Apa yang kalian tahu soal Nazi? Pastilah yang pertama disebut adalah Adolf Hittler, pemimpin Nazi yang sangat terkenal dengan kekejaman dan kediktatorannya. Saya – yang malas belajar sejarah- juga nggak banyak tahu, sampai akhirnya bulan lalu saya mampir ke Holocaust Museum di Washington DC, Amerika Serikat.

Saya kesini dengan keluarga, rombongan sirkus deh. Oya, kalau kesini naik kendaraan pribadi, parkirnya agak jauh, lumayan jalan kaki. Naik kendaraan umum saya kurang tahu deh gimana caranya. Hehehhe. Tapi banyak juga rombongan pelajar yang kesini dengan menyewa bus. Kalau di Jakarta (Indonesia) mirip mirip carter Big Bird gitu deh. Btw, sekarang juga sudah ada Big Bird Airport Shuttle, loh! Lebih variatif kan pilihan angkutan ke bandara. Nah, sekalian informasi, lihat harga big bird di situs ini deh…

Awalnya saya ke DC cuma pengen foto di depan gedung putih dan Capitol Building yang jadi salah dua landmark Amerika Serikat. Ini kali pertama saya ke DC, karena keluarga saya baru saja pindah dari Arizona ke New Jersey, dan DC bisa ditempuh hanya sekitar 4 jam dari rumah. Katanya, kalau ke DC nggak mampir ke museum favorit ini, rugi juga. Atraksi ini masuk “Must See” Museum di Amerika. Apa sih istimewanya? Check this out!

Futuristik vs Oldiest

Tidak seperti museum lain yang menyediakan konter pembelian tiket, Holocaust Museum tidak menjual tiket, tapi memberlakukan reservasi yang dengan pengaturan yang cukup unik. Selama periode September hingga Februari, museum ini bisa dikunjungi tanpa reservasi alias dateng aja langsung. Sementara untuk Maret hingga Agustus, ada beberapa cara; yaitu timed ticket dimana kamu boleh masuk dan berkeliling hanya dalam waktu kurang dari 90 menit. Reservasi harus dilakukan minimal 1 jam sebelumnya (itu juga kalau belum penuh) Untuk menghindari nggak dapet kuota, ada baiknya dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Bisa juga memilih tiket same day ticket online, jumlahnya terbatas dan dibuka mulai jam 6 pagi. Nah alternatif kedua ini, yang kemarin saya gunakan. Memang agak rempong, sih…

Museum ini, tampak depannya dirancang futuristik, tapi setelah melewati gate masuk pertama, kita justru naik lift yang berasa kayak ada di tahun 1940-an, persis saat kekejaman Holocaust terjadi. Saat masuk juga kita diberikan semacam kartu kecil berukuran sekitar 5×6 cm yang berisi biodata korban Holocaust. Jadi setiap pengunjung, bisa saja mendapatkan kartu yang berbeda.

Suasana mencekam sangat terasa ketika memasuki etape awal. Otak saya mencoba berpikir sebisanya dan seingatnya apa yang saya tahu tentang Nazi tapi ternyata memang saya nggak tahu banyak. Heheheh.. *contoh siswa malas belajar dan suka bolos pas pelajaran Sejarah.

Walau nggak terlalu dianjurkan buka HP untuk Googling, Holocaust Museum membuat semua kejadian runut dan saya seperti belajar kembali. Holocaust yang merupakan peristiwa terbesar pembantaian hampir 6 (bahkan ada yang bilang 17 juta) juta Yahudi dengan genosida (racun) yang dilakukan oleh Nazi pada tahun 1945. Pembantaian ini karena Nazi menganggap Yahudi adalah ras inferior yang akan membahayakan kekuasaan Nazi terhadap Jerman bahkan dunia.

Bagaimana cara mereka dibunuh? Korban Holocaust dimasukkan ke dalam camp-camp pembantaian yang diberi gas genosida dan orang-orang di dalamnya kemudian mati perlahan-lahan karena menghirup gas beracun tersebut. Rentetan peristiwa inilah yang ditampilkan di Museum ini. Sejarah Perang Dunia I yang menjadi latar belakang, kehidupan Nazi, dan berbagai peristiwa yang terjadi serta bagaiaman dunia melihat Holocaust ditampilkan disini.

Berbagai artefak Holocaust mulai dari dokumen-dokumen sejarah baik kertas, video maupun suara masih tersimpan dengan baik dan sungguh mampu membuat bulu kuduk berdiri. Antrian manusia yang dipaksa masuk ke camp camp pembantaian terlihat jelas dalam berbagai foto. Bukti-bukti material seperti pakaian para korban Nazi pun disajikan dengan “spooky”. Termasuk pula alat-alat penunjang digunakannya genosida.

Museum ini memiliki lebih dari 12 ribu artefak, 49 juta lembar dokumen, 80 ribu foto-foto, catatan 200 ribu nama orang yang selamat dan kurang lebih 9000 testimoni dari mereka yang menjadi saksi peristiwa penting di dunia ini.

Ruangan demi ruangan ditata dengan tema yang berbeda-beda. Mungkin kalau kita kurang tertarik sejarah,membaca dokumen pasti menjadi sesuatu yang membosankan. Namun museum ini memberikan rasa yang berbeda. Kita tidak cuma belajar sejarah, tapi seolah-olah kembali ke masa peristiwa ini terjadi. Sayangnya, saya nggak berani ngambil foto banyak-banyak di dalam ruangan. Memang tidak ada larangan sih, tapi melihat pengunjung lain yang gadgetless, saya pun membatasi menggunakan HP.

Rasanya waktu 2 jam berkeliling nggak cukup buat saya. Saya bener-bener belajar sejarah Nazi yang selama ini mungkin cuma Hittler-nya yang nempel di kepala saya. Tapi jalan-jalan kesini membuat saya semakin yakin kekerasan pada kemanusiaan adalah cara terburuk untuk melanggengkan kekuasaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Hits: 1986

Arizona memang dikenal sebagai negara bagian penuh dengan ngarai (canyon) dan gurun. Iya, gurun.. Tapi disini tidak pernah sekali pun saya ketemu unta seperti halnya di jazirah Arab sana. Iya, sih beda banget. Beda banget lagi, karena Amerika sudah sangat maju dalam mengembangkan pariwisata-nya. 

Nah, kalau tahun lalu saya mampir ke Grand Canyon, tahun ini, sehari setelah Idul Fitri, saya dan keluarga menyempatkan ke Sedona Dessert, masih di wilayah Arizona juga. Lokasinya hanya sekitar 2 jam dari Phoenix, sedangkan kalau ke Grand Canyon kurang lebih 4 jam waktu tempuhnya.

Dalam bayangan saya, gurun ya gurun. Gersang, panas dan tidak ada apa-apa. Tapi Sedona beda, konturnya dengan ngarai berkelok membuat berada disini seperti kembali ke pedesaan Amerika jaman 1970-an. Ini kali pertama saya ke USA pada musim panas dan Arizona memang dikenal sebagai wilayah terpanas di USA. Bayangin aja, saat kesana Juni-Juli lalu, suhu tertinggi mencapai 45 derajat celcius. Alhamdulillah, waktu ke Sedona suhunya cukup bersahabat, di sekitaran 35 derajat celcius. Menuju kesini, ngarai berliuk-liuk indah kita lalui. Latar belakangnya bukit kapur berwarna cokelat menghiasi perjalanan. Sangat pemandangan west Amerika.

Gabungan landscape ngarai dan batuan yang unik, udara sejuk dan kontur perbukitan konon menobatkan Sedona sebagai salah satu tempat tercantik di Amerika. Langit dengan warna biru yang melimpah dan karakteristik batuan sedimentasi bergradasi cokelat kekuning-kuningan membuat saya juga percaya tempat ini memang cantik. Cahaya matahari yang berhamburan membuat pepohonan hijau tumbuh subur dan savana-nya berangin sepoi-sepoi.

Untuk sampai ke puncak dan melihat pemandangan dari atas kita harus hiking beberapa ratus meter atau bisa juga mengambil jalur memutar yang cukup jauh kalau mau sekalian eksplore dan berolahraga. Karena bulan lalu musim panas, tentu saja kita memilih jalur yang terdekat, meskipun sempat nyasar juga lewat jalur yang panjang.

Sedona berada di kawasan Taman Nasional Coconico. sama seperti hampir seluruh wisata alam di Amerika, selalu ada museum tak jauh dari pusat Sedona, tempat pengunjung mendapatkan informasi dan asal muasal Sedona tercipta. Saya dan keluarga juga sempat mampir kesini. Dasarnya orang Indonesia (yang malas belajar), kita cuma foto-foto saja, tidak sempat mengamati ragam informasi tentang Coconico yang dipamerkan disini. Hehehe..

Setelah hiking yang cukup melelahkan (ukurannya lelah bagi saya adalah langsung menghabiskan sekitar 1 liter air mineral), kami lanjut menyusuri down town Sedona. Sedona ini bukan nama gurunnya saja ya, tapi sudah menjadi satu kota kecil yang memang dirancang sebagai kota wisata. Jangan heran kalau disini juga ada down town lengkap dengan mall dan perkantoran. Tapi namanya kota wisata, Sedona dipenuhi resort dan villa-villa cantik buat liburan. Kebayang gak sih, kalau umumnya orang tropis beristirahat di pantai atau pegunungan, ini kita bersemedi di gurun.

Sedona, Down Town

Katanya kesini terbaik adalah saat musim gugur, karena pepohonan yang berubah warna berpadu dengan perbukitan berwarna tanah liat yang akan membuat pemandangan menjadi sungguh tidak biasa. Sayangnya saya lebih senang musim panas, musim gugur adalah pembuka musim dingin yang pasti bakal dingin banget.

Tapi dengan kecantikannya, Sedona akan selalu menawan sepanjang tahun, sepanjang musim.

Hits: 1463

Pernah ngerasain antri masuk restoran seperti antri audisi Indonesia Idol? Nah! ini! Tidak tanggung-tanggung, antrinya pun di luar ruangan yang suhunya “cuma” 10 derajat sajah plus gerimis yang mengundang! 

Anyway, saya bukan food blogger bukan juga pengamat kuliner, jadi tulisan ini sama sekali bukan ulasan. Ini cuma sedikit  pamer dan pengen bilang bahwa makanan paling enak itu (buat kita yang orang Indonesia) ya, makanan kita. Misalnya pecel lele pinggir jalan simpang Indomaret atau ayam cabe ijo yang mangkalnya di depan kantor PLN tidak jauh dari rumah saya. 

***

Pada sebuah hari di penghujung Februari, kami tiba di San Diego sekitar pukul  2 siang setelah berkendara kurang lebih 5 jam dari Arizona. Cuaca cukup ganas. Hujan badai yang kenceng banget, membuat kami ngendon di hotel hingga malam tiba. Hotel kami tepat menghadap pantai yang katanya sih buat ukuran sana udah keren banget. Eh, buat kita yang terbiasa dengan pantai Indonesia mah, gak ada apa-apanya. Entar deh saya tulis, sekarang saya ceritain dulu soal mengantri makan yang mirip menunggu pembagian raskin.

Setelah badai reda, Lisa mengajak untuk mencoba Raki Raki Ramen yang berlokasi di Japanese Town dan konon itu adalah ramen terenak di San Diego. Terakhir makan ramen di Pacific Place Mall Jakarta dan itu enak banget. Mungkin yang di Amerika ini bisa lebih enak, begitu pikir Saya.  Oya, San Diego termasuk kota yang paling banyak penduduk Asia-nya selain San Francisco di negara bagian California. Tidak heran, disini penuh dengan restoran makanan Asia di setiap sudutnya.

Tiba disana, antrian sudah mengular dan pengunjung harus antri dengan berdiri di luar yang suhunya hanya sekitar 10-an derajat dan gerimis! Saya merapat ke perapian yang modelnya mirip obor.  Restorannya memang kecil, jadi daya tampungnya memang tidak banyak. Melalui kaca-kaca besar aktivitas di dalam resto terlihat jelas. Kelihatan beberapa pelayannya memang orang Jepang asli, chef-nya pun begitu. Mereka sangat sibuk, sampai ada beberapa meja yang belum sempat dibereskan, padahal antrian di depan makin panjang. Hingga nyaris dua jam kami belum juga bisa masuk ke dalam restoran. 

Interior Raki Raki

Then… akhirnya tiba juga rombongan kami dipanggil masuk, sungguh Saya excited. Penasaran. Kemudian Buku menu terhidang di meja, (tentu saja banyak yang non halalnya). Sebagai bangsa kambing-kambingan, saya memesan Vegetable Ramen. Harganya?! Lumayan, US$ 13,95 saja. Kalau dirupiahkan sama saja Rp 150 ribu alias bisa makan 3 mangkuk ramen paling enak di Pacific Place. Emang Amerika kapitalis!! Hahahaha.. Mama dan Lisa memesan menu lain, minumnya air mineral yang tulisannya Kangen Water. Wow, sama dong kayak yang lagi hits di Jakarta, konon air ini mineralnya dan ionnya lebih banyak yang bikin dia lebih sehat. Total jenderal kami menghabiskan hampir US$ 50 buat makan bertiga. Mehong!

 

Akhirnya, pesanan pun tiba di meja, mau tau rasanya?!! Yahhh…so so aja sih. Kurang sebanding dengan perjuangan mengantri selama hampir 2 jam dengan bonus kedinginan. Enak yang gak enak-enak amat. Beneran.

Tau begini, rasanya saya pengen pulang saja ke rumah masak indomie kari ayam pake telor setengah mateng dengan irisan cabe rawit yang banyak! Atau menunggu dengan duduk manis di rumah dan membiarkan abang gojek yang mengantri selama dan sepanjang tadi. 

Tidak kapok ngantri, esoknya Lisa lagi-lagi mengajak sarapan pagi di restoran pancake yang konon (lagi-lagi) paling enak di San Diego, namanya Richard Walker’s Pancake. Saking larisnya, dia hanya buka hingga menjelang makan siang. Again, ukuran enak ternyata salah satunya dilihat dari antrian. Persis sama dengan Raki Raki Ramen, disini juga kita berjejer menunggu seperti antri sembako. Duh, bule mau makan susah bener ya.. Di Jakarta, antrian ayam goreng bensu dan kue artis saja gak segininya. Itu pun bisa diwakilkan dengan ke abang gojek yang setia.

Yang istimewa dari Richard Walker’s Pancake adalah porsinya yang besar-besar. Rasanya memang saya akui enak. Meskipun lidah kita mah, sarapan tetep nasi uduk yang paling nendang. Saya memilih Omelette Cheese Mushroom yang umum sering kita temui. Tapi ini memang gede banget porsinya, bisa buat bertiga. Hot dish mereka adalah Ginormous German Pancake, pancake yang bentuknya seperti baskom dan dimakan dengan butter. Sumpah enak! Kami juga memesan blueberry pancake yang rasanya tidak standar, memang mantap! Lebih mantap lagi karena kopi dan teh yang kita pesan bisa refill sampai kembung. Asik kan ?

Saking banyaknya, makan disini ibarat makan di Restoran All you can eat. Total sekitar US$60 dihabiskan buat bertiga. Lumayan banget buat kantong kita kebanyakan. 

Dua hari di San Diego, kami capek juga ngantri-ngantri terus. Besoknya kami kembali ke selera asal, makan rendang dan nasi yang kita bawa dari rumah. Karena cuaca masih terhitung musim dingin, tanpa kulkas pun semua tetap awet..

Makan puas di Richard Walker’s

 

Ya sudah, gimana cerita wisata kulinermu?

 

 

 

 

 

Hits: 3133

Phoenix, Arizona 07.00 AM. Seperti biasa Lisa selalu mampir ke Dunkin Donuts membeli beberapa gelas kopi untuk perjalanan kita. Setelah beberapa kali ke Arizona, baru kali ini kami sempat berkunjung ke Grand Canyon yang jadi maskot wisata Arizona bahkan Amerika Serikat. Jangankan saya, Lisa yang sudah belasan tahun disini pun baru sekarang bisa kesini. Cuaca pagi itu masih dingin mungkin masih di kisaran 10 derajat celcius, padahal seharusnya di Februari musim dingin sudah selesai.

Dari Phoenix menuju Grand Canyon membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Pemandangan jalan berpadu antara perbukitan tandus khas gurun Arizona dan beberapa pegunungan bersalju. Cantik memang, tapi buat saya yang nggak tahan dingin, salju dan winter itu nggak ada indah-indahnya. Soalnya kalau dingin, saya tidak bisa ngapa-ngapain selain tidur selimutan. Beneran, ini.. AC dingin saja saya tidak kuat. Maklum, mungkin karena kurang lemak (heheheh). Selain itu, Saya masih yakin Indonesia adalah salah satu mutiara di dunia yang memiliki alam paling indah. Kalau ada yang bilang luar negeri lebih cantik, pasti belum pernah keliling negeri sendiri. Iya,..semua sisi dunia ini punya daya tarik sendiri, tapi percaya deh alam Indonesia dengan semua keunikannya adalah salah satu yang tercantik di dunia.

***

Ada dua jalan utama menuju Grand Canyon yaitu South Rim dan North Rim. Kami melalui jalan South Rim yang memang paling dekat dengan Arizona. Biasanya mereka yang melalui Los Angeles atau Las Vegas akan memilih South Rim sebagai gerbang masuk. Sedangkan North Rim berada di negara bagian Utah. Biaya masuk kesini USD30 untuk 1 buah mobil, dan USD15 per orang yang berlaku selama tujuh hari. Artinya kamu boleh seminggu disana, nggak usah keluar-keluar!

Kami tiba disana sudah menjelang sore, cuaca tambah dingin. Rasanya kalau ini bukan salah satu wisata tujuan dunia, saya mau balik lagi ke belakang selimut. Sepanjang pintu masuk South Rim sudah banyak berdiri hotel dan tempat hiburan. Biarpun kedinginian, sayang sekali kalau dilewatkan dengan cuma tidur-tiduran. Jadilah saya muter-muter sendiri, beli kopi dan nengok-nengok toko souvenir. Karena sudah menjelang malam, cuaca dingin, salju dan kabut tebal sudah tidak direkomendasikan lagi untuk masuk ke dalam Grand Canyon.

Besok paginya kami baru masuk ke lokasi, awalnya seperti perbukitan biasa, tidak ada tanda-tanda ngarai sama sekali. Setelah berkendara kurang lebih 10 km dari gerbang utama, mobil pun diparkir. Pada cuaca kurang dari 10 derajat celcius kami berjalan menyusuri perbukitan dan pelan-pelang ngarai super luas mulai nampak. Wow! Saya harus mengakui bahwa Grand Canyon memang luar biasa! Sumpah saya tercengang! Beneran seperti mimpi yang jadi kenyataan. Mungkin karena karakteristik  alam seperti ini, tidak ada di kampung kita. Pantas saja menjadi salah satu keajaiban dunia. This a superlative beauty! Grand Canyon tercipta dari proses erosi selama ribuan tahun dari Sungai Colorado. Jangan tanya luasnya, taman nasional kebanggaan Amerika Serikat ini luassss bangettt! Panjangnya mencapai hampir 500 km dengan lebar bervariasi dari 5-30 meter dan kedalaman dari puncak ngarai ke bawah sekitar 1,5 km.

Saya takjub, sampai udara dingin -yang biasanya saya benci luar biasa- menjadi tidak begitu terasa. Ngarai yang meliuk-liuk indahnya lebih indah dari lukisan mana pun yang pernah saya lihat. Sejauh mata memadang, tingginya ngarai seolah menyentuh langit dan kita berdiri. Di beberapa bagian ngarai, sisa-sisa salju masih nampak. Beberapa pepohonan di pinggir ngarai seolah menjadi frame semua lukisan itu. Kalau lagi gak dingin, mungkin enak bawa kursi dan ngopi-ngopi pake kopi Aceh di pinggir ngarai-nya. Hehehe..

Meski datang di penghujung musim dingin yang penuh kabut, scenery menakjubkan Grand Canyon tetap bisa dinikmati. Saya yakin, saat musim panas pasti lebih membuat nafas terhenti sejenak melihat ciptaaan Tuhan ini. Apalagi kalau musim panas ada program hiking, jadi kita bisa turun ke ngarai hingga ke permukaan sungai dan berjalan menyusuri tebing tebing Grand Canyon. Sebagai taman nasional, disini juga hidup bebas berbagai hewan seperti rusa khas gurun, bison dan berbagai jenis reptil dan mamalia lain. Jangan heran, jika tiba-tiba saja ada rusa melintas di depan kita.

Fasilitasnya juga oke, dari camping ground, hotel berbintang, coffee shop dan toko souvenir. Pokoknya tiket sekali masuk buat seminggu tinggal disini sih, memang pantas, Memang harus tinggal lebih lama agar bisa mengeksplor lebih banyak. Di tengah taman, ada museum yang membuat kita bisa belajar asal muasal terjadinya Grand Canyon. Uniknya, museum ini pun dibangun di pinggir ngarai dengan dinding kaca-kaca transparan. Wuihhh..berasaa dimanaa gitu…Rasanya nggak mau pulang!

Ke Grand Canyon bukan cuma wisata, tapi melihat dengan nyata sebuah keajaiban alam. Menyaksikan dari dekat bagaimana Tuhan mengkreasikan semua ini dengan sempurna. Benar-benar sebuah mahakarya. Dan namanya juga wisata di negara maju, tanpa merusak ekosistemnya, Amerika berhasil merancang kenyamanan dan fasilitas sekaligus tempat belajar ilmu pengetahuan baru. 

Kayaknya saya pengen kesini lagi suatu hari nanti!

 

Hits: 3288

Kali ketiga berkunjung ke Arizona, saya masih mengira salah satu negara bagian Amerika Serikat ini super gersang dengan perubahan suhu yang sangat signifikan antara musim panas dan musim dingin. Ternyata anggapan saya iitu salah. Februari lalu saya menyambangi Prescott, sebuah kota kecil yang ditempuh sekitar 2 jam dari Phoenix, ibukota Arizona. Kota ini menyimpan banyak keindahan dengan cuaca yang berbeda dibandingkan kota-kota lain di Arizona. Jika kota-kota lain tidak bersalju, Prescott bersalju pada musim dingin meskipun sebagian besar daerahnya tandus bak gurun. Ketika saya kesana, musim dingin seharusnya sudah berakhir, tapi masih cukup dingin. Buat saya -yang sama AC saja, alergi bentol-bentol- cukup menyiksa. Lumayan loh, bisa dibawah nol derajat di pagi hari dan paling tinggi sekitar 15 derajat di siang hari. Brrr,…gak asyik banget rasanya harus pake kaus kaki plus kaus tangan kemana-mana. Namun ada jajaran pohon-pohon yang daunnya habis dan menunggu bertunas kembali, yang membuat kota ini menjadi cantik

IMG-20170208-WA0012
dari puncak kota

Prescott dipenuhi lokasi-lokasi teduh dengan pepohonan, bangunan heritage dan jalan-jalan cantik yang memesona. Karena konturnya perbukitan, kota ini seperti gurun yang bertingkat-tingkat. Dari beberapa puncak bukit kita bisa memandang seluruh penjuru kota. Prescott juga dikenal sebagai salah satu kota tertua di Arizona, Hampir tidak ada bangunan tinggi disini, seluruh pusat kota dipenuhi gedung-gedung tua yang tetap terawat dan berfungsi dengan baik, bahkan ada hotel tua dengan lift dari abad ke 18 yang persis seperti kerangkeng besi. 

kota

alun alun

Tante Lina, tuan rumah yang menjamu saya selama disana bilang; tempat yang wajib didatangi di Prescott adalah museum. Iya, museum! Wisata yang buat sebagian besar orang kita tidak umum. Kalau umum, mungkin Museum Nasional tidak pernah sepi. Yeekaan? Nah, dari sekitar 10 museum yang ada di Prescott, Sharlott Hall Museum adalah yang paling direkomendasikan. Museum ini adalah peninggalan rumah Gubernur Arizona dan pusat pemerintahan Arizona State pada abad ke 19  yang didirikan di 1928 oleh Sharlott Hall seorang politisi wanita pertama di Arizona.

museum1

“Where are you come from?” tanya petugas museum dengan ramah saat saya membubuhkan tanda tangan di buku tamu. Perempuan berusia sekitar 50an tahun itu, sedikit mengernyitkan dahi ketika saya menulis : INDONESIA (dengan bangga pasti!). Sesaat kemudian dia tersenyum kembali. Mungkin saja dia tidak tahu Indonesia dimana, atau  bisa jadi belum ada orang Indonesia lain selain saya yang kesini. Ah, GR.. Eh, pasti ada sih ..tapi yang mengisi buku tamu, sepertinya memang cuma saya! Hahahah.. 

buku tamu

 

Kemudian saya terkagum-kagum sendiri, menyaksikan bagaimana rumah pribadi yang digunakan di sekitar 100an tahun lalu menjadi begitu menarik. Kalau sering nonton film-film Amerika berlatar belakang abad 18-19, ya kira-kira begitulah barang-barang yang dipamerkan. Tempat tidur antik di kamar dengan gorden berenda-renda, jas pria lengkap dengan wig yang bergelung-gelung pirang, longdress wanita dengan rok lebar bergelembung -yang mungkin kalau dipakai sekarang sangat ribet-. Bahkan seisi perabot rumah pun menjadi pajangan yang menarik. Dapur dengan alat masak kuno, ruang tamu dengan furniture beraroma mistis hingga ornamen-ornamen dekorasi rumah yang kini pasti sudah jarang kita temui.

Sharlott Hall juga memiliki bangunan-bangunan terpisah yang berisi sejarah Arizona. Negara bagian yang berbatasan langsung dengan Meksiko ini, sarat cerita tentang pembaruan antara orang native Amerika (suku Indian), bangsa Meksiko dan para kulit putih sendiri. Milestone-milestone perkembangan Arizona sebagai negara bagian USA yang ke-50 juga tertata sangat apik. Bikin betah, tambah wawasan dan  sama sekali tidak membosankan.

museum8

museum7

Spot kedua yang saya kunjungi adalah Historical Boulevard (HB) atau Historic Distric. Jalanan sepanjang tidak lebih dari 2 km ini menjadi salah satu atraksi turis unggulan di Prescott. Masih dalam tema kota antik, HB dipenuhi rumah-rumah kuno yang berjajar rapih dan semuanya berpenghuni. Rumah-rumah tua ini tetap didiami pemiliknya, tapi dikembangkan menjadi obyek wisata oleh pemerintah. Rumahnya lucu-lucu, dari model rumah bak kastil jaman dulu hingga rumah drakula pun ada.

HD

Baiknya lagi, para penghuninya sadar bahwa kediaman mereka menjadi tontonan dan menganggap itu sudah jadi bagian dari keseharian mereka. Jadi tidak bakal ada yang marah kalau kita foto-foto di halaman rumahnya. Bahkan jika beruntung, kita akan ketemu pemilik yang dengan ramah menyilakan masuk ke dalam rumahnya. Wow!

HD1

HD4

Siang itu suhu cukup dingin untuk ukuran orang kita, sekitar 15 derajat celcius. Tapi keunikan, keindahan dan keramahan Prescott  membuat saya yakin, akan kembali lagi kesini suatu saat nanti 🙂

 

 

 

Hits: 2641

Mimpi apa saya hingga bisa sampai di Las Vegas? Wah ternyata bukan mimpi.  Saya kesana bulan lalu, bersamaan dengan masa karantina Miss Universe 2015. Dan, Alhamdulillah, cukup jadi Miss RT/RW saja saya sudah bisa main judi di Vegas. Upss! Jangan bilang-bilang Bang Rhoma loh! Hahahah.

Di Amerika, Saya dan keluarga tinggal di Arizona yang waktu tempuh dengan berkendara dari ke Las Vegas -yang ada di Negara Bagian Nevada- tidak lebih dari 5 jam. Cukup dekat, karena perjalanan yang nyaman dan infrastruktur yang bagus.  Sepanjang jalan kita juga disuguhkan pemandangan perpaduan hutan kaktus dan pegunungan khas canyon yang keren banget. Tidak heran, karena kami memang melewati Taman Nasional Grand Canyon yang maha tenar itu. Sayang, hingga kali kedua ke Amerika, saya belum sempat kesana. Insya Allah next visit!  Saat saya kesana, cuaca cerah, tapi jangan salah, di luar mobil suhu hanya berkisar 5-7 derajat celcius saja. Brrrr…

Hooverdam, Nevada
Hooverdam, Nevada

Satu jam menjelang Las Vegas, kami melewati Hooverdam. Ini adalah bendungan besar dan terkenal di Amerika yang dibangun pada 1931. Bendungan inilah yang mensuplai hampir seluruh energi listrik di Nevada, California dan Arizona. Uniknya, karena letaknya di tengah-tengah pegunungan membuat pemandangan di Hooverdam ini keren banget. Wajarlah, kalau tempat ini akhirnya jadi salah satu tujuan wisata di Nevada.

Tiba di Las Vegas, saya lumayan suprise, karena setiap sudut kota pasti ada Casino. Minimal slot machine (mesin judi) casino yang nyaris hadir bahkan di toko-toko kecil seperti Indomaret.  Kami menginap di Hotel Harras pas di tengah Las Vegas Bouleverd pusat tourism. Posisi hotel yang strategis ini memungkinkan kita mampir ke tiap pusat keramaian dan hedonisme Vegas cuma dengan berjalan kaki. Jangan kaget, kalau semua (baca: SEMUA) hotel disini punya kasino. Saya sampai bingung, karena front office hotel pun menyatu dengan casino.  

Beda dengan Casino di Macau, di Vegas semua pengunjung boleh berfoto-foto di dalam casino. Saya ikutan mencoba slot machine, mesin casino  yang dibuat dalam berbagai tema, mulai dari kartun anak-anak, film-film tenar sampai ada mesin yang bernama Britney Spears, Katy Perry dan Jennifer Anniston. Meski gak menang, tapi gak juga kalah :p (mungkin kurang sajen) saya anggap aja ini main monopoli. Mainnya juga gak perlu keterampilan khusus, bener-bener semua tergantung luck. Kalau menang kita tinggal mencairkan sendiri uangnya ke ATM khusus casino yang banyak bertebaran. Sangat computerize!

jilbabers goes to Casino? you mean it!
jilbabers goes to Casino? you mean it!

vegas 7Di beberapa bagian casino, selalu dijumpai tulisan : You Know When To Stop, dengan peringatan panjang lebar persis seperti peringatan bahaya di kemasan rokok. Yes, “berjudi” pun perlu kedewasaan. Dan yang pasti “kedewasaan” itu belum dimiliki sebagian besar masyarakat kita.  Kalau model casino begini dilokalisasi-kan di Pulau Seribu. Bisa jadi banyak orang yang alih profesi menjadi penjudi. Yah, memang sih…hal begitu juga pasti ada di Las Vegas, hanya karena sudah menjadi atraksi turis, kondisi itu jadi tidak kentara. 

Karena Las Vegas, sering juga disebut Sin City, gak heran di sepanjang bouleverd banyak cewek-cewek berpakaian minim yang menjajakan diri. Seriously!. Untungnya kemarin musim dingin, jadi pakaian mereka pun sedikit “tertutup”. Tapi kalau musim panas, wow… parade swimsuit Miss Universe bisa kalah rame deh.. Tidak itu saja, di tiap bagian jalan banyak box untuk meletakkan brosur yang isinya jualan penjaja seks komersial dari yang heteroseks hingga homoseks (bruuppp…@$#%@&%^&..). Belum lagi para mucikari di pinggir jalan dengan santainya memberikan kartu nama dan brosur “barang dagangannya”. And it is legal! Kebayang kalau beginian ada di Jakarta, gak cuma FPI yang demo abis-abisan, saya juga pasti ikutan demo! Hahahaa.

Nah, namanya juga Sin City. Makan pun disini wajib “berfoya-foya”. Las Vegas terkenal dengan makanan buffet all you can eat. Katanya kalau kesini wajib nyobain buffet-nya. Sekali buffet kita dipatok sekitar USD 20-25. Sebenernya gak mahal-mahal amat sih, karena standar makan di USA juga rata-rata USD 10  sekali makan. Saya sempet dibayarin dua kali makan di Flamingo dan Paris Paris. Sebenernya rugi sih, kalo ngajak gw makan di buffet beginian, soalnya gw makannya dikit. Hahahha.. Tapi gakpapalah, kapan lagi ke Vegas kan?!

Oya.. di Vegas hampir tiap hari ada konser artis-artis ternama. Saat saat saya kesana, beberapa tempat hiburan sedang menyiapkan konser Britney Spears dan Jennifer Lopez. Disini juga banyak digelar macam-macam show, mulai dari sulap hingga stand up comedy. Nah, gak cuma sebagai tempat “menambah dosa”, Vegas juga punya banyak museum menarik yang bisa dikunjungi. Cuma jangan heran, kalau lokasi museum-nya (lagi-lagi) menyatu dengan Casino!

Mini New York in Vegas
Mini New York in Vegas

Satu hal yang baru saya tahu, ternyata Las Vegas menghadirkan  beberapa landmark miniatur dunia. Jangan kaget kalau disini ada Menara Eiffel, Patung Liberty bahkan Sphinx dari Mesir, dan jangan kaget lagi kalau isi bangunan-bangunan keren tersebut tetep, tidak lain dan tidak bukan; Casino! Lumayan lah bisa liat Eiffel KW super, sebelum beneran berkunjung ke Paris (Aaamin…) Dan saya bermimpi suatu saat Borobudur juga bisa hadir disini. Who knows?!

vegas 9
Eiffel moves to Vegas!

Terakhir, sama seperti San Francisco dan LA, satu yang paling menganggu alias merusak pemandangan di Las Vegas adalah jumlah homeless people yang banyak. Bahkan lebih banyak dari San Francisco dan LA. Saya gak ngerti, mereka jadi homeless karena kalah judi atau memang punya masalah lain. Lucunya ada satu pengemis yang membawa papan bertuliskan : “Why lie, I need beer”  Hahhaha.. So, dia mengemis untuk beli bir? Wallahualam. Kesimpulannya, gak di kota-kota besar Amerika, gak di Jakarta, pengemis dan gelandangan (gepeng) masih jadi masalah. Saya kurang paham kebijakan pemerintah Amerika. Sungguh, banyaknya homeless menjadi pemandangan yang sangat kontras dengan gemerlapnya Las Vegas, salah satu kota tujuan wisata dunia, yang tidak pernah tidur dan pajak hiburannya sangat besar.

Bye, Vegas…next visit mungkin harus bawa modal yang cukup biar impian mendadak kaya (siapa tau) terwujud… 😀

Hits: 1219

Bulan lalu, kali pertama saya menumpang pesawat Saudia (Saudi Arabia Ailines) PP Jakarta-Los Angeles. Ada beberapa hal yang bisa saya bagi, semoga berguna untuk teman-teman pembaca Jus Semangka

  • The longest trip ever..perginya 37 jam, pulangnya 31 jam (include transit). Rute Jeddah-Los Angeles menghabiskan 16 jam nonstop, sisanya merupakan waktu transit. Mungkin rute ini adalah rute terpanjang dari Asia ke Amerika Serikat, karena melewati Samudera Antlantik. Kalau liat globe, hitung-hitung Jakarta-Los Angeles, melintasi dua pertiga bola dunia. Bandingkan dari China-LA atau Seoul LA yang maksimal 13 jam saja (direct). Sebagai perbandingan, untuk Jakarta-LA (PP) harga tiketnya di November kemarin USD 850. Tahun lalu, rute yang sama dengan Korean Air seharga USD1315.
  • Transit 8 jam Bandara Riyadh yang dingin kayak kulkas. Dinginnya sumpah kelewatan,hampir sama dengan winter di Amerika. Toiletnya bersih tapi fasilitas waiting room untuk transit yang lama, sangat minim. Transit selama itu benar-benar tidak nyaman. Restoran pun minim. The worst thing is,.. wifi is never work!! Belum lagi tidak ada information desk, nggak bisa nanya-nya kalau ada apa-apa.
20151120_185056
Ruang Tunggu Bandara Riyadh
  • Ketika boarding di LAX, Ketinggalan bantal tidur di ruang tunggu LAX,udah boarding dan gak boleh turun pesawat, jadi diambilin sama mereka. Good job! * maaf ngerepotin. Ini sih nilai plus ya buat crew-nya!
  • Bagusnya, Alhamdulillah, makan selalu kenyang… (karena porsi Arab) Hihihi… Transit pun dikasih makan. Wajar sih, wong bandaranya hampir nggak punya restoran.
  • Seat ekonomi lumayan sempit…beda banget sama Korea Air, Garuda apalagi Emirates
  • Pramugari/a agak-agak cuek (kalau kurang sopan bilang; cuek banget) Bukannya bantuin narok koper di rak kabin, malah bilang: berat amat sih bawaannya.. (Helloow…ini gw ngindarin over bagasi kalee…). Beberapa kali ingin minta bantuan. Saya tekan logo attendant assistance di seat, tapi tidak pernah sekali pun ada yang dateng. Lebih afdol manggil mereka pas lewat dekat seat kita… GRRR…rrr..rrr…

 

Kabin Ekonomi
Kabin Ekonomi
  • LAX- Jeddah sebelahan sama bapak2 orang A**b yg jorookkkkk banget. Kursi, lantai semua jadi tempat sampah, numpahin teh.. Bahkan makanan sisa orang juga dimakanin. Makan pake tangan..gak cuci tangan, lap di selimut..ihhh.. Gak bisa diem dan ngoceh2 sendiri. Annoying banget!!
  • Dari poin di atas, semua kekacauan dan kejorokan si Bapak, nggak ada crew/pramugari yang mau bantu beresin..  Katanya: its not my duty, why you complaining. Sementara si a**b tadi ilang gak tau kemana..   Fine…lapor supervisor nya..baru diberesin. Gila ajaa kebungkem 15 jam di kabin..tp keliling lo bekas makanan berceceran yang baunya bikin mual. Huekss.
  • meal
    meal
  • Transit jeddah 1,5 jam..stay on cabin. Tapi gak ada cleaning service utk bersih bersih cabin. Katanya CS cuma bersihin toilet kalo transit bentar. Ok.. Fine..
  • Ada musholla, di beberapa pesawat (tidak semua);
  • LAX- Jeddah..video on demand nggak ada suaranya. Sudah lapor, tapi tetep juga gak bener. Okelah..gpp
  • Kopi, teh dan minuman lain cukup lengkap, tapi memang frekuensi penyajiannya tidak sering (hanya 1 atau 2 kali untuk 16 jam perjalanan)
  • Iseng nonton film India. Yes..berbahasa India, tp subtitle nya arab gundul. yassalam… :p
  • Entah karena masuk angin, capek atau kurang nyaman, landing LA langsung mulesss sakit perut luar biasa. 
  • Total nilai 6,578 dr skala 9. Karena taun depan sepertinya masih harus ke Amerika balikin koper pinjeman, gak gak lagi dengan saudia:p

 

Hits: 1211

Mungkin hanya di San Francisco yang biaya parkirnya “cuma” USD 82 dollar alias hampir Rp 1 juta untuk 2 malam. Pusat kota (down town) San Francisco yang padat dan berundak-undak mengikuti kontur tanahnya, membuat kota ini nyaris tidak mempunyai tempat parkir. Tidak heran biaya parkir mungkin menjadi sesuatu yang paling mahal disini. Deretan mobil-mobil di parkir di pinggir jalan, lucunya ban depannya pasti diposisikan miring sekitar 30 derajat untuk menjaga agar mobil tidak mundur.  Kotanya memang tidak se-metropolitan kota-kota terkenal lain di USA tetapi bangunan-bangunan disini sepertinya sangat ditata ketinggian dan bentuknya. Sedikit sekali saya temui gedung bertingkat tinggi. Bahkan bangunan hotel-hotel chain internasional seperti Mariott disini justru dibuat horisontal bukan vertikal.

Kota di negara bagian California ini, adalah salah satu kota dunia yang paling ingin saya kunjungi. Kalau liat foto-fotonya, sepertinya kota ini unik, eksotik dan tidak terlalu penuh hiruk pikuk ala metropolitan. Pada kunjungan kedua kali ke USA tahun ini, akhirnya saya berkesempatan menyambangi kota cantik itu setelah berkendara kurang lebih enam jam dari Los Angeles. Meski tidak bersalju, suhu SF bulan lalu lumayan dingin sekitar 10-11 derajat di siang hari. Saya sebenarnya cuma ingin berfoto di bawah jembatan Golden Gate yang maha tenar itu, beruntung adik saya pernah menetap disini beberapa tahun lalu, jadilah ia guide plus sponsor jalan-jalan kali ini.

China Town
China Town

Pagi pagi sekali kami sudah nongkrong di terminal Cable Car. Untuk naik kendaraan antik ini, kita cukup merogoh USD 7 dollar saja (mahal juga sih ya…).  Saya pun sibuk selfie sepanjang jalan. Sialnya, seorang bule ibuk-ibuk tiba-tiba komplain, karena gak mau tampangnya ikutan keliatan di kamera Saya. Hahahaha. Payah tu bule, bukannya ikutan aja..:p  Tujuan pertama kami adalah Fisherman Wharf dan Pier 39. Tempat ini sebenarnya sepertinya sebuah pelabuhan perikanan, namun sudah berubah menjadi sebuah atraksi turis. Disini kita bisa menyebrang ke bekas penjara ternama, Al Catraz. Kemudian melihat kerumunan anjing laut yang bertelekan di dermaga sehingga disebut California Sea Lion. Tentu saja disini banyak deretan tempat nongkrong dan belanja. Oya, katanya kalau kesini, kudu mampir ke Bakery Boudin. Toko bakery autentik San Francisco ini menawarkan roti-roti unik yang pasti enak. Jangan lupa, tempat duduknya yang paling pas adalah bagian samping yang menghadap langsung ke dermaga kapal-kapal nelayan. Saya disini memesan salad (seperti biasa, secara gw kambing) dan scallop soup, yang sumpahhhhh enakk banget (Insya Allah halal kok,..hihihi..)

SF3
Boudin Bakery

Eh, pulangnya…emang dasar pencinta sambel, saya sempetin mampir ke satu toko yang menjual segala macem jenis sambel. Sebagian besar memang sambel produksi Amerika dan Meksiko. Sayang banget, orang Amerika belum tahu, kalau kita di Indonesia punya ratusan jenis sambel yang menurut saya sih paling enak di dunia. Saya juga sempat mampir ke Ghirardelli Square. Tau cokelat Ghirardelli, kan? Nah, cokelat ini memang diproduksi di San Francisco. Tokonya unik, karena ada satu sisi seperti Open Kitchen yang mempertontonkan bagaimana mereka membuat cokelat. Produk Ghirardelli sebenarnya bisa didapatkan dimana-mana, cuma kalau belinya di tempat aslinya mungkin “rasanya” agak beda kali yeeee.. Apalagi banyak souvenir-souvenir lucu yang bisa jadi oleh-oleh.

SF4
Ghirardelli Chocolate

Setelah muter-muter beberapa tempat, mengingat ada satu urusan, kami harus mampir ke konsulat RI disini. Berjalan kaki di kontur lahan yang naik turun, capeknya lumayan juga. Hampir putus asa mencari lokasi kedutaan, tapi dari kejauhan saya melihat bendera merah putih ada di puncak satu bangunan. Yess, dan sampe sana saya buru-buru numpang pipis..Hahaha..

Dari sana, kami meluncur ke kampung China alias China Town-nya San Francisco. Hampir semua kota-kota besar di Amerika punya China Town. Bedanya, China Town San Francisco terhitung paling lengkap, karena populasi orang China dan Asia pada umumnya di kota ini termasuk yang paling besar di Amerika. Disini, ngapain lagi kalau bukan shopping. Berhubung saya sudah pengalaman over bagasi di kunjungan ke USA sebelumnya, kali ini saya cuma beli souvenir kecil-kecil. Eh, sebenernya sih… karena emang kali ini gak punya duit :p

SF5
Fisherman Wharf

Saya baru bisa berfoto-foto di Jembatan Golden Gate keesokan harinya. Selain hujan, waktu kami di hari pertama juga tersedot untuk mencari kangkung! Iya, kangkung! Sayur yang di abang-abang harganya murah banget ini, disini jadi satu makanan langka. Adik saya yang sudah bermukim disini lebih dari 12 tahun ngidam banget sama sayuran satu ini. Mumpung di SF, katanya… biasanya sayuran Asia lebih banyak disini. Hadeuuh, kangkung laksana berlian. Aya-aya wae.

Kenek Cable car
Kenek Cable car

Selebihnya, saya sangat terkesan dengan San Francisco. Meskipun disini banyak homeless, sepertinya kotanya cukup nyaman. Tidak terlalu hiruk pikuk, kemana-mana relatif dekat dan paling penting banyak makanan Asia. Masih banyak tempat turis lain, sayangnya tidak semua sempat didatangi. Nah, kalau ada yang ngajakin saya pindah kesana sih mau-mau aja.. Hehehe..

Hits: 1424

Mungkin selama ini, Arizona cuma terkenal dengan Grand Canyon-nya. Nah, jika Bogor punya kebun raya, Phoenix di Arizona juga punya kebun raya. Uniknya kebun raya yang bernama Desert Botanical Garden (DBG) ini, khusus mengoleksi kaktus dan tanaman-tanaman gurun. Tidak heran, karena Arizona -negara bagian ke-50 dan terluas ke-enam di Amerika Serikat-  sebagian besar wilayahnya tertutup oleh gurun. Gurun yang terluas adalah Sonoran Desert yang menjadi pembatas antara Amerika Serikat dan Mexico yang mempunyai luas sekitar 260 ribu km persegi. Dengan kondisi demikian, wajar jika kaktus menjadi tumbuhan paling populer di Arizona.

kaktus4

Dari sebuah literatur yang saya baca, kaktus hanya bertambah tidak kurang dr 10 cm setiap tahunnya. Jadi, kalo tingginya sudah lebih dr 3 meter, coba aja hitung sendiri berapa umurnya. Oleh karena itulah, kaktus menjadi tumbuhan yang dilindungi di Arizona. Denda yang mencapai ribuan dollar akan dikenakan bagi mereka yang merusak kaktus yang menghiasi hampir tiap sudut kota. Jadi, kalau gak punya duit banyak, jangan coba-coba towel towel kaktus di Arizona. Namun, jika ingin memang kamu memiliki, satu pokaktus3hon kaktus setinggi kurang lebih 3 meter, bisa dibeli hingg 100 ribu dollar. Woww!

Minggu lalu, saya sempat mampir  ke Desert Botanical Garden ini. Lokasinya ditempuh hanya sekitar 30 menit dari kota Phoenix. Areal seluas 57 Ha ini merupakan kawasan khusus konservasi dan merupakan bagian dari Sonoran Desert. Ada 21 ribu jenis tanaman gurun dan 139 spesies disini. Sama seperti Kebun Raya Bogor, tanaman-tanaman di DBG juga diberi label nama, taksonomi dan sedikit penjelasan tentang hidupnya.  Tidak itu saja, disajikan juga maket-maket kehidupan suku Indian penduduk asli Sonoran Desert. Pada akhir pekan, disini sering diadakan pertujukan di malam hari dengan hanya mengandalkan cahaya lampu dan lilin yang temaram. Arealnya juga dilengkapi dengan restoran dan tempat ngupi-ngupi  santai dengan view yang sangat unik.

Ketika saya berkunjung, suhu cukup dingin untuk ukuran west Amerika, sekitar 15 derajat celcius. Kalau berkunjung lebih pagi, suhunya bisa mencapai minus 1-2 derajat celcius. Suhu ternyata mempengaruhi harga tiket masuk. Saat saya kesana, 1 orang dewasa dikenakan rata-rata USD 22 per kepala (USD 20 juta mereka yang di atas 60 tahun), tapi jika di musim panas yang suhunya hingga 40 derajat celcius, masuk ke tempat ini kita cuma dipungut USD 10 saja per orang.

kaktus5

Sebelum kesini, saya belum pernah melihat kaktus gede-gede sebanyak ini.  Ternyata mengamati tumbuhan gurun serta bermacam spesies yang hidup dalam satu ekosistem gurun adalah sesuatu yang sangat unik. Sulit ditemui di negara tropis seperti kita. Dulu Saya kira gurun yang tandus nyaris tidak akan ramah terhadap kehidupan. Ternyata tidak begitu. Ekosistem gurun saling berkaitan dan saling menopang serta berperan bagi kehidupan seluruh mahluk hidup di gurun.

Nah, hal lain yang mengagumkan, sebagian besar volunteer yang menjadi Liasion Officer (LO) disini adalah mereka yang berusia lanjut. Mereka inilah yang menjelaskan seluk beluk kebun raya ini, Dari mereka, saya tahu bagaimana kaktus itu hidup berkompetisi untuk mendapatkan air yang membuat mereka tumbuh tidak saling berdekatan. Itulah yang membedakan gurun dengan vegetasi hutan tropis yang tumbuh sangat rimbun dan rapat. Para volounteer ini dapat dengan fasih menjelaskan berbagai spesies yang ada di dalam kebun.

 

Di tempat ini juga disediakan lokasi hiking yang langsung menuju perbukitan di Sonoran Desert. DBG membagi beberapa arealnya dalam bagian-bagian besar.  Selain bagian nursery, pembagian didasarkan pada jenis vegetasi dan biota lain yang hidup di gurun. Ada bagian Desert Nature, Desert Living, Desert Discovery dan Desert Wildflower. Uniknya setiap bagian yang disebut “trails” diberi nama dengan tokoh-tokoh yang berjasa membangun DBG ini,

20151203_115049

Seru sih, bagi saya ini sesuatu yang baru banget. Rasanya tidak terbayang jika gurun yang dalam pikiran kita gersang, tandus dan panas bisa punya keanekaragaman hayati yang hidup dalam siklus yang saling menopang satu sama lain. Memang jika dilihat secara jumlah, bangsa kita yang alamnya kaya ini punya keanekaragaman hayati  yang jumlahnya jauh lebih besar dibanding Amerika Serikat. Namun, hebatnya mereka bisa mengelola sesuatu yang sedikit itu menjadi sebuah yang bernilai. Tidak saja memberi nilai ekonomi sebagai atraksi turis tetapi juga sebagai bentuk kecintaan terhadap alam karya Sang Maha Pencipta.

 

Hits: 1442

Kunjungan saya ke Amerika Serikat tahun ini bertepatan dengan Thanksgiving Day. Banyak versi tentang asal muasal Thanksgiving Day. Salah satunya, konon Thanksgiving adalah perayaan panen hasil pertanian yang ditularkan oleh Inggris, yang pernah menjajah Amerika Serika yang intinya Thanksgiving adalah “Hari Bersyukur”. Orang Amerika biasanya merayakan hari ini dengan berkumpul keluarga, menyantap kalkun dan berbagi hadiah.  Nah, karena berbagi hadiah inilah, ada acara yang namanya Black Friday. Diskon gila-gilaan yang diikuti hampir seluruh toko dan pusat perbelanjaan. Mirip-mirip Midnite Sale di Jakarta, tapi ini gak cuma brand ternama di mall terkemuka, supermarket barang kebutuhan pokok pun ikut bergabung. Dan tentu saja harga barangnya tidak dinaikkan dulu baru didiskon :p

Rata-rata toko buka 24 jam dimulai dari  pukul 6 sore hari Kamis minggu ketiga November. Antrian panjang terutama di toko-toko barang bermerek tenar sampe mengular. Bahkan di beberapa negara bagian ada yang rela bermalam di pelataran untuk bisa menyerbu toko duluan. Kemarin, 23 November 2015 saya ikut-ikutan acara ini, bukan cuma belanja tapi juga ingin merasakan atmosfir yang mungkin hampir tidak ada di negara kita. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 8 malam dengan list toko-toko yang akan kami kunjungi. Tujuan pertama adalah mall yang menjual merek-merek ngetop seperti Victoria Secret, Clark, Body and Bath Works, Rampage dll. Lihat diskonnya memang bikin ngiler, dibanding harga di Jakarta bisa lebih murah hingga 50% dengan dollar yang saat ini cukup tinggi.

blackfriday1
belanja sampe mabok, Chandler Mall, AZ

Saya ikut-ikutan ngantri panjang di Victoria Secret, yang harganya memang turun banget. Satu item yang biasanya 18 dollar, bisa dibeli dengan harga sama tapi dapet bonus 3 item sekaligus alias beli 1 dapet 4. Gak beda jauhlah dibanding kita belanja pewangi di Indomaret. Hahahah.. Lumayan, selain memenuhi titipan temen (baca: dijual lagi), rasanya keren aja, kayak anak muda Jakarta, yang konsumtif beli barang asal bermerek kesannya jadi gaul, gaya dan kekinian. Padahal kualitasnya gak beda-beda jauhlah sama Wardah dan Viva. Hehehehe.. Antrian di Body and Bath Works pun tidak kalah gila, karena setiap beli 3 item, kita bisa mendapatkan 6 item sekaligus. Kebayang dong, cairan pencuci tangan instan yang di Jakarta sempat heboh dan 1 botol kecil dihargai hingga Rp 40 ribu, disini cuma dijual 1 dollar. Kalapp!

Berikutnya, kami menyambangi Factory Outlet merek-merek premier yang kalau di Jakarta gerainya hanya ada di mall-mall mentereng seperti Plaza Indonesia dan Senayan City. Karena konsep lokasinya seperti kompleks pertokoan, otomatis antrian dimulai sejak diluar toko alias outdoor dan suhu saat itu cuma 4 derajat celcius dan waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, saudara-saudara!!! Brrrr….bayangin dinginnya.  Saya sama sekali bukan penggila tas bermerek, tapi saya bersyukur berhasil mendapatkan barang titipan (jualan again) sebuah tas merek tenar seharga kurang dari 3 juta, yang di Jakarta bisa sampe Rp 8 juta! Untuk titipan dengan harga lumayan gede begini, tentu saja si penitip harus mentransfer duluan dananya ke saya (gakmaurugi dotcom). Asyiknya lagi, karena saudara saya pun membeli beberapa titipan orang lain, saya kecipratan bonus 1 tas juga yg nyaris free!! Yuhuuu…bisa pamer tas baru kayak Teteh Syahrini! (Tangan kanan bawa tas keren bermerek, tangan kiri tetep bawa kantong kresek item, karena sayang tas bagus gak bisa nampung semua barang bawaan…)…

blackfriday3
Ngantri Kate Spade, Phoenix Factory Outlet AZ

Setelah itu,sempat juga mampir ke Wallmart membeli titipan kosmetik teman-teman yang harganya terjangkau banget buat orang Indonesia yang lagi menderita karena nilai dollar yang nyaman di posisi tingginya. Selebihnya saya lebih banyak jadi penonton kehebohan warga Amerika yang berdesak-desakan hingga dini hari dan menjadi sesuatu yang sangat menarik. Tidak itu saja, karena perilaku masyarakat yang mulai bergeser berbelanja online, senin pertama setelah Black Friday, ada yang namanya Cyber Monday. Yes, sama persis dengan Back Friday, tapi khusus untuk pembelian di toko-toko online. Beneran, gak abis abis cara untuk membuat orang ngabisin duit ya?!

Memang murah-murah sih, tapi sayangnya banyak yang impulse buying, membeli banyak barang di luar rencana dan kebutuhan mereka. Alibinya, karena Thanksgiving Day dan menjelang Natal mereka perlu banyak hadiah untuk dibagikan ke kerabat. Tapi menurut saya yang punya kantong orang Indonesia kebanyakan, jika tidak bisa mengontrol diri tetep aja kita bisa terancam bangkrut. Dan lebih penting lagi, bagi saya membeli barang-barang bermerek sejatinya bukan suatu kebanggaan. Beberapa orang memang senang melakukan titip menitip satu barang yang mutunya mungkin sama dengan barang punya kita. Ada juga yang senang dan bangga kalau bisa bilang: Eh, ini barang saya beli di Amerika loh. Padahal itu juga (maksa) nitip dan yang dititipin itu kadang jadi direpotin. Buat saya membeli beberapa barang justru letak nilai histori dan emosianalnya ada saat kita membeli sendiri ke tempat asal barang tersebut. Menurut Anda?!

Hits: 1029

Sebagai wilayah pertama suspect Ebola di Amerika Serikat boleh jadi berkunjung ke Dallas, harus dihindari. Dua minggu lalu, saya -yang gak ngerti apa-apa soal ebola- malah enjoy melenggang ke kota di negara bagian Texas tersebut. Meski TV lokal disana ramai memberitakan hal ini, sebenarnya kondisi relatif aman dan sehat-sehat saja. Disini, (lagi-lagi seperti kunjungan di kota lain), saya punya tempat nebeng di rumah seorang sahabat sesama pekerja di Aceh beberapa tahun lalu. Apop, teman saya itu sudah bermukim disini hampir lima tahun bersama suaminya yang berkewarganegaraan USA. Tanpa Apop, rasanya waktu yang singkat disini tidak akan begitu berkesan.

Jika di New York dan LA yang saya lihat adalah kemewahan ala dunia internasional, jalan-jalan di Dallas sungguh jauh dari yang namanya hedonisme. Tidak ada shopping (eh, ini karena emang bokek deng..) dan tidak ada foto-foto ala Hollywood dan Beverly Hills. Lalu kemana dong?? Yes, selama dua hari penuh saya mengunjungi museum-museum yang sangat menarik yang tiba-tiba membuat saya mendadak (merasa) cerdas layaknya juara kelas. Hehehe..

blog4

Sangat kebetulan, Apop sang guide (dan juga yang suka bayarin), bekerja di Perot, Museum of Nature and Science. Jadi kesinilah saya pertama berlabuh. Dalam bayangan saya -dan saya rasa umumnya orang-orang yang jarang masuk museum-, museum adalah tempat barang-barang kuno atau pun sebuah tempat yang menceritakan sebuah sejarah. Namun, seketika paham itu hilang ketika sampai di Perot. Tidak ada barang antik disini apalagi lukisan-lukison kuno. Perot ibarat laboratorium raksasa bagi ilmu pengetahuan yang disajikan dengan sederhana dan mudah dimengerti. Ada beberapa bagian di museum ini, mulai dari ilmu matematika, biologi, mineral, dunia antariksa, kesehatan, lingkungan hingga olahraga. Uniknya semua dibuat secara interaktif, sehingga pengunjung tidak hanya “menonton” tapi juga bisa melakukan praktek.

Desain yang futuristik
Desain yang futuristik

Sebagai contoh, saya sempat mencoba kemampuan otak kanan dan otak kiri, mencoba kamera yang dapat berputar 360 derajat, memecahkan teka-teki matematika, mencoba beberapa alat musik, merancang seekor burung dari jenis bulunya hingga bunyinya dan mencoba simulasi kekuatan gempa tektonik yang membuat kepala pusing. Saya bahkan meluangkan waktu agak lama di laboratorium biologi untuk melihat bagaimana DNA mahluk hidup membelah diri. Bagi yang iseng, juga bisa mencoba kemampuan berlari dengan standar atlet-atlet dunia sebagai pembanding. Saya terkagum-kagum di bagian mineral, karena disini dipamerkan bermacam batu mulia dari berbagai belahan dunia yang bagus bagus banget. Hmm, looks so serious? No, its fun! Karena ternyata “belajar” hal-hal berat terlihat mudah jika tidak melulu diajari dengan metode menghafal.. Berbanggalah, karena beberapa medium yang dipamerkan berasal dari Indonesia.

blog2
belajar tentang angkasa luar

Museum yang berbentuk kubus unik ini, konon “menghidupi” dirinya sendiri. Artinya hal-hal seperti pengelohan limbah, pemenuhan energi semuanya dilakukan dan diproduksi sendiri melalui siklus yang sudah diatur sedemikian rupa. Tiket masuk sebesar USD 15 sangat sebanding dengan ilmu yang didapat sepulang dari museum ini. Katanya museum ini didirikan oleh Ross Perot, seorang milioner yang sempat mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat

Museum kedua yang saya kunjungi adalah The Sixth Floor Museum, Dealey Plaza. Siapa yang tidak kenal John F Kennedy? Presiden Amerika Amerika Serikat ke 35 yang terbunuh pada 22 November 1963? Namanya sekarang diabadikan sebagai bandara terbesar di AS. Museum ini didedikasikan untuk mengenang JFK sang presiden flamboyan. Uniknya, museum ini terletak di gedung yang dulu menjadi lokasi penembakan JFK. Dinamakan The Sixth Museum mungkin karena pengunjung memang tidak melewati lantai 2-5, karena lift pengunjung langsung menuju lantai 6 yang menjadi pusat museum.

blog1
Dealey Plaza, lokasi penembakan JFK

Pengunjung dipungut biaya USD 16 untuk masuk kesini. Jangan kaget, karena antriannya lumayan panjang. Setelah membeli tiket, kita dibekali semacam headset lengkap dengan perangkatnya yang dibuat dalam beberapa bahasa. Dari perangkat ini kita mendengar rangkaian cerita dengan alur yang sama dengan foto dan beberapa diorama yang dipamerkan disini. Salah satu ruangan yang menjadi lokasi penempak, dibiarkan seperti bentuk aslinya.  Jalanan di depan museum adalah saksi bisu sejarang penting Amerika ini. Landscape-nya nyaris tidak dirubah, masih seperti ketika peristiwa ini terjadi. Sayangnya tamu museum tidak diperkenankan untuk mengambil foto di ruang utama museum.

Disini JFK Terbunuh
Disini JFK Terbunuh

Medianya memang tidak seberagam Perot Museum.Ya iyalah, secara beda genre… Namun masuk kesini saya seperti berada di 1963 dan merasa begitu dekat JFK. Detik-detik kematian JFK bahkan terus terbayang di kepala saya. Sampai-sampai setelah pulang pun saya masih googling untuk mencari tahu lebih banyak tentang presiden ganteng ini. Hmm.. ternyata, begini cara Amerika menghargai orang-orang besarnya. Bagi yang suka sejarah, politik, intelejen dan kriminologi, museum ini wajib disambangi.

Konon, JFK adalah presiden yang senang “blusukan”. Pada hari terbunuhnya, ia sedang dalam rangka dinas di negara bagian Texas. Menggunakan mobil terbuka ia melambaikan tangan ke masyarakat yang sudah memenuhi pinggiran jalan. Siapa nyana, dari lantai 6 Dealey Plaza seorang penembak jitu membunuhnya dengan dua kali tembakan. Konon lagi.., JFK sendiri pernah berkata: If somebody wants to shoot me from a window with a rifle, nobody can stop it, so why worry about it?. It would be so easy for someone to shoot me with a rifle from a tall building. Hmm…

Ngeri, karena negara sedigdaya USA pernah “kebobolan” hingga presidennya terbunuh. Semoga Presidenku yang baru yang juga demen blusukan  selalu aman. Aaamin…

Masih ada cerita lain tentang Dallas di tulisan berikutnya. Kalau iseng, silakan dibuka juga:

Jetlag di Hollywood

Ada yang belum selesai di New York

 

Hits: 1165
911 Museum

Apa yang di cari manusia di kemegahan New York?  Mungkin nama besarnya-lah yang membuat penduduk dunia berduyun-duyun kesini. Saya yang cuma punya pergaulan level provinsi pun merasa demikian. Rasanya kurang afdol menginjakkan kaki di Amerika Serikat tanpa merasakan gemerlap New York. Dan itu terbukti, ketika tiba disini makin keliatan banyaknya pendatang di New York. Wajah-wajah dari berbagai ras di dunia memenuhi sudut kota. Bahkan lucunya saya malah jarang ketemu muka-muka bule. Hahaha.

blog1
Manhattan Downtown

Terbang dari Phoenix, Arizona (AZ) ke New York menghabiskan waktu hampir 5 jam. Kurang lebih sama dengan jarak Jakarta-Ambon. Maklumlah, AZ ada di bagian barat (westcoast) Amerika Serikat sedangkan New York terletak di sisi timur (eastcoast) negara besar ini. Perbedaan cuaca pun cukup signifikan. AZ tidak mempunyai empat musim selayaknya New York. Ketika saya tiba Oktober lalu, AZ yang sebagian besar wilayahnya adalah gurun, bersuhu kurang lebih sama dengan Indonesia sementara New York suhunya ada pada kisaran 5-15 derajat celcius. Brrr…  Selisih waktu keduanya yang hingga tiga jam menambah deretan perbedaan itu. Perjalanan yang lumayan jauh, suhu yang signifikan dan ditambah lagi kurang makan dalam perjalanan membuat kepala saya pusing sekali ketika mendarat di JFK Airport. Disini, kami menginap di salah satu rumah kerabat. Lumayan ngirit biaya karena di kota ini, biaya hotel dan makan adalah salah satu yang termahal.

Keesokan harinya, sayang banget, hujan deras mengguyur New York sejak pagi. Menyusuri Manhattan Down Town hingga  di tepi selat menuju Patung Liberty dengan trotoar yang basah memberi rasa lain kota New York di pagi hari. Cita-cita utama saya memang berfoto cantik di Patung Liberty kemudian mengunduhnya ke semua sosial media yang saya punya. Hahahah. Sayangnya niat itu ternyata tidak sepenuhnya diijinkan oleh Tuhan.  Kami hanya bisa berfoto dari seberang Liberty. Yah, sedikit kecewa sih.. Tapi, karena masih banyak tempat yang harus kita kunjungi, tidak mungkin rasanya menunggu hingga hujan berakhir. Yah, jadilah gagal niat sombong saya tadi. Hehehe…

At Times Square
At Times Square

Untuk membalas dendam dengan seseorang yang dulu dengan sombongnya berfoto di Times Square (uhuk..),  saya pun gak mau kalah dengan puas-puasin berfoto disini. Kalo belanja kan mahal ya,bo.. Jadi cukuplah foto-foto, paling gak keliatan beda dengan Blok M gitu loh!! Hahaha.. Saya juga sempat mampir di Monumen 911 yang dibangun di bekas fondasi Twin Tower yang roboh karena tragedi 11 September 2001 lalu. Ada kolam besar bak air terjun buatan yang dibuat disini. Di pinggir kolam tersebut terdapat nama-nama para korban musibah besar tersebut. Sungguh mengingatkan saya pada museum tsunami di Banda Aceh yang kurang lebih mengusung konsep yang sama yaitu; air. Selebihnya kami menghabiskan waktu di beberapa tempat seperti China Town, Rockefeller Center, Museum of America, Wall Street dan tetep ujung-ujungnya cari restoran Asia. Hehehe.

The Rockefeller Center
The Rockefeller Center

Saya juga bertandang ke New Jersey (NJ). NJ adalah salah satu state terkecil di Amerika Serikat yang berbatasan langsung dengan New York. Kotanya sendiri ditempuh kurang lebih dua jam dari NYC.  Ada yang beda, jika NYC penuh dengan gedung-gedung tinggi, NJ ibarat Bogor, kota satelit di sudut Jakarta. Tenang, kental dengan suasana pedesaan, udaranya pun bersahabat dan dipenuhi hutan asli serta kebun penduduk lokal. Cocok untuk tempat tinggal para pensiunan dan mereka yang sudah bosan dengan hiruk pikuk metropolitan. NJ juga cocok buat yang hobi shopping, karena tidak ada pajak untuk barang belanjaan disini. Yeayy!!  Menginap semalam disini, membuat kaget karena ketika kembali ke NYC, kami harus ketemu macet yang macettt banget! Tidak ubahnya Jakarta di jumat sore, setelah hujan dan tanggal abis gajian! Seriously!!

Teduhnya NJ
Teduhnya NJ

Eniwei, meski di New York sangat sebentar, saya punya kesan yang dalam tentang NYC.  Rasanya saya bisa banyak belajar tentang dunia hanya dari kota ini. Mungkin semua pelosok dunia, termasuk dunia lain (bisa jadi!) Kalau punya kesempatan, saya tidak akan menolak untuk tinggal beberapa saat disini. Selain belum bisa sampai Liberty dengan utuh, mungkin saya punya keinginan  untuk mengeksplor dunia lebih jauh dari sini. Mimpi? Bisa jadi mimpi, bisa juga kenyataan. Toh, dulu membayangkan sampai New York juga hanya mimpi. SO, New York, I’ll be back! Karena masih ada yang belum selesai bersamamu.

Hits: 1196

Setelah melalui perjalanan panjang yang (cukup) membosankan selama hampir 24 jam akhirnya 6 Oktober 2014 lalu, saya sukses mendarat di LA. Ini serius Los Angeles,bukan Lenteng Agung yang lurahnya Ibu Susan, loh! Setiba di Amerika, sebagai orang kampung yang sukses noraknya, saya merasa takjub, karena ini adalah bagian dari mimpi-mimpi saya. Lebay sih, apalagi Amerika konon adalah sarang antek asing yang makin ngetop sejak masa Pemilu dan Pilpres lalu.

IMG_20141006_074315
mampir ketemu kangkung dan tempe disini…

Tiba di LA sekitar pukul 03.00 sore, setelah menempuh perjalanan sekitar 11 jam dari Seoul, Korea Selatan. Lucunya, kami berangkat meninggalkan bandara Incheon pukul 08.00 malam, tapi tiba di tanah Amerika pukul 03.00 sore hari sebelumnya. Waktu mundur sekitar 12 jam dari waktu Korea atau sekitar 14 jam dari WIB. Selama dalam perjalanan ke LA, saya tidak henti-hentinya menatap layar monitor di depan kursi yang menunjukkan sisa waktu perjalanan. Rasanya waktu berjalan sangat perlahan, atau saya curiga monitor itu rusak.  Ini akibat penyakit saya yang susah banget tidur di jalan, kecuali kalau minum Antimo yang saat itu sayangnya tidak dibawa.  Hehehe.. Tiba di LA rasanya kayak gak percaya, ada loh mimpi yang jadi kenyataan. Alhamdulillah antrian imigrasi pun cepat dan tidak bertele-tele. Namun, sayangnya Ibu saya sebagai pemegang Visa Imigran harus mengikuti antrian khusus yang cukup menyebalkan. Bukan karena antrian yang panjang, tapi dua orang petugasnya yaitu bapak-bapak berumur sekitar 60 tahun lebih sibuk ngobrol daripada menyelesaikan tugasnya. Haduhh.. Kebayang antrian yang kurang dari 10 orang diselesaikan dalam waktu 1,5 jam saja, saudara saudara!

Setelah melepas kangen dengan keluarga yang sudah tidak bertemu lima tahun lamanya, kami menuju sebuah restoran Indonesia bertajuk Simpang Asia di salah satu sudut kota LA. Lucu aja rasanya, jauh-jauh dari Jakarta ke Amerika ketemunya tumis kangkung dan oseng-oseng tempe lagi. Konon restoran ini cukup tenar di kalangan warga Asia kota ini. Rasanya? Yah, lumayan sih..meski kata gue, lebih enak kalau masak sendiri di rumah. Hehehe. Disamping restoran ini, terdapat satu toko yang khusus menjual makanan kemasan khas Indonesia. Cukup kaget ketika Indomie dihargai USD 2,5 dollar (atau sekitar Rp 30 ribu) per 5 bungkusnya.

Tujuan saya ke Amerika sebenarnya adalah menghabiskan waktu liburan pengangguran saya di Maricopa, sebuah kota kecil berjarak sekitar 6 jam perjalanan darat dari LA yang terletak di negara bagian Arizona. Namun, biar merasakan gegap gempita Amerika, kami memilih landing di LA agar bisa melihat kota terkenal ini, kemudian mampir ke Hollywood agar sedikit merasakan pergaulan artis dunia, Hahahaha. Hollywood hanya berjarak 1 jam dari LA, dan masih masuk dalam negara bagian California.

Malamnya kami sempat melihat-lihat sebentar di Japan Town sebelum beristirahat di sebuah hotel. Karena sangat lelah saya pun tertidur cukup lelap, sayangnya sekitar pukul dua dini hari waktu LA saya terbangun, lapar dan tidak bisa tidur lagi. Waduh, ini mungkin namanya jetlag. Jika dihitung, saat itu WIB menunjukkan pukul 4 sore, yang artinya waktu ngopi dan makan snack. Hahaha.. Saya paksakan untuk lelap pun tidak mudah, akhirnya saya sukses melek hingga jam 8 pagi. Saat bersiap-siap menuju Hollywood, kantuk menyerang sangat dahsyat. Saya mencoba tetap bertahan karena tidak mau melewatkan perjalanan yang belum tentu besok besok saya temukan lagi.

IMG_20141006_104511

Taraaaa..kami pun tiba di Hollywood. Di sepanjang jalan terlihat rumah rumah pesohor dunia yang keren keren bangett! Sampe kepikir mau nyari rumah Michael Jackson atau Kim Kardasian. Wakakkaa.. Untuk menuju landmark tulisan HOLLYWOOD di puncak bukit ternyata lumayan jugaaa loh. Untungnya kami naik mobil, kalau jalan kaki kebayang sangat gempor karena jalan yang mendaki dan meliuk-liuk. Saudara saya menggunakan GPS dan papan penunjuk arah sebagai patokan. Huaaa.. kalo di Jakarta, GPS suka gak tepat, ini akurasi GPS-nya 100% tepat dan jalannya paling pendek   Bukit ini memang bagus..dari atasnya kita bisa melihat pemandangan kota LA. Namun tulisan HOLLYWOOD menjadi sangat monumental karena keeksisan kota ini sebagai pusat perfilman dunia.

Setelah puas berfoto, kami menuju Hollywood Bouleverd untuk makan, berfoto di walk of fame artis-artis dunia dan melihat lalu lalang turis yang tidak ada habis-habisnya. Bisa dibilang, bulan Oktober adalah masa sepi untuk pariwisata Hollywood. Jadi lumayan sih, gak terlalu sesak. Bocorannya, tiket dari Indonesia ke Amerika pun terhitung murah di bulan ini.  Di sepanjang jalan ini banyak terdapat café-café terkenal, atraksi pertunjukan hingga museum seperti Ripley’s dan Madamme Tussaud. Demi menjaga kelangsungan kocek mengingat saya masih ingin mengunjungi beberapa negara bagian lain, berfoto di depannya pun sudah cukup bagi saya. Hahaha..

IMG_20141006_112247
Hey Mbak Berry!

Disini, saya sempat kaget juga ketika ada dua orang embak-embak berjilbab yang heboh banget dengan Bahasa Jakarta yang kental. Duh, dimana-mana emang orang Indonesia eksis ya, bo. Ternyata mereka adalah bagian rombongan desainer muslimah kondang Dian Pelangi, yang baru saja mengakhiri lawatannya di Amerika untuk acara New York Fashion Week. Ya, karena gak ketemu Angelina Jolie atau Brad Pitt, saya cukup bahagia sudah bisa berfoto dengan Mbak Dian Pelangi-nya. Thank you Dian, sukses selalu.

ketemu Dian Pelangi
ketemu Dian Pelangi

Setelah puas berfoto-foto, belanja souvenir (yang lumayan mahal), kami pun  mengkahiri perjalanan singkat ini. Hollywood mungkin hanya sebagian mimpi, tapi itu mimpi yang besar. Saya masih punya banyak  mimpi-mimpi lain (yang mungkin lebih kecil) untuk keliling Indonesia. Jadi teringat, tahun lalu pada saat umroh, saya berkali kali berdoa di depan ka’bah mohon kepada Allah agar bisa sampai di Amerika. Tentu saja masih banyak doa-doa lain ya.. Setahun berlalu, saya sudah hampir lupa permintaan itu, hingga akhirnya terkabul dengan scenario yang di luar dugaan saya. Tiba-tiba terpikirkan, harusnya saat itu juga berdoa: Ya, Allah saya pengen ke Raja Ampat dan Komodo dengan tiket diskon (Ngelunjak dotcom). Hahahaha..

bye Hollywood
bye Hollywood

Sampai jumpa di tulisan USAJourney berikutnya!

Hits: 2771