Sekitar dua minggu lalu ada satu kejadian yang mungkin bisa jadi salah satu kejadian paling buruk dalam hidup saya.  Baru kali itulah, saya bener-bener diintimidasi dengan perkataan yang sangat sangat merendahkan dan mungkin benar-benar menghina saya sampai titik terendah. Gak perlu  diceritain sebab musababnya, namun yang membuat saya bersyukur orang orang terdekat mendukung dan membesarkanku sepenuh hati dengan sangat obyektif memandang semua yang menjadi latar belakang terjadinya hal tersebut.  Meskipun kemarahan sudah di ubun atas semua asumsi yang melenceng ke saya, pengen rasanya labrak orangnya, pengen ngamuk, pengen bales ngata-ngatain dengan ucapan-ucapan yang sama sadisnya, pengen maen fisik dan semua-muanya.. Tapi Alhamdulillah, saya kuat untuk nyaris tidak bereaksi apa-apa. Buat apa juga ditanggapin dengan serius, perdebatan tidak akan menyelesaikan apa-apa. Berargumen pun rasanya tidak perlu. Energinya sudah habis, selama ini udah capek dengan semua yang terjadi.

Biarlah apa yang ada di pikirannya tentang aku, seperti apa yang dia pikirkan.

Bukan dia penentu benar salah satu masalah.  Meskipun sakit akibat perkataan itu berefek ke fisik saya yang nyaris drop selama tiga hari. Its really mentally abuse.  Sakitnya bukan karena “ditinggalin” tapi karena kata-kata yang ternyata memang lebih tajam dari belati.  Ah sudahlah, finally timbangan salah bener dan ganjaran yang pantas untuk kita (sebagai manusia) terima itu, udah ada yang ngatur.  Seorang sahabat hanya berpesan kecil tapi menohok; “jangan kotori tangan lu dengan balas dendam ya, vik.. “ .. dan saya pun menangis. 🙁

Ini cuma catatan kecil kehidupan. Apapun yang terjadi, baik buruk, up and down, semua ada hikmahnya. Minimal bisa jadi bahan perenungan dan introspeksi untuk menjadi orang yang lebih baik.. Amin..

 

Hits: 1048

Putus cinta itu biasa, sakit hati itu biasa, kecewa itu biasa. Yang tidak biasa adalah kalau didalamnya ada perlakuan penghinaan yang menjurus ke abuse.

Kali ini saya ingin menulis topik yang agak serius.  Kekerasan pada perempuan. Weitss, jangan berpikir saya mendadak sudah jadi ahli gender atau malah feminis ya, ini jadi semacam bahan alert saja buat kita perempuan bahwa ada porsi-porsi hal-hal atau “perlakuan menyakitkan” yang biasa kita terima sebenernya sudah masuk kategori women abuse.  Bahwa pelecehan itu tidak hanya fisik, tetapi juga ada yang sifatnya verbal. Oke, chek this out, girl!

Dari hasil googling, saya mendapatkan beberapa terminologi tentang topik ini.  Deklarasi PBB tentang anti kekerasan terhadap perempuan pasal 1, 1983 menyebutkan women abuse adalah; Segala bentuk kekerasan berbasis jender yang berakibat atau mungkin berakibat, menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap perempuan ; termasuk ancaman dari tindakan tsb, pemaksaan atau perampasan semena-mena kebebasan, baik yang terjadi di lingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi. Literatur lain menyebutkan kekerasan pada perempuan sebenarnya terdiri dari beberapa bentuk yaitu; Physical abuse, emotional or psychological abuse, Sexual abuse, Economic or financial abuse dan Spiritual abuse.

Oke, karena ini bukan diktat kuliah, gw mau bicara yang kedua aja dari sekian kategori di atas, yaitu emotional or psychological abuse khusunya yang terkait dengan verbal abuse.

Siapa yang tidak pernah disakiti? Siapa yang tidak pernah kecewa dan dikecewakan? Apalagi soal cinta.. Hemm, nggak hidup namanya kalau gak pernah disakiti, entah itu oleh pasangan (suami atau pacar) atau bisa jadi adanya perlakukan tidak menyenangkan dari orang-orang lain di sekitar kita.

Khusus untuk orang yang kita sayangi tanpa sadar sebenarnya kita sering sekali mengalami yang namanya “abuse” dari level kecil hingga level tinggi. Sering sekali timbul kata-kata yang dasarnya menghina, merendahkan atau menyudutkan perempuan yang kemudian atas nama cinta semua itu kita tolerir dan dianggap biasa. Lebih buruknya lagi, hampir semua laki-laki yang melakukan itu, sering tidak menyadari kalau perlakukan mereka itu sebenernya sudah masuk kategori verbal abuse.  Akibatnya tindakan yang sama  terus saja berlangsung dan terus saja dimaklumi dan dimaafkan.

Contohnya gimana sih?

Gini, kalo ada laki-laki yang sudah menyinggung masalah fisik, usia, pengalaman masa lalu, derajat sosial, latar belakang keluarga dan sejenisnya untuk mengukuhkan eksitensi diri dia (lebih dari kita), pembenaran atas suatu kesalahan atau sebagai argumen dari sebuah peristiwa dan sejenisnya dengan kata-kata yang tidak sopan dan merendahkan, itu adalah abuse. Konkritnya seperti ada perkataan seolah-olah saya tidak pantas untuk sesuatu hal (baca: urusan percintaan) karena sesuatu hal menyangkut diri saya. Dan seterusnya, dan seterusnya…

Kata beberapa rujukan yang saya baca, reaksi yang emosional yang timbul biasanya: shock, rasa tidak percaya diri, marah, malu, menyalahkan diri sendiri, kacau, bingung bahkan sampai histeris. *hemmm,.. I think I’d been there :D* Ungkapan kata-kata lebih kejam dari pedang mungkin pantas buat topik ini. Tidak selalu kekerasan itu menyangkut fisik, mental yang dirusak itu lebih parah akibatnya dari sekedar luka fisik .

Namun dari sisi lain, perempuan juga harus bisa mengintrospeksi BISA jadi abuse itu asal muasalnya karena sikap kita sendiri. Namun apapun masalahnya,  laki-laki yang baik, dewasa dan bertanggung jawab juga seharusnya “ngomong pake mikir”, berpikir jauh dan ke depan, bukan hanya meluapkan emosi dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas.

Sayangnya, fakta menyebutkan pelaku abuse ini tidak memandang level pendidikan dan strata sosial, tindakan abuse sepertinya berakar dari karakter dan tingkat kedewasaan dan emosi psikologis pelaku.  Parahnya,  reaksi dan proses penyembuhan perempuan yang di-abuse pun bisa berbeda-beda tergantung bagaimana si perempuan menyikapi  dan berpikir akan hal tersebut. Tidak sedikit perempuan yang mengalami verbal abuse mengalami trauma berkepanjangan ibarat luka, sembuhnya sangat sulit.

Jika sudah ada di level yang membahayakan, sebaiknya perempuan juga tidak berdiam diri. Semua perempuan, terlahir cantik dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang berhak untuk menghakimi semua itu.

But dont forget, lets move on…hidup ini terlalu indah untuk mikirin orang yang sudah menyakiti bahkan yang sudah “abusing” sekalipun … (dont be blinded by love, my dear friend…)

Hits: 1170

Dalam sebuah obrolan ringan, seorang sahabat saya (@oca_shinta) melontarkan sebuah anekdot; Tau gak, ternyata di dunia ini  yang dibuat Tuhan hanya mahluk hidup, sisanya buatan China. Upss, ini becandaan kok, jangan dianggap serius.  Sebenernya fenomena produk cina ini udah sekitar 10 tahun belakangan mewabah gak hanya di Indonesia tapi juga dunia. Bahkan Cina udah jadi salah satu “harimau” perekonomian baru di dunia. Coba deh, kamu cek semua hampir semua barang-barang yang kita pegang Made In China. Merek apapun dari mobil, gadget sampai pensil sekalipun sekarang lebih banyak dirakit di China.  Dari yang gak bermerek, merek abal-abal, merek terkenal sampe yang bisa dimerekin sendiri semua dibuat di Cina. Gak itu aja, beberapa kali saya dapat souvenir dari teman-teman yang baru datang dari luar negeri, mau dari Eropa, Amerika bahkan oleh-oleh jamaah haji pun, tulisannya : Made In China!! *tepok jidat

Ada lagi nih,  di dunia kedokteran; Cina (aka.Tiongkok) sekarang masuk dalam salah satu Negara yang paling maju dalam bidang transplantasi organ tubuh. Nah, apalagi tuh.. Jangankan benda mati, “barang hidup” pun sekarang diproduksi di Cina. Gilaa yaa Cina.  Bukan itu aja,  pernah suatu waktu bersama Lala (@J_La2) gw nonton satu acara TV tentang bagaimana “berlimpahnya” mahluk berjenis kelamin laki-laki di Cina. Ini karena budaya mereka yang cenderung “menolak” kehadiran bayi perempuan, karena lebih menganggungkan bayi laki-laki sebagai penerus keterunan. Jeleknya ya gitu, kini populasi perempuan sangat sedikit, sehingga banyak laki laki yang gak dapet pasangan disana. Eh, untuk ini gw belum meriset apakah poliandri diijinkan disana. Tapiiiii.. the good news adalah: ini merupakan satu lagi “produk Cina” terutama bagi yang jomblo (*ketawa miris, ngetawain diri sendiri*). Artinya buat yang lagi nyari pasangan, yuk kita ke Cina..Hihihihi.. Ternyata pepatah jaman dulu; Tuntutlah Ilmu ke negeri Cina, bisa dibuat versi terbarunya yaitu: Tuntutlah jodoh hingga ke negeri Cina. Wakakakaka..

Makanan pun demikian, kalo chinese food sih emang dari dulu sudah jadi bagian dari budaya makanan Asia termasuk Indonesia.  Tapi kini makanan dalam kemasan sekarang asal Cina juga mulai banjir ke Indonesia.  Thank God, yang tidak tergerus oleh produk Cina buat gw adalah tetap lalapan. Saya cinta lalapan, asli makanan Indonesia karena di Cina sepertinya mutlak hanya kambing yang makan lalapan. 🙂

 

Hits: 826

Tulisan ini bukan dalam rangka membuat kesombongan atau pamer atau sejenisnya.  Gw juga gak terlalu menganggap ini sebagai sebuah kelebihan lebih tepatnya mungkin sebuah kebetulan. Eh, tapi apapun itu kan harus disyukuri ya. Alhamdulillah

Sebenernya awalnya iseng,  gw dari dulu sering banget menebak “kelangsungan hubungan asrama” teman-temanku.  Misal kalau ada temen yang memperkenalkan  pacar atau pasangannya ke gw, sering sekali gw bisa “melihat” kira-kira mereka berjodoh atau tidak tanpa harus berpikir panjang, hanya dengan melihat orangnya atau minimal fotonya. Lucunya “ramalan” itu nyaris gak pernah salah.  Bisa bisa ditebak, gw sering banget nerima kiriman foto gebetan, kecengan atau pacar teman-teman.  Tapi ini bukan contoh yang baik ya, secara percaya sama yang beginian kan bisa menjurus jadi dosa. So, kalo ada “pasien” , hal pertama yang gw sampaikan adalah: “jangan percaya sama gw”. Meski pun biasanya mereka akan datang kedua kali, entah karena ramalan pertama sukses ato mungkin niat iseng iseng doang. Atooo karena ngefans sama gw? Hemmm, yang terakhir sih wallahualam deh..  Aku sempat beberapa kali “meramal”  beberapa teman dan temannya lagi yang sudah hampir menikah, sudah siap semua tapi karena  terawang gw bilang “kayaknya gak deh… “ , kok jadi kejadian beneran. Heemm, okelah..itu semua cuma kebetulan (anggap saja begitu).

Read More

Hits: 879

Kata orang kerjaan itu seperti halnya jodoh, kadang meski kita yakin banget cocok sama satu kerjaan bisa jadi belum tentu bertahan lama. Atau ada kerjaan lain yang sebenernya di awal “ogah-ogahan” dijalani, ternyata itu yang terbaik.   Begitu juga yang terjadi dengan gw. Ini adalah pekerjaan kedua (eh, atau ketiga yaaa) yag berhubungan dengan pemerintahan.  Setelah dari Aceh lalu sempet menclok setaun di Kementrian Keuangan sebagai lanjutan dari Aceh dan akhirnya disini.  Setelah “kemana-mana”, finally tanpa proses yang panjang dan berbelit-belit setidaknya sampai pertengahan tahun ini gw akan stay disini.

Gak ada yang baru, pekerjaan yang nyaris sama dengan yang sudah-sudah; ngutak ngatik data, nulis, meeting dan meeting. Tapi sepertinya makin kesini, gw makin merasa kuat di bidang ini. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, memberi rekomendasi berdasarkan data dan menulis dengan gaya bahasa sederhana agar orang awam pun mengerti. Its my passion already!! Love it!!

Orang-orangnya pun begitu, sebagian besar malah rekan-rekan kerja lama dengan di Aceh dulu. Menyenangkan. Bedanya adalah tentu saja tantangannya lebih baru, tugasnya juga membutuhkan standar hasil yang lebih tinggi. Oya, yang baru lagi banyak barang “aneh” di kantor ini. Karena sayah ini orang kampung banget,  pas masuk sini gak tau gimana cara make coffee maker. Hahahahha..

Tapi, anyway..  bismillah..harus yakin kalau bisa. Beda yang lain apa yaah? Hmm.. keknya banyak perubahan di gw, udah agak berkurang hobi “hore-hore”, pecicilan dan petakilan kayak dulu.  Pengaruh makin “tua” kali ya, boo. Yah, meskipun makin lama hidup gw udah makin mengarah ke “autis” semoga tetap bisa “care” sama lingkungan sekitar dan yang paling penting bisa menghasilkan hasil kerja yang membanggakan.. 🙂

Keep up the good work, everyone!!

Hits: 595

Akhirnya memang ada yang harus ditinggalkan..

Ada sesuatu yang berubah, ada sesuatu yang berbeda

Gakpapa, ini pasti akan lebih baik..

Kenapa harus menahan sesuatu yang keliatannya indah dan baik baik saja,

Tapi di dalamnya penuh keganjilan dan kepura-puraan yang tidak sengaja terus dijalankan.

Semu..

Tidak mudah ketika, rasa lebih berperan dari logika.

Ketika usaha fisik tidak mampu mengalahkan psikis

Tapi, mau dibolak balik bagaimanapun, ternyata ada kuasa yang lebih berkuasa dari keinginan dan harapan dan cita-cita..

Kata Aa Gym: semuanya ada takdirnya, sesuatu ada waktunya, segala ada hikmahnya

God put people in your Life for a reason & removes them for a better reason..

*yang ga kelar-kelar juga*

Hits: 704

Minggu lalu seorang teman bilang: tau gak penyakit generasi muda yang paling parah sekarang ini? Gw pikir awalnya apa, eh.. ternyata jawabannya: penyakit takut kehilangan sinyal ponsel!  Wkakakak.. Bener banget!!

 

Baru-baru ini gw  memenuhi panggilan interview untuk sebuah pekerjaan di pedesaan di Pulau Kalimantan. Ketika pewawancara menjelaskan deskripsi pekerjaannya, ia juga memaparkan kondisi lokasi pekerjaan tersebut dengan sebuah peta. Tidak ada yang terpikirkan pertama di otak gw, kecuali spontan bertanya: “Sinyal handphone disana, bagus gak, pak?” Beliau pun menjawab: ya, dari tujuh desa lokasi proyek sebagian besarnya memang tidak mendapat sinyal yang bagus”. Wekss,..tiba-tiba aku menjadi ilfil dengan pekerjaan tersebut meskipun benefit yang ditawarkan keliatannya lumayan.  Bayangin aja, kalo GSM pun susah gimana dengan GPRS? Apakabar twitter dan BBM? Hahahah.. Ke laut aja deh.. *penting yah?*

Dua tahun lalu, gw juga pernah ditugaskan di kementrian yang (katanya) paling keren di negeri ini. Kami menempati lantai 20 gedung terbaru lembaga itu di bilangan Lapangan Banteng, Jakarta.  Karena gedungnya sangat baru, katanya penguat sinyal selular memang belum dipasang. So, hampir setahun hidup di lantai 20, rasanya benar-benar seperti fakir sinyal. Kalau perlu sinyal harus turun dulu minimal ke lantai 15. Mau ngobrol lebih panjang yaa, silakan turun lagi ke lantai lobi. Saat itu gw merasa gak hidup di Jakarta. Lebay, yah?

Cerita temanku lain lagi. Dia pernah bekerja di remote area perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan sana. Lebih sinting lagi untuk ketemu sinyal harus mendayung sampan dilanjutkan dengan mendaki sebuah bukit. Kemudian berteriak : Eurekaa!! , saat bar penunjuk sinyal di handphone  menunjukkan pergerakan. Sedih banget gak sih, boo ??

Setelah banci kabel, sekarang banci sinyal. Yah, kalo buat yang tinggal di kota besar sih mungkin nyaris gak ada masalah.  Biar begitu masih  ada aja keluhan pelanggan selular saat ada gangguan jaringan yang bikin blankspot atau  gak dapet akses data minimal GPRS . Kalo udah begini, siap-siap deh semua operator dicaci-maki. Lucunya kalo diperhatikan iklan-iklan selular saat ini yang disorot justru VAS (Value Added Service)-nya seperti layanan data sosmed, internet dan beberapa konten lain.  Hmmm, mungkin emang udah masanya kesana kali yee..karena dianggap ketersediaan jaringan sudah memenuhi  dan tuntutan pasarnya emang kesana. Gitu ya?!  Kali…… Padahal ada segmen pasar lain yaitu mereka yang sering kerja maupun pelesiran ke pedalaman  dimana kadang-kadang sinyal masih jadi masalah. Apalagi yang pake nomor dari operator-operator baru yang belum tentu sudah membangun BTS hingga ke pelosok.

Btw, sekali-kali sebenernya gak ada salahnya loh, hidup tanpa handphone, tanpa sinyal.  Rejeki gak bakal kemana deh, gak usah takut ketinggalan berita dan banyak hal manakala gak pegang handphone. Sekarang gw lagi mencoba untuk itu, meskipun hanya pada saat-saat tertentu. Asal jangan balik ke masa telpon umum koin ajah.. 😀

Hits: 790

Minggu lalu, saya bersama seorang teman menghabiskan  akhir pekan di Bandung. Sekedar refreshing.  Kebiasaan ini seperti sudah umum bagi sebagian orang Jakarta. Bandung memang  tujuan wisata yang murah, meriah dan tidak begitu jauh dari Ibukota. Lebih lebih sejak Tol Cipularang dibuka sekitar tiga tahun lalu. Bandung pun semakin dekat.

 

Lucunya, untuk rute kembali ke Jakarta, kami memilih menggunakan kereta. Yes!! Saya sendiri emang rada norak, karena belum pernah seumur-umur naik kereta jarak jauh yang punya embel-embel kereta eksekutif. Hihihi…. Kereta Bandung-Jakarta yang kami pilih adalah Argo Parahyangan yang berangkat pukul 12.00 siang dari Stasiun Bandung.  Bayangan kereta yang sumpek dan tidak nyaman (seperti KRL yang sering saya tumpangi), sama sekali hilang. Argo Parahyangan  kelas eksekutif sangat nyaman. Dari kursinya, kebersihannya, pelayanannya dan ketepatan waktu berangkatnya. Namun bukan itu, yang mau saya ceritakan. Bonus lain yang kita dapatkan dengan membayar Rp 80 ribu saat akhir pekan atau Rp 60 ribu saat hari biasa, adalah pemandangan alam yang sangat indah, terutama sepanjang jalan Bandung-Purwakarta. Komplit-lah, dari sungai, gunung, sawah, rumah rumah penduduk desa yang eksotis ditambah lagi jembatan jembatan dan rel tua peninggalan belanda membawa nuansa baru dalam perjalanan itu.

Saya pikir, memang sebagian nyawa kereta ini didesain dengan konsep kereta wisata, karena di beberapa spot unik, kru kereta akan menjelaskan deskripsi daerah tersebut. Belum lagi, jalannya memang terhitung pelan untuk kereta eksekutif (hingga 3 jam perjalanan).  Sayangnya, sejak Cipularang dibuka, peminat kereta ke Bandung memang berkurang karena munculnya berbagai travel dan bis yang lebih terjangkau. Mungkin PT KAI bener-bener harus lebih serius merombak positioning kereta ini menjadi kereta wisata.

So, buat yang lagi cari alternatif perjalanan yang unik.. Ini bisa dicoba loo!

Hits: 1900

Kalau yang keseringan ganti-ganti status di bbm itu, ABG alias anak umur belasan hingga awal 20an, gw maklum. Nah ini, emak emak beranak tiga yang dikit-dikit ganti status untuk menunjukkan keeksisan dirinya.

http://images.kontan.co.id/v2/detail_kartun_benny/72

Rasanya kok ajaib banget.  Gini nih, contoh status yang biar dibilang eksis: “Vonny, Santi begitu yee kalian ninggalin gw ngumpul2”.  Tidak berapa lama berubah lagi: “Duh, gak usah gitu deh von,..biasa aja, kan ntar ada gw.. hahaha* Selang kurang dari sepuluh menit : “Bye, girls.. Ntar kapan2 ngegosip lagi yee”.   Kalo satu dua-kali sih gakpapa. Nah ini… mampus lo…kurang dari 30 menit bisa ganti berkali-kali.  Bikin tulisan yang bernada ngobrol kok di status? Gak langsung aja di grupnya (kalo ada) atau di orang yang dituju? Maksudnya apa ya? Buat seseruan gitu? Biar keliatan eksis dan banyak temen? Trus apa bener kalo niatnya begitu, maksud dan tujuannya tercapai? Gak ngerti saiah.. *tepok jidat*

