Apa ekspektasimu saat berlibur ke pulau kecil yang jauh dari pusat peradaban dan hiruk pikuk kota?

Memang, sudah banyak pulau-pulau terpencil yang menjadi daerah wisata dan fasilitasnya dapat dikatakan layak, mulai dari hotel, transportasi dan akomodasi. Namun, khusus untuk hotel Natuna saya sungguh tidak banyak berekpektasi. Pulau terdepan di utara di Indonesia ini, memang belum lama berbenah dalam bidang pariwisata. Menurut saya, bisa tidur nyaman tanpa diganggu nyamuk saja, sudah merupakan prestasi bagi daerah dulu yang lebih dulu dikenal sebagai pangkalan militer NKRI. 

Ternyata saya salah…

Awal Desember lalu saya berkunjung ke Natuna. Beberapa hari sebelumnya saya sudah memesan hotel melalui aplikasi traveloka. Tidak banyak pilihannya seingat saya. Saya memilih hotel De Best, yang keliatan dari foto-fotonya cukup nyaman dan lokasinya strategis. Harganya pun sangat terjangkau. Semalam sebelum kedatangan, saya dihubungi seseorang dari hotel yang mengatakan akan menjemput kami di bandara. Padahal saya nggak mesen penjemputan loh! Dan ternyata itu fasilitas gratis untuk tamu hotel. Wow..

Tiba di Natuna, ternyata yang menjemput kami langsung adalah Mas Edy, pemiliki hotel yang sering juga dipanggil Koko Edy, pemuda asli Natuna ganteng (yang konon mantan model, hahaha). Dia menyapa dengan ramah dan melayani seluruh pertanyaan kami selama dalam perjalanan menuju hotel. Dari mulai rumah makan, tempat hiburan sampai akomodasi untuk jalan-jalan. Semua dijawab komplit oleh beliau. Yang paling menyenangkan, selama 4 hari disana, Koko Edy setia menjadi tour guide kami! Yeay!

Sampai di hotel, kesan pertama; Oh Not bad at all kok! Meskipun bangunan asalnya ruko, ternyata kamarnya luas, bersih, amenities yang cukup lengkap, ada AC, TV, air panas untuk mandi, air dalam kemasan yang cukup dan tidak berisik walaupun dekat dari jalan raya. Ada meja tulis juga, cocok banget buat saya yang kemana-mana nenteng laptop. Hehehe

Ekspektasi saya sangat tidak berlebihan. Teringat sekitar dua tahun sebelumnya, saat kunjungan ke Pulau Selayar, hotelnya sempit, sumpek dan bukan tempat yang nyaman buat beristirahat. Mengingat karakteristik kedua pulau yang relatif sama, saya pun tidak banyak berharap.

Dengan kamar yang luas ini, kita nggak perlu khawatir jika barang bawaan berceceran dimana-mana. Bisa koprol! Hehehe.. Yang paling menyenangkan adalah, hampir setiap kamar dilengkapi dengan jendela ke luar. Ini penting banget sih buat saya, soalnya saya kurang suka kamar yang tidak memiliki cahaya matahari langsung.

Di ruang tengah, ada lobi yang lumayan lah buat ngobrol malam-malam dengan sesama pelancong. Sayangnya sofanya kurang banyak sih, padahal space-nya masih cukup luas.

Di lantai 1, ada ruangan luas yang dulunya ditujukan untuk restoran. Namun sayangnya, ketika kesana restorannya sedang tidak beroperasi. Namun tempat ini tetap nyaman untuk ngobrol dan minum-minum kopi sambil menikmati sore di Natuna.

Karena terhitung hotel budget, De Best tidak menyediakan sarapan, namun di sekeliling hotel banyak jualan makanan kok. Pegawai hotel juga akan dengan senang hati membelikan jika kita minta. Bukan cuma affordable, harga per malam yang rata-rata Rp300.000, malah bisa dibilang less price alias murah. Lumayan lah, buat subsidi silang dengan biaya tiket pesawat yang sudah mahal kesini.

De Best rekomen banget deh buat yang ada rencana berkunjung ke Natuna. Kalian bisa dengan muda booking via Traveloka.

Kalau ke Natuna, ajak-ajak saya ya… Saya mau banget lagi…

 

 

Hits: 1541

Tadi malam saya bertemu seorang pejabat sebuah provinsi di Sulawesi. Beliau ini adalah counterpart Saya di pekerjaan yang lama. Kurang lebih dua tahun tidak bertemu, Ia menawarkan berkunjung kembali ke daerahnya. Saya yang memang niat cari jalan-jalan gratisan tentu saja bersemangat!.  Asal tahu saja, ketika masih bekerja di lingkungan Istana, kami tidak diperkenankan menerima satu rupiah pun dan dalam bentuk apapun dari provinsi-provinsi yag menjadi mitra kami. Nah, sekarang sejak pindah kerja.. ceritanya sudah beda kan?  Karena tidak punya conflict of interest lagi, tawaran itu kayaknya bakal saya follow up!  Hehehe…

Eits, tapi tunggu dulu… Tentu saja tidak ada yang free kan di dunia ini. Kami ngobrol banyak tentang pariwisata di daerahnya.  Mereka punya potensi alam yang indah, kuliner yang enak-enak dan budaya yang unik. Namun sayangnya, sejauh ini kegiatan yang dibuat Pemda tersebut untuk mempromosikan daerahnya masih terbatas pada kegiatan-kegiatan “konvensional” seperti Pemilihan Putri Pariwisata, Pagelaran Tari dan sejenisnya yang lebih bersifat hiburan rakyat. Intinya kegiatan-kegiatan yang tidak memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan kunjungan wisatawan di daerah itu. Kemudian pembicaraan itu pun mengalir, hingga terpikir apa yang bisa saya lakukan untuk pariwisata daerah itu.

***

Pada 2015, Presiden Joko Widodo, menyebutkan pariwisata Indonesia tumbuh di atas rata-rata negara lain di dunia yang hanya 4,4%,  rata-rata pertumbuhan pariwisata negara-negara di kawasan Asean juga hanya sebesar 6%, namun pariwisata Indonesia justru tumbuh 7,2%. Indonesia menargetkan pariwisata akan tumbuh hingga 12% per tahun. Melengkapi data tersebut, Menteri pariwisata menambahkan kunjungan turis mancanegara tahun 2015 mencapai 10,4 juta orang naik sangat signifikan dan estimasi perolehan devisa di sektor ini Rp144 triliun.

Untuk menarik wisatawan, promosi gencar dilakukan oleh banyak provinsi. Namun, istilah “tourism digital media campaign” mungkin baru populer akhir-akhir ini. Pada dasarnya definisi istilah ini adalah upaya kampanye pariwata melalui format-format digital seperti website dan sosial media. Tourism Digital Campaign juga sejalan dengan kebijakan pemerinth pusat dimana salah satu stregi pemasaran yang harus diaplikasian adalah BAS (Branding, Advertising & Selling) dengan kekuatan pada aspek digital.

Menteri Pariwisata Arief Yahya bahkan mengungkapkan satu-satunya cara agar promosi wisata Indonesia bisa lebih masif adalah dengan beralih dari promosi wisata melalui media konvensional seperti TV dan media cetak menjadi media digital

Lalu, ngerjain apa saja sih kegiatan tourism digital campaign ini? Pertama saya menggarisbawahi dikelolanya akun sosial media secara khusus dan serius. Keliatannya sepele, karena sosial media masih dianggap sebagian orang sebagai ajang pamer dan selfie. Tapi kini bahkan perusahaan-perusahaan kelas dunia sudah mulai mengelola akun sosial medianya dengan serius sebagai jembatan berkomunikasi dengan pelanggannya. Untuk tourism, menurut saya hal ini mutlak dan wajib dilakukan oleh Pemda. Pengguna internet di Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Sebanyak 93% (72 juta) diantaranya merupakan pengguna Sosial Media, dimana 30 juta diantaranya anak muda (usia 18-35 tahun) yang merupakan pangsa pasar baru pariwisata.

Pada dasarnya, ada beberapa tujuan pengelolaan akun sosial media untuk pariwisata seperti: 1. Sebagai media informasi kegiatan-kegiatan pariwisata  yang digagas oleh pemerintah, swasta maupun Lembaga Non Profit(NGO), 2. media pertukaran informasi antar wisatawan dan calon wisatawan, 3.Referensi/wadah tempat bertanya tentang pariwisata daerah dan 4. media komunikasi dengan berbagai stakeholders.

Memang ada diantara kita yang menghubungi Miss Pariwisata Indonesia jika perlu informasi tentang tempat jalan-jalan yang asyik? Sekarang informasi mana yang tidak bisa diperoleh dengan jari jemari? Sementara itu, hampir seluruh aspek traveling sudah tersentuh teknologi. Dari pemesanan tiket, hotel, provider trip hingga rekomendasi perjalanan semua sangat tergantung dengan internet.

Kini, sudah menjadi trend bahwa berbagai platform sosial media, website dan blogging membuat semua orang seakan menjadi duta wisata daerahnya. Konsep kebangsaan dan nasionalisme yang selama ada di kalangan anak muda, menjadi unsur tak terpisahkan. Ada kebanggaan tersendiri, jika  bisa menayangkan foto-foto keindahan alam di sosial media mereka. Budaya latah selfie di tempat-tempat wisata yang lagi tenar memang sudah mewabah. Ada positif  ada negatifnya, sih.. tapi seharusnya Pemda sebagai pemasar utama pariwisata di daerahnya harus menganggap ini sebagai peluang besar. Kemudian ada fenomena blogging ditengarai lebih “powerful” dibandingkan beriklan secara konvensional. Bahkan biayanya pun terhitung lebih murah dibandingkan membuat satu kemasan iklan khusus di media. 

source: poweredbysearch.com
source: poweredbysearch.com

Sejatinya Pemda dapat merangkum sosial media, blogger, dan orang-orang yang konsen di bidang ini. untuk lebih banyak menulis tentang daerah kita. Caranya macam-macam. Misal undang 20 orang blogger selama beberapa hari untuk mengeksplore daerahnya. Pilih blogger-blogger kompeten dengan banyak follower dan mampu mengemas apa yang mereka lihat dalam tulisan yang apik dan mengundang (bukan mengundang birahi, ya…) Format publikasinya bisa beragam mulai dari blogging, video, foto, post update di Facebook, Instagram, Twitter, Path dll.

Eh, saya bukan promosi blogger loh! Tapi Bapak/Ibu Pejabat Yth, bugdet mengundang mereka itu jauh lebih kecil daripada Bapak/Ibu bikin event pemilihan Putri-Putrian. Serius! Seperti saya bilang, blogger itu kebanyakan mereka yang senang jalan-jalan, suka menulis, hobilah yang membuat mereka menjadi blogger. Paling penting lagi, rasa nasionalisme dan idealisme merekalah yang dengan suka rela menyebarluaskan cerita tentang Indonesia. Diundang dan dipercaya saja sudah sebuah kehormatan bagi mereka.

Masih banyak kegiatan-kegiatan lain yang bisa digagas. Tentu setiap provinsi akan tampil dalam kemasan yang berbeda tergantung kebutuhan, potensi dan berbagai pertimbangan lain. Tertarik? Saya dan teman-teman dengan semangat membangun negeri akan senang hati membantu Bapak/Ibu! Please free to contact me…

<span data-iblogmarket-verification=”bHSl68xC9WFo” style=”display: none;”></span>

Hits: 708

Destinasi-destinasi berikut saya temukan paling banyak di sosial media dan internet. Ada yang jauh, ada yang dekat. Good news buat pariwisata lokal. Selfie memang seru, tapi tetap perlu hati-hati. Sudah banyak kejadian selfie yang menantang bahaya benar-benar merenggut nyawa.

and..here they are…

1. Gunung Padang, Cianjur: Terletak  sekitar 1,5 jam dari Pusat Kota Cianjur Situs peninggalan kuno yang asal-muasalnya masih menjadi misteri Sebenernya bukan tempat baru, tapi ngetrend belakangan ini, karena banyak ditulis di blog-blog dan sosial media.

Mejeng di Puncak Gunung Padang
Mejeng di Puncak Gunung Padang

2. Kalibiru, Yogyakarta. Pernah liat orang yang foto seperti diatas pohon diatas ketinggian? Nah itulah Kalibiru, Yogyakarta. Baru tenar 1-2 tahun belakangan. Saya sih belum pernah kesana, tapi yang foto disanaa…ampunnn buanyaakk bangett..

Kalibiru sumber: paketwisatayogyakarta.com
Kalibiru
sumber: paketwisatayogyakarta.com

3. Tebing Keraton, Bandung. Bandung Memang gak pernah kehabisan lokasi wisata.  Konon katanya tebing ini baru ditemukan (mungkin maksudnya sih baru keliatan). Selain dekat dari Jakarta, tentu saja mampir kesini gak perlu effort besar, karena Bandung sudah hampir jadi tujuan wisata utama orang Jakarta dan sekitarnya

sumber: portalindonesianews.com
Tebing Keraton sumber: portalindonesianews.com

4. Benteng Martelo, Kepulauan Seribu. Ini dia wisata bahari yang dekat dari Jakarta, murah dan keren! Kita bisa berfoto ala miss universe disini…

sumber: http://reviewwisataindonesia.blogspot.com
Benteng Martelo sumber: http://reviewwisataindonesia.blogspot.com

5. Gunung Munara, Bogor. Hasil survei saya di Instagram banyak juga yang berfoto disini. Disini memang ada situs peninggalan kerajaan Pajajaran, tapi menjadi tenar karena di puncaknya yang menghadap langsung ke Bogor.

munara
Gunung Munara sumber: jalanpendaki.com

6. Pulau Padar, NTT. Upsss.. inilah tempat selfie yang saya tunggu-tunggu!. Jangan lupa mampir kesini buat ber-selfie aneka gaya… dan. jagalah kebersihan!

Pulau Padar sumber: wisatapriangan.com
Pulau Padar
sumber: wisatapriangan.com

7. Pulau Pianemo (Raja Ampat). Foto disini udah berasa kayak naik haji bagi sebagian traveler.Ada kebanggaan luar biasa kalau bisa sampai disini. Sampe-sampe tahun baruan kemarin, Presiden Jokowi pun nyari kecebong disini.. #Eh….:p

raja ampat
Pulau Pianemo

Hits: 1578

Judul tulisan diatas, semoga bukan cuma mimpi saya. Setiap awal tahun, ada yang jelas-jelas bikin target : tahun depan gak jomblo lagi, tahun depan beli rumah, tahun depan beli jet pribadi…bla..bla.. Tapi Saya rasa, sebagian besar orang membuat resolusi setiap tahunnya dengan tema-tema yang abstrak, seperti karir makin meningkat, rejeki makin lancar, ibadah makin baik, hidup lebih damai, dll. Padahal banyak yang lupa, meletakkan ukuran apa yang bisa menunjukkan peningkatan pada indikator-indikator tersebut. Apakah misalnya jadi manager atau direktur menunjukkan karir makin baik, apakah naik gaji, banyak proyek menunjukkan rejeki makin lancar?, atau seminggu minimal lima kali ke mesjid menunjukkan ibadah makin baik? Dan ukuran orang memang akan selalu berbeda-beda.

Setelah jungkir balik jadi orang kantoran (yang membosankan), saya mungkin terlambat membuat resolusi ini. Memang sih, kalau soal jalan-jalan mungkin frekuensi saya lebih banyak dari orang kantoran pada umumnya. Meski sejujurnya, harus diakui beberapa jalan-jalan memang “hadiah” alias dinas dari kantor. Nah, awal 2016 ini saya sudah bikin prasasti:  do more, travel more, learn more. Yes, meski saya sadar dengan pasti… kemungkinan besar akan mengorbankan kehidupan normal saya sebagai mbak-mbak kantoran (ciyeee…) yang seperti robot: bangun jam 4 pagi, mengejar kereta sebelum pukul 6 pagi. Duduk cantik di meja sebelum jam 8 pagi dan selalu kembali ke rumah setelah malam menjelang. Sounds boring, itu pun belum bonus macet, kereta ngadat dan keluh kesah (yang harus dijalani dengan ikhlas dan tawakkal setiap harinya).

Wonderful-Indonesia

Resolusi tadi sudah saya catat dengan indikator-indikator konkrit yang juga sudah saya tentukan, misal dalam tahun ini saya akan mengunjungi minimal 4 pantai di Indonesia. So far waktunya memang masih menyesuaikan dengan liburan umum dan kantong pastinya, tapi bisa jadi lima enam bulan ke depan berubah. Heheheh.. Entah kenapa, dua tiga tahun ini  saya semangat banget untuk jalan-jalan terutama keliling Indonesia. Pengen juga lebih banyak ke luar negeri, tapi saya bukan Trinity-lah. Saya cuma cinta Indonesia dan memang gak punya cita-cita lain selain keliling Indonesia. Keluar negeri bagi saya adalah bonus. Mungkin memang sekarang jamannya mengukuhkan diri sebagai seorang “traveler” lagi trend. Tapi tenang, bagi saya jalan-jalan itu bukan cuma foto-foto update status, dan bilang sama orang: Oh, I was there! Lebih dari itu dari jalan-jalan saya belajar banyak, tentang alam, pembagunan, infrastruktur, hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan Tuhannya bahkan belajar politik! Nambahin tulisan di blog adalah salah satu bonus lain bahwa saya ingin lebih banyak orang kita mengenal negeri kita sendiri. Ada satu tulisan blog orang yang bilang, gak usah memprovokasi orang untuk pergi ke satu daerah, kalau nanti malah merusak daerah itu. Weks.. Buat saya itu gak salah, tapi benernya juga gak banyak :p. Justru dengan menulis dengan baik dan mengajak orang adalah cara mengedukasi calon wisatawan lokal. Karena cuma sektor pariwisata yang pertumbuhannya stabil dan berpotensi besar bagi negara. 

Di sisi lain, saya bingung banyak sekali orang yang “sangat menikmati” pekerjaan kantorannya. Dateng jam 7 pagi, pulang rata-rata jam 9 malem (bisa lebih), hampir gak pernah cuti dan sering lembur di sabtu minggu. Wow, luar biasaa.. Salut! Saya pikir mereka enjoy, eh…ternyata masih ada juga yang mengeluh “capek”. Wah..ternyata masih manusia biasa yang gak super… Dulu saya pikir quality time -yang sering diagung-agungkan oleh pemuja kesibukan- adalah slogan yang penting. Sayangnya sekarang bagi saya quality without quantity is nothing.  Di awal-awal bekerja secara profesional saya juga hampir tidak pernah cuti, pikiran sepenuhnya buat pekerjaan menjadi nomer satu, kadang gaji pun tekor atas nama loyalitas.  Saya tidak menyesal pernah di posisi seperti itu, justru saya belajar banyak karena saya mencintai pekerjaan Saya. Seiring berjalannya waktu, saya baru sadar sestrategis apapun posisi saya di satu perusahaan, saya tetap karyawan yang dibayar. Jika ada apa-apa dengan saya, perusahaan akan mudah mencari pengganti saya dalam hitungan hari, dan perusahaan akan berjalan baik-baik saja. Sementara waktu-waktu pribadi  saya dengan keluarga, dengan teman-teman, dengan kegiatan sosial sudah banyak hilang karena pengabdian yang tidak mengenal waktu. So,You’re not as important as you think.. 

Saya percaya orang-orang yang suka piknik adalah orang-orang yang asyik. Percaya deh, kalo kurang piknik akibatnya seperti J**ru, yang setiap hari adaaa aajaa caranya untuk menebar kebencian.  Adalah paradigma lama yang menyuruh kita bekerja keras di masa muda kemudian menikmatinya di masa pensiun. Bagi saya -meskipun mungkin telat-, keseimbangan hidup itu dimulai dari sekarang, bukan setelah pensiun.  Manusia butuh hidup yang seimbang. Seimbang kerja, seimbang keluarga dan seimbang kehidupan pribadi dan bagi saya ada tambahan satu: seimbang jalan-jalan, melihat dunia lain, dan mengganti paradigma.  Kamu?

Hmmm… survei membuktikan, orang yang sering traveling adalah orang yang paling bahagia..

Hits: 867

Sejauh ini, kalau dihitung hitung saya sudah menjejakkan kaki di hampir 2/3 provinsi di Indonesia. Tapi sih itu sebagian besar karena dinas (bukan jalan-jalan) dan kebanyakan di ibukota provinsi alias gak sampe blusukan melihat alam cantik di pelosok negeri. Orang tua saya juga datang dua daerah, yang jauh jaraknya, satu dari Sulawesi selatan, satu lagi dari Sumatera Selatan. Belum lagi dari tiga bersaudara kami tempat lahirnya beda-beda semua, beda kota, beda pulau. Kami juga tinggal berpindah-pindah. Komplit lah. Gara-gara kondisi begini, saya tidak punya teman sekolah yang awet. Artinya, tidak ada teman SD yang se-SMP, tidak ada teman SMP yang se-SMA dan nyaris tidak ada teman SMA yang kuliah bareng. Hihihi.. Tambah komplit lagi, saya sekarang bermukim di Bogor dan bekerja di Jakarta, yang membuat nuansa Indonesia itu kuat banget dalam diri saya. Saya juga sempat menclok bekerja di Aceh kurang lebih tiga tahun yang membuat deretan “kampung halaman” saya pun bertambah.

Nah, dari semua itu; ada dua daratan besar di Indonesia yang belum pernah sama sekali saya injak: Maluku dan Papua. Ketika masih bekerja di kantor lama, saya dua kali dapat kesempatan dinas ke Maluku. Dasar gak jodoh, ada saja hal yang membatalkan. Niatnya sih emang bukan jalan-jalan tapi minimal menambah direktori daerah kunjungan saya. Februari lalu, ada seorang teman yang berbaik hati “mensponsori” jalan-jalan ke Pantai Ora. Gila kan..kapan lagi kesempatan begini!! Saat itu saya lagi menunggu keputusan terakhir tentang penerimaan saya sebagai karyawan Bank Mandiri. Eh…dasar lagi- lagi gak rejeki, batal juga, karena proses terakhir bertepatan dengan jadwal negosiasi pekerjaan baru ini. *nangis bombay*

Sementara itu, kalau soal Papua, wah saya niat banget pengen kesana. Saking niatnya, saya beberapa kali melamar pekerjaan di negeri emas hitam ini, terutama pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya temporer. Salah satunya sudah sampai tahap akhir, dan entah kenapa gagal maning…gagal maning. Padahal saya yakin, saingannya gak banyak, karena menurut saya tidak terlalu banyak orang (apalagi perempuan) yang niat banget kerja di Papua. Mungkin waktu itu pemberi pekerjaannya tidak yakin sama saya yang kurus kecil ini bisa survive disana. Hehehe.. Sekarang sejujurnya masih nabung buat bisa selfie di Raja Ampat. Doakan sayah kakak!!

source: anekatempatwisata.com
The Amazing Raja Ampat. source: anekatempatwisata.com

Dari dua wilayah itu, saya juga masih menyimpan keinginan berkunjung ke Waerebo di NTT, sebuah kampung adat yang unik yang masih mempertahankan bentuk alami rumahnya. Saya pernah membaca bahwa sebenarnya “teknologi” yang mereka gunakan sejatinya malah lebih maju dari masa kini. Penasaran!

source: www.setapakkecilcom
Warebo, NTT source: www.setapakkecilcom

Lebih dari itu, saya sebenarnya penyimpan dendam dan hasrat yang dalam mengunjungi semua pantai-pantai di Indonesia. Saya ini beach addicted! Mengingat kondisi waktu, biaya dan semua sumberdaya, saya tidak muluk-muluk dulu untuk mengunjungi semua pantai-pantai indah. Agenda yang ada di depan mata adalah, Oktober mendatang saya sudah merencanakan untuk merayakan ulang tahun saya di Pulau Flores dan Komodo (uhuy!!). Alhamdulillah, sudah ada sponsor free tiket ke Denpasar. Tinggal biaya sendiri ke Labuan Bajo plus akomodasinya. Kemudian, yang tidak juga muluk-muluk saya ingin sekali menyambangi pantai-pantai indah di Banyuwangi. Kalau ini, Insya Allah bisa terwujud dari kantong sendiri dalam waktu dekat. Aaamin..

source: www.pikavia.com
Flores. source: www.pikavia.com

Terakhir, doakan saya biar panjang umur yaa… Intinya saya belum mau mati jika belum berkunjung ke daerah-daerah tadi. Atau kita jalan bareng aja yukkk…..!!

*Tulisan ini dibuat bersama-sama komunitas Travel Blogger Indonesia, untuk membantu promosi wisata negeri tercinta dalam rangka Dirgahayu 70 Tahun RI. Silakan dibaca juga link dari teman-teman saya dibawah ini…

Hits: 4844

Gara-gara baca sebuah meme di sosial media, saya tetiba pengen nulis tentang topik ini. Saya sih tidak pernah mengakui diri saya sebagai traveler, kalau pun sering jalan-jalan mungkin itu rejeki saja. Merencanakan dan punya budget jalan-jalan secara khusus pun sebenarnya tidak pernah. Nah kalau dibilang jalan-jalan adalah obat galau, tentu itu bener banget. Saya juga awalnya begitu, jalan-jalan terutama yang bertema “back to nature”. Jika akhirnya jalan-jalan menjadi sebuah kebutuhan itu adalah hikmah yang membuat saya merasa lebih “kaya”.

Kenapa sih orang harus jalan-jalan? Ketika kita dalam keadaan galau, entah karena patah hati atau karena masalah lain, maunya selimutan terus di kamar. Males ketemu orang, males ngapa-ngapain dan selalu butuh banyak waktu buat sendiri. Sanggup berapa lama bertahan di kamar yang kian lama kian lembab?! Saya sih gak aWith Dirga, Liya and indrisjafrikan tahan lebih dari dua hari. Berlama-lama meratapi nasib, membuat hidup rasanya semakin terkukung, otak mampet dan pikiran makin pusing. Ada kalanya masa berkabung memang dibutuhkan, tapi berkabung terlalu lama juga tentu tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga pastinya.

Keluar rumah, menghirup udara baru bagi saya adalah sumber inspirasi. Kalau lagi bokek, jalan-jalan sendiri di kampung sebelah sudah membuat stok nyawa seperti bertambah satu. Kebetulan rumah saya di Bogor tidak jauh dari bendungan Katulampa, kalau lagi iseng dan mati gaya, saya sering main kesana. Melihat dan mendengar derasnya suara air rasanya sudah menentramkan jiwa. Menonton aktivitas berbagai manusia di sepanjang jalan membuat level bersyukur -yang tadinya sempat drop karena galau- naik lagi. Jalan-jalan juga tidak harus berdua, bagi yang galau akut saya malah menyarankan untuk jalan-jalan sendiri. Yah, gak usah jauh-jauh deh, kalau rumah kamu di Jakarta, boleh juga dicoba jalan sendiri ke Pelabuhan Ratu. Bukan cuma Me Time untuk merenungi nasib pasca ditinggal kekasih (ciyee…), memperhatikan aktivitas banyak orang selama di perjalanan pasti memberu warna tersendiri. Sukur-sukur kalau punya sahabat baik yang mau menemani selama perjalanan.

Ada yang bilang obat galau paling ampuh itu shopping. Itu juga bener, tapi kalau saya sih sekarang lebih memilih jalan-jalan. Kalau punya uang lebih sukur-sukur bisa melakukan perjalanan yang agak jauh. Saya paling suka ke pantai, memandang luasnya laut yang seakan tidak bertepi membuat semua perasaan campur aduk. Mengingat umur yang semakin lama semakin gak muda lagi (baca:tua), saat ini saya seakan dikejar target untuk menyambangi daerah-daerah cantik di Indonesia. Kalau dulu jalan-jalan jadi obat galau, sekarang terbalik; saya jadi galau kalau tidak jalan-jalan. Hehehe..

Hits: 1045

Sebagai pengguna KRL yang sudah bongkotan, sebenarnya saya ini fans Pak Ignasius Jonan. Buat saya beliau hebat, mampu merubah stasiun-stasiun kumuh menjadi stasiun ala-ala Eropa dan Amerika. Belum lagi penghapusan KRL Ekonomi-yang awalnya menuai protes-ternyata justru membuat KRL menjadi angkutan massal yang ramah tanpa sekat kelas sosial. PT KAI yang sempat merugi bertahun-tahun disulap menjadi profit ditangan Bapak satu ini. Walau belum 100% sempurna, jabatan Menteri Perhubungan sangat pantas didapukkan ke beliau.

Namun, buntut dari musibah Air Asia yang baru saja terjadi membuat saya agak bingung membaca pola pikir beliau. Saya memposisikan diri saya sebagai masyarakat awam yang gak ngerti apa-apa, tapi tetap saja saya tidak mengerti kenapa tiket murah pesawat harus dihapuskan. Saya membaca banyak media, takutnya kalau hanya baca satu, pasti dipelintir. Saya coba menilisik mana yang benar, mana yang cuma asumsi wartawan yang kadang kelewat pinter. Jawaban yang “memuaskan” saya adalah wawancara langsung dengan Pak Jonan yang saya tonton di salah satu stasiun TV. Kata beliau: “Dalam peraturan negara ini tidak dikenal istilah LCC atau non LCC, yang kami tahu hanya soal keamanan”. Dan, kami tidak mengatakan menghapus tiket murah, TETAPI memberikan batas bawah harga tiket yang tidak boleh lebih dari 40% batas atas harga tiket. Hal ini ini untuk memberi ruang kepada setiap maskapai untuk lebih meningkatkan keamanannya. Yah, kira-kira begitulah kata Pak Menteri.

Saya selalu percaya dengan siapa pun yang kini duduk di pemerintahan. Saya yakin Pak Jokowi sudah menyaring menteri-nya dari orang-orang cerdas terbaik. Apalagi Pak Jonan, lulusan luar negeri bahkan pernah berkarier di Citibank, bank kaliber dunia. Namun keputusan ini menurut saya adalah keputusan emosional. Kenapa harus berujung kepada penghapusan tiket murah (baca: pemberian batas atas dan bawah)? Ok. Mungkin saya kurang paham dasar Kemenhub mengambil keputusan ini. Mungkin sudah ada pembuktian dengan hipotesis semakin murah harga tiket maka semakin tidak aman suatu penerbangan. Bukankah keamanan adalah paket mutlak bin wajib yang harus dilakukan oleh maskapai berapapun tiket yang dia jual? Bisnis maskapai menurut saya -yang gak terlalu ngerti bisnis- adalah seperti bisnis lain pada umumnya, ada demand dan supply. Pada saat persaingan tinggi, wajar dong kalau ia menurunkan harga? Kemudian jika tiket sudah naik apakah benar dibarengi dengan pengawasan yang seksama terhadap masalah keamanan pesawat? Jangan sampe tiket naik, tapi sebenernya urusan peningkatan keamanan tidak naik signifikan atau linear sejalan dengan harga tiket. Kalau begini yang untung produsen dong! Lagipula pada dasarnya berapa pun harga tiket yang dijual urusan pengawasan mutlak jadi tanggung jawab Kemenhub.

Nah, sebenernya yang menjadi konsen saya yang -cinta banget Indonesia ini- adalah dampak kebijakan ini ke sektor pariwisata lokal yang kian menggeliat akhir-akhir ini. Bayangin aja, sekarang penerbangan lokal tidak hanya numpuk di Ibukota provinsi tetapi juga sudah menjalar ke kota-kota kecil yang pariwisatanya mulai moncer. Banyuwangi, Labuan Bajo, Tarakan, Pangkalan Bun, Belitung adalah contoh-contoh daerah wisata yang kini punya penerbangan sendiri. Kabar buruknya banyak daerah di Indonesia yang belum bisa saya sambangi karena masalah dana yang komponen terbesarnya adalah harga tiket pesawat.

Pak Jonan sekali lagi saya percaya Bapak adalah menteri yang bijaksana. Tapi disisi lain, mungkin Bapak lupa ngobrol dengan Bapak Menteri Pariwisata soal ini. Mungkin sepertinya sepele tapi kebijakan ini kurang sejalan dengan promosi gencar wisata lokal. Boleh dibilang, saya tidak terlalu peduli dengan tiket ke negara tetangga, karena bagi saya target besar pariwisata kita adalah bangsa kita sendiri. Bisa jadi termasuk juga mereka yang demen bolak balik ke Singapura atau Malaysia yang menghabiskan uang belanja untuk memberi devisa ke negara-negara tersebut. Kalau harga tiket ke dalam negeri sendiri lebih mahal, lagi-lagi wisata ke luar negeri akan tetap menjadi pilihan utama.

Saya berharap kebijakan ini bisa dikaji ulang. Biarkan bisnis penerbangan berjalan sebagaimana bisnis lainnya. Tentu saja tanpa mengesampingkan faktor keamanan. Meski selisih harga tiket termurah dan termahal hanya 40%, seharusnya tetap ada ruang untuk maskapai memberi diskon di luar harga tersebut terutama untuk pemesanan yang dilakukan jauh-jauh hari. Pun pasti ada alternatif lain yang tidak meredupkan wisata lokal.

Semoga pendapat saya ini hanya asumsi saya karena bisa jadi ada informasi yang tidak dapat diberitakan oleh media. Namun intinya, jangan batasi harga tiket, pak! Saya belum ke Raja Ampat, baru merencanakan ke Komodo, pun belum pernah ke Ambon. Dan bagi saya belum mengunjungi daerah-daerah itu adalah “hutang” yang harus saya lunasi untuk negara ini.

Hits: 2175

Sebelum kenal dunia blogger, saya selalu berpikir bahwa Pemerintah-lah yang paling bertanggung jawab terhadap pariwisata di Indonesia. Jika pergi kemana-mana dan melihat buruknya pengelolaan pariwisata saya pun ikutan mengumpat. Kita semua tahu Indonesia ini alamnya cantik luar binasa eh..luar biasa. Kok begini-gini aja ngurusnya? Di sisi lain, saya juga merasa (semoga cuma perasaan saya saja sih) promosi pariwisata nasional seolah-olah cuma membidik turis manca negara? Kok begitu yaa? Sementara orang yang punya kemampuan di negara kita lebih seneng rutin melancong ke Malaysia dan Singapura, negara tetangga termaju saat ini.

Sebuah artikel di Tempo beberapa waktu lalu menyebutkan pertumbuhan industri pariwisata Indonesia pada 2014 mencapai 9,39%, lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Angka itu di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,7%. Total pendapatan negara di sektor ini adalah Rp347 triliun atau 23% dari dengan total pendapatan negara. Sektor pariwisata juga menempati urutan keempat sebagai penyumbang devisa negara di 2013.

Saat pengelolaannya terlihat masih banyak cela dan kurang disana-sini, sektor pariwisata bisa dibilang paling kinclong perkembangannya. Bayangkan saja jika sektor ini ditangani dengan lebih serius. Sayangnya saya tidak punya data dari nilai itu berapa kontribusi turis mancanegara dan turis lokal. Walau demikian saya yakin sepenuhnya, industri ini bisa tumbuh dan punya peluang besar dari wisatawan lokal.

20121228_145158

Menurut saya, hitungan jumlah wisatawan dengan makin baiknya wisata ibarat menebak ayam dulu, atau telur dulu. Apakah menunggu turis banyak dulu baru punya biaya untuk memperbaiki atau diperbaiki dulu baru turis berdatangan. Jika kita tidak memikirkan peran apa yang bisa kita lakukan, pastilah sebagian besar akan memilih opsi kedua yang artinya menyerahkan semuanya ke pemerintah. Jika ini dilakukan seharusnya diiringi promosi agar biaya pekerjaan ini bisa berputar dan prosesnya tidak berhenti.

Nah, porsi promosi inilah yang bisa saya bantu sebagai seorang blogger. Tidak harus menunggu pemilihan putra-putri atau duta-duta pariwisata untuk melakukan upaya ini. Sama sekali tidak mengecilkan keberadaan ajang pencarian bakat seperti itu. Tapi kita harus realistis, jika butuh informasi tujuan wisata, kemana kita kini mencari? Nelpon duta wisata atau googling? Silakan dijawab sendiri. Mohon abaikan kurangnya pengetahuan saya akan hal ini. Kalaupun dibuat semacam survei, saya yakin sekali blogger adalah tools ampuh untuk membuat wisata lokal kita berjaya.

20131103_084755

Dengan alamnya yang cantik sangat disayangkan jika sebagian besar penduduk yang bermukim di daerah wisata kita masih miskin. Seorang teman saya yang bekerja di sebuah NGO lingkungan, saat ini tengah melakukan sebuah program untuk mengurangi kemiskinan di beberapa lokasi wisata di NTT. Miris jika kita selalu melihat dengan nyata banyak yang jalan-jalan ke Singapura cuma untuk belanja. Jelas-jelas hal ini cuma memberi devisa buat negara lain. Jika saja uang itu bisa dialihkan ke mereka yang bergantung hidupnya dari wisata alam, bukan saja devisa, penurunan tingkat kemiskinan pun terbantu.

Memang sih, secara logika wajar juga mereka memilih berakhir pekan di Singapura, wong tiketnya lebih murah. Nah, ini pun seperti telur atau ayam. Harga tiket pesawat akan mengikuti jumlah permintaan. Jika permintaan banyak, harganya cenderung akan murah, karena akan membuat persaingan maskapai menjadi sengit. Siapa yang mau mulai beli tiketnya? Ya, kita juga dong.. Masak berharap duluan sama turis asing.

Karena cinta itu lahir dari melihat dan merasakan.

So, sejatinya duta wisata bangsa ini ya ..kita sendiri. Siapa sasaran utamanya? Ya kita-kita juga. Menjadi pekerjaan kita juga sama-sama bagaimana membuat penduduk Indonesia menjadi lebih mencintai negaranya. Bagaimana caranya? Dengan lebih banyak berkunjung ke berbagai wilayah negeri. Karena cinta itu lahir dari melihat dan merasakan. PR pemerintah membuat bagaimana infrastruktur pariwisata menjadi lebih baik, akomodasi memadai, harga tiket menjadi lebih terjangkau dan lain sebagainya. Sebagai blogger saya bersedia membantu habis-habisan untuk mempromosikan Indonesia. Semoga Pemerintah mendukung upaya ini dengan optimal.

Dibuat bersama-sama dengan Tim TravelBloggerIndonesia

Baca Juga!

silakan kunjungi surat yang lain di :
Lenny Lim – Surat Untuk Menteri Pariwisata
Wira Nurmansyah – Sepucuk Surat untuk Menteri Pariwisata
Indri Juwono – Peduli Budaya Lokal untuk Pariwisata Indonesia
Farchan Noor Rachman – Surat Terbuka untuk Menteri Pariwisata
Rijal Fahmi – Pariwisata Indonesia dan Segala Problematikanya
Titi Akmar – Secercah asa untuk Pariwisata Indonesia
Parahita Satiti – Surat untuk Pak Arief Yahya
Yofangga Rayson – Pak Menteri, Padamu Kutitipkan Wisata Negeri
Indri Juwono – Peduli Budaya Lokal untuk Pariwisata Indonesia
Matius Nugie – Merenda Asa untuk Pariwisata Kota Indonesia
Olive Bendon – Indonesia, Belajarlah pada Malaysia
Bobby Ertanto – Dear Menteri Pariwisata Indonesia
Danan Wahyu – Repackage Visit Indonesia Year
Firsta Yunida – Thought and Testimonial : Tourism in Indonesia
Felicia Lasmana – Target 1 Juta Wisman Per Bulan menurut seorang Biolog, Pejalan, dan Blogger

 

 

Hits: 4856

Sampai detik ini Saya masih menyimpan timbunan mimpi untuk bisa melihat benua Eropa dan Amerika. Jika dipikir secara matematika, saya sadar untuk kondisi sekarang dan satu-dua tahun ke depan hal itu belum memungkinkan. Tapi kita tidak tahu, selama ada ikhtiar pasti ada jalan, dan sekarang saya masih dalam proses ikhtiar itu. Aaminn. Sejujurnya dulu masih merasa iri dengan beberapa teman yang bisa melancong ke benua-benua itu, baik yang bayar sendiri apalagi yang bisa gratis. Duh, saya kapan yaa.

Tapi sekarang, rasa iri-nya mungkin sudah jauh sekali berkurang. Kenapa? Karena di pekerjaan saya yang sekarang, saya sudah diberi “rejeki” melancong hampir di 2/3 provinsi negara ini. Meskipun “bungkusan”-nya dinas kantor, yang rata-rata hanya dua hari, saya merasakan bahwa saya makin jatuh cinta dengan Indonesia. Saya bukan mau bercerita soal Bali atau Yogyakarta yang memang sudah jadi maskot wisata Indonesia. Masih ada puluhan daerah lain yang sangat layak untuk dikunjung

Saya terlalu sering menulis tentang Aceh. Entah karena (pernah) ada cinta yang lain atau karena saya benar-benar jatuh cinta dengan budaya dan alamnya. Rasanya saya masih pede bilang, bahwa pantai-pantai di Aceh masih tetap yang terindah buat saya. Saya tidak akan pernah lupa pantai indah yang melingkari kota Kupang, pegunungan nan sejuk di Tolitoli, Sulawesi Tengah dan tentu saja Senggigi Lombok yang sudah ramai dengan wisatawan. Saya sempat terkagum-kagum dengan jembatan Barelang yang menghubungkan tiga pulau di Kepulauan Riau.  Disana, saya juga baru tahu ada satu kampung yang selama puluhan tahun dihuni oleh pengungsi perang Vietnam yang akhirnya beranak pinak. Kampung kecil yang kini tak berpenghuni itu – telah menjadi salah satu culture heritage-nya Unesco- ibarat negara kecil di pulau kecil. Luasnya mungkin tidak lebih dari satu RW, tapi lengkap dengan rumah, gereja, pagoda, vihara, masjid, sekolah bahkan penjara dan pemakaman. Uniknya lagi semua bangunan tersebut diberi nama dan tulisan dalam bahasa Vietnam.  Suatu saat di Pulau Samosir sambil memandang Danau Toba, saya pernah mikir apakah yang sering bolak-balik ngasih devisa ke Singapura (alias belanja) pernah mampir kesini? Gak yakin…

Read More

Hits: 886