Katanya, topik-topik keberagaman sekarang lagi sangat seksi. Di tengah gempuran berbagai pihak untuk memecah belah Bhinneka Tunggal Ika, masih banyak orang yang berjuang untuk tetap mengutamakan perbedaan sebagai kekayaan bangsa. Saat membaca postingan orang-orang di Sosial Media yang penuh ujaran kebencian, saya sempat berpikir; beginikah sebenarnya wajah orang Indonesia di dunia nyata? Ternyata dunia sosmed, cenderung melebih-lebihkan alias lebay.

Tahun lalu saya ke Semarang, menyaksikan dari dekat bagaimana keberagamaan itu membaur menjadi bagian kehidupan masyarakatnya. Di Pohuwato, sebuah kabupaten yang ditempuh sekitar 4 jam dari Ibukota Gorontalo ada satu desa kecil yang dihuni lima agama sekaligus lengkap dengan rumah ibadahnya yang besar-besar. Atau tidak usah jauh-jauh sampai ke Indonesia Timur, coba deh perhatikan kota kalian masing-masing. Hampir semua kota di Indonesia punya daerah Pecinan yang tinggal berdampingan dengan penduduk asli. Bahkan di Aceh, -yang 99% penduduknya muslim yang taat dan peraturan Pemerintahnya dibuat dalam Syariat Islam- ada kawasan Pecinan-nya. Dan hebatnya, semua hidup aman bersama. Eniwei, di berbagai kota-kota besar di dunia daerah Pecinan adalah lokasi pariwisata unggulan, loh!

Minggu lalu, saya berkesempatan mengeksplor Kota Tangerang dan baru saya tahu bahwa daerah di pinggiran Jakarta ini, dahulu kala dibangun oleh berbagai suku dan golongan. Saya dan teman-teman blogger menyambangi Pasar Lama, sebuah kawasan yang merupakan cikal bakal Kota yang dibelah oleh Sungai Cisadane ini. Dulunya wilayah ini dibangun bersama antara orang-orang Betawi, SukuTionghoa dan para perantau dari Timur seperti Suku Bugis dan Makassar.

Pintu Air 10, Landmark Kota Tangerang

Di kawasan Pasar Lama ada beberapa klenteng diantaranya Klenteng Boen Tek Bio yang usianya sudah ratusan tahun dan masih difungsikan hingga sekarang. Letaknya yang berada tempat di tengah-tengah pasar tradisional keberadaannya yang menyatu dengan seluruh kelas masyarakat. Tidak jauh dari sana, ada Mesjid Kalipasir, masjid tua sederhana yang dibangun pada abad ke 17 dan arsitekturnya juga mengadopsi budaya Tionghoa. Konon, keduanya dibangun bersamaan dan dikerjakan juga secara bersama antara muslim dan Tionghoa.

Boen Tek Bio

Nah, yang paling baru disini adalah museum Benteng Heritage. Museum memang terhitung baru (sekitar 6 tahunan), tapi bangunan museum ini sama tuanya dengan Mesjid Kalipasir dan Klenteng Boen Tek Bio. Adalah seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang membeli dan merestorasi bangunan ini menjadi museum yang bernilai sejarah tinggi. Bentuk bangunan dan isinya persis seperti Museum Peranakan Penang yang saya kunjungi tahun lalu, hanya ukurannya saja yang lebih kecil.

Pintu Utama Benteng Heritage, sayang kamera gak boleh masuk…
Rombongan Blogger Kamadig

Bedanya, disini diceritakan bagaimana akulturasi Budaya antara Tionghoa, Betawi dan perantauan dari Bugis Makassar membangun Tangerang bersama-sama. Mirip-mirip dengan Klenteng Sam Poo Kong di Semarang, disini diceritakan juga perjalanan Laksamana Ceng Ho seorang muslim yang mendarat di Teluk Naga Tangerang dan diyakini sebagai nenek moyang orang Tangerang.

Btw, dari museum ini saya tahu.. Tangerang adalah salah satu penghasil kecap sejak jaman penjajahan Belanda. Dan ternyata, sejak dulu slogan “Kecap Nomer 1” sudah ada. Bahkan, karena semua ingin jadi nomer satu, tidak mau jadi nomer dua apalagi 10, akhirnya pada masa itu disepakati ada No 1a, 1b, 1c dan seterusnya yang didasarkan atas tingkat rasa manis atau asin masing-masing kecap. Hahahaha..

 

Kecap SH, sudah berdiri sejak 1920.

Kalau dilihat dari sejarahnya, Tangerang memang tidak mempunyai penduduk asli. Suku Betawi dan Keturunan Tionghoa sudah membaur jadi satu. Wilayahnya yang masuk Provinsi Banten (yang pecahan dari Jawa Barat), membuat disini juga banyak didiami orang Sunda. Kini, sebagai kota penyanggah, lebih banyak lagi asal muasal penduduk yang tinggal disini. Mungkin tingkat pluralismenya belum semajemuk Jakarta, tapi untuk ukuran Kota kecil dan menengah, harmoni keberagaman di Tangerang pantas jadi contoh daerah lain.

Foto foto : Team Kamadigital.com

 

 

 

 

Hits: 2380

Di Banda Aceh ada Taman Seribu Janji. Letaknya pas di tepi Sungai Krueng Raya yang melintas di tengah kota. Dinamakan Taman Seribu Janji, mungkin karena suasana disana memang romantis melankolis (apalagi di sore hari), sehingga banyak pasangan yang saling berjanji (baca: ngegombal) hingga seribu macam jenis janjinya. Tapi tidak usah jauh-jauh ke Banda Aceh kalau mau berjanji, main-mainlah ke Kota Tangerang yang kini setiap sudutnya penuh dengan taman. Bukan janjinya saja yang bisa sampai seribu macam, jumlah tamannya pun bisa disebut “seribu”. Beneran!

***

Apa yang terbayang di kepalamu ketika mendengar kata Tangerang? Kalau saya, hal pertama yang duluan muncul adalah : “panas”. Iya, soalnya saya sering melipir ke pinggiran Tangerang seperti Cikokol, Serpong, Ciputat dan daerah-daerah itu udaranya panas dan lumayan padat penduduk. Ada juga teman saya yang mengidentikkan Tangerang itu dengan mall-mall keren, kota satelit baru dan perumahan mewah. Ya, semua ada benarnya, tapi Tangerang itu luas loh, ada 3 daerah adminstratif didalamnya, yaitu; Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang.

Hingga pada sebuah minggu pagi, saya bersama beberapa teman diajak mengeksplore taman-taman Kota Tangerang. Pemda Kota Tangerang sudah membangun 150 taman untuk memenuhi kota ini, 27 diantaranya adalah taman tematik. Kenapa tematik, karena setiap taman punya ciri khas masing-masing. Ada Taman Potret, Taman Kelinci dan Kupu Kupu, Taman Bambu, Taman Gadjah Tunggal dan yang sedang dalam proses adalah Taman Burung.

Kata Pak Walikota, pembuatan taman-taman cantik ini sebagai bagian dari upaya Tangerang untuk mewujudkan City Of Happiness. Tentu saja, taman-taman ini juga berfungsi sebagai paru-paru kota. Sungguh kota ini jauh dari kesan “panas” seperti yang saya pikirkan sebelumnya. Masuk ke pusat kota, kita sudah disuguhi pepohonan yang teduh dan jauh dari kesan gersang. Malah di beberapa sudut terlihat seperti Kota Bogor, ditambah ada Sungai Cisadane yang membelah kota, membuat kota ini memiliki keunikan sendiri.

Taman Potret

Di Taman Kelinci, benar-benar dipelihara kelinci yang sehat dan gendut-gendut. sementara di sebelahnya ada Taman Kupu Kupu. Memang, saat kami berkunjung, kupu-kupunya belum banyak, karena kubahnya saja baru dibangun. Konsepnya persis seperti Taman Kupu Kupu di Penang yang pernah saya kunjungi tahun lalu. Hanya ukurannya saja yang lebih kecil. Taman burung bentuknya seperti miniatur Taman Burung di TMII dan Singapura juga tengah dibangun. Tidak lama lagi, semuanya bisa dinikmati semua lapisan masyarakat secara gratis.

Taman Kupu Kupu

Mau main-main di taman dengan anak-anak? Gampang! Datang saja ke Taman Potret atau Taman Gadjah Tunggal. Disini disediakan arena bermain anak yang gratis, sementara orang dewasa bisa duduk-duduk nongkrong dengan pusat jajanan di sekelilingnya. Atau mau duduk-duduk santai mencari inspirasi? Saya pikir, Taman Bambu adalah lokasi yang paling tepat. Oya..beberapa taman sudah dilengkapi free wifi. Cocoklah buat nge-galau sambil nge-net gratisan. Hehehe..

Taman Bambu

 

Tahun lalu, di Melbourne saya takjub melihat masyarakatnya yang senang sekali menghabiskan waktu di taman bersama keluarga. Katanya, pemerintah Australia percaya kekerabatan keluarga akan tercipta di ruang terbuka hijau. Tidak heran kalau disana mall-mall tutup jam 6 sore. Komunikasi dalam keluarga dianggap sebagai fondasi terbaik untuk menjaga keutuhan bangsa. Makin sering kita berinteraksi di alam, maka makin baik kualitas generasinya. Artinya lagi, keluarga akan mencetak generasi-generasi yang madani yang siap memajukan bangsa.

Konsep “back to nature” ala Kota Tangerang ini patut dicontoh kota-kota lain. Alam mengajarkan banyak kearifan lokal, kekerabatan dan tentu saja mengurangi polusi.

Hmm, Jadi kapan kita main ke taman?

Hits: 2523

Phoenix, Arizona 07.00 AM. Seperti biasa Lisa selalu mampir ke Dunkin Donuts membeli beberapa gelas kopi untuk perjalanan kita. Setelah beberapa kali ke Arizona, baru kali ini kami sempat berkunjung ke Grand Canyon yang jadi maskot wisata Arizona bahkan Amerika Serikat. Jangankan saya, Lisa yang sudah belasan tahun disini pun baru sekarang bisa kesini. Cuaca pagi itu masih dingin mungkin masih di kisaran 10 derajat celcius, padahal seharusnya di Februari musim dingin sudah selesai.

Dari Phoenix menuju Grand Canyon membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Pemandangan jalan berpadu antara perbukitan tandus khas gurun Arizona dan beberapa pegunungan bersalju. Cantik memang, tapi buat saya yang nggak tahan dingin, salju dan winter itu nggak ada indah-indahnya. Soalnya kalau dingin, saya tidak bisa ngapa-ngapain selain tidur selimutan. Beneran, ini.. AC dingin saja saya tidak kuat. Maklum, mungkin karena kurang lemak (heheheh). Selain itu, Saya masih yakin Indonesia adalah salah satu mutiara di dunia yang memiliki alam paling indah. Kalau ada yang bilang luar negeri lebih cantik, pasti belum pernah keliling negeri sendiri. Iya,..semua sisi dunia ini punya daya tarik sendiri, tapi percaya deh alam Indonesia dengan semua keunikannya adalah salah satu yang tercantik di dunia.

***

Ada dua jalan utama menuju Grand Canyon yaitu South Rim dan North Rim. Kami melalui jalan South Rim yang memang paling dekat dengan Arizona. Biasanya mereka yang melalui Los Angeles atau Las Vegas akan memilih South Rim sebagai gerbang masuk. Sedangkan North Rim berada di negara bagian Utah. Biaya masuk kesini USD30 untuk 1 buah mobil, dan USD15 per orang yang berlaku selama tujuh hari. Artinya kamu boleh seminggu disana, nggak usah keluar-keluar!

Kami tiba disana sudah menjelang sore, cuaca tambah dingin. Rasanya kalau ini bukan salah satu wisata tujuan dunia, saya mau balik lagi ke belakang selimut. Sepanjang pintu masuk South Rim sudah banyak berdiri hotel dan tempat hiburan. Biarpun kedinginian, sayang sekali kalau dilewatkan dengan cuma tidur-tiduran. Jadilah saya muter-muter sendiri, beli kopi dan nengok-nengok toko souvenir. Karena sudah menjelang malam, cuaca dingin, salju dan kabut tebal sudah tidak direkomendasikan lagi untuk masuk ke dalam Grand Canyon.

Besok paginya kami baru masuk ke lokasi, awalnya seperti perbukitan biasa, tidak ada tanda-tanda ngarai sama sekali. Setelah berkendara kurang lebih 10 km dari gerbang utama, mobil pun diparkir. Pada cuaca kurang dari 10 derajat celcius kami berjalan menyusuri perbukitan dan pelan-pelang ngarai super luas mulai nampak. Wow! Saya harus mengakui bahwa Grand Canyon memang luar biasa! Sumpah saya tercengang! Beneran seperti mimpi yang jadi kenyataan. Mungkin karena karakteristik  alam seperti ini, tidak ada di kampung kita. Pantas saja menjadi salah satu keajaiban dunia. This a superlative beauty! Grand Canyon tercipta dari proses erosi selama ribuan tahun dari Sungai Colorado. Jangan tanya luasnya, taman nasional kebanggaan Amerika Serikat ini luassss bangettt! Panjangnya mencapai hampir 500 km dengan lebar bervariasi dari 5-30 meter dan kedalaman dari puncak ngarai ke bawah sekitar 1,5 km.

Saya takjub, sampai udara dingin -yang biasanya saya benci luar biasa- menjadi tidak begitu terasa. Ngarai yang meliuk-liuk indahnya lebih indah dari lukisan mana pun yang pernah saya lihat. Sejauh mata memadang, tingginya ngarai seolah menyentuh langit dan kita berdiri. Di beberapa bagian ngarai, sisa-sisa salju masih nampak. Beberapa pepohonan di pinggir ngarai seolah menjadi frame semua lukisan itu. Kalau lagi gak dingin, mungkin enak bawa kursi dan ngopi-ngopi pake kopi Aceh di pinggir ngarai-nya. Hehehe..

Meski datang di penghujung musim dingin yang penuh kabut, scenery menakjubkan Grand Canyon tetap bisa dinikmati. Saya yakin, saat musim panas pasti lebih membuat nafas terhenti sejenak melihat ciptaaan Tuhan ini. Apalagi kalau musim panas ada program hiking, jadi kita bisa turun ke ngarai hingga ke permukaan sungai dan berjalan menyusuri tebing tebing Grand Canyon. Sebagai taman nasional, disini juga hidup bebas berbagai hewan seperti rusa khas gurun, bison dan berbagai jenis reptil dan mamalia lain. Jangan heran, jika tiba-tiba saja ada rusa melintas di depan kita.

Fasilitasnya juga oke, dari camping ground, hotel berbintang, coffee shop dan toko souvenir. Pokoknya tiket sekali masuk buat seminggu tinggal disini sih, memang pantas, Memang harus tinggal lebih lama agar bisa mengeksplor lebih banyak. Di tengah taman, ada museum yang membuat kita bisa belajar asal muasal terjadinya Grand Canyon. Uniknya, museum ini pun dibangun di pinggir ngarai dengan dinding kaca-kaca transparan. Wuihhh..berasaa dimanaa gitu…Rasanya nggak mau pulang!

Ke Grand Canyon bukan cuma wisata, tapi melihat dengan nyata sebuah keajaiban alam. Menyaksikan dari dekat bagaimana Tuhan mengkreasikan semua ini dengan sempurna. Benar-benar sebuah mahakarya. Dan namanya juga wisata di negara maju, tanpa merusak ekosistemnya, Amerika berhasil merancang kenyamanan dan fasilitas sekaligus tempat belajar ilmu pengetahuan baru. 

Kayaknya saya pengen kesini lagi suatu hari nanti!

 

Hits: 3430

Apa jadinya kalau anak pantai disuruh ke gunung?

Dari Jakarta ke Lampung dengan pesawat terbang, menurut saya agak-agak gimana gitu. Soalnya, Lampung dekat sekali dari Jakarta. Tinggal menyebrang Selat Sunda selama kurang lebih 2 jam sampai deh di Lampung. Memang sih dari Pelabuhan Bakauheni menuju Bandar Lampungnya masih butuh 2-3 jam lagi. Tapi, buat saya justru itulah nikmatnya. Sekarang kapal-kapal penyeberangan Selat Sunda juga sudah lebih bagus dan makin nyaman. Sementara naik pesawat hanya 40 menit, baru pasang seatbelt sudah siap-siap landing. Lebih lama menembus kemacetan menuju Bandara dan menunggu pesawatnya (itu juga kalau nggak delay)..

Namun -meski sering sekali ke Lampung- undangan dari Dinas Pariwisata Lampung bulan lalu sungguh sayang dilewatkan. Judulnya saja Festival Krakatau, dan benar saja ada agenda pendakian gunung ini. Saya penasaran sih, karena jika melintasi Selat Sunda, Pulau Anak Krakatau (yang dalam dunia internasional disebut Krakatoa) ini selalu tampak dari kejauhan. Eh, jangan salah…ini cuma anaknya saja, kalau Ibu Krakatau sudah lama almarhum sejak letusan ratusan tahun yang lalu. Kemunculan gunung-gunung kecil di seputaran Krakatau adalah proses vulkanologi yang berlangsung ratusan tahun. 

Rombongan

Jadilah saya dan beberapa blogger lain di sebuah dini hari bersiap-siap menuju Krakatau. Kami bertolak dari Pulau Sebesi, pulau berpenghuni yang terhitung paling dekat dengan Krakatau. Satu hari sebelumnya, kami sudah sampai di pulau kecil yang ditempuh kurang lebih dua jam dari Darmaga Bom, Kalianda Lampung Selatan ini.

Darmaga Bom, Kalianda

Masih terkantuk-kantuk, saya memaksakan diri untuk tetap melek, dan  tiba di kapal  semua peserta langsung mengambil posisi strategis. Niat menyaksikan sunrise dari balik jendela kapal terlewat begitu saja karena ombak yang tenang, udara yang masih dingin  dan kantuk yang luar biasa membuat saya memilih melanjutkan tidur yang tertunda.

disambut bak pejabat di Pulau Sebesi

Dan ini dia cerita anak pantai yang gunung…

Padahal nggak gunung-gunung amat ya, sebenarnya sih, karena tingginya kurang 500 meter saja. Hehehe.. Tapi bagi saya yang lebih suka pantai daripada gunung, ini adalah bonus karena gunungnya terletak di tengah pulau yang menuju kesana kita tetap harus ketemu dengan laut dan pantai. Jadi 2 in 1 kan? 

Kami tiba di Pulau Anak Krakatau tepat pukul 7 pagi. Meskipun masih ngantuk, saya cukup happy akhirnya bisa sampai di pantai lagi. Saya sudah menyiapkan sandal jepit agar ketika turun kapal, tidak perlu takut basah. Apalagi kapalnya tidak bisa berlabuh tepat di bibir pantai, jadi mau gak mau kita harus agak basah dong! Nah, yang nyebelin, ada peserta yang takut banget basah..sampai menunggu ombak dan buih lautnya surut baru berani turun dari kapal. Akibatnya, antri turun kapal pun jadi macett.. Adohh, mbak..kalo takut basah ya, jangan ke laut dong!

Sebenarnya, status pulau ini adalah areal konservasi yang dikelola oleh Badan Konservasi Sumbedaya Alam dibawah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Jadi, sama sekali bukan tempat wisata pada umumnya. Bedakan dengan Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Baluran atau Taman Nasional Bromo yang selain difungsikan sebagai habitat tumbuhan atau hewan yang dilindungi juga menjadi tujuan wisata. So, semua harus tahu dulu, nih.. Untuk mencapai lokasi ini memang diperlukan ijin. Belum lagi gunung Anak Krakatau memang masih terhitung aktif, jadi sewaktu-waktu bisa saja ada status siaga, demi keamanan para pengunjung.

Setelah mengisi perut seadanya, pendakian pun dimulai. Ciye, mendaki… padahal untuk sampai ke puncak jaraknya kurang dari 1 km saja. Pulau ini  pun sejatinya adalah lereng anak gunung krakatau, seperti perbukitan yang terjadi akibat proses vulkanologi dan menjadi titik pandang terbaik untuk melihat gugusan gunung-gunung yang terbentuk karena letusan Krakatau 1883 silam. Sejarah menyebutkan letusannya mematikan hingga 36 ribu jiwa karena tsunami yang ditimbulkan. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali  bom atom hirosima dan nagasaki. Bahkan, abu vulkaniknya membuat cuaca berubah karena menutupi atmosfer. 

Walaupun bukan seperti mendaki Rinjani, tapi tetap capek, loh! Lumayan curamnya. Tetap butuh tenaga ekstra dan berat badan seimbang untuk bisa sampai di atas. Eh, kenapa mesti seimbang, karena kalo terlau gendut, nafasnya pasti terengah-engah. Kalau terlalu kurus, takut ditiup angin.. Hehehe.. Setelah melewati hutan di kontur tanah yang masih datar, kita akan melewati lereng yang sama sekali tidak ada pepohonannya. Karena itu, disarankan kesini di pagi hari, jika menjelang siang udaranya sungguh HOT! Bisa-bisa gak sampe atas, langsung semaput!

etape awal
etape kedua

Kalau dipikir-pikir, saya lebih senang snorkeling daripada hiking. Tapi pengalaman kali ini beda banget, kapan lagi bisa sampai ke gunung Krakatau yang maha tenar itu.Untungnya, sepanjang jalan diisi dengan senda gurau bersama sahabat-sahabat blogger, lelah pun jaadi tidak terasa. Tentu pakai istirahat dengan foto-foto!

Akhirnya semua lelah terbayar, sampai juga kami di puncaknya. Sejauh mata memandang, laut kebiruan berlatar belakang gunung. Cantik sekali. Rasa malas yang tadi pagi menggelayut tiba-tiba hilang tanpa bekas. Wah, saya bersyukur sekali bisa sampai kesini. Nggak nyesel deh main ke gunung, meninggalkan pantai sekali-kali.

Finally…

***

Terima kasih untuk Pemda Prov. Lampung yang sudah memfasilitasi full kunjungan saya kesini. Namun, kalau boleh usul, mungkin untuk festival yang sama di tahun mendatang, harus lebih banyak kegiatan kreatifnya. Saya senang bisa diajak ke Pulau Sebesi dan Anak Krakatau, namun dua lokasi tersebut masih perlu banyak dibenahi agar dapat menarik lebih banyak wisatawan. 

Pulau Sebesi memang bagus, namun fasilitasnya masih minim dan jaraknya relatif jauh, masih sulit bersaing dengan pulau-pulau lain karena alamnya pun tidak terlalu istimewa. Sementara Pulau Anak Krakatau yang unik ini, terhitung daerah cagar alam, jadi wisatawan umum tidak mudah untuk masuk. Memang ini aset bagi Prov Lampung, tapi saya pribadi lebih setuju ini dijaga fungsinya sebagai cagar alam, daripada dibuka untuk umum malah dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan. Apalagi gunungnya masih aktif.

Kenapa ya,  tidak memperbanyak promosi wisata di dalam kota Lampung? Misalnya mengenalkan kami dengan makanan kuliner khas Lampung yang bisa jadi potensi wisata. Logikanya, gini…makin banyak orang datang ke Lampung (terutama yang naik pesawat terbang), maka mereka akan sampai duluan di Ibukota yaitu Bandar Lampung, bukan langsung menuju pulau. Kalau begitu, yang harus dipromosikan secara paralel dengan wisata bahari-nya adalah Tour De Bandar Lampung (hanya sebagai contoh). Sayang kemarin, blogger dan netizen yang jumlahnya ratusan itu tidak diberi agenda ini.

Menurut Saya, sektor pariwisata itu kini bergerak menuju kreativitas. Banyak daerah yang potensi wisata alamnya biasa saja, tapi pandai dalam kemasan sehingga menjadi menarik. Bukan hanya dalam bentuk festival yang satu dua hari selesai. Tapi kreativitas yang kontinu. Strategi pun harus disusun berdasarkan banyak pertimbangan. Saya juga percaya promosi pariwisata yang baik bukan hanya mengundang orang sebanyak-banyaknya untuk datang dan “meliput” lalu selesai. Lebih baik dilakukan oleh sekelompok orang saja tetapi secara regular, termonitor dan lebih penting lagi terukur.

Semoga saran kecil saya ini sudah banyak dilakukan oleh Provinsi Lampung! Selamat!

 

Hits: 1884

Kapan terakhir ke Ancol? Pertanyaan ini saya ajukan ke beberapa teman minggu lalu. Jawabannya ternyata tidak terlalu mengejutkan. Yes, bener banget! Sebagian besar mengaku terakhir ke Ancol lebih dari 5 tahun atau bahkan 10 tahun lalu. Kalau pun ada yang setahun belakangan, umumnya karena acara-acara khusus seperti gathering kantor atau menghadiri undangan.

Kalau pertama kali ke Ancol? Mmmm..ayooo masih ingat nggak? Saya, ketika masih duduk di bangku SD masih tinggal di Makassar dan cuma liburan ke Jakarta. Wah, piknik ke Ancol waktu itu, rasanya mewah dan membanggakan. Memang sih, buat sebagian orang, Ancol ibarat liburan masa kecil. Padahal sebenarnya wahana-wahana di Ancol banyak yang ditujukan untuk semua usia. Apalagi sekarang Ancol kian berbenah dan tambah menarik. Wajib banget nih kembali ke Ancol dan menjadikannya referensi liburan. Ini dia 5 alasan kenapa harus kembali ke Ancol.

(1). Onestop Recreation

Memangnya Ancol cuma Dufan ? Nggak dong, ada puluhan wahana Ancol dari yang berbayar hingga gratis. Dufan dan beberapa wahana besar memang berbayar, harganya pun keliatan cukup merogoh kocek walaupun itu sebanding dengan yang kita dapat. Bahkan Dufan memiliki Annual Pass yang bikin hemat berlipat-lipat selama satu tahun.

Mau murah, santai dan gratis? Banyak! Bisa ke pantai yang kini berpasir putih dengan panjang 3,5 km dengan aneka pilihan aktivitas atau ke Allianz Ecopark, wahana dengan konsep hutan kota yang penuh dengan taman, danau dan ruang terbuka hijau. Ada Pos Jaga bak di film Baywatch atau Promenade Bridge yang cocok jadi tempat nge-galau. Hehehe…

ansol2b ok
Life Guard, Pantai Pasir Putih
ansol15ok
Senja di Promenade Brigde

Pengen nge-mall ? Ancol juga punya! Dan ini mungkin satu-satunya mall dengan pemandangan laut lepas di Jakarta. Mahal, nggak? Jangan khawatir, harga produk dan makanan di Ancol dikontrol ketat oleh Manajemen. Jadi, mau nongkrong dimana pun di Ancol tidak perlu takut “dipalak”. Jadi praktis deh,.. nggak rempong bawa bekal dari rumah.

(2). Ramah Lingkungan

Belum tahu kan kalau Manajemen Ancol memiliki kebijakan melarang seluruh supplier-nya menggunakan styrofoam yang berbahaya bagi lingkungan?  Saya iseng mengecek ke salah satu kedai, dan ternyata betul, para pedagang mengakui diwajibkan menggunakan kemasan kertas atau minimal plastik untuk produknya. Kalau pun sekarang masih ada, itu adalah limbah pengunjung yang dibawa dari luar. Ancol akan terus mengembangkan kebijakan ini agar nanti bisa berlaku bagi seluruh pihak. Ancol juga sudah mengolah sendiri siklus limbah hariannya sehingga bisa mengurangi beban pembuangannya ke Bantar Gebang sampai 30%. Keren, kan?!

 IMG20170722082857

Ada lagi nih, beberapa waktu lalu, Ancol diberi penghargaan oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, sebagai ganjaran keberhasilannya menyulap areal lapangan golf-nya seluas kurang lebih 34 Ha menjadi hutan wisata dan konservasi. Jadi, kalau dulu wilayah ini hanya bisa dinikmati segelintir orang, kini semua bisa merasakan keteduhan Allianz Ecopark yang sudah menjelma menjadi salah satu paru-paru di utara Jakarta.

IMG20170722095251
Allianz Ecopark

(3) Selalu ada wahana baru

Jika tidak punya sesuatu yang baru, Ancol harus siap-siap ditinggalkan pengunjungnya, makanya Ancol selalu menghadirkan sesuatu yang segar dan kekinian agar kita tidak bosan datang kesini. Pada musim liburan ini saja ada pertunjukan Teenage Mutant Ninja Turtle asli dari Nicklodeon, USA dan Mysterious Island di Dufan. Lalu di Ocean Dream Samudra ada pertunjukan 4D Yogi The Bear. Paling baru dan gratis, adalah naik Sato Sato, kereta mini keliling Ancol buat yang anti capek. Pantau terus deh instagram Ancol di @ancoltamanimpian atau twitter @ancoltmnimpian biar tahu kalau ada yang baru lagi.

IMG20170722144233 (1)
Mysterious Island
sato2
Sato Sato

 

(4) Belajar, Bermain dan Terapi

Sudah pernah mampir ke Allianz Ecopark? Disini ada jogging track, danau buatan, mini zoo, mini outbond, bicycle track, aktivitas back to nature seperti belajar bercocok tanam, belajar tentang hewan ternak dan masih banyak lagi. Saya merekomendasikan banget untuk datang kesini di akhir pekan, soalnya sambil jalan-jalan dan olahraga ada ecomarket yang menyediakan menu sarapan yang beragam dan murah.

IMG_1616
Ocean Dream Samudera

Oya, mungkin belum banyak yang paham bahwa lumba-lumba di Ocean Dream Samudra bisa memberi terapi penyembuhan bagi anak berkebutuhan khusus (autisme) dan para penderita stroke?! Riset membuktikan suara dan gerakan yang diberikan oleh lumba-lumba itu mampu menjadi terapi yang baik bagi mereka. Therapyst berpengalaman di Ancol telag menyusun paket-paket terapi tergantung tingkat keluhan penderita. Tentu saja calon pasien harus berkonsultasi dulu.

Mau belajar seni? Ada Pasar Seni! Lokasi “heritage” ini masih terjaga dan terawat baik. Selain bisa bertemu dengan seniman lukis, seniman pahat, Pasar Seni juga memiliki spot-spot foto menarik. Di waktu-waktu tertentu, disini sering digelar pertunjukan-pertunjukan seni dan musik. Ingin nongkrong sambil ngopi saja pun boleh. Saya saja masih penasaran, belum sempat mencicipi satu kedai kopi lokal di salah satu sudutnya.

20170721_115117
Pasar Seni

(5) Aksesnya mudah

Ini dia nih…yang sering dikeluhkan orang. Pengen sih ke Ancol, tapi jauh. Kelihatannya begitu, apalagi buat mereka yang bermukim di kota-kota satelit sekitar Jakarta. Tapi aksesnya mudah lho, hampir seluruh jalur tol di Jabodetabek terhubung ke Ancol, bahkan ada pintu tol keluar sendiri untuk masuk arealnya. 

Kendaraan umum, seperti Trans Jakarta sekarang juga sudah punya rute/koridor Cililitan-Ancol. Tidak perlu jalan jauh lagi, karena haltenya sudah langsung masuk Ancol. Bagaimana dengan KRL? Jarak antara Stasiun Kota ke Ancol tidak lebih dari 4 km lalu bisa nyambung angkot atau ojek. Bisa juga naik dari Stasiun Kampung Bandan dan berhenti di Stasiun Ancol yang posisinya tepat berada di seberang pintu gerbang utama Ancol.

Jadi gimana?! Masih ada alasan untuk tidak kembali ke Ancol?

Pic by IG @suryadi_sulthan, @dh.haqiqi @nugisuke

Hits: 2072

Kali ketiga berkunjung ke Arizona, saya masih mengira salah satu negara bagian Amerika Serikat ini super gersang dengan perubahan suhu yang sangat signifikan antara musim panas dan musim dingin. Ternyata anggapan saya iitu salah. Februari lalu saya menyambangi Prescott, sebuah kota kecil yang ditempuh sekitar 2 jam dari Phoenix, ibukota Arizona. Kota ini menyimpan banyak keindahan dengan cuaca yang berbeda dibandingkan kota-kota lain di Arizona. Jika kota-kota lain tidak bersalju, Prescott bersalju pada musim dingin meskipun sebagian besar daerahnya tandus bak gurun. Ketika saya kesana, musim dingin seharusnya sudah berakhir, tapi masih cukup dingin. Buat saya -yang sama AC saja, alergi bentol-bentol- cukup menyiksa. Lumayan loh, bisa dibawah nol derajat di pagi hari dan paling tinggi sekitar 15 derajat di siang hari. Brrr,…gak asyik banget rasanya harus pake kaus kaki plus kaus tangan kemana-mana. Namun ada jajaran pohon-pohon yang daunnya habis dan menunggu bertunas kembali, yang membuat kota ini menjadi cantik

IMG-20170208-WA0012
dari puncak kota

Prescott dipenuhi lokasi-lokasi teduh dengan pepohonan, bangunan heritage dan jalan-jalan cantik yang memesona. Karena konturnya perbukitan, kota ini seperti gurun yang bertingkat-tingkat. Dari beberapa puncak bukit kita bisa memandang seluruh penjuru kota. Prescott juga dikenal sebagai salah satu kota tertua di Arizona, Hampir tidak ada bangunan tinggi disini, seluruh pusat kota dipenuhi gedung-gedung tua yang tetap terawat dan berfungsi dengan baik, bahkan ada hotel tua dengan lift dari abad ke 18 yang persis seperti kerangkeng besi. 

kota

alun alun

Tante Lina, tuan rumah yang menjamu saya selama disana bilang; tempat yang wajib didatangi di Prescott adalah museum. Iya, museum! Wisata yang buat sebagian besar orang kita tidak umum. Kalau umum, mungkin Museum Nasional tidak pernah sepi. Yeekaan? Nah, dari sekitar 10 museum yang ada di Prescott, Sharlott Hall Museum adalah yang paling direkomendasikan. Museum ini adalah peninggalan rumah Gubernur Arizona dan pusat pemerintahan Arizona State pada abad ke 19  yang didirikan di 1928 oleh Sharlott Hall seorang politisi wanita pertama di Arizona.

museum1

“Where are you come from?” tanya petugas museum dengan ramah saat saya membubuhkan tanda tangan di buku tamu. Perempuan berusia sekitar 50an tahun itu, sedikit mengernyitkan dahi ketika saya menulis : INDONESIA (dengan bangga pasti!). Sesaat kemudian dia tersenyum kembali. Mungkin saja dia tidak tahu Indonesia dimana, atau  bisa jadi belum ada orang Indonesia lain selain saya yang kesini. Ah, GR.. Eh, pasti ada sih ..tapi yang mengisi buku tamu, sepertinya memang cuma saya! Hahahah.. 

buku tamu

 

Kemudian saya terkagum-kagum sendiri, menyaksikan bagaimana rumah pribadi yang digunakan di sekitar 100an tahun lalu menjadi begitu menarik. Kalau sering nonton film-film Amerika berlatar belakang abad 18-19, ya kira-kira begitulah barang-barang yang dipamerkan. Tempat tidur antik di kamar dengan gorden berenda-renda, jas pria lengkap dengan wig yang bergelung-gelung pirang, longdress wanita dengan rok lebar bergelembung -yang mungkin kalau dipakai sekarang sangat ribet-. Bahkan seisi perabot rumah pun menjadi pajangan yang menarik. Dapur dengan alat masak kuno, ruang tamu dengan furniture beraroma mistis hingga ornamen-ornamen dekorasi rumah yang kini pasti sudah jarang kita temui.

Sharlott Hall juga memiliki bangunan-bangunan terpisah yang berisi sejarah Arizona. Negara bagian yang berbatasan langsung dengan Meksiko ini, sarat cerita tentang pembaruan antara orang native Amerika (suku Indian), bangsa Meksiko dan para kulit putih sendiri. Milestone-milestone perkembangan Arizona sebagai negara bagian USA yang ke-50 juga tertata sangat apik. Bikin betah, tambah wawasan dan  sama sekali tidak membosankan.

museum8

museum7

Spot kedua yang saya kunjungi adalah Historical Boulevard (HB) atau Historic Distric. Jalanan sepanjang tidak lebih dari 2 km ini menjadi salah satu atraksi turis unggulan di Prescott. Masih dalam tema kota antik, HB dipenuhi rumah-rumah kuno yang berjajar rapih dan semuanya berpenghuni. Rumah-rumah tua ini tetap didiami pemiliknya, tapi dikembangkan menjadi obyek wisata oleh pemerintah. Rumahnya lucu-lucu, dari model rumah bak kastil jaman dulu hingga rumah drakula pun ada.

HD

Baiknya lagi, para penghuninya sadar bahwa kediaman mereka menjadi tontonan dan menganggap itu sudah jadi bagian dari keseharian mereka. Jadi tidak bakal ada yang marah kalau kita foto-foto di halaman rumahnya. Bahkan jika beruntung, kita akan ketemu pemilik yang dengan ramah menyilakan masuk ke dalam rumahnya. Wow!

HD1

HD4

Siang itu suhu cukup dingin untuk ukuran orang kita, sekitar 15 derajat celcius. Tapi keunikan, keindahan dan keramahan Prescott  membuat saya yakin, akan kembali lagi kesini suatu saat nanti 🙂

 

 

 

Hits: 2763

Rumah berhalaman tak seberapa luas itu, terletak di kompleks perumahan yang sempit. Jika tidak ada deretan kendaraan terparkir di depannya, mungkin orang tidak pernah tahu, bahwa di dalamnya ada kesibukan yang mempengaruhi lajunya pemerintahan Kabupaten Pohuwato. Inilah kantor Tatiye.Net, rumah bagi sekelompok anak muda asli Gorontalo yang terobsesi membantu pemerintah lokal membangun berbagai aplikasi untuk mengefisienkan berbagai proses pelayanan publik di Pohuwato. 

***

Dua minggu sebelumnya, ketika diminta memberi usulan tagline kampanye digital Kabupaten Pohuwato, kami cukup berpikir keras. Terus terang, saya sendiri belum banyak mengenal kabupaten ini. Selain karena posisinya nun jauh di luar Jawa juga pemberitaan nasional yang masih minim tentang kabupaten yang baru berusia 14 tahun ini. Setelah membongkar-bongkar beberapa referensi, melakukan riset kecil-kecilan ditambah dengan informasi dari pihak internal sendiri, akhirnya kami pun mengusulkan : Pohuwato Goes Digital.

Kenapa sampai dipilih rangkaian kata berbahasa Inggris tersebut, tidak lain karena ingin menunjukkan positioning Pohuwato sebagai kabupaten yang sudah menjadikan teknologi bagian penting dalam tata pemerintahan dan pelayanan pada masyarakat. Pohuwato Goes Digital juga mengindikasikan bahwa kabupaten ini terus berbenah dan bergerak mewujudkan digitalisasi pemerintahan. Sempat terpikir beberapa kata seperti Smart City, Digital City, namun sepertinya kurang pas karena sudah digunakan oleh banyak daerah di Indonesia. 

Pohuwato Goes Digital

Terus terang, ada rasa penasaran juga, apa betul kabupaten yang beribukota Marisa ini sudah pantas disebut kota digital. Hingga tiba hari kami sampai Gorontalo, semuanya terjawab. Waktu tempuh kurang lebih tiga jam dari Bandara Jalaludin menjadi tidak terasa, karena sepanjang jalan kita disuguhi pemandangan pegunungan yang berpadu dengan alam pesisir. Kontur jalan yang berkelok, berliku dan mendaki membuat perjalanannya seperti sebuah tantangan tersendiri.

***

Akhirnya saya paham, di rumah kecil itulah semua teknologi yang digunakan di Pohuwato digodok. Kami berbincang santai dengan para pengelola Tatiye.Net. Raut wajah penuh semangat, melek teknologi dan bersahabat menyambut kami. Mereka menyadari masalah paling mendasar dalam mewujudkan kota digital adalah ketersediaan informasi. Oleh karena itulah, pengembangan portal yang khusus mengangkat aktivitas pemerintah, informasi layanan publik dan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan menjadi sangat krusial. Kami  lalu ditunjukkan portal Pohuwatokab.go.id sebagai sentra informasi publik kabupaten Pohuwato. Portal ini diperbaharui tiap hari, mau tau apa saja tentang Pohuwato, bisa dicari disini. 

Portal Pohuwato
Portal Pohuwato

Wah, ternyata rumah yang dari depan terlihat biasa saja itu penuh dengan komputer canggih lengkap dengan server sendiri. Disinilah semua informasi tentang Pohuwato diramu dan dikelola.

Dibawah kepemimpinan Bapak Bupati Haji Syarif Mbuinga, S.Pd,MM, Pohuwato tidak main-main mewujudkan mimpi sejajar dengan daerah daerah lain di Indonesia yang sudah lebih dulu tergantung pada teknologi. Bagi Pak Bupati, teknologi adalah keniscayaan di era open and clean goverment saat ini. Tidak mengadopsi teknologi bukan saja berarti ketertinggalan tetapi sama saja dengan tidak membangun.

Bersama Tim Tatiye.Net
Bersama Tim Tatiye.Net
Bersama Bapak Bupati Pohuwato
Bersama Bapak Bupati Pohuwato

Menuju Digitalisme

Optimisme Pahuwato dimulai dari beberapa aplikasi yang kini telah dijalankan untuk melayani masyarakat. Contoh RSUD Buni Panua meluncurkan aplikasi tentang ketersedian fasilitas mulai dari jumlah kamar, jumlah pasien saat ini, jadwal dokter dan lain-lain yang semuanya terintegrasi dengan portal Pohuwato. Tidak kalah Perpustakaan Daerah mulai menggembangkan aplikasi sendiri, agar lebih banyak masyarakat yang mau berkunjung ke perpustakaan. Sementara kantor arsip daerah juga sudah mulai mendigitalkan dokumen-dokumennya. Ada lagi Laporan kemajuan pembangunan Pohuwato juga telah dirintis dalam format digital melalui Aplikasi Elektronik Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (e-LPPD). 

Tatiye.Net kini juga tengah mengembangkan aplikasi pelayanan satu pintu dibawah ownership Dinas Penanaman Modal. Sama seperti daerah-daerah lain, Pohuwato menyadari pentingnya investasi baru di daerahnya. Karena itu, kemudahan perijinan bagi calon investor baru, mutlak hukumnya. Tentu saja dikembangkan juga aplikasi-aplikasi umum yang diwajibkan Pemerintah Pusat seperti e-planning, e-musrenbang dan e-procurement. 

Aplikasi informasi layanan RSUD
Aplikasi informasi layanan RSUD

Terobosan yang paling menarik adalah mengembangkan website untuk setiap desa. Jika selama ini informasi desa hanya terpusat di Kantor Kelurahan atau Balai Desa, kini Pohuwato pelan-pelan mengedukasi setiap desa menjadi tidak gagap teknologi. Nantinya sekitar 70 desa yang tersebar di 13 kecamatan dapat dipantau secara online dari pusat pemerintahan. Tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur tradisional dan khas pedesaan, teknologi digital diharapkan bisa memperlancar pelayanan bagi masyarakat di pedesaan.

 Anak Muda Kreatif dan Potensi Wisata

Tiga hari di Pohuwato membuat saya makin sadar bahwa Indonesia ini kaya dan sangat indah.  Pohuwato dikelingi pantai dan gunung yang menawan, budaya yang unik perpaduan berbagai suku, makanan-makanan lokal yang lezat tiada tara (nanti saya akan tulis terpisah tentang kuliner Pohuwato), infrastruktur yang sudah mendukung dan masyarakat yang ramah dan terbuka terhadap pendatang.  Sungguh itu merupakan sebuah kemewahan untuk yang bernilai jual. Sayang, kadang kita memang suka lupa kalau rumah sendiri kaya potensi yang wajib dikenalkan ke dunia di luar sana.

Di satu sisi, ternyata Pohuwato penuh dengan generasi millenium yang tumbuh berdampingan dengan internet dan sosial media. Kami sempat melakukan diskusi kecil di sebuah cafe yang cozy di sudut Kota Marisa. Saya kagum, tidak sedikit dari mereka yang sudah merintis bisnis online, menulis buku, membuka cafe dengan promosi online bahkan menjadi fotografer. Borderless world karena hadirnya internet membuat anak-anak muda itu mampu menciptakan sendiri lapangan pekerjaannya.  Ternyata bukan cuma anak-anak di kota besar loh, yang bisa merintis start up! Nah, keeksisan para generasi kekinian itu tentu saja bisa dimanfaatkan untuk menunjang promosi pariwisata lokal.

DIskusi di Warong Inspirasi
Diskusi di Warong Inspirasi

phg2

 

Saya percaya, duta wisata terbaik sebuah daerah itu, bukan orang yang dipilih melalui kompetisi tapi justru kita-kita sendiri yang hidup di dalamnya.

Dan mereka yang kami temui malam ini bisa jadi pionirnya. Dengan kekuatan jaringan sosial media mereka, sangat mungkin Pohuwato akan menjadi salah satu destinasi unggulan pariwisata Gorontalo. 

Pemerintah Kabupaten Pohuwato memang masih punya banyak pekerjaan rumah dan lika-liku tantangan. Tapi semangat dan upaya mereka patut diacungi jempol. Perlahan tapi pasti, pantas kan disebut Pohuwato Goes Digital?!

Hits: 1534

Seorang putri cantik dari Negeri Johor tiba-tiba hilang saat bermain di tepi pantai. Tak ayal, Sang Raja memerintahkan pasukannya untuk mencari sang putri tercinta. Namun yang menemukan putri itu, justru seorang Pangeran asal Makassar yang akhirnya menikahinya. Mereka lalu hidup dan beranak pinak di tengah lautan dan kemudian dianggap sebagai nenek moyang suku Bajo.

Konon legenda tadi hanya salah satu penggalan cerita asal muasal Suku Bajo. Banyak sekali kisah-kisah lain yang tercetus tentang sejarah suku terapung ini. Ada pula yang menyebut asalnya dari Filipina, karena di perairan negara ini ditemukan beberapa titik pemukiman mereka. Namun di Indonesia, setidaknya mereka ada di Torosiaje (Gorontalo), Jambi, Wakatobi (Sultra) dan Berau (Kaltim). Karena asal muasal mereka yang sedikit simpang siur, wajar saja jika ada yang bilang ini adalah bagian sejarah yang hilang.

Team Kamadigital.com
Team Kamadigital.com

Dilanda rasa penasaran akan cerita Putri Johor itulah perjalanan kami dilakukan. Siang itu perahu bermesin kecil yang mengantarkan kami ke Torosiaje, sudah menunggu cukup lama di satu-satunya darmaga menuju desa ini. Entah ini kali keberapa saya bersampan melewati hutan mangrove yang memenuhi sisi darmaga. Bedanya, kali ini sama sekali bukan menuju daratan, melainkan perkampungan di atas laut. Sesaat lagi semua lelah akan terbayar setelah menempuh penerbangan sekitar 3 jam dari Jakarta dilanjutkan 3 jam perjalanan darat dari Marisa (Ibukota Kabupaten Pohuwato) dan terakhir menyeberang laut sekitar 10 menit. 

blog4

Kapal kecil kami dikemudikan oleh Pak Sunaryo. Ia mengantar kami dengan ramah hingga penginapan yang posisinya tepat di ujung desa.”Namanya kok “Kejawa-jawaan” ya?” pikir saya. Ternyata pemukiman Suku Bajo di Torasiaje ini sering disebut Bajo modern, salah satunya karena sudah banyak orang Bajo yang menikah dengan suku lain kemudian ikut menetap disini. Tidak heran jika 1300 penduduk disini ada yang berasal dari Jawa, Bugis, Makassar bahkan keturunan Tionghoa.

IMG20170505100904

Sepanjang jalan, sekilas seperti kampung biasa dengan aktivitas warga sehari-hari. Bedanya, jelas tidak ada daratan disini. Seluruh kampung dihubungkan dengan jembatan-jembatan kayu yang kokoh yang dinamakan kayu gopasa batu. Di setiap rumah terparkir pula satu dua perahu sebagai kendaaraan pribadi setiap keluarga. Beberapa rumah dicat warna warni menambah obyek foto kami. Laut di bawah rumah-rumah itu tampak begitu jernih. Banyak penduduk yang membuat keramba di depan atau samping rumah. Di satu sudut sekelompok anak muda sedang nongkrong santai tanpa kopi berlogo kepala hijau. Di sudut lain, beberapa ibu-ibu asyik mengobrol sambil membawa balitanya, sementara dua orang ibu lain sibuk menjajakan kue-kue kecil seharga seribu rupiah saja kepada kami. Riak bersahabat terpancar di wajah mereka yang  paham betul bahwa kampung ini sudah menjadi  tujuan wisata utama Pohuwato.

blog5
pic by @suryadi.sulthan
blog6
pic by @suryadi.sulthan

Tiba-tiba seorang anak berseragam sekolah dengan santai melintas dengan perahu kecilnya. Latar belakang langit biru, dengan laut jernih Toroasiaje membuat peristiwa itu menjadi begitu memesona. Kata Pak Jackson Sompat, Kepala Desa yang akrab dipanggil Ayah, satu dekade terakhir pendidikan sudah menjadi prioritas bagi warga Torosiaje. Mereka sudah punya sekolah dari tingkat TK hingga SLTP yang juga terapung. Beberapa fasilitas umum pun mulai dibangun. Bahkan jaringan air bersih sudah mulai masuk sejak beberapa tahun lalu. Satu hal yang mungkin masih perlu pembenahan adalah masalah sampah rumah tangga. Namun walau belum optimal tetap saja kampung ini bersih dan nyaman. Masyarakat Bajo yang hidup turun temurun di laut tahu betul bagaimana menjaga lautnya. Sebagai nelayan, mereka juga memegang teguh prinsip 3P dalam melaut; Pukat, Pancing dan Panah adalah alat alat yang digunakan dalam mencari ikan. Pantang bagi mereka menggunakan alat tangkap yang dapat merusak lingkungan. 

 

pic by @suryadi.sulthan
pic by @suryadi.sulthan

blog3

Sambil menikmati hidangan ikan goreng, ikan bumbu kuning lengkap dengan sambal pedas nikmat ala Gorontalo, kami berbincang dengan Pak Akbar pemilik rumah makan asal Makassar dan Pak Faldi Pakaya, Sekretaris Desa orang asli  Torosiaje. Mereka bertutur, Suku Bajo hidup harmonis di tengah lautan, nilai-nilai Islami mereka jalankan dengan taat. Tidak ada kawula muda yang boleh keluar lebih dari jam 10 malam. Jangan dikira sanksinya ringan, loh. Dua orang remaja lawan jenis yang kedapatan masih berdua di atas jam itu, harus dinikahkan. Nah loh! Belum lagi ada larangan untuk melaut di hari Jumat. Konon, barang siapa yang melanggar bisa tertimpa malapetaka di laut. Mungkin  saja ini secara tidak langsung dimaksudkan agar Bapak-Bapak nelayan dapat khusuk beribadah di hari yang sakral itu. Setiap tahun mereka juga melakukan Masaro, sebuah ritual tolak bala dan bentuk rasa bersyukur atas karunia laut yang menghidupi mereka.

pic by @suryadi.sulthan
pic by @suryadi.sulthan

Ketika sore mulai turun, kami beringsut mencari tempat terbaik untuk menikmati sunset. Seorang Ibu dengan ramah mempersilakan untuk menunggu perginya matahari dari dapur belakang rumahnya. Pandangan mata bebas lepas seperti lautan di depan sana.

Kemudian Senja turun pelan-pelan, air laut tetap tanpa riak. Semburat jingga, biru berpendar dengan perginya cahaya. Mungkin ini adalah salah satu senja terbaik saya. Pagi esok, saya akan bangun menyongsong kembalinya matahari. Karena hanya matahari yang PASTI menepati janji untuk terbit di pagi hari

 

Hits: 2119

Menuju ke Kawasan Lilifuk, benar-benar seperti menonton acara TV My Trip My Adventure. Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari pusat Desa Kuanheun, jalanannya pun sudah cukup baik, tapi lumayan menantang buat yang mau kesini. Dari tepi jalan raya, masih perlu jalan kaki ke lokasi sekitar 700 meter. Kalau mau lebih cihuy bisa jalan kaki sekitar 3 km dari pusat desa.

Kontur tanah berbatu karang tajam yang harus dilewati membuat langkah pun menjadi lebih hati-hati. Di tanah gersang itu, terlihat hamparan tanaman kacang tanah dan jagung yang tidak terlalu terawat. Dua jenis tanaman ini, adalah yang paling mampu bertahan di iklim Kupang yang sangat panas.  Siang itu saja, walau masih di musim penghujan, cuacanya cukup terik. “Tapi ini cukup bersahabat, kok”, kata Pak Desa (sebutan untuk Kepala Desa) yang ikut menemani kami. Bahkan katanya ini belum apa-apa dibandingkan musim kemarau disekitar pertengahan tahun. “Saking panasnya, wajah-wajah orang sini juga bisa ikut kering”, lanjutnya sambil bercanda. Meski berpeluh keringat, langit Nusa Tenggara yang biru tanpa asap polusi dengan awan putih berarak dan pemandangan lautan di ujung mata membuat semua tetap menyenangkan.

menuju Lilifuk
menuju Lilifuk

“Panen ikan di lilifuk dilakukan dua kali dalam setahun, biasanya bulan Juni dan Desember”, ujar Pak Desa kembali. Memang, pertama kali menjejakkan kaki di desa ini, Ia sudah menawari saya dan teman-teman untuk melihat kolam Lilifuk, kebijakan lokal masyarakat Desa Kuanheun. Cerita punya cerita, ternyata Lilifuk adalah tradisi menjaga alam khususnya laut dan ikan-ikannya yang sudah dimulai sejak tahun 1940an. 

Intinya begini: Lilifuk adalah kolam air laut raksasa yang dibentuk dengan cara menutup satu kawasan laut selama 6 bulan- 1 tahun. Selama masa itu, ribuan ekor ikan dibiarkan berkembang biak bebas tanpa diganggu populasinya. Pada saat ditutup, tidak boleh dilakukan penangkapan ikan di daerah tersebut baik oleh masyarakat setempat ataupun orang luar, Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi adat seperti denda berupa uang atau hewan (babi dan kambing).

Saat panen, kolam Lilifuk dibuka satu hari penuh dimulai saat surut terjauh sekitar pukul 4 pagi. Seluruh penduduk bahkan masyarakat luar desa bisa datang untuk mengambil ikan sepuasnya. Saking banyaknya ikan, kita bahkan tidak memerlukan alat bantu yang canggih untuk menangkap ikan-ikan itu. Bijaknya lagi, masyarakat tidak diperkenankan untuk menggunakan alat tangkap yang merusak lingkungan, cukup menggunakan serok saja.

Keunikan lain, sehari sebelum panen dan saat pembukaan biasanya dilakukan upacara adat lengkap dengan doa dan tari-tarian dan penyembelihan hewan untuk  dimakan bersama-sama.

Wah. sebagai mantan mahasiswa kelautan  yang kenyang dicekoki ilmu-ilmu tentang perikanan, saya terkagum-kagum sendiri, ternyata masyarakat disini sudah memikirkan kelestarian alam jauh sebelum berbagai kampanye lingkungan menggempur kita.

Mereka sudah memikirkan pola konservasi yang mengedepankan kekerabatan dimana hasil panennya dinikmati bersama. Kegiatan ini juga diikuti upacara dan ritual sebagai wujud rasa spiritual yang dalam kepada Pencipta. Hmm dulu, mungkin di kuliah dulu, saya tidak belajar sampai sejauh itu. 

Ngobrol dengan Pak Desa  di tepi Lilifuk
Ngobrol dengan Pak Desa di tepi Lilifuk

Lilifuk kini sudah banyak dikenal di masyarakat NTT. Tidak heran, saat panen banyak masyarakat luar Desa Kuanheun yang datang. Desa pun mengeluarkan kebijakan retribusi bagi pengunjung yang hasilnya menjadi pemasukan desa. Sayangnya, upacara ini belum sepenuhnya menjadi atraksi wisatawan. Dari bincang-bincang dengan Kepala Desa dan Kepala Adat, mereka belum sadar bahwa local wisdom ini dapat menjadi sebuah pertunjukan yang bisa dikemas dan dijual. Padahal, jika dikelola dengan baik, ritual ini dapat menghasilkan sumber pendapatan baru bagi desa Kuanheun.

Lokasi Desa Kuanheun yang hanya sekitar 25 km atau kurang lebih 40 menit dari Kota Kupang seharusnya dapat menjadi faktor pendukung datangnya para wisatawan.  Desa ini juga memiliki potensi pantai-pantai cantik nan perawan seperti Pantai Bali dan Pantai Asem yang bisa jadi obyek wisata pendamping. 

Menuju Pantai Asem
Menuju Pantai Asem
pantai bali
Pantai Bali

Nah, saya masih penasaran untuk kembali saat panen Lilifuk di bulan Juni atau akhir tahun ini. Namun, sepertinya, Desa Kuanheun perlu binaan dan sentuhan pihak ketiga agar kebiasan baik ini lebih dikenal dunia luar dan menjadi inspirasi bagi daerah-daerah pesisir lain.  Ada yang berminat membantu?

Hits: 1192

Jadi, mungkin kalian sudah banyak yang tahu bahwa Australia negara yang tak seberapa jauh dari kita itu adalah salah satu negara dengan biaya hidup termahal. Karena saya seringnya ke Amrik (numpang sombong dikit), saya berani bilang biaya hidup di Amrik dan Australia kurang lebih sama. Misal buat makan di USA paling ngirit deh sekitar 7 dollar USA (sekitar Rp90 ribuan), kalau mau murah sih emang sarapan di IKEA dengan makanan lumayan setingkat di atas fast food dan harganya di kisaran 3-5 dollar saja. Di Aussie, satu kali makan sekitar 5-10 dollar AUS. Tengah-tengah deh, ambil di kisaran 7 dollar  atau sekitar Rp70 ribuan. 

hostel1
Pintu Masuk YHA Melbourne

Nah, karena komponen jalan-jalan itu yang paling mahal biasanya makan dan penginapan, makanya dua item tersebut kalo bisa dihemat dengan tetap mengedepankan konsep kesejahteraan rakyat (alias gak susah-susah amat). Di Australia, salah satu cara menghemat adalah nginep di hostel. Wah, buat kalian yang biasa bobo di hotel yang nyaman dan penuh privasi, jangan khawatir…nginep di hostel di Australia sama sekali jauhhh dari kesan kumuh dan “miskin”. Sebagai perbandingan, saya pernah juga nge-hostel di Singapura dan Hongkong beberapa tahun lalu, dan menurut saya, fasilitas hostel di Australia, gak jauh beda dengan hotel bintang 3 di Singapura. Mungkin lebih. Hemmm..

hostel4

 

Dari tiga kota yang saya singgahi di Aussie (Sydney, Brisbane dan Melbourne), Desember 2016, tiga-tiganya saya dan teman-teman nginep di hostel. Hasil riset dan hunting kecil-kecilan, kita putuskan dengan beberapa pertimbangan seperti di bawah ini. Simak cerita dan tips-nya!

Lebih Efisien

Saya tidak tidak bilang lebih murah loh, tapi lokasi apartemen yang ada di pusat kota (down town) harus dipertimbangkan. Di Sydney dan Melbourne, saya menginap di YHA Hostel, sementara di Brisbane saya tidur manja di Brisbane Embassy. Posisi ketiganya hanya beberapa ratus meter dari Central Station. Moda transportasi yang paling nyaman, efektif dan efisien di tiga kota tersebut adalah kereta, dan memilih tempat menginap di tengah-tengah kota artinya menjangkau banyak stasiun. 

hostel2

Fasilitas Oke

Kebayang tidur di dormitori yang kumuh, berdesak-desakan dan bau? Yang saya temui di tiga kota di Australia tadi, jauh dari kesan itu. YHA Hostel tempat kami menginap di Sydney dan Melbourne adalah jaringan hostel internasional yang cabangnya tersebar hampir di seluruh dunia. Ada pantry yang bersih dan buat yang tinggal lama, bisa masak dan menyimpan stok makanan di kulkas-kulkas besar yang sudah tersedia. Kalau butuh, ya tinggal dimasak atau dipanasi di microwave. Ruang makannya juga nyaman bahkan ada tempat ngopi santai lengkap dengan balkon yang sangat cozy. Kamar mandi nya juga -meski di luar kamar-, kebersihannya sangat terawat. Air panas lancar dan hampir tidak ada antrian, karena di setiap lantai ada beberapa kamar mandi lengkap dengan toilet dan kaca-kaca besar untuk dandan :p. Plus ada kolam renang loh! Semua itu gratis! Wifi yang menjadi nyawa para traveler pun tersedia. Memang kalau di kamar, ada biaya tambahan. Tapi di ruang-ruang publik di hostel biasanya free.

hostel3
Lobby Nyaman
hostel5
ruang makan

Harga Bersaing

Yang ini nih, paling penting. Hasil googling, memang menunjukkan banyak hotel murah di Australia. Namun biasanya yang murah, punya nama beken dan pelayananannya standar, lokasinya agak jauh di pusat kota. Di dormitori yang saya sebutkan diatas, harga per malam per orang dalam 1 kamar dengan 4 bunk beds sekitar Rp400-500/ribu per orang. Mahal? Ah, gak juga. Kita memang bisa dapat yang lebih murah dan bentuknya hotel, tapi ya itu…posisinya rata-rata agak di pinggiran kota. Silakan saja pilih yang mana. Kalau saya sih tetap pilih di dormitori dengan fasilitas hotel tapi letaknya di tengah kota- yang artinya sangat menghemat biaya transportasi plus tentu saja waktu. Kenapa begitu? Yaa, sebagai orang kampung masuk kota, tempat-tempat eksotik nan instagram-able di Australia kebanyakan memang di seputaran kota. Lagian kita memang akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar penginapan kan? Kalau memang ada rencana ke tempat wisata di pinggir atau luar kota, tetap mudah mendapatkan akses karena pusat kota adalah pusat transportasi. Gitu.

Desain yang Cozy

Awalnya saya berpikir, hostel umumnya akan minimal dari desain dan interior tak ubahnya seperti kamar kos atau paviliun. Ternyata gak loh.. Dari semua yang sempat saya singgahi, menurut saya yang desainnya paling oke adalah YHA Melbourne. Interiornya didandani dengan sangat kekinian dengan warna-warna cerah yang jauh dari kesan murahan. Para pencinta instagram pasti akan senang mendapatkan banyak sudut-sudut yang layak unggah begini. Kamarnya pun dibuat warna-warni. Pokoknya menyenangkan, inspiring dan bikin gak bosen! Note: ini beneran bukan iklan berbayar apalagi iklan layanan masyarakat.

desain toilet
desain toilet

hostel1

Tetap ada privasi

Mungkin ini yang jadi pertimbangan banyak orang, kenapa enggan tinggal di dormitori. Yes, kita akan ketemu banyak orang baru dari berbagai negara dengan culture dan kebiasaan yang berbeda. Kita gak bisa ketawa ngakak di kamar, atau kalau yang gabung dengan lawan jenis, kita gak bisa pake baju tidur yang seksi. Tapi menurut saya sih tidak demikian. Justru dengan tinggal di hostel, kita jadi belajar banyak cara menghargai privasi orang lain dan (mudah-mudahan) dengan bersikap baik, orang lain pun akan menghargai privasi kita. Nilai plusnya, disini kita bisa kenal teman baru dari berbagai negara dengan berbagai budaya dan kebiasaan yang harus kita maklumi. Kalau mau lebih nyaman, ya pergilah rame-rame bersama teman-teman dan semuanya nginap satu kamar.

Okay, kalau mau ke Aussie, ajak-ajak saya ya! Happy holiday!

Hits: 1327

Kembali dari Amerika bulan lalu, hal pertama yang ingin saya tulis di blog adalah tentang sebuah museum yang saya kunjungi di kota kecil bernama Prescott di negara bagian Arizona. Belum sempat nge-blog, minggu lalu saya bersama Kamadig Team diundang  oleh Bupati Purwakarta untuk melihat pagelaran air mancur terbesar dan termegah di Asia Tenggara  dan menyambangi museum-museum digital yang sangat serius dibangun oleh Pemda Purwakarta.

9548a4e6-b0bd-4cd9-970c-87f35fa5b2a2
Kamadigital.Com bersama Kang Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta

Yes, museum! Agak kaget juga ketika tahu, di kota kecil seperti Purwakarta ada museum berkonsep digital. Lebih kaget lagi ketika masuk ke dalamnya, saya harus bilang : INI SUMPAH KEREN BANGETTT!! Penataan cahaya, posisi display materi, dan keragaman platfom digital yang digunakan membuat saya makin berdecak kagum. Gak nyangka aja, museum begini ada Purwakarta (bukan di Jakarta yang ibukota negara).

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Tampak depan Diorama Purwakarta

Museum pertama yang kami kunjungi adalah Bale Panyewangan Diorama Purwakarta. Museum ini menyajikan arsip-arsip budaya Sunda dan Purwakarta pada umumnya. Namun, jangan dibayangkan kita akan melihat deretan arsip dalam tumpukan kertas yang menjemukan. Sama sekali tidak! Semua materi disajikan dalam format yang menarik, digital dan berbeda-beda untuk setiap segmen/setiap ruangan.

museum15

Ada sembilan segmen di museum ini, diantaranya Bale Prabu Maharaja Linggabhuwana yang, menyajikan Sejarah Tatar Sunda, Bale Prabu Ningratwangi, menyajikan sejarah Purwakarta jaman Hindia Belanda dan Bale-bale lain yang memaparkan sejarah Sunda dan Purwakarta di berbagai masa revolusi.

Bagian pertama yang membuat kami terpukau adalah buku besar digital, yang bisa bersuara dan memunculkan video pada tiap halamannya. Buku ini memuat beberapa sejarah Sunda dan Purwakarta yang sangat  interaktif. Seru banget! Sisi-sisi lain yang juga ditampilkan interaktif adalah media busana adat sunda, yang bagian kepalanya sesuai degngan kepala orang yang terkena sensor di depannya, plus bisa joget! Tidak kalah menarik, ada juga foto digital bersama Pak Bupati yang juga bekerja dengan sensor. Saat kita bersiap di depan kamera, tiba-tiba sosok Pak Bupati pun muncul di tengah-tengah, mengajak berfoto bersama.  Sedikit komedi, tapi tetap keren!

museum3

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Koleksi arsip yang disajikan di museum ini pun sangat lengkap, disusun dengan menarik dan jauh dari kesan membosankan. Banyak kata-kata bijak yang membangkitkan semangat dan nasionalisme di berbagai sudut. Berderet pula koleksi wayang golek yang kaya cerita dan tersimpan dalam ruang-ruang kaca yang berkesan mewah. Di bagian terakhir, ada platform sepeda ontel, yang jika dikayuh maka layar besar di depannya akan berpindah tempat. Persis seperti jalan-jalan pake sepeda biasanya. 

c0d0bbf8-e808-4b91-9e68-5b5ca5630c10

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Nah, tidak jauh dari Diaroma Purwakarta baru saja dibangun Diorama Nusantara. Museum satu ini lebih seru lagi, kalau yang tadi hanya miniatur Tanah Sunda dan Purwakarta, Diorama Nusantara seolah menjadi miniatur Indonesia. Pasti akan lebih banyak kejutan disini! Museum ini sudah siap dibuka untuk umum, tinggal menunggu pembukaan secara resmi oleh Menteri Pariwisata RI. 

museum6

Selain dua museum itu, Purwakarta memang tengah berbenah menumbuhkan wisata kreatif di wilayahnya. Ada Museum Indung, Museum Ki Sunda, Diorama Islam Nusantara dan Galeri Wayang. Museum yang dianggap sebagian besar masyarakat kita sebagai wisata yang kurang populer, justru dikemas edukatif, menarik dan ramah untuk seluruh usia. Sering juga dilakukan pagelaran-pagelaran budaya baik berskala nasional maupun internasional. Semua itu tetap dengan mengedepankan budaya Sunda yang kental dengan kedamaian dan penuh cinta.

museum7

Kata sebuah riset, 60% wisatawan datang ke sebuah tempat yang tertarik akan budayanya. Kemudian disusul dengan keindahan alam, kuliner dan lain-lain. Hemm, sepertinya, Purwakarta sangat menyadari itu, lalu dibungkuslah wisata-wisata kreatif dengan balutan budaya Sunda. Patut jadi contoh daerah lain.

Ayo ke museum!

 

 

 

 

 

 

 

 

Hits: 1305

Macet lagi, macet lagi!! Bosan atau sudah biasa?! Bayangkan, setiap hari terkadang kita bisa menghabiskan empat jam perjalanan pulang pergi dari rumah. Kalau bisa dihemat menjadi 2 jam saja, sudah berapa banyak waktu produktif yang lahir. Yah…buat kerja, nongkrong sama temen, olahraga, berkumpul dengan keluarga atau buat tidur lagi juga boleh! Asal tahu saja, jika tidak diatasi maka Jakarta akan macet total pada 2020 dengan sumbangan 80% polusi udara. Nilai kerugian total mencapai Rp 65 Triliun/tahun yang meliputi tambahan biaya operasional kendaraan dan hitungan waktu yang hilang di perjalanan. Gila kan?!

mrt
Sydney Central Station

Cerita lain, kalau jalan-jalan ke negara maju, yang bikin saya iri bukan fasilitas serba canggih, bukan kefasihan mereka berbahasa internasional dan bukan juga kota-kota menterang penuh taburan cahaya. Pastinya, tidak juga iri dengan alam mereka. Percayalah tidak ada tempat yang paling mendamaikan hati kecuali memandang birunya laut nusantara dan hijaunya pegunungan Indonesia. Tapi, yang bikin saya sirik adalah fasilitas transportasi mereka. Tidak usah jauh-jauh ke Eropa, Amerika atau Jepang yang punya shinkansen, Singapura, Malaysia bahkan Filipina (yang menurut saya secara ekonomi dibawah Indonesia) sudah punya sejenis Mass Rapid Transportation (MRT).

Bagaimana dengan Jakarta? Saat pertumbuhan jumlah kendaraan tidak sebanding dengan jumlah jalan, transportasi umum belum memadai ditambah lagi dengan sebagian masyarakat yang masih gengsi naik kendaraan umum, kita memang butuh sebuah terobosan transportasi. Harus diakui, selama dua tahun terakhir Pemda DKI Jakarta sudah banyak sekali melakukan pembaharuan, walaupun hasilnya belum bisa dikatakan optimal. Misalnya, jalur busway Trans Jakarta (TJ) terus menerus ditambah, PT KAI memperbanyak jaringan stasiun dengan fasilitas yang lebih memadai. Kemudian ada bis-bis penghubung dengan kota satelit yang terintegrasi dengan jalur TJ. Lalu, kebijakan ganjil genap, yang lumayan mengurangi kepadatan kendaraan di wilayah-wilayah tertentu. Belum lagi “bantuan” dari sektor swasta akan transportasi online. Eh, soal transportasi online ini juga bisa jadi tantangan sendiri sih buat Pemda DKI. Mungkin yang belum adalah mengubah budaya masyarakatnya yang masih sering bepergian dengan mobil berpenumpang satu orang saja.

IMG_0729
The future is here…

Ah, panjang yaa kalo bahas transportasi Jakarta, kayaknya sampe dua kali Pilkada pun gak bakal habis-habis!!

Nah, minggu lalu,.. Yes, finally.. permohonan untuk melihat-lihat proyek MRT Jakarta yang tengah berlangsung disetujui. Kenapa sih penting banget melihat proyek ini? Saya dan teman-teman hanya ingin menjadi bagian dari perubahan bahwa nantinya kita (Jakarta) akan punya MRT yang tidak saja menjadi solusi namun kebanggaan tersendiri. Kami juga ingin memberi pesan; dua tahun ke depan akan banyak yang berubah dalam keseharian masyarakat Ibukota. Mungkin transportasi pribadi tidak lagi populer, mungkin kemacetan yang berkurang akan membuat ritme hidup kita pun berubah. Di sisi lain, kesiapan masyarakat juga perlu diantisipasi. Mulai dari sekarang membiasakan diri dengan transportasi cashless, belajar memelihara fasilitas umum dan lain-lain yang intinya menjadi social society seperti di negara maju.

Setelah melalui proses panjang, akhirnya ground breaking MRT Jakarta dilakukan pada Oktober 2013 lalu. Ssst, asal tahu saja, sebenernya rencana awal pembangunan MRT Jakarta ini bersamaan loh.. dengan MRT Singapura (sekitar tahun 1976). Biarpun telat, gakpapa yang penting sekarang semua sudah di depan mata. 

blog1

Kami diajak berjalan-jalan di proyek MRT yang terletak tepat di Bundaran HI. Rasanya sangat senang bisa turun ke 20 meter di bawah permukaan bumi. Disini tonggak-tonggak sejarah masa depan Jakarta terpampang nyata. Peron mulai nampak wujudnya, tiang-tiang beton tinggi membuat stasiun Bundaran HI ini nantinya akan terlihat megah dan mewah. Fasilitas untuk para penyandang disabilitas pun dibangun, bahkan saya melihat pembangunan ruangan khusus untuk Ibu menyusui.

Fase pertama adalah Lebak Bulus -Bunderan HI sepanjang 16 km yang dapat ditempuh dalam 30 menit saja. Ada 13 stasiun dengan jarak masing-masing antara 0,8-2,2 km dengan tempo keberangkatan setiap 5 menit sekali (pada tahun pertama beroperasi). Ditargetkan akan ada 173,400 penumpang terangkut setiap hari. Sepertinya akan sangat membantu mengurai kemacetan ya?!

Setelah berkeliling, tempat yang paling instagramable, apalagi kalau bukan the tunnel. Jreng jreng.. disini semua rebutan foto, sampai-sampai dikasih peringatan oleh panitia kalau waktu sudah habis. Wah, dua tahun lagi, saat sudah beroperasi, jalan-jalan di proyek MRT ini akan menjadi sangat memorable. 

blog4
kamadigital.com di depan tunnel

 

Selanjutnya segera menyusul Fase II yang menghubungkan Bundaran HI dan Ancol. Tenang, semua wilayah Jakarta nantinya akan terjangkau oleh MRT. Jalur-jalur pun terintegrasi dengan jalur TJ dan bis kota yang sekarang sudah eksis. Bahkan pada 2020 akan dimulai konstruksi koridor Timur Barat, Cikarang-Balaraja sepanjang 87 km. Wow!

MRT Jakarta merupakan proyek pertama di Indonesia yang mengimplementasikan skema three sub level agreement antara JICA (lender) dan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan BUMD (PT MRT Jakarta). Sementara secara struktur kepemilikan, Pemda Provinsi DKI memiliki 99,98% saham. Hingga Desember 2016, progres proyek ini secara overall sudah mencapai 62%. Secara komersial akan mulai beroperasi Maret 2019. Sabar yaa, masih dua tahun lagi.

mandor
mandor

Oleh karena itu, mulai dari sekarang ayo kita siapkan diri untuk lebih ramah dengan transportasi publik. Membiasakan diri naik kendaraan umum, pelan-pelan gunakan kendaraan pribadi untuk saat-sata tertentu saja. Supaya nanti jika MRT sudah beroperasi kita sudah terbiasa dan terlatih untuk berbagi.

Salam, untuk Indonesia lebih baik!

 

 

Hits: 1414

Perjalanan saya ke Amerika tahun ini dimulai dengan transit di Bandara Narita, Jepang. Saya sengaja mencari penerbangan dengan transit lama (hingga 10 jam) dengan harapan bisa ikut city tour transit program. Apa daya sejak seminggu sebelum berangkat saya terserang batuk dan flu yang lumayan menyiksa. Mengingat suhu Tokyo yang saat itu hanya 2 derajat celcius sajah, jadilah saya cuma ngendon di Narita selama 10 jam itu.

IMG20170205154935
Terminal 2 Narita

Terminal 2 penerbangan internasional Bandara Narita tidak terlalu luas, namun memiliki banyak pojok untuk beristirahat. Pilihan restoran dan coffee shop menurut saya juga tidak terlalu banyak, tetapi ada berbagai pilihan toko souvenir, duty free shop dan toko oleh oleh. Saya tiba sekitar pukul 07.00 pagi waktu Tokyo. Setelah segala tetek bengek tansit selesai saya mencoba merebahkan badan di salah satu selasar. Wah, ternyata tidak saya saja, banyak juga penumpang lain melakukan hal yang sama.

IMG20170205102325
working space and relaxing
IMG20170205102259
mau duduk duduk santai, sendiri ? boleh… ada colokan dan wifi kok!

Ada deretan bangku lesehan lengkap dengan kasur tipis buat tiduran. Di sisi lain, bilik-bilik tertutup dengan sofa pribadi juga bisa dicoba. Bahkan beberapa diantaranya menggunakan kursi yang bisa memijat. Cocok deh buat saya yang akan menjalani total hampir 40 jam perjalanan mulai dari Cengkareng-Kuala Lumpur-Tokyo-Los Angeles dan terakhir Phoenix. Sambil rebahan, kita bisa terhubung dengan dunia maya melalui jaringan internet yang menurut saya sih tercepat yang pernah saya saya temui di bandara beberapa negara. Bosen main internet, kita bisa nonton TV yang memang tersedia di spot itu. Beruntung, karena tiba pagi hari beberapa space masih kosong, jadi deh saya istirahat sambil minum tolak angin. Hehehe. Oya, tempat ini dilengkapi juga dengan taman bermain indoor untuk anak-anak. 

blog6
bisa selonjoran, gratis sambil maen fesbuk dan nonton TV!
blog5
tempat bermain anak..

Bosan tiduran, saya berkeliling terminal. Eh, ternyata ada dayroom dan shower yang letaknya agak di sudut tidak jauh dari pusat informasi. Dengan badan yang masih setengah rontok, cuaca dingin, perjalanan masih jauh dan batuk yang tak kunjung reda, saya memang perlu tempat istirahat yang lebih proper. Iseng-iseng saya masuk dan mencari tahu, wah…boleh juga nih dicoba pikir saya.

IMG20170205142655
lobby minimalis

Seorang perempuan Jepang setengah baya menyambut saya dengan ramah. Meski bahasa Inggris-nya terpatah-patah, ia kelihatan sekali berusaha melayani tamu dengan sebaik-baiknya. Ia menjelaskan beberapa fasilitas. yang tersedia. Ternyata, harganya tidak menguras kantong kok! Tersedia shower room untuk mandi saja yang disewakan sekitar 1.030 Yen per 30 menit atau sekitar Rp 100 ribu dan ruangan tidur single maupun dobel yang sudah dilengkapi dengan shower room. Harga ruangan single sebesar 1,540 Yen (sekitar Rp 150 ribu) satu jam pertama dan harga ruangan dobel sebesar 2,470 Yen (sekitar Rp 250 ribu) satu jam pertama. Saya bisa istirahat nyaman dengan privasi, bisa mandi bersih-bersih dan sholat tentunya. Harga pada jam kedua dan seterusnya, bukan perkalian dari harga jam pertama loh.. Silakan lihat foto dibawah ini untuk lebih jelasnya.

price list
price list

Sayangnya, saat saya kesana, ruangan single sedang penuh. Tapi si mbak Jepang memberikan diskon untuk ruangan dobel selama tiga jam dengan harga dua jam. Wah lumayan! Gakpapa deh, ngeluarin uang yang penting bisa segar dan fit kembali di penerbangan berikutnya yang masih memakan waktu kurang lebih 13 jam. Arrggghhh…

Ruangan dobel yang saya tempati tidak ubahnya seperti kamar di hotel budget chain internasional. Ada dua ranjang empuk, kamar mandi yang super canggih (tombolnya banyak banget), penghangat ruangan, air minum gratis, meja tulis, hairdryer, hingga peralatan mandi. Plus pemandangan lapangan terbang dari kaca-kaca yang sengaja dibuat lapang dan besar agar kita bisa melihat aktivitas landasan pesawat. Keren deh pokoknya! Tiga jam disini sangat tidak terasa. Lumayan, selain bisa istirahat, saya juga dapat pengalaman baru.

IMG20170205114226
dalam kamar

blog7

Buat yang kira-kira akan transit di Narita dalam waktu cukup lama, saya rekomendasikan deh tempat ini. Saya memang bukan yang doyan shopping dan makan-makan di bandara, jadi harga tersebut bagi saya cukup pantas, toh emang tidak ada pengeluaran lain.. Hehehe..

 

Hits: 2603

Seorang senior travel blogger pernah berpetuah ke saya: “Kalau mau bikin judul tulisan jalan-jalan, lupakan menggunakan frasa-frasa hiperbola seperti surga tersembunyi, emas terselubung, nirwana di kaki langit, atau apalah yang sejenisnya. Kenapa?! Karena kata-kata tersebut memang cenderung berlebihan dan “feeling” orang terhadap sebuah daerah bisa berbeda-beda. Lagian, emang kamu pernah ke surga atau ke nirwana sampe-sampe bisa bikin perbandingan? Ah..jadi ngarang kan??

Beda cerita dengan judul hiperbola, pertanyaan yang paling sering mampir ke saya adalah: Lebih suka pantai atau gunung?  Jelas, saya dengan mantap akan menjawab: pantai tentu saja! Pantai dan laut yang seolah tanpa batas seolah menyimpan misteri yang membuat saya ingin selalu kembali. Hmmm…

blog1
by IG @d.haqiqi

Gara-gara Salem, saya sepertinya mulai melanggar dua pakem itu. Pertama, pada posting kali ini, saya terpaksa menggunakan kalimat “arunika dari Brebes”. Maapkeun, saya memang sudah kehabisan diksi yang pas untuk menggambarkan keindahan Salem. Arunika berasal dari Bahasa Sansekerta yang artinya sinar matahari pagi, karena saya yakin suatu saat Salem akan jadi seperti “matahari pagi” bagi pariwisata Brebes. Kedua, sepertinya preferensi pantai daripada gunung akan sedikit bergeser gara-gara untuk kedua kalinya saya mampir ke Salem minggu lalu. Yes, minceu bersama beberapa teman-teman blogger yang super heboh diajak jalan-jalan ke Brebes dan mengeksplore salah satu kecamatan di Brebes ini. Dan entah saya kenapa tiba-tiba saya suka gunung! Lho kok? Ini dia ceritanya!

***

Salem ditempuh sekitar 1,5-2 jam dari kota Brebes. Gak jauh kok! Perjalanan sama sekali tidak terasa, karena sepanjang jalan mata dimanjakan oleh hijaunya sawah dan ladang bawang. Udaranya sejuk, pepohonan masih rimbun dan infrastrukturnya sudah mencukupi. Namanya juga daerah pegunungan, jalanan menuju Salem memang menanjak. Bahkan ada beberapa tikungan tajam dan mendaki yang bisa bikin kita lebih banyak berdoa saat melewatinya. Untungnya, jalanan kesini super mulus dan pengemudi yang membawa kita sudah sangat mengenal medan. 

Kehebohan menuju Salem memang dimulai dari kelokan-kelolan mautnya. Kami yang sepanjang jalan penuh canda tawa tiba-tiba nyaris diam dalam keheningan, ketika melewati tikungan-tikungan tajam yang nyaris 90 derajat. Belum lagi jalannya dua arah, untung mobil kami, dilengkapi dengan klakson telolet yang akan dibunyikan saat jalan menanjak dan menikung tajam. Tujuannya, agar kendaraan dari arah berlawanan tahu kalau ada mobil besar yang akan lewat. Jadi gak usah jejeritan bilang: Om Telolet Om!  

blog8
by IG @d.haqiqi
by IG @suryadi.sulthan
by IG @suryadi.sulthan

Biarpun aman, melewati tikungan-tikungan tajam ini tetap bawaannya a litte bit scary, sampe-sampe saya (yang kurus) ini minta turun, dengan maksud untuk meringkankan beban mobil. Padahal, kayaknya gak ngaruh juga sih.. hehehe.. Lepas dari tanjakan, mobil kami berhenti sejenak. Wajah-wajah tegang turun satu persatu dari mobil. Lega banget, meskipun tadi hampir seluruh doa-doa diluncurkan. Kapok?! Gak dong!!… justru disitulah letak keseruannya.

Stop point pertama, adalah melihat pembuatan batik tulis khas Salem. Saking kayanya negeri tercinta ini, semua daerah nyaris punya batik. Desa Bentarsari di Salem ini adalah salah satunya. Pembatik Salem umumnya adalah ibu-ibu dan remaja putri. Membatik biasanya dilakukan di waktu luang selepas  bekerja di ladang atau sawah. Batik Salem unik, karena coraknya yang masih sangat old fashioned dengan mengangkat ciri khas Brebes, seperti bebek dan telur asin. Uniknya lagi, batik ini diwarnai secara alami dari tanaman yang ada di seputaran Desa Bentarsari, seperti daun mahoni, daun jambu klutuk hingga kulit jengkol. Satu kain batik seukuran 2×3 meter diselesaikan selesaikan 1-2 minggu. Saat ini, Ibu-ibu pembatik masih kesulitan akses untuk memasarkan produknya lebih luas, ditambah lagi keterbatasan modal yang membuat produksi tergantung pesanan. Hmm, ada yang tertarik jadi investor?!

by IG @suryadi.sulthan
by IG @suryadi.sulthan

Oya, biarpun masuk dalam Provinsi Jawa Tengah, penduduk Salem berbahasa Sunda. Beda banget sama saudara se-KTP nya di Brebes pesisir yang berbahasa Jawa dengan dialek “ngapak-ngapak”. Memang, sebagain besar wilayah pegunungan Brebes berbatasan dengan beberapa kabupaten di Jawa Barat. 

Lepas dari bertemu ibu-ibu pembatik. kami menuju Panenjoan. Sepanjang jalan gerimis tiada henti, tiba di Panenjoan pun tetap gerimis bahkan hujan! Panenjoan adalah daratan berbukit yang dipenuhi hutan pinus dan memamern view pegunungan. Beberapa menara pandang dibangun, buat jadi obyek foto. Teman-teman blogger tetap bersemangat, meskipun banyak banget spot yang tidak bisa difoto maksimal karena cuaca tidak mendukung.

Panenjoan  In frame IG @miss_nidy Pic IG @d.haqiqi
Panenjoan
In frame IG @miss_nidy
Pic IG @d.haqiqi

 

Panenjoan  pic by IG @suryadi.sulthan
Panenjoan
pic by IG @suryadi.sulthan

Tapi gakpapa, pulangnya kami masih bisa mampir di sawah terasering yang kerennn abis! Bagi penduduk sana mungkin sawah ini biasa saja. Cuma kita doang yang kayaknya mampir foto-foto.  Tapi sumpah, selain di Bali dan NTT, ini sawah ter-instagram-able yang pernah saya lihat secara langsung! Biarpun sebenernya saya orang kampung juga, tapi tetap excited melihat susunan sawah menghijau berlatar gunung dan sungai. Lebih indah dari lukisan. Saking bingung mau ngambil foto dari mana, akhirnya saya minta ijin ke salah satu rumah penduduk yang berlantai dua. Yah, lumayan deh… 

by IG @d.haqiqi
by IG @d.haqiqi

blog14

Menjelang sore, kami menghabiskan waktu di Kalibaya Park. Yaah, sayang banget..beberapa spot sedang direnovasi dan tanahnya becek sehabis hujan. Eh, tenyata itu malah jadi berkah sendiri buat teman-teman yang mencoba motor cross dan mobil off road. Belum lagi ada ayunan angkasa yang membuat kita seolah terbang. melayang. Ada menara pandang dari bambu dengan pemadangan waduk Malahayu dan alam Salem. Keren deh, menurut saya malah lebih keren dari Kalibiru di Yogyakarta. Cuma memang masih kalar tenar aja sih… Di Kalibaya juga ada fasilitas outbond,  jadi kalau pergi bareng rombongan, kita gak mati gaya. Banyak aktivitas yang bisa dicoba

Kalibaya pic IG @_rpoppy
Kalibaya
pic IG @_rpoppy
Space Swing Kalibaya in frame  IG @bernavita pic IG @d.haqiqi
Space Swing Kalibaya
in frame IG @bernavita
pic IG @d.haqiqi

Obyek yang belum sempat kami sambangi adalah Ranto Canyon, tebing-tebing tinggi dikelilingi air pegunungan yang dijadikan obyek bodyrafting. Seru juga sih kayaknya, next time saat cuaca bagus, wajib dijajal!

Soal makanan, jangan khawatir.. Kami sempat mampir ke warung Ayam Bumbu Kampung. Aduh, selain murah, enaknya kebangetan. Padahal menunya sih sederhana banget. Ayam goreng krispi dengan kriukan, lalap, tahu goreng, tumis kangkung dan aneka pepes.  Makan sepuasnya pun per orang tidak lebih dari Rp 30 ribu. Kecuali kalo kamu pengen beli gerobak Ibunya, ya?! :p

IMG-20170123-WA0008
by IG @miss_nidy

Paling enak sih kesini bukan sekedar mampir mengunjungi obyek-obyeknya, tapi merasakan sehari dua hari jadi warga Salem. Iya loh.. Salem memang makin terbuka dengan pariwisata. Kita bisa tinggal disini, lari pagi di sawah, makan ala desa yang murah banget. Foto-foto di Panenjoan dan melamun di tengah sawah (eh..ini cuma buat yang lagi galau…). Waktu paling pas untuk puas-puas disini sepertinya antara Maret-Oktober, saat musim kemarau. 

Asal tahu saja, semua inisiatif pengembangan wisata Salem ini diupayakan sendiri oleh penduduknya. Mereka membentuk Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata). Baru berjalan kurang dari satu tahun, Salem sudah menjadi salah satu tujuan wisata utama di Brebes. Saat ini mereka sedang gencar mempromosikan daerahnya melalui format-format digital. Keren kan? Semoga akan lebih banyak daerah yang bisa mencontoh Salem. Memang, masih banyak yang belum sempurna, tapi kalau menunggu semua oke banget, kapan kita bisa berjalan maju, kan?! Makanya sama-sama kita dukung pariwisata dalam negeri.

Pic by IG @d.haqiqi
Pic by IG @d.haqiqi

Jadi pengen ke Salem, nih!? Saat ini kendaraan umum memang belum banyak. Dari pusat kota Brebes baik terminal mapun stasiun naik angkot menuju Ketanggungan lalu lanjut angkot menuju Pasar Banjarharjo. Dari sini bisa naik angkutan umum dari Pasar Banjarharjo. Hmm, sayangnya sih kebanyakan angkutan ke Salem dari Banjarharjo masih colt bak terbuka…. Cocok sih buat yang ingin merasakan petuangan sesungguhnya. Biar lebih nyaman, mending perginya barengan beberapa teman, agar bisa menyewa mobil dari Brebes menuju Salem, sekaligus pesan home stay di Salem. Semua bisa dilayani oleh Pokdarwis Kalibaya (nomer telepon dibawah tulisan). Biaya sewa mobil dari Brebes sekali jalan sekitar 300- ribuan untuk sekali jalan (bisa urunan 5-6 orang). Sedangkan homestay Rp 50 rb/orang/malam plus satu kali makan.  Murah kann ?

Hayuklah ke Brebes, merasakan liburan kembali ke desa. Merasakan sisi-sisi lain dari negeri tercinta ini. Jarang-jarang kan kita bangun pagi, dan melihat sawah seindah ini? Lupakan sejenak Jakarta yang penuh polusi. Its time back to nature.

Brebes, A Different Taste of Java.

Kontak Pokdarwis Salem : Mas Ajie (0852-01000-9920)

Instagram @kalibaya_park dan @ranto_canyon

Hits: 1594