Piknik Triple 888 ala Melbourne


Jalan Jalan / Wednesday, December 14th, 2016

Hayo, kapan terakhir kali kamu piknik? Iyaa, piknik! Makan dan bercengkerama di alam terbuka, duduk santai di atas tikar dan menikmati makanan yang dibawa dari rumah. Saya sih, kalau tidak salah sekitar satu setengah tahun lalu bersama beberapa orang teman dari Bogor menuju Gunung Padang di Cianjur. Di tengah perjalanan, kami singgah tepat di tepi kebun teh, menikmati nasi goreng berbumbu Aceh yang dibawa dari rumah. Nikmat banget! Lupa deh sama makanan mall.

Nah, ceritanya minggu lalu saya menyempatkan piknik di alam terbuka. Tidak tanggung-tanggung, kali ini pikniknya di Melbourne, Australia. Jauh banget yaaa!! Setelah nonton Coldplay, muter-muter di Melbourne (yang ini akan saya tulis terpisah), seorang teman mengusulkan untuk piknik di sebuah taman di tepi danau bernama Lysterfield Park, sekitar 45 menit dari pusat kota Melbourne. Jadilah sore itu kami membeli kebutuhan piknik termasuk daging halal di sebuah toko produk-produk Timur Tengah. Niatnya pengen barbeque (bbq) di tengah rimbun pepohonan sembari memandang danau.

blog4

Disana disediakan meja-meja persegi yang besar lengkap dengan bangku yang melingkar sehingga kita tidak perlu gelar tikar lagi. Hebatnya, di beberapa bagian sudah disediakan perlengkapan bbq yang lengkap dan kita tinggal pakai. Wow! Kirain harus bawa perlengkapan dari rumah (kali aja rempong kudu bawa arang segala…)

blog20

Kami memilih satu meja yang paling dekat dengan sebuah tungku bbq.  Ternyata yang piknik, bukan hanya saya dan teman-teman. Di samping kami, berkumpul satu keluarga lengkap dari nenek hingga cucu yang tengah bertukar kado. Di sisi lain, sekumpulan anak muda yang nampaknya sedang reuni, asyik dalam gurau canda. Di ujung sana masih ada satu keluarga dengan dua anak balita. Ramai memang, tapi tetap tenang dan masing-masing kelompok memiliki privacy.

Di sekeliling taman, terdapat jogging track, terlihat beberapa orang sedang berolahraga, walau suhu saat itu hanya sekitar 15 derajat celcius saja. Tepat di depan mata terbentang danau buatan, yang membuat pemandangan makin cantik. Selain untuk estetika, ternyata danau itu juga merupakan sumber pembangkit listrik.

blog11

Di arah berlawanan dengan danau, ada tanah lapang dan hutan yang masih alami dan itulah habitat asli kanguru. Disini kanguru dibiarkan hidup bebas, loncat loncatan kesana kemari. Sedang asyik ngobrol, tau-tau seeokor melintas di depan kami. Cepat-cepat saya ambil kamera. Sayang, loncatannya lebih cepat daripada bidikan kamera Saya. Hahaha..

blog5
kanguru yang kabur

Tempat ini memang disediakan oleh Pemerintah Melbourne. Tidak hanya Ruang Terbuka Hijau (RTH) semua fasilitas seperti meja dan kursi taman, tempat bersantai, tungku bbq dan toilet yang bersih. Bahkan disediakan perahu-perahu untuk berkeliling danau yang sangat friendly terhadap para disable.

blog7

blog1
fasilitas toilet

Sambil bbq-an, Doddy teman kami yang memang menetap di Melbourne bercerita tentang dukungan pemerintah Australia terhadap keharmonisan keluarga.  Australia menerapkan prinsip Triple delapan (888), yaitu delapan jam bekerja, delapan jam istirahat dan delapan jam pleasure. Sangat jarang ada karyawan overtime alias lembur, karena bayar tenaga kerja untuk lembur muahaalll banget. Tiba-tiba teringat para karyawan bank yang senangnya lembur dan kalau gak lembur, berasa gak kerja. Heheheh..

blog2
rombongan piknik

blog10

Di Brisbane dan Sydney -mall yang tutup jam 6 sore saja- sudah cukup bikin saya shock! Di Jakarta, biasanya jam 7 malem baru nongkrong di mall. Lebih parah lagi di Melbourne, toko-toko rata-rata tutup jam 4 sore! Jadi hampir tidak ada istilah anak mall disini. Belum lagi, transportasi yang mapan membuat tidak ada kamus nongkrong di mall, sembari menunggu macet berakhir. Setelah bekerja selama delapan jam, pilihannya ya cuma satu: pulang berkumpul dengan keluarga.

Kata Doddy, semuanya merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memenuhi prinsip triple 8 tadi. Pemerintah konsisten mendukung komunikasi dan interaksi keluarga, salah satunya dengan tidak ada lembur dan tidak banyak keramaian yang buka sampai malam.

blog11

Saya salut, di tengah maju dan canggihnya fasilitas negara ini, pemerintah “masih percaya” bahwa keluarga adalah pondasi utama majunya bangsa  dan meyakini piknik sebagai salah satu cara mendekatkan hubungan keluarga. Komunikasi dalam keluarga didukung oleh aturan jam kerja dan fasilitas yang memadai. Bener sih, kata sebuah riset, berinteraksi di alam terbuka akan membuat kekerabatan makin baik.

Bahkan pemerintah Australia setiap tahun memberikan dua kali voucher gratis jalan-jalan domestik bagi setiap keluarga. Sambil bercanda, Doddy bilang; kalau ada pasangan yang mau pisah, coba pindah deh ke Melbourne, dijamin bisa baikan lagi.  Tidak heran angka perceraian disini cukup rendah.

blog12

Herannya kok kesadaran begini malah banyak di negara maju ya… Di Jakarta (baca: maskot Indonesia), ruang terbuka hijau tidak banyak, boro-boro deh yang lengkap dengan alat bbq, yang bisa digunakan untuk berkumpul saja sangat jarang. Kita yang dalam kenyataannya “lebih tradisional” malah lebih senang berkumpul di café-café ber-AC dan pusat perbelanjaan. Rasanya bangga kalau bisa nongkrong di café mahal, padahal disana pun seringnya masing-masing sibuk dengan gadget masing-masing.

blog13

Kalau saja Jakarta lebih banyak RTH dan masyarakatnya suka menikmati alam, artinya keluarga makin harmonis. Artinya lagi,keluarga akan mencetak generasi-generasi yang madani yang siap memajukan bangsa. Wah, panjang ya, dampaknya. Ternyata duduk-duduk di taman bersama keluarga bukan cuma menghabiskan waktu, tapi cara kita menjaga keutuhan bangsa.

Bagaimana, kapan kita piknik?

 

(Visited 472 times, 1 visits today)

14 Replies to “Piknik Triple 888 ala Melbourne”

  1. Memang prihatin dengan keluarga yang kumpul makan bareng, tapi sibuk sama gadget masing-masing. Nah, murid-murid saya punya rule, Kak, kalo ngumpul mereka kumpulin gadget di sudut ruangan. Jadi mereka bisa ngobrol hehe

  2. Justru logis sih mbak kalo negara maju lebih peduli sama social welfare n lingkungan (memberikan RTH, public park, dll), soalnya kebutuhan primer, sekunder, dan tersiernya rata2 udah terpenuhi. Kalo di negara berkembang kayak Indonesia, prioritasnya masih memenuhi kebutuhan dulu. Ya hampir sejalan sama teori Environmental Kuznets Curve lah, meskipun masih debatable…

    1. Kalau tentang kebutuhan primer dan sekunder saya setuju. tp kebiasaan utk prefer hang out di mall, kan bisa jadi indikator yg beda.. Despite of emang fasilitasnya masih minim..

  3. Perlu ditiru tuh prinsip 888 nya. Piknik kayak gini tuh hiburan paling murah. Kalau di sini, baru ngegelar tiker udah disamperin kang aqua, gak lama kemudian lewat lagi kang tahu T.T

  4. Eh kok asik banget ya mau piknik udah disediain alat-alatnya.
    Salut sama prinsip Triple8, tapi harusnya tetep ada hiburan malam sih. Susah nanti buat orang-orang otak kanan macam saya yang senengnya nongkrong di coffee shop sampai tengah malem wkwk

  5. wakakaka… Indonesia mah tiada hari tanpa lembur. waktu abis aja terus. kok bisa yak? lembur kadang gak ada bayarannya, cuma dapet makan. wkwkwk.. itu pun sering kebuang waktunya buat hal gak penting, nunggu atasan, nunggu kerjaan temen, ngerjain kerjaan temen, dan lain2… -_-

    btw… ini lucu banget yak…. kalo di Jakarta sih sebenernya banyak ya Mbak RTH. Di Monas salah satunya. banyak pohon kalo di pinggir, bisalah dipake buat beginian.

  6. Asik banget pengelola Taman menyediakan tempat untuk barbeque. Untuk piknik bersama teman-teman hingga bawa bahan makanan saja jadi nggak usah rempong pula bawa peralatan masak dari rumah. Apalagi kalau habis nonton konser musik terus Nongkrong dan barbeque an di taman bersama teman-teman, kunjungan ke Australia pasti punya kesan sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *