Kalau bisa dapat harga murah, kenapa harus beli yang mahal? Betul gak? Dengan frekuensi traveling yang cukup kerap, memesan hotel melalui internet menjadi pilihan saya beberapa tahun terakhir ini. Praktis, murah dan mudah. Lebih asyik lagi banyaknya situs yang menawarkan memesan kamar hotel secara online membuat harga makin bersaing yang tentunya akan menguntungkan kita sebagai pelanggan.

Nah, akhir-akhir ini dengan kondisi kantong yang mepet, hasrat buat liburan sulit terlawan. Iseng-iseng saya mengecek Pegipegi.com yang memang sudah jadi langganan Saya. Dari sekian banyak situs pemesanan hotel, harganya yang lebih murah dan pilihan hotelnya banyak. Bahkan hotel-hotel baru yang belum terdaftar di situs lain, sudah ada di Pegipegi.Com.  Tidak usah traveling jauh-jauh, saya sering sekedar mampir satu-dua hari untuk menyegarkan suasana ke kawasan Puncak di Bogor atau leyeh leyeh di Bandung. Beberapa waktu lalu saya malah memesan hotel di Semarang dan Yogyakarta untuk mampir sebentar setelah menghadiri sebuah pernikahan. Jadi lebih super irit lagi, karena Saya perginya rame-rame yang artinya bayar kamar pun bisa sharing. Duh, ini sih udah emak-emak tapi masih bergaya anak kos… Uniknya lagi, dengan menjadi anggota Pegipegi.com, kita terus mendapatkan potongan jika membagi pengalaman kita melalui situsnya. Never ending diskon deh!

 

jangan lupa piknik!
jangan lupa piknik!

Baru-baru ini saya diberi tahu oleh seorang teman tentang situs Paylesser.Com. Ternyata situs yang bermarkas di India ini sudah menjalin banyak kerjasama dalam bentuk pembelian voucher diskon dengan berbagai e-commerce di Indonesia. Dan salah satunya Diskon Voucher Pegipegi Indonesia. Yess!! Rejeki anak sholeh banget nih! Hehehe.. Jadi deh short escape saya bulan lalu di Bandung menggunakan Paylesser voucher juga.  Paylesser juga bekerja sama toko-toko online terkenal di Indonesia, tidak hanya pembelian tiket dan hotek untuk traveling. Jadi jangan khawatir, kita bisa dapet paylesser voucher untuk barang-barang yang mungkin selama ini kita idam-idamkan. 

payless1

Mau nyontek resep hemat ala saya?  Yuk, hunting Diskon Voucher Pegipegi Indonesia !! Cukup ikuti langkah-langkahnya. Sekarang lagi ada ada promo potongan hingga 50% di beberapa destinasi utama wisata di Indonesia. Plus bisa juga sekalian mencari potongan untuk beli tiket kereta api. Untuk pemegang kartu kredit dari beberapa bank, silakan juga dicek. Lumayan loh! Menghemat biaya traveling sama dengan kita bisa jalan-jalan sepanjang tahun. Yeay!!

payless2

Hits: 759

Satu setengah tahun yang lalu, saya sudah pernah merencanakan untuk mengunjungi Pantai Ora ini. Sudah siap tiket, tinggal packing tiba-tiba kepergian itu batal, karena saya harus mengikuti proses akhir pekerjaan yang sekarang. tentu saja keputusan mendadak itu membuat Ifan, sahabat saya kecewa berat. Tak disangka, satu bulan yang lalu, Ifan menawarkan lagi, untuk kesini.  Mumpung waktunya pas banget sama liburan, akhirnya bertepatan dengan hari kedua Idul Fitri, bersama tiga orang teman lainnya, kami pun meluncur ke Pulau Seram.

Di tulisan sebelumnya, saya sudah bercerita gimana melelahkannya untuk sampai ke Desa Saleman yang menjadi titik awal kami mengeksplore keindahan Pantai Ora dan sekitarnya. Tapi, baru mencium wanginya air laut saja, rasa capek akibat perjalanan lebih kurang 15 jam dari Jakarta, menguap seketika. Sungguh, Saleman membuat saya jatuh cinta.

fffff

Hari pertama, kami menginap di sebuah homestay penduduk yang sangat nyaman di Saleman. Keluarga Bang Andre pemilik “Moluccas Tour” homestay, bahkan yang mengatur seluruh akomodasi islands hoping, antar jemput ke Masohi plus menjadi guide kami selama disana. Lebih mantep lagi, karena makanan yang disajikan di homestay ini, super enak! Serius!! bahkan jauh jauh lebih enak dari makanan di Ora Resort. Hari kedua, demi merasakan “maskot” pantai ini kami pindah ke Ora Beach Resort. Memang harganya lumayan merogoh kocek, untuk seorang budget traveler seperti saya. Tapi apa yang kita rasakan dan temukan disana, dijamin spektakuler. Hanya ada kurang dari 10 cottage di atas air di resort ini. Harganya dihitung per orang bukan per kamar. Fasilitas yang didapat makan 3 kali, jika perlu bisa sekaligus dengan antar jemput dari dan ke Masohi plus pelayanan islands hoping di seputar Ora.

best home ever...
best home ever…

Di bawah kamar, ikan dori berenang bergerombol kesana kemari. Selama ini  semua  cuma saya lihat dari film animasi Amerika; Finding Dory. Di bagian lain sekelompok ikan bergaris garis yang dengan santai menghampiri manusia yang duduk di pinggir darmaga. Di tepi pantai, kumpulan ikan kecil-kecil seperti teri bisa ditangkap semudah menciduk air dengan gayung. Deuhhh kayaknya enak banget dibikin perkedel! Sepanjang mata memandang, air biru toska tanpa gelombang dan cuaca cerah membuat langit makin biru. Semua itu dilengkapi dengan latar belakang pemandangan bak kalender; bukit karang yang dipenuhi hutan tropis. 

hhhhhhh

Saya baru saja pulih dari sakit gejala typus ketika berangkat ke Ora. Namun, ketika melihat tenangnya biru laut, ada hasrat untuk segera menikmati air dan pemandangan bawah lautnya. Agak ragu-ragu juga awalnya, bukan karena gak bisa berenang dan nerpes (baca: nervous), tapi kepikiran sampai Jakarta harus makan lagi obat yang buanyakk. Namun seperti ada kekuatan magis akhirnya byurrr…nyebur juga! Lupa deh sama  yang namanya sakit! (Dont try this at home!)

IMG-20160710-WA0055

Islands hoping di Ora bukan cuma melihat indahnya taman bawah laut, tapi paket komplit dengan kontur atas lautnya. Tebing-tebing tinggi menjulang membentuk lekukan-lekukan eksotis dan gua-gua laut yang menantang untuk dieksplore. Ketenangan air laut Ora dan sekitarnya membuat siapa pun bisa menikmati sejuknya air laut disini. Tidak perlu khawatir ada ombak besar, bahkan di beberapa tempat, dasar laut yang dipenuhi pasir putih nampak jelas dari permukaan. Ibarat kolam raksasa yang menyatu dengan laut lepas.

must have picture..
must have picture..

Ada banyak spot yang menarik untuk islands hoping di Ora. Pada beberapa titik sudah dibangun semacam gazebo di tengah laut, sebagai titik awal snorkeling. Tebing tebing karang tinggi memanjakan mata dan sangat instagramable. Uniknya, banyak gua-gua di tengah tebing yang lautnya sangat dangkal dan asyik banget sebagai tempat berendam. Lokasi paling menantang adalah spot yang sering disebut “Gua Tebing”. Gua ini serupa kolam kecil berada di bawah tebing dengan kedalaman laut sekitar 6-8 meter. Untuk masuk kesini kita harus melewati bawah tebing, yang artinya harus menyelam beberapa detik dan harus super hati-hati, agar kepala tidak terbentur ujung bawah tebing. Kalau mau berfoto, harus diambil dari sisi lain, oleh orang yg sudah pengalaman, karena harus naik ke bagian tebing yang lebih tinggi dan menyerupai jendela. Hati hati ya!

Gua Tebing
Gua Tebing

Satu hal yang sangat otentik dari Ora adalah kandungan air tawarnya yang banyak. Mungkin karena dikelilingi banyak gunung, mata air tawar sebagai kebutuhan pokok jumlahnya sangat berlimpah. Tidak ada air payau sedikitpun. Ajaibnya ada satu mata air yang disebut penduduk sekitar; mata air Belanda. Letaknya tepat di pinggir pantai dan menyatu dengan air laut! Bayangin, di tengah gelombang pantai, ada air tawar yang melebur dengan air laut. Mata air besarnya hanya sekitar 10 meter dari tepi pantai, kita bisa mandi dan berendam disana. Lucunya suhu air tawar ini dinginn bangett, sangat kontras dengan air laut yang hangat. 

berendam di air tawar super dingin..
berendam di air tawar super dingin..

Duh,Tuhan, maafkan..saya hampir lupa.. kalau Engkau-lah Sang Maha Arsitek di muka bumi ini 🙂

Buat yang senang hiking atau treking, banyak lokasi cihuy yang bisa dijajal di Ora. Saya sempat ikut rute pendek, treking sekitar 10-15 menit di salah satu tebing. Memang semua tebing, lokasinya terjal dan berbatu tajam. Tapi, ketika tiba di puncak, huaaaaa… pengen rasanya gak pulang karena mata dan hati tidak henti-hentinya terkagum-kagum atas surga yang tersembunyi ini.. 

nongkrong cantik abis treking..
nongkrong cantik abis treking..

Terakhir, buat yang bertanya-tanya gimana kesini (sebenernya udah banyak yg nulis juga), ini saya kasih ancer-ancernya. Dari Jakarta naik pesawat ke Ambon (rata-rata via Makassar), ambil penerbangan malam agar bisa tiba di Ambon pagi harinya. Saya sarankan pilih penerbangan Garuda, harganya tidak beda jauh dari Lion namun yang pasti lebih nyaman, karena kita perlu saving energy yang cukup menuju Ora. Dari Bandara Pattimura, menuju Pelabuhan Tulehu (bisa sewa mobil) sekitar 30 menit lanjut menyebrang ke Pulau Seram dengan kapal cepat (hanya ada 2 kali sehari). Dari Pelabuhan Masohi di Pulau Seram masih perlu waktu sekitar 2,5 jam untuk tiba di Saleman. Bagi yang suka mabok, siapin diri baik-baik..karena jalanannya berliku, meliuk-liuk, naik turun dan berbatu.  

Total tiket pesawat PP sekitar Rp2,5-3 juta PP. Kalau sendirian atau berdua, sangat disarankan ikut open trip alasannya biar lebih hemat, itinerary-nya jelas dan bisa dapat teman baru. Kalau mau pergi berkelompok, bisa arrange sendiri dengan kisi-kisi yang tadi saya jelaskan. Total jenderal siapin kocek yang “aman” sekitar 5-6 juta untuk perjalanan 3 hari 2 malam (plus satu malam perjalanan).

Kalau perlu bantuan, jemputan dan lain-lain, silakan kontak Bang Andre di 0853-54506962! Dijamin memuaskan!

 

 

 

 

Hits: 1898

Desa Saleman. Masih lekat di ingatan, beberapa jam sebelumnya pesawat kami mengalami turbulensi cukup hebat, hingga selama 1,5 jam perjalanan Makassar-Ambon lampu seat belt tidak sekalipun mati, bahkan beberapa kali Pilot mengumumkan untuk tidak beranjak dari kursi, walaupun cuma untuk lavatory.

Selanjutnya, dua setengah jam terombang-ambing di lautan dari Pelabuhan Tulehu, Ambon menuju Dermaga Amahai di Masohi Pulau Seram. Baru kali ini rasanya naik kapal cepat dengan guncangan yang lumayan dahsyat. Beberapa tahun lalu saya sempat merasakan hal yang sama ketika bertolak dari Derawan menuju Tarakan. Namun baru kali ombak lautan membuat saya nyaris mabuk.

“Gue yang sudah empat kali kesini, baru sekarang ngalamin kejadian kayak gini” kata Ifan yang mengajak saya jalan-jalan kesini.

kapal

Belum selesai merasakan sisa-sisa mual akibat amukan Laut Seram, kami harus melanjutkan perjalanan darat Masohi-Saleman selama kurang lebih 2,5 jam. Awalnya sih jalannya mulus, lancar dan lurus. Tetapi selepas kawasan Waipia memasuki wilayah Saleman, jalanan berbatu, berkelok kelok tajam dan naik turun di tengah hutan belantara harus dilalui. Yes, inilah turbulensi ketiga! Lagu Broery Pesolima yang diputar Bang Andre sepanjang perjalanan sama sekali tidak mengurangi rasa mual dibarengi kantuk karena perjalanan malam yang menghabiskan waktu lebih dari 15 jam dari Jakarta. Dan nyaris tanpa tidur!

blog2

Tetapi semua itu terbayar lunas saat kami tiba di Saleman. Desa kecil ini adalah titik pangkal menuju Pantai Ora yang ditempuh 10 menit menyeberang dari sini. Topografi Seleman yang berada diantara hutan dan pantai di Teluk Ambon membuat desa terpencil ini dikaruniai pemandangan yang sempat membuat saya berpikir untuk tidak mau pulang. Rasa lelah, mabuk, penat, kantuk dan pegal-pegal selama perjalanan yang cukup panjang itu, tiva-tiba hilang begitu saja.

***

Desa Saleman hanya berpenduduk sekitar 700 jiwa. Sebagian besar dari mereka beragama Islam, tidak heran ada dua masjid di desa ini. Uniknya, sistem pemerintahannya masih mengikuti adat, dimana pemimpin mereka disebut Raja, dan hanya keturunannya yang dapat menjadi penguasa disini. Konon karena perebutan kekuasaan, Saleman terbagi menjadi dua wilayah yang berdampingan.

blog9

Raja kami, bernama Raja Ali Arsyad Makatita” kata Bang Andre sambil menghirup kopi di sore itu. Dalam struktur pemerintahan resmi, Raja disetarakan dengan Kepala Desa. Di Maluku, konsep pemerintahan yang diselaraskan dengan hukum adat seperti ini sudah sangat jamak dilakukan.

Kami tinggal disini selama dua hari ke depan. Keluarga Bang Andre yang memfasilitasi perjalanan kali ini menyambut kami dengan ramah. Ayah Bang Andre masih berdarah Sumatera, sementara Ibunya adalah orang asli Saleman. Lantai dua dan tiga rumah mereka disulap menjadi homestay yang super nyaman. Ibu Bang Andre jago memasak, lengkaplah sudah kebahagian kami karena setiap hari disuguhi makanan enak.

blog8

“Oya, kita harus ke ujung desa”, kata Ifan. Ada rumah ABRI yang bertugas menjaga Saleman dan beberapa desa lain dari kerusuhan antar suku, agama dan golongan disini. Ada sekitar 10 orang ABRI yang dinas disana, terkadang mereka juga diperbatukan untuk menjaga laut yang berbatasan langsung dengan perairan Filipina ini. “Kami disini bergiliran bertugas dan tidak pulang selama satu tahun” ujar salah seorang personil. Untuk menambah kesibukan, Bapak-Bapak ini menanam sayur mayur di pekarangan. “Lumayanlah, karena sayuran termasuk barang langka di desa ini” kata mereka. Dedikasi terpancar jelas di wajah mereka yang begitu ramah dan bersemangat atas kunjungan kami.

IMG-20160710-WA0024
Bersama bapak ABRI penjaga perdamaian dan perbatasan. NKRI harga mati!

Paginya saya berkeliling Saleman. Melihat dari dekat rumah-rumah penduduk asli yang sebagian besar masih terbuat dari kayu. Tanpa ragu, saya menyapa penduduk yang mulai beraktivitas di pagi itu. Tidak ada tatapan aneh dan curiga, senyum bersahabat yang mengembang dari Ibu Ibu yang menjemur pakaian bayi, menandakan desa kecil ini ramah dan terbuka kepada para pendatang. Di depan rumah terjemur cengkeh-cengkeh yang akan dijual. Ya, mata pencaharian utama mereka memang bertani cengkeh. Hanya sebagian kecil yang berprofesi sebagai nelayan. Mungkin karena penghasilan berdagang cengkeh lebih menguntungkan dari nelayan.

blog1

Jangan tanya teknologi canggih. Listrik saja hanya menyala di malam hari. Hanya ada satu provider telekomunikasi pelat merah yang beroperasi, itu pun paling banter cuma bisa buat SMS. Tidak ada game online, hanya anak-anak kecil berlarian di tanah berpasir pantai sebagai jalanan kampung. Di satu sisi terlihat sekelompok lelaki bergotong royong membangun tenda bambu untuk sebuah hajatan.

blog16
wake up every morning with this view 🙂

Sambil ngobrol di depan kamar, saya mengamati tiga bukit karang yang mengapit Saleman. Rolessy, Hatumalulohon dan Kelinanti.  Ketiganya seolah melindungi Saleman dari pengaruh buruk dunia luar. Bukit-bukit itu berpayung kabut abadi menyatu dengan birunya langit. Sementara di sisi berlawanan, sepanjang mata memandang, laut biru dan hijau toska berpadu membuat pandangan lepas tanpa jarak, membuka semua relung hati, membuang semua gundah dan menggantinya dengan perasaan damai, nyaman dan tenang. Asal tau ajah, sebuah penelitian menyebutkan, mendengarkan deburan ombak dan menatap birunya laut dapat membantu meningkatkan kecerdasaan.

Di tengah kampung berdiri sebuah Masjid dengan suara azan yang memenuhi setiap sudut desa. Ada rasa yang berbeda. Rasa yang sama sekali belum pernah saya rasakan di Jakarta.

blog5

Kata seorang teman, ada emotional feeling, ketika sunrise menjadi saat yang paling dinantikan dan ketika sunset menjadi waktu terbaik untuk merasakan megahnya ciptaan Tuhan. Dan, Saya menemukan semua itu di Saleman.

Saya Jatuh Cinta…

Untuk yg mau ke Saleman dan Ora, sila kontak Bang Andre Kamaruzzaman 085354506962

Hits: 3499

Kalau masih bisa mudik, mudiklah. Biarpun ribet, macet, mahal dan capek. Karena pada saatnya nanti, saat semua sudah terpisah, berkumpul dengan keluarga menjadi sesuatu yang sangat mewah

Siang ini saya seharian di rumah, menonton TV yang hampir seluruh siarannya berisi berita arus mudik. Ah, baru sadar sudah berapa lama saya tidak ada dalam rombongan itu. Beberapa tahun lalu saya masih merasakan mengantri hingga belasan jam di Pelabuhan Merak untuk menyebrang ke Bakauheni. Mobil kami berdesak-desakan dengan ribuan kendaraan lain. Saking penuhnya, untuk membuka pintu mobil pun tidak bisa. Kebelet pipis ? Yah, silakan keluar lewat jendela. Serius loh! Di masa kuliah tidak kalah parahnya. Namanya mahasiswa yang hidup pas-pasan, saya pernah mudik dengan bis ekonomi tanpa AC dan kaca jendela yang tepat di kursi saya copot. Jadilah selama perjalanan yang hampir 24 jam itu, saya tertampar-tampar angin malam dan udara lepas.  Masuk angin deh, ketika sampai kampung. Ketika bekerja di Aceh, saya juga pernah mudik dengan rute yang lumayan. Banda Aceh-Medan-Jakarta-Palembang disambung 5 jam perjalanan darat ke Lahat. Pake pesawat terbang memang, cuma namanya musim liburan, bandara pun tidak ubahnya terminal bis. Apalagi, saat itu tiket pesawat Banda Aceh tujuan Jakarta habis. Terpaksalah saya transit di Medan hingga setengah hari lamanya.  Tidak heran kalau saya sering sekali tiba di rumah menjelang Sholat Ied.  

Kalau pun sekarang sudah lebih mampu dan mudik pasti pakai pesawat, ternyata saya merindukan masa-masa itu. Berdesak-desakan dengan sejumlah oleh-oleh buat handai taulan, macet, antri lama seolah tidak berarti jika ingin berlebaran bersama keluarga. Bahkan tidak sedikit yang mudik dengan menantang bahaya. Bermotor dengan keluarga dengan barang bawaan yang tidak sedikit dan jarak tempuh ke kampung yang hingga ratusan kilometer. Malah, tetangga teman saya yang seorang pengemudi bajaj, pernah mudik dengan bajajnya! Gila memang. Hebatnya orang Indonesia, mereka menjalani itu setiap tahun tanpa kapok dan bosan! Persiapan mudik, mulai dari mencari tiket hingga menyiapkan oleh-oleh terkadang malah melebih persiapan ibadah puasa itu sendiri. Kalau pun sekarang moda dan infrastruktur transportasi kian dibenahi, namun itu tidak mengurangi “kehebohan” ritual tahunan ini.

Family Time
Family Time

Sekarang kondisi di keluarga saya sudah berubah. Setelah anak-anak sudah pindah, menetap jauh hingga ke luar negeri dan orang tua saya ikut salah satunya anaknya, rasanya keseruan mudik seperti yang dulu-dulu hanya sudah menjadi kenangan manis yang tersimpan di pigura-pigura foto di rumah Ibu Saya. Sedih? Pasti. Sampai tiba masanya, terasa sekali waktu bersama keluarga adalah hal yang paling mewah. Kerepotan dan kelelahan menjalani mudik ternyata tidak ada artinya jika kita menyadari kembali ke kampung halaman, berkumpul dengan sanak saudara adalah sesuatu yang sangat berharga. 

***

Data menyebutkan total pemudik atau migrasi orang saat lebaran rata-rata sekitar 26 juta orang per tahun. Saya yakin, jutaan pemudik tersebut menyadari indahnya kebersamaan di kampung halaman. Ya, memang ada sih yang niatnya mudik adalah untuk pamer kesuksesan. Tapi di sisi lain, hal itu justru memacu para perantau untuk bekerja lebih giat di perantauannya. Meskipun mudik juga terlihat konsumtif, tapi sejatinya mudik justru mampu menggiatkan perekonomian. Ada berapa banyak THR yang dibagikan ke keluarga di kampung? Ada berapa banyak perdagangan yang bergerak karena budaya ini? Namun yang perlu menjadi perenungan adalah; Indonesia memang terlalu luas ya… sehingga pembangunan di beberapa tempat khususnya Pulau Jawa, jauh lebih cepat dibandingkan daerah lain. Mungkin nantinya jika pembangunan sudah lebih merata, arus mudik tidak akan sedahsyat ini. 

Ah, apapun namanya…bagi saya mudik adalah berkumpul dengan keluarga. Setelah satu tahun berjibaku dengan pekerjaan yang terkadang menjemukan dan monoton. Mudik adalah hakikat kita agar tidak menjadi kacang yang lupa kulitnya. Mudik adalah momen untuk merasakan kebersamaan, yang bisa saja tidak terulang lagi. Yuk Mudik!

Hits: 1303

“Haa? Lo dapet duit dari ngeblog?”  

Seorang teman kayaknya cukup kaget mendengar penuturan saya, setelah saya mentraktirmya menikmati secangkir cappucino hangat yang nikmat. Beberapa tahun yang lalu saya juga agak kaget ketika ada yang mengontak saya, menanyakan rate sponsorship di blog ini. Karena saat itu saya belum tahu apa-apa tentang hal ini, dilala saya malah balik bertanya apa alasannya memilih blog saya. Lalu si sponsor memberi gambaran nilai rupiah berdasarkan beberapa indikator seperti Page Authority, Page Rating, Alexa Rating dan lain lain. Loh, loh..ini bikin saya bengong lagi.. Lah, hewan apa tuh? Sumpah saya mah nulis ya nulis aja! Sama sekali belum terpikir, kalau tulisan kita bisa dipantau dan dianggap berprospek oleh pemasang iklan.

Tapi itu cerita dulu. Hehehe.. Dari sana saya mulai tertarik mengikuti perkembangan dunia blogging. Ikut komunitas blogger dan sedikit demi sedikit mulai belajar tentang SEO (Search Engine Optimization). Kalau dulu nulis juga asal-asalan, makin kesini makin belajar menulis yang menarik, tanpa menghilangkan style saya menulis Saya. Tapi itu semua saya lakukan bukan semata karena mengejar uang. loh! Memang..so far, dari blog ini saya sudah bisa dapet uang buat ngopi-ngopi sambil nulis. Belum apa-apa sih, di luar sana, banyak blogger profesional yang bisa menghasilkan uang jutaan dari blog. Namun saya belajar, ternyata hobi saya ini juga bisa menghasilkan uang asal tahu caranya.

Sebuah majalah Pemasaran yang terbit di Jakarta, beberapa bulan lalu menyebutkan bahwa kini format blogging cenderung dinilai lebih powerful dibanding iklan biasa. Pemasang iklan mulai melirik blogger untuk memasarkan produknya. Tidak melulu harus dagang, popularitas sebuah website juga bisa dikatrol oleh blog. Oleh karena itulah, eebsite-website e-commerce dan non e-commerce berebut tampil di halaman pertama Google. Caranya gimana? Dengan memperbanyak penempatan link pada blog-blog yang setema dengan produk mereka.

Tidak itu saja, maraknya trend jalan-jalan, selfie dan kemudian diposting di sosial media, membuat blogger makin dilirik oleh pelaku pariwisata. Mulai jamak, pemerintah maupun swasta mengundang sejumlah blogger untuk menulis tentang daerahnya. Sejumlah blogger diajak jalan-jalan dengan biaya yang ditanggung oleh panitia. Sebagai imbalannya mereka harus menulis tentang daerah wisata yang dikunjunginya dan memposting foto, status atau sejenisnya di sosial media. Makin banyak dibicarakan viral, makin besar peluang wisatawan untuk berkunjung. Menarik sih, apalagi buat saya yang memang seneng jalan-jalan gratis. Hehehe.. Bahkan saat ini, beberapa perusahaan pemerintah dan swasta yang dulunya terkesan kaku dan old school, makin melek menggunakan jasa blogger untuk mengkomunikasikan produk atau menguatkan branding-nya di masyarakat.

Perubahan yang sangat dinamis itu akhir-akhir ini justru banyak menggeser arti blogging itu sendiri. Banyak blogger yang mulai menjadikan tulisannya menjadi sebuah advetorial, lupa dengan review dan persepsi pribadi.  “Enak, ya.. lo masih bisa nulis dengan cara lo sendiri, tidak melulu ada titipan merek.  Kata seorang rekan yang juga blogger dan redaktur senior di sebuah majalah digital kepada saya. Padahal bedanya blogger dengan advetorial  salah satunya blogger harus mampu menghasilkan tulisan dengan persepsi sendiri dengan review yang jujur apa adanya. Saya sering menolak tawaran review produk-produk yang belum pernah saya gunakan. Sumpah, saya pernah ditawarin review lingerie dan pakaian bayi! Ini kok menghina jomblo banget yaa ? Untuk travel blogger, kini banyak bermunculan travel blogger profesional yang bayarannya sekali jalan-jalan bisa ngalahin gaji rata-rata bulanan manajer di perusahaan swasta!

Semua memang sah sah saja. Tapi tetap tidak boleh lupa, blogging pada dasarnya bukan reportase dan advetorial. Beri tempat masing-masing pada posisinya, jangan dicampur aduk. Tetap upayakan agar pembaca blog kita mendapat informasi sesuai porsinya. Tetap kritis, menginspirasi dan memberi kebahagian kepada pembacanya. Happy Blogging!

Hits: 987

Di sebuah kedai kopi dengan secangkir cappucino hangat, Saya mencatat beberapa beberapa aktivitas yang harus saya lakukan hari ini. Mulai dari membayar tagihan, merespon email-email klien, mengupdate website, belanja beberapa kebutuhan sehari-hari, membeli tiket liburan saya bulan depan hingga mengirim beberapa pesanan teman. Beberapa tahun lalu, saya tidak membayangkan jika kini semua itu bisa dilakukan hanya dengan jari, sembari duduk santai mendengarkan musik.

***

Teknologi yang mengubah dunia

Kesibukan, keterbatasan waktu dan kompleksitas aktivitas kita sehari-hari menuntut semua hal dapat dikelola dalam sebuah platform yang dapat digunakan dimana saja dan dipantau kapan saja. Kalau dulu komputerisasi sistem hanya digunakan sebagai repository (media penyimpanan data), kini pergerakan perkembangan sistem menjadi bagian penting sejak pengelolaan informasi hingga proses pengambilan keputusan. Pergerakan jumlah pelanggan, perubahan pembelian bahkan kondisi komplain customer bisa dipantau secara real time yang bisa berubah dalam hitungan menit. Tidak untuk pekerjaan-pekerjan strategis saja, hampir semua sisi kehidupan kini sudah menyatu dengan digitalisme. Seperti kegiatan saya pagi ini, pernahkah dulu kita berpikir,  dari membeli saham bluechip hingga membeli nasi bungkus bisa dilakukan cukup dengan satu jempol saja?!

Media Sosial pun mulai naik pangkat, kalau dulu “cuma” dianggap buku harian personal digital, kini menjadi bidang yang digarap sangat serius oleh berbagai perusahaan swasta bahkan pemerintah. Pernahkah dulu Anda berpikir ocehan kecil kita di twitter ternyata bisa mempengaruhi satu perusahaan mengambil keputusan penting?  Kumpulan  status, ocehan, foto, pendapat, komplain itu menjadi bagian dari  big data, sebuah terminologi yang sedang hits di dunia teknologi. Sudah tidak aneh, saat ini mulai banyak perusahaan kecil maupun besar membuka jalur sosial media sebagai wadah untuk memasarkan produknya, berkomunikasi dengan pelanggan, memperoleh feedback, masukan hingga keluhan dari pelanggannnya. Bahkan beberapa lembaga pemerintah pun mulai terbuka melalui keseriusan mengelola  media sosial untuk membangun komunikasi dengan masyarakat terutama terkait pelayanan publik.

***

Kompetensi Digital Sebagai Kunci

Seperti yang tadi diuraikan diatas, teknologi sudah menjadi keniscayaan yang tidak  bisa dihindari.  Techniasia.com sebuah website yang khusus membahas perkembangan teknologi digital menyebutkan, hingga 2015  ada 72 juta pengguna internet aktif di Indonesia, dimana 62 juta diantaranya menggunakan sosial media. Dalam gambaran lebih luas lagi, kepemilikan ponsel di Indonesia sudah mencapai 308 juta ponsel.  Pertumbuhan pengguna sosial media tahun lalu sebesar 19%. Wajar, jika akhirnya pejabat dari tingkat lurah hingga Presiden pun aktif di sosial media. Dunia digital sudah menjadi satu ekosistem baru dimana semua orang akan terlibat di dalamnya. Tidak terlibat berarti ketinggalan.

Nah, Kalau sudah begini…masihkah kita enggan mempelajari lebih jauh tentang dunia digital?  Eits, ini bukan cuma masalah gagap teknologi (gaptek) atau tidak, loh!… Kadang kita merasa, jika sudah mahir menggunakan ponsel canggih,  menggunakan berbagai aplikasi online, rajin mengupdate status di media sosial artinya kita tidak gaptek. Jangan salah, yang sebenarnya lebih penting dipahami adalah bagaimana kita dapat mengimplementasikan teknologi itu dalam pekerjaan dan perusahaan. Pengetahuan dan penguasaan akan teknologi digital menjadi keharusan di semua lini perusahaan dan pelaku bisnis. Mengikuti training-training atau seminar bertema penguatan kompetensi digital bisa jadi satu pilihan yang bagus. Namun sejatinya, pengetahuan hal ini akan lebih “nendang” jika kita terlibat di dalam proses yang menggunakan teknologi itu sendiri. Jangan lupa, sering membaca dan mengikuti perkembangan teknologi juga  bisa jadi tempat belajar yang mumpuni.

Teknologi digital bukan saja tools tapi sudah menjadi bisnis itu sendiri. Memahami dunia digital tidak sekedar dapat mengoperasikan aplikasi dan mengetahui proses bisnis penggunaan teknologi itu. Namun lebih jauh dari itu, setiap individu yang terlibat wajib mengetahui bagaimana teknologi mampu membuat proses bisnis menjadi lebih mudah, efektif, efisien yang pada akhirnya memberikan profit lebih baik bagi perusahaan dan memenangkan kompetisi.

***

Vika Octavia. Cisarua, 3 Mei 2016

 

Hits: 1254

Bulan Ramadhan tidak ubahnya seperti Bulan Silaturahmi dan reuni. Bulan suci itu,kini bukan hanya milik mereka yang muslim, karena mereka yang tidak puasa pun kalau yang namanya makan-makan, rasanya pantang ditolak! Hehehe.. Acara Buka Puasa Bersama seakan sudah menjadi wajib dalam 30 hari Ramadhan. Dari yang kecil-kecilan sampai gede-gedean. Selama 1 bulan, yakin deh rata-rata sepertiganya kita habiskan dengan acara buka puasa bersama. Jadi kebayang kan rempongnya kalau kegiatan ini tidak direncanakan dengan baik.

Lucunya terkadang puasanya belum mulai, panitia buka bersama sudah dibentuk dimana-mana. Namanya jadi Panitia Buka Puasa Bareng itu paling repot itu mencari venue. Jangankan untuk acara yang lebih dari 20 orang, untuk ngumpul teman-teman dekat saja, kita harus booking beberapa hari sebelumnya. Kalau datang langsung ke mall tepat saat magrib dipastikan kita tidak akan mendapatkan restoran yang diinginkan. Untuk mengakalinya, biasanya ada 1-2 orang teman yang rela datang dua jam lebih dulu sebelum beduk berkumandang.

source: http://www.kaskus.co.id/
source: http://www.kaskus.co.id/

Dalam memilih venue pun terkadang ada beberapa yang harus dipertimbangkan. Seperti lokasinya, kenyamanan, kebersihan, harga makanan, pelayanan dan keberadaan Musholla pun turut menjadi aspek penting acara ini. Mau tidak mau kita harus survei mendapatkan lokasi idaman. Nah, hari gini…survey paling mudah tentu saja lewat Embah Google. Sayangnya, belum banyak website yang menyediakan informasi tentang restoran yang oke, lengkap dan review dan fasilitas booking online.

Tapi mulai tahun ini, kalian bisa memanfaatkan qenue.launchrock.com. Untuk kamu yang setiap tahun merencanakan buka puasa bersama teman atau keluarga, Qenue adalah pilihan yang paling tepat. Qenue adalah sebuah system online yang mempermudah kamu mencari dan memesan tempat berdasarkan jumlah orang plus pendukungnya seperti fotografer dan dekorasi.

Dalam waktu dekat aplikasi/website Qenue akan segera tersedia. Namun kamu mulai sekarang sudah bisa mendaftar untuk mendapatkan spesial invitation plus promo langsung saat nanti dirilis awal Ramadhan 2016. Sila submit email kamu di email disini. Jadi nantinya tidak perlu rempong lagi untuk mencari tempat buka puasa bersama terbaik. Tinggal klik klik secara online, dan semua sudah kami yang urus.

Oya, ke depannya Qenue tidak hanya untuk booking resto loh! Dengan pakai aplikasi ini kamu juga bisa mendapatkan fasilitas acara-acara penting seperti bridal shower, baby shower, mini workshop, product launch, wedding, birthday party, family dinner dan semuanya. Nanti semuanya akan dibocorin ke kamu yang sudah daftar di Qenue

Qenue juga mengundang para pengusaha resto untuk bekerja sama. Silakan krim data resto ke email qenue.info@gmail.com. DItunggu yah!

Hits: 993

Pagi pagi, sahabat saya Munardi yang lebih tenar dengan nama Alex (gak tau asal muasalnya darimana), sudah menjemput saya di depan mess dengan motor putihnya. Setiap akhir pekan, agenda kami adalah sarapan di warung kopi, menghirup segelas (bahkan kadang hingga dua gelas) sanger dingin yang nikmat dengan nasi kuning berbumbu khas Aceh yang terenak di kota ini.  Selanjutnya bersama teman-teman  kami menyusuri Banda Aceh hingga Aceh besar mulai dari Malahayati hingga Lhok Nga. Naik apa lagi kalau bukan naik motor.

Sebagai pendatang alias anak ibukota (uhukk..) yang haus hiburan, pantai dan warung kopi adalah tempat paling indah. Sayang, seringnya kami sendiri bingung mau kemana. Dan pagi itu, tiba-tiba saja kami memutuskan untuk menelusuri Jalan Malahayati-Krueng Raya. Selain jalannya mulus selicin wajah Ibu Atut, pemandangan di sepanjang perjalanan membuat lelah di boncengan motor menjadi tidak terasa. Dulunya, jalanan ini termasuk yang rusak parah karena bencana dahsyat tsunami 2004. Kini, infrastrukturnya makin cantik, dengan pemandangan gunung, pantai dan deretan rumah-rumah lucu yang diperuntukkan donor untuk korban tsunami.

blog3

Rynal, salah satu teman saya menawarkan untuk mampir ke Benteng Indra Patra. Benteng ini nyaris seperti bangunan tua yang senyap dan tidak terjamah. Sumpah, saya juga awalnya tidak tahu, Aceh menyimpan sisa-sisa budaya Hindu. Setahu saya Kerajaan di Aceh ya cuma Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam tertua. Namun, konon ini adalah peninggalan sejarah  Hindu dari India di Aceh.  Konon, situs ini didirikan sekitar tahun 604 M oleh Putra Raja Harsya yang berkuasa di India, yang melarikan diri dari kejaran Bangsa Huna. Benteng ini merupakan satu dari tiga benteng yang menjadi penanda wilayah segitiga kerajaan Hindu Aceh, yaitu Indra Patra, Indra Puri dan Indra Purwa. Pada masanya, benteng ini digunakan sebagai tempat pemujaan agama Hindu.

IMG_3450

Semasa Kesultanan Aceh, benteng ini berperan sebagai salah satu garis pertahanan dalam menghadapi Portugis. Penataan bangunan, ruang-ruang serta posisi dari masing-masing bangunan dalam benteng memiliki fungsi -masing-masing. Saya bersama teman-teman sempat menaiki temboknya yang tinggi, duduk dan berfoto di lubang-lubang pengintaian sambil memandang laut lepas. Arsitektur benteng ini terlihat memang sudah maju, bahkan ada beberapa bunker penyimpanan senjata di beberapa titik. Dulu juga ada sungai buatan yang mengelilingi benteng ini, untuk menjaga serangan musuh dari daratan.

lubang pengintaian
lubang pengintaian

Memang sebagian besar benteng pertahanan yang ada di Indonesia terletak di tepi pantai. Tapi bagi saya sih, Indra Patra sangat istimewa. Posisinya yang tepat di pinggir pantai yang langsung menghadap Selat Malaka mampu memanjakan mata dan membuat perasaan terasa damai. Disini kita bukan hanya belajar tentang sejarah tetapi juga menikmati indahnya alam Aceh. Kalau jalan-jalan kesini, yakin deh sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan indah khas Aceh. Perpaduan perbukitan dan sedikit gunung kapur di sebelah kanan jalan, berpadu dengan pantai di sebelah kiri jalan. Tidak jauh dari sana, ada Pantai Lhok Me; pantai berpasir putih dengan pepohonan di bibir pantai. Ada juga bukit Suharto dan Pelabuhan Malahayati yang sangat instagramable.

Bersama Alex di Bukit Suharto
Bersama Alex di Bukit Suharto

So, masih ragu-ragu buat ke Aceh?

Hits: 1429

Tadi malam saya bertemu seorang pejabat sebuah provinsi di Sulawesi. Beliau ini adalah counterpart Saya di pekerjaan yang lama. Kurang lebih dua tahun tidak bertemu, Ia menawarkan berkunjung kembali ke daerahnya. Saya yang memang niat cari jalan-jalan gratisan tentu saja bersemangat!.  Asal tahu saja, ketika masih bekerja di lingkungan Istana, kami tidak diperkenankan menerima satu rupiah pun dan dalam bentuk apapun dari provinsi-provinsi yag menjadi mitra kami. Nah, sekarang sejak pindah kerja.. ceritanya sudah beda kan?  Karena tidak punya conflict of interest lagi, tawaran itu kayaknya bakal saya follow up!  Hehehe…

Eits, tapi tunggu dulu… Tentu saja tidak ada yang free kan di dunia ini. Kami ngobrol banyak tentang pariwisata di daerahnya.  Mereka punya potensi alam yang indah, kuliner yang enak-enak dan budaya yang unik. Namun sayangnya, sejauh ini kegiatan yang dibuat Pemda tersebut untuk mempromosikan daerahnya masih terbatas pada kegiatan-kegiatan “konvensional” seperti Pemilihan Putri Pariwisata, Pagelaran Tari dan sejenisnya yang lebih bersifat hiburan rakyat. Intinya kegiatan-kegiatan yang tidak memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan kunjungan wisatawan di daerah itu. Kemudian pembicaraan itu pun mengalir, hingga terpikir apa yang bisa saya lakukan untuk pariwisata daerah itu.

***

Pada 2015, Presiden Joko Widodo, menyebutkan pariwisata Indonesia tumbuh di atas rata-rata negara lain di dunia yang hanya 4,4%,  rata-rata pertumbuhan pariwisata negara-negara di kawasan Asean juga hanya sebesar 6%, namun pariwisata Indonesia justru tumbuh 7,2%. Indonesia menargetkan pariwisata akan tumbuh hingga 12% per tahun. Melengkapi data tersebut, Menteri pariwisata menambahkan kunjungan turis mancanegara tahun 2015 mencapai 10,4 juta orang naik sangat signifikan dan estimasi perolehan devisa di sektor ini Rp144 triliun.

Untuk menarik wisatawan, promosi gencar dilakukan oleh banyak provinsi. Namun, istilah “tourism digital media campaign” mungkin baru populer akhir-akhir ini. Pada dasarnya definisi istilah ini adalah upaya kampanye pariwata melalui format-format digital seperti website dan sosial media. Tourism Digital Campaign juga sejalan dengan kebijakan pemerinth pusat dimana salah satu stregi pemasaran yang harus diaplikasian adalah BAS (Branding, Advertising & Selling) dengan kekuatan pada aspek digital.

Menteri Pariwisata Arief Yahya bahkan mengungkapkan satu-satunya cara agar promosi wisata Indonesia bisa lebih masif adalah dengan beralih dari promosi wisata melalui media konvensional seperti TV dan media cetak menjadi media digital

Lalu, ngerjain apa saja sih kegiatan tourism digital campaign ini? Pertama saya menggarisbawahi dikelolanya akun sosial media secara khusus dan serius. Keliatannya sepele, karena sosial media masih dianggap sebagian orang sebagai ajang pamer dan selfie. Tapi kini bahkan perusahaan-perusahaan kelas dunia sudah mulai mengelola akun sosial medianya dengan serius sebagai jembatan berkomunikasi dengan pelanggannya. Untuk tourism, menurut saya hal ini mutlak dan wajib dilakukan oleh Pemda. Pengguna internet di Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Sebanyak 93% (72 juta) diantaranya merupakan pengguna Sosial Media, dimana 30 juta diantaranya anak muda (usia 18-35 tahun) yang merupakan pangsa pasar baru pariwisata.

Pada dasarnya, ada beberapa tujuan pengelolaan akun sosial media untuk pariwisata seperti: 1. Sebagai media informasi kegiatan-kegiatan pariwisata  yang digagas oleh pemerintah, swasta maupun Lembaga Non Profit(NGO), 2. media pertukaran informasi antar wisatawan dan calon wisatawan, 3.Referensi/wadah tempat bertanya tentang pariwisata daerah dan 4. media komunikasi dengan berbagai stakeholders.

Memang ada diantara kita yang menghubungi Miss Pariwisata Indonesia jika perlu informasi tentang tempat jalan-jalan yang asyik? Sekarang informasi mana yang tidak bisa diperoleh dengan jari jemari? Sementara itu, hampir seluruh aspek traveling sudah tersentuh teknologi. Dari pemesanan tiket, hotel, provider trip hingga rekomendasi perjalanan semua sangat tergantung dengan internet.

Kini, sudah menjadi trend bahwa berbagai platform sosial media, website dan blogging membuat semua orang seakan menjadi duta wisata daerahnya. Konsep kebangsaan dan nasionalisme yang selama ada di kalangan anak muda, menjadi unsur tak terpisahkan. Ada kebanggaan tersendiri, jika  bisa menayangkan foto-foto keindahan alam di sosial media mereka. Budaya latah selfie di tempat-tempat wisata yang lagi tenar memang sudah mewabah. Ada positif  ada negatifnya, sih.. tapi seharusnya Pemda sebagai pemasar utama pariwisata di daerahnya harus menganggap ini sebagai peluang besar. Kemudian ada fenomena blogging ditengarai lebih “powerful” dibandingkan beriklan secara konvensional. Bahkan biayanya pun terhitung lebih murah dibandingkan membuat satu kemasan iklan khusus di media. 

source: poweredbysearch.com
source: poweredbysearch.com

Sejatinya Pemda dapat merangkum sosial media, blogger, dan orang-orang yang konsen di bidang ini. untuk lebih banyak menulis tentang daerah kita. Caranya macam-macam. Misal undang 20 orang blogger selama beberapa hari untuk mengeksplore daerahnya. Pilih blogger-blogger kompeten dengan banyak follower dan mampu mengemas apa yang mereka lihat dalam tulisan yang apik dan mengundang (bukan mengundang birahi, ya…) Format publikasinya bisa beragam mulai dari blogging, video, foto, post update di Facebook, Instagram, Twitter, Path dll.

Eh, saya bukan promosi blogger loh! Tapi Bapak/Ibu Pejabat Yth, bugdet mengundang mereka itu jauh lebih kecil daripada Bapak/Ibu bikin event pemilihan Putri-Putrian. Serius! Seperti saya bilang, blogger itu kebanyakan mereka yang senang jalan-jalan, suka menulis, hobilah yang membuat mereka menjadi blogger. Paling penting lagi, rasa nasionalisme dan idealisme merekalah yang dengan suka rela menyebarluaskan cerita tentang Indonesia. Diundang dan dipercaya saja sudah sebuah kehormatan bagi mereka.

Masih banyak kegiatan-kegiatan lain yang bisa digagas. Tentu setiap provinsi akan tampil dalam kemasan yang berbeda tergantung kebutuhan, potensi dan berbagai pertimbangan lain. Tertarik? Saya dan teman-teman dengan semangat membangun negeri akan senang hati membantu Bapak/Ibu! Please free to contact me…

<span data-iblogmarket-verification=”bHSl68xC9WFo” style=”display: none;”></span>

Hits: 708

Diajak river tubing pada saat Famtrip Blogger yang digagas Badan Promosi Pariwisata Semarang (BP2KS), saya langsung mikir panjang. Boro-boro bisa ikutan, ngerti river tubing itu apa aja, nggak. Kebayang ini bakal mirip naik Kora-Kora di Dufan yang ujungnya jadi penyesalan seumur hidup. Bedanya river tubing ada airnya dan langsung di alam. Malas deh buat ikutan, Biarin aja dibilang katro dan gak kekinian, daripada mual dan pusing karena badan berputar putar. 

Eh, tapi pikiran itu sekejap berubah saat rombongan blogger memasuki Kawasan Wisata Desa Kandri di selatan Kota Semarang. Disana, kami disambut baik oleh Pak Zubaidi yang menyebut dirinya Pemandu Wisata Kandri. Ia mempresentasikan serunya river tubing, rute dan cara melakukan river tubing. Katanya, jalur yang akan kita lewati adalah jalur Sunan Kalijaga ketika mengumpulkan kayu jati untuk membangun Mesjid Demak, mesjid tertua di Indonesia. Hemmm, kelihatannya mulai menarik niih….

Tanpa ditanya sanggup atau tidak, tiba-tiba belasan blogger sudah berebutan pelampung, pelindung lengan dan lutut hingga helm yang dibawa oleh mobil pick up odong-odong. Yaa, kayaknya seru yaa.. Akhirnya berbekal Bismillahirrahmanirrahim, saya ikutan sibuk juga memilih perlengkapan. Toh, namanya ajal sih udah ada yang ngatur kann? Loh..loh.. Ini sumpah, soalnya saya takuttt. Masih banyak cita-cita belum tercapai, masih banyak dosa dan masih banyak utang… Hiks…

blog4
Are u ready ???!!

Dari meeting point pengarahan tadi menuju lokasi masih membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Persis sapi yang siap dikurbankan, kami diangkut dengan mobil odong-odong tadi menuju Sungai Kranji, tempat tubing dilakukan. Canda tawa sepanjang perjalanan dengan teman-teman blogger, dan pemandangan alam yang meneduhkan mata serta hati yang galau, mengalahkan rasa takut saya.  Eh, sialnya pas milih-milih ban, saya kebagian ban yang agak kempes. Duh, kepikir bakal hanyut dan  bakal tubing sendirian karena teman-teman saya sudah jalan duluan. Sementara mereka saya sudah mulai ber-tubing ria, saya masih menunggu mas-mas guide mencarikan ban baru buat saya. Rasa khawatir yang tadi membuncah, berkurang karena mas-mas ini sabar banget ngajarin dan memandu kita. Ternyata, teman-teman saya pun sebagian masih amatiran, toh setelah “berlayar” sendirian saya tetap ketemu mereka. Hehehe..

Siapa mau duluan??
Siapa mau duluan??

Jeram pertama yang kami temui adalah serupa niagara mini.  Aduh, ini sumpah atuttt banget, padahal tinggi air terjun mini ini tidak lebih dari 100 meter. Posisi yang dianjurkan oleh pendamping adalah membelakangi sungai, menerjunkan ban lebih dulu dan Hap!.. Kalau loncatanmu mantap, kamu bisa langsung duduk manis di atas ban. Tentu saja, saya tidak berhasil dan ban saya berlayar duluan dari Saya. Untungnya (masih untung…) saya bisa berenang, kemudian jadilah sinetron berjudul Jus Semangka Mengejar Ban. Hahaha..

seruuu...
seruuu…

Jeram kedua dan ketiga adalah jeram yang terjal dan cukup curam. Sama, seperti yang pertama; lagi-lagi saya terlepas dari ban. Masih untung (untung lagi….) anggota badan tidak ada yang terbentur, meski rasanya adrenalin sudah berpacu lebih cepat. Nah, pada jeram-jeram berikutnya, saya baru sadar teknik sangat diperlukan (ciyee…udah berasa expert). Posisi kaki dan posisi panggul harus diatur jika melewati jeram. Alhamdulillah setelah bisa mempraktekkannya, saya gak terpisah lagi dengan ban kesayangan saya itu. Malah jadi asyik banget bisa santai melayang-layang di atas air. Saking santainya mungkin bisa sambil ngopi-ngopi dan makan indomie. Bisa juga sambil baca koran dan nonton TV.  *Eh, yang terakhir mah lebay… Dan kami pun sukses hingga etape terakhir dengan total  waktu perjalanan sekitar 3 jam dengan jarak tempuh sekitar 3 km!. Sounds good kan buat pemula… Tau asyik begini saya menyesal kenapa sebelumnya pake acara cemas. Menyesal juga kenapa gak dari dulu ikutan olahraga air begini.

udah bisa santai kayak di pantai,..
udah bisa santai kayak di pantai,..

***

Cukup surprise juga ada  kegiatan ini, Saya pikir Semarang hanya menawarkan liburan ala kota sebagaimana ibukota-ibukota provinsi lain. Namun, hanya sekitar 30 menit dari pusat kota, sudah ada Desa Wisata Kandri yang merupakan potensi pengembangan wisata mandiri binaan Pemerintah Kota Semarang. Konsep desa seperti ini pernah saya temui di Kabupaten Bogor yang memang terletak di bawah kaki Gunung Salak. Ternyata, Kota Semarang pun punya potensi alam yang layak untuk mengundang wisatawan. Asal tahu aja, konsep ini merupakan konsep unggulan yang kini sedang digarap oleh Pemkot Semarang.

Selamat Datang di Desa Wisata Kandri
Selamat Datang di Desa Wisata Kandri

Tidak hanya river tubing, konsep agrowisata juga ditawarkan di Desa Kandri antara lain belajar bercocok tanam, beternak, mengikuti upacara-upacara ritual masyarakat dan sejenisnya. Untuk merasakan benar-benar kembali ke desa, wisatawan bisa  bermalam di rumah-rumah penduduk yang sudah disulap menjadi home stay. Biayanya cuma 50 ribu rupiah saja per kamar per malam! Soal makanan, jangan khawatir! Penduduk desa Kandri adalah masyarakat sadar wisata yang sudah membentuk kelompok-kelompok kerja termasuk kelompok penyedia ransum kita selama disana. Makanan yang disajikan pun adalah makanan tradisional khas desa. Sebagai contoh, selesai tubing yang super capek, kami disuguhi Nasi Kethek. Nasi berbungkus daun jati berisi orek tempe, sayuran dan beberapa lauk. Aroma daun jati dan daun pisang menjadi cita rasa tersendiri di santap siang kami.

Berminat? Bosen kan kalo ke Semarang cuma ke tempat yang itu-itu saja!.

Jelajah Wisata Desa Kandri

Kontak: Zubaidi (0858-7659-5211)

Baca Teman-Teman Saya!

Kak Rian Tempat Wisata dan Kuliner Asyik di Semarang & Bermain tubing di Desa Wisata Kandri
Kak Richo  dari Sam Poo Kong ke Tay Kak Sie
Kak Sinyo FamTrip Bikin #SemarangHebat jadi Trending Topik (Part1) & Famtrip #SemarangHebat jadi Trending Topik (part2)
Kak Leo Jelajah Malam di Lawang Sewu & Kulik Kuliner di Restaurant Semarang
Kak Eka  Semarang Night Carnival 2016 & Lawang Sewu Malam Hari
Kak Taufan Gio Semarang Hebat Culinary Heritage & Semarang Hebat Adventure Carnival
Kak Danan Dongeng Rasa di Restoran Semarang & MG Setos Hotel Terjebak diantara Kubikel Raksasa
Kak Imama Hantaman Jeram Kali Kreo
Kak Chan Ada Tiongkok di Semarang
Kak Titi Gebyar Fantasi Warak Ngendok di Semarang Night Carnival 2016  & Lawang Sewu Kini dan 13 Tahun yang Lalu.
kak Wira Photo Essay : Semarang Night Carnival & Photo Essay Semarang Night Carnival
Kak Luhde Kisah dibalik Kuliner Semarang
Kak Puspa Antusiasme Masyarakat di Semarang Night Carnival 2016
Kak Astin Soekanto Lepaskan Zona Nyamanmu dengan Tubing di Sungai Kreo & Ekspresikan Dirimu di Old City 3D Museum
Kak Ghana Photo Stories Semarak Semarang Night Carnival
Kak Olive Langgam #SemarangHebat Menjaga Harmoni Akulturasi Budaya dari Masa ke Masa
Kak Fahmi Pesta Rakyat Semarang Night Carnival 2016
Kak Bobby Seru-seruan River Tubing di Kali Kreo Semarang
Mas Budi Keseruan Semarang Night Carnival 2016
Kak Nunu, Satu Hari Mengenal Tiongkok di Pecinan Semarang dan Budaya Semarang dalam Fantasi Warak Ngendog

 

Hits: 2000

Pada sebuah siang yang panas di sudut kota Semarang, saya kembali belajar tentang manisnya keberagaman. Saya sebenarnya terbiasa hidup di lingkungan multikultural. Datang dari kedua orang tua yang berbeda suku, sering berpindah-pindah tempat tinggal beda pulau, beda provinsi. Pindah kerja yang juga tidak kalah sering. Semua yang membuat saya akrab dengan perbedaan. Dan siang itu, di jalan kecil bernama Gang Lombok di sudut Pecinan Semarang, mata saya kembali terbuka bahwa perbedaan itu sejatinya menyatukan bukan memisahkan.

Seorang Ibu Guru beretnis Tionghoa mengenalkan murid-muridnya yang telah terlatih memainkan barongsai. Sekitar 10 menit kami disuguhi pertunjukan Barongsai dari murid-murid SD dan SMP Kuncup Melati di bawah Yayasan Khong Kauw Hwee. Guru-guru lain yang berhijab ikut serta memberikan semangat pada murid-muridnya. Sekolah ini memang ada di kawasan Pecinan, namun sama sekali tidak ada ekslusivitas satu golongan disini. Uniknya lagi, Yayasan menerima setiap murid dari latar belakang apapun terutama dari keluarga tidak mampu dan tidak serupiah pun iuran harus dikeluarkan oleh para siswanya.

Bersama Siswa Sekolah Kuncup Mekar Foto by : kopertraveler.id
Bersama Siswa Sekolah Kuncup Melati Foto by : www.kopertraveler.id

Tidak jauh dari sana, ada Kelenteng Tay Kak Sie. Mungkin selama ini Kelenteng di Semarang yang dikenal orang hanya Kelenteng Sam Poo Kong, tapi sebenarnya di Ibukota Jawa Tengah ini ada sekitar sembilan kelenteng, dan Tay Kak Sie ini salah satu yang tertua. Kelenteng yang dibangun 1772 ini, memang lebih kecil, tapi nafas vintage-nya sangat terasa. Ornamen merah dan naga di atapnya mengokohkan posisinya sebagai tempat ibadah. Masih satu komplek berdampingan dengan Tay Kak Sie, ada Rumah Abu, sebuah bangunan serupa kelenteng untuk meletakkan pundi-pundi abu jenazah. Disini juga ada Sin Chi (papan arwah) sebuah lempengan kayu yang bertuliskan nama mereka yang sudah dikremasi. Selain untuk didoakan, Sin Chi juga seakan mengingatkan kita bahwa kematiaan adalah hal yang paling pasti terjadi. Di Tay Kak Sie kami juga disuguhi drama dengan tarian komedi  oleh perkumpulan anak-anak muda kelenteng ini. Menarik!

Bersama Pengurus dan Pemuda Kelenteng Tak Kay Sie
Bersama Pengurus dan Pemuda Kelenteng Tak Kay Sie

Masih di Kawasan Pecinan Semarang, saya juga berkunjung ke Perkoempoelan Sosial Boen Hiang Tong (Rasadharma). Saya penasaran, katanya ada Sin Chi Gus Dur disimpan di gedung tua ini. Iya,.. Gus Dur alias KH Abdurrahman Wahid, Presiden RI Ke-4.  Loh, kok bisa ? Beliau kan muslim?!  Dilala, ini adalah bentuk penghormatan warga Tionghoa di Semarang kepada Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme yang dianggap banyak memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.  Bahkan yang meletakkan Sin Chi itu, Ibu Sinta Nurriyah sendiri, loh! Saya sampai takjub, ternyata berbeda itu indah. Seperti air dan minyak yang tidak bisa bersatu, tetapi bisa hidup berdampingan.

Sin Chi Gus Dur
Sin Chi Gus Dur

Tidak itu saja, keberagaman juga ditunjukkan oleh sekelompok anak muda yang tergabung dalam Muda mudi Perkumpulan Sosial Rasadharma. Mereka bertekad melestarikan budaya Pecinan Semarang melalui sejumlah program-program positif. Sesuatu yang mungkin sudah agak langka di kota besar. Uniknya, anggota kelompok ini tidak hanya datang dari anak muda keturunan Tionghoa, tetapi siapa pun, etnis mana pun yang memiliki konsen pada budaya Semarang dan Pecinan pada khususnya. Tidak heran ketika kami berkunjung, seorang gadis muslim berhijab yang fasih berbahasa Mandarin  dan piawai memainkan alat musik Pecinan pun- turut serta.

Sebenarnya, sejarah memang berbicara bahwa akulturasi budaya Tionghoa, Islam dan Jawa sudah mendarah daging di Semarang. Kelenteng Sam Poo Kong yang sangat terkenal, menurut historinya adalah peninggalan Laksama Ceng Ho asal Tiongkok yang justru beragama Islam. Perjalanan Cheng Ho disebut-sebut sebagai ekspedisi yang menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Ketika ia akan melanjutkan perjalanan, banyak anggota rombongannya yang tetap tinggal di Semarang. Sebagian dari mereka sudah memeluk Islam dan sisanya masih beragama Konghucu. Mereka inilah yang kemudian hidup berdampingan hingga kini.

Sam Poo Kong, A Must Visit in Semarang
Sam Poo Kong, A Must Visit in Semarang

Masih dalam rangkaian kegiatan yang digagas Badan Promosi Pariwisata Semarang (BP2KS), malamnya saya dan teman-teman blogger menghadiri Semarang Night Carnival (SNC). Kegiatan ini digelar sebagai rangkaian dari HUT Kota Semarang ke 469. Tema kali ini tetap sama; keberagaman dalam kesatuan dengan tajuk Festival Warak Ngendog. Warak Ngendog adalah hewan rekaan mistis yang menggambarkan akulturasi budaya dan sejak dulu dipercaya oleh leluhur Semarang. Kepalanya berbentuk kepala naga merupakan simbol China, badannya adalah Bouroq, simbol warga Arab/Muslim dan kakinya adalah kaki Kambing yang menjadi perlambang suku Jawa. Ketiga kelompok itulah yang mendiami Kota Semarang sejak dulu yang hingga kini tetap rukun dan damai. Usai dibuka oleh Walikota Semarang, acara dilanjutkan dengan penampilan drumband dari PIP Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang. Kemudian diikuti arak-arakan Warak Ngendog, Defile History of SNC dan diakhiri dengan defile dari Jepara Fashion Carnaval.

Semarang Night Carnival
Semarang Night Carnival

***

Di Semarang sehari merasakan indahnya perbedaan. Makin salut saya, dengan founding father negeri ini yang jauh-jauh hari sudah menjadikan Pancasila sebagai dasarnya. Sayang, kini keberagaman yang seharusnya menjadi kekayaan dan potensi dijadikan sebagian orang sebagai alat pemecah belah. Kita kurang belajar apalagi dari politik Devide Et Impera-nya Kompeni Belanda. Ayo, kembali belajar dari Semarang, belajar merasakan Indonesia yang sebenarnya!

Baca juga cerita teman-teman saya yah!

Rian, Tempat Wisata dan Kuliner Asyik di Semarang
Rian, Bermain Tubing di Desa Kandri
Richo, Dari Sam Poo Kong ke Tay Kak Sie
Sinyo, Trending Topik Semarang Hebat
Leo, Jelajah Malam di Lawang Sewu
Eka, Semarang Night Carnival 2016
Badai, Semarang Hebat Culinary Heritage
Danan, Dongeng Rasa di Restoran Semarang
Imama, Hantaman Jeram Kali Kreo
Farchan, Ada Tiongkok di Semarang
Wira, Photo Essay Semarang Night Carnival
Parahita, Gebyar Fantasi Warak Ngendog
Nunu, Satu Hari Mengenal Tiongkok di Pecinan Semarang
Luh De, Kisah Dibalik Kuliner Semarang
Puspa, Antusiasme Masyarakat di SNC
Astin, Lepaskan Zona Nyamanmu di Sungai Kreo
Budi, Keseruan Semarang Night Carnival
Ghana, Photos Stories, Semarak SNC
Olive, Langgam SemarangHebat

 

Hits: 5935

Sebenarnya saya ini bukan traveler-traveler banget. Kalau kata Rangga di AADC 2 (yang sukses bikin gagal move on), traveling itu kegiatan pergi ke suatu tempat, cenderung tanpa planning dan itinerary, mencari dan menemukan hal-hal yang orang lain tidak tahu dan lebih menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Sementara liburan lebih “nyaman” dari traveling. Tidur di hotel yang baik, itinerary-nya jelas dan lebih banyak santainya. Nah, gara-gara itu, saya tiba-tiba teringat, beberapa tahun yang lalu saya pernah traveling dari Banda Aceh ke Brastagi dan Pulau Samosir bersama beberapa orang teman. Mereka sahabat-sahabat saya sesama pekerja kemanusiaan pasca tsunami Aceh.

taksi apa besi tua ?
taksi apa besi tua ?

Bertolak dari Aceh ke Medan sih masih gaya horang kayah, alias naik pesawat. Padahal, kalau perjalanan darat Banda Aceh-Medan bisa ditempuh sekitar 12 jam saja. Nah, dari Medan ke Brastagi, kami benar-benar tidak punya clue harus naik apa. Kendaraan umum yang kami tahu cuma sejenis minibus sejenis L300.  Untuk menuju terminal L300 ini kami naik taksi  (baca: rongsokan taksi yang odong-odong banget). Kayaknya waktu itu kita lagi program pengiritan nasional.  Petualangan pertama kami dimulai dr L300 itu. Bayangin, isi mobil kecil itu penuh banget. Dari inang-inang, tulang-tulang, sayur mayur bahkan hewan ternak.  Perjalanan dengan kangkung dan ayam pernah saya rasakan beberapa tahun sebelumnya, ketika menumpang kereta ekonomi jurusan Jakarta-Pandeglang. Lumayan, dua jam menuju Brastagi sempit-sempitan di dalam kabin dan jauh dari nyaman membuat perjalanan itu menjadi tidak terlupakan.

IMG_1977

Brastagi itu, udaranya mirip-mirip Puncak Bogor. Tapi tentu saja tidak super padat dan sesak seperti Puncak. Kami hanya mampir sehari di Brastagi, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Danau Toba dan Pulau Samosir. Dari Brastagi ke Samosir ditempuh sekitar empat jam. Kali ini, karena anggota rombongan bertambah, kami memutuskan menyewa mobil plus supir. Sepanjang jalan kami dimanjakan oleh pemandangan perbukitan yang indah banget. Selanjutnya Ajibata menuju Tomok (Samosir) kami menumpang kapal ferry standar penyeberangan nasional deh. Yah, gitu-gitu aja.. Panas, bangkunya keras, makanannya gak enak dan penuh sesak. Tapi karena jaman itu masih muda, masa yang berapi-api (emang sekarang tua banget apaah?), kami menjalani semua dengan ikhlas dan damai.

DSC_0215
Pelabuhan Tomok

Kegiatan  kami selama tiga hari di Samosir mulai dari muterin pulau pake sepeda, nonton tarian tortor, belanja sampai sholat Ied! Serius… kebetulan saat itu bertepatan dengan Lebaran Idul Adha, jadilah kami kaum minoritas di kalangan penduduk samosir yang hampir seluruhnya non muslim. Disini ceritanya!

damai di tepi toba
damai di tepi toba

Banyak cerita yang selalu saya kenang dari liburan singkat ini. Cerita tentang Aceh dan kehidupan saya dulu selama disana, tidak ada habisnya. Sahabat-sahabat Saya di Aceh dulu adalah orang-orang terbaik yang pernah saya temui. Harus diakui, mereka sudah memberi banyak warna dan mempengaruhi hidup saya. Perjalanan ke Samosir ini adalah salah satu rangkaian yang masih selalu saya kenang. Sayang kalau tidak diabadikan ke dalam satu tulisan.

Hits: 1605

Bagi sebagian wanita, bepergian kadang merepotkan karena urusan packing barang bawaan Sampe-sampe, rasanya semua isi kamar wajib dibawa. Misalnya saja, pakaian dan sepatu yang harus berbeda di setiap occasion, topi, kacamata hitam, segala macam perawatan tubuh, berbagai perangkat kosmetik mulai dari bedak, lipstik, maskara bahkan mungkin saja ada yang harus membawa bulu mata palsu anti badai. Rempong deh cyinn…. Kalau liburan kita ala Princess Syarini yang lengkap dengan dayang-dayang, mungkin over bagasi serupa pindah rumah pun tidak masalah. Tapi kalo liburan “prihatin”, alias semi backpacker, ini merepotkan sangat! Bukan saja mengurangi kenyamanan diri sendiri, tetapi juga membuat teman traveling kita ikut-ikutan gak nyaman. Saya sih kalau ngeliat teman terseok-seok membawa gembolan berat, rasanya gak tega kalau gak bantuin. Tapi setelah tau isi bawaannya, dimana daster saja ada 4 biji, baju berbagai warna dan aksesoris gak penting, jadinya malah beteee. Belum lagi, bawaan yang ribet akan memperlambat gerakan kita.

Padahal agar praktis, sebaiknya bawa saja barang yang penting untuk efisiensi dan tentunya menghemat biaya bagasi. Berikut tips dari Tiket2.com untuk mempersiapkan packing saat liburan.

Pahami kebutuhan saat travelling
Itinenary akan membantu Anda memahami kebutuhan saat travelling agar membawa barang yang penting saja. Sebagian wanita sering dihinggapi perasaan khawatir ada yang kurang atau ketinggalan seperti khawatir kurang baju, khawatir kurang peralatan mandi atau khawatir kurang duit (eh, itu mah saya). Padahal kekhawatiran seperti itu ujungnya justru membuat isi koper dipenuhi barang-barang yang akhirnya malah tidak digunakan.

Buatlah check list
Ini hal yang penting banget! Setelah memahami kebutuhan travelling, segera buat check list mengenai barang apa saja yang harus dibawa. Hindari packing mendadak sebelum hari H, sehingga masih ada waktu untuk mempertimbangkan barang apalagi yang wajib dibawa atau bahkan harus dikurangi. Sesuaikan check list dengan itinerary dan kebutuhan seperti contoh di atas. Tips lain, jika ada barang-barang yang bisa ditemukan dengan mudah di lokasi traveling, sebaiknya dibeli di tempat, contoh peralatan mandi. Jika menginap di hotel yang cukup baik, saya jarang membawa handuk. Berat satu biji handuk, lumayan loh! Hindari juga membawa banyak aksesories, bawalah yang bisa dikenakan di segala suasana.  Khusus untuk pakaian, disarankan untuk membawa pakaian yang eye catching dan mix and match. Selain bisa bikin foto kita “instagramable”, juga membuat bagasi  menjadi lebih efisien.

travel-packing

Jangan melipat baju
Biasakan menggulung baju dibandingkan dengan melipat baju. Menggulung terbukti menambah ruang di ransel atau koper kita. Agar lebih aman, taruh pakaian di dalam sebuah plastik, agar terlindung dari basah. Manfaatkan berbagai kantong atau tempat di koper/ransel untuk membuat barang bawaan menjadi “managable”. Selipkan 1-2 buah kantong kresek untuk memisahkan pakaian bersih dan kotor. Siapkan juga karet, peniti atau gunting kecil yang biasanya bermanfaat saat travelling. Tips ini cocok banget buat cewek-cewek yang berlibuar ala petualang.

Hindari membawa pakaian tebal
Jika Anda terpaksa harus membawa pakaian tebal, sebaiknya dipakai saja agar tidak menambah beban berat tas atau koper. Atau jika tidak membawa pakaian tebal, gunakan pakaian berlapis, sarung tangan, dan kaos kaki sebagai alternatif. Kalaupun berlibur ke daerah dingin, bawa hanya 1-2 buah yang berwarna netral, agar mudah dipadupadankan.

Letakkan benda berat di bawah tas
Sepatu, sandal, dan baju bisa diletakkan di bagian bawah koper atau tas traveller. Untuk barang kecil seperti tas kosmetik, perlengkapan mandi, kacamata, makanan, letakkan di bagian atas atau kantung yang terpisah dan gampang diambil.

Bawalah dua tas saja
Dua tas ini termasuk satu buah tas kecil dan tas besar. Tas kecil digunakan untuk menaruh dompet, paspor, tiket pesawat, kamera poket, kosmetik atau obat-obatan. Isi tas besar dengan semua baju dan perlengkapan liburan lainnya.

Silahkan share artikel ini jika bermanfaat untuk Anda ya, ladies traveler! Yuk Liburan !

 

Hits: 990

Pertanyaan yang paling sering akhir-akhir ini datang ke saya adalah: Bagaimana caranya bisa menulis, gimana caranya memulai untuk menulis atau apa sih yang bisa kita tulis. Eh, ini sumpah bikin GR loh! Berasa kayak gw udah mahir banget dan keren gitu… Hahaha. Padahal mungkin mereka-temen-temen gw yang suka baca blog- ini cuma iseng doang, mau bikin eyke GR. Secara di luar sana, temen-temen saya yang lain sudah canggih-canggih sampe bikin buku bahkan nulis di harian-harian ternama ibukota. Apalah awak ini. 🙁 Tapi okelah, untuk menghargai mereka para fans saya itu, saya akan sedikit memberikan tips menulis,wejangan atau lebih tepatnya sharing tentang topik ini. Sama sekali saya belum merasa jago loh.., tapi ini saya anggap sebagai sarana pembelajaran juga. Tarikkk mang…

Menulis itu dimulai, bukan “dipelajari”
Menurut saya sih awalnya emang agak lucu pertanyaan seperti itu. Toh, hal pertama yang diajarkan ketika kita masuk sekolah adalah membaca dan menulis. Namun ternyata menulis dengan baik, nyaman dibaca, runut dan punya isi itu, memang bukan pekerjaan mudah. Saya pun hingga kini masih terus belajar. Ini dia jawaban pertama dari pertanyaan-pertanyaan tadi: Belajar! Bagaimana cara belajarnya?! Saya percaya belajar menulis yang baik itu adalah memulainya. Bukan mempelajari teorinya. Nah loh?! Toh, sebenarnya menulis sudah jadi pekerjaan sehari-hari kita sejak jaman sekolah. Minimal banget deh kita pernah merangkai kata saat menjawab pertanyaan essay. Memulainya pun sebenarnya bisa dimana saja, apalagi saat ini ketika gadget sudah menjadi pendamping yang paling setia karena ditenteng kemana-mana. Bagi mereka yang kerja kantoran, berkomunikasi via email sebenarnya bisa sebagai ajang belajar untuk mengungkapkan ide melalui tulisan. Ini susah-susah gampang sebenarnya. Oleh karena itulah saya membiasakan diri memberi laporan secara tertulis dibandingkan laporan secara lisan. Manfaatnya, selain akan punya “record” tentang pekerjaan, kita juga bisa belajar banyak menulis dari sini.

12645068_1078677352184496_3629225290308695949_n

Mulai dari ide sederhana.
Pasti banyak yang sering merasakan susahnya mencari ide menulis. Sama!! saya juga begitu. Tapi setelah sering-sering main ke tetangga, maksudnya ke blog-blog orang, ternyata banyak tulisan sederhana tapi menarik. Tidak usah dululah berpikir untuk menghasilkan tulisan cerdas yang penuh dengan teori-teori keren yang seolah menunjukkan tingkat intelektualitas penulisnya. Terkadang banyak hal-hal di sekitar kita yang keliatan bodoh tetapi menarik untuk ditulis. Pernah baca buku-buku Raditya Dika kan? Dia sukses mengangkat cerita-cerita yang kayaknya “cemen” jadi luar biasa. Idenya yang “sederhana” itu justru kena di segmen yang ia tuju. Tidak heran kalau bukunya pun laris manis. Intinya, simplicity is the best. Banyak juga yang enggan menulis karena takut salah, takut dihujat, takut hantu, padahal menulis sesungguhnya adalah berbagi persepsi, bukan masalah benar atau salah.  Urusan benar atau salah jadi nomer enam (karena nomer 1 sampai 5 tetep Pancasila). Semakin sering kita menulis, pendapat kita akan semakin berkembang, percaya diri kita pun turut meningkat. Tentu tetap dengan mengindahkan kaidah kaidah tata bahasa dan kepatutan ya, bukan menjurus ke tulisan-tulisan penyebar kebencian yang marak saat ini.

Lebih banyak membaca
Kemampuan menulis, pada dasarnya berbanding lurus dengan kekerapan membaca. Dari sering membaca, kita jadi tahu bagaimana merangkai kalimat, menyampaikan maksud dan tujuan penulisan. Sering dtemukan, banyak orang-orang pandai tapi kalau membuat kalimat panjang-panjang bahkan satu paragraf kadang hanya untuk 1 kalimat. Kebiasaan seperti ini, saya yakin karena ia jarang membaca. Repot kan kalau kita harus bolak balik membaca ulang satu kalimat, karena terlalu panjang yang ujungnya malah membuat bingung. Lebih dari itu, dari membaca, kosa kata kita akan bertambah banyak, ini akan mempengaruhi cara pemilihan kata (diksi) saat menulis, Paling penting lagi, dengan menulis, wawasan kita akan bertambah yang akan berguna banget untuk menjaring ide.

Jadi diri sendiri!
Tulisan kita sejatinya adalah jati diri kita. Banyak orang yang mencoba menggunakan cara dan gaya penulis yang sudah tenar. Yah, gak ada salahnya sih, tapi terus menerus menulis dengan cara orang akan membuat kebosanan dan kelelahan (lelah hayati, bang,,,) Tidak usah berpikir bahwa menulis harus sesuai pola bahasa yang baku. Tulisan itu sama seperti bahasa, kuncinya komunikatif alias nyambung dengan pembacanya. Untuk menemukan gaya masing-masing, jalan satu-satunya: mulailah menulis! Seorang teman pernah bercerita, bahwa dia masih bingung mau menulis, padahal sudah ikut kursus. Balik lagi, teori is nothing tanpa praktek. Membiasakan diri menulis memang tidak mudah, tapi percayalah…kalau sudah dijalani pasti jadi candu.

Bagi saya, menulis adalah wujud eksistensi diri. Mungkin blog saya belum sepopuler mereka-para profesional blogger. Saya juga tidak terlalu peduli, tulisan-tulisan saya akan jadi hits atau tidak, nantinya akan dibaca orang atau tidak,  bagi saya menulis ibarat mencatatkan pengalaman-pengalaman hidup yang bisa jadi warisan untuk anak cucu kelak.  If you would not be forgotten as soon as you are dead, either write things worth reading or do things worth writing (Benjamin Franklin)

Hits: 1213