0

cerita banjir..

Banjir besar di Jakarta beberapa waktu yang lalu menyisakan satu rentetan peristiwa yang masih selalu saya kenang. Cerita ini saya sempat bagi ke beberapa teman melalui email.


Alhamdulillah meski berat, jumat kemaren saya tetap ngantor. Seperti biasa pagi itu saya menumpang mobil teman dari Bogor menyusuri Jagorawi. Tiba di Cibubur kita gak bisa masuk Jakarta, jalanan padat merayap akibat genangan air  di wilayah Cawang. Baru kali itu  jalan tol yang biasanya satu jalur menjadi dua arah. Alhasil, kami pun memutuskan kembali ke Bogor dan tidak berniat masuk kerja hari itu. Namun setibanya di Bogor, saya malah  tetap ingin ke kantor mengingat ada hal penting  yang harus diselesaikan hari itu. Satu-satunya alternatif angkutan, apalag kalau bukan KRL

Ada sesuatu yg selalu menarik perhatian disetiap perjalanan menuju stasiun kereta. Di tengah gerimis  deretan tukang becak tua menawarkan jasa dengan melambaikan tangan mereka yang keriput, seolah memohon kita untuk menggunakan jasanya. Duh..udah berapa lama saya gak naik becak ?? Jarak dari tempat angkot berhenti sampai  depan stasiun mungkin cuman 100-200 meter, tapi saya memutuskan naik becak dari salah satu abang yg kelihatan paling tua tapi mempunyai otot otot  yang kuat. Riuh rendahnya lalu lintas Bogor karena banyaknya angkot dan hujan yang tiada henti mengguyur pasti membuat penghasilan mereka berkurang. Sempat terpikir, bagaimana keluarga mereka ? anak-anaknya sekolah gak ? Terharu, ingin rasanya menitikkan air mata.

Di KRL, seperti biasa saya jarang tidur. Disini ada sejuta tingkah pola manusia yang menarik untuk diamati. Ada sekian jenis pengamen baik solo, boysband, duet, trio sampe vokal group yg naik turun tiada henti, pedagang asongan atau anak anak jalanan yang gak jelas mau ngamen, jualan atau ngemis. Atau pedagang buah tua renta yg seharusnya udah masuk masa pensiun, karena KTP-nya pasti udah KTP seumur hidup (Hihihi…) Di tengah hujan yang masih mengguyur,.semakin jauh dari Bogor, kayaknya saya merasa semakin jauh, dari sesuatu yang berjudul “bersyukur” atas semua yg udah Allah berikan selama ini. Meskipun ke kantor hari ini penuh perjuangan, sejatinya saya jauh lebih beruntung dari mereka.

Sesampainya di kantor,  ternyata kantor sepi karena banyak karyawan yang terjebak banjir. Padahal seharusnya hari itu ada ada program “Cleaning Day” alias kerja bakti.  Nasi box dan snack tergeletak dimana-mana. Kantor saya terletak di daerah Senayan mempunyai belasan cabang di seluruh Jakarta dengan jumlah total karyawan hingga 1300 orang. Hari itu Cleaning Day dilakukan di semua kantor. Duh, lagi-lagi saya terharu. Miris. Ingat tukang becak tua tadi, inget manusia-manusia KRL yg bergulat dengan penatnya hidup.. Sementara disini, di Senayan, ribuan makanan tergeletak tak terjamah. Di luar banjir air, disini banjir makanan!.. Kalau bisa, ingin rasanya makanan-makanan itu saya bawa dan membagikannya ke mereka yang saya ceritakan tadi.  Sedih..

Sorenya, banjir masih menjadi isu penting warga Jakarta.  Beberapa rute kendaraan umum masih ditutup karena genangan air. Saya sampai bingung mencari rute yang paling tepat dari Senayan menuju Bogor. Masak gak balik-balik? Saya kan bukan Bang Thoyib. Hihihi. Setelah melakukan riset dengan meneliti semua rute dan angkutan secara mendalam dengan bukti bukti otentik (halah..), akhir nya jam 8 malam saya memutuskan naik metromini dari Senayan menuju Lebak Bulus bersama seorang temen kantor yang anak Bogor juga. Dari Lebak Bulus menuju Parung dan akhirnya ke Bogor. Jauh memang, tapi Alhamdulillah lancarrr banget… Gak nyangka, padahal saya sudah siap seandainya sampai rumah lebih dari jam 12 malam. Ternyata jam 22.30 saya sudah tiba dengan selamat.

Thank God!! Terima kasih untuk semua yg sudah Engkau beri buatku hari ini. Semuanya membawa hikmah bahwa bersyukur harus selalu ada dalam setiap langkah manusia.

vikhasy

Leave a Reply