Desa Saleman. Masih lekat di ingatan, beberapa jam sebelumnya pesawat kami mengalami turbulensi cukup hebat, hingga selama 1,5 jam perjalanan Makassar-Ambon lampu seat belt tidak sekalipun mati, bahkan beberapa kali Pilot mengumumkan untuk tidak beranjak dari kursi, walaupun cuma untuk lavatory.

Selanjutnya, dua setengah jam terombang-ambing di lautan dari Pelabuhan Tulehu, Ambon menuju Dermaga Amahai di Masohi Pulau Seram. Baru kali ini rasanya naik kapal cepat dengan guncangan yang lumayan dahsyat. Beberapa tahun lalu saya sempat merasakan hal yang sama ketika bertolak dari Derawan menuju Tarakan. Namun baru kali ombak lautan membuat saya nyaris mabuk.

“Gue yang sudah empat kali kesini, baru sekarang ngalamin kejadian kayak gini” kata Ifan yang mengajak saya jalan-jalan kesini.

kapal

Belum selesai merasakan sisa-sisa mual akibat amukan Laut Seram, kami harus melanjutkan perjalanan darat Masohi-Saleman selama kurang lebih 2,5 jam. Awalnya sih jalannya mulus, lancar dan lurus. Tetapi selepas kawasan Waipia memasuki wilayah Saleman, jalanan berbatu, berkelok kelok tajam dan naik turun di tengah hutan belantara harus dilalui. Yes, inilah turbulensi ketiga! Lagu Broery Pesolima yang diputar Bang Andre sepanjang perjalanan sama sekali tidak mengurangi rasa mual dibarengi kantuk karena perjalanan malam yang menghabiskan waktu lebih dari 15 jam dari Jakarta. Dan nyaris tanpa tidur!

blog2

Tetapi semua itu terbayar lunas saat kami tiba di Saleman. Desa kecil ini adalah titik pangkal menuju Pantai Ora yang ditempuh 10 menit menyeberang dari sini. Topografi Seleman yang berada diantara hutan dan pantai di Teluk Ambon membuat desa terpencil ini dikaruniai pemandangan yang sempat membuat saya berpikir untuk tidak mau pulang. Rasa lelah, mabuk, penat, kantuk dan pegal-pegal selama perjalanan yang cukup panjang itu, tiva-tiba hilang begitu saja.

***

Desa Saleman hanya berpenduduk sekitar 700 jiwa. Sebagian besar dari mereka beragama Islam, tidak heran ada dua masjid di desa ini. Uniknya, sistem pemerintahannya masih mengikuti adat, dimana pemimpin mereka disebut Raja, dan hanya keturunannya yang dapat menjadi penguasa disini. Konon karena perebutan kekuasaan, Saleman terbagi menjadi dua wilayah yang berdampingan.

blog9

Raja kami, bernama Raja Ali Arsyad Makatita” kata Bang Andre sambil menghirup kopi di sore itu. Dalam struktur pemerintahan resmi, Raja disetarakan dengan Kepala Desa. Di Maluku, konsep pemerintahan yang diselaraskan dengan hukum adat seperti ini sudah sangat jamak dilakukan.

Kami tinggal disini selama dua hari ke depan. Keluarga Bang Andre yang memfasilitasi perjalanan kali ini menyambut kami dengan ramah. Ayah Bang Andre masih berdarah Sumatera, sementara Ibunya adalah orang asli Saleman. Lantai dua dan tiga rumah mereka disulap menjadi homestay yang super nyaman. Ibu Bang Andre jago memasak, lengkaplah sudah kebahagian kami karena setiap hari disuguhi makanan enak.

blog8

“Oya, kita harus ke ujung desa”, kata Ifan. Ada rumah ABRI yang bertugas menjaga Saleman dan beberapa desa lain dari kerusuhan antar suku, agama dan golongan disini. Ada sekitar 10 orang ABRI yang dinas disana, terkadang mereka juga diperbatukan untuk menjaga laut yang berbatasan langsung dengan perairan Filipina ini. “Kami disini bergiliran bertugas dan tidak pulang selama satu tahun” ujar salah seorang personil. Untuk menambah kesibukan, Bapak-Bapak ini menanam sayur mayur di pekarangan. “Lumayanlah, karena sayuran termasuk barang langka di desa ini” kata mereka. Dedikasi terpancar jelas di wajah mereka yang begitu ramah dan bersemangat atas kunjungan kami.

IMG-20160710-WA0024
Bersama bapak ABRI penjaga perdamaian dan perbatasan. NKRI harga mati!

Paginya saya berkeliling Saleman. Melihat dari dekat rumah-rumah penduduk asli yang sebagian besar masih terbuat dari kayu. Tanpa ragu, saya menyapa penduduk yang mulai beraktivitas di pagi itu. Tidak ada tatapan aneh dan curiga, senyum bersahabat yang mengembang dari Ibu Ibu yang menjemur pakaian bayi, menandakan desa kecil ini ramah dan terbuka kepada para pendatang. Di depan rumah terjemur cengkeh-cengkeh yang akan dijual. Ya, mata pencaharian utama mereka memang bertani cengkeh. Hanya sebagian kecil yang berprofesi sebagai nelayan. Mungkin karena penghasilan berdagang cengkeh lebih menguntungkan dari nelayan.

blog1

Jangan tanya teknologi canggih. Listrik saja hanya menyala di malam hari. Hanya ada satu provider telekomunikasi pelat merah yang beroperasi, itu pun paling banter cuma bisa buat SMS. Tidak ada game online, hanya anak-anak kecil berlarian di tanah berpasir pantai sebagai jalanan kampung. Di satu sisi terlihat sekelompok lelaki bergotong royong membangun tenda bambu untuk sebuah hajatan.

blog16
wake up every morning with this view 🙂

Sambil ngobrol di depan kamar, saya mengamati tiga bukit karang yang mengapit Saleman. Rolessy, Hatumalulohon dan Kelinanti.  Ketiganya seolah melindungi Saleman dari pengaruh buruk dunia luar. Bukit-bukit itu berpayung kabut abadi menyatu dengan birunya langit. Sementara di sisi berlawanan, sepanjang mata memandang, laut biru dan hijau toska berpadu membuat pandangan lepas tanpa jarak, membuka semua relung hati, membuang semua gundah dan menggantinya dengan perasaan damai, nyaman dan tenang. Asal tau ajah, sebuah penelitian menyebutkan, mendengarkan deburan ombak dan menatap birunya laut dapat membantu meningkatkan kecerdasaan.

Di tengah kampung berdiri sebuah Masjid dengan suara azan yang memenuhi setiap sudut desa. Ada rasa yang berbeda. Rasa yang sama sekali belum pernah saya rasakan di Jakarta.

blog5

Kata seorang teman, ada emotional feeling, ketika sunrise menjadi saat yang paling dinantikan dan ketika sunset menjadi waktu terbaik untuk merasakan megahnya ciptaan Tuhan. Dan, Saya menemukan semua itu di Saleman.

Saya Jatuh Cinta…

Untuk yg mau ke Saleman dan Ora, sila kontak Bang Andre Kamaruzzaman 085354506962

Hits: 3666

Pagi pagi, sahabat saya Munardi yang lebih tenar dengan nama Alex (gak tau asal muasalnya darimana), sudah menjemput saya di depan mess dengan motor putihnya. Setiap akhir pekan, agenda kami adalah sarapan di warung kopi, menghirup segelas (bahkan kadang hingga dua gelas) sanger dingin yang nikmat dengan nasi kuning berbumbu khas Aceh yang terenak di kota ini.  Selanjutnya bersama teman-teman  kami menyusuri Banda Aceh hingga Aceh besar mulai dari Malahayati hingga Lhok Nga. Naik apa lagi kalau bukan naik motor.

Sebagai pendatang alias anak ibukota (uhukk..) yang haus hiburan, pantai dan warung kopi adalah tempat paling indah. Sayang, seringnya kami sendiri bingung mau kemana. Dan pagi itu, tiba-tiba saja kami memutuskan untuk menelusuri Jalan Malahayati-Krueng Raya. Selain jalannya mulus selicin wajah Ibu Atut, pemandangan di sepanjang perjalanan membuat lelah di boncengan motor menjadi tidak terasa. Dulunya, jalanan ini termasuk yang rusak parah karena bencana dahsyat tsunami 2004. Kini, infrastrukturnya makin cantik, dengan pemandangan gunung, pantai dan deretan rumah-rumah lucu yang diperuntukkan donor untuk korban tsunami.

blog3

Rynal, salah satu teman saya menawarkan untuk mampir ke Benteng Indra Patra. Benteng ini nyaris seperti bangunan tua yang senyap dan tidak terjamah. Sumpah, saya juga awalnya tidak tahu, Aceh menyimpan sisa-sisa budaya Hindu. Setahu saya Kerajaan di Aceh ya cuma Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam tertua. Namun, konon ini adalah peninggalan sejarah  Hindu dari India di Aceh.  Konon, situs ini didirikan sekitar tahun 604 M oleh Putra Raja Harsya yang berkuasa di India, yang melarikan diri dari kejaran Bangsa Huna. Benteng ini merupakan satu dari tiga benteng yang menjadi penanda wilayah segitiga kerajaan Hindu Aceh, yaitu Indra Patra, Indra Puri dan Indra Purwa. Pada masanya, benteng ini digunakan sebagai tempat pemujaan agama Hindu.

IMG_3450

Semasa Kesultanan Aceh, benteng ini berperan sebagai salah satu garis pertahanan dalam menghadapi Portugis. Penataan bangunan, ruang-ruang serta posisi dari masing-masing bangunan dalam benteng memiliki fungsi -masing-masing. Saya bersama teman-teman sempat menaiki temboknya yang tinggi, duduk dan berfoto di lubang-lubang pengintaian sambil memandang laut lepas. Arsitektur benteng ini terlihat memang sudah maju, bahkan ada beberapa bunker penyimpanan senjata di beberapa titik. Dulu juga ada sungai buatan yang mengelilingi benteng ini, untuk menjaga serangan musuh dari daratan.

lubang pengintaian
lubang pengintaian

Memang sebagian besar benteng pertahanan yang ada di Indonesia terletak di tepi pantai. Tapi bagi saya sih, Indra Patra sangat istimewa. Posisinya yang tepat di pinggir pantai yang langsung menghadap Selat Malaka mampu memanjakan mata dan membuat perasaan terasa damai. Disini kita bukan hanya belajar tentang sejarah tetapi juga menikmati indahnya alam Aceh. Kalau jalan-jalan kesini, yakin deh sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan indah khas Aceh. Perpaduan perbukitan dan sedikit gunung kapur di sebelah kanan jalan, berpadu dengan pantai di sebelah kiri jalan. Tidak jauh dari sana, ada Pantai Lhok Me; pantai berpasir putih dengan pepohonan di bibir pantai. Ada juga bukit Suharto dan Pelabuhan Malahayati yang sangat instagramable.

Bersama Alex di Bukit Suharto
Bersama Alex di Bukit Suharto

So, masih ragu-ragu buat ke Aceh?

Hits: 1497

Diajak river tubing pada saat Famtrip Blogger yang digagas Badan Promosi Pariwisata Semarang (BP2KS), saya langsung mikir panjang. Boro-boro bisa ikutan, ngerti river tubing itu apa aja, nggak. Kebayang ini bakal mirip naik Kora-Kora di Dufan yang ujungnya jadi penyesalan seumur hidup. Bedanya river tubing ada airnya dan langsung di alam. Malas deh buat ikutan, Biarin aja dibilang katro dan gak kekinian, daripada mual dan pusing karena badan berputar putar. 

Eh, tapi pikiran itu sekejap berubah saat rombongan blogger memasuki Kawasan Wisata Desa Kandri di selatan Kota Semarang. Disana, kami disambut baik oleh Pak Zubaidi yang menyebut dirinya Pemandu Wisata Kandri. Ia mempresentasikan serunya river tubing, rute dan cara melakukan river tubing. Katanya, jalur yang akan kita lewati adalah jalur Sunan Kalijaga ketika mengumpulkan kayu jati untuk membangun Mesjid Demak, mesjid tertua di Indonesia. Hemmm, kelihatannya mulai menarik niih….

Tanpa ditanya sanggup atau tidak, tiba-tiba belasan blogger sudah berebutan pelampung, pelindung lengan dan lutut hingga helm yang dibawa oleh mobil pick up odong-odong. Yaa, kayaknya seru yaa.. Akhirnya berbekal Bismillahirrahmanirrahim, saya ikutan sibuk juga memilih perlengkapan. Toh, namanya ajal sih udah ada yang ngatur kann? Loh..loh.. Ini sumpah, soalnya saya takuttt. Masih banyak cita-cita belum tercapai, masih banyak dosa dan masih banyak utang… Hiks…

blog4
Are u ready ???!!

Dari meeting point pengarahan tadi menuju lokasi masih membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Persis sapi yang siap dikurbankan, kami diangkut dengan mobil odong-odong tadi menuju Sungai Kranji, tempat tubing dilakukan. Canda tawa sepanjang perjalanan dengan teman-teman blogger, dan pemandangan alam yang meneduhkan mata serta hati yang galau, mengalahkan rasa takut saya.  Eh, sialnya pas milih-milih ban, saya kebagian ban yang agak kempes. Duh, kepikir bakal hanyut dan  bakal tubing sendirian karena teman-teman saya sudah jalan duluan. Sementara mereka saya sudah mulai ber-tubing ria, saya masih menunggu mas-mas guide mencarikan ban baru buat saya. Rasa khawatir yang tadi membuncah, berkurang karena mas-mas ini sabar banget ngajarin dan memandu kita. Ternyata, teman-teman saya pun sebagian masih amatiran, toh setelah “berlayar” sendirian saya tetap ketemu mereka. Hehehe..

Siapa mau duluan??
Siapa mau duluan??

Jeram pertama yang kami temui adalah serupa niagara mini.  Aduh, ini sumpah atuttt banget, padahal tinggi air terjun mini ini tidak lebih dari 100 meter. Posisi yang dianjurkan oleh pendamping adalah membelakangi sungai, menerjunkan ban lebih dulu dan Hap!.. Kalau loncatanmu mantap, kamu bisa langsung duduk manis di atas ban. Tentu saja, saya tidak berhasil dan ban saya berlayar duluan dari Saya. Untungnya (masih untung…) saya bisa berenang, kemudian jadilah sinetron berjudul Jus Semangka Mengejar Ban. Hahaha..

seruuu...
seruuu…

Jeram kedua dan ketiga adalah jeram yang terjal dan cukup curam. Sama, seperti yang pertama; lagi-lagi saya terlepas dari ban. Masih untung (untung lagi….) anggota badan tidak ada yang terbentur, meski rasanya adrenalin sudah berpacu lebih cepat. Nah, pada jeram-jeram berikutnya, saya baru sadar teknik sangat diperlukan (ciyee…udah berasa expert). Posisi kaki dan posisi panggul harus diatur jika melewati jeram. Alhamdulillah setelah bisa mempraktekkannya, saya gak terpisah lagi dengan ban kesayangan saya itu. Malah jadi asyik banget bisa santai melayang-layang di atas air. Saking santainya mungkin bisa sambil ngopi-ngopi dan makan indomie. Bisa juga sambil baca koran dan nonton TV.  *Eh, yang terakhir mah lebay… Dan kami pun sukses hingga etape terakhir dengan total  waktu perjalanan sekitar 3 jam dengan jarak tempuh sekitar 3 km!. Sounds good kan buat pemula… Tau asyik begini saya menyesal kenapa sebelumnya pake acara cemas. Menyesal juga kenapa gak dari dulu ikutan olahraga air begini.

udah bisa santai kayak di pantai,..
udah bisa santai kayak di pantai,..

***

Cukup surprise juga ada  kegiatan ini, Saya pikir Semarang hanya menawarkan liburan ala kota sebagaimana ibukota-ibukota provinsi lain. Namun, hanya sekitar 30 menit dari pusat kota, sudah ada Desa Wisata Kandri yang merupakan potensi pengembangan wisata mandiri binaan Pemerintah Kota Semarang. Konsep desa seperti ini pernah saya temui di Kabupaten Bogor yang memang terletak di bawah kaki Gunung Salak. Ternyata, Kota Semarang pun punya potensi alam yang layak untuk mengundang wisatawan. Asal tahu aja, konsep ini merupakan konsep unggulan yang kini sedang digarap oleh Pemkot Semarang.

Selamat Datang di Desa Wisata Kandri
Selamat Datang di Desa Wisata Kandri

Tidak hanya river tubing, konsep agrowisata juga ditawarkan di Desa Kandri antara lain belajar bercocok tanam, beternak, mengikuti upacara-upacara ritual masyarakat dan sejenisnya. Untuk merasakan benar-benar kembali ke desa, wisatawan bisa  bermalam di rumah-rumah penduduk yang sudah disulap menjadi home stay. Biayanya cuma 50 ribu rupiah saja per kamar per malam! Soal makanan, jangan khawatir! Penduduk desa Kandri adalah masyarakat sadar wisata yang sudah membentuk kelompok-kelompok kerja termasuk kelompok penyedia ransum kita selama disana. Makanan yang disajikan pun adalah makanan tradisional khas desa. Sebagai contoh, selesai tubing yang super capek, kami disuguhi Nasi Kethek. Nasi berbungkus daun jati berisi orek tempe, sayuran dan beberapa lauk. Aroma daun jati dan daun pisang menjadi cita rasa tersendiri di santap siang kami.

Berminat? Bosen kan kalo ke Semarang cuma ke tempat yang itu-itu saja!.

Jelajah Wisata Desa Kandri

Kontak: Zubaidi (0858-7659-5211)

Baca Teman-Teman Saya!

Kak Rian Tempat Wisata dan Kuliner Asyik di Semarang & Bermain tubing di Desa Wisata Kandri
Kak Richo  dari Sam Poo Kong ke Tay Kak Sie
Kak Sinyo FamTrip Bikin #SemarangHebat jadi Trending Topik (Part1) & Famtrip #SemarangHebat jadi Trending Topik (part2)
Kak Leo Jelajah Malam di Lawang Sewu & Kulik Kuliner di Restaurant Semarang
Kak Eka  Semarang Night Carnival 2016 & Lawang Sewu Malam Hari
Kak Taufan Gio Semarang Hebat Culinary Heritage & Semarang Hebat Adventure Carnival
Kak Danan Dongeng Rasa di Restoran Semarang & MG Setos Hotel Terjebak diantara Kubikel Raksasa
Kak Imama Hantaman Jeram Kali Kreo
Kak Chan Ada Tiongkok di Semarang
Kak Titi Gebyar Fantasi Warak Ngendok di Semarang Night Carnival 2016  & Lawang Sewu Kini dan 13 Tahun yang Lalu.
kak Wira Photo Essay : Semarang Night Carnival & Photo Essay Semarang Night Carnival
Kak Luhde Kisah dibalik Kuliner Semarang
Kak Puspa Antusiasme Masyarakat di Semarang Night Carnival 2016
Kak Astin Soekanto Lepaskan Zona Nyamanmu dengan Tubing di Sungai Kreo & Ekspresikan Dirimu di Old City 3D Museum
Kak Ghana Photo Stories Semarak Semarang Night Carnival
Kak Olive Langgam #SemarangHebat Menjaga Harmoni Akulturasi Budaya dari Masa ke Masa
Kak Fahmi Pesta Rakyat Semarang Night Carnival 2016
Kak Bobby Seru-seruan River Tubing di Kali Kreo Semarang
Mas Budi Keseruan Semarang Night Carnival 2016
Kak Nunu, Satu Hari Mengenal Tiongkok di Pecinan Semarang dan Budaya Semarang dalam Fantasi Warak Ngendog

 

Hits: 2114

Pada sebuah siang yang panas di sudut kota Semarang, saya kembali belajar tentang manisnya keberagaman. Saya sebenarnya terbiasa hidup di lingkungan multikultural. Datang dari kedua orang tua yang berbeda suku, sering berpindah-pindah tempat tinggal beda pulau, beda provinsi. Pindah kerja yang juga tidak kalah sering. Semua yang membuat saya akrab dengan perbedaan. Dan siang itu, di jalan kecil bernama Gang Lombok di sudut Pecinan Semarang, mata saya kembali terbuka bahwa perbedaan itu sejatinya menyatukan bukan memisahkan.

Seorang Ibu Guru beretnis Tionghoa mengenalkan murid-muridnya yang telah terlatih memainkan barongsai. Sekitar 10 menit kami disuguhi pertunjukan Barongsai dari murid-murid SD dan SMP Kuncup Melati di bawah Yayasan Khong Kauw Hwee. Guru-guru lain yang berhijab ikut serta memberikan semangat pada murid-muridnya. Sekolah ini memang ada di kawasan Pecinan, namun sama sekali tidak ada ekslusivitas satu golongan disini. Uniknya lagi, Yayasan menerima setiap murid dari latar belakang apapun terutama dari keluarga tidak mampu dan tidak serupiah pun iuran harus dikeluarkan oleh para siswanya.

Bersama Siswa Sekolah Kuncup Mekar Foto by : kopertraveler.id
Bersama Siswa Sekolah Kuncup Melati Foto by : www.kopertraveler.id

Tidak jauh dari sana, ada Kelenteng Tay Kak Sie. Mungkin selama ini Kelenteng di Semarang yang dikenal orang hanya Kelenteng Sam Poo Kong, tapi sebenarnya di Ibukota Jawa Tengah ini ada sekitar sembilan kelenteng, dan Tay Kak Sie ini salah satu yang tertua. Kelenteng yang dibangun 1772 ini, memang lebih kecil, tapi nafas vintage-nya sangat terasa. Ornamen merah dan naga di atapnya mengokohkan posisinya sebagai tempat ibadah. Masih satu komplek berdampingan dengan Tay Kak Sie, ada Rumah Abu, sebuah bangunan serupa kelenteng untuk meletakkan pundi-pundi abu jenazah. Disini juga ada Sin Chi (papan arwah) sebuah lempengan kayu yang bertuliskan nama mereka yang sudah dikremasi. Selain untuk didoakan, Sin Chi juga seakan mengingatkan kita bahwa kematiaan adalah hal yang paling pasti terjadi. Di Tay Kak Sie kami juga disuguhi drama dengan tarian komedi  oleh perkumpulan anak-anak muda kelenteng ini. Menarik!

Bersama Pengurus dan Pemuda Kelenteng Tak Kay Sie
Bersama Pengurus dan Pemuda Kelenteng Tak Kay Sie

Masih di Kawasan Pecinan Semarang, saya juga berkunjung ke Perkoempoelan Sosial Boen Hiang Tong (Rasadharma). Saya penasaran, katanya ada Sin Chi Gus Dur disimpan di gedung tua ini. Iya,.. Gus Dur alias KH Abdurrahman Wahid, Presiden RI Ke-4.  Loh, kok bisa ? Beliau kan muslim?!  Dilala, ini adalah bentuk penghormatan warga Tionghoa di Semarang kepada Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme yang dianggap banyak memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.  Bahkan yang meletakkan Sin Chi itu, Ibu Sinta Nurriyah sendiri, loh! Saya sampai takjub, ternyata berbeda itu indah. Seperti air dan minyak yang tidak bisa bersatu, tetapi bisa hidup berdampingan.

Sin Chi Gus Dur
Sin Chi Gus Dur

Tidak itu saja, keberagaman juga ditunjukkan oleh sekelompok anak muda yang tergabung dalam Muda mudi Perkumpulan Sosial Rasadharma. Mereka bertekad melestarikan budaya Pecinan Semarang melalui sejumlah program-program positif. Sesuatu yang mungkin sudah agak langka di kota besar. Uniknya, anggota kelompok ini tidak hanya datang dari anak muda keturunan Tionghoa, tetapi siapa pun, etnis mana pun yang memiliki konsen pada budaya Semarang dan Pecinan pada khususnya. Tidak heran ketika kami berkunjung, seorang gadis muslim berhijab yang fasih berbahasa Mandarin  dan piawai memainkan alat musik Pecinan pun- turut serta.

Sebenarnya, sejarah memang berbicara bahwa akulturasi budaya Tionghoa, Islam dan Jawa sudah mendarah daging di Semarang. Kelenteng Sam Poo Kong yang sangat terkenal, menurut historinya adalah peninggalan Laksama Ceng Ho asal Tiongkok yang justru beragama Islam. Perjalanan Cheng Ho disebut-sebut sebagai ekspedisi yang menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Ketika ia akan melanjutkan perjalanan, banyak anggota rombongannya yang tetap tinggal di Semarang. Sebagian dari mereka sudah memeluk Islam dan sisanya masih beragama Konghucu. Mereka inilah yang kemudian hidup berdampingan hingga kini.

Sam Poo Kong, A Must Visit in Semarang
Sam Poo Kong, A Must Visit in Semarang

Masih dalam rangkaian kegiatan yang digagas Badan Promosi Pariwisata Semarang (BP2KS), malamnya saya dan teman-teman blogger menghadiri Semarang Night Carnival (SNC). Kegiatan ini digelar sebagai rangkaian dari HUT Kota Semarang ke 469. Tema kali ini tetap sama; keberagaman dalam kesatuan dengan tajuk Festival Warak Ngendog. Warak Ngendog adalah hewan rekaan mistis yang menggambarkan akulturasi budaya dan sejak dulu dipercaya oleh leluhur Semarang. Kepalanya berbentuk kepala naga merupakan simbol China, badannya adalah Bouroq, simbol warga Arab/Muslim dan kakinya adalah kaki Kambing yang menjadi perlambang suku Jawa. Ketiga kelompok itulah yang mendiami Kota Semarang sejak dulu yang hingga kini tetap rukun dan damai. Usai dibuka oleh Walikota Semarang, acara dilanjutkan dengan penampilan drumband dari PIP Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang. Kemudian diikuti arak-arakan Warak Ngendog, Defile History of SNC dan diakhiri dengan defile dari Jepara Fashion Carnaval.

Semarang Night Carnival
Semarang Night Carnival

***

Di Semarang sehari merasakan indahnya perbedaan. Makin salut saya, dengan founding father negeri ini yang jauh-jauh hari sudah menjadikan Pancasila sebagai dasarnya. Sayang, kini keberagaman yang seharusnya menjadi kekayaan dan potensi dijadikan sebagian orang sebagai alat pemecah belah. Kita kurang belajar apalagi dari politik Devide Et Impera-nya Kompeni Belanda. Ayo, kembali belajar dari Semarang, belajar merasakan Indonesia yang sebenarnya!

Baca juga cerita teman-teman saya yah!

Rian, Tempat Wisata dan Kuliner Asyik di Semarang
Rian, Bermain Tubing di Desa Kandri
Richo, Dari Sam Poo Kong ke Tay Kak Sie
Sinyo, Trending Topik Semarang Hebat
Leo, Jelajah Malam di Lawang Sewu
Eka, Semarang Night Carnival 2016
Badai, Semarang Hebat Culinary Heritage
Danan, Dongeng Rasa di Restoran Semarang
Imama, Hantaman Jeram Kali Kreo
Farchan, Ada Tiongkok di Semarang
Wira, Photo Essay Semarang Night Carnival
Parahita, Gebyar Fantasi Warak Ngendog
Nunu, Satu Hari Mengenal Tiongkok di Pecinan Semarang
Luh De, Kisah Dibalik Kuliner Semarang
Puspa, Antusiasme Masyarakat di SNC
Astin, Lepaskan Zona Nyamanmu di Sungai Kreo
Budi, Keseruan Semarang Night Carnival
Ghana, Photos Stories, Semarak SNC
Olive, Langgam SemarangHebat

 

Hits: 6111

Sebenarnya saya ini bukan traveler-traveler banget. Kalau kata Rangga di AADC 2 (yang sukses bikin gagal move on), traveling itu kegiatan pergi ke suatu tempat, cenderung tanpa planning dan itinerary, mencari dan menemukan hal-hal yang orang lain tidak tahu dan lebih menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Sementara liburan lebih “nyaman” dari traveling. Tidur di hotel yang baik, itinerary-nya jelas dan lebih banyak santainya. Nah, gara-gara itu, saya tiba-tiba teringat, beberapa tahun yang lalu saya pernah traveling dari Banda Aceh ke Brastagi dan Pulau Samosir bersama beberapa orang teman. Mereka sahabat-sahabat saya sesama pekerja kemanusiaan pasca tsunami Aceh.

taksi apa besi tua ?
taksi apa besi tua ?

Bertolak dari Aceh ke Medan sih masih gaya horang kayah, alias naik pesawat. Padahal, kalau perjalanan darat Banda Aceh-Medan bisa ditempuh sekitar 12 jam saja. Nah, dari Medan ke Brastagi, kami benar-benar tidak punya clue harus naik apa. Kendaraan umum yang kami tahu cuma sejenis minibus sejenis L300.  Untuk menuju terminal L300 ini kami naik taksi  (baca: rongsokan taksi yang odong-odong banget). Kayaknya waktu itu kita lagi program pengiritan nasional.  Petualangan pertama kami dimulai dr L300 itu. Bayangin, isi mobil kecil itu penuh banget. Dari inang-inang, tulang-tulang, sayur mayur bahkan hewan ternak.  Perjalanan dengan kangkung dan ayam pernah saya rasakan beberapa tahun sebelumnya, ketika menumpang kereta ekonomi jurusan Jakarta-Pandeglang. Lumayan, dua jam menuju Brastagi sempit-sempitan di dalam kabin dan jauh dari nyaman membuat perjalanan itu menjadi tidak terlupakan.

IMG_1977

Brastagi itu, udaranya mirip-mirip Puncak Bogor. Tapi tentu saja tidak super padat dan sesak seperti Puncak. Kami hanya mampir sehari di Brastagi, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Danau Toba dan Pulau Samosir. Dari Brastagi ke Samosir ditempuh sekitar empat jam. Kali ini, karena anggota rombongan bertambah, kami memutuskan menyewa mobil plus supir. Sepanjang jalan kami dimanjakan oleh pemandangan perbukitan yang indah banget. Selanjutnya Ajibata menuju Tomok (Samosir) kami menumpang kapal ferry standar penyeberangan nasional deh. Yah, gitu-gitu aja.. Panas, bangkunya keras, makanannya gak enak dan penuh sesak. Tapi karena jaman itu masih muda, masa yang berapi-api (emang sekarang tua banget apaah?), kami menjalani semua dengan ikhlas dan damai.

DSC_0215
Pelabuhan Tomok

Kegiatan  kami selama tiga hari di Samosir mulai dari muterin pulau pake sepeda, nonton tarian tortor, belanja sampai sholat Ied! Serius… kebetulan saat itu bertepatan dengan Lebaran Idul Adha, jadilah kami kaum minoritas di kalangan penduduk samosir yang hampir seluruhnya non muslim. Disini ceritanya!

damai di tepi toba
damai di tepi toba

Banyak cerita yang selalu saya kenang dari liburan singkat ini. Cerita tentang Aceh dan kehidupan saya dulu selama disana, tidak ada habisnya. Sahabat-sahabat Saya di Aceh dulu adalah orang-orang terbaik yang pernah saya temui. Harus diakui, mereka sudah memberi banyak warna dan mempengaruhi hidup saya. Perjalanan ke Samosir ini adalah salah satu rangkaian yang masih selalu saya kenang. Sayang kalau tidak diabadikan ke dalam satu tulisan.

Hits: 1696

Bagi sebagian wanita, bepergian kadang merepotkan karena urusan packing barang bawaan Sampe-sampe, rasanya semua isi kamar wajib dibawa. Misalnya saja, pakaian dan sepatu yang harus berbeda di setiap occasion, topi, kacamata hitam, segala macam perawatan tubuh, berbagai perangkat kosmetik mulai dari bedak, lipstik, maskara bahkan mungkin saja ada yang harus membawa bulu mata palsu anti badai. Rempong deh cyinn…. Kalau liburan kita ala Princess Syarini yang lengkap dengan dayang-dayang, mungkin over bagasi serupa pindah rumah pun tidak masalah. Tapi kalo liburan “prihatin”, alias semi backpacker, ini merepotkan sangat! Bukan saja mengurangi kenyamanan diri sendiri, tetapi juga membuat teman traveling kita ikut-ikutan gak nyaman. Saya sih kalau ngeliat teman terseok-seok membawa gembolan berat, rasanya gak tega kalau gak bantuin. Tapi setelah tau isi bawaannya, dimana daster saja ada 4 biji, baju berbagai warna dan aksesoris gak penting, jadinya malah beteee. Belum lagi, bawaan yang ribet akan memperlambat gerakan kita.

Padahal agar praktis, sebaiknya bawa saja barang yang penting untuk efisiensi dan tentunya menghemat biaya bagasi. Berikut tips dari Tiket2.com untuk mempersiapkan packing saat liburan.

Pahami kebutuhan saat travelling
Itinenary akan membantu Anda memahami kebutuhan saat travelling agar membawa barang yang penting saja. Sebagian wanita sering dihinggapi perasaan khawatir ada yang kurang atau ketinggalan seperti khawatir kurang baju, khawatir kurang peralatan mandi atau khawatir kurang duit (eh, itu mah saya). Padahal kekhawatiran seperti itu ujungnya justru membuat isi koper dipenuhi barang-barang yang akhirnya malah tidak digunakan.

Buatlah check list
Ini hal yang penting banget! Setelah memahami kebutuhan travelling, segera buat check list mengenai barang apa saja yang harus dibawa. Hindari packing mendadak sebelum hari H, sehingga masih ada waktu untuk mempertimbangkan barang apalagi yang wajib dibawa atau bahkan harus dikurangi. Sesuaikan check list dengan itinerary dan kebutuhan seperti contoh di atas. Tips lain, jika ada barang-barang yang bisa ditemukan dengan mudah di lokasi traveling, sebaiknya dibeli di tempat, contoh peralatan mandi. Jika menginap di hotel yang cukup baik, saya jarang membawa handuk. Berat satu biji handuk, lumayan loh! Hindari juga membawa banyak aksesories, bawalah yang bisa dikenakan di segala suasana.  Khusus untuk pakaian, disarankan untuk membawa pakaian yang eye catching dan mix and match. Selain bisa bikin foto kita “instagramable”, juga membuat bagasi  menjadi lebih efisien.

travel-packing

Jangan melipat baju
Biasakan menggulung baju dibandingkan dengan melipat baju. Menggulung terbukti menambah ruang di ransel atau koper kita. Agar lebih aman, taruh pakaian di dalam sebuah plastik, agar terlindung dari basah. Manfaatkan berbagai kantong atau tempat di koper/ransel untuk membuat barang bawaan menjadi “managable”. Selipkan 1-2 buah kantong kresek untuk memisahkan pakaian bersih dan kotor. Siapkan juga karet, peniti atau gunting kecil yang biasanya bermanfaat saat travelling. Tips ini cocok banget buat cewek-cewek yang berlibuar ala petualang.

Hindari membawa pakaian tebal
Jika Anda terpaksa harus membawa pakaian tebal, sebaiknya dipakai saja agar tidak menambah beban berat tas atau koper. Atau jika tidak membawa pakaian tebal, gunakan pakaian berlapis, sarung tangan, dan kaos kaki sebagai alternatif. Kalaupun berlibur ke daerah dingin, bawa hanya 1-2 buah yang berwarna netral, agar mudah dipadupadankan.

Letakkan benda berat di bawah tas
Sepatu, sandal, dan baju bisa diletakkan di bagian bawah koper atau tas traveller. Untuk barang kecil seperti tas kosmetik, perlengkapan mandi, kacamata, makanan, letakkan di bagian atas atau kantung yang terpisah dan gampang diambil.

Bawalah dua tas saja
Dua tas ini termasuk satu buah tas kecil dan tas besar. Tas kecil digunakan untuk menaruh dompet, paspor, tiket pesawat, kamera poket, kosmetik atau obat-obatan. Isi tas besar dengan semua baju dan perlengkapan liburan lainnya.

Silahkan share artikel ini jika bermanfaat untuk Anda ya, ladies traveler! Yuk Liburan !

 

Hits: 1051

Buat saya yang sering traveling, menemukan kamar hotel atau penginapan yang nyaman adalah tantangan tersendiri. Dengan sebagian besar gaya liburan yang simple, praktis dan backpacking, harga selalu menjadi konsen utama saya dalam memilih hotel. Walapun demikian, kamar yang bersih, nyaman, lokasi strategis juga tidak kalah pentingnya. Gak mau dong tinggal di kamar yang bikin liburan jadi ribet dan bukannya refreshing, malah kita tidak nyaman untuk beristirahat. Urusan pesen kamar ini memang keliatan simpel, tapi survei membuktikan biaya penginapan umumnya adalah salah satu budget terbesar dalam liburan. Untuk mengakalinya, sebagai traveler kita harus pandai mengatur strategi. Kalau saya, strategi pertama liburan adalah, menentukan hari libur justru bukan saat liburan panjang. Poin awal ini penting banget. Selain harga-harga bisa melonjak 2-3 kali lipat saat musim liburan, rasanya menikmati tempat wisata yang penuh sesak juga bukan sesuatu yang menyenangkan. Buat yang kerja kantoran, simpen jatah cuti baik-baik ya..

Baru baru ini saya menemukan website www.airyrooms.com yang menawarkan konsep berbeda dibandingkan berbagai online travel agent yang sudah lebih dulu eksis. Ternyata airyrooms juga sudah banyak direkomendasikan oleh teman-teman traveler. Airyrooms adalah sebuah perusahaan teknologi di bidang hospitality yang istilah kerennya adalah Virtual Hotel Operator (VHO) yang bermitra dengan berbagai hotel budget terbaik di seluruh Indonesia. Kini airyrooms telah memiliki jaringan di lebih dari 18 kota dan akan terus bertambah.

sumber: airyrooms.com
sumber: airyrooms.com

Hotel Budget dengan Fasilitas Oke
Nah, buat kamu-kamu yang ingin pelesiran yang tetap nyaman namun budget terbatas, Airyrooms wajib banget jadi pertimbangan. Uniknya, meskipun kamarnya tersebar dimana-mana dan dikelola sendiri oleh hotel/penginapan partner, Airyrooms memberi standar yang sama untuk setiap kamarnya. Jadi jangan khawatir, kita tetap bisa menikmati fasilitas yang sama di seluruh jaringan Airyrooms diantaranya AC, TV layar datar, air hangat, wifi gratis, air minum gratis dan lain-lain. Tentu saja kita masih bisa mendapatkan fasilitas lain yang memang disediakan oleh hotel partner. Enaknya lagi hotel-hotel yang bermitra dengan Airyrooms dijamin ada di lokasi strategis yang sebagian besar tidak jauh dari tempat-tempat wisata terkenal di kota-kota yang menjadi jaringan Airyrooms.

Soal harga, Airyrooms menjamin harga kamar mereka sangat bersaing dengan hotel-hotel terkemuka seperti hotel aston, whiz, swiss belinn, holiday inn, ibis, mercure, harris hotel, 1o1 hotel, padahal fasilitasnya bisa sama dengan hotel-hotel tersebut. Gak percaya, silakan cek beberapa testimonial dan review-nya di online travel agent lain seperti Traveloka dan Tripadvisor.

Review Hotel Airy Pakuan Bogor

Review Hotel Airy Airy Citraland International Surabaya

 

 

Pesan dan Bayar Mudah
Satu lagi keunggulan Airyrooms, jika kalian berada di daerah dengan akses internet yang terbatas, pemesanan bisa dilakukan melalui telepon dan aplikasi whats app. Proses pembayaran sepenuhnya akan dibantu oleh Customer Services yang siap melayanin 24 jam! Ini tentu inovasi baru, karena Airyrooms bisa jadi adalah travel agent online  pertama yang menyediakan pemesanan via whats app. Satu lagi, harga yang tertera di website Airyrooms sudah net alias tidak ada pungutan biaya macam-macam transaksi. Metode pembayaran pun sangat simple, bisa transfer atau menggunakan kartu kredit. Masalah keamanan, jangan khawatir. Airyrooms menjamin semua transaksi aman dan terkendali!

Buat yang mau rame-rame, banyak juga kamar yang ditawarkan cocok buat kita kita yang mau liburan bareng keluarga dan sahabat. Asik kan, selain harga terjangkau ,kalau rame-rame malah jadi lebih murah lagi, karena kita bisa sharing.  Pilihannya pun beragam, dari sekedar hotel yang hanya tempat transit, hingga hotel yang menyediakan fasilitas-fasilitas lain seperti kolam renang, fitness center atau tempat bermain anak.

source: airyrooms.com
source: airyrooms.com

Mau tau dimana saja lokasinya dan mau booking hotel yang murah dan fasilitasnya memadaiYuk ke Airyrooms! Happy Holiday

Hits: 918

Kembali ke Sabang bagi saya adalah kembali menyusuri harapan. Harapan yang sembilan tahun lalu pernah menemani hari-hari saya. Dulu, Sabang mungkin hanya sebuah kata yang saya dengar dari salah satu lagu wajib anak sekolah. Sabang cuma sebuah kata yang menunjukkan pangkal dari luasnya wilayah negara ini. Pesona Bahari Sabang laksana magnet yang terlalu kuat sehingga saya tidak kuasa untuk menolak panggilannya kembali,

Melewati kontur Sabang yang berkelok mengingatkan saya pada jalan menuju Pantai Senggigi di Pulau Lombok, tempat pertama kita bertemu. Saya mencoba meresapi sisa-sisa cinta yang mungkin masih membekas di tepi Pantai Iboh dan Pantai Gapang. Dulu disini kita pernah memandang temaramnya bulan dari bibir pantai berpasir putih yang landai hanya beralaskan tikar lusuh. Saat itu saya berharap ada bintang jatuh, kemudian saya ingin meminta kepada Penciptanya, agar kita bisa disini lebih lama. Membangun villa kecil di tepi Iboh dan mewujudkan mimpi saya untuk lebih banyak menulis sambil memandang laut lepas berhiaskan pohon nyiur dari jendela kamar kita. Ya, saya bosan dengan kehidupan dan hiruk pikuk Jakarta. Memandang laut lepas dengan siluet perahu nelayan dan membiarkan waktu seolah berhenti berputar adalah tujuan saya kembali kesini.

Malamnya, kita menikmati seafood yang bumbunya kamu racik sendiri sembari mendengar debur ombak yang seolah bercerita tentang kita. Obrolan malam kita selalu dilengkapi dengan meneguk nikmatnya kopi Aceh. Meskipun banyak perbedaan diantara kita, kamu sama seperti saya; penikmat kopi. Kopi itu sama seperti cinta, dia menyatukan meskipun selalu terasa getir diawal, manis akan kita rasakan di ujung hirupannya. Seperti cinta, kopi pun membuat candu, meskipun rasa pahit tak sepenuhnya hilang dari aromanya. Dan ini Aceh, si penghasil kopi kelas dunia. Namun sejatinya Ini bukan hanya tentang kopi. Ini bukan hanya tentang dimana kita menikmati kopi itu. Ini adalah cara kita berbagi cerita, cari kita berbagi rasa. Kopi adalah suara hati dan potongan rindu. Rindu kamu, rindu Aceh, rindu Sabang.

Di sebuah pagi kamu menantang untuk berenang dari Iboh menuju Rubiah yang hanya berjarak sekitar 350 meter. Gila memang… tapi itu biasa bagi turis, divers dan penikmat wisata bahari seperti kita. Bagi saya, pesona taman laut Rubiah tetap bisa dinikmati tanpa harus berenang menuju pulaunya. Teman-teman divers yang saya kenal, bahkan pernah mengatakan Rubiah adalah salah satu spot terbaik untuk diving dan snorkeling terbaik di Indonesia bahkan di dunia. Begitu banyak kegiatan wisata bahari di Sabang yang kamu ceritakan kepada Saya. Saya bahkan baru tahu, Sabang juga menawarkan kegiatan memancing di laut dalam (deep sea fishing) di dekat Pulau Rondo.

 

Mari-Rayakan-Sabang-Marine-Festival-2016-Lewat_Tulisan (1)

 

Kamu juga sempat mengajak Saya, berjalan kaki menuju Tugu KM 0. Menyusuri tepian tebing dengan pepohanan rindang. Luar biasa bahagianya saya bisa sampai di ujung terbarat Indonesia itu. Sesuatu  yang dulu mungkin cuma mimpi. Tugu itu, kini telah direnovasi menjadi lebih menarik, meskipun bentuk aslinya masih sama. Konon di Merauke, batas terujung timur Indonesia pun memiliki bentuk tugu yang seragam. Yang selalu saya ingat, kamu bahkan hapal hewan-hewan yang sudah lama berdiam di seputaran tugu itu. Sampai-sampai kamu punya nama untuk menyebut seekor monyet dan seekor babi hutan yang sepertinya sudah sangat welcome terhadap turis-turis disana. Uniknya lagi, mungkin Tugu KM 0 adalah satu-satunya tempat di Indonesia yang memberikan sertifikat kepada para pengunjungnya. Dan, nomer sertifikat saya adalah 59525. Artinya saya adalah pengunjung ke 59525 yang mendapat sertifikat dari Walikota Sabang. Cinderamata paling unik yang pernah saya dapatkan dari sebuah daerah bahari. Tidak hanya tugu, dibanding dulu hampir semua fasilitas wisata mulai dibenahi. Saya merasakan nafas wisata bahari sudah menjadi bagian seluruh penjuru Sabang. Kota kecil yang tenang, rindang, penduduk yang ramah membuat saya betah berlama-lama disini. 

Hari ini, disini, Saya duduk di batuan terujung Indonesia. Tadi malam sepertinya hujan, pepohonan disini pun masih basah. Namun Saya suka bau hujan,  seperti rasa suka saya pada kopi Aceh, pun seperti  rasa damai yang menyergap kala memandang birunya air Samudera Hindia. Merasakan indahnya negeri ini membuat saya makin bangga jadi warga nusantara. Bedanya, saat ini Saya sendiri. Sembilan tahun lalu, saya kehilangan berita tentang kamu, namun cerita sesaat kebersamaan kita akan selalu jadi cerita abadi bagi Saya. Kamu memang pergi, tapi jejak-jejak cerita kita di Sabang akan selalu jadi prasasti di hati Saya. Kapan pun dan kemana pun saya melangkah, Sabang adalah tempat kembali.

 

Hits: 1562

Kalau sesekali berkunjung ke Sumatera Selatan, bolehlah mampir-mampir ke Pagaralam, kota kecil di kaki Gunung Dempo berjarak kurang lebih 6 jam dari Kota Palembang. Enam Jam? Jauh juga yaa, bro.. Tapi tenang, pemandangan indah sepanjang perjalanan tidak akan membuat enam jam itu menjadi perjalanan yang membosankan. Kalau punya dana lebih, bisa juga naik pesawat kecil (yang sayangnya jadwalnya masih terbatas). Atau, jika sedang ke Bengkulu, tidak ada salahnya juga meluangkan waktu sekitar 4 jam menuju Pagaralam.

CIMG1331
Bye.. Jakarta.. 🙂

Mungkin banyak yang berpikir Puncak adalah maskot pegunungan dan kebun teh padahal Pagaralam juga kebun teh yang dikelola oleh PTPN VII. Kontur daerahnya pun nyaris sama dengan Puncak Bogor. Kantor Pemerintahan di Pagaralam menurut saya adalah salah satu lokasi yang paling unik karena berada di perbukitan menuju kebun teh. Dua lokasi kantor pemerintahan yang juga “lucu” menurut saya adalah Provinsi Gorontalo yang juga di perbukitan dan Kantor Bupati Badung, Bali yang mewah, luas ibarat Pura di perbukitan. Uniknya di Pagaralam ada undakan anak tangga yang sering disebut Tangga 1000 di tengah-tengah kebun teh. Lumayan kan, gak usah tracking kalau mau jalan-jalan kesini. Kalau mau menikmati sawah seperti di Ubud, pun ada di Pagaralam. Bedanya, disini daerahnya masih sangat alami. Belum banyak villa-villa mentereng, taman-taman wisata apalagi seperti hotel – hotel di Bali.

IMG_1754
Ini bukan Puncak!

Kembali ke Pagaralam adalah kembali ke alam. Disini ada beberapa air terjun yang masih sangat alami yang bahkan sepertinya kurang “diurus” oleh Pemerintah. Kurang lebih tercatat ada 6 air terjun disini: Curug Ayek Kaghang, Curug Batu Betulis, Curug Basemah, Curug Embun, Curug Lematang Indah, Curung Mangkok. Oya, orang sini menyebut Curug dengan Cughung (dengan penyebutan huruf r yang agak cadel. Nah, di perjalanan menuju Pagaralam pun, akan ditemui jurang berkelok seperti kelok 8 di Sumatera Barat. Bagi yang senang sejarah, Pagaralam juga banyak menyimpan sisa-sisa jaman megalitikum yang lagi-lagi memang belum dianggap aset yang penting. Beberapa tahun terakhir, pemerintah nampaknya mulai melek akan potensi Pagaralam. Karena tanahnya yang subur beberapa hasil perkebunan salah satunya teh dan kopi, sudah dikemas secara ekslusif yang cocok banget buat oleh-oleh. Asal tahu aja, Pagaralam adalah salah satu pemasok sayuran segar untuk wilayah Sumbagsel.

IMG_20140729_133127
paling enak makan di pinggir sawah…

Kalau ingin merasakan liburan ke rumah nenek, seperti lagu anak-anak jaman dulu, Pagaralam-lah tempatnya! Merasakan kembali makan di sawah, memetik sayur dan menangkap ikan sendiri adalah liburan yang terkadang nilainya lebih “mahal” daripada jalan-jalan di mall. Di daerah-daerah lain seperti Bogor, Bandung atau bahkan seperti agrowisata yang sudah penuh Hotel di Bali adalah hal yang sudah banyak dijumpai, namun belumlah demikian di Pagaralam. Biarlah Pagaralam tetap dengan keasrian dan alami-nya. Biarlah (untuk sementara) Pagaralam menjadi Pagar Alam yang sesungguhnya. Jauh dari polusi, jauh dari tangan-tangan jahil dan jauh dari hiruk pikuk dunia kota.

Hits: 1021

Namanya Supardi. Saya mengenalnya hanya beberapa hari dalam perjalanan umroh beberapa waktu lalu.  Kami tergabung dalam rombongan yang sama. Kami sebenarnya  tidak intens berkomunikasi, hanya sesekali di sela ibadah atau dalam perjalanan tour di di dalam bis. Terakhir saya berbincang cukup lama ketika menunggu keberangkatan pesawat kami kembali ke Jakarta.

Kalau ada sinetron tukang bubur naik haji, nah ini cerita tentang tukang sayur pergi umroh. Supardi, don’t judge a book by its cover… Datang bukan dari keluarga berpunya dan berprofesi sebagai pedagang sayur keliling di sebuah daerah di pinggiran kota Bandung –tidak menjadi alasan untuk tidak memenuhi panggilan Allah.

supardiUsianya belum genap 25 tahun. Awalnya saya pikir ia salah satu anggota dari rombongan yang mendapatkan hadiah umroh dari sebuah institusi di Bandung. Dari gerak gerik, pembawaaan dan cara bicaranya kita pasti bisa menebak bahwa ia bukan dari kalangan “luar biasa”. Pertama kenal dia cuma bilang; “Saya kerjanya di pasar”. Kelihatan, Ia juga bukan orang dengan pendidikan tinggi. Saya lupa menanyakan pastinya. tapi sepertinya ia hanya sempat bersekolah hingga SMP. Namun dalam caranya bertutur sama sekali tidak ada rasa rendah diri malah terkesan sangat bersahabat.

Selama umroh saya jarang bertemu dengannya, sepertinya dia lebih banyak beri’tikaf di masjid. Belakangan dia baru memberi tahu, selama program yang hanya 10 hari (plus perjalanan) itu, ia berusaha menamatkan Al Qur’an. Luar biasa menurut saya (baca: dibandingkan dengan saya yang suka males-malesan) Tak jarang setiap mengaji Supardi menangis, karena sama sekali tidak terbayangkan bisa sampai jazirah Arab. Frekuensinya melakukan rukun umroh juga lebih banyak dibanding jamaah lain. Hebatnya lagi karena perawakannya yang kecil, ia berhasil menerobos ke depan hajar aswad melalui kaki-kaki jamaah yang berebutan mencium batu hitam itu. Sementara untuk mencapai batu itu, perjuangan “mengalahkan” jamaah dengan badan-badan super besar berkulit hitam tentu bukan hal mudah. Benar-benar berkah Allah buat Supardi.

Di obrolan terakhir, ia banyak bercerita tentang perjuangannya menuju Baitullah. Setahun terakhir, setiap pulang kerja ia selalu menangis jika melewati sebuah masjid di kampungnya. Tiba tiba saja terbersit keinginan yang sangat kuat untuk pergi ke tanah suci. Berbagai cara yang halal pun diupayakannya.  Selama setahun ia berusaha melunasi dulu hutang modal jualan sayur ke koperasi di desanya. Setelah lunas, barulah ia menabung untuk memenuhi mimpinya itu.  Ia mengaku juga dibantu oleh seorang pemuka agama di desa yang menguatkan untuk menyisihkan laba dagangannya. Hingga awal Maret 2013, ia sama sekali tidak menyangka jika Pak Ustadz itu sudah mendaftarkannya untuk berangkat di bulan April ini. Tentu saja bekal tabungannya belum cukup. Dalam waktu kurang dari sebulan, ia pun “jungkir balik” mencukupi biaya yang totalnya mencapai Rp18 juta. Jumlah yang bukan sedikit, apalagi harus dicukupi dalam waktu kurang dari sebulan.  Anehnya, ada saja jalan halal untuk mendapatkan uang lebih.  Ia sendiri bingung, baru kali ini jualannya bisa mendapatkan untung hingga Rp2 juta dalam seminggu. Masyaallah..

Dari semua cerita panjangnya, saya terkesima ketika ia mengatakan; “betapa adilnya Allah yang menurunkan Islam di bumi Arab Saudi yang gersang, tandus dan nyaris tidak ada apa-apa”. Saya diam, mencoba mencerna apa yang ia katakan dengan analisis yang tidak terlalu tinggi-tinggi.  Ternyata jawaban dia sungguh di luar imajinasi dan kemampuan analisis saya (yang sok tinggi). Katanya (dengan dialek Sunda-nya yang kental): “Coba bayangkeun, kalau Islam turun di Pulau Jawa yang subur, siapa yang mau bercocok tanam?  Siapa yang mau memanfaatkan hasil bumi?” Semua akan sibuk beribadah seperti hiruk pikuk di Tanah Haram. Jlebb!!! Pernahkah saya berpikir begitu? Kayaknya belum pernah deh…..dan saya yakin lingkungan saya yang penuh dengan orang-orang sekolahan dengan pekerjaan mentereng dan mengaku beriman, belum tentu juga berpikir yang sama. Ya Allah, Supardi pedagang sayur keliling yang tidak makan bangku sekolahan ini membuka mata saya, bahwa Allah juga begitu adil memberikan ia pemikiran sederhana tapi mendalam. Bahwa pada akhirnya dunia dan akhirat memang harus seimbang, hingga sedetail itu alasan Allah menurunkan Islam di Tanah Arab.

Kemudian kami berpisah, mungkin ia sudah lupa dengan saya, namun terima kasih Supardi, kamu sudah memberi keyakinan lagi, bahwa buat pergi ke Tanah Suci bukan masalah waktu dan masalah biaya tapi masalah niat yang kuat. Terima kasih juga sudah membuka mata saya untuk tidak boleh memandang rendah orang lain dari kalangan mana pun ia berasal. Semoga kapan-kapan kita bisa ketemu lagi, yah..  Oh, ya kalo sempet baca ini (mungkin gak, Supardi googling-an??.. Thanks juga waktu di bandara sempet gotong-gotong jatah air zam-zam saya yang 10 liter itu… 🙂

Tulisan bersama-sama dengan Komunitas TravelBloggerIndonesia untuk 14 Februari. #travelmate. Yuk dibaca posting teman-teman saya berikut ini..

1. Shabrina – 14 Signs You Found The Perfect Travel Mate
2. Astin Soekanto – Travelmate, Tak Selalu Harus Bareng Terus Traveling Kemana-mana
3. Parahita Satiti – #UltimateTravelmate: Rembulan Indira Soetrisno
4. Dea Sihotang – Hindari 7+1 Hal Ini Saat Sedang Ingin Cari Teman Jalan
5. Titiw Akmar – 10 Alasan Mengapa Suami Adalah Travelmate Terbaik
6. Mas Edy Masrur – Istriku Travelmate-ku
7. Olive Bendon – My Guardian Angel
8. Leo Anthony – Travelmate(s), It’s Our Journey
9. Indri Juwono – Si Pelari Selfie, sebut saja namanya Adie
10. Rembulan Indira – Ultimate Travelmate : Kakatete
11. Karnadi Lim – Teman Perjalananku dan Kisahnya
12. Rey Maulana – Ke Mana Lagi Kita Berjalan, Kawan?
13. Atrasina Adlina – Menjelajah Sebagian Ambon Bareng Bule Gila
14. Richo Sinaga – My Travelmate, Pria Berjenggot dengan Followers 380K
15. Puspa Siagian – Travelmate : GIGA
16. Sutiknyo Tekno Bolang – Mbok Jas Teman Perjalanan Terbaik
17. Taufan Gio – Travelmate Drama, Apa Kamu Salah Satunya?
18. Lenny Lim – 3 Hal Tentang Travel-Mate
19. Matius Nugroho – 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita
20. Wisnu Yuwandono – Teman Menapaki Perjalanan Hidup
21. Fahmi Anhar – Teman Perjalanan Paling Berkesan
22. Liza Fathia – Naqiya is My Travelmate
23. Imama Insani – Teman Perjalanan
24. Indri Juwono- Si Pelari Selfie
25. Putri Normalita- My Unbelievable Travelmate

Hits: 3212

Hujan semalam membuat pagi ini masih terasa basah. Saya melangkah ringan menuju Suryakencana sebuah daerah pecinan di Bogor. Pagi ini saya ingin merasakan aura tahun baru Cina di salah satu pusat kota Bogor.  Bersama seorang teman pagi-pagi kami sudah nongkrong di depan Vihara Dhanagun. Terlihat sudah banyak umat yang bersiap-siap untuk beribadah. Ternyata banyak juga mereka yang memang cuma pengen lihat-lihat seperti kami. Dan ternyata, Pak Polisi dan penjaga vihara mengijinkan kami masuk hingga ke tempat ibadah daIMG-20160208-WA0015n boleh mengambil foto selama tidak menganggu mereka yang beribadah. Wow!

Vihara Dhanagun, bagus banget, dan konon sudah berusia 300 tahun. Meski letaknya berhimpitan dengan pasar, tidak menghilangkan suasana magis dan sakral yang melingkupinya. Ornamen merah dan emas memenuhi ruangan kelenteng yang membuatnya terasa mewah. Di halaman kelenteng dihidupkan banyak lilin-lilin raksasan berwarna merah. Kata penjaganya, lilin-lilin itu masing-masing mempunyai pemilik yang namanya tertulis di batang lilin dalam huruf China. Konon, lilin adalah media untuk menyampaikan doa.

Lepas dari Vihara Dhanagun, kami menyusuri jalan Suryakencana untuk mencari Sarapan pagi. Jalanan sepanjang tidak lebih dari 3 km ini terkesan semerawut. Deretan toko-toko di kawasan yang padat ini, masih memiliki bangunan-bangunan tua  yang sebagian besar masih difungsikan untuk berdagang. Disini ada toko-toko legendaris Bogor yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Beberapa diantaranya mulai terlihat sepi, tergerus era digital marketing dan modern channel lainnya. Ada satu dua gedung yang masih memperlihatkan sisa-sisa kolonial, sayangnya kesan tidak terawat tampak sangat menonjol. Salah satu bangunan tua itu digunakan sebagai cabang Bank Mandiri.

20160208_103019
gedung tua di Suryakencana

Suryakencana adalah salah satu pusat kuliner di Kota Bogor.  Bukan cafe mewah yang menjadi andalan, tetapi justru pedagang kali lima dan ruko-ruko tua yang mungkin sudah berdagang puluhan tahun yang jadi destinasi.  Makanan itu pun masih diolah secara tradisional. Saya menemukan satu orang Bapak yang sudah berjualan martabak lebih dari 30 tahun dan, ia tetap mempertahankan cara memasaknya yang menggunakan arang. Di Gang Aut salah satu jalan disini, tersedia bermacam-macam makanan perpaduan Tionghoa dan Sunda. Walaupun letaknya agak blusukan, kalau hujan pun becek, ternyata tiap akhir pekan daerah ini pasti penuh dengan pengunjung. Oh ya, tahun lalu, saya sempat kesini juga, menyaksikan Pesta Rakyat yang memang digagask bersamaan dengan perayaan Imlek.

20160208_085249

Hampir seluruh daerah di dunia ini memiliki daerah Pecinan bahkan Banda Aceh yang terkenal dengan kota syariah pun memiliki daerah pecinan. Dan kenyataannya mereka berbaur sebagaimana mestinya.  Sementara itu, dua daerah pecinan di luar negeri sangat berkesan bagi saya adalah Pecinan di Malaka, Malaysia dan China Town San Francisco.Suasana Pecinan di Malaka, sangat kental dengan arsitektur perpaduan Melayu, Muslim dan Portugis, sementara di San Francisco, China Town tidak saja jadi pusat souvenir tetapi seperti menjadi pusat peradaban orang Asia di Amerika. Tidak saja didiami orang China, namun tempat ini menjadi pusat perdagangan barang-barang Asia. Meskipun arsitekturnya terkesan modern, tetapi ornamen China Town di San Francisco, meriahnya sama dengan perayaan imlek di Indonesia yang hanya satu tahun sekali.

Hits: 1405

Destinasi-destinasi berikut saya temukan paling banyak di sosial media dan internet. Ada yang jauh, ada yang dekat. Good news buat pariwisata lokal. Selfie memang seru, tapi tetap perlu hati-hati. Sudah banyak kejadian selfie yang menantang bahaya benar-benar merenggut nyawa.

and..here they are…

1. Gunung Padang, Cianjur: Terletak  sekitar 1,5 jam dari Pusat Kota Cianjur Situs peninggalan kuno yang asal-muasalnya masih menjadi misteri Sebenernya bukan tempat baru, tapi ngetrend belakangan ini, karena banyak ditulis di blog-blog dan sosial media.

Mejeng di Puncak Gunung Padang
Mejeng di Puncak Gunung Padang

2. Kalibiru, Yogyakarta. Pernah liat orang yang foto seperti diatas pohon diatas ketinggian? Nah itulah Kalibiru, Yogyakarta. Baru tenar 1-2 tahun belakangan. Saya sih belum pernah kesana, tapi yang foto disanaa…ampunnn buanyaakk bangett..

Kalibiru sumber: paketwisatayogyakarta.com
Kalibiru
sumber: paketwisatayogyakarta.com

3. Tebing Keraton, Bandung. Bandung Memang gak pernah kehabisan lokasi wisata.  Konon katanya tebing ini baru ditemukan (mungkin maksudnya sih baru keliatan). Selain dekat dari Jakarta, tentu saja mampir kesini gak perlu effort besar, karena Bandung sudah hampir jadi tujuan wisata utama orang Jakarta dan sekitarnya

sumber: portalindonesianews.com
Tebing Keraton sumber: portalindonesianews.com

4. Benteng Martelo, Kepulauan Seribu. Ini dia wisata bahari yang dekat dari Jakarta, murah dan keren! Kita bisa berfoto ala miss universe disini…

sumber: http://reviewwisataindonesia.blogspot.com
Benteng Martelo sumber: http://reviewwisataindonesia.blogspot.com

5. Gunung Munara, Bogor. Hasil survei saya di Instagram banyak juga yang berfoto disini. Disini memang ada situs peninggalan kerajaan Pajajaran, tapi menjadi tenar karena di puncaknya yang menghadap langsung ke Bogor.

munara
Gunung Munara sumber: jalanpendaki.com

6. Pulau Padar, NTT. Upsss.. inilah tempat selfie yang saya tunggu-tunggu!. Jangan lupa mampir kesini buat ber-selfie aneka gaya… dan. jagalah kebersihan!

Pulau Padar sumber: wisatapriangan.com
Pulau Padar
sumber: wisatapriangan.com

7. Pulau Pianemo (Raja Ampat). Foto disini udah berasa kayak naik haji bagi sebagian traveler.Ada kebanggaan luar biasa kalau bisa sampai disini. Sampe-sampe tahun baruan kemarin, Presiden Jokowi pun nyari kecebong disini.. #Eh….:p

raja ampat
Pulau Pianemo

Hits: 1651

Judul tulisan diatas, semoga bukan cuma mimpi saya. Setiap awal tahun, ada yang jelas-jelas bikin target : tahun depan gak jomblo lagi, tahun depan beli rumah, tahun depan beli jet pribadi…bla..bla.. Tapi Saya rasa, sebagian besar orang membuat resolusi setiap tahunnya dengan tema-tema yang abstrak, seperti karir makin meningkat, rejeki makin lancar, ibadah makin baik, hidup lebih damai, dll. Padahal banyak yang lupa, meletakkan ukuran apa yang bisa menunjukkan peningkatan pada indikator-indikator tersebut. Apakah misalnya jadi manager atau direktur menunjukkan karir makin baik, apakah naik gaji, banyak proyek menunjukkan rejeki makin lancar?, atau seminggu minimal lima kali ke mesjid menunjukkan ibadah makin baik? Dan ukuran orang memang akan selalu berbeda-beda.

Setelah jungkir balik jadi orang kantoran (yang membosankan), saya mungkin terlambat membuat resolusi ini. Memang sih, kalau soal jalan-jalan mungkin frekuensi saya lebih banyak dari orang kantoran pada umumnya. Meski sejujurnya, harus diakui beberapa jalan-jalan memang “hadiah” alias dinas dari kantor. Nah, awal 2016 ini saya sudah bikin prasasti:  do more, travel more, learn more. Yes, meski saya sadar dengan pasti… kemungkinan besar akan mengorbankan kehidupan normal saya sebagai mbak-mbak kantoran (ciyeee…) yang seperti robot: bangun jam 4 pagi, mengejar kereta sebelum pukul 6 pagi. Duduk cantik di meja sebelum jam 8 pagi dan selalu kembali ke rumah setelah malam menjelang. Sounds boring, itu pun belum bonus macet, kereta ngadat dan keluh kesah (yang harus dijalani dengan ikhlas dan tawakkal setiap harinya).

Wonderful-Indonesia

Resolusi tadi sudah saya catat dengan indikator-indikator konkrit yang juga sudah saya tentukan, misal dalam tahun ini saya akan mengunjungi minimal 4 pantai di Indonesia. So far waktunya memang masih menyesuaikan dengan liburan umum dan kantong pastinya, tapi bisa jadi lima enam bulan ke depan berubah. Heheheh.. Entah kenapa, dua tiga tahun ini  saya semangat banget untuk jalan-jalan terutama keliling Indonesia. Pengen juga lebih banyak ke luar negeri, tapi saya bukan Trinity-lah. Saya cuma cinta Indonesia dan memang gak punya cita-cita lain selain keliling Indonesia. Keluar negeri bagi saya adalah bonus. Mungkin memang sekarang jamannya mengukuhkan diri sebagai seorang “traveler” lagi trend. Tapi tenang, bagi saya jalan-jalan itu bukan cuma foto-foto update status, dan bilang sama orang: Oh, I was there! Lebih dari itu dari jalan-jalan saya belajar banyak, tentang alam, pembagunan, infrastruktur, hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan Tuhannya bahkan belajar politik! Nambahin tulisan di blog adalah salah satu bonus lain bahwa saya ingin lebih banyak orang kita mengenal negeri kita sendiri. Ada satu tulisan blog orang yang bilang, gak usah memprovokasi orang untuk pergi ke satu daerah, kalau nanti malah merusak daerah itu. Weks.. Buat saya itu gak salah, tapi benernya juga gak banyak :p. Justru dengan menulis dengan baik dan mengajak orang adalah cara mengedukasi calon wisatawan lokal. Karena cuma sektor pariwisata yang pertumbuhannya stabil dan berpotensi besar bagi negara. 

Di sisi lain, saya bingung banyak sekali orang yang “sangat menikmati” pekerjaan kantorannya. Dateng jam 7 pagi, pulang rata-rata jam 9 malem (bisa lebih), hampir gak pernah cuti dan sering lembur di sabtu minggu. Wow, luar biasaa.. Salut! Saya pikir mereka enjoy, eh…ternyata masih ada juga yang mengeluh “capek”. Wah..ternyata masih manusia biasa yang gak super… Dulu saya pikir quality time -yang sering diagung-agungkan oleh pemuja kesibukan- adalah slogan yang penting. Sayangnya sekarang bagi saya quality without quantity is nothing.  Di awal-awal bekerja secara profesional saya juga hampir tidak pernah cuti, pikiran sepenuhnya buat pekerjaan menjadi nomer satu, kadang gaji pun tekor atas nama loyalitas.  Saya tidak menyesal pernah di posisi seperti itu, justru saya belajar banyak karena saya mencintai pekerjaan Saya. Seiring berjalannya waktu, saya baru sadar sestrategis apapun posisi saya di satu perusahaan, saya tetap karyawan yang dibayar. Jika ada apa-apa dengan saya, perusahaan akan mudah mencari pengganti saya dalam hitungan hari, dan perusahaan akan berjalan baik-baik saja. Sementara waktu-waktu pribadi  saya dengan keluarga, dengan teman-teman, dengan kegiatan sosial sudah banyak hilang karena pengabdian yang tidak mengenal waktu. So,You’re not as important as you think.. 

Saya percaya orang-orang yang suka piknik adalah orang-orang yang asyik. Percaya deh, kalo kurang piknik akibatnya seperti J**ru, yang setiap hari adaaa aajaa caranya untuk menebar kebencian.  Adalah paradigma lama yang menyuruh kita bekerja keras di masa muda kemudian menikmatinya di masa pensiun. Bagi saya -meskipun mungkin telat-, keseimbangan hidup itu dimulai dari sekarang, bukan setelah pensiun.  Manusia butuh hidup yang seimbang. Seimbang kerja, seimbang keluarga dan seimbang kehidupan pribadi dan bagi saya ada tambahan satu: seimbang jalan-jalan, melihat dunia lain, dan mengganti paradigma.  Kamu?

Hmmm… survei membuktikan, orang yang sering traveling adalah orang yang paling bahagia..

Hits: 929

Orang kerja, gue liburan, orang liburan gue kerja. Yes, hidup memang harus antimainstream. Saya selalu bepergian saat orang-orang lain justru berkutat dengan pekerjaannya, begitu juga sebaliknya. Tapi di liburan natal yang panjang minggu lalu, akhirnya saya memutuskan untuk ikut merasakan eforia liburan yang mirip libur lebaran. Dan, tiba-tiba inget, beberapa bulan lalu saya sempat membeli 1 voucher untuk Oneday Trip ke tiga pulau di Kepulauan Seribu dari TukangJalan DotCom seharga Rp 83 ribu saja. Harga yang relatif murah (banget) untuk bisa menikmati pantai. Dan siapa bilang Pulau Seribu, jelek? Meski belum okeh banget sih…, Pak Ahok masih punya deretan pekerjaan rumah untuk menggarap salah satu potensi wisata bahari Jakarta ini.

Ok, back to the topic, akhirnya saya bersama dua orang teman, pagi-pagi sudah nongkrong di kampung nelayan Muara Kamal untuk menuju 3 pulau Kelor, Onrust dan Cipir. Yah, dalam bayangan saya dan hasil googling kebanyakan, jalan-jalan kesini paling hanya untuk menikmati pantai, main air dan yang paling penting, apalagi kalau bukan ngambil foto sebanyak-banyaknya, dan sesegara mungkin mengunduh ke jaringan sosial media yang kita punya. Sangat Mainstream! Kalau saya sih plus bonus bisa jadi nambah-nambahin tulisan blog. Hehehe

onrust-1

Setiba di Pulau Kelor sebagai pulau pertama yang kami kunjungi, anggapan mainstream tadi mulai berkurang. Di pulau yang pernah menjadi lokasi pernikahan dua artis ternama- ada Martelo, benteng peninggalan jaman Belanda yang bentuknya menyerupai Mini Colloseum di Roma. Tempatnya bagus buat lokasi foto-foto. Lokasinya pun hanya sekitar 30 menit dari Darmaga Muara Kamal. Asiknya, pulau ini kecil banget, ibaratnya cukup dengan pake TOA, kita sudah bisa manggil orang satu pulau. Benteng Martelo adalah bagian dari Pusat Arkeologi Pualu Onrust, yang sebenarnya merupakan kesatuan dari tiga pulau, yaitu Onrust, Kelor dan Cipir. Wujud dan bentuk Benteng Martello adalah  masih terlihat meski tidak sepenuhnya utuh. Di Onrust dan Cipir, kita bisa menemukan lebih banyak lagi reruntuhan bangunan yang nilai sejarahnya sangat tinggi. Onrust sendiri konon berasal dari kata Un-rest, karena pada jaman VOC, pulau ini sangat sibuk sebagai pusat docking kapal-kapal dagang masuk dan keluar Batavia.

20151227_093925

onrust 5
Sisa-sisa bangunan di Onrust

Puas di Pulau Kelor, kami menuju Onrust dan Cipir yang letaknya berkedekatan, akan lebih banyak lagi sisa-sisa bangunan peninggalan Belanda. Mulai dari perkantoran, penjara, rumah sakit bahkan asrama haji. Pulau Onrust dan Cipir dalam sejarahnya memang pernah beberapa kali dialihfungsikan mulai dari docking kapal, penjara (mirip-mirip Nusa Kambangan jaman sekarang) hingga pusat karantina haji pada tahun 1911. Disini juga ada makam Belanda yang antik namun sayang sudah banyak hancur akibar bencana alam dan memang tidak terurus.  Karena pernah juga dijadikan tempat pembunuhan tahanan politik dan perang serta tempat karantina orang-orang berpenyakit menular, gak heran kalau sekarang Pulau Onrust dikenal cukup angker… Hiiiiii…Syeeyeemm..

20151227_104722

Oh ya, jangan lupa mampir ke museum mini yang ada di tengah Pulau Onrust untuk tau sejarah lengkap pulau ini. Sayang, sebagian besar bangsa kita ‘agak males” belajar sejarah, dan tidak banyak yang berpikir bahwa sejarah itu punya nilai jual yang potensial banget sebagai potensi wisata. Kita jauh-jauh ke Amerikah, Eropah pasti disuguhi museum dan wisata sejarah bangsa mereka, Tapi sejarah bangsa sendiri??!! Hmm..ngaku aja dulu sering bolos pas pelajaran sejarah di sekolah.. :p

onrust 3Kalau dihitung ada empat kegiatan yang bisa kita lakukan disini. Selain foto-foto, makan-makan di bawah pohon nyiur dsini juga asyik banget. Kalau mau agak repot emang lebih enak bawa bekal makanan dari rumah, biar kerasa pikniknya. Buat yang mau mandi-mandi air laut juga bisa kok di Pulau Cipir. Meski garis pantainya tidak panjang, tapi pasir putih dan ombaknya yang tidak tinggi cocok buat mandi air laut. tentu saja bagusan disini daripada Ancol yang airnya sudah penuh polusi. Cuma yang masih minim adalah fasilitas untuk mandi atau shower untuk pengunjung. Nah, satu lagi.. buat yang suka melamun, ketiga pulau ini paling cocok buat mancing. Malah menurut saya tembok-tembok pembatas pulau memang dikhususkan buat para pemancing. Bahkan di hari biasa, tempat ini konon lebih ramai didatangi pemancing daripada wisatawan.

Yuk, kesana!

 

Hits: 926