Sandal Ilang di Manila…


Jalan Jalan / Friday, March 7th, 2014

Februari lalu Saya beroleh kesempatan “melancong” eh…dinas ke Filipina selama seminggu. Ceritanya,  Pemerintah Filipina tertarik untuk mengadopsi sebuah aplikasi sistem informasi yang digunakan di masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh-Nias pasca tsunami.  Kita semua tahu, beberapa wilayah Filipina di akhir 2013 lalu terkena bencana topan hayyan (dalam bahasa lokal disebut Yolanda) yang kerusakannya tidak kalah besar dengan tsunami 2004 lalu.  Ini kali pertama saya mengunjungi kampungnya Imelda Marcos. Pengalaman yang lumayan mengesankan, karena gak nyangka aja, sesuatu yang pernah kami lakukan di Aceh dulu dipandang begitu penting sampai-sampai ingin diadopsi negara lain. Plok…plok…plok… Disana kami melakukan serangkaian knowledge sharing  dan presentasi tentang kita dulu ngerjain apa saja di Aceh terutama pemanfataan TI untuk mengurus lebih dari 800 donor dan NGO. *pyuhhh.. ngomongnya aja udah susah yah. Tapi topik ini kayaknya terlalu serius kalau harus dibahas disini. Hehehe…

Mahfud, salah satu teman yang juga ikut kesana, sempat mencatat beberapa obyek wisata menarik yang mungkin bisa kita kunjungi disana. Saya sendiri sih, gak kepikir bikin catatan, karena setahu saya destinasi wiasata Filipina kalah tenar dibanding negara Asean lain seperti Malaysia dan Thailand yang sangat gencar berpromosi. Eh, setiba disana… *ya, namanya juga dinas ya, bo*..boro-boro jalan, agenda yang dijadwalkan oleh pengundang sangat padat. Kami nyaris keluar hotel di pagi hari dan selalu kembali menjelang tengah malam.  *capekk deh…

Namun saya masih mencatat hal-hal kecil yang memorable di Manila dan Makati, yang sayang kalau tidak di-blog-in. Hihihi.. Pertama tiba di Bandara Ninoy Aquino, agak kaget juga sih.. kok bandara internasional-nya  biasa banget. (kalau gak enak dibilang jelek…). Malah jauh lebih keren beberapa bandara lokal di Indonesia. Tidak ada kesan gemerlap, fasilitas pun terhitung biasa-biasa saja bahkan bisa dibilang minim. Kami mendarat menjelang malam, memasuki Manila yang macet dan tidak ada aura gemerlapnya, saya hanya berharap cepat sampai hotel dan tidur.  Diperjalanan Saya mengamati kendaraan umum, yang mirip bis-bis seperti Mayasari di Jakarta dan eh…ada satu yang cukup mencolok namanya Jeepney. Bentuknya seperti jip panjang tetapi sudah dimodifikasi hingga bisa muat sekitar 20 penumpang dengan posisi duduk berhadapan persis seperti naek angkot. Konon, mobil ini aslinya buatan Amerika Serikat untuk Perang Dunia II, namun sekarang sudah diproduksi sendiri oleh Filipina. Jeepney dicat berwarna warni dengan ornamen yang meriah persis angkot di pedesaan.  Unik, karena sangat kontras dengan penampilan Manila dan Makati yang termasuk kota Metropolitan. Di hari-hari terakhir, saya baru mengetahui bahwa ada Jeepney yang Full AC!! Namun posisi duduknya udah gak kayak angkot, tapi seperti bus kopaja.  Ongkos naik kendaraan lucu ini lumayan murah, untuk jarak paling jauh hanya sekitar Peso 7 (sekitar Rp2500).

Yuk, naek Jeepney (sumber: livesharetravel.com)
Yuk, naek Jeepney (sumber: livesharetravel.com)

Tidak ada yang terlalu istimewa dari Manila dan Makati. Manila, ibukota Filipina sepertinya beradu dari kota tradisional menjadi kota modern. Urbanisasi masih nampak memenuhi sudut-sudut kota. Jalanan macrettt, cret, cret, cret. Belum lagi supir-supir di Manila dan Makati mungkin les nyetirnya sama supir Medan semua. Gaya nyetirnya bikin pusing dan mual.  Huekkk…

Pusat pemerintahan sebagian besar terpusat di Manila. Harus diakui, di banyak sisi, kantor pemerintahan kita memang lebih keren dibanding Filipina. Sementara itu, Makati memang di-setting sebagai pusat bisnis. Letaknya kurang lebih 20 km dari Manila. Ini bedanya, pusat bisnis dan pemerintahan sudah terpisah, gak tumplek blek di seputaran segi tiga emas seperti di Jakarta. Secara konsep, Makati layaknya SCBD atau Kawasan Mega Kuningan di Jakarta tetapi dalam areal yang lebih luas.  Bangunan tingginya sih belum sebanyak Jakarta, tetapi yang saya perhatikan, Makati dan sekitarnya mulai ditata sebagai kawasan bisnis yang nyaman dan bersahabat dan terpadu. Mungkin ini yang bisa dicontoh Jakarta.

Macet di Bonifacio
Macet di Bonifacio

Nah, yang paling gak enak di Manila atau mungkin juga di negara non muslim lainnya adalah susahnyaaaa…cari makanan halal!  Miss Piggy dimana-mana, mencari menu halal yang tidak terkontaminasi mahluk imut itu susah luar biasa. Kalau udah mentok, apa boleh buat, ke “kedai kopi internasional” itu dan makan roti! Alhamdulillah karena saya memakai jilbab, orang Filipina yang baik dan ramah selalu mengingatkan kalau yang saya pilih bukan makanan muslim.  Beruntung, di Makati kami sempat ketemu Restoran khas Indonesia yang enak banget, sebagai alternatif makanan halal selain restoran Timur Tengah dan India.  Di sela-sela waktu kerja yang padat kami sempat makan malam ke satu kawasan yang namanya Paluto. Konsep tempat ini persis seperti Pasar Ikan Muara Baru dan Muara Angke di Jakarta Utara. Kita beli ikan sendiri trus dimasakin sama restorannya.  Bedanya, karena diperuntukkan khusus buat turis, tempatnya lebih bersih dan jauh dari bau amis seperti di Muara Baru. Makanan di tempat ini pun Insya Allah terjamin halal.  Hihihi. Dan.. harus diakui kalau masakannya sangat enak!! Yang kurang enak, cuma kurang sambel terasi doang…! Lucunya pelayan-pelayan restorannya hampir semuanya “waria” 😀

Memilih ikan segar di Paluto
Memilih ikan segar di Paluto

Di Manila, kami juga melewati Golden Mosque di kawasan muslim Manila dan sempat sholat disana. Masjid yang katanya terbesar di Manila ini menjadi kebanggaan warga muslim di Filipina. Tapi saya agak kecewa juga sih, selain letaknya yang agak mblusukan alias masuk-masuk lewat pasar tradisional, masjid ini nyaris tidak terawat baik.  Bayangin, tempat wudhu aja dikunci, dan tempat sholat perempuan tidak dilengkapi sajadah.  Sebagai orang muslim, sedih dan miris juga rasanya. Nama kerennya Golden Mosque gak sebanding dengan wujud masjidnya. Tentu jauh lebih bagus Masjid Kubah Emas di Depok. Maybe its called when moslem become a minority.

Manila Golden Mosque
Manila Golden Mosque

Secara bahasa, sejauh yang saya tahu (atau menurut saya), penduduk Filipina berbahasa Inggris paling baik diantara negara-negara Asean seperti Malaysia, Singapura, Indonesia apalagi Thailand! Pengucapannya dan strukturnya pun sangat jelas, tidak banyak terkontaminasi oleh bahasa lokal kecuali pada pengucapan seperti kata function yang seharusnya dibaca “fang-syen” tetapi dilafalkan dengan: fang-tion”. Artinya setiap kata yang berakhiran “ion” akan diucapkan bulat-bulat menjadi ‘ion”.  Namun selebihnya, penguasaan Bahasa Inggris sangat jamak di masyarakat Filipina. Mereka terbiasa menggunakan dua bahasa sekaligus, Inggris dan Tagalog sebagai bahasa sehari-hari.

Hal menarik lain yang sempat saya rekam adalah ternyata banyak kesamaan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Tagalog lho.. Contohnya mereka menyebut pulang dengan “balek” yang artinya sama dengan kata balik di kita. Mereka menyebut payung dengan payong, kanan dengan kanan, sabon untuk sabun, bato untuk batu dan sepato untuk sepatu. Hmm… katanya sih nenek moyang mereka memang satu buyut dengan orang Melayu kebanyakan. Namun yang benar-benar “lost in translation” adalah mereka mengartikan “tunggu sebentar ya..” dengan “sandal Ilang” Sumpah, ini saya yang ini gak ngerti asal-usulnya dari mana! Yang saya tahu, sandal ilang kebanyakan dialami jamaah sholat jumat yang kelamaan menunggu khotbah selesai… Hahaha…..

(Visited 393 times, 1 visits today)

6 Replies to “Sandal Ilang di Manila…”

  1. kak Vika, kayaknya besok aku akan bernasib sama dengan mu. soalnya perginya utk conference juga dan kebeetulan temanya mirip2, tentang disaster management

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *