Rumput di halaman belakang mulai menguning. Tanaman merambat yang dulu ditanam Ibu sudah memenuhi tembok membatas rumah kami dengan kali kecil di belakangnya. Pondok bambu tempat kami dulu sering bercengkrama kini sudah rubuh. Bekas kayu dan bambunya masih berserakan di sumur, sumber air utama keluarga kami. Bibir sumur pun mulai retak, untung saja airnya masih jernih. Jika tidak segera diperbaiki, bisa-bisa dindingnya ambles dan temboknya runtuh masuk ke dalam sumur.

Saya duduk di meja makan yang menghadap langsung dengan halaman belakang itu. Dinding ruang makan merangkap dapur ini dipenuhi foto-foto keluarga. Bingkai bingkai tua yang melingkari potret-potret itu tertutup debu karena lama tak tersentuh. Meski tak bersuara, semuanya seolah bercerita tentang kehangatan yang pernah ada disini. Tiga bulan lalu saya juga sempat pulang, ketika banjir besar menggenangi kampung ini, menengok rumah ini, rumah keluarga kami. Dan hari ini saya kembali kesini, setelah setengah mati minta cuti satu hari dengan bos di kantor yang menyebalkan. Saya cuma rindu.

Di samping rumah, pohon rambutan Ibu masih ada. Buahnya masih hijau kekuningan, tetapi rasanya sudah manis. Musim rambutan memang sudah berlalu, tapi saya masih bisa memetik satu dua buah sambil mengingat ketika dulu buahnya masih tumpah ruah dan menggoda sepupu-sepupu kecil kami.

“Kapan sampai?” suara Mang Udin tiba tiba membuyarkan lamunanku.

“Tadi siang, mang.. “ kataku, sambil mengelap sisa sisa debu yang memenuhi foto pernikahan Dion dan Dina.

Mang Udin, penjaga rumah ini kemudian pamit ke belakang. Pelan pelan saya beranjak ke ruang tengah. Kursi kursi dan perabot diletakkan rapat dengan dinding, hingga menyisakan ruang luas di tengahnya. Permadani kesayangan Ibu sudah digulung tersimpan rapih di sudut ruangan. Banjir beberapa bulan lalu membuat penataan ruangan ini tidak seperti biasanya.

Rumah besar peninggalan mendiang Ayah ini terasa senyap. Jendela-jendela tua yang dibuat 30 tahun lalu masih kokoh dan seakan jadi saksi kehangatan yang pernah ada disini. Lima belas tahun lalu, kami besar dan tumbuh disini. Pelan tapi pasti, Saya, Dila dan Dion meninggakan rumah ini. Merantau ke Jakarta, mencari hidup kami sendiri. Dua tiga tahun lalu kami masih disini berlebaran bersama, tapi mungkin itu sudah jadi lebaran terakhir kami bersama. Sudah dua tahun Ibu pindah ke negeri Belanda, mengikuti Dila yang sudah berganti kewarganegaraan. Mau tidak mau, tugas merawat rumah ini menjadi tanggung jawab Saya, sesuatu yang akhirnya jadi rutinitas setiap tiga bulan. Jarak Jakarta kesini cukup jauh, masih butuh waktu 5 jam lagi dari bandara terdekat setelah terbang kurang lebih satu jam dari Jakarta. Sedangkan Dion,… air mata ini rasanya ingin menetes ketika memandangi foto Romi anak semata wayang Dion dan Dina. Anak yang sudah saya anggap seperti anak sendiri. Ya, pernikahan mereka di ujung tanduk.

Tiba tiba saya sudah tertidur lelap di kamar Ibu. Tiga puluh menit lagi waktu berbuka puasa. Di luar hujan. Kata Mang Udin, sudah dua minggu tidak turun hujan, mungkin di sore ini kota pun menyambut Saya dengan hujannya.

“Widaaa,..ayoo bangun,..sebentar lagi berbuka!”

Suara Ibu memanggil Saya, Ia pasti sudah siap dengan menu hidangan puasa kesukaan anak-anaknya. Saya cepat-cepat beringsut dari kamar dingin ini. Sekejap kemudian, Saya sadar…tadi hanya lamunan. Terakhir kami berbuka puasa di rumah ini tiga tahun lalu. Namun sore ini, saya sendirian. Tidak ada siapa-siapa. Sunyi.

Tiga tahun lalu, Romi bocah kecil nan lucu itu menemani kami menunggu waktu berbuka. Tingkah polahnya yang lucu, membuat waktu berjalan tak terasa. Foto-foto Romi masih tertata apik di dinding ruang tamu. Ibu selalu bangga pada cucunya itu. Mata saya berkaca-kaca. Hubungan Ibu dengan menantunya sekarang kurang baik. Masalah rumah tangga Dion dan Dina menjadi akar penyebabnya. Mungkin tidak ada yang mutlak bersalah, yang memberatkan adalah komunikasi yang mungkin makin minim. Ibu nun jauh disana sementara Dion dan Dina di Jakarta. Jangan bilang, teknologi sekarang mampu membuat semuanya tanpa batas, ternyata tidak pernah ada yang menggantikan interaksi langsung, tatapan mata dan sentuhan tangan.

Semua tiba-tiba terasa begitu senyap. Ada yang hilang atau mungkin semua telah hilang. Entahlah. Rasanya air mata ini ingin tumpah, tapi toh buat apa. Saya disini sendiri, tidak tahu kepada siapa harus mengadu. Tidak pula ada bahu untuk bersandar. Teman dekat? Ah, sudahlah.. masih tersisa keping-keping traumatik di kepala saya tentang hubungan terakhir dengan seseorang di ujung Pulau Sumatera sana.

Saya bukan orang yang bisa mengumbar masalah keluarga kemana-mana. Biarkan teman-teman saya tahu, kalau saya punya keluarga yang bahagia, karir yang bagus, jalan-jalan terus keliling Indonesia, minimal satu kali dalam satu tahun ke Amerika dan semuanya.

Bingung rasanya untuk mengurai benang yang terlanjur kusut. Saya cuma bagian dari keluarga ini, namun tidak punya hak untuk menentukan kemana arah hidup saudara-saudara saya. Saya sadar, apapun yang terjadi dalam keluarga adik dan kakak saya adalah privasi mereka. Namun ibarat darah dalam daging, pedihnya perpisahan terasa begitu membekas di hati. Tuhan tahu, saya korbankan begitu banyak kepentingan pribadi untuk melihat mereka bahagia meski harus menunda kebahagiaan saya sendiri.

Bergegas saya menuju kamar mandi. Berkaca-kaca mata ini ketika melihat mainan ikan-ikan plastik masih ada di bak mandinya. Yah, itu mainan Romi. Lemari besar di kamarnya masih berisi baju-bajunya, mainan-mainannya dan tumpukan selimut selimut lucu khas balita. Semua masih tersusun rapih. Di sudut kamar terlihat beberapa tumpukan barang tidak terpakai. Sumpah, saya enggan menjamahnya. Saya biarkan semua tetap seperti itu, karena membukanya sama saja dengan menuai kenangan lama.

Sungguh, saya benci perpisahan. Saya benci jarak. Saya benci keluarga yang semuanya tidak pernah ada dalam satu pulau bahkan satu negara. Tapi saya tidak bisa membenci semua yang sudah ditakdirkan Tuhan. Saya tidak bisa pergi dari masa lalu saya, masa lalu kami. Saya berusaha berdamai dengan keadaan. Mungkin memang saya harus pergi, meninggalkan rumah cinta masa kecil ini, untuk memahami arti hidup, untuk mengerti arti perjuangan, untuk meresapi makna cinta yang sebenarnya. 

Dan sore ini…saya membiarkan semuanya tertinggal seperti dulu. Agar selalu ada rindu untuk kembali.

 

 

 

 

 

Hits: 2244

Kembali ke Sabang bagi saya adalah kembali menyusuri harapan. Harapan yang sembilan tahun lalu pernah menemani hari-hari saya. Dulu, Sabang mungkin hanya sebuah kata yang saya dengar dari salah satu lagu wajib anak sekolah. Sabang cuma sebuah kata yang menunjukkan pangkal dari luasnya wilayah negara ini. Pesona Bahari Sabang laksana magnet yang terlalu kuat sehingga saya tidak kuasa untuk menolak panggilannya kembali,

Melewati kontur Sabang yang berkelok mengingatkan saya pada jalan menuju Pantai Senggigi di Pulau Lombok, tempat pertama kita bertemu. Saya mencoba meresapi sisa-sisa cinta yang mungkin masih membekas di tepi Pantai Iboh dan Pantai Gapang. Dulu disini kita pernah memandang temaramnya bulan dari bibir pantai berpasir putih yang landai hanya beralaskan tikar lusuh. Saat itu saya berharap ada bintang jatuh, kemudian saya ingin meminta kepada Penciptanya, agar kita bisa disini lebih lama. Membangun villa kecil di tepi Iboh dan mewujudkan mimpi saya untuk lebih banyak menulis sambil memandang laut lepas berhiaskan pohon nyiur dari jendela kamar kita. Ya, saya bosan dengan kehidupan dan hiruk pikuk Jakarta. Memandang laut lepas dengan siluet perahu nelayan dan membiarkan waktu seolah berhenti berputar adalah tujuan saya kembali kesini.

Malamnya, kita menikmati seafood yang bumbunya kamu racik sendiri sembari mendengar debur ombak yang seolah bercerita tentang kita. Obrolan malam kita selalu dilengkapi dengan meneguk nikmatnya kopi Aceh. Meskipun banyak perbedaan diantara kita, kamu sama seperti saya; penikmat kopi. Kopi itu sama seperti cinta, dia menyatukan meskipun selalu terasa getir diawal, manis akan kita rasakan di ujung hirupannya. Seperti cinta, kopi pun membuat candu, meskipun rasa pahit tak sepenuhnya hilang dari aromanya. Dan ini Aceh, si penghasil kopi kelas dunia. Namun sejatinya Ini bukan hanya tentang kopi. Ini bukan hanya tentang dimana kita menikmati kopi itu. Ini adalah cara kita berbagi cerita, cari kita berbagi rasa. Kopi adalah suara hati dan potongan rindu. Rindu kamu, rindu Aceh, rindu Sabang.

Di sebuah pagi kamu menantang untuk berenang dari Iboh menuju Rubiah yang hanya berjarak sekitar 350 meter. Gila memang… tapi itu biasa bagi turis, divers dan penikmat wisata bahari seperti kita. Bagi saya, pesona taman laut Rubiah tetap bisa dinikmati tanpa harus berenang menuju pulaunya. Teman-teman divers yang saya kenal, bahkan pernah mengatakan Rubiah adalah salah satu spot terbaik untuk diving dan snorkeling terbaik di Indonesia bahkan di dunia. Begitu banyak kegiatan wisata bahari di Sabang yang kamu ceritakan kepada Saya. Saya bahkan baru tahu, Sabang juga menawarkan kegiatan memancing di laut dalam (deep sea fishing) di dekat Pulau Rondo.

 

Mari-Rayakan-Sabang-Marine-Festival-2016-Lewat_Tulisan (1)

 

Kamu juga sempat mengajak Saya, berjalan kaki menuju Tugu KM 0. Menyusuri tepian tebing dengan pepohanan rindang. Luar biasa bahagianya saya bisa sampai di ujung terbarat Indonesia itu. Sesuatu  yang dulu mungkin cuma mimpi. Tugu itu, kini telah direnovasi menjadi lebih menarik, meskipun bentuk aslinya masih sama. Konon di Merauke, batas terujung timur Indonesia pun memiliki bentuk tugu yang seragam. Yang selalu saya ingat, kamu bahkan hapal hewan-hewan yang sudah lama berdiam di seputaran tugu itu. Sampai-sampai kamu punya nama untuk menyebut seekor monyet dan seekor babi hutan yang sepertinya sudah sangat welcome terhadap turis-turis disana. Uniknya lagi, mungkin Tugu KM 0 adalah satu-satunya tempat di Indonesia yang memberikan sertifikat kepada para pengunjungnya. Dan, nomer sertifikat saya adalah 59525. Artinya saya adalah pengunjung ke 59525 yang mendapat sertifikat dari Walikota Sabang. Cinderamata paling unik yang pernah saya dapatkan dari sebuah daerah bahari. Tidak hanya tugu, dibanding dulu hampir semua fasilitas wisata mulai dibenahi. Saya merasakan nafas wisata bahari sudah menjadi bagian seluruh penjuru Sabang. Kota kecil yang tenang, rindang, penduduk yang ramah membuat saya betah berlama-lama disini. 

Hari ini, disini, Saya duduk di batuan terujung Indonesia. Tadi malam sepertinya hujan, pepohonan disini pun masih basah. Namun Saya suka bau hujan,  seperti rasa suka saya pada kopi Aceh, pun seperti  rasa damai yang menyergap kala memandang birunya air Samudera Hindia. Merasakan indahnya negeri ini membuat saya makin bangga jadi warga nusantara. Bedanya, saat ini Saya sendiri. Sembilan tahun lalu, saya kehilangan berita tentang kamu, namun cerita sesaat kebersamaan kita akan selalu jadi cerita abadi bagi Saya. Kamu memang pergi, tapi jejak-jejak cerita kita di Sabang akan selalu jadi prasasti di hati Saya. Kapan pun dan kemana pun saya melangkah, Sabang adalah tempat kembali.

 

Hits: 1460

Yah, cinta itu memang gak punya teori. Itu teori saya. Teori ini saya dapatkan seiring berjalannya waktu dan mulai kenyang dengan urusan cinta-cintaan (meski sampe sekarang belum ada yang sukses). LOL…

Ada masa dimana saya (atau kamu juga…) sibuk sekali  mencari penyebab masalah (baca: kegagalan) sebuah hubungan. Ada pula masa dimana saya tidak tau alias bingung harus ngapain saat dihadapkan pada cobaan cinta yang berat dan bertubi-tubi. Lalu, kemana mencari jawaban? Dulunya saya paling seneng membaca buku-buku psikologis tentang pria dan wanita, lebih-lebih lagi yang berbau hubungan percintaan.  Mungkin ini akibat keseringan patah hati dan kecewa, buku adalah teman terbaik untuk mencari  jawaban atas semua keadaan itu.  Tidak hanya dari membaca, curhat session dengan beberapa sahabat membuat saya akhirnya lebih memahami kodrat antara laki-laki dan perempuan. Walau sudah mapan  dalam teori, kalo jodoh sih emang belum ada sampai saat ini, hiks… tapi minimal banget saya punya sedikit knowledge dan pengalaman yang bisa saya bagi, saat ada teman yang curhat atau berkeluh kesah tentang hubungannya dengan pasangan atau calon pasangan.

teori cintaHampir saban hari saya mendengar curhat teman dan sahabat tentang urusan lima huruf ini. Gak cuma cewek, cowok atau mereka yang jelas orientasi seksualnya,  pun teman yang homoseksual pun saya dengerin. Seriously!!  Sama seperti mereka, saya pun kalau ada masalah akan mencari tempat curhat. Nah, ketika seorang teman bercerita tentang keluh kesahnya, selain cuma  mendengar sudah pasti ada keinginan dari diri kita untuk memberi saran dan masukan.  Tapi, cinta itu memang barang ajaib. Sudah sekhatam apapun ilmu kita tentang cinta, sudah secanggih apapun rumus dan formula-mu untuk satu hubungan, percayalah hampir tidak ada teori yang paling tepat untuk  setiap kasus. Itu artinya, cenderung percuma memberikan banyak advis ke teman-teman atau ke diri kita sendiri tentang masalah cinta.

Ada seorang teman yang berusaha sekuat tenaga lari dari sebuah hubungan yang tidak prospektif (loh…kok kayak jualan asuransi),  Sudah banyak upaya yang ia lakukan, sudah banyak pula petuah yang diberikan orang disekitarnya untuk mendukung usahanya itu.  Saya capek memberi masukan harus begini, harus begono. Ia pun nampaknya semangat mengikuti saran saya.  Apa cara itu berhasil? Saya berani bilang tingkat keberhasilannya cuma 40%.  Masalah memang hati ajaib, semakin dihindari ia justru semakin mendekat. Besoknya ia bercerita kembali, kalau ia baru saja berkencan lagi dengan orang yang sama (Capek dehhh…) Saya sendiri pernah mengalami hal serupa. Sama aja, saya juga diberikan banyak petuah oleh teman-teman. Saya juga sibuk mencari berbagai teori sebagai referensi. Sebagai contoh, katanya untuk menghindari seseorang, blok dia dari segala macam alat komunikasi dan media sosial. Jangan terlibat dengan sekecil apapun urusan dengannya.  Lalu, apa yang saya lakukan justru berbeda 180% dari semua petuah dan teori itu. Saya justru membiarkan saja semua berjalan apa adanya. Tidak ada blocking kontak, tidak ada urusan menghindar. Sampai akhirnya hati saya kebal sendiri, dan kemudian semua selesai, dan saya benar-benar ikhlas dengan semua yang terjadi. Percayalah, pada satu titik, time is best healing! 

