Huaaa..kayaknya cerita Derawan gak abis-abis ya, bo.. Namun sepertinya saya perlu juga menganjurkan eh…tepatnya menuliskan beberapal DOs and DONTs kalau mau liburan ke Derawan.

DOs

  1. Kalau via Tarakan dan menggunakan travel sebaiknya cek dulu jadwal travel, karena biasanya travel gak punya jadwal tiap hari, umumnya di akhir pekan dan sering penuh kalau pesan mendadak. Pengalaman saya kemarin, “terpaksa” tambah nginep sehari di Tarakan untuk menyesuaikan jadwal keberangkatan travel;
  2. Jika dari Jakarta, cari pesawat paling pagi dari Soetta yang tiba di Tarakan sebelum pukul 12 siang dan kembali dari Tarakan menuju Jakarta dengan jadwal paling sore. Lumayan efisien, karena tidak perlu menginap di Tarakan;
  3. Siapkan fisik yang prima dua tiga hari sebelum berangkat;
  4. Pastikan travel bisa menjemput dan mengantar ke bandara (ada yang free da nada yang dikenai biaya tambahan)
  5. Sangat dianjurkan untuk mengorder penginapan di atas air, agar suasana samudera-nya bisa lebih terasa;
  6. Di perjalanan, jangan bandel, gunakan selalu pelampung. Selain untuk alasan keamanan juga sebagai jaket anti masuk angin;
  7. Pipis dulu sebelum berangkat, boat-nya gak punya toilet. Malu kan kalo harus pipis ke laut?
  8. Setiap beli makanan kemasan di Derawan seperti mi instan, jangan lupa cek masa kadaluarsa-nya!
  9. Kalau punya waktu banyak, mending sewa sepeda. Derawan punya beberapa Darmaga yang cihuy banget untuk hunting sunset atau cuma ngetes tongsis;
  10. Terakhir, wisata keren di Derawan sepertinya belum berdampak positif bagi ekonomi masyarakatnya. Kalau ada uang lebih, beli produk laut seperti ikan asin yang mereka olah sebagai oleh-oleh.

DONTs

  1. Di boat dalam perjalanan ke Derawan, tidak dianjurkan pindah-pindah tempat duduk karena bisa menganggu keseimbangan kapal. *penting bangettt!!
  2. Karena perjalanan akan lebih banyak di laut, bawalah bawaan yang simpel, misal cukup 1 ransel dan 1 tas tentengan. Hindarin bawa koper, Ini jalan-jalan bukan pindah rumah;
  3. Sebisa mungkin tidak membuang sampah ke laut apapun alasannya. Saya sempat melihat seseorang –mungkin dia petugas kebersihan di tengah laut – yang memunguti sampah plastik. Mulia banget yaa…;
  4. Tidak disarankan membeli produk kerajinan yang berasal dari hewan laut. Beberapa diantaranya sudah langka dan dilindungi. Lebih baik membeli hasil laut olahan untuk makanan;
  5. Terakhir… tidak lupa pulang… Hahaha..

 

 

Hits: 945
Our home...

Melanjutkan cerita Derawan sebelumnya, pada hari yang sudah ditentukan kami berangkat menuju Derawan. Saya bersama 15 orang lain yang tergabung dalam biro travel yang sama. Perjalanan selama tiga jam yang melelahkan dan mendebarkan rasanya terbayar begitu kapal kami merapat di darma kecil Derawan. Airnya sangat bening, sehingga ikan-ikan yang berenang di dalamnya bisa terlihat jelas. Uniknya lagi, penginapan kami berada di atas beningnya air tersebut. Ibarat tinggal di atas akuarium raksasa yang kapan pun kita mau, bisa langsung nyebur di bawahnya.

Rumah kami..
Rumah kami..

1400460859924

Kamar saya langsung menghadap ke lautan luas, sehingga sunset dan sunrise bisa nampak jelas setiap hari. Bangun pagi yang di hari-hari biasa susah setengah mati, disini jam berapa pun tidurnya, bangun pagi adalah hal yang menyegarkan. Di malam hari, wajah bulan yang sangat bulat dan indah juga terlihat jelas. Cocok banget untuk suasana bercengkrama atau sekedar menulis ditemani secangkir kopi dengan latar belakang suara deburan ombak. Derawan adalah pulau kecil, yang bisa dikelilingi dengan sepeda. Disini banyak dermaga kecil dari kayu yang sangat alami dan eksotis. Saya setuju banget, darmaga daerah wisata memang harusnya dibuat tidaka permanen. Seluruh darmaga adalah spot terbaik untuk melihat sunset di sore hari. Its really priceless!

1400460745598
menanti sunrise..
1400461122280
my sunset

Keesokan harinya, eksplorasi dimulai dengan menu utama snorkeling, foto foto dan menikmati indahnya hasil karya Tuhan. Buat yang belum pernah snorkeling, jangan takut buat nyebur. Rugi banget jika tidak melihat keindahan bawah laut derawan. Jangan khawatir, guide dari travel pasti akan membantu dan membimbing meskipun kalian tidak bisa berenang. Ada beberapa pulau yang menjadi lokasi snorkeling, yaitu Maratua, Sangalaki dan Kakaban. Siapkan fisik yang cukup. Liburan disini gak asyik kalau kita hanya duduk di pinggir pantai sambil menikmati sepoi-sepoi angin laut.

1400460694592
kakaban, the hidden paradise..

Dari pulau-pulau yang saya sebutkan tadi, yang menurut saya paling keren adalah Kakaban. Buat saya, pulau kecil tak berpenghuni ini ajaib. Kenapa? Karena ada danau di tengahnya, yang konon terbentuk dari air laut yang terjebak dengan hadirnya daratan. Lebih lucu lagi, di danau ini hidup empat spesies ubur-ubur laut yang sudah berkembang biak dan sangat jinak. Jangan sampai gak nyebur kalau kesini. Merasakan berenang bersama dan memegang ubur-ubur laut yang jinak merupakan sensasi yang bisa jadi satu-satunya di dunia. Beruntung banget, pas saya kesini, Kakaban lagi sepi. Wah, serasa danau ini jadi milik kami sendiri. Asal tahu aja, untuk masuk dan berenang di danau ini, waktu wisatawan dibatasin, karena itu semua harus antri. Peraturan ini diterapkan agar lingkungan dan habitat di danau ini tetap terjaga. Kita juga mengunjungi pulau pasir kecil yang jadi tempat favorit untuk berfoto.

Beruntungnya lagi, di malam hari kami diajak melihat atraksi langka, penyu bertelur. Kini berbagai jenis penyu yang ada di Derawan sudah dilindungi. Beberapa NGO melakukan penangkaran telur-telur penyu, untuk kemudian dilepas ke laut lepas saat sudah menetas. Upaya ini dilakukan, agar telur-telur penyu tidak dicuri kemudian dijual. Dari kebeningan air Derawan, penyu yang hilir mudik sering sekali terlihat. Usia induk penyu ini mencapai 80 tahun. Bayangkan kalau tidak dilindungi, anak cucu kita nanti bakal tidak pernah tahu bentuk penyu seperti apa.

Rumah kami..
Rumah kami..

Semua tempat di kepulauan ini ibarat sebuah surga kedamaian yang tersembunyi. Saya jadi mikir, kenapa orang Indonesia demen banget dikit dikit ke Singapura, Hongkong, Kuala Lumpur, Bangkok? Mau ngeliat apa? Yah, kalo satu dua kali sih boleh, tapi kalau jadi tujuan rutin? Haduh…please deh, jangan keterusan memperkaya bangsa asing. Kalau bukan kita, siapa lagi yang bantu mempromosikan wisata negara sendiri? Di Derawan, yang saya amati memang lebih banyak wisatawan asing dibandingkan domestik. Lucunya, wisatawan manca negara lebih sering ngomel ke penduduk sekitar jika ketemu sampah dibandingkan orang lokal. See? Keliatan kan bagaimana orang asing lebih menghargai alam kita disbanding kita sendiri yang lebih seneng liburan ke mall dan ngabisin uang buat belanja ke Singapura?

I love Indonesia…

 

1400461005408

Hits: 904

Yes! Kali ini saya memang terperangkap di Tarakan. Ceritanya saya ditugaskan kantor untuk sebuah pekerjaan di pulau kecil ini. Hayoo.. pasti pada banyak yang belum tau, kan…bahwa Tarakan itu pulau? Sama!! Saya juga dengan gobloknya baru tahu Tarakan itu pulau setelah tiba disini karena diberi tahu orang lokal. Awalnya saya pikir, kota kecil -yang masuk Provinsi Kalimantan Utara- ini berada di sudut utara Pulau Kalimantan, bukan pulau!  

Luas wilayah  yang pernah  dengan kaya minyak ini hanya sekitar 650 km persegi yang bahkan dari ujung utara ke ujung selatan hanya butuh waktu kurang dari sejam.  Letaknya berbatasan dengan Kalimantan besar dan perairan Malaysia.  Penduduknya sebagian besar suku Bugis, Jawa dan sisanya penduduk asli Kalimantan. Kenapa terjebak? Setelah menyelesaikan tugas, saya berniat melancong ke Derawan bersama seorang teman. Tarakan adalah salah satu gate way ke Pulau Derawan (tunggu tulisan khusus tentang Derawan yaah!!)  Namun, karena teman saya menyusul dari Jakarta, jadilah saya menunggu dia selama satu hari disini.  

Mau kemana di Tarakan?

Pasti pertanyaan ini akan muncul pertama kali. Karena saya penggila pantai, saya sempatkan mampir ke pantai Amal, pantai kebanggaan kota Tarakan yang letaknya sekitar 10 km dari pusat kota. Sayangnya saya agak kecewa, karena buat saya pantai amal sangat biasa bahkan terkesan tidak dikelola dengan baik. Pemandangan menuju pantai ini yang merupakan perbukitan justru lebih menarik. Namun masih ada yang bisa dikenang dari kunjungan yang sebentar ini. Saya memesan sepiring kerang putih besar yang biasa disebut ‘kapah’ di Tarakan. Rasanya enak dan segar! Tidak amis, dimasak pada saat dipesan dengan bumbu dan rempah serta tidak perlu dimakan dengan nasi cukup dicocol sambal. Jangan lupa pesan kelapa muda yang langsung dengan buahnya. Lumayan, mengobati ekpektasi saya akan sebuah pantai yang indah.

Satu tempat unik yang saya rasa wajib dikunjungi di Tarakan adalah hutan mangrove yang letaknya tepat di tengah kota. Unik, karena hutan ini tidak saja sebagai paru-paru kota tetapi juga sebagai penahan abrasi pantai. Harusnya kota-kota di pesisir wajib punya. Jangan contoh Jakarta, yang di ujung pantainya pun sudah berdiri mall dan apartemen. Mengelilingi hutan ini, kita tidak menginjak tanah, tetapi melalui jembatan kayu yang melingkari hutan ini.  Bau khas air payau dengan pemandangan akar bakau yang semerawut membuat hutan kota makin menarik.  Yang membuatnya berbeda, di dalamnya juga dikembangbiakkan bekantan, spesies monyet yang berhidung mancung dan berekor panjang. Bagi kamu yang belum tahu bekantan itu gimana,itu lo..hewan yang jadi maskot Dufan Ancol. Hewan yang sudah dilindungi ini konon dulunya hanya berjumlah 5 ekor kini yang dipelihara di hutan mangrove Tarakan sudah mencapai 40 ekor. Wow!

Hutan Konservasi Mangrove, Tarakan
Hutan Konservasi Mangrove, Tarakan

Nah, terakhir soal kuliner. Kemana pun kamu pergi, sempatkan makan kuliner khas daerahnya. Setelah tadi saya ceritakan tentang kerang kapah, tentu saja sebagai daerah pesisir makanan paling istimewa di Tarakan adalah seafood. Beberapa tempat makan yang layak dicoba adalah Warung Bambu, letaknya di Jalan Mulawarman di depan hotel Paradise. Rumah makan yang katanya paling enak adalah Rumah Makan Turi tidak jauh dari Grand Mall Tarakan. Kedua rumah makan ini sama-sama menyajikan seafood yang ikannya kita pilih sendiri. Namun RM Turi menurut saya lebih istimewa, karena ada empat jenis sambal yang disajikan bersamaan untuk disantap dengan seafood yang kitapilih. Sayuran pelengkapnya juga segar bahkan lalapan dan rebusannya dibuat pada saat dipesan. Jangan heran, ketika kesini saya cukup lama menunggu pesanan datang karena tamu yang cukup banyak. Makan disini relatif murah, buat makan berdua dengan pilihan seafood yang lengkap cukup Rp150 ribu saja.

Jangan lupa juga mencicipi kepiting soka yang bertulang lunak yang banyak disajikan rumah makan sea food di daerah ini. Kalau bosen dengan seafood, boleh juga mencicipi bakso tetelan yang berkuah santan di pasar malam belakang KFC. Rasanya gurih, gak kayak bakso pada umumnya. Harganya? Hanya Rp10 ribu saja! Ohya, karena Tarakan berbatasan langsung dengan Malaysia, disini banyak dijual makanan kemasan produksi Malaysia seperti yang kita jumpai di Batam. Namun saya sih menganjurkan, kalau ke Tarakan jangan banyak-banyak belanja barang Malaysia buat oleh-oleh. Lebih baik membeli produk khas lokal seperti ikan asin dan olahannya. Daripada memperkaya bangsa lain, mari kita bantu pengusaha (kecil) lokal kan ???

Ayokkk makan di Tarakan!
Ayokkk makan di Tarakan!Akomodasi di Tarakan

Akomodasi di Tarakan

Untuk ukuran kota kecil, jumlah hotel di Tarakan cukup banyak. Pendatang yang datang kesini sepertinya rata-rata punya dua tujuan, pertama: pegawai pegawai perusahaan migas yang bertugas disini ATAU mereka yang transit untuk jalan-jalan ke Derawan.  Sebagian kecil memang ada yang transit untuk ke Sabah Malaysia, karena ada ferry dari Tarakan ke Tawau (wilayah Sabah) yang beroperasi tiga kali seminggu. Tarakan juga salah satu pintu gerbang keluar dari wilayah Kalimantan terutama bagi kepulauan di sekitarnya, karena adanya Bandara Internasional Juwata. Julukan “Little Singapore” yang pernah saya baca di sebuah media, sepertinya masih jauh panggang dari api. Padahal melihat letak geografisnya, bukan tidak mungkin hal itu terjadi.

Bandara Juwata letaknya kurang 3 km dari pusat kota. Buat kalian yang pertama kali datang kesini, jangan heran untuk jarak sedekat itu tarif resmi taksi bandara mencapai Rp65 ribu. Bagi kalian yang sekedar transit menuju Derawan dan mau irit, alternatif lain yang bisa dicoba adalah jalan kaki ke ujung parkiran bandara sekitar 300 meter kemudian naik ojek dengan ongkos sekitar Rp20 ribu.  Pusat utama kota tarakan hanya satu jalan sepanjang tidak kurang dari 5 km dan disanalah berjejer sejumlah hotel. Untuk di dalam kota,tidak ada taksi hanya ada angkot yang tidak punya trayek. So, kalau mau naik, tinggal bilang sama supirnya mau kemana, semoga searah denga tujuan kita. Heheheh..

Soal hotel. Hotel paling hits di Tarakan cuma ada Swiss Bell. Saya sempat bermalam di hotel ini, mengingat nama besarnya sebagai chain hotel internasional. Ternyata, Swiss Bell Tarakan termasuk hotel tua yan -yah…bisa dibilang biasa saja. Bahkan untuk hitungan harga termurah Rp800 ribu/malam, bisa dibilang lumayan mahal. Menjelang ke Derawan, saya pindah ke Padma Hotel. hotel kecil yang lebih murah dan letaknya dekat dengan pelabuhan. Dengan harga permalam via Agoda hanya Rp320 ribu, hotel ini sangat direkomendasikan. Furniture-nya masih baru, bersih, nyaman dan pelayanannya oke. Cukup bersaing untuk hotel bintang 1. Bahkan menurut saya, kamarnya lebih nyaman dari Swiss Bell.

Terakhir, Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi yang berencana ke Tarakan atau ke Derawan via Tarakan. Buat Bapak Sofyan, Walikota Tarakan yang baru, Tarakan punya banyak PR nih, pak! Terus dikembangkan ya, pak!

 

Hits: 1216