Seorang senior travel blogger pernah berpetuah ke saya: “Kalau mau bikin judul tulisan jalan-jalan, lupakan menggunakan frasa-frasa hiperbola seperti surga tersembunyi, emas terselubung, nirwana di kaki langit, atau apalah yang sejenisnya. Kenapa?! Karena kata-kata tersebut memang cenderung berlebihan dan “feeling” orang terhadap sebuah daerah bisa berbeda-beda. Lagian, emang kamu pernah ke surga atau ke nirwana sampe-sampe bisa bikin perbandingan? Ah..jadi ngarang kan??

Beda cerita dengan judul hiperbola, pertanyaan yang paling sering mampir ke saya adalah: Lebih suka pantai atau gunung?  Jelas, saya dengan mantap akan menjawab: pantai tentu saja! Pantai dan laut yang seolah tanpa batas seolah menyimpan misteri yang membuat saya ingin selalu kembali. Hmmm…

blog1
by IG @d.haqiqi

Gara-gara Salem, saya sepertinya mulai melanggar dua pakem itu. Pertama, pada posting kali ini, saya terpaksa menggunakan kalimat “arunika dari Brebes”. Maapkeun, saya memang sudah kehabisan diksi yang pas untuk menggambarkan keindahan Salem. Arunika berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya sinar matahari pagi, karena saya yakin suatu saat Salem akan jadi seperti “matahari pagi” bagi pariwisata Brebes. Kedua, sepertinya preferensi pantai daripada gunung akan sedikit bergeser gara-gara untuk kedua kalinya saya mampir ke Salem minggu lalu. Yes, minceu bersama beberapa teman-teman blogger yang super heboh diajak jalan-jalan ke Brebes dan mengeksplore salah satu kecamatan di Brebes ini. Dan entah saya kenapa tiba-tiba saya suka gunung! Lho kok? Ini dia ceritanya!

***

Salem ditempuh sekitar 1,5-2 jam dari kota Brebes. Gak jauh kok! Perjalanan sama sekali tidak terasa, karena sepanjang jalan mata dimanjakan oleh hijaunya sawah dan ladang bawang. Udaranya sejuk, pepohonan masih rimbun dan infrastrukturnya sudah mencukupi. Namanya juga daerah pegunungan, jalanan menuju Salem memang menanjak. Bahkan ada beberapa tikungan tajam dan mendaki yang bisa bikin kita lebih banyak berdoa saat melewatinya. Untungnya, jalanan kesini super mulus dan pengemudi yang membawa kita sudah sangat mengenal medan. 

Kehebohan menuju Salem memang dimulai dari kelokan-kelolan mautnya. Kami yang sepanjang jalan penuh canda tawa tiba-tiba nyaris diam dalam keheningan, ketika melewati tikungan-tikungan tajam yang nyaris 90 derajat. Belum lagi jalannya dua arah, untung mobil kami, dilengkapi dengan klakson telolet yang akan dibunyikan saat jalan menanjak dan menikung tajam. Tujuannya, agar kendaraan dari arah berlawanan tahu kalau ada mobil besar yang akan lewat. Jadi gak usah jejeritan bilang: Om Telolet Om!  

blog8
by IG @d.haqiqi
by IG @suryadi.sulthan
by IG @suryadi.sulthan

Biarpun aman, melewati tikungan-tikungan tajam ini tetap bawaannya a litte bit scary, sampe-sampe saya (yang kurus) ini minta turun, dengan maksud untuk meringkankan beban mobil. Padahal, kayaknya gak ngaruh juga sih.. hehehe.. Lepas dari tanjakan, mobil kami berhenti sejenak. Wajah-wajah tegang turun satu persatu dari mobil. Lega banget, meskipun tadi hampir seluruh doa-doa diluncurkan. Kapok?! Gak dong!!… justru disitulah letak keseruannya.

Stop point pertama, adalah melihat pembuatan batik tulis khas Salem. Saking kayanya negeri tercinta ini, semua daerah nyaris punya batik. Desa Bentarsari di Salem ini adalah salah satunya. Pembatik Salem umumnya adalah ibu-ibu dan remaja putri. Membatik biasanya dilakukan di waktu luang selepas  bekerja di ladang atau sawah. Batik Salem unik, karena coraknya yang masih sangat old fashioned dengan mengangkat ciri khas Brebes, seperti bebek dan telur asin. Uniknya lagi, batik ini diwarnai secara alami dari tanaman yang ada di seputaran Desa Bentarsari, seperti daun mahoni, daun jambu klutuk hingga kulit jengkol. Satu kain batik seukuran 2×3 meter diselesaikan selesaikan 1-2 minggu. Saat ini, Ibu-ibu pembatik masih kesulitan akses untuk memasarkan produknya lebih luas, ditambah lagi keterbatasan modal yang membuat produksi tergantung pesanan. Hmm, ada yang tertarik jadi investor?!

by IG @suryadi.sulthan
by IG @suryadi.sulthan

Oya, biarpun masuk dalam Provinsi Jawa Tengah, penduduk Salem berbahasa Sunda. Beda banget sama saudara se-KTP nya di Brebes pesisir yang berbahasa Jawa dengan dialek “ngapak-ngapak”. Memang, sebagain besar wilayah pegunungan Brebes berbatasan dengan beberapa kabupaten di Jawa Barat. 

Lepas dari bertemu ibu-ibu pembatik. kami menuju Panenjoan. Sepanjang jalan gerimis tiada henti, tiba di Panenjoan pun tetap gerimis bahkan hujan! Panenjoan adalah daratan berbukit yang dipenuhi hutan pinus dan memamern view pegunungan. Beberapa menara pandang dibangun, buat jadi obyek foto. Teman-teman blogger tetap bersemangat, meskipun banyak banget spot yang tidak bisa difoto maksimal karena cuaca tidak mendukung.

Panenjoan  In frame IG @miss_nidy Pic IG @d.haqiqi
Panenjoan
In frame IG @miss_nidy
Pic IG @d.haqiqi

 

Panenjoan  pic by IG @suryadi.sulthan
Panenjoan
pic by IG @suryadi.sulthan

Tapi gakpapa, pulangnya kami masih bisa mampir di sawah terasering yang kerennn abis! Bagi penduduk sana mungkin sawah ini biasa saja. Cuma kita doang yang kayaknya mampir foto-foto.  Tapi sumpah, selain di Bali dan NTT, ini sawah ter-instagram-able yang pernah saya lihat secara langsung! Biarpun sebenernya saya orang kampung juga, tapi tetap excited melihat susunan sawah menghijau berlatar gunung dan sungai. Lebih indah dari lukisan. Saking bingung mau ngambil foto dari mana, akhirnya saya minta ijin ke salah satu rumah penduduk yang berlantai dua. Yah, lumayan deh… 

by IG @d.haqiqi
by IG @d.haqiqi

blog14

Menjelang sore, kami menghabiskan waktu di Kalibaya Park. Yaah, sayang banget..beberapa spot sedang direnovasi dan tanahnya becek sehabis hujan. Eh, tenyata itu malah jadi berkah sendiri buat teman-teman yang mencoba motor cross dan mobil off road. Belum lagi ada ayunan angkasa yang membuat kita seolah terbang. melayang. Ada menara pandang dari bambu dengan pemadangan waduk Malahayu dan alam Salem. Keren deh, menurut saya malah lebih keren dari Kalibiru di Yogyakarta. Cuma memang masih kalar tenar aja sih… Di Kalibaya juga ada fasilitas outbond,  jadi kalau pergi bareng rombongan, kita gak mati gaya. Banyak aktivitas yang bisa dicoba

Kalibaya pic IG @_rpoppy
Kalibaya
pic IG @_rpoppy
Space Swing Kalibaya in frame  IG @bernavita pic IG @d.haqiqi
Space Swing Kalibaya
in frame IG @bernavita
pic IG @d.haqiqi

Obyek yang belum sempat kami sambangi adalah Ranto Canyon, tebing-tebing tinggi dikelilingi air pegunungan yang dijadikan obyek bodyrafting. Seru juga sih kayaknya, next time saat cuaca bagus, wajib dijajal!

Soal makanan, jangan khawatir.. Kami sempat mampir ke warung Ayam Bumbu Kampung. Aduh, selain murah, enaknya kebangetan. Padahal menunya sih sederhana banget. Ayam goreng krispi dengan kriukan, lalap, tahu goreng, tumis kangkung dan aneka pepes.  Makan sepuasnya pun per orang tidak lebih dari Rp 30 ribu. Kecuali kalo kamu pengen beli gerobak Ibunya, ya?! :p

IMG-20170123-WA0008
by IG @miss_nidy

Paling enak sih kesini bukan sekedar mampir mengunjungi obyek-obyeknya, tapi merasakan sehari dua hari jadi warga Salem. Iya loh.. Salem memang makin terbuka dengan pariwisata. Kita bisa tinggal disini, lari pagi di sawah, makan ala desa yang murah banget. Foto-foto di Panenjoan dan melamun di tengah sawah (eh..ini cuma buat yang lagi galau…). Waktu paling pas untuk puas-puas disini sepertinya antara Maret-Oktober, saat musim kemarau. 

Asal tahu saja, semua inisiatif pengembangan wisata Salem ini diupayakan sendiri oleh penduduknya. Mereka membentuk Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Baru berjalan kurang dari satu tahun, Salem sudah menjadi salah satu tujuan wisata utama di Brebes. Saat ini mereka sedang gencar mempromosikan daerahnya melalui format-format digital. Keren kan? Semoga akan lebih banyak daerah yang bisa mencontoh Salem. Memang, masih banyak yang belum sempurna, tapi kalau menunggu semua oke banget, kapan kita bisa berjalan maju, kan?! Makanya sama-sama kita dukung pariwisata dalam negeri.

Pic by IG @d.haqiqi
Pic by IG @d.haqiqi

Jadi pengen ke Salem, nih!? Saat ini kendaraan umum memang belum banyak. Dari pusat kota Brebes baik terminal mapun stasiun naik angkot menuju Ketanggungan lalu lanjut angkot menuju Pasar Banjarharjo. Dari sini bisa naik angkutan umum dari Pasar Banjarharjo. Hmm, sayangnya sih kebanyakan angkutan ke Salem dari Banjarharjo masih colt bak terbuka…. Cocok sih buat yang ingin merasakan petuangan sesungguhnya. Biar lebih nyaman, mending perginya barengan beberapa teman, agar bisa menyewa mobil dari Brebes menuju Salem, sekaligus pesan home stay di Salem. Semua bisa dilayani oleh Pokdarwis Kalibaya (nomer telepon dibawah tulisan). Biaya sewa mobil dari Brebes sekali jalan sekitar 300- ribuan untuk sekali jalan (bisa urunan 5-6 orang). Sedangkan homestay Rp 50 rb/orang/malam plus satu kali makan.  Murah kann ?

Hayuklah ke Brebes, merasakan liburan kembali ke desa. Merasakan sisi-sisi lain dari negeri tercinta ini. Jarang-jarang kan kita bangun pagi, dan melihat sawah seindah ini? Lupakan sejenak Jakarta yang penuh polusi. Its time back to nature.

Brebes, A Different Taste of Java.

Kontak Pokdarwis Salem : Mas Ajie (0852-01000-9920)

Instagram @kalibaya_park dan @ranto_canyon

Hits: 1618

Kalau mendengar kata Brebes, apa yang ada dalam pikiranmu? Hanya bawang dan telor asin saja? Atau justru kejadian macet berhari-hari di Gerbang Tol Brebes alias Brexit lebaran lalu? Sama dong!! Hehehe… Beruntung banget beberapa minggu lalu saya mendapat kesempatan untuk mengeksplore Brebes lebih luas yang akhirnya membuat saya tidak lagi mengira bahwa Brebes hanya bawang dan telor asin. 

Emang ada apa aja?! Wisata Brebes banyak! Brebes punya hutan mangrove yang unik, kalau biasanya di wisata hutan mangrove kita hanya bisa berjalan-jalan saja, di Brebes saking luasnya kita bisa berlayar di area hutannya. Brebes juga punya kebun teh seperti puncak, punya perbukitan yang instagramable seperti Kalibiru dan Tebing Keraton (bahkan lebih keren), punya hutan pinus yang ciamik, ada canyon seperti Green Canyon di Pangandaraan dan hamparan sawah-sawah cantik terasering seperti di Ubud. Gak percaya?!

Plus tentu saja banyak kuliner khas yang jadi daya tarik lain bagi para wisatawan. Semua juga sudah tahu, telur asin khas Brebes itu rasanya gurih dan “masir” kata orang Brebes. Masir artinya bertekstur seperti ada butirannya, tidak amis sama sekali dan enak dimakan dengan nasi panas mengepul lengkap dengan sambal dan lalapan. Buat penggemar rawon apalagi, paling pas deh kalo makannya ditambahi telor asin Brebes. Tidak kalah tenar, Brebes juga memiliki makanan khas sate kambing (muda). Tidak heran jika di setiap sudut Brebes ada yang jual sate. Hemmm, untuk yang ini saya gak bisa komentar panjang deh…soalnya saya gak doyan daging kambing. Hihih…

Kabupaten yang bertetangga dengan Tegal di Jawa Tengah ini, sekarang bisa ditempuh kurang dari empat jam saja dari Jakarta melalui Tol Cipali. Mau mencoba kenyamanan lain, sekarang juga sudah ada kereta eksekutif langsung dari Gambir ke Brebes. Mau dari Cirebon juga bisa, Brebes ke Cirebon bisa ditempuh kurang dari satu jam saja.

Ini beberapa tempat yang highly recommended kalau mau ke Brebes

Hutan Mangrove Pandansari, Desa Kaliwlingi.

Saya sudah mengunjungi beberapa hutan mangrove wisata di Indonesia, yang paling dekat tentu saja di Pantai Indah Kapuk (Jakarta), kemudian Hutan mangrove kota di Tarakan, di Selayar dan di Bali. Bedanya, hutan mangrove ekowisata Brebes luasnya hampir mencapai 300 Ha. Kebayang gak gedenya? Lokasinya ditempuh sekitar satu jam dari pusat kota Brebes. Disini, pengunjung bisa menyusuri hutan mangrove dengan perahu yang disediakan oleh pengelola. Kalau berkunjung menjelang senja, selain bisa menikmati matahari terbenam, kita juga bisa menyaksikan kawanan ribuan burung camar yang terbang dan berkumpul di pulau pasir dengan gerakan yang seperti berirama. Di sisi lain, ada ribuan burung bangau putih yang cantik sekali untuk obyek fotografi. Dengan ongkos masuk hanya 15 ribu rupiah, kita bebas berlama-lama menikmati semua itu.

blog2

Nah, yang harus mendapat apresiasi adalah hutan mangrove ini dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat desa sendiri. Sampai-sampai desa ini sempat menyabet beberapa penghargaan tingkat Provinsi dan Nasional untuk Kelompok Masyarakat Sadar Hutan.

blog2

Kok bisa? Ceritanya sekitar dua dekade lalu, daerah ini merupakan tambak udang windu yang sangat luas. Namun di beberapa kejadian, ketiadaan hutan mangrove sebagai penahan abrasi membuat ombak besar dapat masuk ke desa dan membahayakan kehidupan penduduk. Alhasil beberapa tokoh dan pemuka masyarakat bergerak untuk berubah. Mereka sadar, pembabatan hutan mangrove yang besar-besaran untuk tambak udang, pada akhirnya hanya mendatangkan bencana. Bersyukur, masyarakat pun tergerak untuk membangun kembali desanya dan bahu membahu menanam mangrove secara massal. Perjalanan panjang dan penuh perjuangan itu kini semua membuahkan hasil. Bahkan berbagai lembaga pemerintah dan swasta tergerak untuk memberi dukungan dana pengelolaan. Masyarakat pun sudah banyak yang mulai bermatapencaharian dari ekowisata ini. Inspiring ya?

mengejar sunset di kaliwlingi
mengejar sunset di kaliwlingi

Kebun Teh Kaligua

Siapa bilang Brebes yang panas tidak punya daerah sejuk bak Puncak? Bisa dibilang ini maskotnya wisata Brebes. Lokasinya di Kecamatan Bumiayu, yang bisa ditempuh sekitar 1,5 jam dari Kota Brebes. Kebun yang dikelola oleh PTPN IX ini, berada di kaki Gunung Slamet dengan ciri khas produksi Teh Hitam. Rasa teh-nya agak pekat memang, tapi enak banget dinikmati dengan sepiring pisang goreng yang disantap hangat-hangat. Suasana pegunungan yang asri dengan udara sejuk pasti membuat kita betah berlama-lama disini. Banyak permainan juga yang bisa dicoba seperti flying fox dan permainan outbond lainnya.

img20161118104330

img20161118110955

Tidak jauh dari sana, ada Gua Jepang yaang dibangun di bawah Kebun Teh Kaligua sebagai tempat persembunyian tentara Jepang yang dulu berusaha merebut kebun teh yang dimiliki Van De Jong tersebut.Bonusnya nih, saat menuju Kaligua kita akan disuguhi pemandangan sawah dan kebun bawang yang memanjakan mata. Walau jalannya naik turun dan berliku, tapi mata rasanya enggan berkedip melihat keindahan hamparan hijau bak permadani.

img_20161118_100124_hdr

Sekitar 15 menit sebelum tiba di Kaligua, jangan lupa mampir sejenak di Telaga Ranjeng dan hutan pinusnya. Dari luar sepertinya telaga ini biasa-biasa saja, namun seperti ada aroma mistis didalamnya. Konon, telaga ini dihuni oleh mahluk gaib yang dipercaya akan terganggu jika ada manusia yang berenang atau bersampan di atasnya. Emmm….

Uniknya, di tepi telaga pada waktu-waktu tertentu ada ratusan bahkan ribuan ikan mas dan lele yang berebut meminta makan dari pengunjung. Persis seperti kumpulan ikan mas siap goreng yang sering kita temui di rumah makan Sunda. Ikan-ikan ini hidup bebas, berkembang biak tanpa boleh diambil seekor pun. Katanya sih.., siapa yang berani menangkap ikan-ikan tersebut akan mendapat musibah. Wallahualam. 

img_20161118_101813_hdr

img_20161118_101659_hdr

Kalibaya, Puncak Lio

Ini dia tempat main yang kekinian di Brebes. Kalibaya adalah obyek wisata yang dikembangkan mandiri oleh penduduk sekitarnya. Menurut saya sih akan jadi trend tempat selfie baru setelah Tebing Keraton di Bandung dan Kalibiru di Yogyakarta.

Dari ketinggian sekitar 2000 mdpl, kita bisa melihat pemandangan alam Brebes yang menentramkan hati. Bahkan kita bisa ngopi-ngopi di tatanan bambu yang dibuat tepat di pinggir jurang. Di tempat ini juga dibangun mini ouutbond lengkap dengan motor-motor mini offroad. Yang mau camping juga bisa loh!! Taman Kalibaya dilengkapi area camping dengan fasilitas toilet dan air bersih yang cukup.

c360_2016-11-18-17-51-06-231

Masih ada beberapa wisata alam di seputaran Kalibaya seperti rafting di Ranto Canyon dan Hutan wisata Panenjoan yang semuanya berada di Kecamatan Salem. Tapi tidak usah pergi kemana-mana, alam Salem saja sudah menggoda. Sejauh mata memandang ada hamparan sawah yang membentang indah. Beberapa diantaranya tersusun seperti sawah terasering di Bali. Ya, sayangnya ini bukan Bali, jadi belum ada satu pun hotel apalagi resor disini.

Di Salem juga ada pengerajin batik tulis rumahan yang murni menggunakan bahan-bahan alami. Ibu-ibu pembatik itu sebagian besar adalah buruh tani yang bekerja di sawah pada pagi hari dan membatik di waktu senggangnya. Hasil batik mereka masih bertema dan bermotif “old fashion”, namun justru itulah yang menjadi keunikannya. Cerita lengkap tentang batik Salem akan saya tulis terpisah ya….

img20161118154552
batik salem

Menuju Salem cukup perjuangan, karena jalannya yang mendaki dan berkelok. Namun ketika tiba disana bahkan sepanjang perjalanan, rasa lelah pasti terbayar. Mata sudah dimanjakan oleh pemandangan yang mendamaikan hati. Bagi yang sedang wisata alam yang masih benar-benar alami, wajib deh datang ke Salem!

Jadi kapan ke Brebes?

Kontak Taman Kalibaya; Arie (0819-0212-5551)

 

 

Hits: 1551

Membayangkan macetnya tol Jagorawi di Senin pagi sama sekali tidak membuat semangat saya hilang untuk segera tiba di Solo. Jarang-jarang nih bisa mengeksplore salah satu daerah heritage Indonesia ini, apalagi akan menginap di Best Western Premier Solo Baru (BWPSB), salah satu hotel chain terbesar di Solo. Bersama Mas Disgiovery, pagi pagi banget saya sudah nangkring di Bandara Halim Perdana Kusuma. Biarpun blogger keren ini sudah hampir menjelajah seluruh Indonesia, ternyata dia baru pertama kali ke Solo, loh!. Klop deh, saya juga pertama kali untuk liburan!

bandara
Welcome to Solo!

Pesawat Citilink yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Adi Sumarmo Solo. Hmmm, ngomong-ngomong Adi Sumarmo siapanya Adi Sucipto, ya? Kalau kakak beradik, hebat yaa,..masing-masing punya bandara, pasti orang tua mereka bangga banget. Stop!! Garing!! Hehehe. Kami dijemput oleh staf BWPSB dan langsung menuju hotel.  Sepanjang jalan -persis lah kayak turis sok keren- semua sudut kota Solo tidak luput dari pertanyaan kami. Untungnya Mas penjemput yang baik hati, tetap melayani semua celotehan kami dengan senyum manis.

***

Rencananya, selama dua hari saya dan beberapa teman blogger akan mengeksplore kota Solo. Bagian ini akan saya ceritakan di tulisan terpisah ya, sekarang saya mau cerita dulu tentang BWPSB yang terhitung hotel baru di Solo. Awalnya, Saya tahu chain hotel internasional ini justru saat berkunjung ke Phoenix, Amerika Serikat. Disana Best Western (BW) hampir ditemui di setiap sudut kota di negara bagian Arizona. Ternyata, headquarters BW memang ada disana. Makanya standar fasilitas dan pelayanan BWPSB pun mengikuti standar Amerika. Sekedar informasi, BW mempunyai tiga tipe hotel yaitu; Best Western Core, Best Western Plus dan Best Wester Premier. Jadi kebayang dong, fasilitas BWPSB pasti lebih baik dari dua tipe lainnya. Hebatnya BW tipe Premier justru lebih banyak di Asia daripada di negara asalnya. Artinya pasar kelas premium di Asia termasuk Indonesia; cukup besar. Oh ya.. dari 12 hotel di Indonesia, BW Premier ada di dua kota lain selain Solo yaitu; Jakarta dan Bandung.

blog1
welcome greetings

Nyaman, Strategis, Lengkap

Konsep yang dibangun oleh BWPSB adalah kenyamanan dan kelengkapan fasilitas di tengah pusat kota. Posisinya juga strategis karena dikelilingi dua mall besar, dekat dengan pusat kota dan ke depannya tidak jauh dari lokasi akan dibangun rumah sakit berskala internasional. Cocok buat siapa saja yang berkunjung ke Solo baik untuk urusan bisnis atau liburan. 

lobi
lobi dari lantai 2

Dari sejak masuk lobby, BWPSB sudah memberikan rasa feel hommy.  Lobby-nya luas, mewah dan cozy. Kalau tiba disini sebelum jam check in, kita bisa menunggu sambil main billiard, atau mencicipi wine di Chrysolite Lobby Lounge. Eh, ada wine yang sudah lebih dari 10 tahun loh!

Lobby luas lengkap dengan meja billiard
Lobby luas lengkap dengan meja billiard

Total ada 384 kamar dengan 5 type di BWPSB, yaitu Superior, Deluxe, Super Deluxe, Suite dan Premier. Range harganya cukup terjangkau kok untuk Hotel Bintang 4+. Ssst,…Room Premier sering digunakan oleh beberapa petinggi negara, salah satunya adalah Presiden RI yang sudah purna tugas. 

Kamar saya ada di lantai 18, di koridornya ada kaca besar yang membuat kita bisa berlama-lama memandangi kota Solo. Cantik sekali. Kamar Superior ini sangat nyaman, dengan tempat tidur yang bikin kita betah plus ada meja kerja! Ini penting banget buat saya yang sering menghabiskan malam dengan menulis. Kamar mandinya pun cukup luas dengan toiletris yang lengkap plus segala perlengkapan kecil-kecil yang kadang kita lupa bawa dari rumah. Asyiknya, buat yang banci colokan, kamar-kamar di BWPSB punya colokan dimana-mana. So, kalau traveling bersama teman dan keluarga, tidak perlu membawa kabel ekstension atau gantian nge-charge gadget. Setiap tamu juga diberikan internet berkecepatan tinggi dengan akses yang sama di seluruh penjuru hotel. Jadi kita tidak usah repot-repot login ulang jika keluar kamar.

deluxe room
deluxe room
Bocoran nih buat para budget traveler yang ingin mencicipi BWPSB; sering-sering mengunjungi website-website booking hotel, karena di beberapa waktu tertentu BWPSB menawarkan smart room, yang harganya miring tapi fasilitasnya tetap sama seperti kamar-kamar lain. Lumayan kann…

Hari pertama di Solo, belum apa-apa saya sudah capek mengelilingi Pasar Klewer dan Keraton. Panasnya Solo itu benar-benar panas, sampe matahari juga mungkin kepanasan..hehehe.. (menirukan anekdot seorang komika), tapi rasa penasaran dengan Solo membuat semua lelah menjadi tak terasa. Apalagi ketika kembali ke BWPSB, fasilitasnya benar-benar memanjakan. Ada Bhuvana Spaluxe yang siap membuat tubuh lentur kembali, setelah itu kita bisa lanjut nongkrong-nongkrong cantik di Skyline yang terletak di lantai 22. Di malam-malam tertentu ada live music akustik yang keren dengan sajian makanan unik dan berganti-ganti setiap minggu. Hmmm, memandang keindahan Solo dari ketinggian, ditemani lagu-lagu Glenn Fredly dari live music, bisa membuat kita memasuki masa galau, loh! Makanya kalau kesini, jangan sendirian yaa… *senyum 🙂

fitness-center
fitness center

 

 

kolam

Paginya setelah pulas beristirahat kita bisa mencoba fitness center dan berenang di lantai 3. Kolam renangnya bermodel infinity alias seperti tak berbatas. Kekinian dan sangat instagramable! Sayang, kemarin saya lupa membawa bikini eh,..baju renang muslimah. Jadilah saya cuma duduk sendirian di pinggir kolam yang menyatu dengan bar. Asyik deh, kita bisa berenang dan pesan minuman tanpa beranjak dari kolam renang. Kalau tidak sempat keluar hotel, boleh juga menunggu sunset atau sunrise di area kolam renang yang katanya yang paling bagus di Solo.

Fasilitas MICE (Meetings, Incentives, Conferencing, Exhibitions) Terbaik di Solo

BWPSB kini menjadi salah satu pilihan terbaik untuk kegiatan-kegiatan konfrensi dan seminar di Solo. Dengan variasi ruang meeting dan konferensi, hotel ini bisa menjadi alternatif untuk kegiatan-kegiatan korporasi. Tidak tanggung-tanggung ruang konferensinya yang paling besar bisa menampung 2500 orang sekaligus dan ini adalah ruang konfrensi terbesar di Solo. Tidak heran kalau beberapa artis ternama pernah mengadakan konser disini. Parkirannya gimana?! Jangan khawatir, tempat parkirnya pun luas dan lega. Jadi kalau ada kegiatan massal, kita tidak perlu rebutan tempat parkir atau sampai harus parkir di luar gedung.

blog5
satu sudut ballroom

Buat yang mau kawinan, ini juga boleh jadi alternatif, loh!. Selain daya tampung yang besar tadi, dijamin AC-nya paling dingin karena didukung oleh eternit yang tinggi. Biasanya kalau kita kondangan di gedung, jika tamu sudah membludak, pasti akan terasa panas dan tidak nyaman. BWPSB menjamin, sirkulasi udara di Ballroom-nya sangat baik.  Nah, yang memang lagi hunting gedung pesta pernikahan di Solo, buruan booking! Untuk 2017 ball room BWPSB hampir fully book!

Ini nih yang paling penting! Makan!! Dua hari bermalam disini, saya puas sekali dengan sajian makanannya. Tidak hanya suguhan makanan nasional dan internasional, chef-chef berpengalaman di BWPSB juga mahir mengolah berbagai makanan khas Solo. Pokoknya kalau sibuk dan tidak sempat mencari makanan lokal, tenang…. hotel bisa menyediakan semuanya. Oya, saat sarapan pagi, jangan lupa mencoba jamu beras kencur dan cream yogurt-nya. Seger banget!

dessert yang menggoda
dessert yang menggoda
Penyajian makanan tradisional
Penyajian makanan tradisional

Terakhir, ditengah menjamurnya hotel hotel baru di Solo, BWPSB bisa jadi rekomendasi terbaik. Dengan segala kelebihannya; lokasi, fasilitas, berstandar internasional dan kenyamanan yang ditawarkan, bolehlah BWPSB disebut hotel all in one.

Jadi Kamu kapan main ke Solo?

narsis sebelum pulang, terima kasih BWPS!
narsis sebelum pulang, terima kasih Best Western!

Best Western Premier Solo Baru

Tel : +62 271 621 666   Fax : +62 271 788 0921
Email : reservation@bwpremiersolobaru.com
Address : Jalan Ir. Soekarno, Solo Baru, Sukoharjo – 57552, Jawa Tengah – Indonesia

 

 

Hits: 2201

Diajak river tubing pada saat Famtrip Blogger yang digagas Badan Promosi Pariwisata Semarang (BP2KS), saya langsung mikir panjang. Boro-boro bisa ikutan, ngerti river tubing itu apa aja, nggak. Kebayang ini bakal mirip naik Kora-Kora di Dufan yang ujungnya jadi penyesalan seumur hidup. Bedanya river tubing ada airnya dan langsung di alam. Malas deh buat ikutan, Biarin aja dibilang katro dan gak kekinian, daripada mual dan pusing karena badan berputar putar. 

Eh, tapi pikiran itu sekejap berubah saat rombongan blogger memasuki Kawasan Wisata Desa Kandri di selatan Kota Semarang. Disana, kami disambut baik oleh Pak Zubaidi yang menyebut dirinya Pemandu Wisata Kandri. Ia mempresentasikan serunya river tubing, rute dan cara melakukan river tubing. Katanya, jalur yang akan kita lewati adalah jalur Sunan Kalijaga ketika mengumpulkan kayu jati untuk membangun Mesjid Demak, mesjid tertua di Indonesia. Hemmm, kelihatannya mulai menarik niih….

Tanpa ditanya sanggup atau tidak, tiba-tiba belasan blogger sudah berebutan pelampung, pelindung lengan dan lutut hingga helm yang dibawa oleh mobil pick up odong-odong. Yaa, kayaknya seru yaa.. Akhirnya berbekal Bismillahirrahmanirrahim, saya ikutan sibuk juga memilih perlengkapan. Toh, namanya ajal sih udah ada yang ngatur kann? Loh..loh.. Ini sumpah, soalnya saya takuttt. Masih banyak cita-cita belum tercapai, masih banyak dosa dan masih banyak utang… Hiks…

blog4
Are u ready ???!!

Dari meeting point pengarahan tadi menuju lokasi masih membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Persis sapi yang siap dikurbankan, kami diangkut dengan mobil odong-odong tadi menuju Sungai Kranji, tempat tubing dilakukan. Canda tawa sepanjang perjalanan dengan teman-teman blogger, dan pemandangan alam yang meneduhkan mata serta hati yang galau, mengalahkan rasa takut saya.  Eh, sialnya pas milih-milih ban, saya kebagian ban yang agak kempes. Duh, kepikir bakal hanyut dan  bakal tubing sendirian karena teman-teman saya sudah jalan duluan. Sementara mereka saya sudah mulai ber-tubing ria, saya masih menunggu mas-mas guide mencarikan ban baru buat saya. Rasa khawatir yang tadi membuncah, berkurang karena mas-mas ini sabar banget ngajarin dan memandu kita. Ternyata, teman-teman saya pun sebagian masih amatiran, toh setelah “berlayar” sendirian saya tetap ketemu mereka. Hehehe..

Siapa mau duluan??
Siapa mau duluan??

Jeram pertama yang kami temui adalah serupa niagara mini.  Aduh, ini sumpah atuttt banget, padahal tinggi air terjun mini ini tidak lebih dari 100 meter. Posisi yang dianjurkan oleh pendamping adalah membelakangi sungai, menerjunkan ban lebih dulu dan Hap!.. Kalau loncatanmu mantap, kamu bisa langsung duduk manis di atas ban. Tentu saja, saya tidak berhasil dan ban saya berlayar duluan dari Saya. Untungnya (masih untung…) saya bisa berenang, kemudian jadilah sinetron berjudul Jus Semangka Mengejar Ban. Hahaha..

seruuu...
seruuu…

Jeram kedua dan ketiga adalah jeram yang terjal dan cukup curam. Sama, seperti yang pertama; lagi-lagi saya terlepas dari ban. Masih untung (untung lagi….) anggota badan tidak ada yang terbentur, meski rasanya adrenalin sudah berpacu lebih cepat. Nah, pada jeram-jeram berikutnya, saya baru sadar teknik sangat diperlukan (ciyee…udah berasa expert). Posisi kaki dan posisi panggul harus diatur jika melewati jeram. Alhamdulillah setelah bisa mempraktekkannya, saya gak terpisah lagi dengan ban kesayangan saya itu. Malah jadi asyik banget bisa santai melayang-layang di atas air. Saking santainya mungkin bisa sambil ngopi-ngopi dan makan indomie. Bisa juga sambil baca koran dan nonton TV.  *Eh, yang terakhir mah lebay… Dan kami pun sukses hingga etape terakhir dengan total  waktu perjalanan sekitar 3 jam dengan jarak tempuh sekitar 3 km!. Sounds good kan buat pemula… Tau asyik begini saya menyesal kenapa sebelumnya pake acara cemas. Menyesal juga kenapa gak dari dulu ikutan olahraga air begini.

udah bisa santai kayak di pantai,..
udah bisa santai kayak di pantai,..

***

Cukup surprise juga ada  kegiatan ini, Saya pikir Semarang hanya menawarkan liburan ala kota sebagaimana ibukota-ibukota provinsi lain. Namun, hanya sekitar 30 menit dari pusat kota, sudah ada Desa Wisata Kandri yang merupakan potensi pengembangan wisata mandiri binaan Pemerintah Kota Semarang. Konsep desa seperti ini pernah saya temui di Kabupaten Bogor yang memang terletak di bawah kaki Gunung Salak. Ternyata, Kota Semarang pun punya potensi alam yang layak untuk mengundang wisatawan. Asal tahu aja, konsep ini merupakan konsep unggulan yang kini sedang digarap oleh Pemkot Semarang.

Selamat Datang di Desa Wisata Kandri
Selamat Datang di Desa Wisata Kandri

Tidak hanya river tubing, konsep agrowisata juga ditawarkan di Desa Kandri antara lain belajar bercocok tanam, beternak, mengikuti upacara-upacara ritual masyarakat dan sejenisnya. Untuk merasakan benar-benar kembali ke desa, wisatawan bisa  bermalam di rumah-rumah penduduk yang sudah disulap menjadi home stay. Biayanya cuma 50 ribu rupiah saja per kamar per malam! Soal makanan, jangan khawatir! Penduduk desa Kandri adalah masyarakat sadar wisata yang sudah membentuk kelompok-kelompok kerja termasuk kelompok penyedia ransum kita selama disana. Makanan yang disajikan pun adalah makanan tradisional khas desa. Sebagai contoh, selesai tubing yang super capek, kami disuguhi Nasi Kethek. Nasi berbungkus daun jati berisi orek tempe, sayuran dan beberapa lauk. Aroma daun jati dan daun pisang menjadi cita rasa tersendiri di santap siang kami.

Berminat? Bosen kan kalo ke Semarang cuma ke tempat yang itu-itu saja!.

Jelajah Wisata Desa Kandri

Kontak: Zubaidi (0858-7659-5211)

Baca Teman-Teman Saya!

Kak Rian Tempat Wisata dan Kuliner Asyik di Semarang & Bermain tubing di Desa Wisata Kandri
Kak Richo  dari Sam Poo Kong ke Tay Kak Sie
Kak Sinyo FamTrip Bikin #SemarangHebat jadi Trending Topik (Part1) & Famtrip #SemarangHebat jadi Trending Topik (part2)
Kak Leo Jelajah Malam di Lawang Sewu & Kulik Kuliner di Restaurant Semarang
Kak Eka  Semarang Night Carnival 2016 & Lawang Sewu Malam Hari
Kak Taufan Gio Semarang Hebat Culinary Heritage & Semarang Hebat Adventure Carnival
Kak Danan Dongeng Rasa di Restoran Semarang & MG Setos Hotel Terjebak diantara Kubikel Raksasa
Kak Imama Hantaman Jeram Kali Kreo
Kak Chan Ada Tiongkok di Semarang
Kak Titi Gebyar Fantasi Warak Ngendok di Semarang Night Carnival 2016  & Lawang Sewu Kini dan 13 Tahun yang Lalu.
kak Wira Photo Essay : Semarang Night Carnival & Photo Essay Semarang Night Carnival
Kak Luhde Kisah dibalik Kuliner Semarang
Kak Puspa Antusiasme Masyarakat di Semarang Night Carnival 2016
Kak Astin Soekanto Lepaskan Zona Nyamanmu dengan Tubing di Sungai Kreo & Ekspresikan Dirimu di Old City 3D Museum
Kak Ghana Photo Stories Semarak Semarang Night Carnival
Kak Olive Langgam #SemarangHebat Menjaga Harmoni Akulturasi Budaya dari Masa ke Masa
Kak Fahmi Pesta Rakyat Semarang Night Carnival 2016
Kak Bobby Seru-seruan River Tubing di Kali Kreo Semarang
Mas Budi Keseruan Semarang Night Carnival 2016
Kak Nunu, Satu Hari Mengenal Tiongkok di Pecinan Semarang dan Budaya Semarang dalam Fantasi Warak Ngendog

 

Hits: 2128

Pada sebuah siang yang panas di sudut kota Semarang, saya kembali belajar tentang manisnya keberagaman. Saya sebenarnya terbiasa hidup di lingkungan multikultural. Datang dari kedua orang tua yang berbeda suku, sering berpindah-pindah tempat tinggal beda pulau, beda provinsi. Pindah kerja yang juga tidak kalah sering. Semua yang membuat saya akrab dengan perbedaan. Dan siang itu, di jalan kecil bernama Gang Lombok di sudut Pecinan Semarang, mata saya kembali terbuka bahwa perbedaan itu sejatinya menyatukan bukan memisahkan.

Seorang Ibu Guru beretnis Tionghoa mengenalkan murid-muridnya yang telah terlatih memainkan barongsai. Sekitar 10 menit kami disuguhi pertunjukan Barongsai dari murid-murid SD dan SMP Kuncup Melati di bawah Yayasan Khong Kauw Hwee. Guru-guru lain yang berhijab ikut serta memberikan semangat pada murid-muridnya. Sekolah ini memang ada di kawasan Pecinan, namun sama sekali tidak ada ekslusivitas satu golongan disini. Uniknya lagi, Yayasan menerima setiap murid dari latar belakang apapun terutama dari keluarga tidak mampu dan tidak serupiah pun iuran harus dikeluarkan oleh para siswanya.

Bersama Siswa Sekolah Kuncup Mekar Foto by : kopertraveler.id
Bersama Siswa Sekolah Kuncup Melati Foto by : www.kopertraveler.id

Tidak jauh dari sana, ada Kelenteng Tay Kak Sie. Mungkin selama ini Kelenteng di Semarang yang dikenal orang hanya Kelenteng Sam Poo Kong, tapi sebenarnya di Ibukota Jawa Tengah ini ada sekitar sembilan kelenteng, dan Tay Kak Sie ini salah satu yang tertua. Kelenteng yang dibangun 1772 ini, memang lebih kecil, tapi nafas vintage-nya sangat terasa. Ornamen merah dan naga di atapnya mengokohkan posisinya sebagai tempat ibadah. Masih satu komplek berdampingan dengan Tay Kak Sie, ada Rumah Abu, sebuah bangunan serupa kelenteng untuk meletakkan pundi-pundi abu jenazah. Disini juga ada Sin Chi (papan arwah) sebuah lempengan kayu yang bertuliskan nama mereka yang sudah dikremasi. Selain untuk didoakan, Sin Chi juga seakan mengingatkan kita bahwa kematiaan adalah hal yang paling pasti terjadi. Di Tay Kak Sie kami juga disuguhi drama dengan tarian komedi  oleh perkumpulan anak-anak muda kelenteng ini. Menarik!

Bersama Pengurus dan Pemuda Kelenteng Tak Kay Sie
Bersama Pengurus dan Pemuda Kelenteng Tak Kay Sie

Masih di Kawasan Pecinan Semarang, saya juga berkunjung ke Perkoempoelan Sosial Boen Hiang Tong (Rasadharma). Saya penasaran, katanya ada Sin Chi Gus Dur disimpan di gedung tua ini. Iya,.. Gus Dur alias KH Abdurrahman Wahid, Presiden RI Ke-4.  Loh, kok bisa ? Beliau kan muslim?!  Dilala, ini adalah bentuk penghormatan warga Tionghoa di Semarang kepada Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme yang dianggap banyak memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.  Bahkan yang meletakkan Sin Chi itu, Ibu Sinta Nurriyah sendiri, loh! Saya sampai takjub, ternyata berbeda itu indah. Seperti air dan minyak yang tidak bisa bersatu, tetapi bisa hidup berdampingan.

Sin Chi Gus Dur
Sin Chi Gus Dur

Tidak itu saja, keberagaman juga ditunjukkan oleh sekelompok anak muda yang tergabung dalam Muda mudi Perkumpulan Sosial Rasadharma. Mereka bertekad melestarikan budaya Pecinan Semarang melalui sejumlah program-program positif. Sesuatu yang mungkin sudah agak langka di kota besar. Uniknya, anggota kelompok ini tidak hanya datang dari anak muda keturunan Tionghoa, tetapi siapa pun, etnis mana pun yang memiliki konsen pada budaya Semarang dan Pecinan pada khususnya. Tidak heran ketika kami berkunjung, seorang gadis muslim berhijab yang fasih berbahasa Mandarin  dan piawai memainkan alat musik Pecinan pun- turut serta.

Sebenarnya, sejarah memang berbicara bahwa akulturasi budaya Tionghoa, Islam dan Jawa sudah mendarah daging di Semarang. Kelenteng Sam Poo Kong yang sangat terkenal, menurut historinya adalah peninggalan Laksama Ceng Ho asal Tiongkok yang justru beragama Islam. Perjalanan Cheng Ho disebut-sebut sebagai ekspedisi yang menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Ketika ia akan melanjutkan perjalanan, banyak anggota rombongannya yang tetap tinggal di Semarang. Sebagian dari mereka sudah memeluk Islam dan sisanya masih beragama Konghucu. Mereka inilah yang kemudian hidup berdampingan hingga kini.

Sam Poo Kong, A Must Visit in Semarang
Sam Poo Kong, A Must Visit in Semarang

Masih dalam rangkaian kegiatan yang digagas Badan Promosi Pariwisata Semarang (BP2KS), malamnya saya dan teman-teman blogger menghadiri Semarang Night Carnival (SNC). Kegiatan ini digelar sebagai rangkaian dari HUT Kota Semarang ke 469. Tema kali ini tetap sama; keberagaman dalam kesatuan dengan tajuk Festival Warak Ngendog. Warak Ngendog adalah hewan rekaan mistis yang menggambarkan akulturasi budaya dan sejak dulu dipercaya oleh leluhur Semarang. Kepalanya berbentuk kepala naga merupakan simbol China, badannya adalah Bouroq, simbol warga Arab/Muslim dan kakinya adalah kaki Kambing yang menjadi perlambang suku Jawa. Ketiga kelompok itulah yang mendiami Kota Semarang sejak dulu yang hingga kini tetap rukun dan damai. Usai dibuka oleh Walikota Semarang, acara dilanjutkan dengan penampilan drumband dari PIP Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang. Kemudian diikuti arak-arakan Warak Ngendog, Defile History of SNC dan diakhiri dengan defile dari Jepara Fashion Carnaval.

Semarang Night Carnival
Semarang Night Carnival

***

Di Semarang sehari merasakan indahnya perbedaan. Makin salut saya, dengan founding father negeri ini yang jauh-jauh hari sudah menjadikan Pancasila sebagai dasarnya. Sayang, kini keberagaman yang seharusnya menjadi kekayaan dan potensi dijadikan sebagian orang sebagai alat pemecah belah. Kita kurang belajar apalagi dari politik Devide Et Impera-nya Kompeni Belanda. Ayo, kembali belajar dari Semarang, belajar merasakan Indonesia yang sebenarnya!

Baca juga cerita teman-teman saya yah!

Rian, Tempat Wisata dan Kuliner Asyik di Semarang
Rian, Bermain Tubing di Desa Kandri
Richo, Dari Sam Poo Kong ke Tay Kak Sie
Sinyo, Trending Topik Semarang Hebat
Leo, Jelajah Malam di Lawang Sewu
Eka, Semarang Night Carnival 2016
Badai, Semarang Hebat Culinary Heritage
Danan, Dongeng Rasa di Restoran Semarang
Imama, Hantaman Jeram Kali Kreo
Farchan, Ada Tiongkok di Semarang
Wira, Photo Essay Semarang Night Carnival
Parahita, Gebyar Fantasi Warak Ngendog
Nunu, Satu Hari Mengenal Tiongkok di Pecinan Semarang
Luh De, Kisah Dibalik Kuliner Semarang
Puspa, Antusiasme Masyarakat di SNC
Astin, Lepaskan Zona Nyamanmu di Sungai Kreo
Budi, Keseruan Semarang Night Carnival
Ghana, Photos Stories, Semarak SNC
Olive, Langgam SemarangHebat

 

Hits: 6136