Ada lagi teman saya yang sudah saya “nasehatin” sampe pake emosi. Ini urusannya bener-bener bodoh. Keukeuh mengejar orang yang jelas-jelas cuma iseng saja sama dia. Dulu saya pikir, masukan yang cocok buat dia tidak ada lain, selain: tinggalin.. cari yang lain. Tapi namanya cinta sih, sejuta alasan bodoh tetap ia gunakan untuk tetap berjuang. Karena bosan, akhirnya ia saya cuekin, Ujung-ujungnya memang ia menjauh dari laki-laki itu, tapi itu ibaratnya sudah kepentok, baru mundur. Buang waktu dan energi sih, tapi mungkin cukup pantas untuk semua perjuangan cinta (uhuk…). Selain gak punya teori, cinta juga bodoh. Kalau tidak bodoh, mungkin bukan cinta namanya. HAHAHAH.. Seorang teman pernah jatuh cinta dengan seseorang yang secara kasat mata sangat jelas perbedaannya. Dari agama, suku, ras,latar belakang dan semuanya. Lagi lagi, semua teori gak mempan buat dia, hingga akhirnya kesandung sendiri dan ia pun mundur teratur. Mesakno…

Cinta memang universal, tapi teori tentang cinta sama sekali tidak universal. Itu yang membuat cinta itu unik. Cinta itu customized. Semua hal tentang cinta selalu melahirkan teori baru bagi setiap yang merasakan, dan teori itu belum tentu cocok diimplementaskan untuk orang lain. So, untuk cinta ikuti saja katamu.  But remember, follow your heart, but take your brain along with you….

 

Hits: 1360

Dan..upayaku tahu diri..

Tak slamanya berhasil

Pabila kau muncul terus begini

Tanpa pernah kita bersama

Pergilah,menghilang sajalah lagi

 

Baca penggalan lagu Maudy Ayunda di atas jadi tiba-tiba kepingin cerita tentang sebuah cerita yang (mungkin) membosankan.  Tentang seseorang yang udah kemana-kemana tapi ujung-ujungnya datang kembali setelah membuat separuh jiwa rasanya mau mati *lebay… Kabarnya ia sudah terlibat hubungan yang serius dan segera akan menikah. Mungkin kedatangannya ke saya, hanya wujud silaturahim sebagai teman. Saya ingin mengutip satu quote (yang saya bikin sendiri) bunyinya: Akhirnya kita akan sampai di suatu masa, bahwa masa lalu bukan hanya untuk dikenang, tapi juga untuk ditertawakan.

Setelah melalui proses yang sangaaatt panjang. Ini mungkin proses terlama yang gak abis-abis dalam sebuah proses yang “pake hati” Dengan semua emosi yang naik turun, dengan penyesalan yang tidak berpangkal. Hati yang remuk redam, merenungi nasib yang kayaknya buruk banget, saya rasa, saya (hampir) sampai pada quote di atas. Saya memang menunggu sebuah masa, ketika dia “datang” kembali tapi saya merasa biasa-biasa saja.  Soal si “bapak” ini, saya memang sudah jarang cerita ke sahabat-sahabat saya. Kenapa? Karena mereka kebanyakan memberi saran yang ekstrim. Seperti, tutup semua bentuk komunikasi kalo perlu semua di-block. Jangan percaya semua omongan dia, semua penuh kebohongan, licik, tipu daya dan sejenisnya. Alasannya tentu saja karena dia bukan laki-laki yang pantas, yang sudah datang dan pergi seenaknya untuk menyakiti saya. Bisakah saya melalukan semua itu? Hmm, mungkin iya.  Saya sudah pernah memaki-maki dia, dari emosi marah sampai emosi nangis semua sudah dilakukan. Ibaratnya, jika ada 1000 cara mengenyahkan ia dari hidup saya, saya sudah melakukan 1001 cara.

Read More

Hits: 864

Pada satu titik, akhirnya saya mengerti cinta tidak selamanya menyatukan. Saya sempat percaya dengan teori move on, tapi hanya “sempat”, karena di kemudian hari saya menyadari teori just an theory sampai kamu membuktikan dengan caramu sendiri dan kemudian menciptakan teori baru. See? Hingga akhirnya saya membuat teori baru, bahwa dua orang yang ditakdirkan bersama sejatinya tidak pernah benar-benar terpisah.

http://missbosque.blogspot.com/2012/08/perpisahan-itu-terlalu-menyakitkanku.html

Suatu ketika diantara kita mungkin pernah terlibat dalam satu keadaan yang seolah tidak berujung. Rasa sayang, rindu, saling membutuhkan, merasa terlengkapi yang berbaur dengan pertengkaran besar dan kecil yang tidak ada habisnya. Namun herannya meski deretan waktu terlewati, sekian orang terlalui, seribu pertengkaran terhabiskan, kita selalu tahu bahwa di hilir-nya kita tetap kembali.  Tapi ternyata itu bukan alasan yang cukup untuk bersama, di luar masih banyak realita yang menyadarkan bahwa dunia ini bukan milik berdua. Ada orang-orang lain yang juga memiliki kita dan memiliki dunia ini.  Orang-orang dan lingkungan yang pada akhirnya memaksa kita untuk mengingkari dan mengambil keputusan di luar hati nurani.  Dari sana saya semakin berani bilang; ungkapan bahwa cinta adalah segalanya untuk melawan semua keadaan hanya mitos belaka.

Tidak apa-apa, itulah hidup.  Bahwa tidak semua hal yang kita impikan akan kita miliki dan semua yang kita miliki akan tetap selamanya kita miliki. Di ujung cerita, saya percaya bahwa waktu adalah penyelesai terbaik dari semua masalah.

Tapi lepas dari semua itu, saya ingin satu hal bilang: Kenapa harus bersama karena “persamaan”, padahal perbedaan-lah yang membuat kaya dan hidup penuh warna. 

(Biar saya, dia dan Tuhan saja yang tahu)

 

 

Hits: 725

Beberapa tahun lalu saya pernah “ditinggalkan” oleh seseorang yang saya cintai  karena ia pergi dengan perempuan lain. Saya masih ingat kata-kata terakhir yang ia ucapkan: “aku tahu..kamu perempuan yang kuat”.  Kata-katanya bertuah, karena ternyata itu bukan patah hati yang terakhir, masih ada urusan hati lagi setelah itu yang membuatku benar-benar belajar jadi kuat. *Loh, kok jadi curhat, kasian banget yah gw.. *

Kini, Saya menjadi sangat terbiasa dengan kasus-kasus perpisahan, patah hati dan kekecewaan akan cinta yang terjadi di sekitar saya.  Dari kasus putus pacaran, kecewa dengan pasangan (suami/istri) hingga perceraian. Bahkan perceraian  di lingkungan pertemanan saya sudah menjadi peristiwa yang tidak lagi istimewa  alias sangat umum terjadi. Namun sayangnya, setelah saya amati banyak korban-korban baik yang putus pacaran atau perceraian tidak sepenuhnya bangkit dari kegagalan yang mereka alami. Istilah anak muda-nya terjangkit penyakit susah move on. Mungkin saya juga begitu, bahkan sampai sekarang masih ada sisa-sisa “gagal move on” di diri saya. Hahahaha.. Upss.. cerita belum selesai. Baca sampai habis yah!

Kondisi seperti ini lumrah dialami oleh semua orang,  tapi kita tidak punya alasan berlama-lama merenungi nasib dan meratapi masa-masa terburuk itu. Sejujurnya saya prihatin, banyak orang yang sepertinya terlalu lama “berduka atau terlena” karena masa lalunya, hingga membuang waktu tanpa menghasilkan apa-apa yang signifikan. Saya sangat mengerti tidak ada orang yang bisa 100% move on apalagi dalam waktu yang singkat. Namun itu tidak bisa jadi alasan kita tidak punya prestasi atau achievement baru. Masa “berkabung” memang diperlukan bagi satu hati yang terluka yang bahkan waktu penyembuhannya berbeda-beda di setiap orang.  Buat yang terbiasa berpasangan, perlu adaptasi dari perubahan kebiasaan dan keseharian. Namun di sela-sela “masa penyembuhan” itu, haruskah kita menghabiskan waktu dengan sia-sia?

Tahun 2012 adalah salah satu masa urusan hati yang paling berat yang pernah saya alami. Emosi yang naik turun, kondisi pekerjaan baru juga yang belum sepenuhnya stabil dan beberapa hal lain yang membuat semua campur aduk dan terasa lebih berat. Namun di sela-sela beratnya masa-masa itu, saya masih punya prinsip yang dari dulu saya pegang bahwa kegagalan saya di satu sisi tidak boleh jadi alasan kegagalan saya di sisi lain.

Justru kini terbuka satu ruang bagi saya untuk membuktikan kepada orang-orang (yang menyakiti saya) bahwa saya Insya Allah sangat bisa lebih baik tanpa (dia)/mereka.  The best revenge is life well,.. Berat? Pasti! Apalagi komitmen ini kita buat dengan diri sendiri. Godaan dan tantangan emosinya banyak sekali. Tapi saya berkeyakinan, Tuhan selalu bersama orang-orang yang (belajar) sabar dan ikhlas serta selalu bersyukur. Yah, bagi saya ikhlas dan sabar itu sampai kapanpun wujudnya tetap belajar.

Saya akui saya tidak selalu mulus menjalani masa-masa yang sulit seperti juga terjadi pada banyak orang lain. Galau ya pastilah.. Namanya manusia. Tapi saya berupaya tidak menjadikan galau itu permanen dengan memenuhi kepala saya dengan pikiran-pikiran yang positif dan tindakan yang juga positif. Bukan dengan kebanyakan tidur dan membuang waktu tanpa menghasilkan apa-apa. Salah satunya dengan membuat target mau apa saya di bulan ini, target saya apa di bulan depan dan apa yang harus saya lakukan untuk mencapai semua itu.

Akhirnya semua itu membuat saya lebih kuat sekarang. Meski saya gak mau sombong kalau saya sudah 100% move on. Saya masih suka prihatin dengan orang-orang yang “senang” berlama-lama terjebak dengan masa lalu. Yuk, buka mata lebar-lebar, gali potensi diri sedalam-dalamnya. Kembangkan dengan segala cara, jangan buang waktumu percuma dengan hal-hal yang tidak signifikan hasilnya.

Di depan jalan masih panjang. Optimislah seperti matahari yang PASTI akan terbit di pagi hari. Smile 🙂

 

Hits: 1008

shutterstock.com

Sudah hampir tiga puluh menit kita disini. Aku masih saja mengaduk-ngaduk sanger* dingin yang sebenarnya tidak perlu diaduk lagi.  Aku merapihkan kerudung merah jambuku  sambil sesekali menyimak obrolan tetangga sebelah meja kami. Topik politik daerah ini nampaknya tidak pernah habis untuk digunjingkan.  Ah, menyesal. Kalau tahu begini, harusnya tadi aku membawa komputer jinjingku, memanfaatkan wifi kedai kopi ini dan menulis hal-hal random di blog-ku. Bisa juga membawa buku bacaaan sambil menikmati nasi kuning terenak di kota ini.

Sementara kamu masih saja sibuk mengutak-ngatik telepon genggammu yang sudah butut, berbunyi pun aku rasa susah. Aku tahu, telepon itu sudah jatuh berkali-kali sampai-sampai kamu “menambalnya” dengan plester bening lebar yang aneh.  Kopi hitam yang kamu pesan sama sekali belum kamu sentuh. Kualihkan tatapanku ke wajahmu, kamu mengetuk-ngetukkan telepon itu ke meja kayu kedai ini. Matamu memandang dengan tatapan kosong dan bingung ke sungai kecil di depan kedai kopi di pusat kota Banda Aceh ini. Dingin sekali.

Aku kembali bertanya; “Ada, apa.. kamu sakit?” dan untuk ketiga kalinya kamu balik bertanya bertubi-tubi:

“Kamu tidak marah kalau aku jujur akan sesuatu?”,

“Kamu masih mau jadi sahabatku?”,

“Kamu yakin tidak akan meninggalkan aku?” .

Aku menarik nafas. Kuambil batang korek api dari perangkat rokokmu. Aku menyusun beberapa batang seperti mainan masa kecilku. Aku pun bingung harus menjawab apa. Pertanyaan yang sangat retorik untuk sepasang sahabat baik seperti kita.

“Aneh, perlu dijawab?”, kataku..

“Kamu sakit?” HIV? AIDS?

Langsung saja aku ucapkan nama penyakit itu. Dalam bayanganku hanya itu penyakit paling parah sampai sampai kamu perlu waktu khusus untuk mengakuinya padaku.  Tapi jawabanmu tetap hanya diam.

Read More

Hits: 949

Aku kira sudah habis, ternyata masih ada,

Seperti hujan malam ini

Semalam benar-benar menghilang. Aku sangka itu selamanya

Aku bahagia

Tapi hujan semalam, menghapus panas sehari

Seperti hari ini

Kamu kembali, terbawa hujan.

Oh, ternyata begitu..

Pergilah bersama panas. Hujan pasti akan datang lagi.

Tapi Mohon jangan lagi ikut bersamanya

 

Aku harap sudah habis


Bogor, 6 Juni 2012

 

Hits: 928

Perempuan itu seperti robot, laki laki itu seperti tuannya.

Robot itu bisa melakukan apapun untuk tuannya.  Dari pekerjaan rumah tangga, pekerjaan kantor hingga mendengarkan keluh kesah tuannya. Kalau diperlukan, si tuan tinggal menekan remote dan si robot mulai bekerja untuknya.. Si robot nyaris menemani setiap aktivitas tuannya. Mendengarkan semua masalahnya dengan baik, memberi saran, memberi dukungan dan selalu berusaha memberi kenyamanan dengan kasih sayang.  Robot selalu bangga akan tuannya, begitu juga sebaliknya. Setidaknya seperti yang sering diucapkan tuan ke robotnya.

Robot itu nyaris tidak pernah lelah,  meski tuannya sering pergi tanpa pernah peduli onderdil-onderdil yang ada di dirinya. Dia tahu, sangat tahu bahwa tuannya yang baik itu, mempunyai banyak teman di luar rumah, yang sering membuat si tuan melupakan si robot. Tapi si robot, tidak peduli, karena si tuan selalu meyakinkan, bahwa hanya si robot yang dia butuhkan. “Mereka itu hanya selingan”, kata si tuan. Dan si robot selalu percaya. Dia tahu apapun kejadian di luar sana, si tuan selalu pulang ke rumah, menemaninya bermain, mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya sebagai robot dan bercengkrama dengan penuh tawa setiap hari.

Kadang-kadang robot juga ingin diajak bergabung bersama teman-teman si tuan. Diperkenalkan sebagai benda yang selama ini sangat berarti seperti yang sering si tuan ungkapkan padanya. Namun itu nyaris tidak pernah, jangankan untuk bertatap muka, foto-foto mereka di  sosial media pun harus dikaburkan. Kadang ada alasan yang tidak dimengerti oleh si  robot.  Menurut si robot, selama masih dalam batas wajar, toh tidak apa karena tuannya pun sering bercengkrama dengan teman-temannya di dunia maya dengan bahasa-bahasa mereka. Hmm, tapi  robot mencoba memahami mungkin si tuan malu kalau ketahuan teman-temannya ia dekat dengan sebuah robot. Bukan manusia,  gadis  muda dan cantik, santun berkulit putih seperti impian si tuan  yang pasti sangat membanggakan kalau digandeng kemana-mana. Atau, takut ketahuan keluarganya mungkin? Ya, bisa jadi, karena toh selama ini dengan beban dan tanggung jawab ke orang tua si tuan yang berat, dia harus menyelesaikan sendiri semuanya. Orang tua tuan pasti tidak tau ada robot mekanik yang selalu duduk manis disamping tuannya sangat dibutuhkan. Ah, itu tidak jadi masalah bagi si robot.  Selama ini tuan sangat baik karena  membantu robot menyelesaikan banyak hal, teman sharing yang luar biasa dan sosok yang paling mengerti diri robot. Tuan selalu obyektif menilai robot, sehingga robot bisa jadi robot yang luar biasa, Setidak seperti itu yang si robot tangkap selama ini.

Read More

Hits: 1510

Sekitar dua minggu lalu ada satu kejadian yang mungkin bisa jadi salah satu kejadian paling buruk dalam hidup saya.  Baru kali itulah, saya bener-bener diintimidasi dengan perkataan yang sangat sangat merendahkan dan mungkin benar-benar menghina saya sampai titik terendah. Gak perlu  diceritain sebab musababnya, namun yang membuat saya bersyukur orang orang terdekat mendukung dan membesarkanku sepenuh hati dengan sangat obyektif memandang semua yang menjadi latar belakang terjadinya hal tersebut.  Meskipun kemarahan sudah di ubun atas semua asumsi yang melenceng ke saya, pengen rasanya labrak orangnya, pengen ngamuk, pengen bales ngata-ngatain dengan ucapan-ucapan yang sama sadisnya, pengen maen fisik dan semua-muanya.. Tapi Alhamdulillah, saya kuat untuk nyaris tidak bereaksi apa-apa. Buat apa juga ditanggapin dengan serius, perdebatan tidak akan menyelesaikan apa-apa. Berargumen pun rasanya tidak perlu. Energinya sudah habis, selama ini udah capek dengan semua yang terjadi.

Biarlah apa yang ada di pikirannya tentang aku, seperti apa yang dia pikirkan.

Bukan dia penentu benar salah satu masalah.  Meskipun sakit akibat perkataan itu berefek ke fisik saya yang nyaris drop selama tiga hari. Its really mentally abuse.  Sakitnya bukan karena “ditinggalin” tapi karena kata-kata yang ternyata memang lebih tajam dari belati.  Ah sudahlah, finally timbangan salah bener dan ganjaran yang pantas untuk kita (sebagai manusia) terima itu, udah ada yang ngatur.  Seorang sahabat hanya berpesan kecil tapi menohok; “jangan kotori tangan lu dengan balas dendam ya, vik.. “ .. dan saya pun menangis. 🙁

Ini cuma catatan kecil kehidupan. Apapun yang terjadi, baik buruk, up and down, semua ada hikmahnya. Minimal bisa jadi bahan perenungan dan introspeksi untuk menjadi orang yang lebih baik.. Amin..

 

Hits: 1012

Putus cinta itu biasa, sakit hati itu biasa, kecewa itu biasa. Yang tidak biasa adalah kalau didalamnya ada perlakuan penghinaan yang menjurus ke abuse.

Kali ini saya ingin menulis topik yang agak serius.  Kekerasan pada perempuan. Weitss, jangan berpikir saya mendadak sudah jadi ahli gender atau malah feminis ya, ini jadi semacam bahan alert saja buat kita perempuan bahwa ada porsi-porsi hal-hal atau “perlakuan menyakitkan” yang biasa kita terima sebenernya sudah masuk kategori women abuse.  Bahwa pelecehan itu tidak hanya fisik, tetapi juga ada yang sifatnya verbal. Oke, chek this out, girl!

Dari hasil googling, saya mendapatkan beberapa terminologi tentang topik ini.  Deklarasi PBB tentang anti kekerasan terhadap perempuan pasal 1, 1983 menyebutkan women abuse adalah; Segala bentuk kekerasan berbasis jender yang berakibat atau mungkin berakibat, menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap perempuan ; termasuk ancaman dari tindakan tsb, pemaksaan atau perampasan semena-mena kebebasan, baik yang terjadi di lingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi. Literatur lain menyebutkan kekerasan pada perempuan sebenarnya terdiri dari beberapa bentuk yaitu; Physical abuse, emotional or psychological abuse, Sexual abuse, Economic or financial abuse dan Spiritual abuse.

Oke, karena ini bukan diktat kuliah, gw mau bicara yang kedua aja dari sekian kategori di atas, yaitu emotional or psychological abuse khusunya yang terkait dengan verbal abuse.

Siapa yang tidak pernah disakiti? Siapa yang tidak pernah kecewa dan dikecewakan? Apalagi soal cinta.. Hemm, nggak hidup namanya kalau gak pernah disakiti, entah itu oleh pasangan (suami atau pacar) atau bisa jadi adanya perlakukan tidak menyenangkan dari orang-orang lain di sekitar kita.

Khusus untuk orang yang kita sayangi tanpa sadar sebenarnya kita sering sekali mengalami yang namanya “abuse” dari level kecil hingga level tinggi. Sering sekali timbul kata-kata yang dasarnya menghina, merendahkan atau menyudutkan perempuan yang kemudian atas nama cinta semua itu kita tolerir dan dianggap biasa. Lebih buruknya lagi, hampir semua laki-laki yang melakukan itu, sering tidak menyadari kalau perlakukan mereka itu sebenernya sudah masuk kategori verbal abuse.  Akibatnya tindakan yang sama  terus saja berlangsung dan terus saja dimaklumi dan dimaafkan.

Contohnya gimana sih?

Gini, kalo ada laki-laki yang sudah menyinggung masalah fisik, usia, pengalaman masa lalu, derajat sosial, latar belakang keluarga dan sejenisnya untuk mengukuhkan eksitensi diri dia (lebih dari kita), pembenaran atas suatu kesalahan atau sebagai argumen dari sebuah peristiwa dan sejenisnya dengan kata-kata yang tidak sopan dan merendahkan, itu adalah abuse. Konkritnya seperti ada perkataan seolah-olah saya tidak pantas untuk sesuatu hal (baca: urusan percintaan) karena sesuatu hal menyangkut diri saya. Dan seterusnya, dan seterusnya…

Kata beberapa rujukan yang saya baca, reaksi yang emosional yang timbul biasanya: shock, rasa tidak percaya diri, marah, malu, menyalahkan diri sendiri, kacau, bingung bahkan sampai histeris. *hemmm,.. I think I’d been there :D* Ungkapan kata-kata lebih kejam dari pedang mungkin pantas buat topik ini. Tidak selalu kekerasan itu menyangkut fisik, mental yang dirusak itu lebih parah akibatnya dari sekedar luka fisik .

Namun dari sisi lain, perempuan juga harus bisa mengintrospeksi BISA jadi abuse itu asal muasalnya karena sikap kita sendiri. Namun apapun masalahnya,  laki-laki yang baik, dewasa dan bertanggung jawab juga seharusnya “ngomong pake mikir”, berpikir jauh dan ke depan, bukan hanya meluapkan emosi dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas.

Sayangnya, fakta menyebutkan pelaku abuse ini tidak memandang level pendidikan dan strata sosial, tindakan abuse sepertinya berakar dari karakter dan tingkat kedewasaan dan emosi psikologis pelaku.  Parahnya,  reaksi dan proses penyembuhan perempuan yang di-abuse pun bisa berbeda-beda tergantung bagaimana si perempuan menyikapi  dan berpikir akan hal tersebut. Tidak sedikit perempuan yang mengalami verbal abuse mengalami trauma berkepanjangan ibarat luka, sembuhnya sangat sulit.

Jika sudah ada di level yang membahayakan, sebaiknya perempuan juga tidak berdiam diri. Semua perempuan, terlahir cantik dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang berhak untuk menghakimi semua itu.

But dont forget, lets move on…hidup ini terlalu indah untuk mikirin orang yang sudah menyakiti bahkan yang sudah “abusing” sekalipun … (dont be blinded by love, my dear friend…)

Hits: 1144

Akhirnya memang ada yang harus ditinggalkan..

Ada sesuatu yang berubah, ada sesuatu yang berbeda

Gakpapa, ini pasti akan lebih baik..

Kenapa harus menahan sesuatu yang keliatannya indah dan baik baik saja,

Tapi di dalamnya penuh keganjilan dan kepura-puraan yang tidak sengaja terus dijalankan.

Semu..

Tidak mudah ketika, rasa lebih berperan dari logika.

Ketika usaha fisik tidak mampu mengalahkan psikis

Tapi, mau dibolak balik bagaimanapun, ternyata ada kuasa yang lebih berkuasa dari keinginan dan harapan dan cita-cita..

Kata Aa Gym: semuanya ada takdirnya, sesuatu ada waktunya, segala ada hikmahnya

God put people in your Life for a reason & removes them for a better reason..

*yang ga kelar-kelar juga*

Hits: 684

Semalam aku bermimpi

Kamu menjemputku di suatu tempat yang ramai

Kamu kelihatan segar sekali dengan kaus hitammu

Aku menyuguhkanmu secangkir kopi kesukaanku

Katamu:  “rasanya pahit… “

Kamu meminta aku menambahkan gula

..dan.. aku pun terbangun..

Is that true, when somebody appears in your dreams, its because that person misses you?

 

*dalam rasa yang sangat absurd* 

 

Hits: 1052

Jumat lalu,  bersama seorang teman, gw nongkrong di sebuah coffee shop di Plasa Senayan. Gak ada yang istimewa sih, acara seperti ini cukup rutin kami lakukan. Isinya apalagi kalau bukan curhat dan chit chat dari masalah penting sampai gak penting. Hitung-hitung untuk menghilangkan kepenatan kerja.

http://www.bazaardesigns.com

Sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu, sahabat saya ini  ini masih dalam status “patah hati berat”  Namun di pertemuan kemarin ternyata ia punya “kisah” baru yang mengingatkanku akan cerita cerita serupa dengan teman-teman lain.  Jadi, belum lama ini, Bunga (sebut saja namanya begitu), pergi melancong ke Malaysia setelah memenangkan sebuah tiket doorprize PP ke negeri Jiran itu. Ini pengalaman pertama Bunga pergi ke luar negeri.   Disana tanpa dinyana ia berkenalan dengan seorang cowok berkebangsaan Bangladesh dengan cerita pertemuan yang  nyaris seperti skenario sinetron.  Laki laki itu sebuah pemilik toko di daerah Bukit Bintang tempat Bunga bersama temannya menginap. *Wah, mirip mirip Film ngetop Notting Hill yaa.. *  Ia beberapa kali melewati toko lelaki itu, tapi sama sekali tidak tergerak untuk masuk. Sementara si cowok tampaknya memang sudah  mengamati sejak pertama si Bunga melintas di depan tokonya.

Tak disangka di malam terakhir disana, Bunga harus membeli sesuatu dan tersisa toko si cowok yang masih  buka.  Tampang si cowok sungguh sumringah, belakangan baru ketauan ia yakin sekali bahwa Bunga suatu saat akan kembali setelah beberapa kali hanya numpang lewat. Singkat cerita mereka pun berkenalan meski saat itu sudah pukul 11 malam.  Bunga begitu saja percaya pada cowok yang baru dikenalnya itu dan mau diajak ngobrol di tengah malam  di sebuah café.  Dalam waktu pertemuan singkat yang kurang dari dua jam tersebut, si cowok menyatakan tertarik dan berniat menikahi Bunga.  *Hemmm, buat gw ini asli agak masygul*  Kok bisa  bisa-nya begitu??  Beneran ya love at first sight itu ada?  Esoknya Bunga kembali ke Jakarta, si cowok pun turut mengantar. Namun kebodohan terjadi, mereka hanya sempat bertukar email dan ID Facebook tanpa sempat bertukar nomor telepon. Gubrak banget kan…  Parahnya lagi, setiba di Indonesia, baru ketauan kalau ada kesalahan “teknis” dengan ID dan email tersebut yang akhirnya membuat mereka tidak terhubung selama beberapa saat.

Read More

Hits: 6795