krueng Raya yang melintas di tengah kota. Dinamakan Taman Seribu Janji, mungkin karena suasana disana memang romantis melankolis (apalagi di sore hari), sehingga banyak pasangan yang saling berjanji (baca: ngegombal) hingga seribu macam jenis janjinya. Tapi tidak usah jauh-jauh ke Banda Aceh kalau mau berjanji, main-mainlah ke Kota Tangerang yang kini setiap sudutnya penuh dengan taman. Bukan janjinya saja yang bisa sampai seribu macam, jumlah tamannya pun bisa disebut “seribu”. Beneran!

***

Apa yang terbayang di kepalamu ketika mendengar kata Tangerang? Kalau saya, hal pertama yang duluan muncul adalah : “panas”. Iya, soalnya saya sering melipir ke pinggiran Tangerang seperti Cikokol, Serpong, Ciputat dan daerah-daerah itu udaranya panas dan lumayan padat penduduk. Ada juga teman saya yang mengidentikkan Tangerang itu dengan mall-mall keren, kota satelit baru dan perumahan mewah. Ya, semua ada benarnya, tapi Tangerang itu luas loh, ada 3 daerah adminstratif didalamnya, yaitu; Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang.

Hingga pada sebuah minggu pagi, saya bersama beberapa teman diajak mengeksplore taman-taman Kota Tangerang. Pemda Kota Tangerang sudah membangun 150 taman untuk memenuhi kota ini, 27 diantaranya adalah taman tematik. Kenapa tematik, karena setiap taman punya ciri khas masing-masing. Ada Taman Potret, Taman Kelinci dan Kupu Kupu, Taman Bambu, Taman Gadjah Tunggal dan yang sedang dalam proses adalah Taman Burung.

Kata Pak Walikota, pembuatan taman-taman cantik ini sebagai bagian dari upaya Tangerang untuk mewujudkan City Of Happiness. Tentu saja, taman-taman ini juga berfungsi sebagai paru-paru kota. Sungguh kota ini jauh dari kesan “panas” seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Masuk ke pusat kota, kita sudah disuguhi pepohonan yang teduh dan jauh dari kesan gersang. Malah di beberapa sudut terlihat seperti Kota Bogor, ditambah ada Sungai Cisadane yang membelah kota, membuat kota ini memiliki keunikan sendiri.

Taman Potret

Di Taman Kelinci, benar-benar dipelihara kelinci yang sehat dan gendut-gendut. sementara di sebelahnya ada Taman Kupu Kupu. Memang, saat kami berkunjung, kupu-kupunya belum banyak, karena kubahnya saja baru dibangun. Konsepnya persis seperti Taman Kupu Kupu di Penang yang pernah saya kunjungi tahun lalu. Hanya ukurannya saja yang lebih kecil. Taman burung bentuknya seperti miniatur Taman Burung di TMII dan Singapura juga tengah dibangun. Tidak lama lagi, semuanya bisa dinikmati semua lapisan masyarakat secara gratis.

Taman Kupu Kupu

Mau main-main di taman dengan anak-anak? Gampang! Datang saja ke Taman Potret atau Taman Gadjah Tunggal. Disini disediakan arena bermain anak yang gratis, sementara orang dewasa bisa duduk-duduk nongkrong dengan pusat jajanan di sekelilingnya. Atau mau duduk-duduk santai mencari inspirasi? Saya pikir, Taman Bambu adalah lokasi yang paling tepat. Oya..beberapa taman sudah dilengkapi free wifi. Cocoklah buat nge-galau sambil nge-net gratisan. Hehehe..

Taman Bambu

 

Tahun lalu, di Melbourne saya takjub melihat masyarakatnya yang senang sekali menghabiskan waktu di taman bersama keluarga. Katanya, pemerintah Australia percaya kekerabatan keluarga akan tercipta di ruang terbuka hijau. Tidak heran kalau disana mall-mall tutup jam 6 sore. Komunikasi dalam keluarga dianggap sebagai fondasi terbaik untuk menjaga keutuhan bangsa. Makin sering kita berinteraksi di alam, maka makin baik kualitas generasinya. Artinya lagi, keluarga akan mencetak generasi-generasi yang madani yang siap memajukan bangsa.

Konsep “back to nature” ala Kota Tangerang ini patut dicontoh kota-kota lain. Alam mengajarkan banyak kearifan lokal, kekerabatan dan tentu saja mengurangi polusi.

Hmm, Jadi kapan kita main ke taman?

Hits: 2584

Kapan terakhir ke Ancol? Pertanyaan ini saya ajukan ke beberapa teman minggu lalu. Jawabannya ternyata tidak terlalu mengejutkan. Yes, bener banget! Sebagian besar mengaku terakhir ke Ancol lebih dari 5 tahun atau bahkan 10 tahun lalu. Kalau pun ada yang setahun belakangan, umumnya karena acara-acara khusus seperti gathering kantor atau menghadiri undangan.

Kalau pertama kali ke Ancol? Mmmm..ayooo masih ingat nggak? Saya, ketika masih duduk di bangku SD masih tinggal di Makassar dan cuma liburan ke Jakarta. Wah, piknik ke Ancol waktu itu, rasanya mewah dan membanggakan. Memang sih, buat sebagian orang, Ancol ibarat liburan masa kecil. Padahal sebenarnya wahana-wahana di Ancol banyak yang ditujukan untuk semua usia. Apalagi sekarang Ancol kian berbenah dan tambah menarik. Wajib banget nih kembali ke Ancol dan menjadikannya referensi liburan. Ini dia 5 alasan kenapa harus kembali ke Ancol.

(1). Onestop Recreation

Memangnya Ancol cuma Dufan ? Nggak dong, ada puluhan wahana Ancol dari yang berbayar hingga gratis. Dufan dan beberapa wahana besar memang berbayar, harganya pun keliatan cukup merogoh kocek walaupun itu sebanding dengan yang kita dapat. Bahkan Dufan memiliki Annual Pass yang bikin hemat berlipat-lipat selama satu tahun.

Mau murah, santai dan gratis? Banyak! Bisa ke pantai yang kini berpasir putih dengan panjang 3,5 km dengan aneka pilihan aktivitas atau ke Allianz Ecopark, wahana dengan konsep hutan kota yang penuh dengan taman, danau dan ruang terbuka hijau. Ada Pos Jaga bak di film Baywatch atau Promenade Bridge yang cocok jadi tempat nge-galau. Hehehe…

ansol2b ok
Life Guard, Pantai Pasir Putih
ansol15ok
Senja di Promenade Brigde

Pengen nge-mall ? Ancol juga punya! Dan ini mungkin satu-satunya mall dengan pemandangan laut lepas di Jakarta. Mahal, nggak? Jangan khawatir, harga produk dan makanan di Ancol dikontrol ketat oleh Manajemen. Jadi, mau nongkrong dimana pun di Ancol tidak perlu takut “dipalak”. Jadi praktis deh,.. nggak rempong bawa bekal dari rumah.

(2). Ramah Lingkungan

Belum tahu kan kalau Manajemen Ancol memiliki kebijakan melarang seluruh supplier-nya menggunakan styrofoam yang berbahaya bagi lingkungan?  Saya iseng mengecek ke salah satu kedai, dan ternyata betul, para pedagang mengakui diwajibkan menggunakan kemasan kertas atau minimal plastik untuk produknya. Kalau pun sekarang masih ada, itu adalah limbah pengunjung yang dibawa dari luar. Ancol akan terus mengembangkan kebijakan ini agar nanti bisa berlaku bagi seluruh pihak. Ancol juga sudah mengolah sendiri siklus limbah hariannya sehingga bisa mengurangi beban pembuangannya ke Bantar Gebang sampai 30%. Keren, kan?!

 IMG20170722082857

Ada lagi nih, beberapa waktu lalu, Ancol diberi penghargaan oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, sebagai ganjaran keberhasilannya menyulap areal lapangan golf-nya seluas kurang lebih 34 Ha menjadi hutan wisata dan konservasi. Jadi, kalau dulu wilayah ini hanya bisa dinikmati segelintir orang, kini semua bisa merasakan keteduhan Allianz Ecopark yang sudah menjelma menjadi salah satu paru-paru di utara Jakarta.

IMG20170722095251
Allianz Ecopark

(3) Selalu ada wahana baru

Jika tidak punya sesuatu yang baru, Ancol harus siap-siap ditinggalkan pengunjungnya, makanya Ancol selalu menghadirkan sesuatu yang segar dan kekinian agar kita tidak bosan datang kesini. Pada musim liburan ini saja ada pertunjukan Teenage Mutant Ninja Turtle asli dari Nicklodeon, USA dan Mysterious Island di Dufan. Lalu di Ocean Dream Samudra ada pertunjukan 4D Yogi The Bear. Paling baru dan gratis, adalah naik Sato Sato, kereta mini keliling Ancol buat yang anti capek. Pantau terus deh instagram Ancol di @ancoltamanimpian atau twitter @ancoltmnimpian biar tahu kalau ada yang baru lagi.

IMG20170722144233 (1)
Mysterious Island
sato2
Sato Sato

 

(4) Belajar, Bermain dan Terapi

Sudah pernah mampir ke Allianz Ecopark? Disini ada jogging track, danau buatan, mini zoo, mini outbond, bicycle track, aktivitas back to nature seperti belajar bercocok tanam, belajar tentang hewan ternak dan masih banyak lagi. Saya merekomendasikan banget untuk datang kesini di akhir pekan, soalnya sambil jalan-jalan dan olahraga ada ecomarket yang menyediakan menu sarapan yang beragam dan murah.

IMG_1616
Ocean Dream Samudera

Oya, mungkin belum banyak yang paham bahwa lumba-lumba di Ocean Dream Samudra bisa memberi terapi penyembuhan bagi anak berkebutuhan khusus (autisme) dan para penderita stroke?! Riset membuktikan suara dan gerakan yang diberikan oleh lumba-lumba itu mampu menjadi terapi yang baik bagi mereka. Therapyst berpengalaman di Ancol telag menyusun paket-paket terapi tergantung tingkat keluhan penderita. Tentu saja calon pasien harus berkonsultasi dulu.

Mau belajar seni? Ada Pasar Seni! Lokasi “heritage” ini masih terjaga dan terawat baik. Selain bisa bertemu dengan seniman lukis, seniman pahat, Pasar Seni juga memiliki spot-spot foto menarik. Di waktu-waktu tertentu, disini sering digelar pertunjukan-pertunjukan seni dan musik. Ingin nongkrong sambil ngopi saja pun boleh. Saya saja masih penasaran, belum sempat mencicipi satu kedai kopi lokal di salah satu sudutnya.

20170721_115117
Pasar Seni

(5) Aksesnya mudah

Ini dia nih…yang sering dikeluhkan orang. Pengen sih ke Ancol, tapi jauh. Kelihatannya begitu, apalagi buat mereka yang bermukim di kota-kota satelit sekitar Jakarta. Tapi aksesnya mudah lho, hampir seluruh jalur tol di Jabodetabek terhubung ke Ancol, bahkan ada pintu tol keluar sendiri untuk masuk arealnya. 

Kendaraan umum, seperti Trans Jakarta sekarang juga sudah punya rute/koridor Cililitan-Ancol. Tidak perlu jalan jauh lagi, karena haltenya sudah langsung masuk Ancol. Bagaimana dengan KRL? Jarak antara Stasiun Kota ke Ancol tidak lebih dari 4 km lalu bisa nyambung angkot atau ojek. Bisa juga naik dari Stasiun Kampung Bandan dan berhenti di Stasiun Ancol yang posisinya tepat berada di seberang pintu gerbang utama Ancol.

Jadi gimana?! Masih ada alasan untuk tidak kembali ke Ancol?

Pic by IG @suryadi_sulthan, @dh.haqiqi @nugisuke

Hits: 2121

Libur tiga hari kemarin mungkin menjadi salah satu masa paling nelongso bagi saya. Gimana gak, ditengah suntuk dan bingung ngadepin kerjaan baru yang TOTALLY baru saya pun bokek berat. Diiitung-itung saya juga sudah beberapa bulan gak naek pesawat yang norak norak bergembira (baca: pergi jauh-jauh). Harusnya saat-saat seperti ini yang dibutuhkan adalah liburan, semisal ngopi ngopi di pinggir pantai, baca buku sambil dengerin lagu mellow. What a perfect combination!

Sudahlah, terima nasib saja yaa sis… :p

Mendadak seorang teman mengajak jalan-jalan ke Taman Wisata Alam Mangrove di Pantai Indah Kapuk (PIK) -yang sekarang lagi hits menjadi alternatif wisata di Jakarta- yang memang nyaris tidak punya wisata alam. Sebenernya saya juga kurang paham ini jalan-jalan ngajak seneng bareng-bareng atau temen saya itu butuh hiburan karena lagi galau berantem sama pacarnya. Hahaha.,. gak penting!! Yang penting akhirnya saya bersama dua orang teman yang lain (jadi ber-empat) sangat menikmati tempat ini. Sabtu itu jalanan dari Bogor menuju Jakarta Utara lanjar jaya banget, kami hanya butuh waktu sekitar 1,5 jam (itu pun pake acara mampir-mampir dan nyasar salah keluar tol). Wohoo…

Pasti sudah banyak yang menulis tentang spot wisata yang terhitung baru ini, jadi saya rasanya tidak perlu menjelaskan detail tempat ini lagi. Saya melihat konsep taman ini menekankan ke edukasi pentingnya mangrove bagi ekosistem. Di awal masuk, kita akan melihat banyak bibit mangrove yang ditanam dan sebagian besar merupakan donasi dari berbagai organisasi baik perusahaan maupu lembaga pendidikan. Tempatnya sudah ditata cukup baik, hingga dilengkapi dengan penginapan berkonsep alam, restoran dan jogging track. Saking indahnya, kami sampai menjumpai sedikitnya lima pasangan calon pengantin yang berfoto prewedding disini.. Huh, sebel (jomblo sirik…)!

blog3 r

Jaman dulu, karena saya kuliahnya di Fakultas Perikanan Kelautan, istilah mangrove atau bakau mungkin hanya diketahui segelintir orang. Bahwa fungsi utama mangrove sebagai penahan abrasi pantai dan feeding ground, nursering ground bagi banyak biota laut bisa jadi hanya diketahui mahasiswa-mahasiswa belaka. Bisa jadi juga, jaman dulu yang “piknik” ke mangrove ya…cuma mahasiswa-mahasiswa pencari sampel laboratorium itu. Tidak terbayang kalau sekarang hutan mangrove bisa disulap jadi tempat jalan-jalan yang edukatif begini. Saya mulai bangga, pelan-pelan mata orang Indonesia mulai terbuka akan pentingnya mangrove bagi manusia.

ada masjid terapung yang bagus banget
ada masjid terapung yang bagus banget

Melihat hutan mangrove di tengah kota ini adalah kali kedua untuk saya. Kali pertama tahun lalu di Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Di PIK, sepertinya spesies mangrove yang tumbuh tidak sebanyak di Tarakan. Vegetasi tumbuhan dan spesies hewan lain pun jauh lebih banyak di Tarakan daripada di PIK. Tentu saja, di Tarakan luasnya juga jauh lebih besar. Sangat terasa sisa-sisa pencemaran laut di Teluk Jakarta sudah merusak sebagian ekosistem pesisir-nya.

when narsis is a must :)
when narsis is a must 🙂

Saya tiba-tiba teringat tesis saya tentang Mitigasi bencana di Banda Aceh. Pada satu kesempatan dosen saya bertanya, seharusnya penerapan mitigasi itu dilakukan bukan fokus di Aceh lagi, tetapi juga di daerah pesisir lain yang juga rawan, dan salah satunya adalah Jakarta. Aceh paling tidak sudah punya pola mitigasi bencana yang lebih baik dari daerah lain. Mereka belajar dari bencana mahadahsyat tsunami 2014. Sayangnya Aceh belum punya hutan mangrove di tengah kota seperti PIK atau Tarakan. Atauu, sekarang sudah ada? Hmm, semoga… Karena saya sudah dua tahun tidak “pulang” ke Aceh.. Lebih penting lagi, harusnya semua kota pesisir di tanah air punya hutan mangrove di tengah kota seperti ini. Selain buat lingkungan tentu saja, bisa jadi tempat piknik asyik yang mendidik. Bukan malah direklamasi terus dibikin apartemen…

Karena lingkungan bukan warisan dari nenek moyang kita,

tapi pinjaman dari anak cucu kita..

Hits: 1461

Ceritanya minggu lalu, saya “mupeng berat” dengan yang namanya pantai. Dengan kondisi kantong yang cekak dan waktu libur yang singkat, sepertinya tidak memungkinkan untuk melancong ke pantai-pantai indah di Bali atau Lombok atau Aceh Lon Sayang.. (How I miss Aceh..). Memang sih, dalam setiap perjalanan dinas ke luar ke daerah akhir-akhir ini sering ketemu pantai, tapi itu benar-benar cuma numpang lewat. Boro-boro menikmati pasir putih, mampir sekedar minum kopi pun kadang tidak sempat.

Entah dapat wangsit darimana, tiba-tiba terlintas ingin main ke Pulau Seribu. Yah, karena lokasi ini yang paling dekat dari Jakarta dan biayanya pun terjangkau. Sejujurnya agak setengah hati ketika merencanakan perjalanan ini. Katanya pencemaran perairan di Teluk Jakarta sudah melebar hingga Kepulauan Seribu. Tergambar di benak saya bagaimana dampaknya terhadap pantai-pantai di sekitarnya.  Dari hasil googling, saya nyaris belum menemukan tulisan dengan rekomendasi positif, kecuali pernikahan sepasang artis tenar di salah satu pulau yang katanya untuk mendongkrak pariwisata kepulauan ini.

kampanye lingkungan di Pulau Pramuka
kampanye lingkungan di Pulau Pramuka

Pagi hari keberangkatan di PPI Muara Angke, saya melihat jubelan manusia, penuh dari segala umur berdesak-desakan di PPI yang bau amis dan rela mengantri kapal tongkang kayu. Disini saya mulai berpikir, jika turisnya sebanyak itu berarti lokasinya memang menarik dong.  Fasilitas darmaga yang minim, nyaris tidak ada tempat menunggu yang layak, -pokoknya bener-bener gak nyaman- harusnya terbayar dengan lokasi yang dituju. Kalau tidak, ngapain capek capek dari subuh sudah nangkring disana. Di tahap ini saya sudah mau ngomel rasanya dengan Pemda DKI. Ini kok, turis lokal bahkan asing sebanyak ini, tapi fasilitasnya minim banget.  Memang sih, ada darmaga khusus di Marina Ancol, yang armadanya kapal cepat. Tapi itu biayanya hingga 3-4 kali lipat dibandingkan dari Muara Angke. Kapasitasnya pun terbatas.  Padahal wisata bahari harusnya adalah wisata massal, jadi fasilitas kapal kayu pun sepatutnya tetap dibuat lebih layak agar jumlah wisatawan juga meningkat. *Pak Ahok, tulisan ini dibaca yaa…

Pukul 07.30 tepat, kapal yang saya tumpangi meninggalkan Darmaga Muara Angke yang warna airnya sudah coklat tua, bau dan penuh sampah. Beuhhh… Dalam perjalanan yang kurang lebih dua jam itu, saya memilih duduk di geladak kapal, untung merasakan angin laut pagi yang sejuk.  Di dalam kapal kayu itu, hanya ada satu ruangan besar tanpa kursi yang dipadati wisatawan dan penduduk lokal dengan berbagai barang belanjaan mulai dari beras, buah hingga sayur-sayuran dari Jakarta.  Kebayang kan, gimana sesaknya. Bagi yang mungkin sering melancong ke luar negeri, kondisi begini pasti “gak banget”. Tapi saya yang orang kampung-an sih ini masih oke-oke aja.  Hehehe..

 

teduhnya Pulau Air

Menjelang pukul 10.00 WIB, kapal kami merapat di Darmaga Pulau Pramuka. Wah, disini saya sempet kaget. Ternyata darmaganya bersih banget, sangat beda dengan Darmaga Muara Angke. Airnya sangat jernih, bahkan salah satu sisi darmaga dijadikan Taman Miniatur Ekosistem Laut Dangkal. Darmaga kayu yang sangat eksotik ini membuat saya semangat, dan melupakan sedikit ketidaknyamanan dengan suasana sumpek Muara Angke.  Oh ya, Pulau Pramuka adalah salah satu dari 113 pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Dari jumlah itu hanya 9 pulau yang berpenghuni dan Pulau Pramuka ini adalah pusat administrasi pemerintahan Kepulauan Seribu. Kemudian kami diajak ke penginapan yang mereka sebut home stay (HS). Dalam asumsi saya, homestay adalah rumah penduduk yang disewakan. Namun ternyata itu definisi lama yang masih kebawa-bawa. HS adalah penginapan kecil layaknya bungalow yang kebetulan menghadap langsung ke pantai dengan fasilitas lumayan.   Sepanjang jalan menuju HS saya memperhatikan bahwa pulau ini cukup bersih, air lautnya yang jernih membuat kita bisa melihat langsung biota laut di saat pasang.  Nyaris tidak ada sampah.  Di sepanjang jalan mulai berdiri beberapa depot makanan. Ada pula billboard-billboard besar yang menyerukan pentingnya menjaga kebersihan laut. Tampaknya dipasang oleh NGO-NGO lingkungan yang bekerja disini. Meski masih cukup jauh dari sempurna, pergerakan menjadi wilayah ekowisata sepertinya sudah mulai terlihat.

Selepas sholat lohor, kami diajak ke beberapa spot di pulau kecil lain di sekitar pramuka untuk sekedar menikmati alamnya atau menyelam (snorkling). Waduh,

mejeng bentarlah, ya....
mejeng bentarlah, ya….

saya yang semula tidak berekspektasi berlebihan, merasa disuguhi panorama alam yang sangat indah  dan membuat saya sadar, masih ada lho…pantai indah di sekitaran Jakarta dan itu bukan Ancol! Airnya yang tenang, jernih, biota laut yang indah, udara laut yang sepoi-sepoi membuat perjalanan seharga Rp390 ribu (2H1M) itu sangat layak.   Karena rombongan saya sebagian besar belum pernah menyelam, agen travel kami memberi waktu untuk “belajar”, di perairan yang lebih dangkal. Itu saja pemandangannya sudah indah sekali.

Tidak itu saja, kami juga diajak melihat penangkaran ikan hiu sembari menunggu sunset di pulau nusa keramba. Sempat juga mampir ke Pulau Semak Daun, yang punya pasir putih meski garis pantainya tidak panjang. Malamnya kami masih disuguhi hidangan BBQ di pinggir pantai.  Pagi sebelum pulang, kami diajak mengunjungi penangkaran penyu sisik. Penyu-penyu yang sudah termasuk langka ini dipelihara hingga dewasa, sebelum akhirnya dilepaskan kembali ke habitatnya di laut lepas.  Disini juga ada pembibitan mangrove yang disumbang dari  berbagai korporat besar di negeri ini.  Saya yang sarjana perikanan, jadi ingat mata kuliah ini jaman dulu yang kebetulan dapet C *bangga… * Intinya, banyak lokasi yang cukup edukatif buat mereka yang membawa anak usia sekolah. 

sunset di tepi darmaga

Kesimpulannya saya mau bilang; jangan ragu-ragu ke Pulau Seribu. Kalau gak sanggup naik kapaltradisional dari Muara Angke, bisa dicoba dengan kapal cepat dari Marina Ancol, siap-siap saja kocek yang lebih tebal.  Buat yang baru pertama kali, ada baiknya menggunakan jasa agen travel yang sangat banyak di internet. Selain lebih murah (apalagi kalau kita berombongan), mereka juga sudah punya agenda dan bisa jadi guide untuk spot-spot menarik lain yang layak dikunjungi.  Kabarnya masih banyak pulau-pulau lain yang layak dikunjungi tetapi belum menjadi destinasi utama Kepulauan Seribu.  Pemerintah memang masih banyak punya tugas berat untuk menyulap wilayah ini menjadi benar-benar bernilai jual seperti pembenahan pelabuhan Muara Angke yang kondisinya memprihatinkan, fasilitas air tawar yang minim dan fasilitas-fasilitas penunjang lain. Namun, kekurangan yang ada sekarang gak boleh mengurangi niat kita kesana. Minimal, biar yang punya gawe itu jadi ngeh, kalau memang banyak yang harus dibenahi. Sekali lagi, kalau bukan kita, siapa yang bisa membuat negara kita yang indah ini lebih baik?!

 

Hits: 1566