Orang kerja, gue liburan, orang liburan gue kerja. Yes, hidup memang harus antimainstream. Saya selalu bepergian saat orang-orang lain justru berkutat dengan pekerjaannya, begitu juga sebaliknya. Tapi di liburan natal yang panjang minggu lalu, akhirnya saya memutuskan untuk ikut merasakan eforia liburan yang mirip libur lebaran. Dan, tiba-tiba inget, beberapa bulan lalu saya sempat membeli 1 voucher untuk Oneday Trip ke tiga pulau di Kepulauan Seribu dari TukangJalan DotCom seharga Rp 83 ribu saja. Harga yang relatif murah (banget) untuk bisa menikmati pantai. Dan siapa bilang Pulau Seribu, jelek? Meski belum okeh banget sih…, Pak Ahok masih punya deretan pekerjaan rumah untuk menggarap salah satu potensi wisata bahari Jakarta ini.

Ok, back to the topic, akhirnya saya bersama dua orang teman, pagi-pagi sudah nongkrong di kampung nelayan Muara Kamal untuk menuju 3 pulau Kelor, Onrust dan Cipir. Yah, dalam bayangan saya dan hasil googling kebanyakan, jalan-jalan kesini paling hanya untuk menikmati pantai, main air dan yang paling penting, apalagi kalau bukan ngambil foto sebanyak-banyaknya, dan sesegara mungkin mengunduh ke jaringan sosial media yang kita punya. Sangat Mainstream! Kalau saya sih plus bonus bisa jadi nambah-nambahin tulisan blog. Hehehe

onrust-1

Setiba di Pulau Kelor sebagai pulau pertama yang kami kunjungi, anggapan mainstream tadi mulai berkurang. Di pulau yang pernah menjadi lokasi pernikahan dua artis ternama- ada Martelo, benteng peninggalan jaman Belanda yang bentuknya menyerupai Mini Colloseum di Roma. Tempatnya bagus buat lokasi foto-foto. Lokasinya pun hanya sekitar 30 menit dari Darmaga Muara Kamal. Asiknya, pulau ini kecil banget, ibaratnya cukup dengan pake TOA, kita sudah bisa manggil orang satu pulau. Benteng Martelo adalah bagian dari Pusat Arkeologi Pualu Onrust, yang sebenarnya merupakan kesatuan dari tiga pulau, yaitu Onrust, Kelor dan Cipir. Wujud dan bentuk Benteng Martello adalah  masih terlihat meski tidak sepenuhnya utuh. Di Onrust dan Cipir, kita bisa menemukan lebih banyak lagi reruntuhan bangunan yang nilai sejarahnya sangat tinggi. Onrust sendiri konon berasal dari kata Un-rest, karena pada jaman VOC, pulau ini sangat sibuk sebagai pusat docking kapal-kapal dagang masuk dan keluar Batavia.

20151227_093925

onrust 5
Sisa-sisa bangunan di Onrust

Puas di Pulau Kelor, kami menuju Onrust dan Cipir yang letaknya berkedekatan, akan lebih banyak lagi sisa-sisa bangunan peninggalan Belanda. Mulai dari perkantoran, penjara, rumah sakit bahkan asrama haji. Pulau Onrust dan Cipir dalam sejarahnya memang pernah beberapa kali dialihfungsikan mulai dari docking kapal, penjara (mirip-mirip Nusa Kambangan jaman sekarang) hingga pusat karantina haji pada tahun 1911. Disini juga ada makam Belanda yang antik namun sayang sudah banyak hancur akibar bencana alam dan memang tidak terurus.  Karena pernah juga dijadikan tempat pembunuhan tahanan politik dan perang serta tempat karantina orang-orang berpenyakit menular, gak heran kalau sekarang Pulau Onrust dikenal cukup angker… Hiiiiii…Syeeyeemm..

20151227_104722

Oh ya, jangan lupa mampir ke museum mini yang ada di tengah Pulau Onrust untuk tau sejarah lengkap pulau ini. Sayang, sebagian besar bangsa kita ‘agak males” belajar sejarah, dan tidak banyak yang berpikir bahwa sejarah itu punya nilai jual yang potensial banget sebagai potensi wisata. Kita jauh-jauh ke Amerikah, Eropah pasti disuguhi museum dan wisata sejarah bangsa mereka, Tapi sejarah bangsa sendiri??!! Hmm..ngaku aja dulu sering bolos pas pelajaran sejarah di sekolah.. :p

onrust 3Kalau dihitung ada empat kegiatan yang bisa kita lakukan disini. Selain foto-foto, makan-makan di bawah pohon nyiur dsini juga asyik banget. Kalau mau agak repot emang lebih enak bawa bekal makanan dari rumah, biar kerasa pikniknya. Buat yang mau mandi-mandi air laut juga bisa kok di Pulau Cipir. Meski garis pantainya tidak panjang, tapi pasir putih dan ombaknya yang tidak tinggi cocok buat mandi air laut. tentu saja bagusan disini daripada Ancol yang airnya sudah penuh polusi. Cuma yang masih minim adalah fasilitas untuk mandi atau shower untuk pengunjung. Nah, satu lagi.. buat yang suka melamun, ketiga pulau ini paling cocok buat mancing. Malah menurut saya tembok-tembok pembatas pulau memang dikhususkan buat para pemancing. Bahkan di hari biasa, tempat ini konon lebih ramai didatangi pemancing daripada wisatawan.

Yuk, kesana!

 

Hits: 855

Libur tiga hari kemarin mungkin menjadi salah satu masa paling nelongso bagi saya. Gimana gak, ditengah suntuk dan bingung ngadepin kerjaan baru yang TOTALLY baru saya pun bokek berat. Diiitung-itung saya juga sudah beberapa bulan gak naek pesawat yang norak norak bergembira (baca: pergi jauh-jauh). Harusnya saat-saat seperti ini yang dibutuhkan adalah liburan, semisal ngopi ngopi di pinggir pantai, baca buku sambil dengerin lagu mellow. What a perfect combination!

Sudahlah, terima nasib saja yaa sis… :p

Mendadak seorang teman mengajak jalan-jalan ke Taman Wisata Alam Mangrove di Pantai Indah Kapuk (PIK) -yang sekarang lagi hits menjadi alternatif wisata di Jakarta- yang memang nyaris tidak punya wisata alam. Sebenernya saya juga kurang paham ini jalan-jalan ngajak seneng bareng-bareng atau temen saya itu butuh hiburan karena lagi galau berantem sama pacarnya. Hahaha.,. gak penting!! Yang penting akhirnya saya bersama dua orang teman yang lain (jadi ber-empat) sangat menikmati tempat ini. Sabtu itu jalanan dari Bogor menuju Jakarta Utara lanjar jaya banget, kami hanya butuh waktu sekitar 1,5 jam (itu pun pake acara mampir-mampir dan nyasar salah keluar tol). Wohoo…

Pasti sudah banyak yang menulis tentang spot wisata yang terhitung baru ini, jadi saya rasanya tidak perlu menjelaskan detail tempat ini lagi. Saya melihat konsep taman ini menekankan ke edukasi pentingnya mangrove bagi ekosistem. Di awal masuk, kita akan melihat banyak bibit mangrove yang ditanam dan sebagian besar merupakan donasi dari berbagai organisasi baik perusahaan maupu lembaga pendidikan. Tempatnya sudah ditata cukup baik, hingga dilengkapi dengan penginapan berkonsep alam, restoran dan jogging track. Saking indahnya, kami sampai menjumpai sedikitnya lima pasangan calon pengantin yang berfoto prewedding disini.. Huh, sebel (jomblo sirik…)!

blog3 r

Jaman dulu, karena saya kuliahnya di Fakultas Perikanan Kelautan, istilah mangrove atau bakau mungkin hanya diketahui segelintir orang. Bahwa fungsi utama mangrove sebagai penahan abrasi pantai dan feeding ground, nursering ground bagi banyak biota laut bisa jadi hanya diketahui mahasiswa-mahasiswa belaka. Bisa jadi juga, jaman dulu yang “piknik” ke mangrove ya…cuma mahasiswa-mahasiswa pencari sampel laboratorium itu. Tidak terbayang kalau sekarang hutan mangrove bisa disulap jadi tempat jalan-jalan yang edukatif begini. Saya mulai bangga, pelan-pelan mata orang Indonesia mulai terbuka akan pentingnya mangrove bagi manusia.

ada masjid terapung yang bagus banget
ada masjid terapung yang bagus banget

Melihat hutan mangrove di tengah kota ini adalah kali kedua untuk saya. Kali pertama tahun lalu di Tarakan Provinsi Kalimantan Utara. Di PIK, sepertinya spesies mangrove yang tumbuh tidak sebanyak di Tarakan. Vegetasi tumbuhan dan spesies hewan lain pun jauh lebih banyak di Tarakan daripada di PIK. Tentu saja, di Tarakan luasnya juga jauh lebih besar. Sangat terasa sisa-sisa pencemaran laut di Teluk Jakarta sudah merusak sebagian ekosistem pesisir-nya.

when narsis is a must :)
when narsis is a must 🙂

Saya tiba-tiba teringat tesis saya tentang Mitigasi bencana di Banda Aceh. Pada satu kesempatan dosen saya bertanya, seharusnya penerapan mitigasi itu dilakukan bukan fokus di Aceh lagi, tetapi juga di daerah pesisir lain yang juga rawan, dan salah satunya adalah Jakarta. Aceh paling tidak sudah punya pola mitigasi bencana yang lebih baik dari daerah lain. Mereka belajar dari bencana mahadahsyat tsunami 2014. Sayangnya Aceh belum punya hutan mangrove di tengah kota seperti PIK atau Tarakan. Atauu, sekarang sudah ada? Hmm, semoga… Karena saya sudah dua tahun tidak “pulang” ke Aceh.. Lebih penting lagi, harusnya semua kota pesisir di tanah air punya hutan mangrove di tengah kota seperti ini. Selain buat lingkungan tentu saja, bisa jadi tempat piknik asyik yang mendidik. Bukan malah direklamasi terus dibikin apartemen…

Karena lingkungan bukan warisan dari nenek moyang kita,

tapi pinjaman dari anak cucu kita..

Hits: 1320

Ceritanya minggu lalu, saya “mupeng berat” dengan yang namanya pantai. Dengan kondisi kantong yang cekak dan waktu libur yang singkat, sepertinya tidak memungkinkan untuk melancong ke pantai-pantai indah di Bali atau Lombok atau Aceh Lon Sayang.. (How I miss Aceh..). Memang sih, dalam setiap perjalanan dinas ke luar ke daerah akhir-akhir ini sering ketemu pantai, tapi itu benar-benar cuma numpang lewat. Boro-boro menikmati pasir putih, mampir sekedar minum kopi pun kadang tidak sempat.

Entah dapat wangsit darimana, tiba-tiba terlintas ingin main ke Pulau Seribu. Yah, karena lokasi ini yang paling dekat dari Jakarta dan biayanya pun terjangkau. Sejujurnya agak setengah hati ketika merencanakan perjalanan ini. Katanya pencemaran perairan di Teluk Jakarta sudah melebar hingga Kepulauan Seribu. Tergambar di benak saya bagaimana dampaknya terhadap pantai-pantai di sekitarnya.  Dari hasil googling, saya nyaris belum menemukan tulisan dengan rekomendasi positif, kecuali pernikahan sepasang artis tenar di salah satu pulau yang katanya untuk mendongkrak pariwisata kepulauan ini.

kampanye lingkungan di Pulau Pramuka
kampanye lingkungan di Pulau Pramuka

Pagi hari keberangkatan di PPI Muara Angke, saya melihat jubelan manusia, penuh dari segala umur berdesak-desakan di PPI yang bau amis dan rela mengantri kapal tongkang kayu. Disini saya mulai berpikir, jika turisnya sebanyak itu berarti lokasinya memang menarik dong.  Fasilitas darmaga yang minim, nyaris tidak ada tempat menunggu yang layak, -pokoknya bener-bener gak nyaman- harusnya terbayar dengan lokasi yang dituju. Kalau tidak, ngapain capek capek dari subuh sudah nangkring disana. Di tahap ini saya sudah mau ngomel rasanya dengan Pemda DKI. Ini kok, turis lokal bahkan asing sebanyak ini, tapi fasilitasnya minim banget.  Memang sih, ada darmaga khusus di Marina Ancol, yang armadanya kapal cepat. Tapi itu biayanya hingga 3-4 kali lipat dibandingkan dari Muara Angke. Kapasitasnya pun terbatas.  Padahal wisata bahari harusnya adalah wisata massal, jadi fasilitas kapal kayu pun sepatutnya tetap dibuat lebih layak agar jumlah wisatawan juga meningkat. *Pak Ahok, tulisan ini dibaca yaa…

Pukul 07.30 tepat, kapal yang saya tumpangi meninggalkan Darmaga Muara Angke yang warna airnya sudah coklat tua, bau dan penuh sampah. Beuhhh… Dalam perjalanan yang kurang lebih dua jam itu, saya memilih duduk di geladak kapal, untung merasakan angin laut pagi yang sejuk.  Di dalam kapal kayu itu, hanya ada satu ruangan besar tanpa kursi yang dipadati wisatawan dan penduduk lokal dengan berbagai barang belanjaan mulai dari beras, buah hingga sayur-sayuran dari Jakarta.  Kebayang kan, gimana sesaknya. Bagi yang mungkin sering melancong ke luar negeri, kondisi begini pasti “gak banget”. Tapi saya yang orang kampung-an sih ini masih oke-oke aja.  Hehehe..

 

teduhnya Pulau Air

Menjelang pukul 10.00 WIB, kapal kami merapat di Darmaga Pulau Pramuka. Wah, disini saya sempet kaget. Ternyata darmaganya bersih banget, sangat beda dengan Darmaga Muara Angke. Airnya sangat jernih, bahkan salah satu sisi darmaga dijadikan Taman Miniatur Ekosistem Laut Dangkal. Darmaga kayu yang sangat eksotik ini membuat saya semangat, dan melupakan sedikit ketidaknyamanan dengan suasana sumpek Muara Angke.  Oh ya, Pulau Pramuka adalah salah satu dari 113 pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Dari jumlah itu hanya 9 pulau yang berpenghuni dan Pulau Pramuka ini adalah pusat administrasi pemerintahan Kepulauan Seribu. Kemudian kami diajak ke penginapan yang mereka sebut home stay (HS). Dalam asumsi saya, homestay adalah rumah penduduk yang disewakan. Namun ternyata itu definisi lama yang masih kebawa-bawa. HS adalah penginapan kecil layaknya bungalow yang kebetulan menghadap langsung ke pantai dengan fasilitas lumayan.   Sepanjang jalan menuju HS saya memperhatikan bahwa pulau ini cukup bersih, air lautnya yang jernih membuat kita bisa melihat langsung biota laut di saat pasang.  Nyaris tidak ada sampah.  Di sepanjang jalan mulai berdiri beberapa depot makanan. Ada pula billboard-billboard besar yang menyerukan pentingnya menjaga kebersihan laut. Tampaknya dipasang oleh NGO-NGO lingkungan yang bekerja disini. Meski masih cukup jauh dari sempurna, pergerakan menjadi wilayah ekowisata sepertinya sudah mulai terlihat.

Selepas sholat lohor, kami diajak ke beberapa spot di pulau kecil lain di sekitar pramuka untuk sekedar menikmati alamnya atau menyelam (snorkling). Waduh,

mejeng bentarlah, ya....
mejeng bentarlah, ya….

saya yang semula tidak berekspektasi berlebihan, merasa disuguhi panorama alam yang sangat indah  dan membuat saya sadar, masih ada lho…pantai indah di sekitaran Jakarta dan itu bukan Ancol! Airnya yang tenang, jernih, biota laut yang indah, udara laut yang sepoi-sepoi membuat perjalanan seharga Rp390 ribu (2H1M) itu sangat layak.   Karena rombongan saya sebagian besar belum pernah menyelam, agen travel kami memberi waktu untuk “belajar”, di perairan yang lebih dangkal. Itu saja pemandangannya sudah indah sekali.

Tidak itu saja, kami juga diajak melihat penangkaran ikan hiu sembari menunggu sunset di pulau nusa keramba. Sempat juga mampir ke Pulau Semak Daun, yang punya pasir putih meski garis pantainya tidak panjang. Malamnya kami masih disuguhi hidangan BBQ di pinggir pantai.  Pagi sebelum pulang, kami diajak mengunjungi penangkaran penyu sisik. Penyu-penyu yang sudah termasuk langka ini dipelihara hingga dewasa, sebelum akhirnya dilepaskan kembali ke habitatnya di laut lepas.  Disini juga ada pembibitan mangrove yang disumbang dari  berbagai korporat besar di negeri ini.  Saya yang sarjana perikanan, jadi ingat mata kuliah ini jaman dulu yang kebetulan dapet C *bangga… * Intinya, banyak lokasi yang cukup edukatif buat mereka yang membawa anak usia sekolah. 

sunset di tepi darmaga

Kesimpulannya saya mau bilang; jangan ragu-ragu ke Pulau Seribu. Kalau gak sanggup naik kapaltradisional dari Muara Angke, bisa dicoba dengan kapal cepat dari Marina Ancol, siap-siap saja kocek yang lebih tebal.  Buat yang baru pertama kali, ada baiknya menggunakan jasa agen travel yang sangat banyak di internet. Selain lebih murah (apalagi kalau kita berombongan), mereka juga sudah punya agenda dan bisa jadi guide untuk spot-spot menarik lain yang layak dikunjungi.  Kabarnya masih banyak pulau-pulau lain yang layak dikunjungi tetapi belum menjadi destinasi utama Kepulauan Seribu.  Pemerintah memang masih banyak punya tugas berat untuk menyulap wilayah ini menjadi benar-benar bernilai jual seperti pembenahan pelabuhan Muara Angke yang kondisinya memprihatinkan, fasilitas air tawar yang minim dan fasilitas-fasilitas penunjang lain. Namun, kekurangan yang ada sekarang gak boleh mengurangi niat kita kesana. Minimal, biar yang punya gawe itu jadi ngeh, kalau memang banyak yang harus dibenahi. Sekali lagi, kalau bukan kita, siapa yang bisa membuat negara kita yang indah ini lebih baik?!

 

Hits: 1359