Berhenti Jadi Orang Gajian
Obrolan Opini

Berhenti Jadi Orang Gajian

“Apaaa? Lo yakin mau resign dari Mandi** ? Gila aja lu, masuk kesana kan susah. Sekian banyak yang tes, belum tentu keterima. Nah, lu tinggal duduk manis aja kok mau keluar?!”

“Ah, sayang banget kamu resign, fasilitasnya kan oke tuh.. Hidupmu dan keluarga terjamin sampe pensiun. Kalau terjadi apa-apa, asuransinya kan lengkap…”

Blah…blah…blah…dst…dst..

Itulah sebagian komentar orang-orang di sekitar saya, ketika saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan terakhir di sebuah bank terkemuka. Padahal keputusan ini sebenarnya  sudah saya pikirkan lebih dari 6 bulan sebelumnya, bukan hanya dalam satu dua malam saja.

Lalu kenapa resign? Oke, here we go…

Kalau orang bilang saya kutu loncat, sebenenarnya nggak salah-salah juga sih. Tapi benar juga tidak 100% benar. Yes, betul selama hampir 10 tahun bekerja, saya memang sering pindah-pindah, tapi semua itu karena memang hampir semua sifat pekerjaannya yang project based. Sebelum bekerja di Aceh (yang kemudian merubah separuh hidup dan pandangan hidup saya), sama seperti kebanyakan orang, saya mencari kerja permanen dengan karir dan masa depan yang terjamin hingga pensiun. Tidak neko-neko, walaupun hidup dengan jam biologis seperti terpenjara. Bangun sebelum jam lima pagi, berjibaku dengan kemacetan ibukota dan jam delapan pagi sudah duduk manis di meja kantor.

Setelah jungkir balik dan malang melintang, saya menyadari bahwa sudah masanya kembali ke pekerjaan yang “secure”, yang menjamin keamanan hidup saya hingga masa tua. Kemudian terdamparlah saya di salah satu lembaga keuangan terbesar di tanah air. Kata orang itu merupakan prestasi membanggakan, karena bagi sebagain orang untuk masuk kesana – terbilang sulit. Hmmm…

Namun setelah dijalani, semua terakumulasi pada satu titik dimana banyak kondisi “given” yang tenyata tidak bisa saya ubah dan mungkin ke depannya tidak akan mendukung kebebasan saya berekspresi. Kata teori, jika kamu tidak bisa mengubah duniamu, maka ubahlah dirimu sendiri. And, Yes I did it! Semua yang saya rasakan di pekerjaan sebelumnya justru memacu semangat saya. Bukan semangat buat melamar pekerjaan lain, namun semangat untuk pindah kuadran, menjadi pekerja mandiri. Selain itu, saya juga punya keinginan lain untuk lebih bermanfaat buat orang lain melalui apa yang saya kerjakan.  Sejatinya arti hidup terbaik adalah berbagi dan bermanfaat buat orang lain, kan?

Saya bersyukur dikelilingi banyak teman-teman hebat yang memberikan masukan, semangat bahkan dukungan nyata bahwa saya bisa kok berdiri di kaki sendiri. Banyak potensi dari diri sendiri yang bisa saya gali, dan bisa dijual!  Basicly, saya ini orang yang gak pedean, tapi dukungan mereka membuat saya yakin untuk membuat sesuatu yang beda. Memang masih ada juga temen yang memandang sebelah mata, terutama yang berpikir bahwa kerja kantoran dengan gaji bulanan-lah yang akan membuat hidup lebih bermasa depan. Lucunya, justru banyak diantara mereka yang saban hari bahkan hingga bertahun-tahun berkeluh kesah tentang pekerjaannya, tetapi tidak berani mengambil keputusan (resign), karena berjuta kekhawatiran dan pertimbangan. Saya meyakini sebenarnya yang membuat berat adalah kekhawatiran dan pertimbangan itu sendiri bukan bagaimana setelahnya. Kuncinya cuma satu kok; love your job, or do a job you love (look and fight for it). 

Saat mantap memutuskan resign, yakinlah semua jalan akan terbuka sendiri selama kita tetap berusaha. Toh hidup itu pilihan. Kalau dipikir-pikir, saya juga keluar dari zona nyaman (yang sejatinya tidak nyaman) hanya bermodal doa, keyakinan dan rasa optimis bahwa banyak cara mencari nafkah tanpa harus harus me-Nuhankan mesin absen dan menghamba-sahaya pada atasan.

g08_large

Lalu mau ngapain? Bersama beberapa orang teman, saya mencoba merintis sebuah bisnis jasa dengan core digital tourism campaign dan modalnya nyaris nol. Alhamdullillah makin kesini makin menunjukkan kemajuan, biarpun banyak juga kerjaan yang serabutan. Hehehe..  

***

Sekarang, setelah hampir dua bulan dijalani, saya baru merasakan betapa komitmen terhadap diri sendiri adalah hal yang paling sulit di pekerjaan ini.   Saya terbiasa bekerja 9 to 5 membuat pola hidup teratur dimana pekerjaan boleh tidak selesai yang penting bisa kembali ke rumah tepat waktu. Dalam periode itu, saya bekerja dari pagi ke sore bahkan kadang hingga malam jika lembur. Kadang boleh bolos dengan berbagai alasan tetapi tetap gajian tepat waktu di akhir bulan.

Kini ritme hidup saya pun nyaris semua berubah. Saya memang tidak perlu menunggu dan berdesak-desakan di bis atau kereta setiap pagi. Saya bebas menentukan kapan saya harus keluar rumah. Kalau ada meeting pun, saya boleh menentukan sendiri misal tidak mau di Senin pagi yang terkenal macet. Ternyata, itu justru menjadi tantangannya. Dari sekian banyak jadwal, saya harus pandai-pandai mengatur waktu agar semua bisa dijalani dan pekerjaan bisa selesai tepat waktu.  Kelihatanya asyik ya, bisa bangun siang, leyeh-leyeh dulu dan tidak cemas akan telat karena macet atau gangguan KRL. Wah, kenyataannya gak gitu-gitu amat. Merubah kebiasaan pekerja kantor menjadi pekerja mandiri sungguh tidak mudah. Dibutuhkan komitmen dan disiplin yang tinggi agar tidak ada waktu yang terbuang percuma. Betul, kelihatannya memang santai, namun terlihat santai malah gampang membuat terlena.

Sulit loh tetap menjaga mood dan semangat saat bekerja di rumah dimana jarak antara meja kerja, TV dan tempat tidur hanya sejengkal. Apalagi kita bekerja tanpa absen dan tanpa mandor alias bos. Tinggal diri sendiri harus pandai-pandai menjelma menjadi bos yang mengingatkan diri sendiri juga di setiap deadline. Meski tidak punya “bos langsung”, kalau punya beberapa klien dalam satu waktu lumayan repot juga, karena tanpa disadari mereka semua adalah bos. Hmmm, bayangin aja kalau punya lebih dari satu bos gimana….

Membagi fokus adalah tantangan lain yang tidak kalah sulitnya. Saat bersamaan kadang saya harus menulis dua laporan dengan topik dan sumber  yang sangat berbeda. Tiba tiba ada teman yang menawari pekerjaan baru dan proposal pun harus segera disusun. Semua menarik, sayang kalau diabaikan. Masalahnya, saya ini agak perfeksionis, pengennya semua bagus, bukan sekedar jadi dan numpang lewat. Maka dari itu, saya harus benar-benar mengerti konteks yang membutuhkan waktu. Pusing deh… Hehehe..  Tidak heran, kadang saya bisa bekerja hingga larut malam. Tidak kalang penting, di sisi income  yang tidak ada lagi kamus tanggal gajian, membuat kita harus lebih lincah  mengatur pengeluaran.

Urusan sosialisasi beda lagi. Selain memang ada sosialisasi yang berhubungan dengan pekerjaan, ngopi-ngopi bersama teman-teman pun sekarang menjadi sesuatu yang cukup pelik. Sebagian besar teman-teman saya adalah karyawan yang bisa nongkrong after office hour. Sebaliknya, saya malah sering punya waktu saat office hour, karena sering punya janji meeting di sore hari dan mood kerjanya memang lebih baik di malam hari. Beberapa teman bilang; kok lu tambah lebih susah ditemui, sejak gak punya kantor?! Begitulah.

***

Biarpun penuh hal-hal baru, saya menikmati sekali hari-hari saya kini.  Cuti bisa kapan saja, bahkan bekerja sambil liburan pun tetap menyenangkan. Di pantai bisa dapat inspirasi, sambil ngopi bisa nulis bahkan sambil ngobrol pun bisa ketemu rencana kreativitas baru. Pelan tapi pasti saya yakin bisa hidup dari apa yang saya suka, apa yang bisa saya lakukan dengan bahagia dan apa yang saya pilih dari hati. Kata Rene Suhardono; when we put our heart on our works, dont be surprised when you hear cash register rings..

Ada satu kutipan dari seorang tokoh: Berbeda dengan orang pintar, orang idiot percaya bahwa kreativitas adalah syarat mutlak untuk mencapai kekayaan finansial. Kreativitas tidak muncul saat kita sedang dan serius, kreativitas muncul saat kita sedang bersantai dan bersenang-senang. Cari waktu luang, pergilah ke tempat favorit bersama-sama teman-teman terbaik Anda dan bersenang-senanglah. *So, Am I idiot as well ?

(Visited 453 times, 1 visits today)

Indonesia Lover & Penikmat kopi

12 thoughts on “Berhenti Jadi Orang Gajian”

  1. Kak Vikaaa, aku juga sudah ancang2 mau resign dari BPJ” tapi mau cari jalan tengah dulu sebelum akhirnya mutusin utk berhenti. Iiiih, salut bgt sama kakak.

  2. Beneraan ka.. jd pegawai itu bukanlh hal yg mengasyikan apalg pegawai negara..
    Tp gpp jg deh setidaknya dkrg udh tau jg apa yg mereka kerjakan pergi pagi pulang sore..
    Heehee..

  3. tetep semangat kakak… 😀
    apapun keputusan tetep ada resiko dan harus dihadapi ya.. selamat udah berhasil pindah quadran dengan bisa “idup” dari passion nyak… 😉

    gw pun baru ngerasain skrg ini, yang dikira dulu bisa bebas ngatur waktu, kapan mau kerja, kapan mau liburan tanpa pusing ngitung cuti sisa brapa. punya waktu fleksibel buat anak2, dibalik itu semua selain cuti tanpa batas, waktu kerja pun tanpa batasnya. bisa hahahihi jjs di office hour. tapi mesti dibalas saat waktunya oranglain molor kita masih mesti ‘kerja’… but i love what i do right now. *maap numpang curcol*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *