menikmati “ketuaan” Malaka


Jalan Jalan, Obrolan / Saturday, January 4th, 2014

Setelah beberapa kali ke Kuala Lumpur, saya rasanya sudah enggan sekali ke Malaysia. Sekarang mind set liburan saya adalah ke tempat yang tenang dan adem ayem, dimana kita bisa duduk santai dengan secangkir kopi panas dan membiarkan waktu berjalan perlahan. Satu ketika  di TV, saya menonton liputan kota tua Malaka yang nampaknya sangat menarik. Mulailah saya berburu informasi tentang kota ini di Embah google. Cita-cita itu akhirnya kesampaian juga di awal 2014 ini. Tepat tanggal 1 Januari, saya berangkat dari Jakarta dan tiba di LCCT Kuala Lumpur pukul 20.30 (waktu Malaysia). Sudah cukup malam memang… Dari informasi yang saya dapatkan,  beberapa traveler blogger rata-rata menyarankan masuk ke Kota Kuala Lumpur dulu baru menumpang bis ke Malaka.  Ternyata, dari LCCT sendiri ada lohh…bus langsung ke Malaka, namun bus terakhir hanya hingga pukul 21.00. Bagi yang landing di KLIA, masih ada bus hingga pukul 23.30.  So, saya masih kebagian bus terakhir meski pake lari-lari. Biar aman, ada baiknya bus sudah di-booking online dengan harga sekitar 20 RM. Karena saya beli di tempat, dapat harga lebih mahal (RM 24).

Dua jam lam perjalanan ke Malaka sungguh tidak terasa. Saya tiba di guest house yang sudah dipesan secara online tepat pukul 23.00. Guest house ini berada di pinggir Sungai Melaka yang menjadi pusat peradaban kota ini. Harganya juga lumayan murah, buat dua malam hanya menghabiskan RM 110 (sekitar Rp 390.000,). Saya masih sempat naik ke balkon untuk melihat lampu-lampu di sepanjang sungai.  Tempat yang sangat inspiring buat yang sedang nulis laporan tahunan (seperti saya saat ini). Hahaha…

Menyusuri Sungai Melaka
Menyusuri Sungai Melaka

Pagi harinya, petualangan dimulai. Saya menyusuri jalan Kampung Pantai, Kampung Jawa, Hang Jebat (dikenal dengan nama Jonker Street) hingga tiba di Gereja Merah atau yang sering disebut The Stadthuys, Benteng Formosa dan Gereja St Paul yang letaknya di puncak sebuah bukit kecil.  Kota yang ditetapkan Unesco sebagai salah satu World Heritage ini menawarkan atmosfer abad 17-19 yang sangat kental. Bangunan-bangunan tua terpelihara rapih dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Sepertinya memang dijaga karena pemerintah Malaysia melarang untuk mendirikan bangunan modern di lokasi ini. Malaka dulunya pernah dijajah oleh Portugis, Belanda dan Inggris. Karena itulah, perpaduan arsitektur Eropa, Cina dan Melayu menjadi eksotika lain kota kecil ini.

deretan bangunan tua Jonker Street
deretan bangunan tua Jonker Street

Menariknya lagi, Sungai Melaka yang membelah kota ini sangat bersih bahkan wisatawan dapat menyusuri sungai ini dengan menumpang Melaka Cruise seharga RM 15 untuk perjalanan sekitar 45 menit. Saya sempat mencoba wahana ini di malam hari. Lumayan seru, menyusuri sungai dengan lampu-lampu yang meriah dan pemandu kapal yang menjelaskan sejarah setiap bangunan yang kami lewati.  

Benteng Formosa
Benteng Formosa

Melengkapai “ketuaannya”, Malaka menyajikan banyak museum. Dalam catatan saya, tidak kurang ada lima museum yang saya lewati yaitu Maritime Muzium, Youth Muzium, The Baba Nyonya Heritage Muzium, Straitz Chinese Jewelry Muzium dan Tun Teja Muzium. Dari peta yang saya dapatkan di  konter informasi wisata, ternyata masih ada museum-museum lain di sisi lain Malaka. Hmm, menarik buat yang doyan pengen tahu sejarah atau doyan barang antik. Sayangnya saya tidak terlalu berminat..karena bangunan museum umumnya bangunan “agak” baru, sementara saya lebih senang hunting bangunan-bangunan kunonya. Hehehe..

Yang tidak kalah penting, adalah soal kuliner. Jonker street selain menawarkan souvenir-souvenir buat oleh-oleh, disini juga pusat kuliner khas Malaka. Sama seperti gedungnya, kuliner Malaka pun perpaduan masakan Eropa, Cina dan Melayu. Di sore hari, coba masuk ke café di pinggir Sungai Malaka sambil menikmati cendol khas Malaka. Yummy..  Wah, sayangnya lupa foto makanannya nih..  Disini saya juga sempat menemukan durian crepe yang sering kita sebut juga  pancake durian. Enakk….. Oya, di Malaka memang banyak ditawarkan varian makanan dari durian loh… Satu yang saya sesalkan adalah, tidak sempat menikmati warung kopi di sini.  Nyesel banget deh, apalagi saya memang penikmat kopi. Sayang waktunya mepet dan saya kali ini traveling dengan Ibu saya yang gak suka ngopi…Ya udah…terpaksa ngalah.. Hiks..

 

20140102_110339
satu sudut kota

Satu lagi, Malaka ini kotanya santai banget. Toko-toko baru buka sekitar jam 10-11 siang. Sebagian besar juga sudah tutup menjelang gelap. Tidak ada hingar bingar hiruk pikuk ala kota besar. So, Malaka is so recommended buat yang butuh liburan penenangan diri dan mencari inspirasi yang murah dan dekat!

 

 

(Visited 422 times, 1 visits today)

2 Replies to “menikmati “ketuaan” Malaka”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *