Setelah beberapa kali ke Kuala Lumpur, saya rasanya sudah enggan sekali ke Malaysia. Sekarang mind set liburan saya adalah ke tempat yang tenang dan adem ayem, dimana kita bisa duduk santai dengan secangkir kopi panas dan membiarkan waktu berjalan perlahan. Satu ketika  di TV, saya menonton liputan kota tua Malaka yang nampaknya sangat menarik. Mulailah saya berburu informasi tentang kota ini di Embah google. Cita-cita itu akhirnya kesampaian juga di awal 2014 ini. Tepat tanggal 1 Januari, saya berangkat dari Jakarta dan tiba di LCCT Kuala Lumpur pukul 20.30 (waktu Malaysia). Sudah cukup malam memang… Dari informasi yang saya dapatkan,  beberapa traveler blogger rata-rata menyarankan masuk ke Kota Kuala Lumpur dulu baru menumpang bis ke Malaka.  Ternyata, dari LCCT sendiri ada lohh…bus langsung ke Malaka, namun bus terakhir hanya hingga pukul 21.00. Bagi yang landing di KLIA, masih ada bus hingga pukul 23.30.  So, saya masih kebagian bus terakhir meski pake lari-lari. Biar aman, ada baiknya bus sudah di-booking online dengan harga sekitar 20 RM. Karena saya beli di tempat, dapat harga lebih mahal (RM 24).

Dua jam lam perjalanan ke Malaka sungguh tidak terasa. Saya tiba di guest house yang sudah dipesan secara online tepat pukul 23.00. Guest house ini berada di pinggir Sungai Melaka yang menjadi pusat peradaban kota ini. Harganya juga lumayan murah, buat dua malam hanya menghabiskan RM 110 (sekitar Rp 390.000,). Saya masih sempat naik ke balkon untuk melihat lampu-lampu di sepanjang sungai.  Tempat yang sangat inspiring buat yang sedang nulis laporan tahunan (seperti saya saat ini). Hahaha…

Menyusuri Sungai Melaka
Menyusuri Sungai Melaka

Pagi harinya, petualangan dimulai. Saya menyusuri jalan Kampung Pantai, Kampung Jawa, Hang Jebat (dikenal dengan nama Jonker Street) hingga tiba di Gereja Merah atau yang sering disebut The Stadthuys, Benteng Formosa dan Gereja St Paul yang letaknya di puncak sebuah bukit kecil.  Kota yang ditetapkan Unesco sebagai salah satu World Heritage ini menawarkan atmosfer abad 17-19 yang sangat kental. Bangunan-bangunan tua terpelihara rapih dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Sepertinya memang dijaga karena pemerintah Malaysia melarang untuk mendirikan bangunan modern di lokasi ini. Malaka dulunya pernah dijajah oleh Portugis, Belanda dan Inggris. Karena itulah, perpaduan arsitektur Eropa, Cina dan Melayu menjadi eksotika lain kota kecil ini.

deretan bangunan tua Jonker Street
deretan bangunan tua Jonker Street

Menariknya lagi, Sungai Melaka yang membelah kota ini sangat bersih bahkan wisatawan dapat menyusuri sungai ini dengan menumpang Melaka Cruise seharga RM 15 untuk perjalanan sekitar 45 menit. Saya sempat mencoba wahana ini di malam hari. Lumayan seru, menyusuri sungai dengan lampu-lampu yang meriah dan pemandu kapal yang menjelaskan sejarah setiap bangunan yang kami lewati.  

Benteng Formosa
Benteng Formosa

Melengkapai “ketuaannya”, Malaka menyajikan banyak museum. Dalam catatan saya, tidak kurang ada lima museum yang saya lewati yaitu Maritime Muzium, Youth Muzium, The Baba Nyonya Heritage Muzium, Straitz Chinese Jewelry Muzium dan Tun Teja Muzium. Dari peta yang saya dapatkan di  konter informasi wisata, ternyata masih ada museum-museum lain di sisi lain Malaka. Hmm, menarik buat yang doyan pengen tahu sejarah atau doyan barang antik. Sayangnya saya tidak terlalu berminat..karena bangunan museum umumnya bangunan “agak” baru, sementara saya lebih senang hunting bangunan-bangunan kunonya. Hehehe..

Yang tidak kalah penting, adalah soal kuliner. Jonker street selain menawarkan souvenir-souvenir buat oleh-oleh, disini juga pusat kuliner khas Malaka. Sama seperti gedungnya, kuliner Malaka pun perpaduan masakan Eropa, Cina dan Melayu. Di sore hari, coba masuk ke café di pinggir Sungai Malaka sambil menikmati cendol khas Malaka. Yummy..  Wah, sayangnya lupa foto makanannya nih..  Disini saya juga sempat menemukan durian crepe yang sering kita sebut juga  pancake durian. Enakk….. Oya, di Malaka memang banyak ditawarkan varian makanan dari durian loh… Satu yang saya sesalkan adalah, tidak sempat menikmati warung kopi di sini.  Nyesel banget deh, apalagi saya memang penikmat kopi. Sayang waktunya mepet dan saya kali ini traveling dengan Ibu saya yang gak suka ngopi…Ya udah…terpaksa ngalah.. Hiks..

 

20140102_110339
satu sudut kota

Satu lagi, Malaka ini kotanya santai banget. Toko-toko baru buka sekitar jam 10-11 siang. Sebagian besar juga sudah tutup menjelang gelap. Tidak ada hingar bingar hiruk pikuk ala kota besar. So, Malaka is so recommended buat yang butuh liburan penenangan diri dan mencari inspirasi yang murah dan dekat!

 

 

Hits: 1199

Sejak pulang dari Aceh (huuu…Aceh meluluuuu), saya pengen bilang bahwa sejatinya hidup itu dimulai dari warung kopi. Yes, life begins at coffee shop.  Buat saya,  nongkrong di warung kopi bukan sekedar  untuk bersosialisasi, ngobrol sambil menikmati secangkir latte yang mengepul, tetapi juga tempat mencari inspirasi dengan berlama-lama bekerja di depan laptop tanpa bosan. Bahkan sangat tidak jarang saya nongkrong di warung kopi sendirian untuk menyelesaikan setumpuk pekerjaan  atau sekedar menulis untuk blog ini.  Tahun lalu, saya sempat menulis satu buku yang jika dihitung-hitung lebih dari 50% isi buku itu saya selesaikan di warung kopi. Plok…plok..plok..

Karena saya tinggal di Bogor, saya punya warung kopi favorit. Namanya Telapak café, letaknya persis disamping pool Bis Damri bandara, disamping Botani Square  pas depan Terminal Baranangsiang. Kenapa saya suka disini? Letaknya tidak begitu jauh dari rumah, angkotnya mudah, harganya masuk akal dan kopinya enak. Tidak itu saja, kafe ini menyediakan free hotspot dengan kecepatan yang lumayan lengkap dengan colokan listrik di hampir semua meja. Tidak heran, saya betah berlama-lama disini, bahkan kadang sampai kafe ini tutup di pukul 11 malam. Beberapa bulan terakhir ini, saya pikir ada bagusnya saya mencoba mencari warung kopi lain di seputan Bogor. Tentu saja bukan chain internasional seperti Starbucks atau Coffee Bean yang ada di hampir tiap mall.  Mulainya pencairan melalui Mbah Google. Meski tinggal lama di Bogor, gak berarti saya tahu setiap jengkal Bogor. Maklum, kalau hari kerja lebih banyak di Jakarta.

Kedai Telapak
Kedai Telapak
Kedai Telapak
Kedai Telapak

Read More

Hits: 1752

Ceritanya minggu lalu, saya “mupeng berat” dengan yang namanya pantai. Dengan kondisi kantong yang cekak dan waktu libur yang singkat, sepertinya tidak memungkinkan untuk melancong ke pantai-pantai indah di Bali atau Lombok atau Aceh Lon Sayang.. (How I miss Aceh..). Memang sih, dalam setiap perjalanan dinas ke luar ke daerah akhir-akhir ini sering ketemu pantai, tapi itu benar-benar cuma numpang lewat. Boro-boro menikmati pasir putih, mampir sekedar minum kopi pun kadang tidak sempat.

Entah dapat wangsit darimana, tiba-tiba terlintas ingin main ke Pulau Seribu. Yah, karena lokasi ini yang paling dekat dari Jakarta dan biayanya pun terjangkau. Sejujurnya agak setengah hati ketika merencanakan perjalanan ini. Katanya pencemaran perairan di Teluk Jakarta sudah melebar hingga Kepulauan Seribu. Tergambar di benak saya bagaimana dampaknya terhadap pantai-pantai di sekitarnya.  Dari hasil googling, saya nyaris belum menemukan tulisan dengan rekomendasi positif, kecuali pernikahan sepasang artis tenar di salah satu pulau yang katanya untuk mendongkrak pariwisata kepulauan ini.

kampanye lingkungan di Pulau Pramuka
kampanye lingkungan di Pulau Pramuka

Pagi hari keberangkatan di PPI Muara Angke, saya melihat jubelan manusia, penuh dari segala umur berdesak-desakan di PPI yang bau amis dan rela mengantri kapal tongkang kayu. Disini saya mulai berpikir, jika turisnya sebanyak itu berarti lokasinya memang menarik dong.  Fasilitas darmaga yang minim, nyaris tidak ada tempat menunggu yang layak, -pokoknya bener-bener gak nyaman- harusnya terbayar dengan lokasi yang dituju. Kalau tidak, ngapain capek capek dari subuh sudah nangkring disana. Di tahap ini saya sudah mau ngomel rasanya dengan Pemda DKI. Ini kok, turis lokal bahkan asing sebanyak ini, tapi fasilitasnya minim banget.  Memang sih, ada darmaga khusus di Marina Ancol, yang armadanya kapal cepat. Tapi itu biayanya hingga 3-4 kali lipat dibandingkan dari Muara Angke. Kapasitasnya pun terbatas.  Padahal wisata bahari harusnya adalah wisata massal, jadi fasilitas kapal kayu pun sepatutnya tetap dibuat lebih layak agar jumlah wisatawan juga meningkat. *Pak Ahok, tulisan ini dibaca yaa…

Pukul 07.30 tepat, kapal yang saya tumpangi meninggalkan Darmaga Muara Angke yang warna airnya sudah coklat tua, bau dan penuh sampah. Beuhhh… Dalam perjalanan yang kurang lebih dua jam itu, saya memilih duduk di geladak kapal, untung merasakan angin laut pagi yang sejuk.  Di dalam kapal kayu itu, hanya ada satu ruangan besar tanpa kursi yang dipadati wisatawan dan penduduk lokal dengan berbagai barang belanjaan mulai dari beras, buah hingga sayur-sayuran dari Jakarta.  Kebayang kan, gimana sesaknya. Bagi yang mungkin sering melancong ke luar negeri, kondisi begini pasti “gak banget”. Tapi saya yang orang kampung-an sih ini masih oke-oke aja.  Hehehe..

 

teduhnya Pulau Air

Menjelang pukul 10.00 WIB, kapal kami merapat di Darmaga Pulau Pramuka. Wah, disini saya sempet kaget. Ternyata darmaganya bersih banget, sangat beda dengan Darmaga Muara Angke. Airnya sangat jernih, bahkan salah satu sisi darmaga dijadikan Taman Miniatur Ekosistem Laut Dangkal. Darmaga kayu yang sangat eksotik ini membuat saya semangat, dan melupakan sedikit ketidaknyamanan dengan suasana sumpek Muara Angke.  Oh ya, Pulau Pramuka adalah salah satu dari 113 pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Dari jumlah itu hanya 9 pulau yang berpenghuni dan Pulau Pramuka ini adalah pusat administrasi pemerintahan Kepulauan Seribu. Kemudian kami diajak ke penginapan yang mereka sebut home stay (HS). Dalam asumsi saya, homestay adalah rumah penduduk yang disewakan. Namun ternyata itu definisi lama yang masih kebawa-bawa. HS adalah penginapan kecil layaknya bungalow yang kebetulan menghadap langsung ke pantai dengan fasilitas lumayan.   Sepanjang jalan menuju HS saya memperhatikan bahwa pulau ini cukup bersih, air lautnya yang jernih membuat kita bisa melihat langsung biota laut di saat pasang.  Nyaris tidak ada sampah.  Di sepanjang jalan mulai berdiri beberapa depot makanan. Ada pula billboard-billboard besar yang menyerukan pentingnya menjaga kebersihan laut. Tampaknya dipasang oleh NGO-NGO lingkungan yang bekerja disini. Meski masih cukup jauh dari sempurna, pergerakan menjadi wilayah ekowisata sepertinya sudah mulai terlihat.

Selepas sholat lohor, kami diajak ke beberapa spot di pulau kecil lain di sekitar pramuka untuk sekedar menikmati alamnya atau menyelam (snorkling). Waduh,

mejeng bentarlah, ya....
mejeng bentarlah, ya….

saya yang semula tidak berekspektasi berlebihan, merasa disuguhi panorama alam yang sangat indah  dan membuat saya sadar, masih ada lho…pantai indah di sekitaran Jakarta dan itu bukan Ancol! Airnya yang tenang, jernih, biota laut yang indah, udara laut yang sepoi-sepoi membuat perjalanan seharga Rp390 ribu (2H1M) itu sangat layak.   Karena rombongan saya sebagian besar belum pernah menyelam, agen travel kami memberi waktu untuk “belajar”, di perairan yang lebih dangkal. Itu saja pemandangannya sudah indah sekali.

Tidak itu saja, kami juga diajak melihat penangkaran ikan hiu sembari menunggu sunset di pulau nusa keramba. Sempat juga mampir ke Pulau Semak Daun, yang punya pasir putih meski garis pantainya tidak panjang. Malamnya kami masih disuguhi hidangan BBQ di pinggir pantai.  Pagi sebelum pulang, kami diajak mengunjungi penangkaran penyu sisik. Penyu-penyu yang sudah termasuk langka ini dipelihara hingga dewasa, sebelum akhirnya dilepaskan kembali ke habitatnya di laut lepas.  Disini juga ada pembibitan mangrove yang disumbang dari  berbagai korporat besar di negeri ini.  Saya yang sarjana perikanan, jadi ingat mata kuliah ini jaman dulu yang kebetulan dapet C *bangga… * Intinya, banyak lokasi yang cukup edukatif buat mereka yang membawa anak usia sekolah. 

sunset di tepi darmaga

Kesimpulannya saya mau bilang; jangan ragu-ragu ke Pulau Seribu. Kalau gak sanggup naik kapaltradisional dari Muara Angke, bisa dicoba dengan kapal cepat dari Marina Ancol, siap-siap saja kocek yang lebih tebal.  Buat yang baru pertama kali, ada baiknya menggunakan jasa agen travel yang sangat banyak di internet. Selain lebih murah (apalagi kalau kita berombongan), mereka juga sudah punya agenda dan bisa jadi guide untuk spot-spot menarik lain yang layak dikunjungi.  Kabarnya masih banyak pulau-pulau lain yang layak dikunjungi tetapi belum menjadi destinasi utama Kepulauan Seribu.  Pemerintah memang masih banyak punya tugas berat untuk menyulap wilayah ini menjadi benar-benar bernilai jual seperti pembenahan pelabuhan Muara Angke yang kondisinya memprihatinkan, fasilitas air tawar yang minim dan fasilitas-fasilitas penunjang lain. Namun, kekurangan yang ada sekarang gak boleh mengurangi niat kita kesana. Minimal, biar yang punya gawe itu jadi ngeh, kalau memang banyak yang harus dibenahi. Sekali lagi, kalau bukan kita, siapa yang bisa membuat negara kita yang indah ini lebih baik?!

 

Hits: 1490

Sampai detik ini Saya masih menyimpan timbunan mimpi untuk bisa melihat benua Eropa dan Amerika. Jika dipikir secara matematika, saya sadar untuk kondisi sekarang dan satu-dua tahun ke depan hal itu belum memungkinkan. Tapi kita tidak tahu, selama ada ikhtiar pasti ada jalan, dan sekarang saya masih dalam proses ikhtiar itu. Aaminn. Sejujurnya dulu masih merasa iri dengan beberapa teman yang bisa melancong ke benua-benua itu, baik yang bayar sendiri apalagi yang bisa gratis. Duh, saya kapan yaa.

Tapi sekarang, rasa iri-nya mungkin sudah jauh sekali berkurang. Kenapa? Karena di pekerjaan saya yang sekarang, saya sudah diberi “rejeki” melancong hampir di 2/3 provinsi negara ini. Meskipun “bungkusan”-nya dinas kantor, yang rata-rata hanya dua hari, saya merasakan bahwa saya makin jatuh cinta dengan Indonesia. Saya bukan mau bercerita soal Bali atau Yogyakarta yang memang sudah jadi maskot wisata Indonesia. Masih ada puluhan daerah lain yang sangat layak untuk dikunjung

Saya terlalu sering menulis tentang Aceh. Entah karena (pernah) ada cinta yang lain atau karena saya benar-benar jatuh cinta dengan budaya dan alamnya. Rasanya saya masih pede bilang, bahwa pantai-pantai di Aceh masih tetap yang terindah buat saya. Saya tidak akan pernah lupa pantai indah yang melingkari kota Kupang, pegunungan nan sejuk di Tolitoli, Sulawesi Tengah dan tentu saja Senggigi Lombok yang sudah ramai dengan wisatawan. Saya sempat terkagum-kagum dengan jembatan Barelang yang menghubungkan tiga pulau di Kepulauan Riau.  Disana, saya juga baru tahu ada satu kampung yang selama puluhan tahun dihuni oleh pengungsi perang Vietnam yang akhirnya beranak pinak. Kampung kecil yang kini tak berpenghuni itu – telah menjadi salah satu culture heritage-nya Unesco- ibarat negara kecil di pulau kecil. Luasnya mungkin tidak lebih dari satu RW, tapi lengkap dengan rumah, gereja, pagoda, vihara, masjid, sekolah bahkan penjara dan pemakaman. Uniknya lagi semua bangunan tersebut diberi nama dan tulisan dalam bahasa Vietnam.  Suatu saat di Pulau Samosir sambil memandang Danau Toba, saya pernah mikir apakah yang sering bolak-balik ngasih devisa ke Singapura (alias belanja) pernah mampir kesini? Gak yakin…

Read More

Hits: 964

Mendapat kesempatan bisa pergi ke tanah suci bulan ini adalah sebuah berkah yang luar biasa bagi saya.  Selain punya rejeki yang cukup (baca: pas-pas-an), bisa cuti (dengan mudahnya), ternyata yang lebih besar poinnya keinginan yang mungkin orang bilang “panggilan” buat kesana. Saya sudah merencanakan keberangkatan ini sebenarnya sejak tahun lalu, tapi “nekad” pengen bener-bener pergi itu baru di Februari 2013. Dengan bekal tabungan yang belum cukup kala itu, saya niatkan survei mencari travel yang biayanya terjangkau dan paling penting terpercaya.

Akhirnya ketemu juga travel yang kira-kira sesuai dengan ekspektasi itu. Sayangnya, tanggal keberangkatannya sempat “dioper-oper” karena saya sendirian, sementara jamaah lain semua dalam grup. Singkat cerita, saya “diselipkan” ke salah satu rombongan yang semuanya dari Bandung.  Belum lagi saya tidak dapat manasik, karena manasik diadakan di Bandung. Belakangan saya baru tahu, manasik buat umroh tidak terlalu penting, dengan membaca buku dan googling dan itu malah lebih dari cukup. Tidak itu saja, saya sempat terlambat menerima perlengkapan seperti koper, baju seragam dll. Selain karena memang informasinya telat dari travel saya juga tidak punya banyak waktu dengan intens menanyakan hal ini. Saya juga gak mau “heboh” apa adanya saja.  Hampir tidak ada baju baru untuk kesana, kecuali satu gamis dan pengganti baju ihram yang kelunturan waktu dicuci :D. Uang saku juga baru cukup tiga hari sebelum berangkat, jadi saya tidak sempat mengamati kapan kurs real turun terhadap rupiah. Saya berusaha tidak berpikir  hal yang bukan bagian penting dari ibadah, karena takut pamali dan kualat.  Lillahitaala aja, kalau Allah mengijinkan berangkat, PASTI berangkat. Keliatannya memang rempong, tapi ternyata itu semua terbayar sejak berangkat hingga kembali, saya puas dengan pelayanan travelnya. Bahkan dari rencana 9 hari, jadi 10 hari dengan harga sama.

Read More

Hits: 1152

Masih melanjutkan cerita tentang liburan singkat saya di Belitung minggu lalu, kali ini sedikit ulasan tentang pantai-pantainya. Ini adalah liburan kedua saya bulan ini ke tempat bernama pantai. Bulan lalu disela-sela tugas ke Aceh saya menyempatkan mampir ke beberapa pantai di bumi nanggroe tersebut. Di Belitung saya berkunjung ke beberapa pantai yaitu, pantai Tanjung Tinggi, Tanjung Binga, Tanjung Kelayang hingga ke Pulau Lengkuas dan Pulau Burung. Komplit-lah, meski capeknya juga komplit. Tapi seneng dan puas banget.

Komentar saya secara keseluruhan, pantai-pantai di Belitung sangat eksotis dan punya karakter yang belum tentu ada di daerah lain terutama di Indonesia. Namun lagi lagi (dan selalu begitu), pariwisata Belitung (seperti juga sebagian besar provinsi lain di Indonesia) masih jauh dari optimal pengelolaannya. Sayang banget. Transportasi umum di Belitung sangat minim, bahkan nyaris tidak ada.  Akibatnya wisatawan mau tidak mau harus ikut dalam rombongan travel. Selain harga yang kadang sedikit lebih mahal, tidak semua wisatawan enjoy bepergian dengan biro travel yang jadwalnya cenderung mengikat. Apalagi kini makin banyak orang yang senang bepergian ala backpacker. Belitung khususnya Penduduk Tanjung Pandan pun menurut saya belum siap daerahnya menjadi daerah wisata.  Belum banyak usaha souvenir barang-barang khas Belitung, tempat makan yang masih terhitung sedikit pilihannya. Harusnya kedua hal tadi bisa membuka lapangan kerja baru bagi penduduk Belitung. Yah, ini sih bisa dimaklumi, meski sudah banyak yang mengenal keindahannya sejak dulu, tetapi harus diakui fenomena Andrea Hirata dan Laskar Pelangi-nya membuat Belitong alias Belitung menjadi lebih mendunia. Namun, apapun kekurangannya, Belitung sangat direkomendasikan sebagai tempat berlibur baru. Saya selalu dan selalu menyimpan semangat optimism akan majunya pariwisata Indonesia.

Industri ini adalah salah satu industry dengan pertumbuhan paling tinggi beberapa tahun terakhir.  Belum optimal saja, pertumbuhannya sudah tinggi, gimana jika dikelola lebih serius? I’m proud being an Indonesian. Lovely Indonesia.

berasa jadi putri duyung..hehehe
berasa jadi putri duyung..hehehe

Hits: 1050

Bulan ini saya bisa liburan sebentar ke Pulau Belitung. Kebetulan ada teman lama, Yeni yang sudah bermukim disana. Selain pantainya, lima tahun terakhir Belitung diberi “julukan” baru Negeri Laskar Pelangi. Yah, asal muasalnya apalagi kalau bukan buku mega bestseller tulisan Andrea Hirata yang sudah buanyakkkkk saya tulis di blog ini.  Saya sudah menggagendakan harus mengunjungi Gantong, kampong si Bang Ikal dan ngopi di Manggar. Sekedar ingin merasakan atmosfer yang sering Andrea ungkapkan di buku-bukunya.  Saya juga mampir ke SD Muhammadiyah Gantong, sekolah Laskar Pelangi.  Jangan salah yah, ini hanya bangunan yang didirikan sebagai lokasi syuting film Laskar Pelangi 2008. Bangunan aslinya tentu sudah tidak bisa menggambarkan cerita akhir 1970an itu.

Setiba disana, saya baru tahu ada Museum Kata, museum-nya Andrea Hirata. Saya yang mengaku fans beratnya jadi malu sendiri, ternyata saya tidak tahu ada museum yang sudah didirikan sejak 2010 ini. Hehehehe. Awalnya kok kesannya “berat” banget ya.. Ada museum di desa kecil  yang bahkan belum tentu seluruh penduduknya mengerti apa itu museum. Namun anggapan itu berubah ketika kami tiba disana. Memasuki museum yang berupa rumah tua dengan 1 ruangan utama dan 4 ruangan lain, ada box sumbangan Rp2000/orang yang mereka sebut sebagai “uang kebersihan” Di setiap dinding terpampang apa dan siapa Andrea Hirata, karya-karyanya, foto-foto dari scene film Laskar Pelangi, puisi-puisi Andrea bahkan kata-kata motivasi dari berbagai tokoh dunia. Lantai museum hanya dilapisi dengan tikar pandan kampung yang sangat biasa, tapi rumah seluas kurang lebih 15×15 m ini sangat bersih, resik dan  nyaman. Di sebelahnya ada bangunan setengah jadi yang nampaknya akan menjadi perluasan museum ini. Nuansa semangat, ketulusan dan pentingnya pendidikan sangat-sangat terasa.  Sebutlah ada sebuah foto berlatar belakang sekolah Laskar Pelangi dengan langitnya yang biru bertuliskan:  “Sekolah adalah kesempatan, berkah dan kegembiraan” (Andrea Hirata). Disisi lain sebuah kalimat: Berkaryalah, karena karya itu akan menemukan nasibnya sendiri.  Tentu saja masih banyak kata-kata indah sarat makna dari berbagai orang yang sudah menorehkan sejarah dunia.  Keseluruhan tema yang ingin diangkat ruangan kecil ini adalah: DO I INSPIRE YOU?  Kalimat berbahasa Inggris ini hampir ada di setiap tulisan di ruangan ini.

Saya  nampaknya sedang beruntung. Ketika saya pamit ingin ke kamar kecil, jreng..jreng..ternyata di ruang belakang saya bertemu si empunya. Sedikit kaget, sampai saya mundur sesaat. Tapi kemudian saya mengulurkan tangan dan mengenalkan diri sambil bilang: Bang, kita pernah ngopi di Banda Aceh, 1,5 tahun lalu, loh.. Andrea Hirata sedikit lupa mungkin, tapi kemudian dia tertawa dan akhirnya ingat kalau satu malam di Banda Aceh, 2011 lalu dia pernah membayarkan kopi sanger saya dan dua orang teman saya. Bang Ikal sangat ramah, dia bertutur  1,5 tahun belakangan, ia bermukin di Perancis karena sedang mengerjakan buku baru karena editornya orang sana. Wow, ternyata saya juga tidak tahu soal ini. Hahahha.. katanya fans..

 

Kami mengobrol sedikit, ia banyak menceritakan museum yang ternyata dibeli dan dikelola oleh manajemennya sejak 2010. Saya juga sedikit nanya-nanya tips menerbitkan buku kepadanya. Saya lupa bilang, saking ngefans-nya saya nonton musikal Laskar Pelangi sampai di Singapura, tidak saja mengoleksi buku-bukunya. Hari itu masih pagi, pengunjung museum belum banyak, karena agenda jalan-jalan saya masih padat, saya pamit pulang. Ia mengantar saya dan rombongan sampai ke depan pintu. Saya tersanjung dan tak sabar untuk membagi cerita ini

Ada satu yang juga belum sempat saya bilang ke beliau. Kalau saya dan dia punya kesamaan. Sama-sama menjadikan Aceh sebagai awal inspirasi untuk menulis… ^__^

Andrea Hirata menulis Laskar Pelangi terinspirasi setelah pulang dari tugas sebagai relawan tsunami Aceh 2004.Pada salah satu memoar yang terpampang di museumnya, ia menuturkan: di Aceh ia melihat sekolah-sekolah yang hancur dan anak-anak yang tidak dapat bersekolah lagi. Baginya, ini membangkitkan kenangannya di masa kecil  yang berjuang memperoleh pendidikan. Saya pun begitu, selama dan setelah bekerja di Aceh, otak saya hampir selalu penuh dengan inspirasi untuk menulis. Entah dari melihat alamnya, ataupun dari semua kenangan dan peristiwa yang pernah terjadi di dalamnya. See?! .. *selamat menikmati foto-fotonya*

Hits: 952

Masih ngomongin Aceh, tepatnya inspirasi dari Aceh. Setiap kembali dari sana, saya seolah “tidak siap” bertemu dengan Jakarta.  Yang terbayang, macet dimana-mana, orang-orang yang terburu-buru, angkutan publik yang buruk dan dunia sosial yang jauh sekali berbeda dengan di daerah. Saya bersyukur pernah kerja di daerah (baca; Aceh) dan merasakan atmosfir yang tidak melulu dalam suasana kompetisi dan yang dikejar itu hanya posisi dan materi.  Kemana-mana dekat, semua orang ramah, tidak saling curiga dan suasana kekeluargaan yang bukan cuma “sampul” seperti orang Jakarta. Kehidupan sosial juga begitu, tidak perlu harus punya dompet tebel untuk nongkrong di café-café mahal  Cukup di warung kopi sederhana dengan uang kurang dari 10 ribu, makna kekerabatan itu diperoleh.  Malahan “ngumpul-ngumpul” ala warung kopi tanpa AC begini, bagi saya melahirkan banyak ide, menjalin relasi bahkan menghilangkan kegalauan. Wah, aku udah persis orang Aceh banget kalo begini.

Bagi saya bekerja di Jakarta kemudian menclok sesaat dengan pergumulan kerja ala Aceh adalah proses keseimbangan.  Terkadang memang timbul rasa bosan, karena Aceh tidak menjanjikan hiburan ala metropolitan; café, karaoke dimana-mana, bioskop, mall yang bertebaran tetapi Aceh punya pantai yang indah, alam yang rupawan, wisata religius dan artefak-artefak tsunami yang sangat monumental bagi daerah ini bahkan dunia. Buat saya yang mulai bosan dengan kekejaman Jakarta, semua itu indah dan damai.  Kebahagian di keramaian ala Jakarta terkadang membosankan dan sangat individual menurut saya.  Orang-orang Jakarta semakin memandang orang lain dengan penuh kecurigaan. Sudah jarang saya temui senyum ramah dan orang yang sekedar mau menjawab pertanyaan kecil -seperti lokasi sebuah tempat- di jalanan.

Padahal bahagia itu sederhana, ketika detak jantung tidak sekencang ritme Jakarta, ketika melihat pemandangan tepi jalan yang indah, ketika semua orang saling menyapa, ketika semua masalah seakan selesai karena kebersamaan yang bukan cuma kulit. Saya masih percaya, indikator kualitas hidup manusia dilihat dari hal-hal itu, bukan koneksi internet berkecepatan tinggi dan berapa banyak saldo di rekening Anda.

Ah, saya selalu rindu suasana itu. Cukuplah di Jakarta untuk mengejar sedikit prestasi dan sejumput materi yang terbungkus bentuk pengabdian kepada  negara ini. Biar cuma Jakarta yang semerawut dengan semua gejolaknya. Dan, suatu saat, saya ingin kembali ke satu  tempat, dimana saya dapat menemukan semua itu. Amin.

Hits: 1102

Minggu lalu, saya bersama seorang teman menghabiskan  akhir pekan di Bandung. Sekedar refreshing.  Kebiasaan ini seperti sudah umum bagi sebagian orang Jakarta. Bandung memang  tujuan wisata yang murah, meriah dan tidak begitu jauh dari Ibukota. Lebih lebih sejak Tol Cipularang dibuka sekitar tiga tahun lalu. Bandung pun semakin dekat.

 

Lucunya, untuk rute kembali ke Jakarta, kami memilih menggunakan kereta. Yes!! Saya sendiri emang rada norak, karena belum pernah seumur-umur naik kereta jarak jauh yang punya embel-embel kereta eksekutif. Hihihi…. Kereta Bandung-Jakarta yang kami pilih adalah Argo Parahyangan yang berangkat pukul 12.00 siang dari Stasiun Bandung.  Bayangan kereta yang sumpek dan tidak nyaman (seperti KRL yang sering saya tumpangi), sama sekali hilang. Argo Parahyangan  kelas eksekutif sangat nyaman. Dari kursinya, kebersihannya, pelayanannya dan ketepatan waktu berangkatnya. Namun bukan itu, yang mau saya ceritakan. Bonus lain yang kita dapatkan dengan membayar Rp 80 ribu saat akhir pekan atau Rp 60 ribu saat hari biasa, adalah pemandangan alam yang sangat indah, terutama sepanjang jalan Bandung-Purwakarta. Komplit-lah, dari sungai, gunung, sawah, rumah rumah penduduk desa yang eksotis ditambah lagi jembatan jembatan dan rel tua peninggalan belanda membawa nuansa baru dalam perjalanan itu.

Saya pikir, memang sebagian nyawa kereta ini didesain dengan konsep kereta wisata, karena di beberapa spot unik, kru kereta akan menjelaskan deskripsi daerah tersebut. Belum lagi, jalannya memang terhitung pelan untuk kereta eksekutif (hingga 3 jam perjalanan).  Sayangnya, sejak Cipularang dibuka, peminat kereta ke Bandung memang berkurang karena munculnya berbagai travel dan bis yang lebih terjangkau. Mungkin PT KAI bener-bener harus lebih serius merombak positioning kereta ini menjadi kereta wisata.

So, buat yang lagi cari alternatif perjalanan yang unik.. Ini bisa dicoba loo!

Hits: 2044

Saya memang sangat jarang menulis ulasan tentang film. Selain karena saya bukan seorang movie freak, terkadang muncul perasaan gak pede kalo baca resensi-resensi orang yang (katanya) profesional dan ahli di urusan ini. Di blog ini, saya hanya pernah menulis beberapa hal soal film yaitu;  nonton India, laskar pelangi dan kite runner

Namun karena momennya istimewa yaitu bertepatan pada peringatan tujuh tahun tsunami saya ingin membagi pengalaman dan perasaan saya akan film berjudul Hafalan Shalat Delisa yang baru saja saya tonton tadi sore. Film ini diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Tere Liye. Terus terang, saya sendiri belum pernah membaca novelnya. Niat utama menonton film ini karena saya masih merasa punya keterikatan batin yang cukup dalam dengan Aceh sejak sempat bekerja disana.

Saya sempat membaca resensi film ini di beberapa situs hasil googling, seperti yang berikut ini. Yah, mungkin secara sinematografi film ini kurang terasa gregetnya, keliatan masih kurang disana-sini. Bukan bagian saya deh, untuk mengomentari hal berbau “teknikal” begitu. Namun, di beberapa sisi yang bisa ditangkap oleh penonton awam seperti saya, saya pun merasa ada hal yang kurang pas seperti dialek Aceh yang sangat kurang dalam hampir semua dialog. Gambaran tentang bencananya pun kurang banyak terwakili dan terkesan dibuat seadanya. Barak pengungsian, tentara-tentara asing, pekerja kemanusiaan nampaknya memerlukan riset yang mendalam untuk menggambarkan bagaimana bencana besar dunia 2004 lalu meluluhlantakkan Aceh. Setting-nya pun “sangat kurang Aceh” , buat para penonton yang tinggal atau pernah ke Aceh pasti merasakan perbedaan ini. Baik dari sisi lokasinya, gambaran masyarakatnya dan kultur daerahnya. Setting ini sangat saya sayangkan, karena alam Aceh sangat indah, idealnya film ini dapat menggambarkan hal itu dan bisa menjadi media bagi promosi the New Aceh.

Upss.. tapi tunggu dulu, terlepas dari beberapa kekurangan diatas, saya pribadi merekomendasikan film ini dengan sangat. Tema keikhlasan yang diangkat mampu memancing emosi penonton apalagi kalau yang menonton masyarakat Aceh sendiri. Saya menghargai upaya keras pembuat film ini untuk melahirkan sesuatu yang beda yang menggiring kita untuk bersyukur, tidak putus asa dan mengambil hikmah dari sebesar apapun peristiwa yang terjadi pada kita. Oke, apapun itu.. film ini ditayangkan pada saat yang tepat yaitu di masa liburan anak sekolah dan menjelang peringatan tujuh tahun tsunami. Terbukti di Botani 21, Bogor seluruh kursi hampir terisi penuh di setiap show.

Satu lagi yang pasti saya sangat menikmati film ini, karena saya merasa pernah menjadi bagian daerah Aceh dan tsunami-nya dan tentu saja karena saya yakin masih menyisakan satu bagian dari hati dan perasaan saya untuk Aceh karena bangga dan bersyukur pernah menjadi bagian dari perubahan Aceh yang lebih baik.

Hits: 922

Jumat lalu,  bersama seorang teman, gw nongkrong di sebuah coffee shop di Plasa Senayan. Gak ada yang istimewa sih, acara seperti ini cukup rutin kami lakukan. Isinya apalagi kalau bukan curhat dan chit chat dari masalah penting sampai gak penting. Hitung-hitung untuk menghilangkan kepenatan kerja.

http://www.bazaardesigns.com

Sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu, sahabat saya ini  ini masih dalam status “patah hati berat”  Namun di pertemuan kemarin ternyata ia punya “kisah” baru yang mengingatkanku akan cerita cerita serupa dengan teman-teman lain.  Jadi, belum lama ini, Bunga (sebut saja namanya begitu), pergi melancong ke Malaysia setelah memenangkan sebuah tiket doorprize PP ke negeri Jiran itu. Ini pengalaman pertama Bunga pergi ke luar negeri.   Disana tanpa dinyana ia berkenalan dengan seorang cowok berkebangsaan Bangladesh dengan cerita pertemuan yang  nyaris seperti skenario sinetron.  Laki laki itu sebuah pemilik toko di daerah Bukit Bintang tempat Bunga bersama temannya menginap. *Wah, mirip mirip Film ngetop Notting Hill yaa.. *  Ia beberapa kali melewati toko lelaki itu, tapi sama sekali tidak tergerak untuk masuk. Sementara si cowok tampaknya memang sudah  mengamati sejak pertama si Bunga melintas di depan tokonya.

Tak disangka di malam terakhir disana, Bunga harus membeli sesuatu dan tersisa toko si cowok yang masih  buka.  Tampang si cowok sungguh sumringah, belakangan baru ketauan ia yakin sekali bahwa Bunga suatu saat akan kembali setelah beberapa kali hanya numpang lewat. Singkat cerita mereka pun berkenalan meski saat itu sudah pukul 11 malam.  Bunga begitu saja percaya pada cowok yang baru dikenalnya itu dan mau diajak ngobrol di tengah malam  di sebuah café.  Dalam waktu pertemuan singkat yang kurang dari dua jam tersebut, si cowok menyatakan tertarik dan berniat menikahi Bunga.  *Hemmm, buat gw ini asli agak masygul*  Kok bisa  bisa-nya begitu??  Beneran ya love at first sight itu ada?  Esoknya Bunga kembali ke Jakarta, si cowok pun turut mengantar. Namun kebodohan terjadi, mereka hanya sempat bertukar email dan ID Facebook tanpa sempat bertukar nomor telepon. Gubrak banget kan…  Parahnya lagi, setiba di Indonesia, baru ketauan kalau ada kesalahan “teknis” dengan ID dan email tersebut yang akhirnya membuat mereka tidak terhubung selama beberapa saat.

Read More

Hits: 7007
yes…got the ticket!!

Kegilaanku terhadap Laskar Pelangi (LP) dan Andrea Hirata tahun 2007-2008 lalu, aku pikir sudah berakhir sejak filmnya dirilis diikuti dengan film Sang Pemimpi di tahun 2010, ternyata belum tuh.. Gue mengoleksi semua buku Andrea Hirata hingga yang terakhir (Sebelas Patriot) dan tentu saja Tetralogi Laskar dan Pelangi serta buku kembar Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas serta beberapa buku tulisan pengarang lain yang ada bau-bau Laskar Pelanginya. Ah, gw sempet gila gara gara Bang Ikal ini. Jadi inget pertama kali hunting dia di Unsyiah awal 2008 lalu. Gue juga sempet ngeblog tentang ini, di beberapa tulisan gue; Nonton Buku Baca Film, Sekte Penyakit Gila, Laskar Pelangi The Movie is Coming dan My Maryaman Karpov. Bahkan tanpa sengaja gw juga pernah ngopi bareng Bang Ikal ini di sebuah warung kopi di Banda Aceh pertengahan Maret 2011. Dibayarin pulak!!

Fenomena buah tangan Andrea Hirata ini ternyata tidak berhenti sampai disini saja, tahun 2010 mulai digagas pementasannya dalam bentuk drama musikal. Yah, gw emang ketinggalan nonton di putaran pertama. tapi ternyata pertengahan tahun ini, ada lagi dong… dan meski di detik detik terakhir, gw sempetin juga nonton dengan @rpoppy. Kesan gw: speechless dan amazing.. dan gw nangis aja gitu di adegan pertama ketika Bu Muslimah dan Pak Arfan menunggu 10 murid untuk memulai sekolahnya. . Kesan lain, Dira Sugandi (@dirasugandi) berhasil memerankan Ibu Muslimah dengan suaranya bikin merinding. Secara gw ngefans banget sama Dira. Anak-anak yang main pun sangat natural, suranya bagus, tata panggungnya keren dan mereka semua nyanyi live dengan olah vokal yang..yaa ampun,..gw pasti malu kalo ikut karaokean sama mereka.. Hihihih… Pementasan di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang (kalo gak salah) sampai dua minggu dengan rata-rata 2 show per hari itu, sukses berat. Nyari tiketnya kalo gak buru buru susaah, penonton selalu penuh bahkan gak sedikit yang nonton lebih dari sekali. Padahal harga tiketnya gak bisa dibilang murah, wong yang paling bawah Rp 150.000 per seat (Rp 100.000,- pada saat presale) hingga Rp 500.000,- Gue aja dapet tiketnya dari orang yang batal nonton dan itu untung dapet!!

Eh, tau tau dapet kabar..awal Oktober ini Musikal LP diundang pementasan dalam rangka Pesta Raya-Malay Festival of Arts di Esplanade Singapura , salah satu gedung pementasan paling besar di Asia. Dua bulan sebelum itu, lagi lagi bersama @rpoppy, planning pun disusun. Alhamdulillah, gw dikasih rejeki dan waktu buat mampir kesana buat nonton LP dengan atsmosfir Esplanade yang lebih megah dibandingkan TIM, Jakarta. Daan gilaaaa… theatre dengan kapasitas 2000 orang itu penuh!! Penontonnya pun mayoritas orang Singapura. Seperti biasa, gw tetep mewek di adegan menunggu 10 murid, meski setelah itu ngakak abis ngeliat tingkah Kucai yang kecil, kerempeng , jahil tapi luwes banget dan punya suara yang mantap!! Aduh, dek.. (eh, nak..) kamu latihan nyanyi dimana sih?? Tante ikutan dunk… 😀 Tidak ada bagian yang berbeda dengan pementasan Jakarta bahkan propertinya pun nyaris sama, gw pikir bisa jadi sepeda ontel dan kaleng kalengnya juga dibawa dari Jakarta. Hehehehe..

Dengan harga tiket S$28 atau kira kira setara Rp 200.000, Laskar Pelangi Musikal di Esplanade ini, kata gue.. kereennnn bangettt.. Apalagi, gw dapet duduknya di tiga baris pertama yang bisa ngeliat para pemain dari jarakkk sangatttt dekat… Kalo di Jakarta untuk kursi di posisi itu harga tiketnya bisa jadi sampe Rp 500 ribu! Denger denger dari temen, pemerintah Singapura sangat mendukung acara pagelaran seni seperti ini, makanya dapet subsidi.. Hehehhe.. silakan Anda bandingkan dengan pemerintah Indonesia, negara kita tercinta ini.

Udah gak tau mau me-review apalagi. Pemainnya keren, ceritanya oke, panggungnya bagus, musiknya luar biasa,..hanya sayang lampu pelanginya macet gak nyala. Setelah selesai pertunjukan yang total lamanya hingga 3,5 jam itu, penontonnya ber-standing applause nyaris nonstop hingga tiga menit. Bukti bahwa hasil karya anak bangsa bisa diterima tidak hanya di Indonesia. Bangga aja gitu sama Indonesia. Selamat untuk Laskar Pelangi.

Hits: 1266

Jadi yah, melanjutkan cerita bikin thesis kemarin, akhirnya, dari 13-24 Maret lalu, aku dengan manis nangkring di Banda Aceh. Agenda utamanya yang pasti ngumpulin data buat penelitian thesisku. Tapi setelah berjalan seminggu, omak…ternyata lebih banyak jalan jalannya dibanding penelitiannya. Hari pertama saja, baru landing aku sudah meluncur ke acara kawinan seorang teman dengan kondisi perut yang sangat lapar, karena sejak berangkat belum makan. Karena sudah siang, makanan yang masih tersedia tinggal nasi dan lauk pauknya. Doh, gw pake nambah 2 kali lohh…biar gak malu,..nambahnya pake strategi, ganti piring baru dan ikut ngantri dari awal. Wkwkwkwkw..

Hari hari selanjutnya dipenuhi dengan janji ngopi, makan mie aceh, nongkrong,ke pantai dan sejenisnya. Upss, misi utama mencari data untuk penelitian tentu tetap dilakukan dong, hanya saja porsinya kalo dipikir-pikir tetep banyakan yg aku sebutkan di awal. Rundown-nya begini, pertama cari responden sejumlah 250an orang, kedua nyari data sekunder di TDMRC sebagai obyek tesis gw. Misi pertama, ini gampang-gampang susah. Gampangnya, tinggal kumpulin umat se-banda aceh, masing-masing nyebarin 20 kuesioner dapet deh langsung 100an. Sisanya hunting di warung kopi dan maksa temen-temen yang gak bisa ketemu secara langsung buat ngisi online. Susahnya adalah gak semua responden mengisi dengan baik, apalagi yang via online *make software gratisan* sering banget down-nya, bikin kuesioner jadi banyak bolongnya. Huhh.. Belom lagi setelah tersebar kurang lebih 100 kuesioner, ada bagian yang menurut “Pak Dosen” kurang tepat yang diprediksi akan membuat deviasi hasilnya nanti besar. Buru buru deh aku ganti, konsekuensinya, sebagian yg kira kira akan membuat deviasi tinggi, yaa aku drop ajah. 😀 Misi kedua dijalankan dengan metode “kuliah”, alias menyambangi TDMRC nyaris tiap hari untuk menimba ilmu, itu pun gak lama, sehari hanya 1-2 jam., Ngebrel ngebrel perkenalan organisasi kemudian dokumen dokumen lebih banyak dikirim by email.

Satu yang sangat aku syukuri dan aku banggakan adalah, disana aku masih punya temen temen yang sangat bisa aku andalkan di segala macam kondisi. Mulai dari penginapan gratis, supir kemana mana, nemenin ngopi, nyariin responden, nonton bola, nonton music sampe beliin oleh oleh buat pulang. *Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan* 😀 Sumpah, kalo Insya Allah gw lulus ntar, kalian adalah nama nama utama yang ada dalam ucapan terimakasih, meskipun mungkin pake font 8 :D. Hahahhaa.. Thanks guys, kalian adalah teman teman terbaik yang pernah aku miliki..

Dengan waktu yang terasa sangat banyak, penelitian ini lebih cocok disebut liburan berkedok penelitian. Tapi apapun namanya, yang penting tujuan utamanya terlaksana dan semoga diriku bisa lulus tepat waktu di tahun ini. Amin.

Hits: 838

Minggu lalu napak tilas ke Yogyakarta. Sama gank 7bi minus Jolie , Nta dan Mb Nna yang lagi ndut (perutnya). Tapi ada tambahan si Uncit Oie plus mas Tukiman sang driver. Aku nyusul naek Mandala with Posy and Oie tanggal 26 Desember-nya. Sementara rombongan udah lebih duluan satu hari sebelumnya. Satu minggu sebelumnya udah cari hotel by phone. Tapi nihil. Jogya rame banget, coz tahun baru kali ini dobel alias deketan antara peringatan 1 Muharram (1 Suro versi Jawa) dengan 1 Masehi. Tumpek Blek. Akhirnya dapet juga sederhana tapi lumayan dan si Oie nginep di rumah satu kerabatnya. Oya, buat rame-ramein kita ngajak beberapa sodara di Yogya untuk ikutan jalan-jalan. Sempet ke beberapa pantai di daerah selatan yang katanya ada Nyi Roro Kidulnya (soal pantai, Aceh is still the best, bo!!). Lalu mampir ke Borobudur dan muter muter gak jelas di kota Yogya. Tidak lupa, dalam segala hal, gank gue yang satu ini gak pernah lepas dari yang namanya ning a nong alias sing a song alias karaoke begitu juga di Yogya. Agak kagok juga pas bawa Oie coz takut dia gak bisa gabung sama perempuan-perempuan ajaib itu. Tapi itu gak terjadi, jadinya asyik-asyik aja. Secara anak ini tetep aja narsis kemana-mana, karena hasil foto-foto tetep aja dia yang paling banyak.

Sayangnya gue gak sempet nyari RS Bersalin Tresnowati. Kata Mama aku lahir disitu. Gue rasa tuh rumah sakit pun udah gak ada. Konon, dulu namaku sebelum dikasih nama sekarang, sama dengan nama RS itu. Kata Lala, gak lucu banget kalo gue pake nama itu dan blog ini jadihttp://ngobrol.tresnowati.com. Heheheh.. Btw, tresno kan artinya cinta, harusnya bagus dong ya… Kalo gue jadi artis, nama gue jadi Tresno Laura. Hihihi…

Balik ke Jakarta, Bogor… Thanks God. That was the most beautiful moment in this vacation. Males-malesan di rumah. Tidur, makan, nonton infotainment, nongkrong dan cari WiFi gratis nyaris itu aja yang dikerjain tiap hari. Rasanya dunia indah banget. Gak usah mikirin angka-angka sumbangan buat Aceh pasca tsunami, gak inget sama laporan akhir tahun kantor, gak peduli dengan Key Performance Indicator pembangunan Aceh Nias, gak dengerin omelan bos dan gak terlalu keinget sama “mie kocok”. Hahahahhaa..Pas malem taun baruan sempet nonton kembang api di pinggir satu telaga yang so sweet di Cibubur dan malem terakhir tetep ning a nong dilanjutkan nongkrong di Citos sampe jam 2 dni hari, sebelum paginya jam 6 pas meluncur lagi ke Banda Aceh.

Thanks to gank Jogya: Ullie, Anabella, Posy, Mas Tukiman yang setia, Ibu Theodora Meilani Setiawati yang rela meninggalkan Avanza-nya buat kita. Jolie.. (dunia gue tak ada artinya tanpa elo, gue doain resolusi lu 2009 sebagai artis (bukan manajer artis) tercapai..hahahahhah…). My sweet Nta.. (cedih tanpa dirimu di Yogya kemaren, hope u are happy ya..darling), Oie Bunch (was it our last vacation???, am glad to know you “more”). Anak-anak Jogya: Tari, Adit dan Ganesh.. (gak usah rajin rajin kuliah, gak penting….) Hihihi..

Itulah penutup 2008 yang sudah member satu milestone penting dalam hidupku. I strongly believe, everything happens because a reason…. Semoga YME akan memberiku semua hal terbaikdi 2009 ini.

Dan. ..akhirnya terlewati juga libur lumayan panjang 10 hari dan malam ini kembali menikmati langit cerah Banda Aceh dengan dua gelas sanger dingin di Cek Yuke. Sedikit kerasa sepi, masih ada rasa kehilangan, apalagi ketika tau kamar empok yang ada di sebelah kamarku kosong, karena orangnya udah dimutasikan ke Jakarta. Hiks… kehilangan lagi satu temen yang siap dengerin gue 24 jam full. Pun ketika ingat bahwa besok adalah hari pertama tanpa rutinitas dengan seseorang seperti di 2008 .Dan aku akan kembali menggeluti meja berantakan-ku di Lueng Bata, ngomel-ngomel sama Oie, Alex dan Emi plus maen sinetron gak penting di ruangan sumpek itu. Anyway, walau nanti akanada kejenuhan, aku akan tetap cinta dengan Aceh dan semua yang ada dan pernah terjadi di dalamnya.

Hits: 2365