Pagi pagi, sahabat saya Munardi yang lebih tenar dengan nama Alex (gak tau asal muasalnya darimana), sudah menjemput saya di depan mess dengan motor putihnya. Setiap akhir pekan, agenda kami adalah sarapan di warung kopi, menghirup segelas (bahkan kadang hingga dua gelas) sanger dingin yang nikmat dengan nasi kuning berbumbu khas Aceh yang terenak di kota ini.  Selanjutnya bersama teman-teman  kami menyusuri Banda Aceh hingga Aceh besar mulai dari Malahayati hingga Lhok Nga. Naik apa lagi kalau bukan naik motor.

Sebagai pendatang alias anak ibukota (uhukk..) yang haus hiburan, pantai dan warung kopi adalah tempat paling indah. Sayang, seringnya kami sendiri bingung mau kemana. Dan pagi itu, tiba-tiba saja kami memutuskan untuk menelusuri Jalan Malahayati-Krueng Raya. Selain jalannya mulus selicin wajah Ibu Atut, pemandangan di sepanjang perjalanan membuat lelah di boncengan motor menjadi tidak terasa. Dulunya, jalanan ini termasuk yang rusak parah karena bencana dahsyat tsunami 2004. Kini, infrastrukturnya makin cantik, dengan pemandangan gunung, pantai dan deretan rumah-rumah lucu yang diperuntukkan donor untuk korban tsunami.

blog3

Rynal, salah satu teman saya menawarkan untuk mampir ke Benteng Indra Patra. Benteng ini nyaris seperti bangunan tua yang senyap dan tidak terjamah. Sumpah, saya juga awalnya tidak tahu, Aceh menyimpan sisa-sisa budaya Hindu. Setahu saya Kerajaan di Aceh ya cuma Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam tertua. Namun, konon ini adalah peninggalan sejarah  Hindu dari India di Aceh.  Konon, situs ini didirikan sekitar tahun 604 M oleh Putra Raja Harsya yang berkuasa di India, yang melarikan diri dari kejaran Bangsa Huna. Benteng ini merupakan satu dari tiga benteng yang menjadi penanda wilayah segitiga kerajaan Hindu Aceh, yaitu Indra Patra, Indra Puri dan Indra Purwa. Pada masanya, benteng ini digunakan sebagai tempat pemujaan agama Hindu.

IMG_3450

Semasa Kesultanan Aceh, benteng ini berperan sebagai salah satu garis pertahanan dalam menghadapi Portugis. Penataan bangunan, ruang-ruang serta posisi dari masing-masing bangunan dalam benteng memiliki fungsi -masing-masing. Saya bersama teman-teman sempat menaiki temboknya yang tinggi, duduk dan berfoto di lubang-lubang pengintaian sambil memandang laut lepas. Arsitektur benteng ini terlihat memang sudah maju, bahkan ada beberapa bunker penyimpanan senjata di beberapa titik. Dulu juga ada sungai buatan yang mengelilingi benteng ini, untuk menjaga serangan musuh dari daratan.

lubang pengintaian
lubang pengintaian

Memang sebagian besar benteng pertahanan yang ada di Indonesia terletak di tepi pantai. Tapi bagi saya sih, Indra Patra sangat istimewa. Posisinya yang tepat di pinggir pantai yang langsung menghadap Selat Malaka mampu memanjakan mata dan membuat perasaan terasa damai. Disini kita bukan hanya belajar tentang sejarah tetapi juga menikmati indahnya alam Aceh. Kalau jalan-jalan kesini, yakin deh sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan indah khas Aceh. Perpaduan perbukitan dan sedikit gunung kapur di sebelah kanan jalan, berpadu dengan pantai di sebelah kiri jalan. Tidak jauh dari sana, ada Pantai Lhok Me; pantai berpasir putih dengan pepohonan di bibir pantai. Ada juga bukit Suharto dan Pelabuhan Malahayati yang sangat instagramable.

Bersama Alex di Bukit Suharto
Bersama Alex di Bukit Suharto

So, masih ragu-ragu buat ke Aceh?

Hits: 1379

Sebenarnya saya ini bukan traveler-traveler banget. Kalau kata Rangga di AADC 2 (yang sukses bikin gagal move on), traveling itu kegiatan pergi ke suatu tempat, cenderung tanpa planning dan itinerary, mencari dan menemukan hal-hal yang orang lain tidak tahu dan lebih menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Sementara liburan lebih “nyaman” dari traveling. Tidur di hotel yang baik, itinerary-nya jelas dan lebih banyak santainya. Nah, gara-gara itu, saya tiba-tiba teringat, beberapa tahun yang lalu saya pernah traveling dari Banda Aceh ke Brastagi dan Pulau Samosir bersama beberapa orang teman. Mereka sahabat-sahabat saya sesama pekerja kemanusiaan pasca tsunami Aceh.

taksi apa besi tua ?
taksi apa besi tua ?

Bertolak dari Aceh ke Medan sih masih gaya horang kayah, alias naik pesawat. Padahal, kalau perjalanan darat Banda Aceh-Medan bisa ditempuh sekitar 12 jam saja. Nah, dari Medan ke Brastagi, kami benar-benar tidak punya clue harus naik apa. Kendaraan umum yang kami tahu cuma sejenis minibus sejenis L300.  Untuk menuju terminal L300 ini kami naik taksi  (baca: rongsokan taksi yang odong-odong banget). Kayaknya waktu itu kita lagi program pengiritan nasional.  Petualangan pertama kami dimulai dr L300 itu. Bayangin, isi mobil kecil itu penuh banget. Dari inang-inang, tulang-tulang, sayur mayur bahkan hewan ternak.  Perjalanan dengan kangkung dan ayam pernah saya rasakan beberapa tahun sebelumnya, ketika menumpang kereta ekonomi jurusan Jakarta-Pandeglang. Lumayan, dua jam menuju Brastagi sempit-sempitan di dalam kabin dan jauh dari nyaman membuat perjalanan itu menjadi tidak terlupakan.

IMG_1977

Brastagi itu, udaranya mirip-mirip Puncak Bogor. Tapi tentu saja tidak super padat dan sesak seperti Puncak. Kami hanya mampir sehari di Brastagi, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Danau Toba dan Pulau Samosir. Dari Brastagi ke Samosir ditempuh sekitar empat jam. Kali ini, karena anggota rombongan bertambah, kami memutuskan menyewa mobil plus supir. Sepanjang jalan kami dimanjakan oleh pemandangan perbukitan yang indah banget. Selanjutnya Ajibata menuju Tomok (Samosir) kami menumpang kapal ferry standar penyeberangan nasional deh. Yah, gitu-gitu aja.. Panas, bangkunya keras, makanannya gak enak dan penuh sesak. Tapi karena jaman itu masih muda, masa yang berapi-api (emang sekarang tua banget apaah?), kami menjalani semua dengan ikhlas dan damai.

DSC_0215
Pelabuhan Tomok

Kegiatan  kami selama tiga hari di Samosir mulai dari muterin pulau pake sepeda, nonton tarian tortor, belanja sampai sholat Ied! Serius… kebetulan saat itu bertepatan dengan Lebaran Idul Adha, jadilah kami kaum minoritas di kalangan penduduk samosir yang hampir seluruhnya non muslim. Disini ceritanya!

damai di tepi toba
damai di tepi toba

Banyak cerita yang selalu saya kenang dari liburan singkat ini. Cerita tentang Aceh dan kehidupan saya dulu selama disana, tidak ada habisnya. Sahabat-sahabat Saya di Aceh dulu adalah orang-orang terbaik yang pernah saya temui. Harus diakui, mereka sudah memberi banyak warna dan mempengaruhi hidup saya. Perjalanan ke Samosir ini adalah salah satu rangkaian yang masih selalu saya kenang. Sayang kalau tidak diabadikan ke dalam satu tulisan.

Hits: 1566

Kembali ke Sabang bagi saya adalah kembali menyusuri harapan. Harapan yang sembilan tahun lalu pernah menemani hari-hari saya. Dulu, Sabang mungkin hanya sebuah kata yang saya dengar dari salah satu lagu wajib anak sekolah. Sabang cuma sebuah kata yang menunjukkan pangkal dari luasnya wilayah negara ini. Pesona Bahari Sabang laksana magnet yang terlalu kuat sehingga saya tidak kuasa untuk menolak panggilannya kembali,

Melewati kontur Sabang yang berkelok mengingatkan saya pada jalan menuju Pantai Senggigi di Pulau Lombok, tempat pertama kita bertemu. Saya mencoba meresapi sisa-sisa cinta yang mungkin masih membekas di tepi Pantai Iboh dan Pantai Gapang. Dulu disini kita pernah memandang temaramnya bulan dari bibir pantai berpasir putih yang landai hanya beralaskan tikar lusuh. Saat itu saya berharap ada bintang jatuh, kemudian saya ingin meminta kepada Penciptanya, agar kita bisa disini lebih lama. Membangun villa kecil di tepi Iboh dan mewujudkan mimpi saya untuk lebih banyak menulis sambil memandang laut lepas berhiaskan pohon nyiur dari jendela kamar kita. Ya, saya bosan dengan kehidupan dan hiruk pikuk Jakarta. Memandang laut lepas dengan siluet perahu nelayan dan membiarkan waktu seolah berhenti berputar adalah tujuan saya kembali kesini.

Malamnya, kita menikmati seafood yang bumbunya kamu racik sendiri sembari mendengar debur ombak yang seolah bercerita tentang kita. Obrolan malam kita selalu dilengkapi dengan meneguk nikmatnya kopi Aceh. Meskipun banyak perbedaan diantara kita, kamu sama seperti saya; penikmat kopi. Kopi itu sama seperti cinta, dia menyatukan meskipun selalu terasa getir diawal, manis akan kita rasakan di ujung hirupannya. Seperti cinta, kopi pun membuat candu, meskipun rasa pahit tak sepenuhnya hilang dari aromanya. Dan ini Aceh, si penghasil kopi kelas dunia. Namun sejatinya Ini bukan hanya tentang kopi. Ini bukan hanya tentang dimana kita menikmati kopi itu. Ini adalah cara kita berbagi cerita, cari kita berbagi rasa. Kopi adalah suara hati dan potongan rindu. Rindu kamu, rindu Aceh, rindu Sabang.

Di sebuah pagi kamu menantang untuk berenang dari Iboh menuju Rubiah yang hanya berjarak sekitar 350 meter. Gila memang… tapi itu biasa bagi turis, divers dan penikmat wisata bahari seperti kita. Bagi saya, pesona taman laut Rubiah tetap bisa dinikmati tanpa harus berenang menuju pulaunya. Teman-teman divers yang saya kenal, bahkan pernah mengatakan Rubiah adalah salah satu spot terbaik untuk diving dan snorkeling terbaik di Indonesia bahkan di dunia. Begitu banyak kegiatan wisata bahari di Sabang yang kamu ceritakan kepada Saya. Saya bahkan baru tahu, Sabang juga menawarkan kegiatan memancing di laut dalam (deep sea fishing) di dekat Pulau Rondo.

 

Mari-Rayakan-Sabang-Marine-Festival-2016-Lewat_Tulisan (1)

 

Kamu juga sempat mengajak Saya, berjalan kaki menuju Tugu KM 0. Menyusuri tepian tebing dengan pepohanan rindang. Luar biasa bahagianya saya bisa sampai di ujung terbarat Indonesia itu. Sesuatu  yang dulu mungkin cuma mimpi. Tugu itu, kini telah direnovasi menjadi lebih menarik, meskipun bentuk aslinya masih sama. Konon di Merauke, batas terujung timur Indonesia pun memiliki bentuk tugu yang seragam. Yang selalu saya ingat, kamu bahkan hapal hewan-hewan yang sudah lama berdiam di seputaran tugu itu. Sampai-sampai kamu punya nama untuk menyebut seekor monyet dan seekor babi hutan yang sepertinya sudah sangat welcome terhadap turis-turis disana. Uniknya lagi, mungkin Tugu KM 0 adalah satu-satunya tempat di Indonesia yang memberikan sertifikat kepada para pengunjungnya. Dan, nomer sertifikat saya adalah 59525. Artinya saya adalah pengunjung ke 59525 yang mendapat sertifikat dari Walikota Sabang. Cinderamata paling unik yang pernah saya dapatkan dari sebuah daerah bahari. Tidak hanya tugu, dibanding dulu hampir semua fasilitas wisata mulai dibenahi. Saya merasakan nafas wisata bahari sudah menjadi bagian seluruh penjuru Sabang. Kota kecil yang tenang, rindang, penduduk yang ramah membuat saya betah berlama-lama disini. 

Hari ini, disini, Saya duduk di batuan terujung Indonesia. Tadi malam sepertinya hujan, pepohonan disini pun masih basah. Namun Saya suka bau hujan,  seperti rasa suka saya pada kopi Aceh, pun seperti  rasa damai yang menyergap kala memandang birunya air Samudera Hindia. Merasakan indahnya negeri ini membuat saya makin bangga jadi warga nusantara. Bedanya, saat ini Saya sendiri. Sembilan tahun lalu, saya kehilangan berita tentang kamu, namun cerita sesaat kebersamaan kita akan selalu jadi cerita abadi bagi Saya. Kamu memang pergi, tapi jejak-jejak cerita kita di Sabang akan selalu jadi prasasti di hati Saya. Kapan pun dan kemana pun saya melangkah, Sabang adalah tempat kembali.

 

Hits: 1439

Tidak terasa tujuh tahun berlalu sejak kedatangan saya pertama kali ke Tanah Rencong. Masih teringat jelas pagi itu 2 Juli 2007 dengan pesawat paling pagi saya diantar beberapa orang sahabat. Masih pula teringat pakaian apa yang saya pakai hari itu, apa isi koper saya, bahkan type ponsel baru yang sengaja saya beli satu hari sebelum berangkat. Pindah dan menetap (sementara) di Aceh bisa jadi salah satu keputusan terberat (atau mungkin terhebat) yang pernah saya ambil. Setelah lama menetap di Bogor dan bekerja di Jakarta yang nyaris tanpa masalah (bahkan punya potensi karir yang bagus). Ssst, bocorannya sebelum ini saya takut banget untuk kerja ke luar kota. Saya ada di zona nyaman mbak mbak kantoran Jakarta yang masuk jam 9 pulang jam 5 dengan hiburan karaoke dan teman-teman yang itu-itu saja. Sounds so boring, isnt it?

buku1Dan kemudian, Aceh menjadi bagian dari perjalanan hidup Saya, seperti juga menjadi bagian cerita yang tidak pernah habis untuk dituliskan di blog ini. Aceh mengubah dan menuntun pandangan saya tentang paradigma hidup, kehidupan spritual, kedewasaan berpikir, memberi cerita cinta (hmmm), jatuh bangun, susah senang dan tentu saja menjadi bagian terbesar dalam kehidupan pekerjaan saya. Lebih luas lagi, dari Aceh-lah saya menemukan sahabat-sahabat terbaik yang telah menjadi keluarga baru dan akan selalu dan selamanya ada di kehidupan Saya. Lebay mungkin.. Tapi jujur, apa yang Saya dapat sejauh ini adalah karena saya pernah di Aceh. Ya, hampir semua… 

Mengenal dunia menulis dan blogger pun karena Aceh. Pada waktu itu, satu-satunya yang bisa menjadi hiburan disana adalah internet kantor yang kencang. Di waktu senggang, mengutak ngatik blog adalah hal baru yang sangat menyenangkan. Jika akhirnya saya nekad menempuh Master di bidang Manajemen Sistem Informasi, juga karena terinspirasi pekerjaan di Aceh yang banyak berhubungan dengan IT. Agak gak nyambung memang dari S1 saya di Ilmu Perikanan dan Kelautan. Hehehe.. Contoh lain adalah kopi. Tak pernah terpikirkan saya jadi penggemar si hitam ini? Bisa dibayangkan, sebelum ke Aceh, minum kopi adalah pantangan buat saya karena bisa membuat kembung plus jantung yang rasanya berdetak lebih kenceng. Setahun di Aceh, semua berbalik. Sulit membayangkan bagaimana rasanya gak ngopi satu hari saja. Sampai-sampai pernah terpikir untuk punya warung kopi sendiri.

IMG-20120930-00653Tsunami telah mensyuhadakan hampir 10% penduduk Aceh saat itu. Mungkin banyak lupa Aceh dibantu lebih dari 600 organisasi yang datang dari 50 negara. Ini sungguh bantuan terbesar dalam semua bencana yang pernah terjadi di dunia. Tidak ada waktu untuk memilih siapa menolong siapa. Tidak ada batas negara, budaya dan agama. Alasan kemanusiaan-lah yang menjadi pondasi untuk membangun Aceh. Jika perbedaan bangsa, ras, warna kulit saja terabaikan apalagi hanya perbedaan etnik, suku, ideologi dan agama bagi sesama pekerja kemanusiaan asal Indonesia. Sesuatu yang akhir-akhir ini menjadi barang langka. Ketika makin kerap kita temui perpecahan karena perbedaan pandangan, golongan, agama dan paham-paham tertentu. Bahkan setelah usai Pilpres tahun ini masih saja ada fitnah terhadap pihak-pihak tertentu yang terkadang jauh dari kata logis. Bukan cerita baru jika banyak persahabatan yang retak, hubungan saudara yang merenggang bahkan kebencian pada kelompok-kelompok tertentu.

Ketika semua bisa bersatu saat bencana, Mengapa kini kita harus terpecah hanya karena perbedaan pandangan?

Lucu, kenapa kita bisa bersatu justru saat terjadi bencana? Kenapa kini perbedaan membuat kita harus terpecah. Padahal sejatinya perbedaan ibarat minyak dan air. Tidak bisa bersatu tetapi bisa berdampingan. Saya percaya perbedaan itulah yang membuat hidup kita kaya dan berwarna. Dulu, pasca tsunami kita hanya punya satu tujuan yaitu membangun Aceh kembali setelah bangkit dari keterpurukan. Kita percaya pada siapa pun yang menjadi pimpinan kita. Tidak ada bedanya dengan Indonesia saat ini. Keinginan kita sama; hidup damai dan sejatera di negara yang sama-sama kita cintai. Seperti saat kita mencintai Aceh yang porak poranda setelah diterjang tsunami. Sudah seharusnya kita bisa belajar dari tsunami 2014.

Hits: 1753

Buat kalian yang berkunjung ke Pulau Weh, ujung terbarat Indonesia, jangan lupa memburu selembar kertas seukuran folio ini. Kayaknya kurang afdol saja kalau sudah dari Sabang, tapi belum mengoleksi dokumen ini. Hehehe.. Saya, baru mendapatkan selembar kertas ini pada kunjungan ketiga saya di Sabang. Biarpun gak bisa dipake ngelamar kerja (apalagi ngelamar pacar), rasanya seneng aja, karena tidak banyak orang yang bisa menikmati langsung indahnya ujung Indonesia. Di sertifikat yang ditandatangani Walikota Sabang  ini tertulis nama dan nomor urut pengunjung kita. Tentu saja nomor ini dikeluarkan berdasarkan jumlah sertifikat yang sudah terdistribusi, bukan hitungan banyaknya orang yang kesana.  Untuk mendapatkan sertifikat ini, sekarang tepat di bawah Tugu KM 0 sudah ada petugas Dinas Pariwisata yang akan menghadiahi wisatawan cukup dengan biaya penggantian Rp20.000 per orang. Jika kalian berkunjung di hari kerja, silakan langsung ke Dinas Pariwisata Kota Sabang, jika petugas di lapangan juga tidak ada.

IMG_20140623_002123
Pada saat saya kesana, Tugu KM 0 sayangnya sedang dalam proses renovasi, sehingga petugas Dinas Pariwisata pun ikut absen. Namun..jangan khawatir, Pemda Kota Sabang telah bekerja sama dengan beberapa toko Souvenir yang juga menyediakan sertifikat ini. Salah satunya adalah Piyoh, toko kecil yang menjual pernak pernik lucu bertuliskan hal-hal lucu dan unik tentang Sabang. Saya yakin, semua pelaku wisata di Sabang pasti bisa mengantarkan kamu ke Piyoh. Sayangnya, jika memesan di Piyoh, tidak bisa langsung jadi, tapi pemilih toko akan dengan senang hati mengirimkan ke Jakarta, asal kita tidak lupa menitipkan uang pengiriman via pos.Kayaknya saya gak perlu cerita soal keindahan Sabang. Semua bisa googling sendiri. Saya cuma ingin berpesan, jangan mengaku jadi traveler dari Indonesia kalau seumur hidup belum pernah ke Sabang. Oya, tolong doanya juga biar saya bisa sampai di ujung paling timur Indonesia di Merauke. Yuk cusss….

20121215_125148

Hits: 1287

Masih ngomongin Aceh, tepatnya inspirasi dari Aceh. Setiap kembali dari sana, saya seolah “tidak siap” bertemu dengan Jakarta.  Yang terbayang, macet dimana-mana, orang-orang yang terburu-buru, angkutan publik yang buruk dan dunia sosial yang jauh sekali berbeda dengan di daerah. Saya bersyukur pernah kerja di daerah (baca; Aceh) dan merasakan atmosfir yang tidak melulu dalam suasana kompetisi dan yang dikejar itu hanya posisi dan materi.  Kemana-mana dekat, semua orang ramah, tidak saling curiga dan suasana kekeluargaan yang bukan cuma “sampul” seperti orang Jakarta. Kehidupan sosial juga begitu, tidak perlu harus punya dompet tebel untuk nongkrong di café-café mahal  Cukup di warung kopi sederhana dengan uang kurang dari 10 ribu, makna kekerabatan itu diperoleh.  Malahan “ngumpul-ngumpul” ala warung kopi tanpa AC begini, bagi saya melahirkan banyak ide, menjalin relasi bahkan menghilangkan kegalauan. Wah, aku udah persis orang Aceh banget kalo begini.

Bagi saya bekerja di Jakarta kemudian menclok sesaat dengan pergumulan kerja ala Aceh adalah proses keseimbangan.  Terkadang memang timbul rasa bosan, karena Aceh tidak menjanjikan hiburan ala metropolitan; café, karaoke dimana-mana, bioskop, mall yang bertebaran tetapi Aceh punya pantai yang indah, alam yang rupawan, wisata religius dan artefak-artefak tsunami yang sangat monumental bagi daerah ini bahkan dunia. Buat saya yang mulai bosan dengan kekejaman Jakarta, semua itu indah dan damai.  Kebahagian di keramaian ala Jakarta terkadang membosankan dan sangat individual menurut saya.  Orang-orang Jakarta semakin memandang orang lain dengan penuh kecurigaan. Sudah jarang saya temui senyum ramah dan orang yang sekedar mau menjawab pertanyaan kecil -seperti lokasi sebuah tempat- di jalanan.

Padahal bahagia itu sederhana, ketika detak jantung tidak sekencang ritme Jakarta, ketika melihat pemandangan tepi jalan yang indah, ketika semua orang saling menyapa, ketika semua masalah seakan selesai karena kebersamaan yang bukan cuma kulit. Saya masih percaya, indikator kualitas hidup manusia dilihat dari hal-hal itu, bukan koneksi internet berkecepatan tinggi dan berapa banyak saldo di rekening Anda.

Ah, saya selalu rindu suasana itu. Cukuplah di Jakarta untuk mengejar sedikit prestasi dan sejumput materi yang terbungkus bentuk pengabdian kepada  negara ini. Biar cuma Jakarta yang semerawut dengan semua gejolaknya. Dan, suatu saat, saya ingin kembali ke satu  tempat, dimana saya dapat menemukan semua itu. Amin.

Hits: 977

Wah, kalian yang sering baca blog saya ini pasti bosen kalau saya cerita soal Aceh lagi… Aceh lagi.. Tapi begitulah kenyataannya, saya selalu punya stok cerita lama dan cerita-cerita baru tambahan dari wilayah terbarat Indonesia ini.   Minggu ini (lagi dan lagi) saya berkesempatan menyambangi Aceh. Asal tau aja, di kunjungan sebelumnya, saya yakin banget kalau gak bakalan kesana lagi. Tapi ternyata salah tuh… (hehehe..) Karena pernah punya “kisah sinetron disini”, saya ingin menghindari banyak hal yang berbau Aceh. Tetapi kemanapun pergi, selalu ada ujung yang akhirnya mendamparkan saya kembali kesana. Intinya udah muter-muter kemanapun baliknya kesana lagi.  Akhirnya saya berkesimpulan, Tuhan memang mendukung saya “move on” dengan caraNya; yaitu mendekatkan saya kepada hal yang saya hindari. Bukan untuk membuat galau, tapi untuk membuat saya lebih kuat menghadapi semua yang akan terjadi. 🙂

Kepergian terakhir, judulnya tetep; Kerja. Kali ini partner in crime saya adalah Aichiro Suryo, rekan sekantor saya. Alhamdullillah urusan pekerjaan hampir tidak menemui kendala apa-apa. Ekstra bonusnya apalagi kalau bukan jalan-jalan. Saya, Aichiro ditemani beberapa teman lokal menyusuri pantai-pantai Aceh yang indah, napak tilas berbagai monumen tsunami dan tentu saja yang wajib nomer satu: Ngopi. Alhamdulillah saya masih punya banyak teman yang sudah seperti keluarga disana.

 

Aceh masih seperti dulu menawarkan keindahan alam, keramahan masyarakat, keunikan budaya dan prasasti tsunami 2004 yang monumental terpatri  di hampir setiap sudut kota.  Meskipun semua belum berjalan sempurna, saya mencintai Aceh, saya ingin Aceh lebih baik dari masa ke masa. Semoga.

Hits: 880

Di pertengahan tahun ini, saya dikontak oleh seorang teman yang menawarkan sebuah pekerjaan menulis buku.  Mulanya saya pikir, ini pekerjaan sambilan biasa, karena saya –yang suka gak pede ini– yakin kalau fungsi saya di pekerjaan itu hanya supporting.  Sampai akhirnya saya bertemu dengan Devi, National Project Manager R2C3, Bappenas UNDP yang menyatakan “serius” ingin meminang saya untuk pekerjaan ini sebagai penulis inti. Tidak ada seleksi, tidak ada tes ini itu.  Devi dan timnya hanya mendengar nama saya dari rekomendasi beberapa teman BRR bahwa saya mampu untuk pekerjaan ini. Agak kaget setelah mendengar penjelasannya. Ternyata ini adalah pekerjaan cukup besar. Kok mereka percaya-percaya aja gitu sama gw, yah? Padahal belum kenal secara pribadi, tidak pernah liat CV saya. Hanya dari obrolan “head hunter”  dadakan teman-teman saya. Akhirnya saya mem-pede-kan diri untuk menerima pekerjaan ini. Karena materinya tentang pekerjaan saya di Aceh dulu, karena saya mencintai Aceh dan saya percaya cinta selalu membuat yang tidak bisa menjadi bisa, yang tak kuasa menjadi kuasa. 🙂

UNDP juga menginginkan muatan buku ini lebih dalam dan sedikit berbau “scientist”. UNDP kemudian berinisiatif; saya dengan pengetahuan materi tulisan “dikolaborasikan” dengan Dr Yanuar Nugroho. Seorang akademi “lokal” yang mengajar di Universitas Manchester, UK dan banyak berkiprah di bidang teknologi dan sosial di Eropa. Ini satu lagi blessing in disquise buat saya. Sedikit berkilas balik, awal 2012 saya bertemu Mas Yan, demikin beliau biasa akrab dipanggil di UKP4, kantor saya. Beliau memberi pencerahan dan masukan untuk pekerjaan kami kala itu.  Waktu yang singkat itu (satu hari) membuat saya begitu “terpesona” akan kedalaman pengetahuan dan cara beliau membaginya. Terbersit sedikit pikiran, andai suatu saat bisa bekerja sama dengan beliau.  Ternyata pikiran itu doa yang beberapa bulan setelahnya benar-benar menjadi kenyataan. Lebih nyata lagi, karena  akhirnya beliau pindah ke Indonesia dan bekerja di kantor yang sama dengan saya. Woott!!

Buku ini bercerita tentang bagaimana sebuah aplikasi berbasis internet bernama RANDatabase mampu menjadi jembatan penghubung antara pemerintah dengan ratusan organisasi lokal dan dunia yang bekerja di Aceh pasca tsunami. Saya bersama Mas Yan mencoba menyajikan sebuah pembelajaran bahwa sebuah aplikasi tidak hanya sebuah “mesin” kaku yang berpendar di layar computer. Tetapi juga memainkan peranan fungsi sosial yang menyatukan banyak pihak.  Banyak hikmah yang dipetik, yang bisa digunakan untuk penerapan aplikasi serupa tidak saja pada kondisi bencana tetapi juga kondisi normal.

 

Buku ini memang secara “harfiah” bukan buku saya, kepemilikannya ada di Bappenas. Tetapi bagi saya ini satu portofolio baru dan pembuktian kalau saya bisa selangkah lebih maju tidak cuma menulis blog curhatan *gak penting.  Sekali lagi, bertepatan dengan momentum 8 tahun tsunami (26 Desember 2012); saya bangga pernah menjadi bagian dari perubahan Aceh, perubahan menjadi lebih baik.

 

Hits: 1052

shutterstock.com

Sudah hampir tiga puluh menit kita disini. Aku masih saja mengaduk-ngaduk sanger* dingin yang sebenarnya tidak perlu diaduk lagi.  Aku merapihkan kerudung merah jambuku  sambil sesekali menyimak obrolan tetangga sebelah meja kami. Topik politik daerah ini nampaknya tidak pernah habis untuk digunjingkan.  Ah, menyesal. Kalau tahu begini, harusnya tadi aku membawa komputer jinjingku, memanfaatkan wifi kedai kopi ini dan menulis hal-hal random di blog-ku. Bisa juga membawa buku bacaaan sambil menikmati nasi kuning terenak di kota ini.

Sementara kamu masih saja sibuk mengutak-ngatik telepon genggammu yang sudah butut, berbunyi pun aku rasa susah. Aku tahu, telepon itu sudah jatuh berkali-kali sampai-sampai kamu “menambalnya” dengan plester bening lebar yang aneh.  Kopi hitam yang kamu pesan sama sekali belum kamu sentuh. Kualihkan tatapanku ke wajahmu, kamu mengetuk-ngetukkan telepon itu ke meja kayu kedai ini. Matamu memandang dengan tatapan kosong dan bingung ke sungai kecil di depan kedai kopi di pusat kota Banda Aceh ini. Dingin sekali.

Aku kembali bertanya; “Ada, apa.. kamu sakit?” dan untuk ketiga kalinya kamu balik bertanya bertubi-tubi:

“Kamu tidak marah kalau aku jujur akan sesuatu?”,

“Kamu masih mau jadi sahabatku?”,

“Kamu yakin tidak akan meninggalkan aku?” .

Aku menarik nafas. Kuambil batang korek api dari perangkat rokokmu. Aku menyusun beberapa batang seperti mainan masa kecilku. Aku pun bingung harus menjawab apa. Pertanyaan yang sangat retorik untuk sepasang sahabat baik seperti kita.

“Aneh, perlu dijawab?”, kataku..

“Kamu sakit?” HIV? AIDS?

Langsung saja aku ucapkan nama penyakit itu. Dalam bayanganku hanya itu penyakit paling parah sampai sampai kamu perlu waktu khusus untuk mengakuinya padaku.  Tapi jawabanmu tetap hanya diam.

Read More

Hits: 933

Rasanya tidak pernah sesedih kemarin, ketika saya harus meninggalkan Aceh setelah sempat tiga hari singgah disana untuk urusan sebuah pekerjaan.  Cukup lama saya tidak menginjakkan kaki di tanah rencong ini. Terakhir berkunjung kesini 1,5 tahun lalu untuk menyelesaikan riset tesis saya.  Memang sebelumnya saya sempat hampir tiga tahun bekerja disini untuk sebuah proyek pemerintah dalam misi rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami maha dahsyat akhir 2004 lalu. Saya sadar saya punya keterikatan batin yang sangat dalam dengan Aceh. Padahal pertama kali kesini ogah-ogahan luar biasa, tapi apa boleh buat sebuah komitmen kerja sudah saya tanda tangani. Siapa sangka itu kemudian merubah dan mempengaruhi hampir setiap sisi kehidupan saya setelahnya.

Saya tidak pernah menghitung sudah berapa puluh kali saya bolak balik ke Aceh untuk urusan pekerjaan. Dan setiap kembali ke Jakarta, saya selalu yakin akan kembali kesana suatu saat. Tapi tidak kemarin. Memang tidak ada alasan yang jelas, hanya perasaan saja. Entah kenapa itu rasanya sangat kuat dan terus menari-menari di pikiran saya.   Simpang Lima, sanger dingin, Masjid Baiturrahman, mi kepiting, Lampuuk, Motor Honda, Labi-labi  dan sudut-sudut Peunayong memenuhi imajinasi saya.

Pada tiga hari yang singkat namun padat itu, saya bertemu hampir semua sahabat-sahabat terbaik saya disana. Mereka yang rela meluangkan waktu meladeni saya yang bawel ini, memberi bantuan materi untuk pekerjaan saya dan tidak henti-hentinya memberi dukungan moral karena sejujurnya saya sendiri agak senewen dengan pekerjaan itu.   Di bandara saya tercenung, disini ada jarak  yang samar antara jauh dan dekat, antara datang dan pergi, antara sedih dan bahagia, antara penghubung dan pemisah dan antara mimpi dan  kenyataan.  Saya sedikit menitikkan air mata ketika pesawat mulai lepas landas dengan hamparan pemandangan sawah dan pantai yang khas Aceh di bawahnya.  Yah, mungkin memang ada cerita dibalik semua itu, cerita yang tidak bisa dilisankan dan tidak tahu harus dimulai darimana jika ingin dituliskan.

Saya bahagia karena punya keluarga dan sahabat-sahabat yang tak tergantikan disana. Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari Aceh. Saya merasa terhormat mendapat kepercayaan (lagi) untuk berkontribusi demi nama Aceh. Apalah saya ini…

Semoga satu karya (terakhir) itu nantinya menjadi kenang-kenangan bahwa disana pernah ada terlalu banyak cerita, cinta dan cita-cita. Terima kasih Aceh

 

Hits: 842

Haaa? Aceh gempa lagi? Terkaget kaget sore itu aku membaca sms BMKG  tentang peringatan dini tsunami di Aceh dan beberapa wilayah Sumatera dengan kekuatan sekitar 8,9 SR. Oh My God.  Hal pertama yang aku lakukan menghubungi teman-temanku disana. Seperti diduga, tiba-tiba semua koneksi terganggu.  Tapi tidak lama satu orang teman berhasil dihubungi dan mereka sedang dalam proses evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Alhamdulillah. 🙂

Setelah mencari informasi , akhirnya baru ketauan jenis gempanya sedikit berbeda dibandingkan gempa akhir 2004 lalu, karena itulah kerusakan yang ditimbulkan tidak begitu parah. Walaupun demikian tetep aja membuat sebagian besar masyarakat Aceh was was karena sirene tsunami warning sudah menggema di seluruh penjuru kota Banda Aceh.

Membaca hasil liputan berbagai media, sepertinya tidak berlebihan jika gempa kemarin direspon masyarakat dengan lebih tenang dan tidak panik. Mereka sudah tau harus melakukan evakuasi kemana, Koordinasi berjalan cukup baik dan informasi selalu ter-update dengan cukup cepat dan akurat. Ini bukan pendapat media saja, ngobrol dengan teman-teman disana pun tanggapannya kurang lebih  begitu. Ya, meski belum 100% sempurna sih, tapi paling gak pengalaman disertai lesson learn selama tujuh tahun terakhir ini jadi hal yang sangat penting bagi knowledge mitigasi bencana penduduk Aceh atau Kota Banda Aceh pada khususnya.

Read More

Hits: 876

Saya memang sangat jarang menulis ulasan tentang film. Selain karena saya bukan seorang movie freak, terkadang muncul perasaan gak pede kalo baca resensi-resensi orang yang (katanya) profesional dan ahli di urusan ini. Di blog ini, saya hanya pernah menulis beberapa hal soal film yaitu;  nonton India, laskar pelangi dan kite runner

Namun karena momennya istimewa yaitu bertepatan pada peringatan tujuh tahun tsunami saya ingin membagi pengalaman dan perasaan saya akan film berjudul Hafalan Shalat Delisa yang baru saja saya tonton tadi sore. Film ini diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Tere Liye. Terus terang, saya sendiri belum pernah membaca novelnya. Niat utama menonton film ini karena saya masih merasa punya keterikatan batin yang cukup dalam dengan Aceh sejak sempat bekerja disana.

Saya sempat membaca resensi film ini di beberapa situs hasil googling, seperti yang berikut ini. Yah, mungkin secara sinematografi film ini kurang terasa gregetnya, keliatan masih kurang disana-sini. Bukan bagian saya deh, untuk mengomentari hal berbau “teknikal” begitu. Namun, di beberapa sisi yang bisa ditangkap oleh penonton awam seperti saya, saya pun merasa ada hal yang kurang pas seperti dialek Aceh yang sangat kurang dalam hampir semua dialog. Gambaran tentang bencananya pun kurang banyak terwakili dan terkesan dibuat seadanya. Barak pengungsian, tentara-tentara asing, pekerja kemanusiaan nampaknya memerlukan riset yang mendalam untuk menggambarkan bagaimana bencana besar dunia 2004 lalu meluluhlantakkan Aceh. Setting-nya pun “sangat kurang Aceh” , buat para penonton yang tinggal atau pernah ke Aceh pasti merasakan perbedaan ini. Baik dari sisi lokasinya, gambaran masyarakatnya dan kultur daerahnya. Setting ini sangat saya sayangkan, karena alam Aceh sangat indah, idealnya film ini dapat menggambarkan hal itu dan bisa menjadi media bagi promosi the New Aceh.

Upss.. tapi tunggu dulu, terlepas dari beberapa kekurangan diatas, saya pribadi merekomendasikan film ini dengan sangat. Tema keikhlasan yang diangkat mampu memancing emosi penonton apalagi kalau yang menonton masyarakat Aceh sendiri. Saya menghargai upaya keras pembuat film ini untuk melahirkan sesuatu yang beda yang menggiring kita untuk bersyukur, tidak putus asa dan mengambil hikmah dari sebesar apapun peristiwa yang terjadi pada kita. Oke, apapun itu.. film ini ditayangkan pada saat yang tepat yaitu di masa liburan anak sekolah dan menjelang peringatan tujuh tahun tsunami. Terbukti di Botani 21, Bogor seluruh kursi hampir terisi penuh di setiap show.

Satu lagi yang pasti saya sangat menikmati film ini, karena saya merasa pernah menjadi bagian daerah Aceh dan tsunami-nya dan tentu saja karena saya yakin masih menyisakan satu bagian dari hati dan perasaan saya untuk Aceh karena bangga dan bersyukur pernah menjadi bagian dari perubahan Aceh yang lebih baik.

Hits: 793

Saya tidak tinggal aceh, sama sekali tidak berdarah Aceh, tidak juga lahir di Aceh dan tidak punya keluarga di Aceh.. Tapi saya cinta Aceh, bukan karena saya pernah jatuh cinta dengan orang Aceh bukan juga karena saya pernah mampir bekerja di Aceh. Alasannya sederhana, karena saya feel hommy sejak pertama kali menginjakkan kaki di sana.

Saya pertama kali ke Aceh pertengahan 2007, untuk bekerja di suatu lembaga yang menangani proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami.  Itu adalah pengalaman pertama saya bekerja di luar Jakarta. Jenuh dengan segala tetek bengek ibu kota dan ingin sesaat lepas dari Jakarta, saya terima sebuah kontrak kerja selama enam bulan dan meninggalkan pekerjaan tetap saya yang cukup menjanjikan di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta.  Keputusan yang agak sedikit ribet dan meragukan waktu itu, tapi dengan berbagai lika liku, singkat cerita tepat 2 Juli 2007 saya terbang ke Aceh.

Apa bayangan saya sebelum berangkat? Aceh itu menyeramkan! Isu GAM masih mewarnai pemberitaan media, daerah rawan dimana mana, belum lagi saya akan bekerja untuk pembangunan kembali daerah yang sempat porak poranda karena tsunami ini. Bayangan saya tentang Aceh pun ketika itu jauh dari kondisi normal. Ibarat di pedalaman, jauh dari keramaian dan hedonitas penduduk Jakarta yang senang karaoke seperti saya. Saya ingat, koper pertama saya ke Aceh besarnya hampir segede kulkas satu pintu. Mau tau isinya? Mulai dari sabun cuci, peralatan mandi, indomie sampai buku buku bacaan untuk membunuh waktu, karena dalam pikiran saya pasti akan banyak waktu tanpa aktivitas berarti selain di rumah saja. Kalo ingat itu saya ketawa sendiri sekarang. Betapa waktu itu mata saya sangat tertutup akan Aceh.  Saya pikir selama 6 bulan kontrak kerja itu, akan sangat sulit pulang ke Jakarta, jadi semua stok harus siap.  Lebih Lucu lagi waktu berangkat, beberapa sahabat saya ikut mengantar ke Bandara, ibarat saya mau pergi jauh dan lama baru kembali, persis seperti rombongan kecil pengantar jamaah haji.  Eh, kalo sekarang inget itu gak lucu lagi sih.. Malah jadi norak. Hahahahaha.

Tiba di Aceh pertama kali jam 12 siang, disambut cuaca yang sangat panasss. Setelah mendarat saya sms semua kerabat mengabarkan saya sudah tiba di tujuan dengan selamat. Isi smsnya pun saya masih ingat: “Alhamdulillah saya udah sampe,.. Banda Aceh panass gilaaaa” dan dibalas dengan kata kata menyemangati.  Lalu, dasarnya saya bukan orang yang cepat bisa beradaptasi dengan lingkungan yang benar benar baru.. Saya takut sekali homesick, sayat gak betah, sampai takut gak punya teman (ini serius) yang akhirnya dikhawatirkan mempengaruhi ke kerja profesional saya. Terus terang ketakutan itu sempat membuat bimbang seminggu sebelum keberangkatan.  Yang ajaib, tiba tiba hal itu sirna begitu saja ketika pertama menginjakkan kaki di pintu gerbang tanah rencong ini, tepatnya ketika melewati Simpang Surabaya.

Why? I don’t know…. It was an undefined feeling.

Hari itu juga pertama berkantor di Lueng Bata. Bayangan saya akan penuh bekerja dengan penduduk asli Aceh sedikit berubah, karena ternyata di divisi saya itu, separuh lebih juga orang pendatang seperti saya. Lambat laun saya pun bisa menyesuaikan diri dengan rekan rekan kerja yang baru, lingkungan dan masyarakat disana. Asumsi saya sebelumnya, akan banyak waktu tanpa kegiatan yang jelas ternyata salah besar.  Hari hari saya disibukkan dengan menikmati Aceh yang sebenarnya. Kontrak enam bulan pertama itu akhirnya pun berlanjut hingga 2 tahun lebih itu masih ditambah sekitar 1 tahun  bolak balik Jakarta-Banda Aceh. Selama masa kontrak saya juga hampir sebulan sekali kembali ke Jakarta, sekedar melampiaskan rindu akan ibukota. Jauh dari bayangan saya sebelumnya yang seolah olah akan “terbenam” di pedalaman.

Aceh itu indah, hingga dua tahun menetap disana, saya hampir lupa dengan Jakarta. Nyaris tidak ada kesan seram yg selama ini didengungkan. Yah, ini juga mungkin karena saya menetap setelah Perjanjian Helsinki. Namun konotasi akan masyarakat yg tidak ramah, kejam yang beritanya sempat diwakili oleh GAM nyaris tidak pernah saya temui.

Kalau soal pantai, saya memang bukan traveler, tapi saya pernah berkunjung ke beberapa lokasi pantai di Indonesia seperti Bali, Yogya, Lampung, Makassar dan Lombok termasuk negara tetangga seperti Thailand, tapi saya berani bilang: Heiii.. Come to Aceh you will see more than those!! Intinya gak usah jauh jauh.. Aceh tidak kalah indah bahkan lebih indah dari semua itu.

Sebelum ke Aceh saya hampir tidak suka kopi pun nongkrong di warung kopi,  tapi balik dari Aceh saya adalah tukang ngopi, meski bukan kopi hitam. Saya penikmat berat sanger dingin (sejenis kopi susu ala Aceh), sekali duduk saya bisa minum hingga dua gelas ukuran besar. Hmm.. Apa nikmatnya? Jangan samakan warung kopi di Aceh dengan Starbucks yang menjual penyajian berstandar internasional, kursi empuk dan AC superdingin.  Semua itu hampir tidak akan ditemui di warung kopi Aceh. Kursinya keras (sungguh sebenarnya bukan dirancang untuk duduk berlama lama), tidak ada pelayanan kelas dunia dan jangan berharap ada AC.  Harga kopinya pun bisa hingga sepersepuluh Starbucks. Tapi saya yakin kalau anda pernah mencoba dan mengerti akan kopi, anda bisa jadi merasa rugi beli Starbucks yang lebih menjual gaya hidup itu. Kopi Aceh is amazing. Lebih dari itu ada hal lain karena ternyata dengan uang 5000 perak ada makna kekerabatan yang sangat kental dari segelas kopi. Pembauran berbagai strata masyarakat seolah mencerminkan kebersamaan dan kekeluargaan yang tanpa batas.

Ah, saya tidak bisa bercerita banyak soal pantai, keindahan alam dan segelas kopi Aceh dengan bau bau promo pariwisata. Terlalu banyak web dan artikel yang sangat ahli untuk itu. Saya cuma ingin bilang: Saya pernah menikmati semua itu dan its really priceless. Saya mencintai Aceh..mencintai sahabat sahabat saya dan masyarakat disana yang ramah dan mulai terbuka akan dunia luar, jangan salah lho, Aceh sekarang sudah menjelma menjadi salah satu provinsi digital di Indonesia. Saya berani bilang, jumlah WiFi di Aceh mungkin lebih banyak dari Jakarta dan semua itu bisa dinikmati dengan gratis alias  free, cukup dengan duduk di warung kopi dan memesan minuman seharga tidak lebih dari Rp 6000,-  Anda sudah bisa menjelajah dunia ditemani cuaca Aceh yang panas namun bebas polusi.

Datang ke Aceh nikmati indah alamnya, keramahan penduduknya, keunikan budayanya dan pelajari begitu banyak lesson learn pasca tsunami 2004 yang merupakan salah satu bencana besar dunia. Rasakan bagaimana tsunami yang sempat meluluhlantakkan Aceh kini nyaris tak bersisa kecuali berbagai monumen, museum, pemakaman massal dan tonggak tonggak sejarah lain sebagai wujud pembangunan yang siginifikan sekaligus menjadi bukti bahwa Aceh patut diperhitungkan. Hikmah besar tsunami adalah Aceh menjadi lebih terbuka akan pembaharuan demi kemajuan.

Aceh adalah cerita buat anak cucu-ku kelak. Pekerjaanku, sahabat-sahabatku, hari-hariku dan romantika suka duka didalamnya, dan yang paling penting; saya bangga pernah menjadi bagian dari Aceh meski itu hanya sesaat..

(tulisan ini menjadi Pemenang ke-3 Lomba Menulis dalam Rangka Visit Banda Aceh Year, 2011)

Sukses untuk Visit Banda Aceh Year 2011.

Berikut beberapa tulisan saya tentang Aceh :

http://www.vikaoctavia.com/2010/01/ngupi-ngupi/

http://www.vikaoctavia.com/2009/08/kenangan-puasa-tahun-lalu/

http://www.vikaoctavia.com/2009/03/296/

http://www.vikaoctavia.com/category/tentang-aceh/

http://www.vikaoctavia.com/2008/08/berburu-makan-enak-di-banda-aceh/

Hits: 1612

Email ini masih dikirim buat GGJ….

—————————

what a small world

Friday, July 6, 2007 2:25 PM
From:
“vikhasy@yahoo.com” <vikhasy@yahoo.com>

View contact details

To:
undisclosed-recipients

Dear Nenek2 Grondongs,..

5th Day di Aceh.. lumayan udah mengenal situasi..emang kerjanya lumayan berat, tapi kayaknya nyantainya juga banyak..secara semua pada YM-an gitu..sempet2nya masuk room segala..Skype juga, but gw belum berani, coz belum dapet notebook..gak enak aja.. Karena keseringan mati lampu (maklum energinya terbatas), makanya susah kalo di desktop, switch ke generator makan waktu 1-2 menit lagi. Karena itu, gw gak update nih infotainment (gak pernah nonton TV)..cuman tahu terakhir Kristina menggugat cerai suaminya. Heheheh..

Bos-nya aku belum ketemu neh, sampe today masih di Jkt, jadi yg ngasih gawe para senior2 gitu termasuk si Wasi. Kayaknya orangnya serius banget, tapi chat juga seh… Mungkin itulah satu-satunya hiburan disini. Ternyata kalo wik-en sepi, coz banyak yg pulang ke Jkt apalagi kalo bulan muda. So, besok gw di rumah aja deh,..karena gak ada temen juga kemana-mana..

Dannnnnnn.. salah satunya yg juga ada disini adalah kakak kelas masa lalu yg suram dan gelap gulita.. Tak sengaja ! OMG, ternyata dia sering dateng ke tempatku (tepatnya ruanganku), untuk report kegiatan NGO-nya. Dia kerja di NGO lingkungan gitu deh..dari dulu. Temen seruanganku cerita2 dan sengaja nyebut nama oknum itu sebagai salah satu yg sering mampir. Sebenernya sih gw udah  tau dia disini dari milis, tapi gw pikir gak bakal ketemu-lah, secara gw juga males ketemu dan Aceh gak sekecil itu bukan ??!! …  Huhh.. He’s the worst thing in my life! Sumpah mampus !  Nah, biar gak kaget kalo ketemuan, aku email aja dia duluan. Hehehhehe..Terakhir sekitar 3 bulan yg lalu sempet online sama dia dan katanya dia mo merit ama ce Aceh. Good-lah.

Oya, Anabella PPh itu 10% ya, bo ? Secara yah, waktu di Jkt gw kagak nanya juga who’s pay PPh itu, ternyata kita bayar sendiri, mana transfernya ke BRI pula…Emang sih akomodasi ditanggung (kecuali makan dan kebutuhan pribadi) tapi makan lumayan mahal disini. Trus orang sini kayaknya doyan makan. Makannya porsi kuli semua, sementara gw tetep porsi kucing. Heheheh..

Alhamdulillah temen2 disini baek2,gak banyak yg berubah karna semua juga datang dari Jakarta dan sekitarnya. Jadi gak berasa orang asing gitu.. Suka muter I’m sorry goodbye juga, ngomongin hal-hal gaul (padahal di aceh gak ada tempat gaul) Asyiklah..ketakutan yang bikin gw nervous 7 hari 7 malem sebelum kesini, tampaknya tak terbukti, secara dalam beberapa hal disini lebih maju dibanding palyja (hehehhehehh…)

Miss you all…

Hits: 653