Transit di Beijing, tanpa Boring.


Jalan Jalan / Friday, April 12th, 2019

Kalau ada orang yang seneng transit lama-lama, itu mungkin saya. Setiap berkunjung ke US menengok keluarga, saya sering mencari penerbangan dengan transit yang lama. Alasannya, tiketnya biasanya lebih murah plus ada kesempatan untuk keluar bandara jalan-jalan! Lumayan kan, bisa nambah cap paspor tanpa harus “sengaja visit”.

Selama ini, Saya sudah pernah transit dalam waktu hampir atau lebih dari 10 jam di beberapa negara seperti Malaysia, Singapura (yang dua ini, bosenlah ya, nggak usah diceritain), kemudian Seoul, Tokyo, Riyadh hingga Beijing. Dari semua itu, ada yang transit tengah malem, jadi nggak bisa keluar. Ketika di Jepang, sudah kebayang foto-foto gemes buat instagram, taunya sebelum berangkat saya flu berat. Ya, sudah.  Waktu mendarat di Narita, Saya justru mencari hotel jam-jam-an buat tidur enak. Cuaca yang saat itu yang hanya 2 derajat celcius juga tidak mengijinkan buat jalan-jalan.

Nah, minggu lalu dalam perjalanan New York-Jakarta dengan menumpang Air China, ada transit di Beijing selama 11 jam. Horee! Sebelumnya saya sudah googling tentang aktivitas long haul transit disini, dan Alhamdulillah ada free Visa transit untuk penumpang pesawat di seluruh bandara China selama hingga 144 jam. Sayangnya, di web resmi Pemerintah China, Indonesia tidak disebutkan sebagai salah satu negara yang eligible untuk mendapatkan visa transit on arrival tersebut. Belajar dari pengalaman di Seoul beberapa tahun lalu, saat landing di Beijing tetap saya coba dan tetap di-approve! Yeayy!!

Ini dia step-by step buat kalian yang akan transit di Beijing dalam waktu lama.

  1. Saat mendarat, langsung menuju bagian jalur ke imigrasi. Lakukan scan paspor di mesin-mesin yang tersedia
  2. Tanyakan pada petugas berseragam, dimana lokasi permohonan free visa on arrival
  3. Isi form, ikut antrian
  4. Balik ke gate imigrasi untuk cap paspor seperti prosedur biasa.
  5. Yess! China, I am coming!

Scan Paspormu…
Counter Apply Visa

Pertanyaan paling penting, mau kemana sih selama transit?! Banyak pilihannya, bahkan kalau kamu transitnya hingga 15 jam bisa ke Great Wall! Transit 10 jam pun bisa, namun sepertinya harus menyewa kendaraan, karena kalau naik angkutan umum (MRT), pasti banyak nyambung-nyambungnya dan memakan waktu relatif lebih lama. Ada juga tour khusus untuk penumpang transit, tapi harganya cukup mahal. Sila googling ya. 

Nah, tulisan kali ini khusus buat kalian yang mau transit “swasembada” alias jalan-jalan sendiri dengan budget yang ditentukan sendiri.

Setelah keluar dari imigrasi, cari counter Tourism Information. Jangan kaget, waktu saya kesana, hanya ada satu orang yang bisa berbahasa Inggris, so buat nanya-nanya pun harus antri.

Tanyakan kira-kira begini: I have about ten hours before my next departure this afternoon, could you give me any suggestion what is good place to go?! Saya diusulkan ke dua tempat yaitu Beijing City Center dan Forbidden City. Di pusat informasi ini, kamu juga bisa tanya-tanya transportasi ke lokasi tujuanmu. Saya memilih Forbidden City yang bisa ditempuh dengan MRT atau naik taksi. Kalau naik taksi kurang lebih 30 menit saja (tanpa capek-capek) dengan biaya kurang lebih 200 Yuan (sekitar Rp400 ribu), atau naik MRT (yang 3 kali nyambung, jalan kakinya panjangggg… dan capek) dengan biaya PP 60 Yuan (sekitar Rp120 ribu). Tentu saja saya memilih naik MRT, selain nggak punya duit, pengen ngerasain juga naik MRT di China, yang ternyata nggak beda dengan KRL Jabodetabek saat jam kerja. Rrrrr. Bedanya tentu saja, jalurnya sudah buanyaakk banget, nggak beda jauh dengan ke-crowded-an Subway di New York City. Hmm, bikin makin kagum sama China.

Tiket MRT Beijing

Oya, jangan lupa tukar uangmu ke yuan, ya! Nah, yang nyebelin ternyata penukaran uang di Bandara Beijing cukup menguras kantong, berapa pun nilainya akan dipotong sekitar USD 9, lumayan banget sih, tapi karena butuh, ya apa boleh buat. Kenapa perlu cash? Karena kayaknya nanggung aja, kalau beli minuman 5-10 Yuan doang harus pake kartu. Untuk beli tiket MRT pun baiknya cash, karena harganya relatif murah, repot amat kalau harus kena kurs CC atau debit yang mahal.

Menuju Forbidden City

Sebelum berangkat, ada baiknya minta peta rute MRT yang diberikan gratis di Tourism Center. Jangan kaget, kalau semuanya ditulis dalam huruf Han Zi. Biar gak stress (karena nggak bisa bacanya.. wakakakka), minta petugas tourism center menandai stasiun dimana kamu harus turun dan nyambung kemana. Di setiap stasiun, banyak ditempelkan peta yang sama tapi ada huruf latinnya. Saya selalu foto lokasi dan nama stasiun tujuan, supaya nggak perlu nanya-nanya lagi pas mau jalan balik ke bandara. Ke Forbidden City, harus transit 2 kali, berarti ada 3 stasiun yang harus diingat dengan baik.

Sepanjang perjalanan, Saya memilih berdiri dekat pintu, yang ada lampu penanda setiap stasiun. Jadi, nggak bakal kelewatan stasiun tujuan, karena setiap kereta mau berhenti lampunya akan kelap kelip. Hahaha, cara goblok tapi efektif kan? Memang ada voice over pemberitahuan stasiun berikutnya, tapi karena dalam dialek dan bahasa China, kadang-kadang nggak kedengeran dengan jelas. 

Pas sampai di Tiananmen Square yang merupakan pintu masuk ke Forbidden City, saya shock! Antriannya puanjangggg bangettt.. Beneran kali ada ribuan orang, dan lucunya sebagian besar justru orang lokal, mungkin lokalnya dari luar Beijing ya, kan tau sendiri, China adalah salah satu negara terluas dan terbanyak penduduknya. Antrian harus memasuki pemeriksaan security, x-ray dan menunjukkan tanda pengenal. Bagi warga lokal, seperti scan KTP, tapi kalau turis hanya melihatkan paspor. Kalau liat antriannya, pokoknya bikin males deh.

Bersama saya, seorang bule Itali yang juga penumpang transit, nekad ngajakin saya “cut the lane”. Katanya gini kira-kira dalam bahasa Indonesia: “Udah, kita motong aja, kita nggak ngerti juga bahasa-nya dan besok juga nggak ketemu lagi!” Awalnya ragu-ragu, tapi kami nggak punya pilihan. Ya sudah.. motong deh, dengan santainya. Eh, ajaibnya si orang-orang China itu nggak komplen loh, cuma ngeliatin doang. Mungkin sesama mereka sih bikin “ghibah”. Tapi bodo amatlah ya.. nggak ngerti juga mereka ngomong apa. *Nyengir Suster Ngesot*

Tiananmen Square

Ternyata Forbidden City sangattt amaat luas mencapai hampir 720 Ha. Bangunan peninggalan Dinasti Ming ini memiliki lebih dari 900 bangunan. Ada bangunan free untuk didatangi, ada juga yang berbayar karena telah dijadikan museum. Saking luasnya, sepertinya tidak mungkin dikelilingi dalam satu hari. Oya, di dalam Forbidden City nggak ada kendaraan loh, jadi benar-benar harus kuat jalan kaki, makanya angan lupa bawa air minum kalau kesini. Forbidden City ini ditetapkan oleh UNESCO sebagai situs warisan budaya dunia yang wajib dijaga.

Jangan kaget juga, ada ribuan manusia yang berkunjung kesini setiap harinya walaupun bukan akhir pekan. Oleh karena itu, jalur jalan-jalannya hanya dibuat satu arah, jadi pintu masuk dan keluar sangat amat jauh dan berlawanan arah. Kalau dua jalur, bisa-bisa tabrakan kayak Tragedi Mina jaman dulu. Di sisi jalan keluar banyak restoran dan toko-toko souvenir dengan nuansa yang China banget. Pas buat jadi lokasi foto.

Sayangnya, waktu saya terbatas buat mengeksplor lebih jauh. Setelah puas foto-foto, saya pun kembali ke bandara dengan rute yang sama seperti perginya. Sebenernya, masih cukup sih waktunya kalau mau main ke City Center, tapi kaki udah terlanjur pegel dan tegang plus belum tidur nyaman setelah perjalanan 14 jam dari Amerika Asia.

Btw, kalau ada yang nanya soal jaringan data, yes di China hampir semua aplikasi buatan Amerika di-blok. Jangan harap bisa Whats-App-an, apalagi bikin insta strory kalau beli kartu dan menggunakan wifi lokal. Saya sih kemarin, buka roaming internasional telkomsel pasca bayar, Rp120 ribu untuk 1 GB data, biar tetap bisa eksis. Alternatif lain, bisa sewa modem wifi bawa dari tanah air yang sekarang lagi hits.

 Thank you Beijing. Sehari yang sungguh menyenangkan.

 

 

 

 

(Visited 2,288 times, 9 visits today)

27 Replies to “Transit di Beijing, tanpa Boring.”

  1. Wah, seru banget nih Kak. Saya suka triknya nih, sengaja nyari yang transitnya lama buat nambah pengalaman explore negara lain. Sejak punya paspor, entah mengapa saya jadi lebih suka baca-baca destinasi luar negeri. Norak ya. Hehehehe.

  2. Woalah. Jadi ternyata meski nggak ada di daftar bisa tetap dapet free transit visa ya, kak. Mau cobain juga deh kalau ada kesempatan. Aku sama kayak kamu, suka transit lama-lama. Kalau pun nggak bisa ke luar, eksplor bandaranya aja udah seneng banget. Asal bandara gede ya, hehe.

    KARENA MEREKA JUGA SUKA NYELAK ANTRIAN KAK XD

  3. Berarti klo transit di beijing tdk perlu apply visa china dari indonesia yaa.. bisa visa on arrival aja..thanks infonya mba vika

      1. Mbak, saya juni kmrn transit ga Boleh keluar bandara. Transit 22 jam. Anak dan suami Boleh keluar bandara krna pegang passpor Australia

  4. Jadi inget pengalaman “transit” di Singapura. Gara-gara clear Imigrasi cuma buat ke kantin arhirnya terdampar di Changi 16 jam. Pengalaman pertama pula haha.

  5. maaf mau tanya, Indonesia kan ga masuk dalam daftar 72-Hour Visa-Free Transit in China. Tapi kok masih bisa lolos ya?
    apa ada pengecualian untuk warga indonesia ya?

    1. Nah itu juga saya nggak paham, mbak/mas. Rejeki kali ya.. Ada juga pembaca blog ini, yang bilang dia ditolak. Kemungkinan krn saya punya Visa USA dan perjalannya memang dari USA. Kejadian yg sama waktu saya transit di Korea beberapa tahun lalu.

  6. Terima kasih infonya, mba Vika.
    Saya dalam waktu dekat ke Tokyo transit di Beijing 8 jam an. Kira-kira bisa nggak ya ke Forbidden City seperti mba Vika? Transit di Beijing nya 2x pulang pergi nih.

    Oh iya, review naik Air China gimana mba?

    Thank you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *