sosmed bullying = kurang kerjaan


Opini / Wednesday, March 5th, 2014

Sebelum bekerja di pemerintahan, saya sempat bekerja di perusahaan swasta bahkan NGO. Kala itu, pemikiran saya sangat mainstream seperti masyarakat lain pada umumnya. Saya doyan mencerca pemerintah, gampang banget mencerna apa kata media (yang menurut saya pasti benar). Sayang, saya tidak sempat berpikir untuk ganti warga negara melihat Indonesia tercinta yang “carut marut” ini.  Hehehe. Mungkin baiknya adalah media sosial tidak sebanyak sekarang, jadi  saya tidak latah menyebarkan tentang “kebobrokan” yang saya rasa itu.

imagesSaya bersyukur, akhirnya Tuhan mematahkan asumsi itu dengan memasukkan saya ke dunia ini. Mungkin sudah sedikit terlambat sih, karena baru lima tahun terakhir saya ada disini, saat sudah jaman reformasi. Namun pelan-pelan saya menyadari bahwa Indonesia ini negara besar yang sangat kompleks. Apalagi di urusan tata pemerintah yang sudah kenyang beranak pinak dengan warisan rezim 32 tahun yang kita sama tahu.  Tanpa mengurangi rasa kritis saya, ternyata urusan di pemerintahan tidak semudah omong-omong kritisisasi media  dan masyarakat. Ok, kita gak usah ngomongin soal kerumitan ini, bukan saya deh ahlinya.. Hehehe..

Fenomena baru sekarang muncul. Maraknya sosial media membuat masyarakat punya hobi baru. Mem-bully pemerintah, pejabat-pejabat tinggi negara bahkan Presiden dan keluarganya.  Awalnya sama seperti yang lain, saya pikir ini cuma lucu-lucuan saja. Tapi makin kesini, makin banyak yang latah dan tiba-tiba berasa berhak men-judge tanpa punya pengetahuan yang cukup.  Kasus  yang lagi hits belakangan adalah instagram Ibu Ani Yudhoyono, first lady of Indonesia.  Berawal dari hobi fotografinya, media ini akhirnya justru ditunggangi menjadi ajang pem-bully-an.  Sayangnya, Bu Ani (yang notabene adalah Ibu Negara) mungkin tidak siap dengan dampak media sosial. Beberapa  komentar pedas yang kadang malah “gak nyambung” dengan konteks fotonya ditanggapi Ibu Ani dengan tidak kalah pedasnya. Wah, rame deh media! Akhirnya dihubung-hubungkan dengan banyak hal dalam pemerintahan SBY yang sebenernya gak ada hubungannya.  Lebih tololnya lagi, ini dimanfaatkan oleh banyak penggemar sosial media yang “dasarnya gak ngerti apa-apa” untuk latah menyebarluaskan dengan format yang beraneka ragam.  Bersyukur, setelah saya amati  90% komentar di instagram Bu Ani adalah komentar positif, jadi sebenarnya populasi lapisan masyarakat yang  “masih waras”  lebih banyak daripada yang “kurang kerjaan “. Hehehe..

Saya pribadi, memilih berkomentar offline  seperti menulis di blog ini dan tidak ikut-ikutan menyebarkan dengan membuat screen capture atau ikut mengedarkan apa yang sudah ada di sosmed.  Buat apa toh? Sebagai orang yang (harusnya cukup intelek *ehmm..) saya sadar, melakukan hal tersebut sama dengan memperkeruh suasana. Banyak golongan lain yang gampang tersulut dengan hal-hal begini dan ikut-ikutan bikin rame. Cari tahu lebih banyak sebelum melakukan hal-hal serupa. Kalau cuman tahu 3 ya, gak pantes dong ngomong seolah-olah tahu 10. Lagian, banyak orang yang terlalu gampang menyimpulkan sesuatu itu benar hanya karena foto-foto yang dibuat oleh orang-orang kerjaan dan sengaja dibuat untuk menunjukkan bobroknya negara ini. Banyak yang tidak sadar, semakin rajin mereka ikutan mem-posting hal-hal seperti ini, semakin banyak dunia luar yang melihat jeleknya Indonesia. Di sisi lain, saya kok miris juga ya.. Indonesia sebagai salah satu negara pengguna smartphone terbanyak di dunia, ternyata pengguna-nya tidak se-smart handphone-nya. Ada apa-apa langsung di telan mentah-mentah kemudian disebarkan tanpa berpikir panjang benar tidaknya beritanya serta dampak sosialnya.

Duh, daripada repot-repot nambah kerjaan menyebarkan yang begitu-begitu, cobalah menanam kepercayaan yang lebih kepada pemerintah. Saya masih percaya pemerintah (dengan segala kekurangannya) selalu berusaha terbaik buat negara tercinta ini. Kepercayaan masyarakat sebenarnya salah satu faktor kunci agar pemerintahan lebih baik. Pun termasuk percaya dengan orang-orang yang menjalankan pemerintahan. I love Indonesia!

(Visited 125 times, 1 visits today)

2 Replies to “sosmed bullying = kurang kerjaan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *