Membayangkan macetnya tol Jagorawi di Senin pagi sama sekali tidak membuat semangat saya hilang untuk segera tiba di Solo. Jarang-jarang nih bisa mengeksplore salah satu daerah heritage Indonesia ini, apalagi akan menginap di Best Western Premier Solo Baru (BWPSB), salah satu hotel chain terbesar di Solo. Bersama Mas Disgiovery, pagi pagi banget saya sudah nangkring di Bandara Halim Perdana Kusuma. Biarpun blogger keren ini sudah hampir menjelajah seluruh Indonesia, ternyata dia baru pertama kali ke Solo, loh!. Klop deh, saya juga pertama kali untuk liburan!

bandara
Welcome to Solo!

Pesawat Citilink yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Adi Sumarmo Solo. Hmmm, ngomong-ngomong Adi Sumarmo siapanya Adi Sucipto, ya? Kalau kakak beradik, hebat yaa,..masing-masing punya bandara, pasti orang tua mereka bangga banget. Stop!! Garing!! Hehehe. Kami dijemput oleh staf BWPSB dan langsung menuju hotel.  Sepanjang jalan -persis lah kayak turis sok keren- semua sudut kota Solo tidak luput dari pertanyaan kami. Untungnya Mas penjemput yang baik hati, tetap melayani semua celotehan kami dengan senyum manis.

***

Rencananya, selama dua hari saya dan beberapa teman blogger akan mengeksplore kota Solo. Bagian ini akan saya ceritakan di tulisan terpisah ya, sekarang saya mau cerita dulu tentang BWPSB yang terhitung hotel baru di Solo. Awalnya, Saya tahu chain hotel internasional ini justru saat berkunjung ke Phoenix, Amerika Serikat. Disana Best Western (BW) hampir ditemui di setiap sudut kota di negara bagian Arizona. Ternyata, headquarters BW memang ada disana. Makanya standar fasilitas dan pelayanan BWPSB pun mengikuti standar Amerika. Sekedar informasi, BW mempunyai tiga tipe hotel yaitu; Best Western Core, Best Western Plus dan Best Wester Premier. Jadi kebayang dong, fasilitas BWPSB pasti lebih baik dari dua tipe lainnya. Hebatnya BW tipe Premier justru lebih banyak di Asia daripada di negara asalnya. Artinya pasar kelas premium di Asia termasuk Indonesia; cukup besar. Oh ya.. dari 12 hotel di Indonesia, BW Premier ada di dua kota lain selain Solo yaitu; Jakarta dan Bandung.

blog1
welcome greetings

Nyaman, Strategis, Lengkap

Konsep yang dibangun oleh BWPSB adalah kenyamanan dan kelengkapan fasilitas di tengah pusat kota. Posisinya juga strategis karena dikelilingi dua mall besar, dekat dengan pusat kota dan ke depannya tidak jauh dari lokasi akan dibangun rumah sakit berskala internasional. Cocok buat siapa saja yang berkunjung ke Solo baik untuk urusan bisnis atau liburan. 

lobi
lobi dari lantai 2

Dari sejak masuk lobby, BWPSB sudah memberikan rasa feel hommy.  Lobby-nya luas, mewah dan cozy. Kalau tiba disini sebelum jam check in, kita bisa menunggu sambil main billiard, atau mencicipi wine di Chrysolite Lobby Lounge. Eh, ada wine yang sudah lebih dari 10 tahun loh!

Lobby luas lengkap dengan meja billiard
Lobby luas lengkap dengan meja billiard

Total ada 384 kamar dengan 5 type di BWPSB, yaitu Superior, Deluxe, Super Deluxe, Suite dan Premier. Range harganya cukup terjangkau kok untuk Hotel Bintang 4+. Ssst,…Room Premier sering digunakan oleh beberapa petinggi negara, salah satunya adalah Presiden RI yang sudah purna tugas. 

Kamar saya ada di lantai 18, di koridornya ada kaca besar yang membuat kita bisa berlama-lama memandangi kota Solo. Cantik sekali. Kamar Superior ini sangat nyaman, dengan tempat tidur yang bikin kita betah plus ada meja kerja! Ini penting banget buat saya yang sering menghabiskan malam dengan menulis. Kamar mandinya pun cukup luas dengan toiletris yang lengkap plus segala perlengkapan kecil-kecil yang kadang kita lupa bawa dari rumah. Asyiknya, buat yang banci colokan, kamar-kamar di BWPSB punya colokan dimana-mana. So, kalau traveling bersama teman dan keluarga, tidak perlu membawa kabel ekstension atau gantian nge-charge gadget. Setiap tamu juga diberikan internet berkecepatan tinggi dengan akses yang sama di seluruh penjuru hotel. Jadi kita tidak usah repot-repot login ulang jika keluar kamar.

deluxe room
deluxe room
Bocoran nih buat para budget traveler yang ingin mencicipi BWPSB; sering-sering mengunjungi website-website booking hotel, karena di beberapa waktu tertentu BWPSB menawarkan smart room, yang harganya miring tapi fasilitasnya tetap sama seperti kamar-kamar lain. Lumayan kann…

Hari pertama di Solo, belum apa-apa saya sudah capek mengelilingi Pasar Klewer dan Keraton. Panasnya Solo itu benar-benar panas, sampe matahari juga mungkin kepanasan..hehehe.. (menirukan anekdot seorang komika), tapi rasa penasaran dengan Solo membuat semua lelah menjadi tak terasa. Apalagi ketika kembali ke BWPSB, fasilitasnya benar-benar memanjakan. Ada Bhuvana Spaluxe yang siap membuat tubuh lentur kembali, setelah itu kita bisa lanjut nongkrong-nongkrong cantik di Skyline yang terletak di lantai 22. Di malam-malam tertentu ada live music akustik yang keren dengan sajian makanan unik dan berganti-ganti setiap minggu. Hmmm, memandang keindahan Solo dari ketinggian, ditemani lagu-lagu Glenn Fredly dari live music, bisa membuat kita memasuki masa galau, loh! Makanya kalau kesini, jangan sendirian yaa… *senyum 🙂

fitness-center
fitness center

 

 

kolam

Paginya setelah pulas beristirahat kita bisa mencoba fitness center dan berenang di lantai 3. Kolam renangnya bermodel infinity alias seperti tak berbatas. Kekinian dan sangat instagramable! Sayang, kemarin saya lupa membawa bikini eh,..baju renang muslimah. Jadilah saya cuma duduk sendirian di pinggir kolam yang menyatu dengan bar. Asyik deh, kita bisa berenang dan pesan minuman tanpa beranjak dari kolam renang. Kalau tidak sempat keluar hotel, boleh juga menunggu sunset atau sunrise di area kolam renang yang katanya yang paling bagus di Solo.

Fasilitas MICE (Meetings, Incentives, Conferencing, Exhibitions) Terbaik di Solo

BWPSB kini menjadi salah satu pilihan terbaik untuk kegiatan-kegiatan konfrensi dan seminar di Solo. Dengan variasi ruang meeting dan konferensi, hotel ini bisa menjadi alternatif untuk kegiatan-kegiatan korporasi. Tidak tanggung-tanggung ruang konferensinya yang paling besar bisa menampung 2500 orang sekaligus dan ini adalah ruang konfrensi terbesar di Solo. Tidak heran kalau beberapa artis ternama pernah mengadakan konser disini. Parkirannya gimana?! Jangan khawatir, tempat parkirnya pun luas dan lega. Jadi kalau ada kegiatan massal, kita tidak perlu rebutan tempat parkir atau sampai harus parkir di luar gedung.

blog5
satu sudut ballroom

Buat yang mau kawinan, ini juga boleh jadi alternatif, loh!. Selain daya tampung yang besar tadi, dijamin AC-nya paling dingin karena didukung oleh eternit yang tinggi. Biasanya kalau kita kondangan di gedung, jika tamu sudah membludak, pasti akan terasa panas dan tidak nyaman. BWPSB menjamin, sirkulasi udara di Ballroom-nya sangat baik.  Nah, yang memang lagi hunting gedung pesta pernikahan di Solo, buruan booking! Untuk 2017 ball room BWPSB hampir fully book!

Ini nih yang paling penting! Makan!! Dua hari bermalam disini, saya puas sekali dengan sajian makanannya. Tidak hanya suguhan makanan nasional dan internasional, chef-chef berpengalaman di BWPSB juga mahir mengolah berbagai makanan khas Solo. Pokoknya kalau sibuk dan tidak sempat mencari makanan lokal, tenang…. hotel bisa menyediakan semuanya. Oya, saat sarapan pagi, jangan lupa mencoba jamu beras kencur dan cream yogurt-nya. Seger banget!

dessert yang menggoda
dessert yang menggoda
Penyajian makanan tradisional
Penyajian makanan tradisional

Terakhir, ditengah menjamurnya hotel hotel baru di Solo, BWPSB bisa jadi rekomendasi terbaik. Dengan segala kelebihannya; lokasi, fasilitas, berstandar internasional dan kenyamanan yang ditawarkan, bolehlah BWPSB disebut hotel all in one.

Jadi Kamu kapan main ke Solo?

narsis sebelum pulang, terima kasih BWPS!
narsis sebelum pulang, terima kasih Best Western!

Best Western Premier Solo Baru

Tel : +62 271 621 666   Fax : +62 271 788 0921
Email : reservation@bwpremiersolobaru.com
Address : Jalan Ir. Soekarno, Solo Baru, Sukoharjo – 57552, Jawa Tengah – Indonesia

 

 

Hits: 2093

Jokowi sudah tahu kan siapaa? Yaa taulaahh… keblinger aja kalau ada anak Indonesia yang ditanya siapa Presiden RI masih jawab Pak Harto. Hehehe.. Tapi Raim Laode? Apa semua orang sudah tahu? Pasti banyak yang belum kaann?? Coba deh sebelum lanjutin baca tulisan ini, kalian masuk Youtoube sebentar dan search “Raim Laode”.………… Gimana ? Udah ketemu? Udahhh? Lucu kaann??! Dia anaknya baik kok…bukan cuma lucu. Serius.

Oke, silakan baca juga tulisan saya tentang Raim yang sempat juga dimuat di Kompasiana. Dengan “berat hati”, sejak kemunculannya di TV, saya ngefans-banget sama Raim. Eh, gak berat hati deng…beneraan serius ngefans.. (takut ditimpuk Raim). Padahal aslinya saya jarang nonton TV! Gara-gara tulisan dan segala macam urusan yang sangat duniawi akhirnya kita ngobrol via sosmed. Penasaran dengan wujudnya, gimana (Raim, pisss!!! Jangan maraahhhhh), kita janjianlah buat ketemu. Sekalian sih, saya juga pengen nanya-nanya tentang Wakatobi sebagai salah satu daerah yang ingin saya kunjungi untuk sebuah pekerjaan.

Dan pada sebuah hari yang mendung (namun tak berarti hujan), kami merencanakan bertemu setelah sholat Jumat di sebuah tempat di bilangan Jakarta Pusat. Pagi-pagi saya sudah kontak Raim untuk mengingatkan janji tersebut. Baru sekitar 20 menit rekonfirmasi dengan Raim, jreng..jreng..jreng, saya mendapat telepon dari Istana (beneran Istana Negara, bukan Istana Boneka) untuk makan siang bersama Jokowi. Ini Beneraann Joko Widodo  yang RI 1. Ini baca deh ceritanyaaa disini, jadi saya gak perlu cerita panjang lebar lagi.

Di tengah suhu badan yang panas dingin, linglung, bingung dan kacau karena dipanggil Presiden, saya telepon Raim. 

“Im, aduhh…sorry banget, aku dapet undangan dari Istana untuk makan siang dengan Jokowi”. Dari ujung telepon, reaksi Raim kayaknya terdiam sesaat. Dia pasti mikir baru kali ini ada yang “berani-berani-nya” batalin janji sama calon artis besar Indonesia, dan alasannya mau makan siang dengan Presiden!! Hayoo, pernah gak ada yang janjian dibatalin gara-gara Presiden??!  Hahahaha… Sesaat kemudian Raim bilang: What??? Tidak apa-apa, kaka.. Nanti kita bisa atur ulang. Saya mengerti pasti kaka pilih Jokowi . Saya cuma ketawa, yaaa iyaalah, Im.. saya pasti pilih ketemu RI 1! Hahahaa… 

Namun singkat cerita, sore itu saya tetap bertemu Raim -yang kebetulan lagi kosong jadwalnya- dan bersedia menunggu Saya. Sosok aslinya ternyata jauh sekali dari panggung megah. Kalem, lebih banyak diam dan tidak seheboh di panggung.  Meskipun tidak banyak ngomong, saya tahu Raim cerdas, banyak kata-katanya yang singkat tapi tajam. Saya kaget, waktu  dia bilang ingin melanjutkan kuliah S2 di jurusan Sejarah seperti S1-nya bukan jurusan-jurusan keren seperti marketing, teknologi atau manajemen yang diminati banyak orang. Alasannya, justru karena banyak orang yang tidak mau mendalami sejarah, makanya dia mau belajar sejarah. Dengan semua kesederhanaannya kita bercerita tentang banyak hal, dari musik, seni, Jakarta yang kejam, pariwisata, teknologi, politik hingga mantan (uhuk…)

***

Cerita pendek tentang Raim tadi, menjadi pembuka saya untuk turut serta di Kompetisi Blog Review SUCA 2 ini. Seperti yang saya tulis pada paragraf sebelumnya, saya sendiri jarang banget nonton TV. Stand Up Comedy di hampir seluruh TV mungkin satu-satunya acara selain talkshow berita yang saya ikuti. Saya juga tahu SUCA awalnya dari Youtube. Dan Raim-lah yang membuat saya bergegas pulang ke rumah setiap hari lebih cepat demi menonton SUCA. Walaupun banyak juga tayangan SUCA yang saya tonton lewat Youtube. Maklumlah, pekerja seperti saya kadang waktunya memang tidak bisa diprediksi pukul berapa bisa tiba di rumah.

Saya memang tidak dapat me-review tayangan SUCA dari awal sampai akhir. Namun keinginan saya bertemu langsung dengan Raim seharusnya bisa menjadi tolak ukur bagaimana saya mengagumi acara ini. Raim memberikan warna pada komedi yang renyah, cerdas, khas Indonesia dan mengandung kritik sosial. Saat banyak anak muda mengidolakan selebgram yang hidupnya jauh dari norma-norma Indonesia pada umumnya, Raim justru membawa pesan bahwa Indonesia ini kaya akan budaya dan alam yang indah. Dia pede dengan ketimurannya. Dia bangga akan asalnya. Sesuatu yang hampir langka dengan anak muda yang kini makin kebarat-baratan. 

https://www.youtube.com/watch?v=EPEiprfQ8jE

Ternyata jadi stand up comedian itu tidak mudah loh! Bukan perkara gampang berdiri di muka umum, ngomong sendirian, harus lucu dan lebih lebih lagi harus punya muatan mencerdaskan kehidupan bangsa (ciyeee). Karena itu saya  percaya semua komika yang terpilih di SUCA pasti orang-orang dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Itulah yang membedakan komika dengan penyanyi. Kalau penyanyi, dia bisa menyanyikan lagu yang sama di setiap konsernya. Kalau komika membawakan materi yang sama itu-itu saja, pasti penontonnya bosan. Kerennya SUCA memiliki barisan mentor-mentor berpengalaman mampu membuat penampilan komika tetap segar setiap minggu bahkan setiap hari. 

Meski tidak sempurna, SUCA sangat patut menjadi salah satu talent show terbaik di Indonesia.  Yah, alasannya itu. Bukan hanya menghibur, program ini bisa jadi inspirasi untuk anak-anak muda yang kreatif. Dengan 42 peserta yang datang dari seluruh Indonesia dari berbagai kalangan dan kelas sosial ekonomi, SUCA adalah wadah baru bagi ide-ide kreatif generasi muda.  Tidak hanya Raim, saya bangga karena peserta SUCA sebagian besar datang dari daerah yang memiliki misi mengenalkan daerahnya. Ternyata komedi bisa menjadi bahasa yang sangat universal. Kamu yang besar di Papua dan kamu yang lahir di Aceh, disatukan untuk bersama-sama melihat luas dan indahnya Indonesia hanya dari satu panggung. Luar Biasa!

Walau masih ada kekurangan, ya namanya juga program TV yang tidak terlepas dari bisnis untuk mencari profit. Tapi Saya yakin kedepannya program ini masih akan terus diminati. Tentu saja harus dibarengi kerja keras Tim Indosiar. Maju terus, jadikan komedi bagian dari bangsa yang sudah “makin tidak lucu” ini. Jadikan lebih banyak seniman komika yang membuat Indonesia lebih segar dan berwarna. Dan paling penting jadikan generasi bangsa yang penuh inspirasi dan makin cinta negerinya.

 

 

 

Hits: 918

“Saya membatasi penggunaan teknologi untuk anak-anak di rumah” ungkap Steve Jobs seperti dikutip oleh New York Times 2010 lalu. Pada masa-masa bermain, Jobs membiarkan anak-anaknya menghabiskan waktu di luar rumah, bercengkerama dengan alam bukan games online yang membuat mereka seperti tidak kenal dunia lain. Jobs ngeri membayangkan hilangnya kehangatan di meja makan, karena anak-anak mulai kecanduan gadget. 

45d7772b-ff4d-4a94-b44b-ffa9c0d6a167

Jika Steve Jobs saja masih percaya alam adalah tempat bermain terbaik, kita sendiri kapan terakhir bermain di luar ruang? Mungkin generasi yang lahir setelah tahun 2000 apalagi anak-anak yang tinggal di kota metropolitan, tidak tahu namanya engklek, tidak pernah main kelereng dan tidak tahu apa itu gobag sodor. Kini mana ada lagi anak-anak yang bermain petak umpet di halaman rumah. Mana ada lagi anak-anak berpeluh mengejar layangan putus di sore hari.  Sudah sulit mencari anak-anak perempuan bermain tali dan bermain bekel di teras rumah, karena update status dan posting foto di sosial media (yang ternyata tidak sosial) lebih diminati. 

lagi kerja ini..bukan main games online..
lagi kerja ini..bukan main games online..

Mengurangi kerinduan akan masa-masa itu, Sabtu 8 Oktober 2016 lalu saya dan beberapa teman blogger mendapat kehormatan dari Menpora untuk meliput Tafisa (The Association For International Sport For All) Games 2016. Berbanggalah, pada 2016 Indonesia jadi Tuan Rumah perhelatan akbar olahraga tradisonal yang dihadiri oleh 87 negara ini. Tafisa merupakan satu-satunya pesta olahraga internasional yang berisi berbagai perlombaan dan eksibisi olahraga tradisional dan rekreasi dengan keunikan kultural. Ajang empat tahunan ini menjadi media pertemuan dan penjalinan persahabatan yang erat antar seluruh warga dunia yang mencintai olahraga tradisional. 

bersama Pak Menteri sebelum muter muter...
bersama Pak Menteri sebelum muter muter…

Satu hari penuh Pak Menteri mengajak kami berkeliling Ancol, melihat dari dekat berbagai perlombaan yang digelar. Bahkan beberapa kali Pak Menteri dengan asyik mengajak kita mengikuti beberapa lomba. Beliau semangat banget mencoba hampir semua permainan. Salut saya dengan staminanya! Gak ada capeknya!! Cuaca mendung dan sedikit gerimis sama sekali bukan halangan. Dari naik perahu naga, mencoba permainan lempar bola ala Perancis, jalan kaki keliling Ecopark, main dengan Enggrang, mencoba lembar batu ala Polan hingga menonton pagelaran tari asal Jambi. Belum lagi melayani ratusan pengunjung yang mau selfie. Aduhhhh…..begitu toh kalo jadi menteri! *Siap siap kali aja besok-besok ditelpon Jokowi lagi. Hahahaha.. 

197f7060-02ba-480c-9b56-6bf3d8479e4e
salah satu tarian lokal…

Saya baru tahu ternyata permainan engklek  juga ada di Spanyol dan Perancis. Itu loh, permainan dimana kita harus meloncati tanah atau batu yang sudah dibentuk persegi atau bulatan. Buat yang gak tau, bisa jadi kalian “terlalu anak kota” sehingga mungkin tidak pernah main di luar rumah. 😀  Engklek Indonesia lebih sederhana, kita tinggal loncat pada batu  yang berurutan, bisa dengan satu atau dua kaki. Sementara engklek Spanyol, harus jalan mundur dengan satu kaki pada kotak-kotak yang sudah diberi nomor. Kalo diperhatikan memang lebih mudah engklek Indonesia, seolah jadi cermin bangsa kita memang senang yang “mudah mudah” saja. Hehehehe.  

Pak Menteri main engklek..
Pak Menteri main engklek..

Uniknya, -meskipun seperti turnamen- Tafisa bukan seperti olympiade.  Tidak ada juara dan medali. Juaranya adalah kebersamaan, sesuai dengan tagline Tafisa : Unity in Divesity. Puluhan atlet berkumpul dari berbagai negara berbagi kebersamaan dengan keceriaan dan kegembiraan. Di satu sisi, sekelompok bule bertanding menyodok bambu panjang dengan beberapa pria lokal. Persis seperti main tarik tambang, tapi tambangnya diganti bambu serupa yang sering digunakan dalam panjang pinang. Hmm, kebayang gak?!

Sementara itu di pantai karnival, siapa pun boleh mencoba volley pantai asal bisa mengumpulkan pemain sendiri. Boleh juga mencoba perahu naga pun bersama siapa pun yang kita mau. Lintas bahasa, lintas negara. Wah, ternyata, permainan tradisional bisa juga menjadi bahasa yang universal. Kostum unik dan lucu dari para delegasi, membuat kegembiraan terpancar jelas di wajah mereka. Ya, ini memang bukan seperti kompetisi.

6bb60653-3359-444e-b917-8efbf70eaea2

Salah satu yang juga menarik adalah sekelompok orang Bandung yang menamakan diri Komunitas Hong. Saya sempat berbincang dengan salah seorang pendiri satu-satunya komunitas yang melestarikan permainan tradisiona ini.  Katanya, komunitas ini juga mempelajari banyak permainan tradisional dari negara lain. Tidak main-main loh, mereka melakukan riset yang serius untuk mengetahui makna dan filosofi dibalik sebuah permaianan.

a046886c-261f-4d16-aaa6-c330c9112386
di barak komunitas hong..

Sayang,  gaung acara ini tidak terlalu kinclong. Namun bagi saya, bukan masalah publikasinya, tapi semangat Tafisa-lah yang harus lebih banyak ditularkan. Kita mungkin lupa berapa banyak kultur  dengan “local wisdom” diperoleh dari bermain, dan bagaimana semua itu hampir tinggal cerita, saat nyaris semua permainan telah menjelma dalam format digital.  

Tafisa 2016 jadi awal kita bernostalgia, mengenang masa-masa dimana kekerabatan ada tanpa sekat dan masa  saat kuota internet bukan segala-galanya. Lebih penting lagi sebenarnya ini adalah cara kita menjaga budaya bangsa.  Cara kita “menjual” Indonesia yang kaya akan budaya, nilai dan filosofi. Kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.

Credit Picture to:

www.obendon.com

www.adlienerz.com

www.peekholidays.com

www.thetravelearn.com

www.bawangijo.com

www.tindaktandukarsitek.com

www.winnymarlina.com

www.parah1ta.jalanjalanyuk.com

missnidy.blogspot.co.id/

 

Hits: 1120

Kalau ada yang bilang home is where the love is, mungkin Museum Peranakan Penang bisa menjadi contoh rumah yang penuh cinta.

Museum ini awalnya rumah biasa, kediaman seorang keturunan Tiongkok bernama Chung Keng Kwee yang didirikan pada akhir abad ke-19. Babah, sebutan untuk Chung Keng Kwee konon merupakan orang paling kaya di Penang pada masanya. Babah menikah dengan beberapa wanita lokal Melayu, karena itulah museum ini sering juga disebut Museum Babah Nyonya. Hebatnya istri-istrinya itu, dulu hidup rukun di rumah yang kini sudah menjelma menjadi museum tersebut. Kalau jaman sekarang ada gak yaaa, para madu yang mau tinggal serumah begitu?  Ada sih pasti ya, apalagi kalau suaminya semapan dan sekaya Baba. Hehehe.. 

museum9
Ruang Utama di Pintu Masuk

Salah satu itinerary jalan-jalan saya ke Penang beberapa waktu lalu adalah berkunjung kesini. Awalnya saya tidak memang terlalu banyak berekspektasi. Saat tiba di lokasi pun, museum ini hanya seperti rumah Melayu yang dari luar terlihat biasa saja, bahkan tidak tampak seperti museum. Halamannya sempit dengan kapasitas parkir tidak lebih dari lima enam buah mobil saja. Saya sempat berpikir: apa sih istimewanya sih tempat ini…

Ruang Keluarga
Ruang Keluarga

img-20160814-wa0155

Ternyata memang istimewa…

Ada dua bagian utama  yang saling terhubung di museum ini. Bagian pertama dulunya merupakan tempat tinggal keluarga Babah sementara bagian kedua menjadi tempat untuk mengelola bisnisnya. Pengunjung terlebih dulu akan memasuki rumah utama di bagian pertama sebelum menjelajah sisi bangunan yang lain. Baru masuk, sebuah ruang besar akan menyambut kedatangan pengunjung. Bagian tengah ruangan ini dibiarkan kosong dan terbuka tanpa plafon agar cahaya matahari bebas lepas masuk ke dalam rumah. Konsep ini sebenarnya ditemukan juga di kelenteng atau vihara. Fungsinya, selain memperlancar sirkulasi udara, juga mengandung filosofi  rejeki yang yang lebih lancar mendatangi empunya rumah.  

 

museum7

Berhadapan langsung dengan ruang terbuka itu, ada meja besar yang berfungsi selain sebagai meja makan keluarga, juga sering digunakan untuk menerima tamu bisnis. Uniknya, di kiri dan kanan meja tersebut, diletakkan dua kaca berukuran besar yang berfungsi layaknya CCTV. Seluruh aktivitas ruangan utama terpantul pada kedua cermin tersebut. 

Masih di lantai satu, berdampingan dengan ruang utama ada jalan tembus menuju vihara pribadi dan masih digunakan hingga saat ini. Konsepnya masih sama, kosong di bagian tengah, namun penuh ornamen khas Tionghoa. Bedanya hanya tidak didominasi warna merah, melainkan warna abu-abu dengan ukiran-ukiran besar yang didominasi warna hijau, abu abu dan emas.

vihara
vihara

Hampir seluruh sudut rumah penuh dengan guci antik dan kristal-kristal mahal. Semuanya dipajang pada lemari-lemari kaca yang tidak boleh disentuh. Lukisan lukisan bergaya tiongkok terlihat di beberapa bagian ruangan. Dengan penataan yang cenderung minimalis, dipilih perabot yang berkesan klasik dan menunjukkan kelas sosial sang pemilik rumah. Walau dipenuhi aksesoris, tata letak keselurahan tetap memberi kesan luas, yang membuat pengunjung bebas mengamati barang-barang koleksi. Mungkin dulunya memang dibuat leluasa, agar anggota keluarga dapat nyaman bercengkarama.  Secara total jumlah koleksi museum ini mencapai 1000 buah. Benar-benar gila dan gak tanggung-tanggung buat semua “rumah biasa”.

museum2

Dari lantai dua, seluruh aktivitas di lantai satu bisa dipantau, karena keduanya dibuat terbuka dan dihubungan dengan tiang kayu yang sangat eksotis. Lantai dua sebenarnya tidak terlalu luas, namun penempatan kaca-kaca yang nyaris sebesar dinding membuat ruangan tampak lebih leluasa. Disini juga ada kamar tidur utama, lengkap dengan seperangkat kursi dan dipan antik yang berkelambu. Pada satu sisi dipajang pula koleksi kain milik Nyonya Rumah. 

Ruang Tidur Utama
Ruang Tidur Utama

Nah, bangunan kedua yang terletak di belakang rumah utama dulunya memang digunakan sebagai workshop empunya rumah. Salah satu bisnis Baba dulunya adalah pembuat perhiasan emas. Di satu sisi, dipresentasikan perangkat pengerajin emas. Sementara pada sisi berdampingan, dipamerkan koleksi perhiasan keluarga ini. Wah, sampe tak berkedip mata ini melihat kinclongnya deretan perhiasan mahal dalam kaca-kaca kristal yang tebal. dengan pengamanan berlapis.

menempa emas..
menempa emas..

Kebayang dong harganya,… kalau jadi warisan kita di Indonesia, bisa gila bayar tax amnesty-nya!! Hehehehe. Sementara itu dinding workshop dihiasi koleksi  tekstil dan busana perempuan melayu kuno yang tertata apik dalam bingkai tembus pandang. Tidak itu saja, belok sedikit dari workshop, dipamerkan deretan perangkat dapur yang kini mungkin hanya bisa kita temui di rumah nenek. Uniknya, lantai di bangunan kedua, konon didatangkan dari Inggris. Motifnya memang unik, seperti ada karpet yang nempel di lantai.

museum8
Ruang Koleksi Perhiasan

Keseluruhan, isi museum ini menakjubkan. Pantas saja menjadi salah satu bagian dari World Heritage Site of Georgetown. Tampak depan yang biasa-biasa saja, ternyata tidak mencerminkan isi dalamnya. Buat yang mau ke Penang, saya rekomen deh tempat ini. Bukan cuma keren buat foto, tapi juga edukatif banget, pas untuk liburan keluarga.

 source featured image: www.kasublog.com

 

 

Hits: 1349

Lagi asik menikmati sarapan pecel, whats app saya berbunyi. Riesma, sahabat saya ingin memastikan alamat-alamat sosial media dan blog Saya. Katanya lagi ada yang hunting, kalau beruntung bisa diajak makan siang dengan Presiden Jokowi hari ini. Iseng saya jawab: “Wah, kasian amat… Presiden lagi gak punya temen makan siang, ya?!!” Hehehe..

Tak berapa lama, ponsel saya berbunyi. Seorang perempuan mengaku dari Tim Komunikasi Istana bertanya beberapa hal terkait kegiatan digital saya. Saya jawab dengan jujur, baik di blog ini maupun di Kompasiana, saya sering menulis tentang Pemerintah secara umum, meski tidak menyinggung Presiden secara khusus. Tidak ada tulisan yang menunjukkan saya ini “die hard” nya Jokowi, bahkan beberapa tulisan malah memberikan kritik bagi beliau. Telepon ditutup, saya tidak berharap banyak. Bener-bener gak ngarep. Siapalah gw ini…

Telepon berbunyi lagi 30 menit kemudian. “Mbak Vika, bisa ready di Istana pukul 11 siang?” kata suara di seberang sana. Saat itu waktu tengah menunjukkan pukul 09.40 WIB, artinya saya cuma punya waktu 1 jam lebih sedikit untuk tiba di Istana. Sarapan pecel saya sudah habis, sementara layar laptop masih menayangkan angka-angka yang harus dianalisis. Di sisi meja kerja, tergeletak beberapa pesanan buku Jam Weker yang harus ditandatangani.  Siangnya saya ada janji dengan Raim Laode (akan saya ceritakan ini di tulisan berbeda). Tiba-tiba saya terserang sesak nafas, mual dan panic attack! Saat itu juga saya langsung menghubungi Riesma: Bo, gw jalan ke Istana, sekarang!!

Buru-buru semua peralatan kerja saya bereskan.. Di luar hujan lumayan deras. Mas Adi, pramubakti kantor membantu saya mencari taksi menuju Sarinah tujuannya jelas buat cari baju, karena tidak mungkin pulang ke rumah di Bogor. Hari itu tidak ada janji meeting formal, saya berbusana casual; baju kaos dan celana semi jins. Sementara pihak Istana mewajibkan dresscode baju putih, tanpa celana jins dan tidak menggunakan sandal. Keputusan saya ambil degan cepat meski masih diliputi rasa kurang percaya. Ini serius? Beneran? Ah, mimpi kali….*cubit cubit pipi sendiri..

Taksi pun meluncur. Dalam perjalanan, saya batalkan seluruh janji hari itu. Beberapa kolega mengira saya bercanda, satu dua yang lain bilang; setelah kembali saya wajib lapor lengkap dengan foto. No Pic Hoax katanya! Saking sibuk dengan ponsel, saya tidak memperhatikan pak driver taksi mengambil jalur yang salah. Dari daerah Bendungan Hilir menuju Sarinah yang paling praktis melalui Sudirman-Bundaran HI malah lewat Pejompongan, muter dari Dukuh Atas yang macet parah. Mau marah sama driver-nya pun gak guna juga… Nyaris 20 menit kami masih stag di Depan Pemakaman Karet, saya cuma bisa ngedumel sendiri. Sampai di putaran Dukuh Atas, saya turun (meskipun masih gerimis), dan melanjutkan dengan ojek menuju Sarinah. Pas mau bayar, eh…ternyata uangnya gak cukup. Untung, mas mas ojek bersedia menunggu.

Waktu sudah di 10.35, bergegas saya menuju rak pakaian wanita. Tanpa banyak pilah pilih, saya ambil sepasang yang kira-kira paling pas, langsung diganti di kamar pas, gak nyoba-nyoba lagi dan hampir gak liat harganya! Hahahaa.. Untung ketika bayar di kasir, masih terjangkau sama dompet. Kurang dari 10 menit, semua selesai. Gilaaa..ini shopping tercepat dalam hidup gw! Setengah berlari saya menuju ATM. Mas ojek masih setia menunggu, saya bayar dan kemudian ganti moda taksi menuju istana. Masih dengan rasa nervous plus deg-deg-an, tempat pukul 10.55 saya tiba di Gerbang Sekretariat Negara.

img20160930123636
menunggu…

Wah, tiba-tiba Saya terserang dejavu! Saya pernah bekerja di lingkungan Istana selama 2,5 tahun di masa Presiden SBY. Lorong-lorong Istana dulu begitu akrab dengan deretan foto-foto Ibu Negara di hampir semua sisi. Pohon besar yang dibentuk bak payung masih berdiri tegak di depan Istana Negara. Kantin Istana yang dihiasi akuarium Ikan Arwana dan rawon terenak di Kantin Setneg membayangi pikiran saya.  Ruang pers sudah berbeda, toko souvenir sudah pindah posisi dan minimarket di parkiran motor sudah tidak ada. Terasa sekali kini banyak yang berubah.

Tiba di gedung utama, saya dan undangan lain sudah ditunggu panitia yang rapih berbaju batik. Mereka menyapa dengan ramah dan meminta kami mengisi daftar hadir. Kelihatan mereka serius sekali menyambut para tamu. Kami di-briefing hingga pukul 12.15 sambil menunggu Presiden selesai menunaikan sholat Jumat. Semua Dos and Donts diberi tahu di forum ini. Eitss… saat itu Saya baru sadar, ponsel saya dalam posisi lowbat. Sementara ponsel satu lagi ketinggalan lengkap dengan chargernya di kantor, karena buru-buru tadi. Panik dong!! Gimana ceritanya, gak ada ponsel, gak ada kamera. Untungnya ada Paspamres dan panitia yang berbaik hati meminjamkan charger ke Saya

Kami dikenalkan dengan koordinator media digital Jokowi. Ia menjelaskan bagaimana tim-nya secara acak mengundang peserta. Ada algoritma dan beberapa pertimbangan, yang memang tidak bisa dijelaskan secara gamblang. Ya sudah ya… anggap saja, saya dan undangan yang lain sedang beruntung. Hehehe. Saya juga sempat berkenalan dengan undangan-undangan lain, beberapa diantaranya bahkan datang dari luar Jawa. Jangan kalian kira mereka itu para buzzer dengan akun ribuan follower, banyak diantara mereka orang-orang biasa, yang terlacak pernah memberikan usulan kepada Presiden melalui akun-akun sosmed beliau.

Tepat pukul 12.35 kami dipersilakan masuk ke ruang utama. Semua tas dan gadget dititipkan pada Paspamres. Hemm, sebel gak bisa cari pokemon deh! … Rasanya gimana gitu, masuk ke ruang makan megah Istana dengan lampu-lampu kristal mewah dan di meja makannya sudah ada label nama kita masing-masing. Waktu masih kerja disana, saya ingat yang bisa dapat label nama seperti itu minimal Gubernur! Serius! Gak Boong! Ini beneran kayak mimpi!!

Tak berapa lama, Presiden memasuki ruangan. Tidak ada protokoler, tidak ada MC seperti acara resmi. Presiden -dengan baju putih dan celana hitam standarnya- dengan  ramah dan menanyakan kabar dan darimana domisili kita. Hebatnya, Presiden-lah yang mengelilingi kursi kita masing-masing, bukan kita yang antre salaman dengan beliau.

 blog4

Setelah sedikit beramah tamah, Presiden langsung mengajak makan siang. Meja panjang kecil tertata rapih di sudut ruangan. Menunya apaa yaa?! Ternyata bukan menu barat yang mewah. Ada goreng burung punai (konon ini masakan favorit beliau), gulai kepala kakap, sambel goreng ati, bakso, rebusan daun pepaya, beberapa jenis sambal dan emping. Tidak ada makanan penutup alias dessert. Bayangan makan siang penuh formalitas, seketika menguap, karena Presiden sangat santai. Ia mempersilakan kita mengambil makanan bersamaan dengannya, tidak perlu sungkan. Bahkan Ia rela antre di belakang tamu undangan. Sambil becanda, beliau bilang: boleh nambah dan boleh bungkus buat pulang 😀

***

Saat makan bersama, pembicaraan dan diskusi dibuka, dengan suasana yang begitu cair. Dari rencana awal ngobrol tentang sosmed, melebar kemana-mana. Mulai dari tax amnesty, HAM, masalah Papua, pariwisata, pendidikan hingga gaji pensiunan. Setiap peserta diberi kesempatan satu-satu untuk ngomong. Boleh saran, pertanyaan, kritik apapun dengan rambu-rambu yang sudah diberi tahu saat briefing. Berat? Gak kok, obrolan meja makan ini kerasa ringan banget. Sepertinya Presiden kita sudah cukup terlatih menjelaskan banyak hal dengan logika sederhana. Kalimatnya pun patah-patah dan berjeda agar kita bisa ikutan nimbrung. Beberapa hoax yang selama ini berhembus di masyarakat pun, dijelaskannya dengan santai. Ada beberapa isu yang coba diluruskan oleh Presiden seperti Freeport, full day school hingga utang luar negeri. Sebenarnya Saya sempat pengen nanya gini: Pak, bosen gak dengan sidang Jessica yang bertele-tele? Tapi takut dikeprok sama Paspamres.. Wakakkaka.

 

Sumber: Biro Setpres
Sumber: Biro Setpres

Setelah sesi makan siang selesai, tibalah saat sesi foto. Presiden begitu sabar  meladeni undangan yang sebagian besar pengen selfie. Fotografer istana kayaknya dilewatin aja.. Hehehe.. Kadang-kadang Paspamres memang sibuk dengan segala aturan. Tidak boleh terlalu dekat, tidak boleh lewat batas ini, batas itu. Tapi so far sih, Jokowi-nya sendiri gak protes! Aduhh..ini beda banget dengan pengalaman saya mengejar beliau di Car Free Day Bogor atau Cap Go Meh Festival di Bogor tahun lalu.  Lebih bahagia lagi, Saya bisa langsung memberikan kenang-kenangan Buku Jam Weker buat beliau. Semoga sempat dibaca ya, pak..

antre selfie
antre selfie

Saya tidak akan mengulas satu-satu isi diskusi siang itu. Akan saya bagi ke teman-teman nanti secara lisan saja. Namun yang jelas saya sangat sangat senang dan bangga bisa jadi sepersekian persen rakyat jelata yang diundang makan langsung dengan orang nomer satu di negeri ini. Tanpa sekat, tanpa jarak, tanpa banyak aturan protokoler. Saya tahu Jokowi kerap mengundang beberapa kelompok, profesi dari berbagai kalangan untuk makan siang di Istana. Sebuah kebiasaan yang nyaris tidak pernah dilakukan oleh Presiden-Presiden sebelumnya. Pencitraan? Politik memang citra (kata Presiden RI ke-6). Tapi sesuatu yang dikerjakan secara rutin hanya demi citra tanpa datang dari hati, pasti melelahkan. Dan…saya percaya, Pak Jokowi melakukan semua ini dari hati bukan hanya demi citra. Believe me..

blog3

Tidak pernah sedikit pun  pernah mimpi dan terlintas di kepala, bisa semeja makan dengan RI 1. Mimpi saya cuma satu; pengen banget bisa naik pesawat Kepresidenan. Halal kan kalau mimpi saja? Hmmm.. Siapa tahu ini jadi jalan untuk mewujudkan mimpi itu. Aaamin… Who knows? We never know, because life is so unpredictable!

 

 

 

 

 

Hits: 5401

There comes a time, when you have to choose between turning the page and closing the book.

Kalau orang bilang saya kutu loncat, sebenenarnya nggak salah-salah juga sih. Tapi benar juga tidak 100% benar. Yes, betul selama hampir 10 tahun bekerja saya memang sering pindah-pindah tapi semua itu karena hampir semua nature pekerjaan saya yang sifatnya kontrak atau project based. Sebelum bekerja di Aceh, samalah seperti orang-orang kantoran lainnya. Saya mencari kerja yang permanen, kalo bisa karir dan masa depan terjamin hingga pensiun. Tidak neko-neko. Hidup dengan jam biologis bangun jam lima pagi, dan jam delapan pagi sudah duduk manis di meja kantor.  Sampai akhirnya kepindahan saya ke Aceh di 2007 merubah paradigma saya akan arti sebuah “pekerjaan”. Aceh memang telah “menghancurkan” hidup Saya.

Tahun 2015 dengan usia yang bukan fresh graduate lagi, saya menyadari bahwa sudah masanya saya kembali ke pekerjaan yang “secure”, yang menjamin keamanan hidup saya hingga masa tua. Kemudian, terdamparlah saya di salah satu lembaga keuangan terbesar di tanah air. Kata orang itu merupakan prestasi membanggakan, karena konon untuk masuk kesana -yang menjadi salah satu Most Admired Company di Indonesia- terbilang sulit. Bahkan ada dua pekerjaan yang saya tolak dan memutuskan untuk memilih bekerja disana. Saya terima tawaran itu, karena niat utamanya memang ingin belajar. *belakangan saya sedih, karena saya dinilai tidak mau belajar* Gaji saya disana bahkan sama dengan gaji saya lima tahun sebelumnya. Artinya secara bulanan, nyaris tidak ada peningkatan. Untung ada bonus dan THR yang  membuat penghasilan saya lebih baik secara tahunan. Fasilitas kesehatan pun sangat baik, Alhamdulillah. 

Hingga semua terakumulasi pada satu titik, saya merasa disini bukanlah tempat saya untuk berkembang. Banyak kondisi “given” yang tenyata di luar ekspektasi saya. Ya, katakanlah saya over expectation ketika pertama kali bergabung. Saya sering terkaget-kaget dengan keadaan yang dulunya saya kira disini sudah sempurna. Not to mention those things.  Mungkin kesimpulannya, nama besar ternyata memang bukan jaminan. 

Ada pertentangan batin yang saya rasakan, tapi dengan kedudukan saya yang terbatas, sepertinya sulit bagi Saya untuk mengubah semua itu.Tidak ada tempat dan atasan yang sempurna memang, namun Saya takut, takut ikut arus yang kemudian menjadikan saya orang-orang yang “kelamaan ada di zona nyaman”.  Lalu, saya hanya menjadi robot ibukota pergi gelap, pulang gelap dan miskin sosialisasi. Pendek kata agar tidak berkesan “menyalahkan orang dan lembaga” anggap saja memang saya tidak cocok di lingkungan itu berlama-lama.

Banyak yang bilang: “mungkin disana memang bukan “passion” elo”. Lagi-lagi passion disalahkan. Kasian si passion. Ada benarnya sih, tapi sejatinya bukan itu alasan utama. Saya senang menulis, senang jalan-jalan mungkin itu passion. Namun so far, passion itu sendiri belum membuahkan penghasilan yang cukup. Mungkin karena memang belum saya tekuni dengan sungguh sungguh. Jadi kalau ada yang bilang saya resign demi ‘mengejar passion’, keakuratannya cuma 50%. Hehehe.. Toh, saya tahu dengan pasti saya ada di lingkungan dimana sebagian besar orang-orangnya pun bukan bekerja pada passionnya. Malah lebih parah lagi, mereka tidak tau passionnnya apa! They just doing their work regularly, want to leave but still having so so many consideration… Somehow,..I think,..ummm perhaps they had no choice also. Or precisely : Dont want or dont know how TO CREATE the choices. 

Betul, pekerjaan selanjutnya yang akan saya jalani, sangat dekat dengan passion dan mimpi-mimpi Saya. Namun yang saya cari adalah ruang dimana saya bisa bereksplore dengan imajinasi saya, ruang dimana tidak ada sekat-sekat formal antara senior dan junior, ruang dimana ide dan gagasan itu lebih dihargai. Ruang dimana siapun dia, ada potensi yang bisa digali untuk melengkapi tim. Ruang dimana tidak ada yang lebih pandai dan lebih bodoh. Ruang dimana semua orang punya kesempatan dan jalur yang sama untuk meraih achievement setinggi-tingginya. Dan ruang dimana semua personil dinilai dengan obyektif. 

Saya sedih meninggalkan sahabat-sahabat baru saya disini. Setidaknya hampir 2 tahun terakhir, merekalah yang mengisi hari-hari Saya. Saya telah menjadikan mereka sebagai keluarga baru saya. Berat memang. Tapi saya perlu membenahi masa depan saya. Menyiapkan cita-cita besar Saya.  Pun memenuhi mimpi-mimpi saya. Mimpi menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi orang lain.

Finally, packing the stuffs is easy but packing the memories is not… 

 

Hits: 934

Alhamdulillah, akhirnya buku saya kelar jugaa!  Meskipun tidak semua tulisan baru, tapi proses editing dan bolak balik cek perintilannya, ternyata lumayan menyita waktu juga loh! Untung, saya happy banget melakukannya, tantangannya jadi tidak terasa.

Dan kalau kalian pikir ini buku traveling, kamu salah besar! Tidak ada satupun cerita jalan-jalan disini. Ada sekitar 30 tulisan yang salah tulis pada periode 2008-2016 yang sebagian besar sudah pernah saya publish. Padahal di blog ini, ada lebih dar 250 tulisan loh! Sisanya mau dibukukan lagi gak? Mau dong… moga-moga tahun depan, ada penerbit mayor yang mau mensponsori buku saya! Hehehe.. Aminn..

Eh… ini buku apaan sih? Dan Kenapa judulnya Jam Weker? Yang jelas ini bukan diktat kuliah, bukan buku teori motivasi (yang membosankan) dan bukan buku yang membacanya harus pake mikir… Biar seru, ini saya kasih kisi-kisi dari beberapa teman saya yang sudah baca:

  • Tulisan dan pemikiran yang kreatif, menghibur, dan out of the box. Dengan bahasa yang santai, renyah, menginspirasi, edukatif namun tidak menggurui, membuka jendela pikiran kita untuk lebih open minded terhadap paradigma hidup. Wajib dijadikan teman untuk menikmati secangkir kopi di sore hari setelah berjibaku dengan rutinitas pekerjaan di kota metropolitan yang carut marut ini (Windy Liestyani, Auditor Bank Mandiri)
  • Bukan sekedar bercerita, buku ini mengajarkan bagaimana cara menghargai, saling berbagi dan mencari ilmu disetiap kesempatan (Hendikin, IT Manager PT Indoferro)
  • Warna warni kehidupan yang sederhana tapi mengesankan dalam buku ini, hal yang sebenarnya biasa tapi menjadi menarik karena ditulis dengan tulus (Rynal May Fadly, Social Worker)
  • Buku ini asik banget dibaca, ringan, mudah dicerna dan sangat menghibur dengan gaya penulisan yang santai. Berbagai macam cerita ada disitu, dari yang serius, santai, humor, inspiratif, bahkan cerita hororpun ada loh. (Arlia Gustini, Make Up Artist)
  • Bacaan ringan yang enggak perlu pake mikir untuk bacanya. Penuh dengan kejadian yang inspiratif namun kocak yang terkadang membuat gw cekikikan sendiri saat a sampe ga berasa tiba-tiba sudah diujung halaman terakhir buku ini (Riesmayanti Nastinasari, Field Marketing Supervisor PT Nojorono)

Nah, sebagai rasa bersyukur…saya mau bagi bagi 3 buku ini FREE! Bebas ongkir dan bebas pajak! Heheh.. Gimana caranya

  • Tulis komen yang unik, apa yang kalian pikirkan tentang “Jam Weker”. Apapun tentang Jam Weker. Mungkin kamu punya cerita tentang jam weker di rumah juga boleh… Gak usah panjang-panjang, ringkas, lucu, menarik dan mudah dimengerti.
  • Pastikan alamat email kamu sudah diinput dengan benar agar saya mudah menghubungi, jika kamu menang,
  • Bagikan (share) link berikut  Pemesanan Buku Jam Weker  ini   lewat twitter atau Facebook kalian. Kalau twitter mention ke @vikhasy (Jangan lupa follow dulu), Kalau Facebook mention ke Jussmengkaa (huruf a-nya memang 2. Jangan lupa like dulu yaa.. http://www.facebook.com/jussemangka. Beri hastag #BukuJamWeker
  • Saya akan memilih 3 terbaik dan hadiah akan dikirim gratis ke alamat kalian!

Gimana, gampang kannn ??? Ditunggu hingga 10 Oktober 2016!

 

 

 

 

 

Hits: 1409

“Malam ini, saya tidak menunduk. Saya menatap lampu-lampu studio Indosiar yang terang ini, karena saya yakin suatu saat pasti akan kembali kesini.  Uang 100 juta hanya nominal yang akan habis di kemudian hari. Tapi setelah ini masih banyak yang akan saya lakukan, so tetap temani Saya”

Namanya Raim Laode, saya jatuh cinta saat pertama menonton audisinya melalui Youtube untuk Talent Show Stand Up Comedy. Pemuda berusia 22 tahun membuat saya hobi bolak balik nonton rekamannya. Komedinya renyah, cerdas, khas Indonesia dan mengandung kritik sosial. Ternyata saya tidak sendiri, ia digemari banyak orang. Dan tiba-tiba saja saya tidak mau terlewatkan satu episode pun penampilannya. 

Sampai akhirnya mata saya malam tadi berkaca-kaca. Seumur hidup yang bukan ABG alay lagi, baru kali ini saya begitu emosional akan hasil sebuah talent show. Raim Laode tereliminasi setelah diunggulkan oleh banyak pihak. Yah, harus diakui dua kali terakhir penampilannya memang bukan yang paling prima. Namun jika diukur rata-rata sejeblok-nya penampilan Raim Laode, masih tetap memiliki ambang bawah yang lebih baik dari beberapa kontestan lain. Masalahnya, ada kontestan lain -yang lolos”menurut saya” jauh sekali kualitasnya dibawah Raim. Materi kontestan yang satu ini, garing, tanpa pesan, tanpa wawasan dan (maaf) keliatan cetek. Harus diakui, pada beberapa penampilan sebelumnya, dia memang bagus. Tapi makin kesini, keliatan makin membosankan, tidak ada “isi” dan sangat monoton.

Dann…ternyata “Patah Hati” karena Raim tereliminasi jauhhh lebih sakit dibandingkan ketika tahu Jokowi mengeliminasi Menteri idola saya, Jonan dan Anis Baswedan. Serius!! Hahaha..

Yah, komedi memang masalah selera. Tapi bagi saya; komedi yang bagus itu: komedi yang cerdas dan berwawasan, bukan cuma lucu cengar cengir dengan subyek yang absurd. Dan semua itu ada pada Raim Laode. Mungkin dia memang “orang kampung”, tapi keliatan sekali pola pikirnya tidak “kampungan”.  Sementara tetangga sebelah? Entahlah…

Saya yang jarang banget nonton TV, awalnya berharap program ini, tidak sekedar komedi tetapi ada inspirasi dan pesan untuk anak-anak muda agar kian berkreasi, makin kenal negerinya dan makin cinta bangsanya. Raim membawa pesan itu, kehadirannya membuat kita jadi makin yakin bahwa Indonesia ini kaya. Dia pede dengan ketimurannya. Dia bangga akan asalnya. Sesuatu yang hampir langka dengan anak muda yang kini makin kebarat-baratan. Beberapa orang teman saya, bahkan penasaran banget hingga merencanakan ke Wakatobi. Bahkan, ada teman saya yang baru tau bahwa Wakatobi itu terletak di Sulawesi Tenggara bukan di Papua. Hahaha..

Setelah eliminasi itu, sosial media pun ramai. Saya pikir hanya saya yang kecewa dengan hasilnya. Saya pikir saya ini penonton biasa, saya gak ngerti teknik tenik nasihat juri. Saya taunya cuma; lucu, terhibur dan terselip “pesan” di dalamnya. Twitter penuh dengan ungkapan kekecewaan, kesedihan bahkan bully-an terhadap juri. Juri memang pakar, tapi di komedi, menurut saya JURI SESUNGGUHNYA ADALAH PENONTON! Anggaplah kami ini orang awam, tidak paham teori penilaian stand up comedy. Tapi saya kira juri harusnya cukup cerdas untuk menambah bobot acara ini dengan memilih peserta yang pantas ke babak final. Ada idealisme juri yang ternyata digadaikan (mungkin) demi…entahlah demi apa…

Dan.. kompetisi adalah tetap kompetisi. Ada yang kalah, ada yang menang. Ada kompetisi yang sebenarnya, ada pula yang setting-an. Ada pula yang tak jauh berbeda dengan sinetron drama. Kompetisi pun bukan akhir justru awal dari dunia yang sebenarnya. 

Hanya sedikit saya sayangkan, kenapa anak-anak seperti Raim tidak diberi kesempatan lebih lama untuk lebih banyak menginspirasi melalui ajang ini. Sadarkah sudah begitu banyak porsi telah kita berikan kepada selebgram yang gaya hidupnya jauh dari tata krama bangsa kita. Sementara, ada Raim dan (mungkin) Raim lain dan Raim selanjutnya yang “terpaksa” turun panggung, karena penilaian yang entah dasarnya apa…

Finally, Tetap semangat Raim, ini cerita manis untuk awal yang lebih manis. Indonesia bangga punya anak muda seperti kamu. Jangan lelah memberi inspirasi bagi banyak anak negeri. Maju terus! Saya yakin kamu bahkan jauh jauh lebih baik dari para juara. 

 

 

Hits: 1647

“Sabar ya, ini mesti dipukul-pukul biar bulu babi-nya keluar” kata petugas hotel. Sementara Saya masih tetap berusaha tenang sambil menahan perih. Ifan, teman perjalanan Saya, malah menyarankan untuk segera googling. Padahal boro-boro googling, bahkan sinyal sms pun susah!! Dasar orang kota!! Apapun masalahnya, solusinya cuma satu: googling!

Nah.. kebayang gak sih rasanya keinjek bulu babi? Buat yang biasa main ke laut, berenang saja maupun snorkeling apalagi diving, pasti tau banget nih ranjau satu ini. Hewan laut bernama internasional Sea Urchin ini memang pembunuh berdarah dingin. Dari jaman masih kuliah di Fakultas Perikanan yang praktikumnya sering ke laut, bulu babi adalah monster yang harus dihindari. Keinjek dikit, duri-duri tajamnya bisa masuk ke dalam kulit, bikin nyeri, badan panas dingin dan racunnya bisa membunuh. Serius!

Dua bulan lalu.. saat jalan jalan ke Pantai Ora, di Maluku saya kena kecelakaan kecil. Ceritanya, selepas eksplor Desa Saleman, di hari kedua kami pindah ke Ora Beach Resort. Biar  merasakan liburan agak berkelas gitu loh! Secara lumayan mahal sih, buat satu malem nginep di disini. Ketika kapal kecil kami merapat di darmaga resor tersebut, sontak semua teman-teman segera mengangkut barang-barangnya ke kamar karena tidak ingin menunggu untuk menikmati air biru tosca Ora yang memancing siapa pun untuk nyebur.

dari google
dari google

Kamar di Ora Beach, asyik banget.. bikin betah berlama-lama (apalagi buat yang honeymoon…upsss..) Dasarnya saya emang mental asisten RT, ketika teman-teman saya sudah sibuk nyari spot snorkeling, saya masih asik bebenah bagasi dan rapih-rapihin kamar (yang padahal sudah rapih) plus menikmati matahari dari kamar saya. Dilala, ketinggalan-lah gw!

Ah, gak masalah..kan saya biasa snorkeling sendirian. Nggak perlu juga jauh-jauh… toh di bawah kamar pun bisa tinggal loncat kok! Dan inilah pangkal awal cerita. Saya nekad nyebur, tanpa pakai pelampung, tanpa fin…Toh dalamnya paling cuma setinggi dada orang dewasa… Eh, sial! belum sampai 10 menit tiba-tiba..Nyesss.. serasa ada yang menusuk-nusuk telapak kaki kanan saya.  Udah pasti deh, ini bulu babi pikir saya. Cepat-cepat saya naik ke jalanan bambu yang menghubungkan antar kamar. Rasanya sih ketusuknya hanya dalam beberap detik, ternyaataaa banyak banget bulu babinya, saudara-saudara!! Syerem deh..

Beberapa tahun yang lalu, di Sabang Aceh saya juga pernah mengalami kejadian serupa. Tapi karena cuma satu duri saja yang menancap, mengeluarkannya pun tidak ribet. Sudah umum diketahui, step pertama adalah menghilangkan racunnya. Gimana caranya? Dikencingin alias dipipisin! Boleh pake air pipis sendiri atau kalau ada yang mau jadi volunteer pun boleh. Hehehe…  Kenapa? Karena air seni yang mengandung amoniak memang ampuh mematikan racun bulu babi.

Tak berapa lama, petugas hotel (yang sepertinya merangkap P3K) mendatangi saya. Ia membawa kayu gede yang mereka sebut kayu kapah kapah lengkap dengan jarum dan botol alkohol. Ternyata menurut kebiasaan disana, anggota tubuh yang terkena bulu babi harus dipukuli hingga berdarah. Beneran dipukuli loh! Katanya, ini bertujuan agar mengeluarkan bulu babi menjadi lebih mudah, karena rongga kulit akan terbuka. Alhasil, saya yang awalnya masih bisa cengengesan, benar-benar merasa kesakitan. Bukan karena sengatan bulu babi, tapi karena pukulan kayu kapah tadi. Ampun banget….

dipukul dan dicungkil...
dipukul dan dicungkil…

Setelah 30 menit berkutat dipukuli dan dicungkili, ternyata bulu babinya  tetap tidak keluar. Dari sekitar 20 buah duri yang menancap, tak satupun berhasil tercungkil. Bahkan beberapa duri hanya meninggalkan lubang yang berdarah. Akhirnya saya pun menyerah. Saya bilang ke petugas hotel dan pemandu kapal kami. Adakah dokter atau mantri di dekat-dekat situ? Mengingat itu hari Sabtu dan sudah sore, kemungkinan Puskesmas sudah tutup. Satu-satunya alternatif adalah mantri desa. Singkat cerita, saya dibawa dengan kapal menyebrang kembali ke Saleman untuk menemui Mantri Desa.

Mantri Desa buka praktek di rumahnya yang hanya sekitar 50 m dari bibir pantai. Di rumah kayu khas Saleman ini, ia juga membuka warung. Ketika menunggu, saya berbincang dengan beberapa penduduk asli. Seorang Bapak, menertawakan Saya. Dengan santai Ia bilang: “Wah…saya sih sudah bisa, tiap malam juga kena!” Yah, wajar, karena pekerjaan si Bapak ini memang nelayan. Sambil bercanda Ia melanjutkan, mungkin dirinya sudah kebal, cukup dengan air kencing, dan dipukul-pukul biasanya sudah hilang sendiri. Ada lagi Ibu-ibu yang mengusulkan lebih baik disuntik, dijamin mantap dan bisa main bola lagi besok. Saya tertawa, keramahan mereka membuat sakitnya pun jadi tidak terasa. Kata mereka, masih untung kena bulu babi yang berwarna hitam. Ada bulu babi berwarna biru dan ungu yang racunnya lebih mematikan. Untung sih untung..tapi kan tetep aja sakit…:p

Tibalah saat bertemu Pak Mantri. Ia orang Ambon asli, wajahnya datar, tanpa ekspresi, tidak ada basa-basi, bahkan bertanya kenapa pun tidak. Hmmm…sejujurnya agak kurang meyakinkan sebagai mantri. Ia hanya menawarkan untuk disuntik agar bulu babi keluar dengan sendirinya dan tidak perlu dicungkil-cungkil lagi. Saya menurut saja, sambil memastikan bahwa jarum suntik yang digunakan masih baru.

Eng..ing..eng.. tau kan rasanya ketusuk bulu babi ? buat yang belum pernah silakan dicoba deh.. TAPIII… itu belum seberapa jika dibanding suntikan Pak Mantri. Suntikan yang tepat di telapak kaki itu.. SAKITNYAA LUAR BIASAAAA… bisa 100 kali lipat dibanding kena bulu babinya sendiri. Saya sampe tinggal diem dan udah gak bisa nangis (saking sakitnya). Setelah 5 menit akhirnya rasa sakitnya mereda. Pak Mantri memberi saya semacam parasetamol dan antibiotik, katanya buat jaga-jaga kalau demam.

Kami pun kembali ke Ora. Ajaib,.. dalam waktu 15 menit saja, nyerinya hilang blasss!!  Ternyata bulu-bulu babi itu luruh sendiri akibat disuntik. Pak Mantri memang joss! Meskipun jalan saya masih terpincang-pincang dan sedikit diperban, besok paginya saya sudah bisa main main di laut lagi. Ya, tau gitu kan tadi gak usah pake drama pemukulan ,..kan???

korban bulu babi...
korban bulu babi…

Cerita selesai?! Belum. Sepulang dari Ora, selama dua minggu saya tetap menghabiskan antibiotiknya untuk membersihkan racun. Di minggu kedua, kok berasa ada yang aneh di telapak kaki kanan. Kesenggol dikit, seperti ada beling yang menancap. Iseng saya ke klinik di kantor. Jrenggg…ternyataa masih ada sebatang bulu babi di di telapak kaki Saya. Rupanya ia betah dua minggu dibawa kemana-mana. Melintas Maluku, Sulawesi hingga tiba di Pulau Jawa.

Lalu Bu Dokter bilang, jika posisinya terlalu dalam, saya harus dibius dan dilakukan operasi kecil. Duh, tiba tiba terbayang wajah Pak Mantri yang sudah “menganiaya” saya dua minggu sebelumnya. Takut banget,.. disuntik lagi.. Alhamdulillah, setelah dicek sekitar 30 menit, tidak perlu dibius dan sebatang bulu babi itu pun keluar dengan manis…

Pyuhhhh… Akhirnya..drama ini pun benar-benar berakhir… 🙂

Hits: 4164

Sering sekali saya tulis di blog ini, bahwa Yogyakarta adalah salah satu kota yang membuat saya “feel hommy”. Mungkin karena Saya dilahirkan di kota ini, tapi tentu saja karena banyak hal lain. Atmosfer Yogyakarta yang nyaman dan bersahabat membuat siapa pun tidak enggan untuk berkali kali datang kemari. 

Enaknya, Yogya menawarkan semua jenis akomodasi, dari level backpacker hingga hotel berbintang. Dari makan di kali lima hingga makan gaya bintang lima. Apapun gaya liburan kamu, dijamin Yogyakarta menyediakan semua pilihan. Nah, beberapa waktu lalu, sekali kali dong mencoba gaya libur horang kayaah.  Saya menginap di Hotel Grand Aston Yogyakarta, hotel berbintang lima ini terletak di Jalan Urip Sumohardjo 37, Yogyakarta. Lokasinya sangat strategis, terletak di tengah dan dekat dengan berbagai obyek wisata. Ada 141 kamar termasuk suites yang disediakan pihak hotel, dan semuanya didesain dengan elegan. Sementara untuk tipe suites, hotel ini memberikan tiga tema unik yang berbeda yaitu tipe Jawa, Cina, dan Barat. 

674_453_astonyogyakarta_WesternSuiteMainRoom
source: aston-international.com

Seperti jaringan hotel Aston lainnya, fasilitas Grand Aston Yogyakarta pun tak kalah menarik. Saffron Restaurant, merupakan tempat makan utama, disini disajikan berbagai makanan nasional dan internasional. Uniknya di restoran ini pun disediakan penjual jamu tradisional. Bukan cuma botol-botol jamunya loh, ini si embok pedagang jamunya pun ikut melayani para tamu.

Kemana-mana, saya selalu ditemani laptop kecil saya. Pas banget, saat malam saya nongkrong di Vanilla Sky Bar yang berada di lantai 9. Tempat ini menyediakan minuman ringan seperti kopi plus makanan ringan sebagai teman ngopi dan menulis. Pada waktu-waktu tertentu, Vanilla Sky Bar juga menyediakan Live Music dan Live DJ sebagai hiburan bagi para tamu. Sayangnya, ketika Saya mampir, Live Music-nya sedang tidak main. Ada dua bagian di bar ini, yaitu indoor dan outdoor. Indoor keren, outdoor juga pastinya keren, karena kita bisa melihat pemandangan kota Yogyakarta di malam hari.

source: aston-international.com
source: aston-international.com

Seperti hotel bintang 5 pada umumnya, Grand Aston Yogyakarta juga dilengkapi kolam renang dengan tempat bersantai dan sundeck untuk berjemur. Setelah capek keliling Yogya, kita bisa santai disini atau menikmati layanan pijat tradisional Jawa dan Spa di Pejamata Spa.

Banyak lokasi-lokasi menarik dekat hotel ini diantaranya; Ambarrukmo Plaza. Pusat perbekanjaan setinggi tujuh lantai ini memiliki lebih dari 200 toko. Mulai dari toko buku, toko pakaian, kosmetik, dan juga terdapat pusat perawatan badan dan kecantikan. Di Plaza ini juga ada arena bermain anak, food court, plus bioskop pastinya. Gedungnya, meskipun memiliki design gaya Jawa klasik namun interior yang digunakan cukup modern dan mewah. 

Tidak jauh dari situ, apalagi kalau bukan Malioboro. Siapa sih yang tidak kenal jalan yang sudah jadi maskot Yogyakarta. Turis asing maupun lokal selalu menyempatkan untuk mendatangi jalan Malioboro. Sehingga rasanya tak lengkap jika berkunjung ke Yogyakarta tapi tak mengunjungi Jalan Malioboro. Jalan sepanjang 2,5 km tak pernah sepi dari wisatawan. Di sisi kanan dan kiri jalan bisa ditemukan berbagai macam penjual makanan, souvenir, pakaian, pelukis, dan banyak hal unik lainnya. Di Malioboro juga ada wisata sejarah Benteng Vredeburg; museum yang berisi berbagai macam benda peninggalan masa perjuangan.

Pokoknya, Malioboro adalah miniatur kehidupan Yogya. Batik, becak-becak tradisional dan makanan-makanan khas Yogya semua ada disini. Pastikan kalau pulang dari Malioboro, tidak lupa untuk membeli oleh-oleh khas Yogyakarta seperti batik, bakpia, yangko, geplak, gudeg kering, dan masih banyak lagi.!

soure: www.inditourist.com
soure: inditourist.com

Nah, ini dia tempat yang kaya nuansa seni bernilai tinggi. Kenal Affandi kan… Museum ini memiliki koleksi hasil karya pelukis tanah air yang sangat terkenal itu. Dilengkapi pula dengan karya pelukis-pelukis lainnya. Museum ini empat galeri, dua studio, dan Café yang bernama Café Loteng. Selain lukisan, disini juga terdapat barang barang berharga Affandi semasa hidupnya, seperti mobil yang dibentuk seperti ikan.

Museum Affandi Source: Pegipegi.com
Museum Affandi
Source: Pegipegi.com

Mumpung di Yogya, sempatkan juga berkunjung ke  Taman Pintar Yogyakarta yang memadukan antara rekreasi dan edukasi anak dalam saty tempat. Terdapat banyak arena bermain yang memiliki sarana edukasi yang baik. Selain edukasi, ada juga penjualan buku, theater empat dimensi, taman, dan juga museum. Taman Pintar ini sangat cocok bagi anak usia dini untuk memacu imajinasi dan meningkatkan ketertarikan kepada ilmu pengetahuan.

 

Source: www.reportaseharga.com
Source: reportaseharga.com

Itulah sedikit ulasan tentang Hotel Grand Aston Yogyakarta dan tempat-tempat menarik di sekitarnya. Kamu bisa pesan sekarang, mumpung liburan masih lama. Hotel ini rekomendasi banget buat yang liburan dengan keluarga, rasakan liburan yang mewah, nyaman dengan harga yang terjangkau. Dijamin, biarpun lelah keliling Yogya, setelah kembali ke hotel, kita pasti akan merasa lebih fresh dan siap kembali bekerja dengan ide-ide segar!

Hits: 1128

“Gue mau ke Penang, minggu depan”…kataku ke seorang teman.

“Oh ya, siapa yang sakit?” responnya.

Begitulah, bagi sebagian teman-teman terutama yang bermukim di Medan dan Aceh, ke Penang aka. Pineng identik dengan berobat. Tidak heran, selain pelayanan kesehatan disana diakui banyak orang lebih baik (dan lebih murah), secara geografis jarak Medan, Aceh ke Penang memang lebih dekat. Kalau ke Jakarta butuh terbang sekitar 3 jam-an, ke Penang kurang dari 1,5 jam saja. Belum lagi sekarang makin banyak pilihan pesawat langsung kesana. Tapi…sekarang saya bukan mau cerita tentang Rumah Sakit di Penang, loh!

senja di Penang
senja di Penang

Saya sudah beberapa kali jalan-jalan ke Malaysia, tapi untuk negara bagian Penang, ini adalah kali pertama. Kepergian (ciyee kepergian…macem bahasa puisi) saya minggu lalu, memang dalam rangka sebuah short weekend gateway. Jika biasanya barengan para backpacker atau budget traveler kemarin bersama Ibu Ibu “Sosialita” kantor. Kalau biasanya dengan rombongan ber-carrier segede gaban lengkap dengan peralatan snorkeling, kali ini dengan Ibu-ibu berkoper cantik warna-warni. Jika biasanya dengan teman-teman blogger berkamera besar profesional, kemarin dengan Ibu-ibu ber HP canggih. Dan kalau biasanya dengan teman-teman yang tanpa kostum liburan yang jelas (baca: amburadul) kali ini dengan rombongan Ibu Ibu yang liburan dengan dresscode! Serius!!

blog18
heboh, tapi seru…

Dulu-dulu kalau ke Malaysia, saya jalan sendiri ngalor ngidul dan tidak menggunakan jasa travel. Nah.. kali ini, Ibu Ibu yang baik baik tadi membuat perjalanan lebih ter-organisir dengan semua yang sudah dipesan lebih dulu. Pun karena ini private tour jadi kami ber-8 bisa mengatur sendiri itinerary-nya. 

Tapi itulah yang membuat liburan kemarin berbeda! 

***

Kesan pertama ketika tiba di George Town, Ibukota Penang adalah: Bersih Banget. Hampir tidak ditemui pedagang kaki lima yang buka lapak sembarangan dan menganggu pemandangan. Lalu lintas yang teratur dan nafas kota wisata yang sangat terasa. Sama seperti Malaka, Penang juga kaya dengan bangunan heritage yang dijaga dengan baik. Bedanya, Malaka itu kental dengan bangunan Portugis sementara Penang sering disebut perpaduan tempat berpadunya tiga budaya sekaligus yaitu Inggris, Tiongkok dan Melayu dengan campuran budaya India yang kuat. Salah satu jalan di pusat kota dijuluki Harmony Street, karena di jalan ini berdiri gereja, kelenteng dan Masjid yang didirikan oleh muslim India. Kata driver kami, Penang bahkan lebih ramai di hari libur karena kunjungan turis, dibandingkan hari kerja.

Kami mampir ke beberapa tempat wisata seperti Museum Pinang Peranakan, Kek Lok Si Temple, Bukit Bendera, Armenian Street hingga Taman Kupu Kupu. Museum Pinang Peranakan akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri.  

kupu kupu di Enthopia
kupu kupu di Enthopia

Tujuan pertama kami dihari kedua adalah Kek Lok Si Temple. Mungkin ini adalah salah satu kuil Budha terbesar di Asia. Bangunannya terletak di perbukitan dan untuk sampai di puncaknya, kita harus menumpang trem kecil. Kuil ini sangat megah, luas dan terkesan mewah.  Di salah satu sisi, terdapat jejeran batu berwarna kuning emas, yang nampaknya menjadi perlambang para dewa. Jalan menuju lokasinya memang berkelok kelok, kalo gak kuat bisa membuat mabok. Mirip-mirip deh sama jalanan menuju tulisan Hollywood di LA (Los Angeles bukan Lenteng Agung) Dan…Alhamdulillah, saya sudah beberapa kali gitu  ke LA (eh…intermezzo sombong dikit..). 

Kek Lok Si Temple
Kek Lok Si Temple

Kami juga melipir ke Bukit Bendera, Penang Hill. Saya pikir,  ini cuma perbukitan biasa. Ternyata kontur, lokasi, pemandangan bahkan trem-nya mirip dengan The Peak di Hongkong. Dari ketinggian sekitar 700 dpl, kita bisa melihat pemadangan Pulau Pinang. Keren banget! Sepertinya sih, ini juga salah satu peninggalan Inggris. Tempatnya dikelola sangat baik, bersih, rapih, modern dan meninggalkan kesan yang dalam. Di bukit ini saya belajar (serius amaat sih..), bahwa Malaysia sangat sangat serius mengelelola pariwisata-nya. Padahal dengan lokasi dan kontur serupa, saya yakin di Puncak atau Lembang bisa dibuat obyek yang sama.

view di Penang Hill
view di Penang Hill

Dari semuanya, saya paling terkesan dengan Armenian Street. Namanya memang berbau Rusia, tapi akulturasi tiga budaya tadi sangat kental terasa disini. Bisa dibilang inilah pusat turis di Malaka. Jalan kecil yang panjangnya kurang dari 500 meter ini, menyajikan gedung gedung tua cantik, kelenteng antik dan mural-mural yang jadi ciri khas Penang. Bangunan-bangunanya diperkirakan sudah berdiri sejak abad ke18-19. Sebagian besar memang sudah direnovasi, tapi tidak membuang ciri khas lama-nya. Rumah-rumah toko bertiang kokoh berarsitektur Eropa, dibuat warna warni bervariasi. Ornamen-ornamen tiongkok menghiasi berandanya. 

satu toko unik di Armenian Street..
satu toko unik di Armenian Street..

Padahal nih ya,..mural-mural di Armenian Street itu biasa banget, entah kenapa jadi begitu tenar. Mungkin karena banyak foto (editan) yang viral yang kemudian mengundang orang untuk antre foto di satu lokasi.

antre foto depan mural yang tak seberapa...
antre foto depan mural yang tak seberapa…

Kalau saya lebih melihat Armenian Street sebagai bagian dari perkembangan peradaban. Harus diakui, Tiongkok adalah satu satu peradaban tertua di dunia yang membuat banyak keturunannya tersebar hampir di seluruh belahan dunia. Coba deh sebutin, mana sih kota besar di dunia yang tidak memiliki China Town? Penang pun memiliki China Town sendiri, namun Armenian menjadi lebih kaya karena berbagai budaya yang menjadi satu. 

Wefie Armenian Street
Wefie Armenian Street

Oya, secara gw “enganged” banget sama Aceh, di dekat Armenian Street ada jalan dan Mesjid Aceh. Memang disini banyak warga keturunan Aceh yang bermigrasi. Bahkan ada kampung nelayan yang isinya orang Aceh semua. Wajar karena itu tadi…secara geografis keduanya memang berdekatan.

blog8
Masjid Aceh

Soal kuliner, makanan paling tenar sejagad raya Penang namanya nasi kandar.  Awalnya saya kira, mungkin makanan ini dulunya dipopulerkan oleh Iskandar (ngarang banget….) hahahaha.. Kemudian tenar dengan nama Nasi Kandar. Ternyata saya salah!! Nasi kandar ibarat sebutan buat nasi padang, terdiri dari bermacam lauk pauk yang rempah dan bumbu Hindi-nya sangat terasa.  

antre nasi kandar
antre nasi kandar paling tenar se-Penang

Penang adalah penghasil durian terbesar di Malaysia. Gak heran deh bermacam-macam jenis durian dijajakan disini. Selain dibudidayakan, daerah pesisir Pulau Pinang sendiri adalah kebun durian original. Kami yang awalnya cuma pengen nyoba satu biji, keterusan hingga 3 biji. Enak sih.. Isi daging yang tebal, varian yang beragam, dari yang super manis hingga agak pahit semua tersedia. Yummy!

blog7 

Nah, bagian paling absurd neh, namanya jalan sama rombongan Ibuk-Ibuk, dilala gw lebih banyak jadi tukang foto. Yah, itung-itung cari pahala. Beneran, rombongan jalan-jalan kali ini foto-foto selfie dan wefie-nya bisa masuk MURI. Sampe-sampe foto landscape lokasi amat sangat sedikit, karena ternyata ponsel kamera saya penuh dengan foto wefie. Hahaha..

tukang foto karbitan..
tukang foto karbitan..

***

Terakhir, memang harus diakui, pariwisata kita harus harus belajar banyak dari Malaysia. Tahun lalu, pendapatan Malaysia dari Pariwisata  mencapai USD 21,8 miliar bahkan melampaui Singapura dan sangat jauh dari Indonesia yang hanya sekitar USD 9.8 miliar. Padahal destinasi wisata kita adalah yang terbanyak di Asia Tenggara. Malaysia mampu mengemas potensinya yang sebenarnya biasa-biasa saja dengan luar biasa. 

Tempat yang bersih, teratur, biaya yang murah dan masyarakat yang sudah sadar wisata menjadi kekuatan mereka. Satu lagi, mungkin promosi sih…yang membuat orang berduyun duyun datang kemari. Mau bicara promosi pariwisata digital, silakan buka Kama Digital Nusantara disini!

Ayooo..belajar dari Malaysia!

Hits: 1052

“Laper banget, tapi malas keluar dan lagi nggak punya duit!” Kalimat tersebut mungkin sering kamu dengar, bahkan kita ucapkan ketika jam makan siang atau malam tiba. Bagaimana ingin makan di restoran, wong belum gajian dan malas gerak alias mager. Lalu apa solusi yang tepat untuk kondisi seperti ini?

Pernahkah terbersit untuk menggunakan catering  konsumsi harian? Mungkin sebagian dari kita sudah pernah menggunakan jasa ini. Nah, buat yang belum.. tak banyak yang mengetahui terdapat manfaat “tersembunyi” dari menggunakan jasa catering harian. Mau tahu apa saja manfaat tersebut? Cek penjelasan di bawah ini, yuk!

Jasa Catering Menghemat Pengeluaran

Coba hitung, berapa pengeluaran kita setiap bulannya? Jika belum termasuk biaya makan, berarti jadi lebih besar lagi. Untuk kita-kita yang orang kantoran, pastilah ditambah pula dengan acara ngopi-ngopi bersama teman untuk menhindari stress akibat tumpukan pekerjaan.  Nah, jika sering pula makan siang ke restoran atau cafe, harga makanan pasti lebih mahal karena dibebankan biaya pajak dan service yang tinggi. Belum lagi jika ditambah pesan minum, yang seringkali bahkan lebih mahal daripada makanannya! Bikin bangkrut deh!

Namun berbeda soal jika menggunakan jasa catering. Mereka sudah memiliki standar harga yang sesuai dengan makanan yang disajikan. Kita juga gak perlu keluar ongkos buat menuju cafe atau restoran. Dengan sistem pembayaran catering yang jelas, kita menghemat biaya pengeluaran hingga 2 juta per bulan! Lumayan kan, uangnya selain bisa ditabung, juga bisa dipakai buat piknik! Yeay!!

Jasa Catering Menghadirkan Variasi Makanan

Pernah mengalami kebosanan yang tak terhingga saat makan di restoran favorit ? Ya, walaupun makan di restoran favorit, tetap saja kita bisa dihinggapi rasa bosan. Lain ceritanya jika menggunakan jasa catering. Pengusaha catering sudah menyusun menu yang pas dan variatif untuk menghindari rasa bosan pelanggannya. Selain memberikan berbagai pilihan menu yang variatif, mereka juga memastikan makanan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Bahkan ada jasa catering yang menunya bisa kita atu sendiri loh!

Jasa Catering Memberikan Menu dengan Gizi Seimbang

Makanan yang dikonsumsi di restoran boleh jadi lezat dan nikmat, namun apakah makan tersebut menerapkan pola gizi seimbang dengan menghadirkan makanan 4 sehat 5 sempurna? Hemmm, gak tau deh… Tubuh kita membutuhkan perpaduan karbohidrat dengan sumber protein nabati, lengkap dengan sayuran dan buah-buahan di setiap makanan yang kita konsumsi. Jasa catering memastikan kita mendapatkan menu makanan dengan gizi yang seimbang. Jangan abaikan kesehatan hanya demi melahap makanan enak!

Jasa Catering Menjamin Ketepatan Waktu

Di tengah kesibukan  yang padat, rata-rata kita harus “menyelipkan” minimal 15 menit untuk makan. Untuk orang dengan kesibukan yang tinggi, mengatur jadwal jam makan adalah hal yang cukup sulit. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Gunakan jasa catering dong! Dan kita selalu menyantap makanan tepat pada waktunya. Pelanggan catering dapat menentukan sendiri waktu dan lokasi yang sesuai untuk pengiriman. Jadi, gak ada lagi kelewat atau lupa makan akibat harus cari-cari dulu makanannya…

Jasa Catering Menjamin Kebersihan Makanan

Makan di luar, entah itu di kantin atau restoran pasti menggugah selera makan.  Padahal kebersihan makanan yang disajikan di tempat tersebut belum tentu terjamin! Jasa catering memastikan makanan yang kita konsumsi bersih dan sehat.  Sekarang makin banyak catering sehat yang selain enak juga bisa membantu program diet dengan tetap mengutamakan kecukupan gizi.

Setelah membaca manfaat “tersembunyi” dari menggunakan jasa catering, lalu dari mana kita bisa mendapatkan jasa catering yang terpercaya tersebut? Sejasa.com sebagai marketplace jasa No.1 di Indonesia dapat menghubungkan Anda dengan penyedia jasa catering profesional terpercaya. 

sejasa

Uniknya di Sejasa.Com calon pelanggan bisa mengkustomisasi catering sesuai kebutuhan.  Isi form dan request di web-nya, sesuaikan dengan kebutuhan dan budget masing-masing. Biar gak beli kucing dalam karung, lihat dulu review dan  portofolio penyedia jasa di halaman business profile, sehingga kita dapat memilih penyedia jasa catering yang terbaik!  Tinggal tunggu penawaran berupa estimasi harga dari beberapa penyedia jasa catering. 

Hits: 975

Sejak beberapa tahun ini, bagi Saya batik ibarat seragam sekolah. Bayangin aja, dalam satu minggu, saya wajib 3 kali menggunakan batik ke kantor. Alhasil, koleksi batik saya sekarang lumayan banyak.  Hebatnya, batik sebagai warisan leluhur kini bukan lagi dianggap baju resmi Indonesia. Kalau dulu dianggap seragam kondangan atau baju resmi Pak RT, kini batik makin dekat dengan kita. Sudah umum di setiap sudut jalanan kita melihat orang menggunakan batik. Kerennya lagi, modelnya pun kian beragam.

Seiring dengan berkembangnya mode saat ini, kain batik tidak hanya digunakan sebagai pasangan dari kebaya atau pakaian tradisional saja, namun banyak designer yang sudah menggunakan batik sebagai bahan dasar rancangan mereka. Belakangan batik sedang banyak diminati juga oleh kalangan muda dikarenakan modelnya yang beragam, coraknya yang lebih “muda” dan warna-warnanya yang makin bervariasi. Harus kita tahu, bahwa batik itu tidak cuma berasal dari Jawa loh, hampir seluruh daerah di Indonesia punya batik. Kaya kan negeri kita ?

Hampir semua model pakaian gini sudah menggunakan batik, mulai dari mulai kemeja, jaket, hem, celana bahkan rok batik wanita saat ini lagi hits banget. Dari model resmi hingga santai. Rok batik juga bisa dijadikan pilihan yang tepat untuk digunakan di berbagai macam acara dari resmi hingga santai. Ada beberapa model yang bisa jadi pilihan kamu menggunakan batik, sekaligus tips agar menggunakan batik tidak monoton.

Kain batik untuk Rok

Belakangan ini banyak tutorial untuk memakai kain batik menjadi rok tanpa harus dijahit terlebih dahulu, cara ini memang cara yang paling mudah dan simple untuk menggunakan kain batik yang kamu punya. Selain itu kamu juga bisa memakainya di acara-acara formal, ataupun santai. Padanannya pun bisa kebaya semi formal, blouse ringan bahkan cardigan.

batik1

Celana batik

Selain dibentuk sebagai rok, kain batik juga dibentuk menjadi celana. Bagi kamu yang tomboy pasti lebih senang menggunakan model ini karena simple dan membuat kamu jadi lebih mudah bergerak. Kalau dulu celana batik cuma jadi pakaian tidur, kini naik pangkat bahkan bisa digunakan untuk acara resmi tergantung potongannya. Buat kamu yang suka traveling, saya rekomen banget nih punya koleksi celana batik. Selain ringan, lembut, gampang kering, pilihan warna-warna cerah juga bakal bikin foto kamu instagramable!

Dress

Cara ini mungkin agak sedikit unik, namun sudah banyak artis dan beberapa fashion blogger yang membuat tutorialnya. Kamu bisa mem-variasikan kain batik kamu sebagai dress, mulai dari neck dress, atau one shoulder dress. Dress batik dalam potongan sederhana sudah lazim digunakan sebagai pakaian kerja. Biar terlihat lebih formal, kamu bisa menambahkan blazer warna senada.

Dari berbagai pilihan model serta tutorial memakai kain batik yang ada saat ini pasti akan membuat kamu lebih mudah untuk menentukan model dari kain batik sesuai dengan keinginan kamu. Memakai kain batik menjamin penampilan kamu terlihat lebih menarik dan elegan.  Bagi kalian yang lebih senang membeli rok, atau kemeja batik bisa juga dilihat di mataharimall.com untuk berbagai macam koleksi batik.

Hits: 727

“Nonton Rudi Habibie yuk”, kata saya ke seorang teman saat kami sama-sama bingung mau melakukan apa di sebuah akhir pekan bulan lalu.

Upss, dua setengah jam tak terasa berlalu. Saya menengok arloji, sudah menjelang tengah malam rupanya. Rasanya belum ingin beranjak dari kursi empuk sinema ini. Masih belum ingin meninggalkan Reza Rahardian yang memainkan lakonnya begitu apik di film itu. Reza benar-benar menjelma menjadi Habibie muda dengan kobaran nasionalisme yang tertular pada Saya. 

Setelah film usai, saya bergegas meng-update sosial media saya. Tidak sabar ingin menularkan rasa cinta kepada negeri yang mendadak menjalari sekujur tubuh Saya. Saat yang sama, sebagian teman-teman saya justru enggan menonton film Indonesia, karena menganggap film lokal tidak sekeren film Amerika yang penuh efek canggih mengagumkan. Mungkin mereka lupa, ini bukan soal film, tapi tentang seorang yang turut membesarkan bangsa ini.

***

Sekitar delapan belas tahun lalu, Ia pernah memimpin negara ini walau hanya selama 512 hari. Tampuk pemerintahan “mampir” padanya setelah gejolak besar terjadi dan memberi perubahan luar biasa pada Republik ini. Sebelum itu, jabatan Menteri Riset dan Teknologi menjadi jabatan yang melekat bertahun-tahun padanya sejak Ia kembali dipanggil pulang untuk mengabdi ke tanah kelahiran. 

Kala benda bernama pesawat terbang masih jadi barang langka dan mewah sebagai moda transportasi, Habibie bahkan sudah membuat dan merakit sendiri pesawat untuk negeri ini. Sederhana, baginya gugusan kepulauan Nusantara yang luas ini hanya dapat terhubung dengan industri kedirgantaraan yang mandiri. Konteks yang sama pernah dicetuskan Patih Gajah Mada ketika bersumpah Palapa, bahwa Indonesia adalah Nusantara. Habibie meneruskan cita-cita itu dengan membangun mimpi menghubungkan Indoensia melalui pesawat ciptaannya.

Habibie pun menjelma menjadi merek bagi manusia Indonesia yang jenius. Ketekunan, keuletan dan kegigihannya mengilhami banyak orang. Terlebih kecintaanya pada Indonesia yang membuatnya memilih kembali mengabdi pada negeri, walaupun Jerman sudah menganugerahi warga negara kehormatan karena paten-paten yang Ia hasilkan untuk industri aerodinamika penerbangan.

 

Memang, perjalanan hidup Habibie tak selamanya mulus dan tak bergelombang. Kehilangan figur Ayah di masa kecil, dibesarkan oleh Ibu yang single parent dan berjuang sendiri menuntut ilmu di negeri orang bukan perkara yang mudah yang harus dilalui Habibie Pun ketika berhasil menduduki kursi orang nomer satu di negara ini. Cibiran, penolakan hadir dari berbagai lapisan karena Habibie sejatinya bukan dibesarkan dari politik. 

Pada masanya, Ia berprestasi dalam diam. Mungkin orang mengira Habibie cuma tahu soal pesawat terbang dan teknologi. Tidak lebih dari itu. Namun di kurang dari dua tahun pemerintahannya, Ia menelurkan berbagai peraturan yang hingga kini berpengaruh signifikan bagi Indonesia. Masih ingat, nilai dollar yang naik hingga 500% pada 1998? Cuma Habibie yang dalam waktu singkat mampu mengawal penurunannya menjadi ke Rp6700 saja. Habibie hadir saat Indonesia dalam kondisi sakit parah. Ekonomi kacau, politik amburadul dan masyarakat kian lemah. Habibie ada di masa transisi besar bangsa ini. Masa yang kemudian menjadi salah satu milestone paling penting sejarah bangsa.  

Ah, sungguh…saya malas dan muak dengan politik!  Walau para politikus itu berkampanye (katanya)  atas nama rakyat, selalu ada kepentingan lain atas nama kekuasaan dibaliknya. Tiga puluh tahun berkuasa, Eyang meninggalkan begitu banyak prasasti kebaikan dan meninggalkan dosa-dosa masa lalu. Para suksesornya seluruhnya orang-orang hebat, namun akhir-akhir ini, semua seakan kembali berebut panggung.  Maju ke depan kembali dan lagi lagi atas nama rakyat.  Entah itu demi masa depan partai, entah karena masih belum puas atas kekuasaan

Namun Habibie berbeda. Pidato Pertanggungjawabannya sebagai Preseiden RI pada 1999 memang ditolak MPR, tapi itu bukan menjadi alasan  mundur untuk berkontribusi. Bola matanya yang besar, seolah  ingin menunjukkan semangatnya yang menyala-nyala. Dijembataninya seluruh kepentingan. Tidak memihak, tidak sibuk mencari-cari kesalahan pelaku politik. Habibie sadar, di usia senjanya sudah sepatutnya Ia mendorong generasi yang kini berjuang mengisi kemerdekaan. Habibie jauh dari riak-riak kepentingan satu golongan. Ia ada di setiap kondisi yang membangkitkan semangat, motivasi dan inspirasi. Ia berpikiran terbuka, pandangannya jauh ke depan. tidak terdoktrin cara-cara lama. Bagi saya Habibie adalah Bapak Bangsa Generasi Millenium. 

Sementara tanpa disadari, kita hidup di generasi yang nyaris kehilangan figur. Kita ada di masa ketika selebgram (sebutan pengguna aplikasi instagram dengan ribuan pengikut) justru menjadi idola dan panutan. Baru-baru ini seorang artis Amerika komplain dengan panitia konsernya di Jakarta, yang tidak memperbolehkannya menggunakan baju terbuka. Gara-gara itu, katanya Ia tidak dapat berekspresi secara maksimal. Aspirasi yang dituliskan di akun sosial media -dengan lebih dari 90 juta pengikut-, justru didukung oleh penggemarnya di Indonesia. Mereka ikut-ikutan mem-bully negara sendiri yang seharusnya mereka banggakan karena punya prinsip dan budaya. Banyak anak-anak muda kemudian yang dimanjakan teknologi namun lupa menghasilkan karya. 

***

Minggu lalu, senang rasanya bisa mengunjungi Pameran Foto Habibie sebagai penghormatan terhadap Ulang Tahun beliau yang ke 80. Acara ini bertajuk Pameran Foto Habibie dan Gebyar Aneka Lomba yang diselenggarakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends of Mandiri Museum.  Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli – 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua.

Sosok cerdas, nasionalis dan penuh cinta dirunut dalam rangkaian foto yang bercerita. Bangga masih ada juga komunitas anak muda yang menjadikan Habibie sebagai panutan bagi negeri.  Habibie adalah inspirasi yang sebenarnya.

 

 

Hits: 689