Gara-gara baca sebuah meme di sosial media, saya tetiba pengen nulis tentang topik ini. Saya sih tidak pernah mengakui diri saya sebagai traveler, kalau pun sering jalan-jalan mungkin itu rejeki saja. Merencanakan dan punya budget jalan-jalan secara khusus pun sebenarnya tidak pernah. Nah kalau dibilang jalan-jalan adalah obat galau, tentu itu bener banget. Saya juga awalnya begitu, jalan-jalan terutama yang bertema “back to nature”. Jika akhirnya jalan-jalan menjadi sebuah kebutuhan itu adalah hikmah yang membuat saya merasa lebih “kaya”.
Kenapa sih orang harus jalan-jalan? Ketika kita dalam keadaan galau, entah karena patah hati atau karena masalah lain, maunya selimutan terus di kamar. Males ketemu orang, males ngapa-ngapain dan selalu butuh banyak waktu buat sendiri. Sanggup berapa lama bertahan di kamar yang kian lama kian lembab?! Saya sih gak a
kan tahan lebih dari dua hari. Berlama-lama meratapi nasib, membuat hidup rasanya semakin terkukung, otak mampet dan pikiran makin pusing. Ada kalanya masa berkabung memang dibutuhkan, tapi berkabung terlalu lama juga tentu tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga pastinya.
Keluar rumah, menghirup udara baru bagi saya adalah sumber inspirasi. Kalau lagi bokek, jalan-jalan sendiri di kampung sebelah sudah membuat stok nyawa seperti bertambah satu. Kebetulan rumah saya di Bogor tidak jauh dari bendungan Katulampa, kalau lagi iseng dan mati gaya, saya sering main kesana. Melihat dan mendengar derasnya suara air rasanya sudah menentramkan jiwa. Menonton aktivitas berbagai manusia di sepanjang jalan membuat level bersyukur -yang tadinya sempat drop karena galau- naik lagi. Jalan-jalan juga tidak harus berdua, bagi yang galau akut saya malah menyarankan untuk jalan-jalan sendiri. Yah, gak usah jauh-jauh deh, kalau rumah kamu di Jakarta, boleh juga dicoba jalan sendiri ke Pelabuhan Ratu. Bukan cuma Me Time untuk merenungi nasib pasca ditinggal kekasih (ciyee…), memperhatikan aktivitas banyak orang selama di perjalanan pasti memberu warna tersendiri. Sukur-sukur kalau punya sahabat baik yang mau menemani selama perjalanan.
Ada yang bilang obat galau paling ampuh itu shopping. Itu juga bener, tapi kalau saya sih sekarang lebih memilih jalan-jalan. Kalau punya uang lebih sukur-sukur bisa melakukan perjalanan yang agak jauh. Saya paling suka ke pantai, memandang luasnya laut yang seakan tidak bertepi membuat semua perasaan campur aduk. Mengingat umur yang semakin lama semakin gak muda lagi (baca:tua), saat ini saya seakan dikejar target untuk menyambangi daerah-daerah cantik di Indonesia. Kalau dulu jalan-jalan jadi obat galau, sekarang terbalik; saya jadi galau kalau tidak jalan-jalan. Hehehe..




Cuaca pagi itu agak mendung, rasanya saya belum siap untuk mandi dan belum mood buat sarapan. Dengan si Jus Alpukat mobil kecil saya menuju Ciapus, sebuah desa terdekat sebagai meeting point kami. Berharap disana saya bisa menemukan makanan yang pas buat sarapan. Benar saja, baru memasuki pedesaan kami bertemu dengan pedagang tahu bulat keliling. Lucunya, jika yang lain menggunakan gerobak, pedagang yang satu ini cukup kreatif (dan bermodal cukup), dengan menggunakan mobil bak terbuka. Terang saja dia laris, karena cuma mobil jenis ini yang bisa naik sampai ke desa terujung yang jalannya menanjak dan berliku. Ah sayang, seharusnya tahu garing itu bisa dinikmati dengan secangkir kopi hitam dengan pemandangan alam pegunungan.


































