Saya lupa menghitung, ini cerita ke berapa tentang “ngopi” di blog ini. Ketika ngopi sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari, rasanya kurang afdol jika belum mampir ke Saudagar Kopi di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Saya bersama seorang teman menemukan tempat ini tidak sengaja. Letaknya agak terhimpit sesaknya pertokoan di Jalan Sabang. Luas tokonya pun cukup kecil, kalau penuh rasanya tidak akan lebih dari 15 orang pengunjungnya. Saya paling suka duduk di sofa di dalam, tempatnya asyik buat ngobrol berlama-lama tanpa terganggu dengan lalu lalang pengunjung lain. Kalau tempat favorit itu terisi, saya memilih duduk di teras luar. Meski agak terganggu dengan pengamen, tempat ini juga sering diisi para perokok. Namun posisinya pas, nongkrong sendirian dengan bekal laptop pun rasanya tidak percuma.

IMG_20140922_155649Saya suka tempat ini karena letaknya yang cukup dekat dari kantor Saya di seputaran Monas. Tempatnya yang minimalis dengan nuansa serba kayu, membuat suasana ngopi menjadi semakin akrab. Rasanya betah berlama-lama disini, apalagi harga segelas coffee latte favorit saya tidak lebih dari Rp 25 ribu saja! Racikan kopi khas dari berbagai pelosok nusantara tidak kalah dengan kopi-kopi ala waralaba internasional. Ini berita baik loh! Dengan lebih sering mengkonsumsi kopi lokal di artinya kita juga secara tidak langsung memberdayakan para petani kopi.

IMG_20140922_205306Makanan favorit saya adalah Mie Ayam kojo. Meski kurang matching dipadukan dengan kopi, tapi saya merasa nyaman-nyaman saja. Bahkan selalu berulang memesan menu yang sama di setiap kunjungan. Buat yang gak seneng kopi, jangan khawatir banyak minuman lain yang juga disajikan disini. Makanan berat juga ada kok, meski menunya terbatas. Lumayan buat yang mau nongkrong sore, nunggu macet dan sekalian makan malam.

Asiknya lagi, Saudagar memberikan 1 gelas kopi gratis untuk setiap pembelian 10 gelas kopi. Sebagai penandanya, pelanggan diberi kartu dan jumlah pembelian kopi dicap pada kartu tersebut setiap kali berkunjung. Yang buat saya masih kurang, adalah Saudagar belum menyediakan tempat sholat. Hmm, gak mesti musholla sih, namun setidaknya lebih baik jika ada sedikit tempat yang bersih di lantai atas plus ada perlengkapan sholatnya.

Hits: 832

Dua tahun kerja di lingkungan istana kepresidenan, bukan berarti saya bisa keluar masuk seenak jidat, bolak balik tanpa tujuan, boro-boro untuk selfie dengan Pak SBY. Paling cuma foto-foto di halaman, itu pun tidak semua tempat boleh difoto. Selebihnya ya, biasa saja, paling banter cuma makan di kantin karyawan Istana. Namun menjelang purna tugas saya disini, senang sekali rasanya diberi kesempatan mengikuti Upacara Kenegaraan IMG_20140908_12365717 Agustus. Memang, saya kebagian acara sore (penurunan bendera), tapi maknanya sama sekali tidak berkurang bagi saya. Itu pun dapet undangannya pake acara “ngerampok” dulu dengan seorang pimpinan di kantor. Hehehe..

Di undangan tertera dresscode yang harus digunakan adalah pakaian nasional. Waduh…rempong juga, dengan persiapan yang hanya sehari. Apalagi saya nyaris tidak punya busana yang pantas disebut busana nasional. Daripada repot, akhirnya saya memilih rok batik panjang berwaran hijau favorit saya dipadu dengan kebaya encim putih polos. Untuk menambah kesan kemerdekaan, saya menambahkan kerudung berwarna merah darah. Merdeka! Di lokasi acara, saya melihat banyak tamu yang tidak menggunakan busana muslim atau pakaian resmi (seperti orang kantoran), wah sayang C360_2014-08-17-18-56-46-931banget tuh.. karena yang mengenakan pakaian nasional diprioritaskan untuk duduk di kursi paling depan. Undangan hanya dibagi per blok berdasarkan jenis undangan, selebihnya pilihan bangku silakan dipilih sendiri cepet-cepetan. Tentu saja peraturan ini tidak berlaku untuk undangan VVIP seperti para menteri, duta besar dan pejabat negara lainnya.

Acaranya meriah sekali. Pagelaran tari kolosal yang penuh ornamen diiringi musik  bersemangat membuat semuanya menjadi pertunjukkan yang menarik. Usia pengisi acara pun beragam dari mulai anak TK sampai orang dewasa. Saya senang, karena pertunjukkannya “Indonesia banget”. Tidak hanya menarik tapi menumbuhkan kembali kecintaan terhadap bangsa ini. Saya juga beruntung karena duduk di barisan paling depan. Hehehe.. Dari jauh Pak SBY dan Pak Boediono terlihat ikut menyaksikan, sementara itu Bu Ani terlihat sibuk dengan kamera kerennya.. Bu Ani bikin sirik, karena bisa punya foto yang bagus meski duduk jauh.. Beda banget dengan saya yang cuma mengandalkan kamera HP. Hikss

barisan hanoman
barisan hanoman

Pak SBY dasarnya membuka luas Istana bagi masyarakat. Banyak sekali anak-anak muda berprestasi yang ikut diundang. Mulai dari penulis, artis, pelajar berprestasi hingga masyarakat umum. Memang sepantasnya generasi seperti itulah yang harus lebih banyak hadir. Acara seperti ini sungguh meningkatkan adrenalin kita akan cinta terhadap Indonesia. Terima kasih Pak SBY, untuk 10 tahun yang bermakna, semoga tahun-tahun depan masih diberi kesempatan untuk kembali lagi ke Istana. Semoga di masa Pak Jokowi, kesempatan itu makin lebih terbuka lagi. Aamin..

Oya, bocorannya setiap tahun, Sekretariat Negara memberi jatah undangan upacara 17an kepada masyarakat umum. Sayangnya selama ini, informasinya tidak menyebar luas, sehingga yang mendapat undangan, umumnya kerabat para karyawan setneg. Jika ada yang berminat..silakan sering-sering lihat website setneg terutama menjelang 17an!

berkibarlah benderaku..
berkibarlah benderaku..

Hits: 1093