Kalau kamu berpikir mereka yang hebat adalah mereka yang “menjual” CV nya kemana-mana lalu, bekerja di kantor bergengsi dan mendapatkan gaji besar, mungkin pikiran itu harus dievaluasi ulang. Di banyak kesempatan, akhir-akhir ini saya bertemu banyak teman yang bagi saya lebih hebat dari mereka yang punya CV mentereng. Mungkin secara akademis mereka biasa-biasa saja, tidak masuk golongan Top 10 di kampusnya, boro-boro deh.. masuk golongan mahasiswa juara berbagai lomba. Oya, tulisan ini bukan teori tentang enterpreneurship (yang membosankan). Ini cuma uneg-uneg saya ke diri sendiri yang belum bisa mengoptimalkan potensi diri sendiri. Lah, kalau yang lain dengan semua keterbatasan mampu,.. kok saya nggak? Saya sempat bercita-cita berjualan sepatu online yang sepatunya dibuat customize. Saya sudah sempat survei sentra industri pengerajin sepatu di Bogor. Saya memilih sepatu, karena benda ini adalah hobi saya. Katanya kalau mau mulai masuk bisnis kreatif, mulailah dari hobi. Kenyataannya sampai tulisan ini dibuat rencana itu seperti selalu menjadi wacana yang jalan di tempat. Nah kalau ini, alasan utamanya adalah malas! Jangan ditiru!!









? Darimana tuh asalnya ? Setelah gue pikir-pikir, mungkin jaman dulu banget waktu yang namanya HP baru muncul, bunyinya dimana mana Bit..bit… Katro banget gak sih ?? Secara sekarang udah realphonic kaleee… masa harus balik lagi ke masa monoponic?? Ohh..God!!! Hahahhaha… Belum lagi si Vivi kena marah sama petugas bandara. Gara-gara waktu masukin barang di roda dengan deteksi XRay, Vivi ikut-ikutan masukin jaket dan tas kecilnya (persisi kayak di bandara Indo). Ternyata disana gak perlu.. Si petugasnya dengan tampang gak ramah sama sekali bilang : Tak paya-lah itu makcik…. Tak paya… (bingung gak loo ??)




