credentialism or intellectual reflection?


Obrolan / Monday, November 11th, 2013

One challenge in our academic world today is ‘credentialism’ – focusing on gaining credentials rather than depth in intellectual reflection (Yanuar Nugroho)

Agak tergelitik membaca twit Mas Yan diatas. Soalnya saya memang akhir-akhir ini ketemu dengan orang-orang yang mengejar gelar, posisi dan status atau karena ada  kewajiban/keharusan jadi master, jadi doktor makanya mereka melanjutkan sekolah. Saya beberapa kali berbincang dengan adik-adik saya yang masih duduk di bangku kuliah sarjana. Mereka bertanya; kapan baiknya mengambil S2? Saya yang melanjutkan S2 setelah beberapa tahun bekerja, dengan mantap berkata: setelah kamu bekerja profesional minimal dua tahun.  Saya ini masih agak konservatif, soal beginian. Menurut saya yang namanya kuliah master itu ya, memang harus “master” dalam arti sebenernya. Langsung melanjutkan S2 disaat baru lulus S1, ibaratnya cuma “naik kelas” alias pindah sekolah. Padahal master yang sebenarnya adalah bentuk kemapanan kita akan satu bidang keilmuan yang prakteknya lebih penting darimana teorinya. Makanya perlu kerja dulu buat dapet bentu praktek yang lebih cihuy. Gak percaya asumsi saya ini benar? Coba deh cari-cari syarat beasiswa master (apalagi yang di luar negeri), hampir selalu ada ketentuan harus bekerja minimal 1-2 tahun. Bahkan ada beasiswa yang ditujukan untuk kalangan professional di level manajerial. See?!

 

download dari google
download dari google

Sepanjang pengalaman kerja saya, saya sering sekali menemukan master karbitan kalau gak mau dibilang “master abal-abal” Bolehlah, dia S2 dari universitas ternama (ah, duit juga kan ujungnya..…) Tapi karena sebelumnya belum pernah bekerja professional, performa-nya sangat berbeda dengan master yang sudah punya pengalaman kerja. Makanya saya masih percaya pengalaman tidak bisa berdusta. Sangat lebih afdol kalau punya pengalaman kerja yang baik, didukung juga dengan tingkat akademis yang cukup. 

 

Itu baru yang master, gimana yang doktor? Ada yang begitu? Jawabannya : Ada banget! Bagi saya, doktor adalah tingkat akademis formal tertinggi. Jadi orang-orang yang sudah sampai pada level itu adalah orang-orang yang “hampir sempurna” tingkat keilmuannya.  Seperti kata twit Mas Yan diatas, memang bagian ini lebih banyak datang dari kalangan akademis. Saya sih belum survey statistiknya, hehehe.. Tapi saya sempat menemui beberapa kasus yang serupa. Buat apa jadi doktor? Buat naik pangkat? Bukan naikin status? Buat keren dimata orang? Gak kuliah capek-capek kalau memang sudah menghasilkan sesuatu buat masyarakat, ntar-ntar kan juga bisa dapet Doctor Honoris Causa. Hahahaha…Sangat disayangkan kalau keadaan begini justru datang dari kalangan akademisi yang akan jadi gudang ilmu bagi mahasiswanya. Hmm, tidak semua sih…saya juga menemukan banyak orang-orang muda yang sudah punya gelar PhD, tapi memang mereka cerdas,berwawasan luas dan yang paling penting menghasilkan sesuatu yang lebih daripada orang-orang yang tidak PhD. Saya salut akan hal itu. Gelar dan ijazah itu formalitas belaka, lebih penting lagi, mau melakukan apa dengan gelar yang banyak selain karena tuntutan-tuntutan sosial? Mereka yang sudah sampai disitu, harusnya bergerak maju mau ngasih sumbangsih apa buat orang banyak. Bukan sekedar kuliah, lulus dan wisuda bertoga.

Kebanggaan sesungguhnya adalah dengan ilmu formalitas yang banyak, kita juga bisa berbuat lebih di bidang yang memang jadi spesialisasi kita. Satu lagi, sekolah tinggi-tinggi memang pintu pembuka masa depan yang lebih baik, tapi hal itu tidak selalu berbanding lurus dengan baik tidaknya kita di mata orang lain.

 

(Visited 139 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *