Kembali dari Amerika bulan lalu, hal pertama yang ingin saya tulis di blog adalah tentang sebuah museum yang saya kunjungi di kota kecil bernama Prescott di negara bagian Arizona. Belum sempat nge-blog, minggu lalu saya bersama Kamadig Team diundang oleh Bupati Purwakarta untuk melihat pagelaran air mancur terbesar dan termegah di Asia Tenggara dan menyambangi museum-museum digital yang sangat serius dibangun oleh Pemda Purwakarta.
Kamadigital.Com bersama Kang Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta
Yes, museum! Agak kaget juga ketika tahu, di kota kecil seperti Purwakarta ada museum berkonsep digital. Lebih kaget lagi ketika masuk ke dalamnya, saya harus bilang : INI SUMPAH KEREN BANGETTT!! Penataan cahaya, posisi display materi, dan keragaman platfom digital yang digunakan membuat saya makin berdecak kagum. Gak nyangka aja, museum begini ada Purwakarta (bukan di Jakarta yang ibukota negara).
Tampak depan Diorama Purwakarta
Museum pertama yang kami kunjungi adalah Bale Panyewangan Diorama Purwakarta. Museum ini menyajikan arsip-arsip budaya Sunda dan Purwakarta pada umumnya. Namun, jangan dibayangkan kita akan melihat deretan arsip dalam tumpukan kertas yang menjemukan. Sama sekali tidak! Semua materi disajikan dalam format yang menarik, digital dan berbeda-beda untuk setiap segmen/setiap ruangan.
Ada sembilan segmen di museum ini, diantaranya Bale Prabu Maharaja Linggabhuwana yang, menyajikan Sejarah Tatar Sunda, Bale Prabu Ningratwangi, menyajikan sejarah Purwakarta jaman Hindia Belanda dan Bale-bale lain yang memaparkan sejarah Sunda dan Purwakarta di berbagai masa revolusi.
Bagian pertama yang membuat kami terpukau adalah buku besar digital, yang bisa bersuara dan memunculkan video pada tiap halamannya. Buku ini memuat beberapa sejarah Sunda dan Purwakarta yang sangat interaktif. Seru banget! Sisi-sisi lain yang juga ditampilkan interaktif adalah media busana adat sunda, yang bagian kepalanya sesuai degngan kepala orang yang terkena sensor di depannya, plus bisa joget! Tidak kalah menarik, ada juga foto digital bersama Pak Bupati yang juga bekerja dengan sensor. Saat kita bersiap di depan kamera, tiba-tiba sosok Pak Bupati pun muncul di tengah-tengah, mengajak berfoto bersama. Sedikit komedi, tapi tetap keren!
Koleksi arsip yang disajikan di museum ini pun sangat lengkap, disusun dengan menarik dan jauh dari kesan membosankan. Banyak kata-kata bijak yang membangkitkan semangat dan nasionalisme di berbagai sudut. Berderet pula koleksi wayang golek yang kaya cerita dan tersimpan dalam ruang-ruang kaca yang berkesan mewah. Di bagian terakhir, ada platform sepeda ontel, yang jika dikayuh maka layar besar di depannya akan berpindah tempat. Persis seperti jalan-jalan pake sepeda biasanya.
Nah, tidak jauh dari Diaroma Purwakarta baru saja dibangun Diorama Nusantara. Museum satu ini lebih seru lagi, kalau yang tadi hanya miniatur Tanah Sunda dan Purwakarta, Diorama Nusantara seolah menjadi miniatur Indonesia. Pasti akan lebih banyak kejutan disini! Museum ini sudah siap dibuka untuk umum, tinggal menunggu pembukaan secara resmi oleh Menteri Pariwisata RI.
Selain dua museum itu, Purwakarta memang tengah berbenah menumbuhkan wisata kreatif di wilayahnya. Ada Museum Indung, Museum Ki Sunda, Diorama Islam Nusantara dan Galeri Wayang. Museum yang dianggap sebagian besar masyarakat kita sebagai wisata yang kurang populer, justru dikemas edukatif, menarik dan ramah untuk seluruh usia. Sering juga dilakukan pagelaran-pagelaran budaya baik berskala nasional maupun internasional. Semua itu tetap dengan mengedepankan budaya Sunda yang kental dengan kedamaian dan penuh cinta.
Kata sebuah riset, 60% wisatawan datang ke sebuah tempat yang tertarik akan budayanya. Kemudian disusul dengan keindahan alam, kuliner dan lain-lain. Hemm, sepertinya, Purwakarta sangat menyadari itu, lalu dibungkuslah wisata-wisata kreatif dengan balutan budaya Sunda. Patut jadi contoh daerah lain.
Would you like to eat, madam? We have chicken with rice and beef with potatos…
Belum sempat saya menjawab, pramugari cantik itu meralat: Oh, I think you’d better get moslem meal? We have that one too..
Ok, moslem meal, please ..
Saya tidak tahu ini makan malam, makan siang atau mungkin sarapan. Perpindahan waktu yang begitu cepat dari benua Amerika menuju benua Asia terkadang membuat disorientasi waktu terjadi. Jendela pesawat masih tertutup rapat, mungkin dimaksudkan agar penumpang juga tidak bingung ini siang atau malam. Karena masih kenyang, santapan itu tidak saya habiskan. Belum lagi moslem meal yang disajikan sangat otentik Timur Tengah lengkap dengan bumbu rempah menyengat dan porsi yang cukup besar.
Saya mencoba memanjangkan kaki, mengurangi rasa pegal yang mulai menyerang. Lama dan sungguh perjalanan yang melelahkan. Layar monitor sekaligus pusat hiburan di depan saya menunjukkan masih tersisa 8 jam 40 menit lagi di perjalanan ini. Artinya baru kurang dari sepertiga periode terlalui dari total waktu 12 jam 45 menit penerbangan. Masih jauh, pikir saya. Namun setahun yang lalu saya pernah menempuh penerbangan selama 17 jam nonstop dari Los Angeles menuju Riyadh di Arab Saudi. Katanya itu adalah salah satu rute pesawat terpanjang di dunia. Jadi, perjalanan kali ini belum apa-apa dibandingkan tahun lalu.
Beberapa penumpang nampak masih menghabiskan hidangan, sementara para awak kabin mulai masih meneruskan melayani penumpang. Sesaat kemudian, lampu sabuk pengaman mendadak menyala. Kapten pilot meminta seluruh penumpang untuk kembali ke tempat duduknya. Saya masih santai, sesuatu yang sangat biasa terjadi di sebuah penerbangan. Tiba tiba seluruh awak pesawat berlari-lari kecil ke bagian belakang pesawat, menyusul pengumuman tambahan dari Kokpit, untuk menghentikan seluruh pelayanan karena turbulensi yang semakin kencang.
Cepat-cepat saya menegakkan sandaran kursi, guncangan yang sangat keras membuat saya harus menutup laptop mini saya. Entah kenapa tiba-tiba kecemasan menelusup ke sendi sendi tubuh. Saya mencoba memejamkan mata, sembari kedua tangan berpegang kuat pada sandarannya. Guncangan kian kencang, terasa sekali pesawat terhempas ke bawah berkali kali. Untung saja masker oksigen belum meluncur dari posisinya. Tak berapa lama dari balik kemudi kapten pesawat memohon maaf atas ketidaknyamanan yang diprediksi akan berlangsung selama satu jam ke depan. “We do ensure that everything is under control”, ujarnya.
Badan ini seperti membeku, entah berapa banyak doa yang tiba-tiba begitu saja meluncur. Dalam keremangan kabin, beberapa penumpang terlihat tegang, beberapa diantaranya masih tertidur atau berusaha tidur. Begitu saja termemori beberapa kejadian di kepala saya. Sepuluh tahun lalu dalam sebuah penerbangan Jakarta-Makassar, pesawat saya terpaksa mendarat di Bandara Ngurah Rai. Cuaca sangat buruk, membuat penerbangan tidak memungkinkan untuk dilanjutkan. Lima tahun lalu, pesawat saya menuju Aceh terpaksa kembali ke Jakarta, akibat ada salah satu bagian pesawat yang tidak berfungsi. Kami pun terpaksa mendarat di luar landasan pacu Bandara Soekarno Hatta, disambut puluhan pemadam kebakaran dan ambulans. Saya tidak ingat dengan pasti perasaan saya di dua peristiwa itu, namun kecemasannya mungkin tidak sekuat kali ini.
Turbulensi kian kencang. Entah kenapa begitu saja muncul pikiran, bisa jadi ini adalah akhir hidup saya. Mungkin, sangat mungkin. Terlintas apa saja yang sudah saya siapkan untuk pindah ke dunia yang berbeda? Ibadah sepertinya belum banyak peningkatan, berbuat baik untuk sesama juga masih di derajat yang seperti dulu. Terbayang satu-satu wajah orang-orang di sekeliling saya. Keluarga yang penuh cinta, sahabat-sahabat yang selalu menanyakan kapan saya kembali, relasi yang sudah menunggu dengan setumpuk pekerjaan dan semuanya.
Apa yang akan mereka kenang dari saya? Beberapa menit ke depan mungkin saya akan hilang. Samudera atlantik biru pekat kehitaman ribuan mil di bawah sana menanti saya. Apakah saya juga akan hilang dari ingatan mereka? Rasanya Saya belum berarti apa-apa. Rasanya Saya belum banyak berbuat kebaikan. Rasanya saya belum banyak bermanfaat untuk mereka. “Ah, tenang.. sepertinya tidak perlu khawatir, saya toh menumpang salah satu maskapai terbaik di dunia dengan tingkat keamanan nomor satu”
Sloppp…tiba-tiba pesawat turun drastis dari posisinya. Saya tersentak. Ternyata Ini bukan masalah saya menumpang pesawat terbaik di dunia, bukan masalah teknologi paling canggih yang digunakan di burung besi bermerek terkenal yang katanya nyaris tanpa histori kecelakaan. Tapi ini urusan nyawa, bahwa semua bisa diambil Tuhan kapan saja Ia berkendak. Mungkinkah Ia menghendaki Saya sekarang?!
Ya, Tuhan…darah saya tiba-tiba berdesir, saya lupa apa yang sudah saya siapkan untuk “masa depan’ saya. Amalan baik? Mana?! Saya juga tidak yakin dengan ibadah Saya. Ya, Allah tolong.. saya tidak tahu lagi kemana meminta pertolongan. Mungkin inilah masa dimana saya menyerahkan seluruhnya kepadaMu. Seluruhnya. Saya sungguh tidak tahu lagi.
Dalam masa-masa yang mendebarkan itu, entah doa apa saja yang sudah saya lantunkan. Saya coba pejamkan mata, apa yang akan terjadi, terjadilah. Inilah titik terendah kepasrahan saya kepadaMu, sang pencipta.
Kemudian hening, guncangan terasa mulai mereda. Pelan tapi pasti pesawat makin seimbang. Beberapa menit kemudian, Pilot memberikan instruksi kepada awak kabin dan semua kembali normal.
Saya berucap syukur. Dua puluh menit mencekam yang baru berlalu membuat saya makin menyadari tipisnya jarak antara hidup dan mati. Akhirat sejatinya ada di depan mata kita, semua bisa mati dimana pun kapan pun dengan cara apapun. Maka… Tuhan, ampuni kami….
Macet lagi, macet lagi!! Bosan atau sudah biasa?! Bayangkan, setiap hari terkadang kita bisa menghabiskan empat jam perjalanan pulang pergi dari rumah. Kalau bisa dihemat menjadi 2 jam saja, sudah berapa banyak waktu produktif yang lahir. Yah…buat kerja, nongkrong sama temen, olahraga, berkumpul dengan keluarga atau buat tidur lagi juga boleh! Asal tahu saja, jika tidak diatasi maka Jakarta akan macet total pada 2020 dengan sumbangan 80% polusi udara. Nilai kerugian total mencapai Rp 65 Triliun/tahun yang meliputi tambahan biaya operasional kendaraan dan hitungan waktu yang hilang di perjalanan. Gila kan?!
Sydney Central Station
Cerita lain, kalau jalan-jalan ke negara maju, yang bikin saya iri bukan fasilitas serba canggih, bukan kefasihan mereka berbahasa internasional dan bukan juga kota-kota menterang penuh taburan cahaya. Pastinya, tidak juga iri dengan alam mereka. Percayalah tidak ada tempat yang paling mendamaikan hati kecuali memandang birunya laut nusantara dan hijaunya pegunungan Indonesia. Tapi, yang bikin saya sirik adalah fasilitas transportasi mereka. Tidak usah jauh-jauh ke Eropa, Amerika atau Jepang yang punya shinkansen, Singapura, Malaysia bahkan Filipina (yang menurut saya secara ekonomi dibawah Indonesia) sudah punya sejenis Mass Rapid Transportation (MRT).
Bagaimana dengan Jakarta? Saat pertumbuhan jumlah kendaraan tidak sebanding dengan jumlah jalan, transportasi umum belum memadai ditambah lagi dengan sebagian masyarakat yang masih gengsi naik kendaraan umum, kita memang butuh sebuah terobosan transportasi. Harus diakui, selama dua tahun terakhir Pemda DKI Jakarta sudah banyak sekali melakukan pembaharuan, walaupun hasilnya belum bisa dikatakan optimal. Misalnya, jalur busway Trans Jakarta (TJ) terus menerus ditambah, PT KAI memperbanyak jaringan stasiun dengan fasilitas yang lebih memadai. Kemudian ada bis-bis penghubung dengan kota satelit yang terintegrasi dengan jalur TJ. Lalu, kebijakan ganjil genap, yang lumayan mengurangi kepadatan kendaraan di wilayah-wilayah tertentu. Belum lagi “bantuan” dari sektor swasta akan transportasi online. Eh, soal transportasi online ini juga bisa jadi tantangan sendiri sih buat Pemda DKI. Mungkin yang belum adalah mengubah budaya masyarakatnya yang masih sering bepergian dengan mobil berpenumpang satu orang saja.
The future is here…
Ah, panjang yaa kalo bahas transportasi Jakarta, kayaknya sampe dua kali Pilkada pun gak bakal habis-habis!!
Nah, minggu lalu,.. Yes, finally.. permohonan untuk melihat-lihat proyek MRT Jakarta yang tengah berlangsung disetujui. Kenapa sih penting banget melihat proyek ini? Saya dan teman-teman hanya ingin menjadi bagian dari perubahan bahwa nantinya kita (Jakarta) akan punya MRT yang tidak saja menjadi solusi namun kebanggaan tersendiri. Kami juga ingin memberi pesan; dua tahun ke depan akan banyak yang berubah dalam keseharian masyarakat Ibukota. Mungkin transportasi pribadi tidak lagi populer, mungkin kemacetan yang berkurang akan membuat ritme hidup kita pun berubah. Di sisi lain, kesiapan masyarakat juga perlu diantisipasi. Mulai dari sekarang membiasakan diri dengan transportasi cashless, belajar memelihara fasilitas umum dan lain-lain yang intinya menjadi social society seperti di negara maju.
Setelah melalui proses panjang, akhirnya ground breaking MRT Jakarta dilakukan pada Oktober 2013 lalu. Ssst, asal tahu saja, sebenernya rencana awal pembangunan MRT Jakarta ini bersamaan loh.. dengan MRT Singapura (sekitar tahun 1976). Biarpun telat, gakpapa yang penting sekarang semua sudah di depan mata.
Kami diajak berjalan-jalan di proyek MRT yang terletak tepat di Bundaran HI. Rasanya sangat senang bisa turun ke 20 meter di bawah permukaan bumi. Disini tonggak-tonggak sejarah masa depan Jakarta terpampang nyata. Peron mulai nampak wujudnya, tiang-tiang beton tinggi membuat stasiun Bundaran HI ini nantinya akan terlihat megah dan mewah. Fasilitas untuk para penyandang disabilitas pun dibangun, bahkan saya melihat pembangunan ruangan khusus untuk Ibu menyusui.
Fase pertama adalah Lebak Bulus -Bunderan HI sepanjang 16 km yang dapat ditempuh dalam 30 menit saja. Ada 13 stasiun dengan jarak masing-masing antara 0,8-2,2 km dengan tempo keberangkatan setiap 5 menit sekali (pada tahun pertama beroperasi). Ditargetkan akan ada 173,400 penumpang terangkut setiap hari. Sepertinya akan sangat membantu mengurai kemacetan ya?!
Setelah berkeliling, tempat yang paling instagramable, apalagi kalau bukan the tunnel. Jreng jreng.. disini semua rebutan foto, sampai-sampai dikasih peringatan oleh panitia kalau waktu sudah habis. Wah, dua tahun lagi, saat sudah beroperasi, jalan-jalan di proyek MRT ini akan menjadi sangat memorable.
kamadigital.com di depan tunnel
Selanjutnya segera menyusul Fase II yang menghubungkan Bundaran HI dan Ancol. Tenang, semua wilayah Jakarta nantinya akan terjangkau oleh MRT. Jalur-jalur pun terintegrasi dengan jalur TJ dan bis kota yang sekarang sudah eksis. Bahkan pada 2020 akan dimulai konstruksi koridor Timur Barat, Cikarang-Balaraja sepanjang 87 km. Wow!
MRT Jakarta merupakan proyek pertama di Indonesia yang mengimplementasikan skema three sub level agreement antara JICA (lender) dan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan BUMD (PT MRT Jakarta). Sementara secara struktur kepemilikan, Pemda Provinsi DKI memiliki 99,98% saham. Hingga Desember 2016, progres proyek ini secara overall sudah mencapai 62%. Secara komersial akan mulai beroperasi Maret 2019. Sabar yaa, masih dua tahun lagi.
mandor
Oleh karena itu, mulai dari sekarang ayo kita siapkan diri untuk lebih ramah dengan transportasi publik. Membiasakan diri naik kendaraan umum, pelan-pelan gunakan kendaraan pribadi untuk saat-sata tertentu saja. Supaya nanti jika MRT sudah beroperasi kita sudah terbiasa dan terlatih untuk berbagi.
Perjalanan saya ke Amerika tahun ini dimulai dengan transit di Bandara Narita, Jepang. Saya sengaja mencari penerbangan dengan transit lama (hingga 10 jam) dengan harapan bisa ikut city tour transit program. Apa daya sejak seminggu sebelum berangkat saya terserang batuk dan flu yang lumayan menyiksa. Mengingat suhu Tokyo yang saat itu hanya 2 derajat celcius sajah, jadilah saya cuma ngendon di Narita selama 10 jam itu.
Terminal 2 Narita
Terminal 2 penerbangan internasional Bandara Narita tidak terlalu luas, namun memiliki banyak pojok untuk beristirahat. Pilihan restoran dan coffee shop menurut saya juga tidak terlalu banyak, tetapi ada berbagai pilihan toko souvenir, duty free shop dan toko oleh oleh. Saya tiba sekitar pukul 07.00 pagi waktu Tokyo. Setelah segala tetek bengek tansit selesai saya mencoba merebahkan badan di salah satu selasar. Wah, ternyata tidak saya saja, banyak juga penumpang lain melakukan hal yang sama.
working space and relaxingmau duduk duduk santai, sendiri ? boleh… ada colokan dan wifi kok!
Ada deretan bangku lesehan lengkap dengan kasur tipis buat tiduran. Di sisi lain, bilik-bilik tertutup dengan sofa pribadi juga bisa dicoba. Bahkan beberapa diantaranya menggunakan kursi yang bisa memijat. Cocok deh buat saya yang akan menjalani total hampir 40 jam perjalanan mulai dari Cengkareng-Kuala Lumpur-Tokyo-Los Angeles dan terakhir Phoenix. Sambil rebahan, kita bisa terhubung dengan dunia maya melalui jaringan internet yang menurut saya sih tercepat yang pernah saya saya temui di bandara beberapa negara. Bosen main internet, kita bisa nonton TV yang memang tersedia di spot itu. Beruntung, karena tiba pagi hari beberapa space masih kosong, jadi deh saya istirahat sambil minum tolak angin. Hehehe. Oya, tempat ini dilengkapi juga dengan taman bermain indoor untuk anak-anak.
bisa selonjoran, gratis sambil maen fesbuk dan nonton TV!tempat bermain anak..
Bosan tiduran, saya berkeliling terminal. Eh, ternyata ada dayroom dan shower yang letaknya agak di sudut tidak jauh dari pusat informasi. Dengan badan yang masih setengah rontok, cuaca dingin, perjalanan masih jauh dan batuk yang tak kunjung reda, saya memang perlu tempat istirahat yang lebih proper. Iseng-iseng saya masuk dan mencari tahu, wah…boleh juga nih dicoba pikir saya.
lobby minimalis
Seorang perempuan Jepang setengah baya menyambut saya dengan ramah. Meski bahasa Inggris-nya terpatah-patah, ia kelihatan sekali berusaha melayani tamu dengan sebaik-baiknya. Ia menjelaskan beberapa fasilitas. yang tersedia. Ternyata, harganya tidak menguras kantong kok! Tersedia shower room untuk mandi saja yang disewakan sekitar 1.030 Yen per 30 menit atau sekitar Rp 100 ribu dan ruangan tidur single maupun dobel yang sudah dilengkapi dengan shower room. Harga ruangan single sebesar 1,540 Yen (sekitar Rp 150 ribu) satu jam pertama dan harga ruangan dobel sebesar 2,470 Yen (sekitar Rp 250 ribu) satu jam pertama. Saya bisa istirahat nyaman dengan privasi, bisa mandi bersih-bersih dan sholat tentunya. Harga pada jam kedua dan seterusnya, bukan perkalian dari harga jam pertama loh.. Silakan lihat foto dibawah ini untuk lebih jelasnya.
price list
Sayangnya, saat saya kesana, ruangan single sedang penuh. Tapi si mbak Jepang memberikan diskon untuk ruangan dobel selama tiga jam dengan harga dua jam. Wah lumayan! Gakpapa deh, ngeluarin uang yang penting bisa segar dan fit kembali di penerbangan berikutnya yang masih memakan waktu kurang lebih 13 jam. Arrggghhh…
Ruangan dobel yang saya tempati tidak ubahnya seperti kamar di hotel budget chain internasional. Ada dua ranjang empuk, kamar mandi yang super canggih (tombolnya banyak banget), penghangat ruangan, air minum gratis, meja tulis, hairdryer, hingga peralatan mandi. Plus pemandangan lapangan terbang dari kaca-kaca yang sengaja dibuat lapang dan besar agar kita bisa melihat aktivitas landasan pesawat. Keren deh pokoknya! Tiga jam disini sangat tidak terasa. Lumayan, selain bisa istirahat, saya juga dapat pengalaman baru.
dalam kamar
Buat yang kira-kira akan transit di Narita dalam waktu cukup lama, saya rekomendasikan deh tempat ini. Saya memang bukan yang doyan shopping dan makan-makan di bandara, jadi harga tersebut bagi saya cukup pantas, toh emang tidak ada pengeluaran lain.. Hehehe..
Kalau dipikir-pikir banyak yang lucu dalam hidup saya. Semua seperti sebuah kebetulan, tepatnya kebetulan yang membawa berkah. Ya, mungkin hidup saya tidak tertata apik seperti sekelompok orang. Padahal, sebagai seorang yang cukup well educated, hidup saya itu seharusnya lurus-lurus saja. Sekolah, kuliah, bekerja, punya karir yang menanjak terus, menikah lalu pensiun dengan bahagia. Dan saya yakin 80% orang di dunia ini menghendaki proses yang demikian. Tapi, saya beda (dan pasti bukan saya saja), karena hidup saya selalu penuh kejutan dan mungkin kebetulan. Eh, tapi apa bener semua itu serba kebetulan? Katanya selembar daun yang jatuh pun Tuhan tahu, jadi apa benar semua ini kebetulan?!
Titik balik kehidupan saya, adalah saat saya nekad pindah ke Aceh pada 2007. Menerima tawaran pekerjaan yang tidak pernah saya duga apalagi inginkan. Pindah ke daerah yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya. Boro-boro sampai di ujung Sumatera yang baru saja dilanda tsunami besar, daerah konflik perang dan memiliki budaya yang saya sungguh tidak paham sebelumnya,- kerja di luar Jakarta pun tidak pernah ada dalam benak saya. Meskipun waktu itu saya galau dan gamang cukup lama untuk memutuskan, akhirnya berangkat juga. Entah angin dan inspirasi apa yang membawa ke keputusan itu. Padahal di Jakarta, saya bekerja di perusahaan cukup besar dan menjanjikan karir manis manja. Ah, mungkin kebetulan? Entahlah, namun Aceh adalah turning point terpenting bagi saya dan kehidupan setelah itu. Makanya, jangan heran di blog ini selalu ada bagian khusus buat Aceh.
Aceh membawa banyak perubahan paradigma dalam diri Saya. Paradigma tentang hidup, kehidupan spritual, kedewasaan berpikir, memberi cerita cinta (accidently in love..hmm..), jatuh bangun, susah senang dan tentu saja menjadi bagian terbesar dalam lika liku pekerjaan saya. Lebih luas lagi, dari Aceh-lah saya menemukan sahabat-sahabat terbaik sebagai keluarga baru yang akan selalu dan selamanya ada di kehidupan saya. Tidak itu saja, dalam kehidupan sehari-hari, Aceh pun memberi pengaruh besar, sampai-sampai minum kopi pun saya belajar dari Aceh. Asal tahu saja, dulunya saya anti dengan kopi. Bisa gemetar seharian kalau minum secangkir kopi.
Blog yang saat ini kalian baca pun adalah buah dari saya bekerja di Aceh. Begitu banyak cerita yang ingin saya tuliskan hingga akhirnya saya belajar teknologi internet dan mulai menulis online. Gara-gara itu, selepas Aceh saya nekad lagi mengambil Magister Manajemen Sistem Informasi. Jauhhh sekali dari S1 saya di Fakultas Perikanan dan Kelautan. Dan tau gak sih, gara-gara blog ini lah, beberapa tahun terakhir hidup saya juga mulai bergeser. Kok bisa? Lanjut baca dulu ya…
Setelah dari Aceh saya sempat merasakan bekerja di Istana Kepresidenan di masa Presiden SBY. Lagi-lagi bisa masuk ke pusat pemerintahan ini karena jaringan dari pekerjaan di Aceh. Awalnya saya tidak nyaman disini, bekerja dengan pelajaran tambahan ilmu politik, pemerintahan dan birokrasi yang dulu sangat sangat saya benci. Namun semua berjalan sebaliknya, saya mulai mengenal birokrasi, punya hubungan baik dengan banyak Pemda dan mulai merasa saya harus punya kontribusi bagi negara ini bukan cuma mencaci maki Pemerintah. Mungkin cuma kebetulan. Eh, tapi apa ini kebetulan juga atau tidak, ternyata pengetahuan dan jaringan dari sanalah yang kemudian membuka jalan saya ke dunia yang sekarang.
Setelah dari Istana, saya sempat “mampir” dengan mudah ke sebuah bank terbesar di tanah air. Lagi-lagi kok bisa? Bisalah, soalnya yang merekomendasikan juga salah satu atasan saya di Aceh dulu. Tidak merasa berkembang di disana saya nekad lagi, keluar dari karyawan bank yang hidupnya sangat rapih dan tertata apik. Pergi pagi, pulang menjelang malam rutin selama lima hari dalam seminggu. Itu tentu saja belum termasuk lembur-lembur cantik hingga malam atau hari libur. Banyak yang bertanya, kenapa saya mau masuk ke bank yang penuh rutinitas (menjemukan). Hemmm, jawabnya; saya ingin hidup saya (kembali) seperti orang pada umumnya. Bekerja di perusahaan besar, gaji lumayan, semua ditanggung dan kemudian pensiun dengan damai. Tapi akhirnya, saya berani juga (menurut sebagian orang super berani), keluar dari zona super nyaman (yang sebenarnya tidak nyaman), cuma bermodal menulis blog saja dasarnya!
Ya, akhirnya dari blog yang saya kenal tak sengaja di Aceh, saya melanjutkan S2 di bidang yang sesuai. Dari sini saya kenal banyak orang, belajar banyak ilmu baru dan ternyata semua pada akhirnya bisa saya kombinasikan dengan pengalaman-pengalaman “kebetulan” saya yang lain. Singkat cerita, jadilah saya dan beberapa teman merintis Kamadigital.com. Sebuah start up yang misinya ingin membantu stakeholders pariwisata nasional khususnya Pemerintah Daerah mempromosikan potensi wisatanya dalam format-format digital. Kenapa sasarannya Pemda saat banyak orang menghindari berurusan dengan pemerintah? Nah disitulah peluangnya! Jujur, Saya tidak punya ilmunya, semua berjalan sendiri. Modal dasar kenal banyak orang, senang dan mau membantu pengembangan pariwisata lokal dan sedikit tahu birokrasi pemerintah (gara-gara pernah bergulat dengan Pemda di pekerjaan sebelumnya) yang selama ini justru banyak dijauhi pekerja seperti saya.
Senangnya lagi, saat ini saya bekerja sama dengan teman-teman sejiwa yang asyik. Tidak mungkin kan saya bekerja sendiri. Dan semuanya adalah teman-teman yang bertemu kebetulan. Kebetulan kenal dari teman, kebetulan saya nonton tayangan youtube-nya. Kebetulan kenal di sebuah acara, dan kebetulan-kebetulan lain yang sama sekali tidak pernah saya duga. Seperti jodoh bukan dijodohkan, semua mengalir begitu saja.
Betul, ini memang belum apa-apa. Di depan perjuangan hidup masih panjang. Tantangan masih menghadang. Tapi saya yakin, masih ada “kebetulan kebetulan” lain yang luar biasa. Kita memang bisa mengatur dan merencanakan hidup ini dengan cara terbaik, tetapi jangan terlalu ketat juga seperti absen kantor. Banyak hal yang bisa dibiarkan berjalan mengalir seperti air sungai yang ujungnya bermuara ke laut. Pasti.
Seorang senior travel blogger pernah berpetuah ke saya: “Kalau mau bikin judul tulisan jalan-jalan, lupakan menggunakan frasa-frasa hiperbola seperti surga tersembunyi, emas terselubung, nirwana di kaki langit, atau apalah yang sejenisnya. Kenapa?! Karena kata-kata tersebut memang cenderung berlebihan dan “feeling” orang terhadap sebuah daerah bisa berbeda-beda. Lagian, emang kamu pernah ke surga atau ke nirwana sampe-sampe bisa bikin perbandingan? Ah..jadi ngarang kan??
Beda cerita dengan judul hiperbola, pertanyaan yang paling sering mampir ke saya adalah: Lebih suka pantai atau gunung? Jelas, saya dengan mantap akan menjawab: pantai tentu saja! Pantai dan laut yang seolah tanpa batas seolah menyimpan misteri yang membuat saya ingin selalu kembali. Hmmm…
by IG @d.haqiqi
Gara-gara Salem, saya sepertinya mulai melanggar dua pakem itu. Pertama, pada posting kali ini, saya terpaksa menggunakan kalimat “arunika dari Brebes”. Maapkeun, saya memang sudah kehabisan diksi yang pas untuk menggambarkan keindahan Salem. Arunika berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya sinar matahari pagi, karena saya yakin suatu saat Salem akan jadi seperti “matahari pagi” bagi pariwisata Brebes. Kedua, sepertinya preferensi pantai daripada gunung akan sedikit bergeser gara-gara untuk kedua kalinya saya mampir ke Salem minggu lalu. Yes, minceu bersama beberapa teman-teman blogger yang super heboh diajak jalan-jalan ke Brebes dan mengeksplore salah satu kecamatan di Brebes ini. Dan entah saya kenapa tiba-tiba saya suka gunung! Lho kok? Ini dia ceritanya!
***
Salem ditempuh sekitar 1,5-2 jam dari kota Brebes. Gak jauh kok! Perjalanan sama sekali tidak terasa, karena sepanjang jalan mata dimanjakan oleh hijaunya sawah dan ladang bawang. Udaranya sejuk, pepohonan masih rimbun dan infrastrukturnya sudah mencukupi. Namanya juga daerah pegunungan, jalanan menuju Salem memang menanjak. Bahkan ada beberapa tikungan tajam dan mendaki yang bisa bikin kita lebih banyak berdoa saat melewatinya. Untungnya, jalanan kesini super mulus dan pengemudi yang membawa kita sudah sangat mengenal medan.
Kehebohan menuju Salem memang dimulai dari kelokan-kelolan mautnya. Kami yang sepanjang jalan penuh canda tawa tiba-tiba nyaris diam dalam keheningan, ketika melewati tikungan-tikungan tajam yang nyaris 90 derajat. Belum lagi jalannya dua arah, untung mobil kami, dilengkapi dengan klakson telolet yang akan dibunyikan saat jalan menanjak dan menikung tajam. Tujuannya, agar kendaraan dari arah berlawanan tahu kalau ada mobil besar yang akan lewat. Jadi gak usah jejeritan bilang: Om Telolet Om!
by IG @d.haqiqiby IG @suryadi.sulthan
Biarpun aman, melewati tikungan-tikungan tajam ini tetap bawaannya a litte bit scary, sampe-sampe saya (yang kurus) ini minta turun, dengan maksud untuk meringkankan beban mobil. Padahal, kayaknya gak ngaruh juga sih.. hehehe.. Lepas dari tanjakan, mobil kami berhenti sejenak. Wajah-wajah tegang turun satu persatu dari mobil. Lega banget, meskipun tadi hampir seluruh doa-doa diluncurkan. Kapok?! Gak dong!!… justru disitulah letak keseruannya.
Stop point pertama, adalah melihat pembuatan batik tulis khas Salem. Saking kayanya negeri tercinta ini, semua daerah nyaris punya batik. Desa Bentarsari di Salem ini adalah salah satunya. Pembatik Salem umumnya adalah ibu-ibu dan remaja putri. Membatik biasanya dilakukan di waktu luang selepas bekerja di ladang atau sawah. Batik Salem unik, karena coraknya yang masih sangat old fashioned dengan mengangkat ciri khas Brebes, seperti bebek dan telur asin. Uniknya lagi, batik ini diwarnai secara alami dari tanaman yang ada di seputaran Desa Bentarsari, seperti daun mahoni, daun jambu klutuk hingga kulit jengkol. Satu kain batik seukuran 2×3 meter diselesaikan selesaikan 1-2 minggu. Saat ini, Ibu-ibu pembatik masih kesulitan akses untuk memasarkan produknya lebih luas, ditambah lagi keterbatasan modal yang membuat produksi tergantung pesanan. Hmm, ada yang tertarik jadi investor?!
by IG @suryadi.sulthan
Oya, biarpun masuk dalam Provinsi Jawa Tengah, penduduk Salem berbahasa Sunda. Beda banget sama saudara se-KTP nya di Brebes pesisir yang berbahasa Jawa dengan dialek “ngapak-ngapak”. Memang, sebagain besar wilayah pegunungan Brebes berbatasan dengan beberapa kabupaten di Jawa Barat.
Lepas dari bertemu ibu-ibu pembatik. kami menuju Panenjoan. Sepanjang jalan gerimis tiada henti, tiba di Panenjoan pun tetap gerimis bahkan hujan! Panenjoan adalah daratan berbukit yang dipenuhi hutan pinus dan memamern view pegunungan. Beberapa menara pandang dibangun, buat jadi obyek foto. Teman-teman blogger tetap bersemangat, meskipun banyak banget spot yang tidak bisa difoto maksimal karena cuaca tidak mendukung.
Panenjoan In frame IG @miss_nidy Pic IG @d.haqiqi
Panenjoan pic by IG @suryadi.sulthan
Tapi gakpapa, pulangnya kami masih bisa mampir di sawah terasering yang kerennn abis! Bagi penduduk sana mungkin sawah ini biasa saja. Cuma kita doang yang kayaknya mampir foto-foto. Tapi sumpah, selain di Bali dan NTT, ini sawah ter-instagram-able yang pernah saya lihat secara langsung! Biarpun sebenernya saya orang kampung juga, tapi tetap excited melihat susunan sawah menghijau berlatar gunung dan sungai. Lebih indah dari lukisan. Saking bingung mau ngambil foto dari mana, akhirnya saya minta ijin ke salah satu rumah penduduk yang berlantai dua. Yah, lumayan deh…
by IG @d.haqiqi
Menjelang sore, kami menghabiskan waktu di Kalibaya Park. Yaah, sayang banget..beberapa spot sedang direnovasi dan tanahnya becek sehabis hujan. Eh, tenyata itu malah jadi berkah sendiri buat teman-teman yang mencoba motor cross dan mobil off road. Belum lagi ada ayunan angkasa yang membuat kita seolah terbang. melayang. Ada menara pandang dari bambu dengan pemadangan waduk Malahayu dan alam Salem. Keren deh, menurut saya malah lebih keren dari Kalibiru di Yogyakarta. Cuma memang masih kalar tenar aja sih… Di Kalibaya juga ada fasilitas outbond, jadi kalau pergi bareng rombongan, kita gak mati gaya. Banyak aktivitas yang bisa dicoba
Obyek yang belum sempat kami sambangi adalah Ranto Canyon, tebing-tebing tinggi dikelilingi air pegunungan yang dijadikan obyek bodyrafting. Seru juga sih kayaknya, next time saat cuaca bagus, wajib dijajal!
Soal makanan, jangan khawatir.. Kami sempat mampir ke warung Ayam Bumbu Kampung. Aduh, selain murah, enaknya kebangetan. Padahal menunya sih sederhana banget. Ayam goreng krispi dengan kriukan, lalap, tahu goreng, tumis kangkung dan aneka pepes. Makan sepuasnya pun per orang tidak lebih dari Rp 30 ribu. Kecuali kalo kamu pengen beli gerobak Ibunya, ya?! :p
by IG @miss_nidy
Paling enak sih kesini bukan sekedar mampir mengunjungi obyek-obyeknya, tapi merasakan sehari dua hari jadi warga Salem. Iya loh.. Salem memang makin terbuka dengan pariwisata. Kita bisa tinggal disini, lari pagi di sawah, makan ala desa yang murah banget. Foto-foto di Panenjoan dan melamun di tengah sawah (eh..ini cuma buat yang lagi galau…). Waktu paling pas untuk puas-puas disini sepertinya antara Maret-Oktober, saat musim kemarau.
Asal tahu saja, semua inisiatif pengembangan wisata Salem ini diupayakan sendiri oleh penduduknya. Mereka membentuk Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Baru berjalan kurang dari satu tahun, Salem sudah menjadi salah satu tujuan wisata utama di Brebes. Saat ini mereka sedang gencar mempromosikan daerahnya melalui format-format digital. Keren kan? Semoga akan lebih banyak daerah yang bisa mencontoh Salem. Memang, masih banyak yang belum sempurna, tapi kalau menunggu semua oke banget, kapan kita bisa berjalan maju, kan?! Makanya sama-sama kita dukung pariwisata dalam negeri.
Pic by IG @d.haqiqi
Jadi pengen ke Salem, nih!? Saat ini kendaraan umum memang belum banyak. Dari pusat kota Brebes baik terminal mapun stasiun naik angkot menuju Ketanggungan lalu lanjut angkot menuju Pasar Banjarharjo. Dari sini bisa naik angkutan umum dari Pasar Banjarharjo. Hmm, sayangnya sih kebanyakan angkutan ke Salem dari Banjarharjo masih colt bak terbuka…. Cocok sih buat yang ingin merasakan petuangan sesungguhnya. Biar lebih nyaman, mending perginya barengan beberapa teman, agar bisa menyewa mobil dari Brebes menuju Salem, sekaligus pesan home stay di Salem. Semua bisa dilayani oleh Pokdarwis Kalibaya (nomer telepon dibawah tulisan). Biaya sewa mobil dari Brebes sekali jalan sekitar 300- ribuan untuk sekali jalan (bisa urunan 5-6 orang). Sedangkan homestay Rp 50 rb/orang/malam plus satu kali makan. Murah kann ?
Hayuklah ke Brebes, merasakan liburan kembali ke desa. Merasakan sisi-sisi lain dari negeri tercinta ini. Jarang-jarang kan kita bangun pagi, dan melihat sawah seindah ini? Lupakan sejenak Jakarta yang penuh polusi. Its time back to nature.
Brebes, A Different Taste of Java.
Kontak Pokdarwis Salem : Mas Ajie (0852-01000-9920)
Makin sering jalan dan bertemu berbagai tipe orang, akhirnya saya bisa mengelompokkan beberapa tipe-tipe teman seperjalanan. Nah, kamu masuk tipe yang mana yaa?!
1. Tipe tertib administrasi
Teman tipe ini adalah paling yang rajin mencatat, semua dicatat. Pengeluaran setiap hari dibukukan secara rinci, sangat patuh dengan itinerary dan tidak boleh telat sedikit pun. Baiknya, mahluk seperti ini bisa jadi jam weker dengan bertugas mengingatkan anggota rombongan yang lelet atau santainya kebangetan. Cuma yang membuat males dari golongan ini, adalah kadang liburan menjadi tidak ubahnya seperti harus ngantor dan ngabsen sidik jari. Menegangkan! Semua seperti terburu-buru, kayak ada deadline yang ditungguin bos killer. Yah, namanya juga liburan sih ya.. tapi kalau sudah terlalu ketat waktunya, gimana bisa dinikmati, kan? Untuk mensiasati hal yang begini, buatlah itinerary dengan skedul yang sedikit longgar. Toh, liburan itu memang masa santai, kan?
Sebagai blogger, saya lebih senang liburan yang waktunya leluasa, bisa mengamati lingkungan baru, mengamati kehidupan masyarakat lokal dan menikmati makanannya dengan santai. Semuanya tentu saja buat bahan nulis blog!
sumber: www.theberry.com
2. Tipe rempong sendiri
Tipe ini ditandai dengan kemana-mana pergi, bawaannya selalu banyak. Pakaian hingga beberapa pasang, padahal perginya cuma dua hari. Bajunya gak bisa kotor dikit, baju basah dikit harus ganti yang baru. Kalau ikutan wisata alam di ruang terbuka, bisa jadi ia tidak nyaman. Apalagi kalau harus tinggal di homestay yang tidur barengan dengan berbagai model peserta open trip. Bahkan ada temen saya, yang tidak bisa tidur jika tidak menggunakan seprei yang dibawa dari rumah. Kebayang kan?! Kalau nginepnya di hotel yang bagus sih, oke ya.. tapi kalau jalan-jalan yang harus sharing dengan banyak orang?!..
Memang sih, kita tidak direpotkan secara langsung, karena dia melakukan sendiri semuanya, tetapi kondisi begini sungguh-sungguh bikin kita gemess sendiri. Saat mau santai-santai, rasanya tidak afdol kalau ada teman yang masih heboh sendiri dengan dirinya dan barang bawaannya. Orang seperti ini cocoknya memang liburan syantik ala Syahrini. Basah-basahan di laut, atau becek-becekan di sawah?! Pasti gak banget deh!
sumber: blog.virtuoso.com/
Positifnya punya temen yang kayak gini, biasanya punya perlengkapan tempur lengkap. Mulai dari obat sakit gigi hingga obat kolesterol, semua dibawa. Lumayan, ada fungsi jaga-jaga kan?
3. Tipe traveler checklist
Hayo, siapa yang masuk tipe ini? Ciri-cirinya adalah kemana pun pokoknya harus mampir foto di setiap tempat. Dan yang penting cuma fotonya aja! Foto tok! Gak perlu lama-lama, gak perlu tau itu tempat apa, gak perlu menikmati semua atmosfer. Pokoknya setelah kelar foto, ya udah…cuss! Biasanya traveler seperti ini hanya ingin memenuhi ibadah update sosmed ajah. Hehehhe. Eh, ngomong-ngomong kalau waktunya mepet, saya juga sering sih begini..:D Hehehe..
sumber: www.123rf.com
4. Tipe yang penting gaya dulu
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah pergi dengan rombongan open trip yang terdiri dari sekelompok cewek-cewek keren. Sejak ketemu di bandara, saya sudah keder sendiri soalnya perlengkapan mereka lengkap banget. Ranselnya saja keluaran merek terkenal yang memang ditujukan untuk backpacker-an. Sementara saya, cuma bawa tas batik tentengan beli di Malioboro yang harganya tidak lebih dari 80 ribuan. Cewek-cewek ini juga membawa perlengkapan snorkeling yang lengkap dan tentu saja muaahalll. Intinya, gaya mereka sungguh menyakinkan sebagai petualang alam. Belum lagi outfit-nya, memang khusus buat traveling jauh. Mantep banget dah! Sementara saya, senengnya bawa rok bunga-bunga yang murah meriah biar bisa foto ala-ala princess gitu! :p
sumber: www.emaze.com
Ini namanya bener-bener dont judge a book by its cover! Tiba di tempat tujuan yang luar biasa indahnya, saya pikir mereka akan langsung nyebur dengan perlengkapan snorkeling yang super keren itu. Ternyata.. (hahahaha…) boro-boro!! Mereka lebih banyak berdiam di tepi pantai dan diatas kapal, kelihatan ragu-ragu untuk terjun ke laut. Olala, ternyata takut untuk nyebur! Padahal, tempatnya landai sekali dan memang untuk pemula. Pelampung pun sudah disiapkan oleh operator trip. Akhirnya sih, mereka nyebur juga (mungkin setelah baca doa berkali-kali) itu pun didampingi oleh seorang guide. Selama menunggu keberanian mereka, malah saya dan teman lain yang mencoba perlengkapan mereka, hehehe.. Makasih, ya mbak…
5. Tipe gak bisa moto, tapi doyan difoto!
Ada yang bilang, hindari bepergian dengan orang yang gak bisa moto! Huaaaa…bener banget sih sebenernya. Apalagi buat blogger, kayak saya. Kenapa? Karena saya ini blogger malas mencatat, jadi hampir setiap sepuluh langkah saya mampir berfoto. Nantinya, foto-foto itulah yang menjadi bahan tulisan saya. Dulu sih, waktu belum jalan-jalan sekerap sekarang, saya juga guoblokk banget kalau ambil foto. Sekarang juga belum jago-jago amat, tapi setidaknya jauh lebih baik daripada dulu. Dari traveling-lah, saya belajar. Mengambil foto atau difoto itu masalah kebiasaan kok! Bukan masalah kamu lebih dominan pake otak kiri atau otak kanan.
Kalau kita sering jalan-jalan, otomatis taste kita meningkat dengan sendirinya kok. Foto yang baik adalah foto yang bisa bercerita, tanpa harus ditulis denga caption yang banyak. Foto-foto yang keren juga bikin nilai jual kita di sosmed naik. Eh, jangan mikir miring dulu loh! Positifnya, kalau kita jalan-jalan di negeri sendiri, foto yang keren bisa membantu mempromosikan daerah yang kita kunjungi! Beramal buat negara, boleh dong…
sumber: www.123rf.com
Nah, paling menyebalkan adalah jalan-jalan sama orang yang doyannya difoto tapi gak bisa moto. Ini pernah banged saya temui di beberapa perjalanan. Akhirnya, saya seringgg banget jadi tukang foto, tapi foto saya nyaris gak ada! Belum lagi, ada golongan yang sukanya difoto, dimana mukanya muncul lebih dari 70% di frame. Masih musim ya, gitu? Fokusnya bukannya lokasi yang kita kunjungi?! Kalo di setiap foto muka lo semua,..hhmm…mending bikin foto KTP aja kali yee…
Oke, segitu dulu… jangan marah yaa..kalau ada yang merasa. *nyengir…
Sumber featured image: https://blog.rentini.com/2013/05/08/which-type-of-traveler-are-you/
Ada rencana ke Sydney? Bingung mau bikin itinerary? Berikut saya rekomendasikan beberapa agenda yang bisa dilakukan di Sydney. Tenang, semuanya bisa dilakukan cukup dengan jalan kaki saja di pusat kota Sydney. Ngapain aja? Yukk, cekidot…!
1. Tour Gedung Antik hingga Opera House
Yah, kalau ini mah gak usah dibilangin sih sebenernya. Opera House memang sudah jadi maskot alias landmark Kota Sydney. Kalau mau kesini, lebih baik naik kereta dan turun di Central Station lalu lanjut jalan kaki. Agak jauh memang sekitar 2 km, tapi sepanjang jalan banyak obyek foto yang menarik. Banyak gedung-gedung bergaya Mediterania yang sangat instagram-able.
must taken!
Contohnya; museum, taman, perpustakaan, gedung pemerintahan bahkan disinilah lokasi Gereja Saint Mary yang sangat megah dan indah. Siapa pun boleh masuk loh melihat-lihat dalamnya. Saya aja yang pake kerudung, masuk dengan santai kok! Asal tetap tidak mengganggu yang sedang beribadah yah..
National LibrarySaint Mary
Kan asyik, satu tujuan tapi bisa dapat beberapa obyek. Sekalian juga bisa melihat lalu lintas dan kehidupan kota Sydney.
2. Eksplore Sydney Harbour Bridge
Deuh, segitu banget ya.. pake kata “berlayar”. Hehehehe. Harbour Bridge sebenarnya satu pandangan mata dengan Opera House. Pilih port Circular Quay sebagai titik awal untuk menjelajah Harbour Bridge. Dari atas ferry melihat sisi lain Sydney dari lautan, foto dengan latar belakang Harbour Bridge dari atas ferry pasti keren banget. Rebutan ambil posisi di geladak kapal. Saya sarankan kesini pada pagi hari sebelum pukul 12 siang, agar pencahayaan fotonya tidak backlight.
Harbour Bridge
Sepanjang perjalanan dengan feri ini ada beberapa poin-poin menarik yang bisa dikunjungi, seperti Luna Park, Sydney Aquarium, Maritime Museum atau sekedar foto-foto di Pyrmonth Bay Wharf.
Luna Parkpantai apaa…lupa namanya, heheheh..
Oya, sempatkan hari minggu saja keliling Sydney. Kenapa?? Karena hari minggu kita cukup mengeluarkan AUSD 2 saja untuk menggunakan seluruh moda transporartasi, tanpa batasan. Mau naik trem, bis, atau ferry berkali kali selama di hari minggu, ongkos cuma dua dollar saja, dipotong saat perjalanan pertama menggunakan kartu transportasi yang namanya Opal Card.
3. Nonton Kembang Api di Harbour Darling
Pernah nonton kembang api di Hongkong? Kurang lebih di Sydney sama deh dengan disana. Pertunjukan ini ada setiap malam minggu di tepian Harbour Darling. Disini juga ada deretan café lengkap dengan mall. Cuma memang makanan disini agak lebih mahal, kalau mau irit kita bisa membawa cemilan sendiri dari rumah, atau beli di tempat lain dan dinikmati di tepi darmaga sembari memandang kerlap kerlip lampu-lampu kota. Eh, sayangnya waktu saya kesana…sedang ada renovasi jadi untuk sementara show kembang api tidak berlangsung. Tapi duduk-duduk di tepi port, memandang gemerlap lampu-lampu gedung di Sydney sudah sangat menyenangkan kok!
4. Berfoto di Gedung Sydney University
Entah kenapa saya suka banget bangunan ini. Gedung kuno yang mirip Istana Harry Porter ini ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 2 km dari Central Station yang berlawanan arah dengan Opera House. Aduh, sampai disini saya terkagum-kagum sendiri. Rumputnya hijau seperti karpet, bangunannya megah seperti di film film. Gedung indah itu dibangun pada 1850 dan dinobatkan sebagai salah satu kampus tercantik di dunia. Menuju kesini juga ada taman yang luas dan bagus. Benar-benar seperti back to past! Saat saya kesana, sedang gerimis mengundang tapi sama sekali tidak menghalangi niat saya untuk berfoto. Ternyata tempat ini memang sering jadi lokasi foto, bahkan ada sepasang calon pengantin yang tengah melakukan foto prewedding.
Saya juga sempat masuk ke dalam gedung, bagus banget. Speechless deh! Sempat kepikiran, kalau saja dulu saya pinteran dikit, pasti bisa deh kuliah disini. Hehehehe
5. Ngopi ngopi cantik!
Seperti biasa, kalau ke luar negeri, titipan yang paling sering saya terima adalah aksesoris Starbucks. Mulai dari mug sampau membercard. Thank God! di Sydney ternyata Starbucks-nya gak sebanyak di Amerika (Ya iyalah, kan Amerika emang asalnya….), jadi saya gak repot nyari titipan. Tapi sebagai gantinya, setiap sudut Sydney punya warung kopi yang autentik! Meski kedai-kedainya, tidak mengusung merek mahal, tapi kopinya dijamin mantep surantep! Mengingatkan saya dengan Aceh Lon Sayang. #uhuk
Saya sempat menjajal beberapa kedai kopi dan semuanya memuaskan. Di Jakarta atau Bogor, saya sering coba-coba warung kopi yang baru dibuka. Hasilnya sih lebih sering mengecewakan, sampai akhirnya saya hanya punya satu dua tempat ngopi langganan. Tapi di Sydney semua warung kopi asyik buat berlama-lama dan kopinya bikin saya -yang pencinta kopi ini-, sakau! Bahkan di ferry harbour bridge, saya sempat iseng membeli secangkir kopi di cafeteria yang posisinya agak nyempil deket toilet. Kirain akan dikasih kopi instan, ternyata di kapal pun, kopinya di-grill di tempat itu juga! Luar biasa!! Harga secangkir latte atau cappuccino rata-rata AUSD 3, sekitar 30 ribuan Standarlah yaa… gak jauh beda dengan kopi enak di tempat kita.
Oya, kalau mau pesan makanan samping/cemilan di kedai kopi, jangan kaget kalau porsinya geudee banget. Memang hampir semua makanan di Australia porsinya besar-besar. Jadi kalau sama teman, mending beli seporsi dan bagi dua. Hehehhe.. (irit ala anak kost)
6. Belanja di Paddys Market
Ini dia nih…liburan ala orang Indonesia. Belanja, belenjong, shopping dan ngabisin duit! Kebetulan banget, hostel saya menginap hanya beberapa blok dari Paddys, jadi deh saya belanja (seadanya) di Paddys juga. *Maklum horang kayahh…* Hehehe.. Pasar yang serupa hanggar besar dengan lapak-lapak ini, menjual berbagai barang mulai dari pernak pernik, souvenir, baju kaos, sepatu hingga kosmetik. Catat, Paddys hanya buka dari hari Rabu hingga Minggu. Kalau di Sydney, Paddys memang rekomendasi utama untuk membeli oleh-oleh. Tapi jangan terkecoh, untuk dapat harga murah lebih baik muter dulu seluruh bagian, cari perbandingan harga baru belanja, karena para pedagang disana tidak memiliki standar harga untuk satu barang.
Di Melbourne, ada Queen Victoria Market yang harganya lumayan lebih murah dari Paddys. Jadi, kalau masih mau ke Melbourne setelah dari Sydney, tahan tahan dulu deh belanjanya.
Di lantai atas gedung yang sama dengan Paddys, ada mall yang tidak seberapa besar. Serunya, disini ada beberapa Factory Outlet baju dan sepatu merek-merek terkenal disini. Kalau punya uang lebih, silakan mampir. Lumayan bisa dapat kaos branded seharga 5 dollar alias 50 ribu saja.
Oya, yang kangen makanan Indonesia, ada restoran bernama Podomoro, jalan sedikit sekitar 100 meter dari seberang Paddys. Tapi porsinya tetep gede, seperti porsi orang Australia pada umumnya. Biar aman (dan irit) pesen seporsi buat berdua aja (kan jadi romantis tuh…).
7. Nongkrong di Taman Kota
Enaknya di kota maju yang tetap mengutamakan kenyamanan penghuninya, adalah tersedianya Ruang Terbuka Hijau (RTH). Begitu juga di Sydney, banyak sekali taman-taman yang bisa jadi tempat mencari inspirasi saat galau (hmmm…). Asyiknya, taman-taman ini ada di pusat kota, yang bisa dijangkau dengan mudah karena transportasi yang memadai bahkan bisa cukup dengan jalan kaki.
Emmm.. tapi, kalau saya sih senang liburan yang gak too rush alias buru-buru kayak harus ngabsen di kantor. Saya lebih senang liburan yang santai dan bisa dinikmati. Bisa berlama-lama di satu tempat, mengamati lingkungan, melihat tingkah polah penduduknya dan belajar dari banyak hal baru di sekeliling kita. Saya gak mau jadi turis check list. Itu loh, yang datang ke suatu tempat cuma buat sekedar udah sampe disana dan cekrek foto sekali, lalu berlalu.
Nah, karena itulah kalau kalian liburan yang tidak dikejar deadline, bawa buku, cemilan dan segelas kopi (dalam paper cup), di taman, pasti akan jadi sangat menyenangkan.
Mencari hotel yang dekat dengan pusat kota, tapi berstandar internasional sebenarnya susah-susah gampang. Jangankan di kota kecil, di Bali yang jumlah hotelnya sudah gak kira-kira pun tetap jadi tantangan sendiri. Ada yang ekonomis, tapi fasilitas dan pelayanannya pun ekonomis. Ada juga yang murah, tapi posisinya kurang strategis. Mau lebih bagus dikit, siap-siap deh merogok kocek lebih dalam
Bulan lalu, saya beruntung banget bisa mencicipi bermalam di dua hotel dalam jaringan Best Western Internasional (BW). Oya, dua bulan sebelumnya saya juga sempat menginap di Best Western Premier Solo Baru. So, ini adalah kali kedua saya merasakan fasilitas BW. Di Kuta Bali sendiri, ada tiga jaringan yaitu: BW Kuta Villa, BW Kuta Resort dan BW Kuta Beach. BW Kuta Resort dan Kuta Beach berkonsep hotel seperti pada umumnya, sedangkan BW Kuta Villa, selain kamar hotel berstandar bintang 4, juga ada villa villa yg dilengkapi kolam renang pribadi. Hari pertama saya dan teman-teman menginap di BW Kuta Resort, hari kedua kami pindah ke BW Kuta Beach.
BW Kuta Resort
Ini dia beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan kenapa kalian harus memilih Best Western Kuta Bali.
Berstandar Internasional
Buat saya, poin ini penting banget! Kadang kita suka terkecoh dengan foto-foto keren dari sebuah hotel di situs-situs booking online. Kalau pilihannya di hotel yang memiliki jaringan worldwide, gak usah repot deh nanya-nanya atau baca review tentang fasilitasnya bagaimana, kebersihan gimana dan lain-lainnya. Nama besar BW yang sudah hadir di puluhan negara pasti jadi jaminan. Bahkan BW Kuta Resort beberapa tahun terakhir berturut-turut mendapat penghargaan Service Excellence dari Head Quarter BW di Arizona, USA.
Deluxe Room Best Western Kuta BeachDeluxe Room Best Western Kuta Resort
Lokasi Strategis
Yes, BW Kuta Beach letaknya hanya sekitar 200 meter saja dari bibir pantai Kuta. Bagi yang memang liburannya penuh aktivitas di sekitar Kuta dan Jimbaran, udah paling pas deh memilih BW Kuta Beach. Cocok banget buat yang ke Bali pengen seseruan merasakan atmosfir keramaian dan hedonisme ala Kuta. Sementara BW Kuta Villa dan Kuta Resort posisinya memang tidak tepat di pinggir jalan, namun sesuai bagi yang menginginkan suasana tenang, private dan senyap tetapi tetap dekat pusat keramaian Bali. Jadi tidak perlu jauh-jauh ke Ubud atau Nusa Dua.
Best Western Kuta BeachBest Western Kuta Villa
Makanan Enak
Sarapan pagi di BW Kuta Resort dan BW Kuta Beach menunya sangat beragam. Saya paling suka soalnya varian sambel-nya buanyakk..Hehehe. Saya ini kan penggemar sambal matah khas Bali, sampe-sampe bisa nambah beberapa kali karena sambelnya bikin gak mau berhenti makan. Heheheh.. Jangan khawatir, sebagai hotel international chain tentu saja menu internasionalnya juga komplit.
Saya juga sempat mencicipi soto ayam khas BW Kuta Villa yang disajikan di tempurung sejenis kelapa kopyor. Rasanya??!!. Hemmm.. soto ayam dengan bumbu spesial terasa unik karena berbaur dengan air kelapa yang masih menempel di tempurungnya. Minuman andalannya Pinacolada, sejenis jus nanas yang dipadukan dengan susu. Enak? Enak pake bangedd!
Oya, di BW Kuta Beach, sebelum sarapan pagi kita bisa ikut latihan yoga. Ada instrukur yang sabar banget membantu kita berlatih. Tempat latihannya pun dekat kolam renang dan restoran. Pas deh, habis yoga biasanya kita kelaperan dan langsung deh makan!
Harga Bersaing
Ini dia poin yang mungkin paling penting. Siapa sih, yang gak mau hotel terjangkau, lokasi oke, makanan enak, fasilitas keren dan berstandar internasional? Beneran deh, silakan cek rate BW di beberapa situs booking online.
Hayo, kapan terakhir kali kamu piknik? Iyaa, piknik! Makan dan bercengkerama di alam terbuka, duduk santai di atas tikar dan menikmati makanan yang dibawa dari rumah. Saya sih, kalau tidak salah sekitar satu setengah tahun lalu bersama beberapa orang teman dari Bogor menuju Gunung Padang di Cianjur. Di tengah perjalanan, kami singgah tepat di tepi kebun teh, menikmati nasi goreng berbumbu Aceh yang dibawa dari rumah. Nikmat banget! Lupa deh sama makanan mall.
Nah, ceritanya minggu lalu saya menyempatkan piknik di alam terbuka. Tidak tanggung-tanggung, kali ini pikniknya di Melbourne, Australia. Jauh banget yaaa!! Setelah nonton Coldplay, muter-muter di Melbourne (yang ini akan saya tulis terpisah), seorang teman mengusulkan untuk piknik di sebuah taman di tepi danau bernama Lysterfield Park, sekitar 45 menit dari pusat kota Melbourne. Jadilah sore itu kami membeli kebutuhan piknik termasuk daging halal di sebuah toko produk-produk Timur Tengah. Niatnya pengen barbeque (bbq) di tengah rimbun pepohonan sembari memandang danau.
Disana disediakan meja-meja persegi yang besar lengkap dengan bangku yang melingkar sehingga kita tidak perlu gelar tikar lagi. Hebatnya, di beberapa bagian sudah disediakan perlengkapan bbq yang lengkap dan kita tinggal pakai. Wow! Kirain harus bawa perlengkapan dari rumah (kali aja rempong kudu bawa arang segala…)
Kami memilih satu meja yang paling dekat dengan sebuah tungku bbq. Ternyata yang piknik, bukan hanya saya dan teman-teman. Di samping kami, berkumpul satu keluarga lengkap dari nenek hingga cucu yang tengah bertukar kado. Di sisi lain, sekumpulan anak muda yang nampaknya sedang reuni, asyik dalam gurau canda. Di ujung sana masih ada satu keluarga dengan dua anak balita. Ramai memang, tapi tetap tenang dan masing-masing kelompok memiliki privacy.
Di sekeliling taman, terdapat jogging track, terlihat beberapa orang sedang berolahraga, walau suhu saat itu hanya sekitar 15 derajat celcius saja. Tepat di depan mata terbentang danau buatan, yang membuat pemandangan makin cantik. Selain untuk estetika, ternyata danau itu juga merupakan sumber pembangkit listrik.
Di arah berlawanan dengan danau, ada tanah lapang dan hutan yang masih alami dan itulah habitat asli kanguru. Disini kanguru dibiarkan hidup bebas, loncat loncatan kesana kemari. Sedang asyik ngobrol, tau-tau seeokor melintas di depan kami. Cepat-cepat saya ambil kamera. Sayang, loncatannya lebih cepat daripada bidikan kamera Saya. Hahaha..
kanguru yang kabur
Tempat ini memang disediakan oleh Pemerintah Melbourne. Tidak hanya Ruang Terbuka Hijau (RTH) semua fasilitas seperti meja dan kursi taman, tempat bersantai, tungku bbq dan toilet yang bersih. Bahkan disediakan perahu-perahu untuk berkeliling danau yang sangat friendly terhadap para disable.
fasilitas toilet
Sambil bbq-an, Doddy teman kami yang memang menetap di Melbourne bercerita tentang dukungan pemerintah Australia terhadap keharmonisan keluarga. Australia menerapkan prinsip Triple delapan (888), yaitu delapan jam bekerja, delapan jam istirahat dan delapan jam pleasure. Sangat jarang ada karyawan overtime alias lembur, karena bayar tenaga kerja untuk lembur muahaalll banget. Tiba-tiba teringat para karyawan bank yang senangnya lembur dan kalau gak lembur, berasa gak kerja. Heheheh..
rombongan piknik
Di Brisbane dan Sydney -mall yang tutup jam 6 sore saja- sudah cukup bikin saya shock! Di Jakarta, biasanya jam 7 malem baru nongkrong di mall. Lebih parah lagi di Melbourne, toko-toko rata-rata tutup jam 4 sore! Jadi hampir tidak ada istilah anak mall disini. Belum lagi, transportasi yang mapan membuat tidak ada kamus nongkrong di mall, sembari menunggu macet berakhir. Setelah bekerja selama delapan jam, pilihannya ya cuma satu: pulang berkumpul dengan keluarga.
Kata Doddy, semuanya merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memenuhi prinsip triple 8 tadi. Pemerintah konsisten mendukung komunikasi dan interaksi keluarga, salah satunya dengan tidak ada lembur dan tidak banyak keramaian yang buka sampai malam.
Saya salut, di tengah maju dan canggihnya fasilitas negara ini, pemerintah “masih percaya” bahwa keluarga adalah pondasi utama majunya bangsa dan meyakini piknik sebagai salah satu cara mendekatkan hubungan keluarga. Komunikasi dalam keluarga didukung oleh aturan jam kerja dan fasilitas yang memadai. Bener sih, kata sebuah riset, berinteraksi di alam terbuka akan membuat kekerabatan makin baik.
Bahkan pemerintah Australia setiap tahun memberikan dua kali voucher gratis jalan-jalan domestik bagi setiap keluarga. Sambil bercanda, Doddy bilang; kalau ada pasangan yang mau pisah, coba pindah deh ke Melbourne, dijamin bisa baikan lagi. Tidak heran angka perceraian disini cukup rendah.
Herannya kok kesadaran begini malah banyak di negara maju ya… Di Jakarta (baca: maskot Indonesia), ruang terbuka hijau tidak banyak, boro-boro deh yang lengkap dengan alat bbq, yang bisa digunakan untuk berkumpul saja sangat jarang. Kita yang dalam kenyataannya “lebih tradisional” malah lebih senang berkumpul di café-café ber-AC dan pusat perbelanjaan. Rasanya bangga kalau bisa nongkrong di café mahal, padahal disana pun seringnya masing-masing sibuk dengan gadget masing-masing.
Kalau saja Jakarta lebih banyak RTH dan masyarakatnya suka menikmati alam, artinya keluarga makin harmonis. Artinya lagi,keluarga akan mencetak generasi-generasi yang madani yang siap memajukan bangsa. Wah, panjang ya, dampaknya. Ternyata duduk-duduk di taman bersama keluarga bukan cuma menghabiskan waktu, tapi cara kita menjaga keutuhan bangsa.
Pesawat Wings Air yang membawa kami dari Makassar, mendarat dengan mulus di Bandara H. Aroepalla Selayar. Burung besi bertenaga baling-baling dan bermuatan tidak lebih dari 50 orang ini, hanya punya satu kali penerbangan per hari dari Makassar. Beberapa bulan lalu, malah seminggu hanya tiga kali. Selain terbang, jalur transportasi menuju Selayar satu-satunya hanya menyebrang dari Pelabuhan Bulukumba selama sekitar 5 jam setelah sebelumnya harus menempuh perjalanan darat sekitar 3 jam dari Makassar.
Buat saya yang punya darah Bugis dan pernah menetap di Makassar, Selayar sangat tidak asing. Namun sebagian orang di luar Sulawesi, bisa jadi belum mengenal daerah ini. Jadi gak heran deh, masih banyak yang bilang: “Haa ? Selayar? dimana tuh?” kata seorang teman. Sayangnya, meski pernah lama menetap di Makassar, saya belum pernah sekalipun mampir ke Selayar. Makanya, ketika diundang kesini, saya bersemangat sekali. Horeee…!!
courtesy IG @agus_syaiful_arief_es
Secara geografis Kepulauan Selayar yang tepat di bawah Pulau Sulawesi dan masuk dalam provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini terdiri dari pulau-pulau kecil yang kaya potensi maritim. Selayar berbatasan langsung dengan NTT dan Wakatobi yang lebih dulu tenar wisata bahari. Nah, kalau sudah pernah dengar Taman Nasional Laut Takabonerate, Yes…itu masuk wilayah Kepulauan Selayar. Takabonerate adalah salah satu surga diving, yang ditempuh sekitar 2 jam dengan kapal cepat dari Banteng, ibukota Selayar.
Kaya Situs Sejarah
Tapi apakah, potensi wisata Selayar cuma wisata bahari? Ternyata Selayar juga kaya akan situs situs sejarah, yang mungkin belum banyak dikenal.
Baru tiba saja, saya dan teman-teman sudah diajak ke Kampung Bitombang, kampung tertua di Selayar yang konon sudah ada sebelum Islam masuk ke Selayar. Menuju Bitombang, membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari Benteng, ibukota Selayar, dengan jalan mendaki dan berliku ditemani pemandangan kebun kelapa, cengkeh dan jambu monyet di sepanjang jalan. Cukup jauh untuk ukuran pulau kecil ini dan posisinya pun seperti terisolir. Namun setiba disini, rasanya seperti berada negeri atas awan. Posisinya yang berada sekitar 2500 mdpl membuat pemandangan sekitarnya indah sekali.
Rumah-rumah di kampung ini berdiri di atas tiang setinggi minimal 10 meter. Kata orang, selain mengikuti kontur daerahnya yang berbatu, rumah bertiang tinggi ini dulunya sebagai tempat perlindungan dari musuh dan binatang buas. Uniknya lagi, ada beberapa rumah yang sudah berusia ratusan tahun dan masih kokoh terawat. Kayu penopang yang kuat itu, disebut holasa oleh penduduk setempat dengan seluruh atap rumah terbuat dari daun kelapa dan rumbia. Konon, mereka tidak menggunakan genteng dari tanah liat, karena filosofinya tanah adalah tempat kembali (tempat manusia dimakamkan) dan harus terletak dibawah, bukan diatas (sebagai atap) Hemmmm…
Kami sempat berbincang dengan Bapak Kepala Dusun yang mengaku sudah berusia 75 tahun. Ia bercerita banyak tentang kampungnya, dimana sebagian besar penduduk hidup dari pertanian. Ingatannya masih sangat jelas, bicaranya pun runut dengan bahasa Indonesia yang bercampur dengan Bahasa Selayar.
Bitombang
Wah, si Bapak panjang umur juga, pikir saya. Tiba-tiba di tengah obrolan kami, muncul seorang Bapak yang kelihatannya lebih tua dan ternyata lelaki itu adalah mertua Bapak Kepala Dusun. Wow, berarti usianya sudah lebih dari 90 tahun! Ternyata, populasi manula di Kampung Bitombang memang cukup tinggi. Saya lupa menanyakan datanya sih, tapi keunikan lain kampung ini, memang dihuni banyak orang yang berusia lebih dari 70 tahun. Konon, mereka panjang umur karena menerapkan hidup yang sangat alami. jauh dari makanan instan dan jauh dari polusi udara. Hmm, sayang saya hanya mampir beberapa jam saja. Kalau ada rejeki lagi, ingin rasanya menginap satu dua malam untuk belajar tentang kearifan lokal kampung kecil ini. Pasti banyak yang bisa digali.
Tidak cuma Bitombang, Selayar juga punya sisa-sisa peninggalan sejarah lain seperti nekara dari jaman perunggu yang berbentuk seperti gong dengan gambar berbagai hewan dan simbol kehidupan sekelilingnya. Banyak filosofi kehidupan yang tergambar di gong tersebut.
Ada pula jangkar jangkar raksasa peninggalan kapal besar asal Tiongkok milik saudagar kaya bernama Gowa Liong Hui yang pernah singgah ke pulau ini. Uniknya, awak kapal Liong Hui kemudian menetap dan berakulturasi dengan penduduk asli. Tidak heran jika penduduk Desa Padang banyak berkulit hitam tapi bermata sipit,
Pantai yang Meneduhkan
Selayar adalah salah satu daerah penghasil kopra di tanah air, tidak heran karena pantainya memang dikelilingi pohon kelapa yang banyak dan sangat teduh. Inilah yang menurut saya, menjadi pembeda utama pantai-pantai Selayar dengan daerah lain. Pantai-pantai itu bisa ditempuh tidak lebih dari 30 menit dari pusat kota.
Pantai Sunari
Salah satu pantai yang wajib dikunjungi untuk sekedar ngopi-ngopi cantik adalah Pantai Sunari. Pantainya landai meski tidak berpasir putih tetapi bersih sekali. Kita juga bisa bermalam di resor yang baru saja dibangun disini. Duh, rasanya saya gak mau nulis tentang ini, takut makin banyak yang datang kemudian mengotori pantai-pantai cantik ini. Jangan yaaa. Nikmati semua, tapi menjaga lingkungan tetap nomer satu.
Saya juga sempat main ke pulau kecil bernama Liang Kereta yang bisa ditempuh sekitar 40 menit dari kota Benteng, Pulau tidak berpenghuni ini, berpantai sangat tenang dengan air laut biru toska yang menggoda. Garis pantainya memang tidak panjang, tetapi unik karena dipisahkan oleh beberapa tebing. Kita bisa piknik diatas tebing dan memandang laut lepas dari ketinggian. Sayang, pengelolaan pulau ini belum optimal. Namun menurut Saya, tidak perlu pengelolaan yang canggih-canggih, cukup kebersihannya tetap dijaga dan fasilitas seperti toilet diperbaiki. Biarkan Liang Kereta tetap dengan kealamiannya, tanpa banyak pembangunan fisik.
liang keretaliang kereta
Sedikit keluar dari kota Benteng, juga masih banyak pantai yang nyaris jarang tersentuh pendatang. Ingin wisata edukasi? Bisa mampir ke Kampung Penyu di Desa Tulang. Posisinya tepat di tepi pantai lengkap dengan nyiur melambai dan hutan mangrove. Disini dilakukan penangkaran ratusan telur penyu berbagai jenis hingga menetas dan siap untuk dilepas ke laut bebas. Menariknya, kegiatan ini awalnya digagas oleh masyarakat sekitar yang melihat keberadaan penyu yang makin lama makin langka. Mereka sadar, berkurangnya populasi penyu akan menganggu siklus kehidupan di laut bebas.
Akomodasi
Jangan berharap ada hotel chain nasional apalagi internasional di Selayar, dan sepertinya hotel-hotel yang ada pun belum berkolaborasi dengan situs-situs travel hotel online. Namun kalian bisa googling dan pesan melalui telepon. Di pantai Sunari sudah ada resor sederhana tapi cantik dan menyatu dengan alam. Fasilitasnya pun sudah oke, kalau lagi cari inspirasi dan butuh ketenangan, cocok banget kesini. Jangan khawatir, harganya masih sangat bersahabat (lihat kontakanya di bawah tulisan ini).
Sunari Resor
Transportasi umum di Selayar juga tidak banyak, karena turis yang datang umumnya ikut rombongan travel. Namun kalau mau jalan sendirian juga tidak masalah, pihak hotel akan dengan senang hati mencarikan mobil sewaan. Tenang, kemana-mana di Selayar ini deket banget. Tujuan yang jauh rata-rata bisa ditempuh kurang dari satu jam. Bahkan di dalam kota, kemana-mana paling cuma lima menit dan bisa jalan kaki, hehehe.. Gak habis buat dengerin satu lagu! Beneran!
rombongan jalan jalan di depan hotel.
Terakhir, kuliner daerah pantai apalagi kalau bukan seafood. Ada tempat makan asyik seperti Muara Karang disini. Food court tradisional yang menghadap langsung ke pantai. Asyik buat tempat dinner. Pun masih banyak rumah-rumah makan yang sajian khasnya memang seafood. Tidak sulit kok dicari, karena kota Benteng relatif kecil. Duduk santai sore di tepi pantai sambil menunggu matahari terbenam sambil menikmati sarabba (sejenis bandrek) dan pisang goreng juga bisa menjadi pilihan.
kongkow di pantai kota
Saya merekomendasikan Selayar buat yag mencari tempat libur yang benar-benar masih alami. Belum banyak sentuhan manusia, belum banyak tangan-tangan jahil yang merusak lingkungan. Tenang, damai dan waktu seolah berhenti berjalan. Tapi kalau kesini, alamnya sama-sama kita jaga ya.. Jangan selalu mengharapkan pihak ketiga (pemerintah) untuk berbenah. Mulai dari diri kita sendiri untuk merawat alam Indonesia yang kaya ini.
Kontak Resor Pantai Sunari, Selayar; Pak Gede Eka (081223808669)
Kalau mendengar kata Brebes, apa yang ada dalam pikiranmu? Hanya bawang dan telor asin saja? Atau justru kejadian macet berhari-hari di Gerbang Tol Brebes alias Brexit lebaran lalu? Sama dong!! Hehehe… Beruntung banget beberapa minggu lalu saya mendapat kesempatan untuk mengeksplore Brebes lebih luas yang akhirnya membuat saya tidak lagi mengira bahwa Brebes hanya bawang dan telor asin.
Emang ada apa aja?! Wisata Brebes banyak! Brebes punya hutan mangrove yang unik, kalau biasanya di wisata hutan mangrove kita hanya bisa berjalan-jalan saja, di Brebes saking luasnya kita bisa berlayar di area hutannya. Brebes juga punya kebun teh seperti puncak, punya perbukitan yang instagramable seperti Kalibiru dan Tebing Keraton (bahkan lebih keren), punya hutan pinus yang ciamik, ada canyon seperti Green Canyon di Pangandaraan dan hamparan sawah-sawah cantik terasering seperti di Ubud. Gak percaya?!
Plus tentu saja banyak kuliner khas yang jadi daya tarik lain bagi para wisatawan. Semua juga sudah tahu, telur asin khas Brebes itu rasanya gurih dan “masir” kata orang Brebes. Masir artinya bertekstur seperti ada butirannya, tidak amis sama sekali dan enak dimakan dengan nasi panas mengepul lengkap dengan sambal dan lalapan. Buat penggemar rawon apalagi, paling pas deh kalo makannya ditambahi telor asin Brebes. Tidak kalah tenar, Brebes juga memiliki makanan khas sate kambing (muda). Tidak heran jika di setiap sudut Brebes ada yang jual sate. Hemmm, untuk yang ini saya gak bisa komentar panjang deh…soalnya saya gak doyan daging kambing. Hihih…
Kabupaten yang bertetangga dengan Tegal di Jawa Tengah ini, sekarang bisa ditempuh kurang dari empat jam saja dari Jakarta melalui Tol Cipali. Mau mencoba kenyamanan lain, sekarang juga sudah ada kereta eksekutif langsung dari Gambir ke Brebes. Mau dari Cirebon juga bisa, Brebes ke Cirebon bisa ditempuh kurang dari satu jam saja.
Ini beberapa tempat yang highly recommended kalau mau ke Brebes
Hutan Mangrove Pandansari, Desa Kaliwlingi.
Saya sudah mengunjungi beberapa hutan mangrove wisata di Indonesia, yang paling dekat tentu saja di Pantai Indah Kapuk (Jakarta), kemudian Hutan mangrove kota di Tarakan, di Selayar dan di Bali. Bedanya, hutan mangrove ekowisata Brebes luasnya hampir mencapai 300 Ha. Kebayang gak gedenya? Lokasinya ditempuh sekitar satu jam dari pusat kota Brebes. Disini, pengunjung bisa menyusuri hutan mangrove dengan perahu yang disediakan oleh pengelola. Kalau berkunjung menjelang senja, selain bisa menikmati matahari terbenam, kita juga bisa menyaksikan kawanan ribuan burung camar yang terbang dan berkumpul di pulau pasir dengan gerakan yang seperti berirama. Di sisi lain, ada ribuan burung bangau putih yang cantik sekali untuk obyek fotografi. Dengan ongkos masuk hanya 15 ribu rupiah, kita bebas berlama-lama menikmati semua itu.
Nah, yang harus mendapat apresiasi adalah hutan mangrove ini dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat desa sendiri. Sampai-sampai desa ini sempat menyabet beberapa penghargaan tingkat Provinsi dan Nasional untuk Kelompok Masyarakat Sadar Hutan.
Kok bisa? Ceritanya sekitar dua dekade lalu, daerah ini merupakan tambak udang windu yang sangat luas. Namun di beberapa kejadian, ketiadaan hutan mangrove sebagai penahan abrasi membuat ombak besar dapat masuk ke desa dan membahayakan kehidupan penduduk. Alhasil beberapa tokoh dan pemuka masyarakat bergerak untuk berubah. Mereka sadar, pembabatan hutan mangrove yang besar-besaran untuk tambak udang, pada akhirnya hanya mendatangkan bencana. Bersyukur, masyarakat pun tergerak untuk membangun kembali desanya dan bahu membahu menanam mangrove secara massal. Perjalanan panjang dan penuh perjuangan itu kini semua membuahkan hasil. Bahkan berbagai lembaga pemerintah dan swasta tergerak untuk memberi dukungan dana pengelolaan. Masyarakat pun sudah banyak yang mulai bermatapencaharian dari ekowisata ini. Inspiring ya?
mengejar sunset di kaliwlingi
Kebun Teh Kaligua
Siapa bilang Brebes yang panas tidak punya daerah sejuk bak Puncak? Bisa dibilang ini maskotnya wisata Brebes. Lokasinya di Kecamatan Bumiayu, yang bisa ditempuh sekitar 1,5 jam dari Kota Brebes. Kebun yang dikelola oleh PTPN IX ini, berada di kaki Gunung Slamet dengan ciri khas produksi Teh Hitam. Rasa teh-nya agak pekat memang, tapi enak banget dinikmati dengan sepiring pisang goreng yang disantap hangat-hangat. Suasana pegunungan yang asri dengan udara sejuk pasti membuat kita betah berlama-lama disini. Banyak permainan juga yang bisa dicoba seperti flying fox dan permainan outbond lainnya.
Tidak jauh dari sana, ada Gua Jepang yaang dibangun di bawah Kebun Teh Kaligua sebagai tempat persembunyian tentara Jepang yang dulu berusaha merebut kebun teh yang dimiliki Van De Jong tersebut.Bonusnya nih, saat menuju Kaligua kita akan disuguhi pemandangan sawah dan kebun bawang yang memanjakan mata. Walau jalannya naik turun dan berliku, tapi mata rasanya enggan berkedip melihat keindahan hamparan hijau bak permadani.
Sekitar 15 menit sebelum tiba di Kaligua, jangan lupa mampir sejenak di Telaga Ranjeng dan hutan pinusnya. Dari luar sepertinya telaga ini biasa-biasa saja, namun seperti ada aroma mistis didalamnya. Konon, telaga ini dihuni oleh mahluk gaib yang dipercaya akan terganggu jika ada manusia yang berenang atau bersampan di atasnya. Emmm….
Uniknya, di tepi telaga pada waktu-waktu tertentu ada ratusan bahkan ribuan ikan mas dan lele yang berebut meminta makan dari pengunjung. Persis seperti kumpulan ikan mas siap goreng yang sering kita temui di rumah makan Sunda. Ikan-ikan ini hidup bebas, berkembang biak tanpa boleh diambil seekor pun. Katanya sih.., siapa yang berani menangkap ikan-ikan tersebut akan mendapat musibah. Wallahualam.
Kalibaya, Puncak Lio
Ini dia tempat main yang kekinian di Brebes. Kalibaya adalah obyek wisata yang dikembangkan mandiri oleh penduduk sekitarnya. Menurut saya sih akan jadi trend tempat selfie baru setelah Tebing Keraton di Bandung dan Kalibiru di Yogyakarta.
Dari ketinggian sekitar 2000 mdpl, kita bisa melihat pemandangan alam Brebes yang menentramkan hati. Bahkan kita bisa ngopi-ngopi di tatanan bambu yang dibuat tepat di pinggir jurang. Di tempat ini juga dibangun mini ouutbond lengkap dengan motor-motor mini offroad. Yang mau camping juga bisa loh!! Taman Kalibaya dilengkapi area camping dengan fasilitas toilet dan air bersih yang cukup.
Masih ada beberapa wisata alam di seputaran Kalibaya seperti rafting di Ranto Canyon dan Hutan wisata Panenjoan yang semuanya berada di Kecamatan Salem. Tapi tidak usah pergi kemana-mana, alam Salem saja sudah menggoda. Sejauh mata memandang ada hamparan sawah yang membentang indah. Beberapa diantaranya tersusun seperti sawah terasering di Bali. Ya, sayangnya ini bukan Bali, jadi belum ada satu pun hotel apalagi resor disini.
Di Salem juga ada pengerajin batik tulis rumahan yang murni menggunakan bahan-bahan alami. Ibu-ibu pembatik itu sebagian besar adalah buruh tani yang bekerja di sawah pada pagi hari dan membatik di waktu senggangnya. Hasil batik mereka masih bertema dan bermotif “old fashion”, namun justru itulah yang menjadi keunikannya. Cerita lengkap tentang batik Salem akan saya tulis terpisah ya….
batik salem
Menuju Salem cukup perjuangan, karena jalannya yang mendaki dan berkelok. Namun ketika tiba disana bahkan sepanjang perjalanan, rasa lelah pasti terbayar. Mata sudah dimanjakan oleh pemandangan yang mendamaikan hati. Bagi yang sedang wisata alam yang masih benar-benar alami, wajib deh datang ke Salem!
Kalau berkunjung ke Bali untuk menenangkan diri, saya pasti memilih Nusa Dua sebagai alternatif pertama. Jika bosan dengan keramaian dan hedonisme ala Kuta, Nusa Dua adalah tempat yang paling tepat untuk menyepi, meditasi dan menulis tentu saja! Pucuk dicinta ulam tiba, minggu lalu saya dan beberapa teman blogger menerima undangan dari Inaya Putri Bali. Cocok banget, lokasinya memang ada di kawasan Nusa Dua yang eksklusif dengan private beach.
Inaya Putri yang Bali Banget…
Baru masuk lobi saja, mata sudah dimanjakan oleh pemandangan di sekitar hotel. Dari lobi yang berkonsep open air, kita bisa melihat penjuru seluruh area resor. Di kejauhan nampak pohon nyiur dan pantai yang seolah memanggil-manggil saya untuk bercengkerama. Arsitektur lobi yang megah, dengan dominasi paduan material kayu, berbaur dengan nuansa eksotis. Lobi keren itu dirancang oleh Ridwan Kamil yang sekarang jadi Walikota Bandung. Ya, siapa sih yang kenal beliau ini… Polanya mengadopsi bentuk lumbung padi yang dalam Bahasa Bali dinamakan Jineng. Detail atap dan tonggak-tonggak pendukung yang mencitra sisi tradisional merefleksikan pentingnya lumbung padi bagi masyarakat tradisional Bali.
Akomodasi yang ditawarkan Inaya Putri Bali juga tidak lepas dari nafas kehidupan tradisional Bali dengan ikon jantung resor, yang diberi nama area Penglipuran. Tamu yang memasuki area Panglipuran seolah berjalan di desa yang terletak di area Kintamani dan Gunung Batur tersebut. Ketujuh bangunan di Panglipuran memiliki nama berdasarkan Tujuh Dewi yang menjadi jiwa INAYA Putri Bali. Ketujuh dewi tersebut adalah Rukmini (Dewi Kecantikan), Saraswati (Dewi Pengetahuan, Seni Spiritualis dan Musik), Sri Laksmi (Dewi Kemakmuran), Dewi Sri (Dewi Kesuburan), Parwati (Dewi Alam Semesta), Uma (Dewi Tanpa Batas), dan Sinta (Dewi Cinta dan Kemurnian). Total ada 460 kamar, dengan beberapa pilihan kamar dan suite yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan para tamu.
Makan enak, Tidur nyaman
Kamar saya terletak di Puri 6 yang terhubung langsung dengan private pool kamar-kamar lain di sebelahnya. Siang itu, Nusa Dua memang panas banget, belum apa-apa rasanya saya sudah ingin nyemplung dan tidak ingin pulang. Kamar dengan dua bed besar tersebut, cocok banget buat liburan keluarga. Kamar mandinya juga luas, lengkap dengan bathub dan toiletris premium. Tidur pun rasanya pasti bermimpi indah. Hehehe..
private pool
Nah, penting banget… di setiap kamar ada meja tulis yang langsung menghadap ke kolam renang. Cocok banget buat saya yang saat itu lagi punya banyak deadline pekerjaan. Eitss,..jangan bingung dulu…buat saya memang pekerjaan dan liburan itu satu paket! Soalnya memang pekerjaannya butuh suasana yang seperti ini. Penting juga nih, setiap kamar di Inaya Nusa Dua sangat colokan friendly dan tentu saja free wifi! Yang kece banget adalah jaringan wifi-nya sampai di tepi pantai loh! Di sore hari, saat duduk-duduk di private beach-nya, saya tetap bisa menikmati wifi, padahal jaraknya lumayan jauh dari gedung utama hotel.
kolam renang utamatell me how to move on from the beach…
Setelah siangnya menikmati semua fasilitas hotel, di malam hari saya dan teman-teman blogger mencicipi sajian khas Nusantara di Homaya Restaurant. Saya memesan Ikan bakar bumbu dabu-dabu sebagai main course. Enak banget, kalau kurang pedas kita bisa memesan sambal matah khas Bali untuk membuat santapan lebih “nendang”. Sambil diiringi live music, malam itu kami makan di bawah super moon. Hmmmm romantis! Sarapan pagi disediakan di Gading Restauran, lokasinya oke banget untuk menikmati matahari pagi dengan pemandangan pantai, kolam renang dan taman Inaya yang tertata apik. Karena hotel ini dirancang buat tinggal berlama-lama, tersedia juga Ja’Jan Bistro yang berada tepat satu level di bawah area lobi. Tempat yang pas untuk menikmati suasana santai dan kasual tanpa harus keluar hotel.
makan malam bersama
Bagi Saya menghabiskan waktu di Inaya adalah mengkombinasikan liburan dan pekerjaan. Malamnya sebelum tidur, saya masih menyempatkan membuka laptop, mengecek beberapa email. Di luar hujan cukup deras, suara rinainya jatuh dengan cantik di kolam yang berada tepat di depan meja kerja. Saat-saat seperti itu, buat saya adalah waktu terbaik untuk mencari inspirasi dan mengembangkan imajinasi. Paginya setelah sarapan, saya masih bisa duduk di tepi pantai, selonjoran sambil menulis. Sebelum check out, saya sempatkan berenang di kolam yang laksana milik pribadi. Priceless! Kali lain, saya mesti kembali dengan keluarga.
“Apaaa? Lo yakin mau resign dari Mandi** ? Gila aja lu, masuk kesana kan susah. Sekian banyak yang tes, belum tentu keterima. Nah, lu tinggal duduk manis aja kok mau keluar?!”
“Ah, sayang banget kamu resign, fasilitasnya kan oke tuh.. Hidupmu dan keluarga terjamin sampe pensiun. Kalau terjadi apa-apa, asuransinya kan lengkap…”
Blah…blah…blah…dst…dst..
Itulah sebagian komentar orang-orang di sekitar saya, ketika saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan terakhir di sebuah bank terkemuka. Padahal keputusan ini sebenarnya sudah saya pikirkan lebih dari 6 bulan sebelumnya, bukan hanya dalam satu dua malam saja.
Lalu kenapa resign? Oke, here we go…
Kalau orang bilang saya kutu loncat, sebenenarnya nggak salah-salah juga sih. Tapi benar juga tidak 100% benar. Yes, betul selama hampir 10 tahun bekerja, saya memang sering pindah-pindah, tapi semua itu karena memang hampir semua sifat pekerjaannya yang project based. Sebelum bekerja di Aceh (yang kemudian merubah separuh hidup dan pandangan hidup saya), sama seperti kebanyakan orang, saya mencari kerja permanen dengan karir dan masa depan yang terjamin hingga pensiun. Tidak neko-neko, walaupun hidup dengan jam biologis seperti terpenjara. Bangun sebelum jam lima pagi, berjibaku dengan kemacetan ibukota dan jam delapan pagi sudah duduk manis di meja kantor.
Setelah jungkir balik dan malang melintang, saya menyadari bahwa sudah masanya kembali ke pekerjaan yang “secure”, yang menjamin keamanan hidup saya hingga masa tua. Kemudian terdamparlah saya di salah satu lembaga keuangan terbesar di tanah air. Kata orang itu merupakan prestasi membanggakan, karena bagi sebagain orang untuk masuk kesana – terbilang sulit. Hmmm…
Namun setelah dijalani, semua terakumulasi pada satu titik dimana banyak kondisi “given” yang tenyata tidak bisa saya ubah dan mungkin ke depannya tidak akan mendukung kebebasan saya berekspresi. Kata teori, jika kamu tidak bisa mengubah duniamu, maka ubahlah dirimu sendiri. And, Yes I did it! Semua yang saya rasakan di pekerjaan sebelumnya justru memacu semangat saya. Bukan semangat buat melamar pekerjaan lain, namun semangat untuk pindah kuadran, menjadi pekerja mandiri. Selain itu, saya juga punya keinginan lain untuk lebih bermanfaat buat orang lain melalui apa yang saya kerjakan. Sejatinya arti hidup terbaik adalah berbagi dan bermanfaat buat orang lain, kan?
Saya bersyukur dikelilingi banyak teman-teman hebat yang memberikan masukan, semangat bahkan dukungan nyata bahwa saya bisa kok berdiri di kaki sendiri. Banyak potensi dari diri sendiri yang bisa saya gali, dan bisa dijual! Basicly, saya ini orang yang gak pedean, tapi dukungan mereka membuat saya yakin untuk membuat sesuatu yang beda. Memang masih ada juga temen yang memandang sebelah mata, terutama yang berpikir bahwa kerja kantoran dengan gaji bulanan-lah yang akan membuat hidup lebih bermasa depan. Lucunya, justru banyak diantara mereka yang saban hari bahkan hingga bertahun-tahun berkeluh kesah tentang pekerjaannya, tetapi tidak berani mengambil keputusan (resign), karena berjuta kekhawatiran dan pertimbangan. Saya meyakini sebenarnya yang membuat berat adalah kekhawatiran dan pertimbangan itu sendiri bukan bagaimana setelahnya. Kuncinya cuma satu kok; love your job, or do a job you love (look and fight for it).
Saat mantap memutuskan resign, yakinlah semua jalan akan terbuka sendiri selama kita tetap berusaha. Toh hidup itu pilihan. Kalau dipikir-pikir, saya juga keluar dari zona nyaman (yang sejatinya tidak nyaman) hanya bermodal doa, keyakinan dan rasa optimis bahwa banyak cara mencari nafkah tanpa harus harus me-Nuhankan mesin absen dan menghamba-sahaya pada atasan.
Lalu mau ngapain? Bersama beberapa orang teman, saya mencoba merintis sebuah bisnis jasa dengan core digital tourism campaign dan modalnya nyaris nol. Alhamdullillah makin kesini makin menunjukkan kemajuan, biarpun banyak juga kerjaan yang serabutan. Hehehe..
***
Sekarang, setelah hampir dua bulan dijalani, saya baru merasakan betapa komitmen terhadap diri sendiri adalah hal yang paling sulit di pekerjaan ini. Saya terbiasa bekerja 9 to 5 membuat pola hidup teratur dimana pekerjaan boleh tidak selesai yang penting bisa kembali ke rumah tepat waktu. Dalam periode itu, saya bekerja dari pagi ke sore bahkan kadang hingga malam jika lembur. Kadang boleh bolos dengan berbagai alasan tetapi tetap gajian tepat waktu di akhir bulan.
Kini ritme hidup saya pun nyaris semua berubah. Saya memang tidak perlu menunggu dan berdesak-desakan di bis atau kereta setiap pagi. Saya bebas menentukan kapan saya harus keluar rumah. Kalau ada meeting pun, saya boleh menentukan sendiri misal tidak mau di Senin pagi yang terkenal macet. Ternyata, itu justru menjadi tantangannya. Dari sekian banyak jadwal, saya harus pandai-pandai mengatur waktu agar semua bisa dijalani dan pekerjaan bisa selesai tepat waktu. Kelihatanya asyik ya, bisa bangun siang, leyeh-leyeh dulu dan tidak cemas akan telat karena macet atau gangguan KRL. Wah, kenyataannya gak gitu-gitu amat. Merubah kebiasaan pekerja kantor menjadi pekerja mandiri sungguh tidak mudah. Dibutuhkan komitmen dan disiplin yang tinggi agar tidak ada waktu yang terbuang percuma. Betul, kelihatannya memang santai, namun terlihat santai malah gampang membuat terlena.
Sulit loh tetap menjaga mood dan semangat saat bekerja di rumah dimana jarak antara meja kerja, TV dan tempat tidur hanya sejengkal. Apalagi kita bekerja tanpa absen dan tanpa mandor alias bos. Tinggal diri sendiri harus pandai-pandai menjelma menjadi bos yang mengingatkan diri sendiri juga di setiap deadline. Meski tidak punya “bos langsung”, kalau punya beberapa klien dalam satu waktu lumayan repot juga, karena tanpa disadari mereka semua adalah bos. Hmmm, bayangin aja kalau punya lebih dari satu bos gimana….
Membagi fokus adalah tantangan lain yang tidak kalah sulitnya. Saat bersamaan kadang saya harus menulis dua laporan dengan topik dan sumber yang sangat berbeda. Tiba tiba ada teman yang menawari pekerjaan baru dan proposal pun harus segera disusun. Semua menarik, sayang kalau diabaikan. Masalahnya, saya ini agak perfeksionis, pengennya semua bagus, bukan sekedar jadi dan numpang lewat. Maka dari itu, saya harus benar-benar mengerti konteks yang membutuhkan waktu. Pusing deh… Hehehe.. Tidak heran, kadang saya bisa bekerja hingga larut malam. Tidak kalang penting, di sisi income yang tidak ada lagi kamus tanggal gajian, membuat kita harus lebih lincah mengatur pengeluaran.
Urusan sosialisasi beda lagi. Selain memang ada sosialisasi yang berhubungan dengan pekerjaan, ngopi-ngopi bersama teman-teman pun sekarang menjadi sesuatu yang cukup pelik. Sebagian besar teman-teman saya adalah karyawan yang bisa nongkrong after office hour. Sebaliknya, saya malah sering punya waktu saat office hour, karena sering punya janji meeting di sore hari dan mood kerjanya memang lebih baik di malam hari. Beberapa teman bilang; kok lu tambah lebih susah ditemui, sejak gak punya kantor?! Begitulah.
***
Biarpun penuh hal-hal baru, saya menikmati sekali hari-hari saya kini. Cuti bisa kapan saja, bahkan bekerja sambil liburan pun tetap menyenangkan. Di pantai bisa dapat inspirasi, sambil ngopi bisa nulis bahkan sambil ngobrol pun bisa ketemu rencana kreativitas baru. Pelan tapi pasti saya yakin bisa hidup dari apa yang saya suka, apa yang bisa saya lakukan dengan bahagia dan apa yang saya pilih dari hati. Kata Rene Suhardono; when we put our heart on our works, dont be surprised when you hear cash register rings..
Ada satu kutipan dari seorang tokoh: Berbeda dengan orang pintar, orang idiot percaya bahwa kreativitas adalah syarat mutlak untuk mencapai kekayaan finansial. Kreativitas tidak muncul saat kita sedang dan serius, kreativitas muncul saat kita sedang bersantai dan bersenang-senang. Cari waktu luang, pergilah ke tempat favorit bersama-sama teman-teman terbaik Anda dan bersenang-senanglah. *So, Am I idiot as well ?