Natuna, Kisah dari Utara


Jalan Jalan / Tuesday, December 18th, 2018

Mencari satu kalimat awal untuk membuka tulisan tentang Natuna ternyata bukan pekerjaan mudah. Sama tidak mudahnya dengan pura-pura bahagia saat hati sesungguhnya sedang tidak bahagia. Namun siapa sangka, pulau terdepan di utara Indonesia ini justru membolak-balikkan semua hanya dengan satu pandangan ke biru lautnya.

Sayangnya, semalam hujan, hari ini pun mendung. Pantai Tanjung memang masih biru, namun langitnya buram abu-abu. Saya duduk di sebuah pondok kecil disini, di pantai yang ditempuh kurang dari 15 menit dari pusat Ranai, ibu kota Natuna. Saya tidak yakin bisa mendapatkan atmosfer foto terbaik hari ini dengan cuaca mendung di awal Desember. Gerimis pun mulai turun. Terpaksa niat berburu foto diurungkan. Tapi siapa kira bahwa mendung memang tak selamanya hujan? Belum sempat berkemas, tiba-tiba matahari hadir seolah jadi pertanda itulah cara Tuhan mengabulkan doa. Seketika, dengan waktuNya sendiri, disaat mungkin yang terpikir adalah ketiadaan harapan.

Pantai landai berpasir putih ini sungguh masih alami. Belum ada deretan hotel apalagi villa mewah. Airnya berwarna biru tosca, jernih nyaris tanpa sampah. Perahu nelayan terombang ambing diatasnya, mengikuti irama gelombang diiringi lantunan deru ombak yang menenangkan. Seujung pandangan mata Pulau Senua nampak dari kejauhan, jaraknya mungkin kurang dari tiga mil saja. Katanya Senua adalah pulau wajib dikunjungi jika tiba di Natuna. Konon pulau ini merupakan jelmaan dari seorang perempuan yang tengah hamil. Bentuknya memang menunjukkan demikian. Sayang, hari ini cuaca kurang mendukung untuk bersampan kesana.

Langit abu-abu tadi mendadak cerak biru muda dengan arakan awan putih yang jadi pelengkap utama Tidak ada kosa kata lain yang menyusup ke sendi-sendi raga selain kedamaian.

Saya kemudian memesan tabel mando, katanya ini “pizza” khas Natuna. Sepiring makanan adonan tepung terigu, sagu bercampur dengan irisan tongkol kemudian datang ke meja saya. Ya, bentuknya bulat seperti pizza, diameternya mungkin sekitar delapan senti, persis seukuran piring makan. Makanan langka, kata penduduk disini. Rasanya gurih, pas dengan saus sambal kental yang dihidang bersamanya. Sebuah kelapa mudah hijau bertengger manis disampingnya. Mungkin ini hari yang sederhana bagi orang Natuna, tapi sungguh mewah bagi orang metropolitan yang makin muak dengan santapan polusi.

Tak jauh dari pantai Tanjung, berjejer batu-besar yang melindungi hampir seluruh pantai di Natuna. Eksotisme Natuna sejatinya ada pada batu-batu besar yang jika diperhatikan bentuknya menyerupai berbagai mahluk hidup. Konon, batu-batu ini adalah tumpahan dari perbukitan Natuna. Keindahan pegunungan yang berseberangan dengan pantai seolah beradu padu dan membuat saya yakin mengatakan bahwa pulau ini sungguh cantik.

Saya tidak pernah berpikir untuk bisa sampai disini. Terlalu jauh itu alasan utamanya. Mahal itu alasan keduanya. Namun terkadang jarak dan rupiah jadi bukan kendala, manakala yang kamu cari ada disana. Keindahan, kedamaian, dan kesejukan. Ya disana, di Natuna.

Tunggu tulisan saya tentang bagaiman ke Natuna dan akomodasinya seperti apa di posting berikutnya!

 

 

 

(Visited 55 times, 1 visits today)

One Reply to “Natuna, Kisah dari Utara”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *