Antara Jokowi dan Raim Laode


Obrolan / Saturday, October 15th, 2016

Jokowi sudah tahu kan siapaa? Yaa taulaahh… keblinger aja kalau ada anak Indonesia yang ditanya siapa Presiden RI masih jawab Pak Harto. Hehehe.. Tapi Raim Laode? Apa semua orang sudah tahu? Pasti banyak yang belum kaann?? Coba deh sebelum lanjutin baca tulisan ini, kalian masuk Youtoube sebentar dan search “Raim Laode”.………… Gimana ? Udah ketemu? Udahhh? Lucu kaann??! Dia anaknya baik kok…bukan cuma lucu. Serius.

Oke, silakan baca juga tulisan saya tentang Raim yang sempat juga dimuat di Kompasiana. Dengan “berat hati”, sejak kemunculannya di TV, saya ngefans-banget sama Raim. Eh, gak berat hati deng…beneraan serius ngefans.. (takut ditimpuk Raim). Padahal aslinya saya jarang nonton TV! Gara-gara tulisan dan segala macam urusan yang sangat duniawi akhirnya kita ngobrol via sosmed. Penasaran dengan wujudnya, gimana (Raim, pisss!!! Jangan maraahhhhh), kita janjianlah buat ketemu. Sekalian sih, saya juga pengen nanya-nanya tentang Wakatobi sebagai salah satu daerah yang ingin saya kunjungi untuk sebuah pekerjaan.

Dan pada sebuah hari yang mendung (namun tak berarti hujan), kami merencanakan bertemu setelah sholat Jumat di sebuah tempat di bilangan Jakarta Pusat. Pagi-pagi saya sudah kontak Raim untuk mengingatkan janji tersebut. Baru sekitar 20 menit rekonfirmasi dengan Raim, jreng..jreng..jreng, saya mendapat telepon dari Istana (beneran Istana Negara, bukan Istana Boneka) untuk makan siang bersama Jokowi. Ini Beneraann Joko Widodo  yang RI 1. Ini baca deh ceritanyaaa disini, jadi saya gak perlu cerita panjang lebar lagi.

Di tengah suhu badan yang panas dingin, linglung, bingung dan kacau karena dipanggil Presiden, saya telepon Raim. 

“Im, aduhh…sorry banget, aku dapet undangan dari Istana untuk makan siang dengan Jokowi”. Dari ujung telepon, reaksi Raim kayaknya terdiam sesaat. Dia pasti mikir baru kali ini ada yang “berani-berani-nya” batalin janji sama calon artis besar Indonesia, dan alasannya mau makan siang dengan Presiden!! Hayoo, pernah gak ada yang janjian dibatalin gara-gara Presiden??!  Hahahaha… Sesaat kemudian Raim bilang: What??? Tidak apa-apa, kaka.. Nanti kita bisa atur ulang. Saya mengerti pasti kaka pilih Jokowi . Saya cuma ketawa, yaaa iyaalah, Im.. saya pasti pilih ketemu RI 1! Hahahaa… 

Namun singkat cerita, sore itu saya tetap bertemu Raim -yang kebetulan lagi kosong jadwalnya- dan bersedia menunggu Saya. Sosok aslinya ternyata jauh sekali dari panggung megah. Kalem, lebih banyak diam dan tidak seheboh di panggung.  Meskipun tidak banyak ngomong, saya tahu Raim cerdas, banyak kata-katanya yang singkat tapi tajam. Saya kaget, waktu  dia bilang ingin melanjutkan kuliah S2 di jurusan Sejarah seperti S1-nya bukan jurusan-jurusan keren seperti marketing, teknologi atau manajemen yang diminati banyak orang. Alasannya, justru karena banyak orang yang tidak mau mendalami sejarah, makanya dia mau belajar sejarah. Dengan semua kesederhanaannya kita bercerita tentang banyak hal, dari musik, seni, Jakarta yang kejam, pariwisata, teknologi, politik hingga mantan (uhuk…)

***

Cerita pendek tentang Raim tadi, menjadi pembuka saya untuk turut serta di Kompetisi Blog Review SUCA 2 ini. Seperti yang saya tulis pada paragraf sebelumnya, saya sendiri jarang banget nonton TV. Stand Up Comedy di hampir seluruh TV mungkin satu-satunya acara selain talkshow berita yang saya ikuti. Saya juga tahu SUCA awalnya dari Youtube. Dan Raim-lah yang membuat saya bergegas pulang ke rumah setiap hari lebih cepat demi menonton SUCA. Walaupun banyak juga tayangan SUCA yang saya tonton lewat Youtube. Maklumlah, pekerja seperti saya kadang waktunya memang tidak bisa diprediksi pukul berapa bisa tiba di rumah.

Saya memang tidak dapat me-review tayangan SUCA dari awal sampai akhir. Namun keinginan saya bertemu langsung dengan Raim seharusnya bisa menjadi tolak ukur bagaimana saya mengagumi acara ini. Raim memberikan warna pada komedi yang renyah, cerdas, khas Indonesia dan mengandung kritik sosial. Saat banyak anak muda mengidolakan selebgram yang hidupnya jauh dari norma-norma Indonesia pada umumnya, Raim justru membawa pesan bahwa Indonesia ini kaya akan budaya dan alam yang indah. Dia pede dengan ketimurannya. Dia bangga akan asalnya. Sesuatu yang hampir langka dengan anak muda yang kini makin kebarat-baratan. 

Ternyata jadi stand up comedian itu tidak mudah loh! Bukan perkara gampang berdiri di muka umum, ngomong sendirian, harus lucu dan lebih lebih lagi harus punya muatan mencerdaskan kehidupan bangsa (ciyeee). Karena itu saya  percaya semua komika yang terpilih di SUCA pasti orang-orang dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Itulah yang membedakan komika dengan penyanyi. Kalau penyanyi, dia bisa menyanyikan lagu yang sama di setiap konsernya. Kalau komika membawakan materi yang sama itu-itu saja, pasti penontonnya bosan. Kerennya SUCA memiliki barisan mentor-mentor berpengalaman mampu membuat penampilan komika tetap segar setiap minggu bahkan setiap hari. 

Meski tidak sempurna, SUCA sangat patut menjadi salah satu talent show terbaik di Indonesia.  Yah, alasannya itu. Bukan hanya menghibur, program ini bisa jadi inspirasi untuk anak-anak muda yang kreatif. Dengan 42 peserta yang datang dari seluruh Indonesia dari berbagai kalangan dan kelas sosial ekonomi, SUCA adalah wadah baru bagi ide-ide kreatif generasi muda.  Tidak hanya Raim, saya bangga karena peserta SUCA sebagian besar datang dari daerah yang memiliki misi mengenalkan daerahnya. Ternyata komedi bisa menjadi bahasa yang sangat universal. Kamu yang besar di Papua dan kamu yang lahir di Aceh, disatukan untuk bersama-sama melihat luas dan indahnya Indonesia hanya dari satu panggung. Luar Biasa!

Walau masih ada kekurangan, ya namanya juga program TV yang tidak terlepas dari bisnis untuk mencari profit. Tapi Saya yakin kedepannya program ini masih akan terus diminati. Tentu saja harus dibarengi kerja keras Tim Indosiar. Maju terus, jadikan komedi bagian dari bangsa yang sudah “makin tidak lucu” ini. Jadikan lebih banyak seniman komika yang membuat Indonesia lebih segar dan berwarna. Dan paling penting jadikan generasi bangsa yang penuh inspirasi dan makin cinta negerinya.

 

 

 

(Visited 249 times, 1 visits today)

2 Replies to “Antara Jokowi dan Raim Laode”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *