Nanti, saat pandemi sudah selesai saya ingin tulisan ini jadi kenang-kenangan yang bisa saya baca lagi sambil mengingat-ingat kejadian luar biasa ini. Sama seperti dulu saat iseng menulis gaya kampanye caleg ala Angel Lelga atau pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung (yang dari dulu nggak masuk logika saya) atau kebijakan tiket mahal Menhub Jonan yang awalnya saya tentang, tapi di ujungnya saya dukung penuh.

Saya yakin sebagian besar dari kita tidak akan pernah menduga virus ini mampu nyaris meluluhlantakkan hampir semua persedian kehidupan kita. Tidak cuma saya, kamu, tetangga kamu, seluruh orang Jakarta, Indonesia bahkan seluruh dunia. Pertengahan Maret lalu, Presiden Jokowi tampil di TV dan menghimbau agar kita mulai beraktivitas di rumah. Kemudian diikuti dengan tenarnya Pak Achmad Yurianto yang muncul setiap hari mengumumkan jumlah orang positif terinfeksi covid. Kehidupan pun mulai berubah.  Aktivitas 90% sudah dilakukan di rumah, ke luar rumah pun dengan perlengkapan persis mau perang.

Bersyukurlah mereka yang masih bisa menggali rejeki dari rumah. Namun di  luar sana, PHK mulai terjadi, pemotongan gaji sudah lumrah, para pekerja harian sangat susah mendapatkan orderan. Perusahaan besar, kecil semua terdampak. Ekonomi negara (bisa jadi) menuju ujung tanduk jika tidak segera diambil tindakan tindakan strategis.

Lalu Mudik atau Pulang Kampung? Tanggung Jawab Siapa?

Bermula Pak Presiden yang hanya menghimbau untuk tidak mudik, sementara kita tahu bahwa mudik ini adalah salah satu cara yang bisa membuat virus ini makin eksis di  semua daerah, bukan hanya Jabodetabek sebagai episentrum. Kritikan, protes, tudingan dituduhkan ke Pemerintah Pusat yang dianggap tidak tegas dan tidak serius menghambat penyebaran virus ini. Tapi di minggu ketiga April, mudik tiba-tiba dilarang. Apa iya tiba-tiba? Apa benar Pemerintah galau ? Nanti kita bahas.

Saat wawancara dengan Najwa Shihab, lagi-lagi Presiden Jokowi menimbulkan blunder. Polemik definisi mudik vs pulang kamu mulai ramai di masyarakat. Apa iya mudik sama pulang kampung memang beda?

Lanjut terus bacanya ya, stop dulu itu joget tiktok!

Kayaknya kalau membaca berita (apalagi judulnya doang), saya akan sama dengan kebanyakan orang. Ini pemerintah lemot amat sih? Galau amat sih? Maunya apa sih? Ok, setelah bongkar-bongkar referensi (kayak mau buat tesis aja) dan berkaca dari pengalaman sering membantu Pemerintah, saya coba bikin analisis abal-abal.

Begini Sis,…

Saya pernah nonton satu tayangan youtube tentang prediksi penyebaran covid-19 secara matematika (kayak serius amat gue) Dari hampir 15 menit video yang musingin itu, ini link-nya. Kesimpulannya; ada dua jenis kurva. Yang pertama, kurva dengan lonjangan tinggi signifikan dan kurva yang lebih landai. Di tengahnya ada garis fasilitas kesehatan (yang cenderung tidak akan bertambah signifkan atau linear saja)

Di berbagai negara yang sempat crush seperti Italia, China bahkan Amerika kurva pertama inilah yang terjadi. Kasus covid melebihi jumlah fasilitas kesehatan yang tersedia. Sampai-sampai di New York, truk container pun terpaksa jadi kamar jenazah. Begitu juga Italia yang akhirnya mendatangkan bala bantuan tenaga medis dari China.

Sekarang kita coba obyektif dan cari tahu lagi. Apakah isu fasilitas kesehatan ini ada di negara kita ? Apakah ada satu peristiwa signifikan yang bilang ada sekian banyak pasien terlunta-lunta karena tidak terawat? Nyaris tidak ada. Keputusan untuk meng-utilisasi wisma atlet Kemayoran adalah salah satu keputusan terbaik. Satu lagi, kita masih punya RS di Pulau Galang Batam yang belum digunakan. Ditambah lagi rekrutmen besar-besaran tenaga medis dibantu relawan membuat hampir tidak ada isu di infrastruktur pendukung ini.

Jadi apa hubungannya kurva itu dengan himbauan dan kemudian larangan mudik?

Jokowi kok awalnya hanya menghimbau atau seolah-olah tidak melarang mudik?! Sengaja! Bukan semata-mata karena data. Itu dilakukan untuk mengurangi beban Jakarta, lalu daerah disuruh berbenah “menyambut orang mudik”. Sebelum pelarangan mudik, data Kemenhub menyebutkan sudah hampir hampir 1 juta orang mudik duluan dengan konsentrasi terbesar di Jawa Tengah.  Beban Jakarta itu apa ? Ya beban anggaran, ya beban fasilitas kesehatan, beban manajemen dan beban-beban yang lain.

Loh, tapi kan bukan berarti itu secara nggak langsung sudah membuat virus juga ikutan mudik? Nah, beginilah cara Presiden membagi tugas. Tentu, pasti ada peluang penyebaran virus ke daerah, sampai-sampai banyak Kepala Daerah sebel, loh..kok ini para pembawa virus dibiarin pulang sih?  Yah, itu.. Jokowi sedang berbagi beban. Kalau dari awal langsung dilarang, mungkin seluruh daerah tidak super antisipatif kayak sekarang. Akhirnya Ibukota pun kewalahan, sangat beda jika dari awal daerah juga sudah di-push untuk kerja. Jangan sampai daerah mikir: Santai, bro.. wong orang yang bawa virus dikurung di Jakarta. Salam hormat saya untuk Pak Ridwan Kamil, Pak Ganjar Pranowo dan Ibu Khofifah, tiga gubernur yang paling sibuk ngurusin pandemi.

Lalu kenapa sekarang dia malah melarang? Persepsi yang muncul di masyarakat: presiden galau, nggak punya pendirian, dll. Padahal, saya yakin Presiden sudah berhitung, di sekitar dia banyak kok orang-orang pinter yang masa mudanya cuma belajar doang nggak pernah nonton Netflix (hehehe..). Saat ini Jabodetabek mungkin dirasa sudah dirasa cukup untuk handle yang tersisa alias nggak mudik, dan daerah juga sudah siap kalau masih ada yang kecolongan mudik juga. Sejalan dengan itu perlengkapan pelarangan seperti: aturan, aparat dan personil yang bertugas di lapangan, sosialisasi protokol wajib kesehatan pun sudah lebih siap. Jadi tidak serta merta dilarang sejak awal, sementara perangkat di bawahnya belum siap.

Coba, kalau dari awal sudah dilarang, bisa jadi daerah nggak sekenceng sekarang effort-nya. Semua masalah numpuk di Jakarta. Yang ada saja sudah bikin kewalahan. Mulai dari urusan KRL sampai bagi-bagi dana bansos yang ada masalahnya. Saat semua daerah sudah lebih siap, dia (pemerintah) tutup deh jalur keluar Jabodetabek. Kesiapan daerah (yang tadinya mau menampung gelombang orang mudik), menjadi lebih kuat lagi, jika di awal menyiapkan kapasitas 100, eh yang datang hanya 30. Contoh gampangnya begitu.

Lalu beda mudik sama pulang kampung apaan ya? Apa Presiden emang kepeleset ngomong (again) ? Hmm, masak sih? Ya, bisa jadi beliau emang ketelingsut bicara, bisa jadi grogi dengan tatapan Najwa yang tajam.

Menurut saya, ini juga bagian dari membagi beban dan tanggung jawab. Misal kamu KTP-nya Magetan kamu ngotot pulang kampung artinya secara langsung Pemerintah Daerah Magetan punya tanggung jawab mengurus kamu, karena kamu adalah warganya. Ini definisi dan makna tersirat “pulang kampung” menurut Presiden. Beda kalau kamu sudah ber-KTP Tangerang Selatan dan mau ke orang tuamu di Solo, itu artinya kalau kamu tetep ke Solo (mudik), kamu akan menambah beban Pemerintah Solo, padahal secara administratif bos-mu adalah Ibu Airin. Ingat ya konsep berbagi beban tadi. Ok, its debat-able sih! Silakan dipikirin sendiri.

Lalu Kenapa moda transportasi dibuka lagi ?

Duarr.. ini yang lagi rame dua, tiga hari  terakhir. Pak Menteri Budi Karya yang baru lulus ujian covid 19, di hari kedua aktifnya bilang; moda transportasi dibuka lagi per tanggal 7 Mei dengan batasan-batasan penumpang tertentu sesuai SE Gugus Tugas. Nah, sayangnya.. semua media menggoreng berita ini. Headline-nya Menhub buka transportasi lagi. Pesan bahwa itu hanya untuk penumpang tertentu jarang disebutkan. Kalau pun ada kecil banget, kayak term and condition barang diskon. Ngamuklah netijen yang maha benar (padahal baca judul doang).

Di satu sisi, saya juga belum tahu bagaimana hitung-hitungan-nya. Apakah walaupun dengan pembatasan, kebijakan ini akan efektif untuk tetap membuat ekonomi berjalan? Ingat, tujuannya kan untuk tetap membuat beberapa roda ekonomi berputar, karena pebisnis termasuk salah satu kelompok pengecualian bepergian. Semoga pemerintah sudah memperhitungkan ini dengan tepat, bukan hanya “rasa rasa”.

Bepergian memang dibolehkan untuk kelompok tertentu, tapi tetap bukan untuk mudik. Tapi syaratnya berat, men! Harus tes bebas covid dululah, ijin inilah, itulah. Duh, ini saya mah malah ngeri. Ngaku-ngaku ada keluarga meninggal di kampung juga nggak sampai hati, ntar kualat.

Ingat ya, tidak ada satu pun negara di dunia yg bisa jadi bencmark penanganan covid untuk negara yang lain. Ya, ada yang bisa diambil pelajarannya tapi tidak semua, karena karakter dan demografi penduduk setiap negara sangat berbeda. Memang ada perkara permudikan di negara lain ? Ada nggak yang seheboh Indonesia mobilitas yang meninggalkan ibukota hampir menjampai 26 juta orang setiap Idul Fitri ? *Please, topiknya disini aja ya, jangan ngeyel dengan argumen : “salah sendiri, kenapa pembangunan nggak merata”.

Saya nggak belain pemerintah, wong PR mereka masih banyak banget dan yang sudah dilakukan pun masih belum sempurna. Saya hanya membantu mengurai, biar kita sama-sama berpikir obyektif dengan tetap wajib memberikan masukan yang konstruktif, bukan pakai emosi grasuk grusuk, tapi pakai analisis yang tepat.

Kita harus paham, mengambil kebijakan itu ibarat minum pil, selalu ada efek sampingnya. Kadang kita memang harus minum dua pil bersamaan, karena memang penyakitnya nggak cuma satu. Sekarang PR besar pemerintah adalah soal kesehatan dan ekonomi. Seperti buah simalakama, sulit dipilih. Walau fokus pada penanganan dan pencegahan virus, ekonomi tetap harus berjalan walaupun dalam porsi yang minimal. Jangan sampai kesehatan jatuh, ekonomi jauh lebih terperosok lagi.

Karena sakit, kita harus minum obat. Tentu saja, dokter sehebat apapun tidak akan bisa menjamin 100% obat-obatan itu nggak ada efek sampingnya.  Minum obat pusing, eh..jadi mual. Nggakpapa, mualnya sedikit kok, masih bisa diatasi. Kuncinya ada pada dosis yang tepat bukan dosis yang ekstrim untuk satu obat saja. Pelan-pelan keduanya akan membaik.

Sama kayak pos checking mudik, dijagain dimana-mana, eh.. masih ada aja yang kebobolan lewat jalan tikus. Terus dengan entengnya kita bilang : Tuh, kan, aturannya nggak efektif. Padahal saya yakin 1000% kamu nggak nyari data berapa banyak mobil yang disuruh pulang. Kamu cuma fokus sama kegagalannya yang sedikit, dibanding hasil dan upayanya yang kenceng. Terus kalian berkoar-koar deh dimana-mana bahwa semua nggak ada manfaatnya. Sementara kamu sendiri, masih santai keluar rumah bukan untuk urusan yang mendesak.

Salah siapa ? Salah Gue? Salah Pak Polisi? Salah pola pikir kita! Salah cara kita yang lebih senang menyalahkan orang. Sekarang saya tanya, apa sih berita yang nggak digoreng sama media? Lalu kita dengan mudahnya menyalahkan cara penyampaian lembaganya yang kurang inilah, kurang itulah. Ya semua akan kurang kalau kita juga tidak mau diedukasi. Kita hampir selalu lupa cara kita membaca, menyimak dan menyebarkan berita itu. Ada segmen-segmen tertentu yang memang tingkat penerimaannya rendah, ya tapi kalau kalian lebih cerdas dari mereka, ya nggak usah ikut-ikutan menghujat juga dong.

Sejalan dengan itu kampanye untuk tidak mudik terus digembar-gemborkan. Riset bilang lebih dari 75% alasan orang mudik itu alasan emosional, bukan terutama karena materi. Tapi karena kangen keluarga dan sudah menjadi ritual tahunan. Artinya, orang-orang yang tidak mudik ini harus didekati dengan hati, diberi kesadaran bahwa tidak mudik ini bukan buat Anda saja, tapi buat keluarga, buat semua bahkan buat negara agar segera kembali bangkit. Kalau masih nekad juga? Ya silakan saja, tapi siap-siap denda hingga 100 juta menunggu,

Capek juga ngetik. Pegel. Udah dulu ah,..

Terakhir, kalau kamu masih bisa duduk di rumah, buka Instagram, baca blog ini, main tiktok, makan kenyang, gaji aman (walau dipotong), sudah nggak usah ikutan menghujat. Semua pelaksana penanganan covid di negara perlu kepercayaan dan dukungan. Duduk manis aja di rumah. Nggak usah mudik, nggak usah kemana-mana. Alhamdulillah kalau masih bisa berbagi kepada yang membutuhkan. Lakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan.

Nggak usah nambah dosa, bulan puasa.

Hits: 2032

Tahukah kamu bahwa kata “Kendari” berasal dari Kandai yang berarti dayung? Atau kota Manado, bermula dari ungkapan “tempat yang jauh”? Tahukah kamu bahwa Buton berasal dari nama benteng yang saat ini diklaim sebagai benteng terbesar di dunia?

****

Sempat menghabiskan masa kecil di Pulau Sulawesi, kadang-kadang memang membuat saya bertanya-tanya apa sih arti nama-nama kota di pulau ini. Berbeda dengan nama kota di Pulau Sumatera yang kebanyakan berasal dari Bahasa Melayu sebagai bahasa dasar orang Indonesia, nama kota di Pulau Sulawesi, cenderung tanpa clue. Bandingkan juga dengan nama-nama kota di Jawa Barat. Disini awalan “Ci” untuk nama daerah sudah sangat umum. Ci yang berarti air biasanya dirangkai dengan kata lain yang menjadi nama daerah tersebut. Sangat mudah ditebak, mengingat memang sebagian besar daerah Jawa Barat dilewati aliran sungai.

Setelah puluhan tahun berlalu, akhirnya saya jadi tahu arti nama kota-kota utama di Sulawesi. Saya bersama teman-teman Kamadigital.com dipercaya PT Balai Pustaka (Persero) untuk menulis ulang sebuah buku bertajuk Sejarah Toponim Kota Pantai di Sulawesi yang awalnya diterbitkan oleh Kementerina Pendidikan dan Kebudayaan.

Ternyata, Sulawesi yang memiliki cukup banyak kota pantai memiliki kisah uniknya masing-masing. Contohnya Kota Makassar berasal dari kata “mangkasarak” mengandung arti memiliki sifat besar (mulia) dan berterus terang (jujur). Nama ini kemudian menjadi nilai luhur yang dipegang teguh masyarakat kotanya hingga saat ini. Selain kisah tentang Makassar, ada kota yang namanya ternyata berasal dari kesalahpahaman orang lokal yang mencoba menjawab pertanyaan orang asing. Ada juga yang namanya terinspirasi dari nama tanaman bahkan mitologi penduduk setempat.

Nah, dalam buku yang kemudian kami ganti judulnya menjadi “Asal-usul Nama Kota Pantai di Sulawesi” ini, kita dapat mengetahui kisah asal-usul dari 17 nama kota pantai di Pulau Sulawesi. Tujuh belas kota tersebut merupakan perwakilan dari enam provinsi yang ada di Sulawesi. Baik kota yang sudah memiliki nama besar seperti Makassar, Manado, Mamuju, dan Kendari, hingga kota lain seperti, Kema, Bitung, Bantaeng, Majene, Buton dan masih banyak lagi.

Sejarah penamaan nama-nama kota di Sulawesi ini berpengaruh terhadap peadabannya hingga saat ini. Pulau Sulawesi sejak dulu memang dikenal memiliki sejarah paling kuat dari sisi maritim. Dunia maritim inilah yang menggerakkan berbagai sisi perekonomian penduduk pulau ini, berdampingan dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal.

***

Buku ini sengaja dikemas dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, dengan komposisi 70% tulisan dan 30% ilustrasi yang lucu dan menarik. Sasaran buku ini adalah pembaca anak-anak Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah yang mungkin menganggap sejarah adalah subyek yang membosankan dan tidak menarik. Harapannya, agar para generasi penerus bangsa tersebut mau melanjutkan semangat literasi dan pengetahuan sejarah bangsa ini tidak mati. Karena sesungguhnya sejarah adalah pondasi guna membangun pilar sejarah baru.

Sebelum kita membuat sejarah baru, ada baiknya kita mengerti sejarah tempo dulu yang mampu membuat bangsa kita menjadi seperti hari ini. agar kita tidak melupakan norma-norma yang diajarkan oleh nenek moyang.

Selamat membaca.

 

Hits: 1735

Terus terang, perluasan ganjil genap saat pelaksanaan Asian Games kemarin membawa dampak signifikan buat hidup saya. Kenapa? Karena Jakarta-Bogor via Jagorawi pada jam sibuk, bisa ditembuh kurang dari 1,5 jam! Bahkan kalau lagi hoki, bisa hanya sekitar 50 menit. Saat itu, perluasannya bukan hanya dari wilayah namun juga dari ukuran waktu. Kalau biasanya hanya jam-jam tertentu di pagi dan sore, saat Asian Games jadi seharian penuh.

Padahal, saya juga pengguna kendaran pribadi loh! Adanya ganjil genap membuat saya lebih berhitung tentang efisiensi waktu dan biaya. Misalnya, saat tanggal genap (karena mobil saya bernomor ganjil), sebisa mungkin saya kurangi beraktivitas yang jauh-jauh. Nah, pas tanggal ganjil saya justru memadatkan semua agenda perjalanan luar kantor. Jadinya efisien, secara waktu, biaya dan tentu saja energi tubuh. Bahkan saya ikut bangga, karena berkontribusi pada penurunan tingkat polusi. Data membuktikan terjadi penurunan polusi udara yang cukup signifikan karena perluasan ganjil genap tersebut (Sila googling deh…)

Sayangnya, satu bulan setelah Asian Games dan Asian Para Games berlalu, periode ganjil genap waktunya kembali ke jam yang sama. Habbit masyarakat pun kembali ke semula. Berangkat siang, pulang malam dan macet hanya berpindah waktu. Mobil-mobil dengan nomor plat berlawanan, kembali menguasai jalan-jalan tikus, menghabiskan waktu untuk masuk ke jalan besar yang dibatasi ganjil genap.

Apa boleh buat, Perda yang dibuat Pemda DKI awalnya memang menyebutkan perluasan ganjil genap tersebut hanya berlaku selama dua event olahraga tadi. Satu-satunya cara kita untuk tidak merasakan macet adalah naik kendaraan umum!

Duh, basi yaa, Jus Semangka nyuruh-nyuruh orang naik bus melulu!

Memang, bagi yang terbiasa duduk nyaman di kendaraan pribadi (apalagi disupirin) pasti enggan banget naik kendaraan umum. Kalau saya, sekarang memilih naik kendaraan pribadi, jika perginya rame-rame karena hitungan ekonominya akan lebih efisien. Tapi kalau sendirian, mending naik umum deh. Males kan nge-galau sendirian sambil duduk di belakang kemudi. Serius loh ini! Naik kendaraan umum (bis atau KRL) bagi saya adalah cara bersosialisasi dengan manusia lain. Iya, sih, tidak harus kenalan juga sama semua orang, tapi saya paling suka mengamati tingkah laku dan gerak gerik orang di kendaraan umum.

Bergabung dengan sekian banyak orang yang tidak kita kenal di bis, menumbuhkan rasa bersyukur yang dalam. Penumpang dengan beraneka ragam model dan datang dari berbagai lapisan ekonomi membuat kita melek kalau perjuangan hidup manusia itu salah satunya dilihat dari mobilitasnya.  Terbukti, kendaraan umum sejatinya adalah etalase kehidupan sosial di Jakarta. Apalagi sekarang, kendaraan umum bukan hanya milik kalangan ekonomi menengah bawah.

Di kendaraan umum juga sering lahir ide-ide kreatif yang kemudian menjadi rencana kegiatan besok hari. Bahkan beberapa tulisan di blog ini, juga lahir dalam perjalanan yang  awalnya ditulis pada ponsel.

Etapi ini bukan curhat loh, saya hanya ingin bercerita, bahwa naik kendaraan umum itu fungsi sosialnya banyak sekali. Kalau belum biasa naik kendaraan umum, dicobalah sekali-kali. Seandainya setiap pemilik mobil dalam seminggu minimal satu kali saja naik kendaraan umum, selain mengurangi macet, makna sosial yang akan kita temui pasti bisa membuka mata hati kita bahwa hidup itu, bukan hanya duduk di belakang kemudi, atau tidur sambil membiarkan supir membawa kita.

Ayo Naik Bus!

Picture : https://www.acd.org.au/ndis-research-forum-student-transportation/bus-cartoon/

 

 

 

 

Hits: 1115

Di zaman yang serba digital ini, teknologi hadir untuk makin mendekatkan masyarakat dengan berbagai fasilitas publik. Berbagai aspek kehidupan sekarang hampir semuanya bisa dilakukan secara mudah dengan memanfaatkan teknologi. Tak terkecuali aneka layanan jasa, termasuk urusan transportasi. Sekarang sudah bukan zamannya lagi mengantri dari pagi subuh demi membeli tiket. Atau menggunakan jasa calo, seperti yang pernah terjadi di Indonesia bertahun-tahun lalu. Segalanya bisa dilakukan dengan mudah, dari mana saja dan kapan saja dengan bantuan teknologi digital.

Dengan perkembangan yang terjadi saat ini, suka atau tidak suka, semua aspek kehidupan harus mengikuti. Termasuk PT Kereta Api Indonesai (KAI) yang juga tak mau ketinggalan zaman dengan mengikuti perkembangan teknologi untuk mempermudah akses ke semua informasi yang diperlukan penumpang kereta api.

KAI Ikuti Perkembangan Era Digital Agar Tak Ketinggalan Zaman

Sejak beberapa tahun lalu, KAI telah banyak berbenah dan mengalami banyak perubahan yang signifikan. Kenyamanan penumpang menjadi prioritas utama Badan Usaha Milik Negara ini, untuk terus bertahan di era digital yang serba cepat. Dengan prinsip tak mau ketinggalan zaman, KAI mengikuti gerak teknologi informasi melalui penyediaan aneka layanan penumpang berbasis internet. Apa saja sih terobosan KAI?! Yuk kita simak satu persatu.

Cek Jadwal Kereta Online

Dulu, penumpang harus datang langsung ke stasiun untuk melihat jadwal keberangkatan kereta api ke kota tujuan. Tidak jarang, setelah melihat jadwal beberapa hari sebelumnya, kemudian jadwal mengalami perubahan mendadak dan informasinya tidak bisa didapatkan dengan mudah. Kini, melihat jadwal kereta api bisa dilakukan dengan mudah melalui internet. Baik lewat website maupun ponsel, jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta bisa diketahui dalam hitungan detik dan realtime.

Penjualan Tiket Online

Selain menyediakan layanan cek jadwal online, KAI juga menjual tiket secara online. Tidak hanya bisa dibeli di website resmi milik perusahaan, KAI juga menggandeng Traveloka sebagai partner penjualan tiket kereta untuk menjangkau lebih banyak penumpang. Traveloka menjadi partner resmi KAI untuk penjualan tiket jarak jauh dengan berbagai pilihan jurusan. Tidak hanya untuk tiket langsung, Traveloka juga menyediakan tiket lanjutan yang jadi alternatif ketika tiket kereta langsung ke kota tujuan habis terjual. 

Sumber: Dokumentasi Traveloka

Layanan Customer Aktif di Berbagai Platform Media Sosial

Cepatnya arus komunikasi masa kini membuat KAI harus ikut mengejar. Media sosial telah menjadi kanal utama informasi KAI. Jika dulu layanan penumpang hanya melalui telepon dan juga CS yang ada di stasiun, kini penumpang bisa melayangkan berbagai pertanyaan dan keluhan melalui akun media sosial resmi milik KAI seperti Twitter, Facebok dan instagram. Semuanya ditangani oleh admin yang siap sedia selama 24 jam penuh.

KAI Terima 3 Penghargaan

Usaha KAI untuk terus berpacu agar tak ketinggalan zaman berbuah manis di awal tahun 2018. Contact Center Service Excellent Award (CCSEA) 2018 yang terselenggara atas kerjasama Carre Service Quality Monitoring (SQM) dengan Majalah Service Excellence memberikan penghargaan kepada KAI atas layanan kepada penumpang di media sosial. 

Sumber: Dokumentasi KAI

Ada tiga penghargaan sekaligus yang diterima KAI pada acara tersebut, yaitu Predikat Excellent untuk Call Center 121 KAI kategori Public Service. Predikat Good untuk Facebook Customer Service KAI121 kategori Public Service dan Predikat Good untuk Twitter Customer Service @KAI121 kategori Public.

Tentu hal ini menjadi sebuah kebanggaan, namun tak menghentikan KAI untuk terus berinovasi dan memperbaiki layanan untuk penumpang.

 

Feature Image: Dokumen PTKAI

Hits: 1044

Menurut teori, long haul flight adalah penerbangan langsung (direct flight) dengan durasi minimal 10 jam. Dari hasil googling, saya menemukan bahwa direct flight terlama adalah Singapura-San Francisco dengan durasi sekitar 17 jam 15 menit, kemudian Jeddah-Los Angeles selama 16 jam 40 menit. Sekarang, dalam setahun, setidaknya saya menjalani 2 kali penerbangan dengan durasi minimal 12 jam. Karena belum mampu beli tiket bisnis apalagi first class (I wish I were Syahrini, heheheh…) mau nggak mau saya harus mencari tips agar tidak terlalu capek apalagi sakit. Mungkin beberapa resep di bawah ini, bisa teman-teman terapkan juga.

Pastikan badan dalam kondisi sehat

Perubahan tekanan yang drastis akan membuat banyak terjadi perubahan di metabolisme tubuh, belum lagi di tujuannya yang jauh, jetlag sudah pasti akan dialami. Beberapa tahun lalu, saya pernah menjalani penerbangan Jeddah-Los Angeles selama hampir 17 jam nonstop (dari total 37 jam perjalanan termasuk transit) dan setelah mendarat saya pun sukses mengalami diare. Memang sih, sebelum take off, badan sudah agak kurang sehat karena saya masih sempat lembur di kantor hingga jam 11 malam. Lalu diperparah kondisi di dalam pesawat yang kurang nyaman, jetlag serta cuaca yang kurang mendukung. Saya juga pernah terbang dari Kuala Lumpur ke Jepang selama 8 jam lanjut Jepang-Los Angeles selama 12 jam dengan kondisi flu berat! Alhasil, sampai di tujuan, saya terkapar kurang lebih seminggu. Jangan dianggap remeh deh, soal sakit-sakit yang kita pikir sepele ini. Gak lucu banget, kalau tujuannya liburan (apalagi kerja), tau-tau setiba di destinasi malah sakit. Bahkan untuk beberapa penyakit tertentu wajib berkonsultasi ke dokter sebelum berangkat. 

Duduk di Aisle Seat

Pilih duduk di lorong atau koridor. Lupakan sementara duduk santai di bangku sudut dekat jendela dan memandang langit yang indah. Percayalah, itu semua hanya indah saat perjalanan jarak dekat. Saat jarak jauh, jendela akan lebih sering harus ditutup, untuk menghindari kebingungan perputaran waktu yang cepat dan di luar biasanya cenderung gelap, karena pesawat ada di ketinggalan minimal 35000 kaki (atau sekitar 10 km) di atas permukaan laut. Duduk di lorong juga memudahkan mobilitas kita di pesawat dan mengurangi pegal karena lelah “terkurung”. Belum lagi kadang ada rasa sungkan dan repot harus membangunkan penumpang sebelah kita jika ingin ke lavatory (toilet)

Banyak Minum Air Putih, Hindari Soda

Biarpun sama sekali tidak akan terasa haus, air putih akan memperlancar metabolisme tubuh dan membuat tubuh tetap fit. Pramugari biasanya akan memberikan pilihan minuman bersoda, sebaiknya pilih jus buah, kopi dan teh (tapi jangan sering-sering) dan tentu saja air putih. Perut kembung bisa saja terjadi karena dampak tekanan udara, apalagi kalau ditambah minum soda. Takut sering pipis? Jangan khawatir, justru keinginan ke lavatory (toilet) yang bikin badan harus bergerak bisa membantu tubuh tidak cepat lelah.

Exercise Minimal 2 jam sekali

Duduk nonton film hingga berjudul-judul selama lebih dari 10 jam tidak akan menyenangkan lagi kalau kita terus menerus di posisi yang sama. Makanya, di penerbangan jarak jauh, sering banyak penumpang yang berolahraga ringan di lorong pesawat. Cuek saja! Badan akan terasa pegal  hingga hampir kehabisan posisi nyaman, jadi mau tidak mau sesekali kita harus berdiri melakukan peregangan. Selama penerbangan, sirkulasi darah juga akan melambat, duduk terus menerus malah bisa bikin kaki keram dan kondisi badan makin kurang sehat.

Bawa Obat-obatan Pribadi

Sebagai orang kampung(an), saya selalu siap tolak angin cair dan minyak kayu putih kalau naik pesawat jauh. Membantu banget buat jaga-jaga. Apalagi kadang-kadang makanan yang disajikan kurang sesuai dengan selera kita yang membuat daya tahan tubuh bisa turun. Karena bukan tipe pelor (nempel molor), kadang-kadang saya juga membawa antimo. Bukan takut mabuk, tapi agar bisa tidur dengan nyaman.

Pesan Moslem Meal (bagi yang muslim)

Kenapa ini saya masukkan salah satu tips?! Saya pernah tidak melakukan pemesanan moslem meal via internet, akibatnya saya tidak bisa makan makanan yang disajikan, dan perut terasa kembung. Saya hanya dapat menyantap roti plus mentega yang rasanya sangat “plain”, plus salad sebagai appetizer yang jumlahnya kira-kira hanya 2 sendok makan. Kebayang kan lapernyaa…. Umumnya sekarang pesawat-pesawat Eropa dan Amerika pun bisa menyajikan moslem meal, asal dipesan terlebih dahulu. Daripada di pesawat mules dan pas landing kurang sehat, mending deh pesan duluan. Ohya, beberapa pesawat (bukan dari negara dengan penduduk muslim) seperti Singapore Airlines selalu punya stok moslem meal, tanpa harus melakukan online order. Tapi jangan heran, menunya itu-itu saja (seperti nasi briyani dan makanan penuh rempah ala Timur Tengah) Hehehe..

Moslem Meal-United Airlines

Nah, sudah siap terbang jarak jauh? Safe Flight!

feature image: google.

Hits: 3495

Masih ada ya, produser dan sutradara yang mau memproduksi film seperti LIMA, begitu pikir saya setelah selesai menonton filmnya. Buat saya yang tidak terlalu paham masalah sinematografi, gambar-gambar film ini sungguh bercerita walau tanpa banyak dialog dan ekspresi aneh-aneh layaknya sinetron. Meskipun temanya idealis, film ini ditata apik yang tetap membuat kita betah menonton hingga selesai tanpa bosan. Karena ke-idealis-annya itu, film ini bisa jadi bukan film yang laku di pasaran.  Saya yakin produser dan sutradaranya pastilah mereka yang tidak saja cinta profesinya namun juga cinta dan peduli bangsa ini.

Minggu lalu, saya diajak PPM Manajemen menonton film tersebut. Jarang sekali ada perusahaan bahkan swasta yang begitu konsen dengan perayaan Hari Lahir Pancasila dan memeriahkannya dengan cara menonton bersama film yang terkait dengan Pancasila. Memang, upacara bendera wajib dilakukan di tanggal itu, tapi setelah itu, ya sudah, selesai. Semua memang cuma sebagai ritual belaka. Dulu memang, film G3O SPKI mungkin sempat jadi tontonan wajib anak sekolah, tapi sejatinya memaknai Hari Lahir Pancasila justru tidak kalah penting. Apalagi beberapa tahun terakhir, keberagaman seolah menjadi ancaman bagi negara, dan kita mungkin lupa bahwa ada Pancasila yang seharusnya mengingatkan negara ini memang dibangun karena keberagaman bukan oleh keseragaman.

 

Bagi PPM sendiri, menjaga keutuhan bangsa adalah panggilan. Mungkin itu yang kadang tidak kita sadari juga menjadi tugas kita. Sejak awal berdirinya, PPM Manajemen terus berupaya memastikan menjaga dan mempromosikan kebersamaan nasional dan kebhinekaan dalam pembangunan bangsa. Meski terlihat tujuannya serius dan “berat”, ternyata caranya bisa kok dalam bentuk yang fun tapi “mengena”. Seperti kata Pak Bramantyo Djohanputro, Direktur Eksekutif PPM yang menemani kami; beliau ingin insan PPM tidak hanya hapal sila per sila, tetapi juga mengerti cara penerapannya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam film ini, dikisahkan ada satu keluarga yang sangat majemuk. Berbeda keyakinan, berbeda konflik yang jika ditarik benang merah-nya, mewakili masing-masing sila pada Pancasila. Uniknya, semua masalahnya sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari dan realita yang akhir-akhir ini terjadi. Ibunda mereka beragama muslim yang taat, sementara tiga anaknya ada yang memeluk Islam mengikuti dirinya, ada juga yang mengikuti keyakinan Almarhum Ayah mereka. Konflik sehari-hari terbangun berkaitan dengan pekerjan dan pergaulan sehari-hari.

Fara, anak pertama yang seorang pelatih renang mengalami dilema untuk memilih anak latihnya berlaga di Asian Games. Di satu sisi yang berprestasi justru Kevin, perenang yang keturunan Tionghoa, sementara ada calon lain, asli Indonesia yang “dititipkan” oleh atasannya. Aryo, anak kedua mengalami masalah perbedaan pendapat dengan teman sekerjanya, yang membuatnya didepak tanpa musyarawah terlebih dahulu. Sementara Adi, si bungsu terbiasa hidup dalam bully-an yang membuatnya membatasi pergaulan. Ada tokoh-tokoh lain yang membuat film ini jadi lebih hidup. Meskipun memiliki problema masing-masing, namun film ini tetap terasa berada dalam satu kesatuan tidak menjadi sekuel. Sila tonton trailer-nya berikut ini.

Kita sebenarnya masih kurang media untuk merekatkan bangsa. Kita perlu media-media kreatif yang tidak hanya memberikan hiburan, tapi juga edukasi. Seperti film Lima ini. Sudah sepatutnya kita dukung, caranya sederhana, nonton dan ceritakan ke teman-teman. Yuk…

Pacific Ocean, 10 Juni 2018

Hits: 1071

Akhir-akhir ini saya kerap naik Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus TransJakarta (APTB) dibanding naik commuter line. Kenapa? Karena haltenya dari rumah lebih dekat daripada ke stasiun dan bisa turun pas di depan markas Kamadigital. Dulu, waktu masih bekerja di Bank Mandiri juga sama, tapi saya memilih APTB (yang sekarang disebut TransJabodetabek) jurusan Grogol dan turun pas di Semanggi. Bisnya nyaman sekali, jarang ada penumpang yang berdiri kecuali pada jam-jam sangat sibuk. Kaki bisa selonjoran, tidak seperti bis-bis reguler Mayasari atau Jakarta-Bogor lainnya yang tempat duduknya sempit dan bikin kaki kejepit dan turunnya keram.

Kabar baiknya, Transjabodetabek sekarang sudah ada yang premium, loh! Sedikit lebih mahal tapi fasilitasnya lebih oke, kursinya lebih luas, ada colokan dan wifi. Bener-bener gak bikin mati gaya di jalan.

Kebetulan minggu lalu saya diundang Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan menghadiri launching promo diskon 50% Transjabodetabek Bekasi-Jakarta di Bekasi. Kenapa mesti Bekasi yang duluan diskon? Tau sendiri-lah, Jakarta-Cikampek (yang melalui Bekasi) sejak adanya mega proyek LRT Cawang-Cikampek, macetnya nggak ketulungan. Bulan lalu, BPTJ meluncurkan paket kebijakan untuk mengurangi lalu lintas di tol Jakarta-Cikampek tersebut, seperti pengaturan jam operasional angkutan truk dan kontainer,memprioritaskan laju angkutan umum Bekasi-Jakarta pada jam-jam tertentu dan pembatasan mobil dengan skema ganjil genap.

Solusi Kemacetan Jakarta-Cikampek

Nah, atas kebijakan-kebijakan tersebut, BPTJ merasa berkewajiban menyediakan kendaraan umum yang lebih banyak dan layak untuk masyarakat Bekasi dan sekitarnya. Tapi tentu harus didukung keikhlasan kita (yang biasa naik mobil pribadi) untuk pelan-pelan membiasakan diri naik kendaraan umum. Perubahan perilaku harus dimulai dari sekarang karena ke depan sarana dan prasarana angkutan massal yang disiapkan pemerintah seperti KRL dan MRT akan segera selesai pembangunannya. “Siapa nanti yang akan naik KRL dan MRT kalau sampai hari ini kita tidak memulai merubah perilaku kita untuk beralih naik angkutan umum massal ?” kata Pak Bambang Prihartono, Kepala BPTJ.

Ini jadwalnya..

Jadwal Transjabodetabek Premium Bekasi
Jadwal Transjabodetabek Premium Bekasi

Hasilnya, ada trend positif pada peningkatan pengguna Bus Transjabodetabek Premium. Load factor-nya mulai menunjukkan kenaikan pada jam-jam sibuk. Namun untuk menjaga agar penumpangnya tetap stabil, dibuatlah promo-promo biar penumpang makin happy, salah satunya diskon 50% ini. Dari Rp 20 ribu menjadi Rp 10 ribu saja. Bukan itu saja, buat para pengendara pribadi bisa parkir di mall/pertokoan atau pool keberangkatan bisnya dengan tarif 5000 saja, all day long selama dapat menunjukkan tiket penumpang Transjabodetabek. Promo ini direncanakan hingga Juni 2018 atau bisa lebih panjang dengan melihat minat para penumpangnya

Saya sebagai pengguna setia kendaraan umum, tanpa diminta pun, akan dengan senang hati mengajak lebih banyak orang untuk naik kendaraan umum. Bertahun-tahun menjalani hidup Jakarta-Bogor, saya tahu betul bagaimana perubahan (baca: penambahan) kemacetan kota ini. Sepuluh tahun lalu, pemisah jalur Tol Jagorawi masih penuh tanaman dan taman kecil yang cantik. Namun kini nyaris hanya pada pembatas pagar baja, karena semakin tahun tol semakin diperlebar untuk menampung pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan penambahan luas jalan. Saya sadar banget yang bikin macet itu, adalah karena jumlah kendaraan pribadi yang terlalu banyak. Tidak usah bikin riset statistik yang canggih-canggih. Sesekali, saat macet lihat saja di kanan kiri kita kendaraan pribadi, rata-rata penumpangnya hanya 1 orang!

Riset membuktikan lebih dr Rp 100 triliun hilang setiap tahun akibat kemacetan di Jabodetabek. Sebuah artikel lain menyebutkan satu mobil pribadi menghasilkan 250 kg emisi CO2 per penumpang per 1000 km, sementara bus hanya menghasilkan 50 kg emisi CO2 per penumpang per 1000 km. Artinya dengan naik kendaraan umum, kita secara tidak langsung juga sudah menjaga lingkungan.

Jangan berharap hanya pemerintah beresin kemacetan, kalau kita sendiri tidak ikut berkontribusi. Memang, naik kendaraan umum tidak mungkin senyaman kendaraan pribadi (apalagi disupirin) tapi naik bus itu manfaat sosialnya banyak banget. Membantu mengurangi macet, mengurangi polusi dan membuat hidup kita pun makin berkualitas. Dulu kemapanan itu tersimbol dengan mengendarai mobil pribadi. Padahal jaman sudah berubah. Kini sejatinya “mapan” adalah mereka yg mau naik kendaraan umum. Keren kan naik, bus?

Kata seorang pakar; keadilan sosial dalam transportasi bermakna dimudahkannya akses bagi warga lintas kelas kepada moda yang paling banyak kapasitasnya: angkutan umum massal bukan kendaraan pribadi

Ngobrol Seru dengan Pak Menteri Perhubungan

Hits: 1791

“Loh, kok yang menyelamatkan Sayekti, malah calon ibu mertuanya?

Calon suaminya mana?”

“Gimana sih itu cowok..” Argghh..

Hahahaha..

Yah, namanya juga ludruk, namanya juga komedi, sah sah saja ceritanya mau gimana. Namun di akhir pertunjukan, akhirnya kita bisa mengambil hikmah, bahwa yang dilakukan si calon mertua sesungguhnya hanya untuk membahagiakan putranya yang akan menikahi Sayekti-calon istrinya yang diculik oleh bangsa jin. Kira-kira begitu sedikit sinopsis  Lakon Misteri Istana Songgoriti, pentas ludruk yang saya tonton minggu lalu.

****

Saya belum pernah nonton ludruk sebelumnya. Entah kenapa, yang terbayang di pikiran saya, pertunjukan seni daerah itu seringnya membosankan seperti nonton wayang semalam suntuk. Apalagi saya tidak paham Bahasa Jawa. Satu-satunya pertunjukan kolosal daerah yang pernah saya tonton adalah Tari Saman Massal beberapa waktu lalu. Tari Saman menjadi menarik, karena kita terpesona dengan gerakan kompak penarinya dan tidak ada dialog, jadi siapa pun bisa ikut menikmati.

bersama blogger-blogger kece
makan enak sebelum nonton..

Tapi, karena saya penggemar komedi, kita diajakin nonton ludruk saya oke-oke saja. Paling tidak wawasan saya tentang budaya negeri ini bertambah. Lagian, jarang-jarang ‘kan dapat kesempatan nonton seni tradisional yang dikemas ekslusif di Jakarta.

Dan…  Graha Bakti Budaya TIM hari minggu itu penuh. Nyaris 1200 kursi terisi semua. Saya gak nyangka juga, penggemar ludruk di Jakarta sebanyak ini, kirain yang menonton hanya alumni Malang saja, ternyata tidak juga..

Acara ini digagas oleh Paguyuban Genaro Ngalam, sekumpulan orang Malang, mantan siswa dan mahasiswa yang pernah belajar di Malang dan sekarang bermukim di Jakarta. Genaro Ngalam sendiri artinya Orang (dari) Malang, yang diambil dari bahasa Walikan yang biasa digunakan oleh orang-orang Malang dan sekitarnya. Jadi, orang-orang Malang memang suka membaca kata dari belakang. “Orang” jadi Genaro (muncul “e” karena ujung kata orang konsonan semua) dan Ngalam dari kata Malang. Buat saya sih, balik-balikin kata begini ribet. Tapi buat orang Malang sudah biasa, dan mereka bisa dengan cepat membaca dari kanan kiri. Hahahaha.

Opening yang keren

Dari judulnya saja “Ludruk Jaman Now”, setting panggung, wardrobe dan jalan cerita nya memang dikemas jaman “baheula”. Tapi dialog-nya sudah “jaman now” banget. Opening-nya saja dengan Ibu-ibu cantik berkebaya merah menyanyikan lagu Via Vallen. Pengen ikut nyanyi juga deh rasanya..

Sepanjang pertunjukan yang saya pikir kira sebelumnya akan membosankan- ternyata TIDAK sama sekali! Pentasnya sebagian besar menggunakan Bahasa Indonesia. Pantas, yang datang bukan cuma orang Jawa Timur. Dua jam pertunjukan menjadi tidak terasa, apalagi pemainnya banyak anggota Srimulat yang sudah punya nama seperti Tessy, Polo dan Kadir. Semua tampil all out. Memang sih ada sedikit bagian yang membosankan (mungkin karena saya tidak paham bahasanya sih, hehehe..) Tapi ini dimaklumi, karena sebagian besar pemain memang amatiran alias volunteer. Biarpun begitu, kerja keras mereka patut diacungi jempol. Tidak mudah loh, tampil di hadapan lebih dari 1000 orang di gedung pertunjukan begitu.

Saya seperti menemukan atmosfir Indonesia banget yang sudah lama hilang. Biasanya cuma nonton pertunjukan atau konser-konser artis luar dengan tata panggung high tech, sampai lupa kalau Indonesia juga punya seni pertunjukan yang menjual.

Saya juga baru tahu, biarpun formatnya komedi, ludruk sarat dengan makna dan filosofi hidup. Bahkan, di zaman penjajahan Jepang, ludruk digunakan warga pribumi untuk menyampaikan kode-kode rahasia dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Sayangnya, ini tidak banyak orang tahu, apalagi generasi muda masa kini.

Salut dengan Paguyuban Genaro Ngalam karena di tengah hiruk pikuk hedonisme ibukota, masih ada sekelompok orang yang serius mengangkat tradisi lokal begini. Ini merupakan kali kedua, setelah penyelenggaraan pertama dua tahun lalu. Berita baiknya, pentas ini menjadi pentas pertama yang menjadi agenda tahunan Taman Ismail Marzuki. Jadi tahun-tahun depan minimal kita bisa nonton ludruk yang dikemas megah setahun sekali di Ibukota.

Btw, Indonesia ini kan kaya budaya banget ya.. Semoga pentas ludruk Genaro Ngalam ini bisa membuka ide orang-orang daerah lain membawa seni lokal masing-masing ke pentas nasional.

Jangan heboh nonton konser Cold Play, doang!

Foto foto by Cerita Mata

Hits: 2753

Kamu kapan terakhir ikut pawai berbaju nasional? Kalau saya, hmm.. mungkin waktu SD atau malah TK?  Setahu saya,  selain pada peringatan 17an, biasanya siswa-siswa sekolah akan berbusana nasional pada peringatan Hari Lahir Ibu Kartini. Iya, kan?! Kecuali kalau kamu memang penari atau orang yang kerjanya dekat dengan pertunjukan tradisional. Nah, apa jadinya jika yang berpakaian nasional adalah Bapak, Ibu pegawai pemerintahan yang biasanya berbatik atau berseragam cokelat kulit sapi? Ya, ini beneran kejadian di Tangerang beberapa waktu lalu.

Mengusung tajuk Festival Budaya, pada pagi itu ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Tangerang berbaris rapih, berdandan tampan dan cantik dengan puluhan jenis pakaian daerah. Ada juga rombongan yang berjumlah hingga 500 orang berbaju batik mengikuti kirab budaya pagi itu. Mereka dilepas oleh Walikota Tangerang, Bapak Arief R Wismansyah. Parade juga dimeriahkan oleh macam-macam tarian dari berbagai suku dan daerah. Tidak cuma dimerihkan oleh ASN Kota Tangerang tetapi juga ada  perwakilan dari 11 kota dan kabupaten di Indonesia, seperti Kota Kediri, Bandung  bahkan Kabupaten Merauke, Papua.  

Tidak main-main, seluruh Kepala Dinas, Pak Camat hingga Pak Lurah, wajib menyiapkan tim-nya dengan pakaian adat daerah manapun dari seluruh Indonesia.  Tepat di bawah Tugu Adipura, dua orang MC memperkenalkan setiap kontingen. Masyarakat tumpah ruah. menyaksikan dengan gembira. Mungkin ada yang baru hari itu melihat dengan mata langsung pakaian adata Aceh, pakaian adat Dayak atau bahkan koteka dari Papua. Seru. Beberapa kontingen bahkan tidak hanya berparade, tetapi juga menyuguhkan atraksi dari tari-tarian khas nusantara hingga atraksi barongsai. Siapa bilang Barongsai cuma milik suku Tionghoa? Para pemainnya, jelas-jelas bukan dari suku Tionghoa.

Sebagai informasi, Festival Budaya Nusantara 2017 tersebut digelar selama satu minggu, pada minggu pertama Desember 2017.  Kirab di minggu tadi, hanya merupakan salah satu rangkain. Masih ada kegiatan lain seperti  berbagai perlombaan, di antaranya lomba palang pintu, lomba tari kreasi nusantara, lomba baju pengantin tradisional, lomba standup comedy, serta penampilan Sendratari Ramayana dan pertunjukan lighting Tangerang dalam Visual di penutupan kegiatan.

Buat saya, inisiatif Kota Tangerang melaksanakan acara ini, patut diacungi jempol. Kapan lagi kita diingatkan bahwa Indonesia ini kaya dan beragam. Jangan cuma anak TK dan SD yang wajib menggunakan pakaian daerah pada hari-hari tertentu. Orang-orang dewasa pun sesekali perlu melakukan simbol-simbol Bhinneka Tunggal Ika seperti ini.

Festival-festival seperti ini seharusnya rutin diadakan. Apalagi Tangerang yang menjadi kota Satelit Jakarta adalah minatur Indonesia. Tangerang memang tidak mempunyai penduduk asli. Suku Betawi dan Keturunan Tionghoa sudah membaur jadi satu. Wilayahnya yang masuk Provinsi Banten (yang pecahan dari Jawa Barat), membuat disini juga banyak didiami orang Sunda. Kini, sebagai kota penyanggah, lebih banyak lagi asal muasal penduduk yang tinggal disini. Mungkin tingkat pluralismenya belum semajemuk Jakarta, tapi untuk ukuran Kota kecil dan menengah, harmoni keberagaman di Tangerang pantas jadi contoh daerah lain.

Ayo ke Tangerang!

Hits: 1368

Suka belanja? Katanya sih belanja itu obat stress paling mujarab. Konon, yang bilang hidup ini tidak indah, pasti tidak tahu caranya shopping. Hehehee… Saya sebagai perempuan tentu saja doyan yang shopping. Sayang, kondisi kantong tidak selalu memungkinkan untuk saban waktu pelesiran ke mall. Maklumlah, kalau belanja, wanita memang sulit bisa direm, meski sedang nggak punya duit sekalipun, saat diskon semua dijabanin asalkan produk idaman berhasil berada di tangan. Kalau kondisi keuangan sedang tidak memungkinkan, sebagai gantinya, terkadang merawat barang-barang lama jadi keistimewaan tersendiri

Seperti kebanyakan produk fesyen, tas memang menjadi bagian dari gaya hidup. Demi memperoleh barang berkelas, banyak perempuan tidak segan menghabiskan uang banyak untuk berbelanja tas. Salah satu jenis item impian bagi wanita adalah tas selempang. Item ini merupakan aksesori wajib berada di lemari koleksi. Kalau saya sangat menyukai tas yang bercirikan tali panjang ini karena tidak ribet, tidak menghalangi pergerakan dan tidak cepat bikin bahu capek. 

Sekarang pilihannya makin banyak, dari yang modern dan classy hingga yang berkesan tradisional. Saya lagi senang tas selempang bernuansa etnik yang kini kita bisa di-hunting  secara online. Salah satu online shop favorit saya sebagai penjual tas selempang wanita berkualitas adalah Qlapa dotcom (klik disini) Di sana, kita bisa memperoleh item dengan karakter etnik bernuansa budaya Indonesia yang penuh ragam dan corak cantik.

Nah, meski sudah berhasil mengoleksi produk bahan berkualitas dari produsen kenamaan sekalipun, perawatan yang salah menjadikannya cepat rusak dan lusuh. Lantas, bagaimana supaya nggak terjadi seperti itu? Begini beberapa tips merawatnya agar bisa bertahan lebih lama dan selalu tampak baru. 

 

Kosongkan bagian dalam Tas selempang

Selepas menggunakan tas favorit, jangan lupa untuk mengosongkan bagian dalamnya. Khususnya, saat kamu ingin menyimpannya ke dalam rak atau lemari. Bila berbagai item tidak dikeluarkan terlebih dulu, beragam benda tersebut bisa mengotori interior tas. Mulai dari tinta dari pulpen, pensil, bedak, lipstik, hingga permen.

Usahakan secara disiplin mengeluarkan seluruh benda di dalamnya sebelum disimpan. Apalagi bila ternyata ada sampah atau benda sejenis yang lupa untuk dibuang. Mau item kesayangan jadi sarang sampah? Iya kalau cuma sampah kering, kalau ada yang sedikit basah bagaimana? Tas selempang wanita kesayangan pun jadi cepat rusak.  

Pakai tissue paper atau kertas roti untuk membersihkan tas selempang

Kebersihan item ini pun tidak boleh terlupakan ya… Pakai kertas roti atau tissue paper yang dipadatkan untuk membilas kotoran tertempel. Cara ini sengaja dipilih supaya bentuk tas tidak berubah. Kebersihan juga perlu dijaga supaya setiap item favorit tersebut awet dan penampilannya pun tetap terjaga. Sementara itu, bersihkan lining atau pinggiran menggunakan kain basah plus sabun namun tak terlalu banyak. Cara memperlakukan tas dengan tissue atau kertas roti adalah:

  • Jangan terlalu keras menggosok atau menekan terlalu keras karena akan mengubah materialnya.
  • Hindari menyimpannya pada tempat lembat karena akan memicu jamur dan bakteri.
  • Alihkan tempat penyimpanan ke lingkugan kering serta bersikulasi udara bagus.

Noda dan kotoran tas selempang wajib dihilangkan sesegera mungkin

Kamu sering menyimpan kosmetik di dalam tas kan? Hati-hati, seringnya hal tersebut tidak ditunjang oleh tata letak penempatan yang benar. Malahan sering ditemui, penyimpanan terkesan asal-asalan, akibatnya pun jadi buruk buat tas. Tas jadi kotor dan bernoda. Kalau sudah demikian, buruan deh ambil tindakan sebelum terlambat. Coba hilangkan noda-noda seperti itu dengan memakai penghapus kering, penghapus kuteks, atau cuka. Kalau tidak punya, manfaatkan cairan seperti parfum. Selain bersih, tas selempang wanita jadi harum dan tampak seperti baru.

Jaga Kelenturan tas selempang wanita pakai pelembap

Tidak seharusnya semua benda dimasukkan ke dalam tas. Terlalu banyak benda yang dimasukkan membuat tas berada dalam kondisi terancam. Oleh sebab itu, hindari membawa benda terlalu banyak. Namun, ada satu item penting yang tidak boleh ditinggalkan yaitu pelembab. Pelembab merupakan produk kecantikan yang bermanfaat untuk menjaga kelenturan produk kesayangan. Berkatnya, kekeringan kulit tas bisa diatasi oleh bahan-bahan yang terkandung di dalam pelembab, yang pada juga memperpanjang usia tas selempang wanita. Cara penggunaannya pun sangat mudah yaitu dioleskan saja di permukaan tas secara merata.

Cara menyimpan tas selempang secara benar

Beberapa model produk memiliki kantung debu atau dustbag. Kantong-kantong tersebut berguna untuk menyimpan saat tidak dikenakan. Namun, beda halnya bila ternyata di dalam paket pembelian tidak disertakan dustbag. Maka, kita perlu mencari pengganti yang pas, salah satunya kain bantal atau bahan-bahan alami lainnya. Tempat penyimpanan yang tepat akan membantu mempertahankan penampilan fisik. Selain itu, bagian interirornya pun tidak bakal mengalami kerusakan, biarpun tas dipakai setiap hari.

Pangkas bau apak tas selempang wanita dengan kertas koran

Keluhan soal bau ini sudah sangat sering ditemui di hampir sebagian besar tas wanita. Kadang, kita baru sadar ketika baunya sudah merebak ke seluruh kantong. Kalau sudah begini, tindakan darurat perlu dilakukan. Salah satu cara untuk menangani masalah ini dengan memakai kertas koran. Coba deh,.. padatkan beberapa kertas koran ke dalam tas, lalu diamkan selama beberapa hari hingga baunya menghilang. Jreng, bau pun lenyap! Itulah cara paling murah dan mudah untuk menghapus aroma tidak sedap dari dalam tas. Selesai menerapkan tips ini, jangan sungkan-sungkan menyemprotkan parfum kesayangan ke dalam interiornya supaya jadi lebih wangi.

 

Hits: 838

Anker alias Anak Kereta. Mungkin julukan itu tepat buat saya. Meski nggak sampai punya gank di gerbong kereta (eh, ini ada loh!) Saya sudah mengalami peralihan dari KRL Bogor-Jakarta dari yang kumuh, lusuh, panas dan tidak pernah ontime hingga sekarang jadi Kereta Rel Listrik (KRL) atau Commuter Line yang membuat saya bangga sebagai orang Indonesia.

Dulu, waktu stasiun masih jorok dan penuh PKL, saya berpikir apa bisa nih dibenahi mengingat kondisinya yang super amburadul. Belum lagi, karena sistem ticketing yang masih manual, banyak penumpang gelap yang masuk membuat kereta berdesakan, sampai di atap pun penuh orang. Dari sisi penumpang, jelas mengancam keselamatan jiwa, sementara dari sisi perusahaan tidak heran kalau bertahun-tahun PT KAI merugi.

Kini berbeda. Hampir semua stasiun sudah terlihat mewah dan keren. Meskipun belum sama persis dengan transportasi negara tetangga, setidaknya banyak sekali (baca; banyak banget) perubahan yang signifikan infrastruktur dan moda transportasi publik ini. Sistem ticketing pun semua sudah digital dan cashless. Tidak ada lagi penumpang gelap. Kebayang nggak, ketika pertama kali diaplikasikan, banyak suara-suara sumbang yang menolak sistem ini. Antrian di gate mengular, karena banyak yang belum paham cara kerja mesinnya. Tidak lama setelah itu, vending machine pun mulai beroperasi.  Penumpang mau tidak mau harus belajar lagi cara penggunaannya yang serba otomatis. Secara tidak langsung KRL (baca: pemerintah) tidak saja membuat fasilitas menjadi lebih baik, tetapi juga mengedukasi masyarakat.

Kalau dulu, naik KRL adalah milik golongan ekonomi menengah ke bawah, sekarang KRL jadi milik semua lapisan. Tidak ada lagi kasta-kasta karena tidak ada lagi kelas-kelas pada gerbong. Memang sudah seharusnya begitu ownership transportasi publik. Jangan heran jika KRL sudah menjadi etalase berbagai jenis profesi, kelas sosial bahkan suku dan ras. Seperti Indonesia kecil. Tidak percaya? Makanya, jangan naik kendaraan pribadi terus dong… Coba deh naik KRL sesekali. Data menyebutkan, saat ini sekitar 900 ribu orang diangkut oleh KRL Jabodetabek setiap hari, dan jumlah ini diprediksi akan naik menjadi sekitar 1,2 juta orag per hari pada 2019. Makanya Pemerintah gencar sekali membangun infrastrukturnya.

Setelah pembenahan bangunan stasiun yang sangat masif, stasiun-stasiun baru pun ditambah. Stasiun paling baru di Jabodetabek adalah Stasiun Bekasi Timur yang baru diresmikan Menteri Perhubungan pada 8 Oktober 2017. Tidak saja menjadi pangkal tujuan ke Jakarta, stasiun ini juga terhubung hingga Cikarang. Jadi sekarang judulnya ada #KRLSampai Cikarang. Lintasan KRL lintas Bekasi-Cikarang memiliki panjang 16,74 km. Dengan waktu tempuh sekitar 21 menit. Frekuensi perjalanan kereta sebanyak 32 kali per hari. Keberangkatan KRL pertama dari stasiun Cikarang pukul 05.05 WIB. Sedangkan kedatangan terakhirnya pukul 23.45 WIB.

Pembangunan stasiun ataupun lintasan Bekasi-Cikarang ini adalah hasil kerjasama Pemerintah Indonesia dan Jepang. Melalui kontrak paket B1 yaitu elektrifikasi lintasan Bekasi-Cikarang yang ditandatangani 2012 lalu dengan nilai kontrak Rp2,3 triliun. Kontrak tersebut meliputi semua aspek perkeretaapian.

Mau tau fasilitas apa saja yang ada di sini ? Peron sepanjang 270 meter yang dapat mengakomodir 1 rangkaian KRL dengan 12 kereta, Closed circuit television (CCTV), Lift khusus bagi lansia dan penyandang disabilitas, denah jalur evakuasi, toilet, musholla bahkan pos kesehatan. 

So, sekarang ke Cikarang bisa naik KRL! Anti macet dan waktu tempuhnya pun lebih cepat. PR kita sebagai pengguna cuma satu, yuk…kita jaga baik-baik!

 

Hits: 2347

Tak hanya fashion, dunia kuliner tanah air pun memiliki tren tersendiri. Kali ini, para artis Indonesia yang tengah berlomba-lomba untuk membuka bisnis oleh-oleh makanan di berbagai kota. Menariknya, oleh-oleh tersebut mengusung banyak kemiripan, baik dari bentuk kue, rasa, packaging, hingga promosinya. Padahal mereka pun tidak mendirikan bisnis secara bersama-sama.

Di berbagai kota, gerai toko oleh-oleh artis ini selalu terlihat ramai dan penuh antrian. Demi memantau perkembangan bisnis secara langsung, tidak jarang artis-artis ini  datang, pesan hotel di kotanya dan langsung dan ikut melayani secara langsung penjualan produknya. Hal ini tentu sangat ampuh untuk mendongkrak omzet. 

Jadi, siapa saja artis Indonesia yang berkecimpung di bisnis oleh-oleh makanan ini?

Malang Strudel – Teuku Wisnu

Bisa dibilang Teuku Wisnu-lah yang menjadi pelopor para artis untuk membuka usaha oleh-oleh dengan mengusung nama daerah. Berdiri sejak tahun 2014 lalu dan kini gerai Malang Strudel sudah memiliki 6 cabang di kawasan Malang. Ada beberapa varian rasa Malang Strudel yang bisa dipilih, yaitu apel, pisang cokelat, keju, stroberi, nanas, jeruk, mixfruit, dan yang terbaru adalah greentea serta red velvet.

sumber: beautynesia.com

Jogja Scrummy – Dude Harlino

Tak lama kemudian, Dude Harlino ikut membuka usaha serupa di Yogyakarta. Ia bekerja sama dengan petani lokal untuk memadukan kue dengan wortel. Respon masyarakat Yogja dan sekitarnya juga positif, terbukti kini Jogja Scrummy sudah membuka 4 gerai. Varian rasanya terdiri dari cokelat, keju, taro, srikaya, karamel, dan mangga.

Medan Napoleon – Irwansyah

Buat yang di Medan, kamu bisa mampir juga ke Medan Napoleon. Kabarnya, usaha oleh-oleh Irwansyah di Medan tak pernah sepi pengunjung. Dalam suatu wawancara, ia bahkan mengaku kewalahan untuk melayani pesanan. Medan Napoleon merupakan perpaduan kue lapis dengan pastry yang tersedia dalam berbagai rasa, seperti keju dan red velvet.

sumber: mhm.asia

Surabaya Snowcake – Zaskia Sungkar

Tidak mau kalah dengan sang suami, istri dari Irwansyah ini juga turut membuka usaha oleh-oleh di Surabaya. Surabaya Snowcake bisa dikatakan sebagai versi kekinian dari kue lapis khas Surabaya, yaitu terdiri dari cake aneka rasa yang diapit oleh pastry. Bagian atasnya ditaburi gula halus sehingga menyerupai salju.

Bogor Raincake – Shireen Sungkar

Menyusul jejak kakak dan suaminya, Shireen Sungkar ikut merintis usaha oleh-oleh bernama Bogor Raincake. Baru dibuka pada bulan April 2017 lalu, gerai oleh-oleh Shireen sepertinya tak pernah sepi pengunjung. Tidak mengherankan jika ada pengunjung dari luar kota yang sengaja pesan hotel di dekat gerai Bogor Raincake agar tidak kehabisan.

Makassar Baklave – Irfan Hakim

Oleh-oleh kekinian milik Irfan Hakim punya tampilan yang agak berbeda. Tidak memanjang seperti yang lain, Makassar Baklave berbentuk bulat dengan potongan segitiga layaknya pizza. Varian rasanya pun cukup beragam dan sangat kekinian, seperti oreo blast, royal chocolate, rich cheese, dan nutty fruity.

sumber: makassarbaklave.com

Bandung Makuta – Laudya Cynthia Bella

Beralih ke Kota Bandung, ada Laudya Cynthia Bella dengan usaha oleh-olehnya bernama Bandung Makuta. Mirip seperti yang lainnya, makanan satu ini juga terdiri dari pastry dan cake, ditambah dengan krim di atasnya. Beberapa varian rasa yang tersedia adalah cokelat, keju, dan blueberry.

Cirebon Sultana – Indra Bekti

Bersama dengan istrinya, Indra Bekti merintis usaha oleh-oleh Cirebon Sultana yang resmi dirilis pada April 2017 lalu. Cirebon Sultana hadir dalam bentuk cake yang dibalut dengan pastry. Ada berbagai jenis rasa yang ditawarkan oleh Cirebon Sultana, yaitu mangga, blueberry, chocobanana, keju, dan double chocolate. Semuanya dibanderol dengan harga Rp 55.000.

Nah,..Itulah beberapa artis Indonesia yang membuka usaha oleh-oleh kekinian di berbagai kota. Jika tertarik untuk mencobanya dan sekalian ingin berlibur, yuk langsung saja pesan hotel di dekat gerai oleh-oleh tersebut agar bisa segera mendatanginya begitu jam operasional dibuka. Dengan begitu, kamu tak perlu ikut antri panjang atau bahkan tidak kebagian rasa kue yang kamu inginkan.

 

Featured image : https://www.tokopedia.com/silabanstore1st/kue-bolu-medan-napoleon

Hits: 1289

Beberapa waktu lalu, saya terbang dari Palembang ke Jakarta. Sengaja saya pilih pesawat paling pagi, agar bisa segera beraktivitas di Jakarta seperti biasa. Dari rencana take off pukul 06.30 pagi, hingga pukul 09.00 pagi belum juga ada tanda-tanda keberangkatan. Katanya, ada kerusakan pada pesawat sehingga harus menunggu perbaikan atau pesawat pengganti. Hingga menjelang pukul 11.00 siang belum juga ada pergerakan. Keterlambatan lumayan lama ini membuat saya harus membatalkan beberapa janji.

Saya langsung menuju Customer Service maskapai yang dimaksud untuk meminta kompensasi. Saat itu hanya ada dua orang penumpang yang komplain termasuk saya. Penumpang lain lebih senang menggerutu tanpa berbuat apa-apa. Sesuai Peraturan Pemerintah, keterlambatan lebih dari 240 menit, penumpang mendapat uang sebesar Rp 300.000,- Petugas Customer Service nampaknya tidak sigap melayani kami. Ketika saya bertanya soal kompensasi, awalnya mereka menolak. Tetapi dengan sedikit diplomasi akhirnya kami pun disuruh menunggu. Tepat pukul 11.30 siang (setelah delay 5,5 jam) akhirnya uang kompensasi pun dibagikan. Pyiuhh.. Coba kalau saya pasrah saja seperti penumpang yang lain, belum tentu maskapai yang terkenal suka telat ini bagi-bagi uang.

Service Crossword Concept

Teman saya pernah bilang saya ini tukang komplain. Dari call center yang cuma dijawab oleh mesin, kuota selular yang mendadak lenyap, tagihan yang tidak pernah diterima, hosting blog yang suka lemot bahkan air PAM yang mati seharian. Semua saya komplain. Makanya saya menyimpan semua nomer-nomer pengaduan. Jangan heran juga kalau beberapa akun perusahaan tenar follow saya di twitter. Daripada saya ngoceh di timeline mereka, mending di-folbek dan kemudian mereka bisa menjelaskan via Direct Message (DM). Heheheh..

Menurut Saya, Sudah bukan jamannya lagi pelanggan itu pasrah. Konsumen kini memiliki banyak pilihan. Makanya, kita sebagai konsumen juga harus proaktif jika ada pelayanan yang tidak memuaskan bahkan merugikan. Sebagai contoh, saat hosting blog ini down, ada klien yang mau ngecek tulisan dan blog ini tidak bisa diakses. Saya tentu merasa dirugikan, wajar dong kalau saya komplain. Sayangnya belum semua perusahaan memiliki unit pelayanan pelanggan yang mumpuni.

***

Pas banget, minggu lalu saya bersama beberapa blogger menghadiri event keren yang bertajuk New Customer Experience in Digital Era. Acara ini digagas oleh 168Solution, leading contact center consultant di Indonesia. Meskipun saya belum punya rencana bikin Contact Center untuk bisnis yang tengah saya jalankan, tapi ajang ini bikin belajar bagaimana teknologi bisa mempermudah produsen dan konsumen dalam berkomunikasi. Acara ini menarik, karena yang disajikan adalah best practice dari pemerintahan maupun korporasi yang sudah mapan maupun start up.

Saya baru tahu, ternyata BCA punya layanan chat yang namanya VIRA (Virtual Assistant). Layanan ini running di tiga platform yaitu Facebook Chat, Line dan Kaskus Chat. Bahkan, kata Ibu Wani Sabu (Senior VP BCA), chat-chat ini menjawab pertanyaan konsumen bahkan lebih cepat dari pasangan Anda.

Traveloka yang juga ikut dalam event akbar ini, justru telah setahun belakangan mengaktifkan chat box di website-nya. Jadi kalau ada kendala, kita tinggal chat tidak perlu repot lagi angkat telpon dan buang biaya pulsa. Sudah banyak e-commerce yang mengadopsi layanan ini. Belum lagi hampir semua korporasi yang fokus pada layanan pelanggan, memiliki sosial media. Selain sebagai wadah informasi produk mereka, juga bisa jadi tempat kita bertanya bahkan komplain.

Ada lagi Jakarta Siaga 112. Orang Jakarta yang belum tahu nomer ini, pasti kudet (kurang update). Di Jakarta yang memiliki persoalan sangat kompleks, layanan tanggap darurat menjadi salah satu unsur paling krusial. Ibukota negara ini memang belum memiliki pelayanan sesempurna 911,namun keberadaan berbagai kanal pengaduan setidaknya membuat Jakarta memastikan diri menuju ke arah itu. Contact Center ini menjembatani seluruh masyarakat Jakarta yang perlu bantuan kedaruratan tanpa perlu menginstal berbagai aplikasi. Nomornya pun mudah diingat dan akan menjadi nomor kedaruratan nasional. Oya, nomor ini bisa dihubungi tanpa pulsa, bahkan dapat dihubungi tanpa simcard sekalipun.

***

Dulu, Call Center (sekarang lebih luas menjadi Contact Center) hanya dianggap sebagai supporting unit. Namun, di era digital yang serba terbuka dan masyarakat makin melek teknologi, peranan Contact Center menjadi sangat krusial. Contoh yang paling dekat dengan kita adalah provider selular dan penjual tiket online. Penanganan Contact Center yang baik menjadi komitmen yang paling penting agar tidak ditinggalkan oleh pelanggan.

Saya jadi belajar, ternyata dibalik pelanggan yang kritis seperti saya, ada perusahaan yang kian berbenah untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggannya. Jadi seimbang dong, pelanggan kian cerdas dan korporasi pun makin peduli.

 

 

 

Hits: 1577

Adakah cinta pada pandangan pertama? Dulu saya yakin 100% itu tidak ada. Bagi saya cinta itu merupakan sebuah rangkaian, bagaimana bisa suka apalagi cinta kalau cuma melihat sekelebat. Menurut saya, cinta pada pandangan pertama hanya merupakan proses visual sementara cinta sebenarnya  perlu “bukan hanya sekedar apa yang kelihatan oleh mata” Ok, ok..jangan di-argue ya.. kan semua orang sah sah saja memiliki pendapat yang berbeda.

Gara-gara baca buku dan nonton film Critical Eleven, opini saya tadi tiba-tiba sedikit berubah. Kata buku itu, dalam dunia penerbangan, ada istilah critical eleven yaitu sebelas menit paling kritis di dalam pesawat – tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Alasannya, secara statistik 80% kecelakaan pesawat terjadi dalam rentang waktu sebelas menit tersebut. Ternyata itu bisa dianalogikan pula dengan pertemuan kita dengan seseorang. Tiga menit pertama merupakan titik kritis, karena disitulah kesan pertama terbentuk. Kemudian ada delapan menit sebelum berpisah, dimana ekspresi dan sikap orang tersebut akan jadi pertanda apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah merupakan pertemuan yang pertama dan terakhir.

Saya tidak akan menganalogikan 11 menit pada pertemuan dengan seseorang merupakan pertanda dari ada tidaknya cinta pada pandangan pertama. Bukan! Beneran bukan! Tapi saya mencoba menarik benang merah dari pengalaman jatuh cinta saya sampai akhirnya nekad (baca: iseng) menulis artikel ini . Ciyeee.

Jadi gini, bagi saya cinta pada pandangan pertama itu ibarat sebuah kebohongan besar. Tapi saya (mungkin juga kamu) sering lupa bahwa selalu ada kesan yang terbentuk dari pertemuan pertama.

Tidak selalu kesan yang manis, imut, lucu, baik, ganteng, sopan, menarik atau apalah yang bagus-bagus lainnya. Bisa juga kesan, seperti “duh, ini cowok jutek amat jadi laki” atau “hmm…gak banget deh nih orang”, atau “yah, kayaknya oke juga nih orang, tapi kok tengil banget mentang-mentang keren”.

Persepti seperti itu tanpa sadar tersimpan di kepala hingga cukup lama, meskipun mungkin beberapa waktu setelah itu, tidak lagi bertemu orang yang dimaksud. Eh, tapi siapa sangka kesan-kesan itu akhirnya nempel di memori otak dan melahirkan “kekuatan” tersendiri yang bisa jadi justru membuat kita ingin mengenal dia lebih jauh. Kemudian semua berjalan begitu saja, ada dorongan yang secara biologis memancing hormon-hormon untuk bergerak ke arah yang lebih jauh. Menurut saya, itu adalah “chemistry” yang memang sudah Tuhan ciptakan buat kita. Jangan dibantah, itu takdir!

love-at-first-sight_100286346

Pada pertemuan pertama, syaraf-syaraf otak sudah bergerak menumbuhkan rasa “ketertarikan”, makanya ada kesan tercipta otomotis. Ingat, “ketertarikan disini tidak seujug-ujug berarti: “I want to stay with you”. Sederhananya begini; kalau kita sampai bisa menyimpulkan karakter orang yang kita jumpai hanya dalam beberapa menit saja, artinya otak bekerja lebih keras mencari sesuatu tentang dirinya dalam waktu yang singkat itu. Nah, otak yang bekerja lebih keras tadi, sejatinya memang pertanda yang semesta kirim ke kita. Kamu percaya kan, kita terkadang memang tidak bisa memilih dengan siapa kita harus jatuh cinta? #uhuy. Kalau alam tidak memberikan sinyal, artinya otak juga diem-diem aja makan gaji buta dan akhirnya kita cuma bisa bilang: Ah, biasa saja atau hmm, standar aja nih orang, dan atau sejenisnya.

Memang kesimpulan dari kesan tadi, sifatnya sangat prematur, tapi itulah yang menjadi bekal kita untuk melangkah ke depan. Misal kesan pertama tentang dia adalah : memang jutek orangnya, memang tengil, memang cuek. Eh, ternyata itulah sisi-sisi dari dirinya yang membuat kita tanpa sadar (TANPA SADAR) memberinya ruangan dalam memori kita yang kemudian bisa tumbuh dan berkembang jadi cinta. Eh…ini beneran, coba kalian cek lagi pengalaman pribadi masing-masing. Atau yang lebih ekstrim, kita mungkin bisa total benci maksimal sama seseorang, ini bisa jadi lebih gawat. Kata orang, jangan terlalu benci nanti jadinya suka. Bener banget sih, soalnya benci dan suka kan bedanya tipis banget. Setipis kain kelambu. Hehehe..

Hmm, kok saya bisa-biasanya sok biologis bin psikologis ngomong begini ya? Tapi percayalah: nothing beat experiences. Orang-orang yang pernah mengisi hati saya (#eaaa) semuanya adalah mereka yang SELURUHNYA tidak memberi kesan menyenangkan saat pertemuan pertama. Dan saya juga percaya, sebagian besar dari kita pasti mengingat pertemuan pertama dengan orang-orang yang pernah (atau masih ada di hati). Mau langsung suka, atau tidak suka, semuanya selalu tersimpan rapih di memori masing-masing. Iya, kan? Dan harus diakui sebenarnya itu adalah asal muasal cinta. Iya, kan?

So, do you believe in love at first sight?

Hits: 2666