Duh, ini belum mereka dengan status selalu galau. Saya coba berpikir positif mungkin emang bbm adalah wilayah untuk menggalau. Oke oke aja. Cuman ya mbok, yaa.. Gak usah sering-sering atuh galaunya, ya kan? Ada juga yang demen banget mencurahkan isi hati cinta-cintaannya kepada seseorang. Kalo isinya itu-itu aja, jangan heran lo akan dicap manusia alay bin lebay.

Itu baru penyakit ganti status. Salah satu temen bbm saya paling doyan ganti foto. Herannya fotonya jarang stok baru. Itu itu saja yang diputer-puter gantian dipasang.  Dengan intensitas penggantian bisa 2-3 kali dalam 30 menit, tentu saja aktivitas ini juga patut dipertanyakan. Maksudnya apa yah? Sumpah seperti yang banci status, logika saya juga belom masuk. Misal stok foto yang diganti-ganti adalah foto dengan pasangan, tujuannya biar dikomenin sama orang gitu? Emang ada yg komen? Gw yakin kalo keseringan akan lebih sering dapet cibiran daripada komen. Masih urusan di urusan percintaan, gak sedikit orang yang demen meng-capture pembicaraannya dengan pasangannya yang menurut gw pribadi, menjadi display picture mereka. Seperti gini : Sayang hujan nih, aku rindu kamu| Iya, sayang.. aku juga makin hujan makin rindu| Met bobo ya, sayang…sleep well nice dream| *emoticon lope lope*. Again, maksudnya apa?  Biar orang tau gitu kalian pasangan romantis? Hadeuh.. ntar kalo berantem atau putus, bikin status galau lebih rempong lo, boo..

Meski BBM  notabene ranah pribadi,  menjaga “kenyamanan” mereka yang ada di contact list kita adalah hal yang wajib dilakukan. Kalau mau sering-sering ngasih kata2 indah dan motivasi lebih baik gunakan twitter, semakin bagus kata-kata Anda, semakin banyak follower yang merasakan manfaatnya.   Meskipun di twitter juga tetap ada etika yang wajib dijaga seperti halnya bbm.  Kalo mau nulis status bernada ngobrol, sungguh gak ada gunanya di forum umum yang gak semua kenal dengan elo. Mending langsung aja dong ke orangnya, kan? Again..sekali dua kali gakpapa, namanya juga manusia kan kadang-kadang pengen tampil, tapi kalo keseringan? *Siap siap aja gw delete*

Etapi.. ngomong-ngomong ya.. sebenernya kalo sering-sering ganti status, foto dan sejenisnya itu bisa jadi indikator kalau kita agak kurang kerjaan. Iya gak sih? Wah..kalo gitu gw sama dong,-meski gw juga demen ganti foto dan status (gak sampe alay.. boleh dicek)- gw juga sebenernya kurang kerjaan..karena sempet-sempetnya mengamati bahkan memonitor aktivitas update orang di bbm. Pisss!! Hahahahaha..

Hits: 2116

RIP- our mouse, Mr. Luke Skywalker 2009 – 2011. He was a good mouse and a great friend to Natalya

 

Itulah sepenggal status Facebook  Lisa,  adikku yang bermukim di Amerika Serikat pagi ini.  Tertawa geli rasanya, karena Luke yang “meninggal” hanyalah seekor tikus putih peliharaam putrinya. Tadi pagi saya sempat menelpon Lisa dan berbicara dengan Natalya, putri kecilnya yang berumur tujuh tahun. Dengan suara yang lemah dan sedikit isak tangis, bule kecil itu mengatakan : Ibuk. My mouse was passed away yesterday.  Agak absurd dan terdengar lucu, Saya pun bingung mau merespon bagaimana,  dia juga hanya menjawab “yes.. ketika saya bertanya: are you sad?  Saya sendiri sebenernya kurang paham apa padanan kata “passed away” alias wafat cocok digunakan untuk seekor tikus? Entahlah…

Lain di Amerika, lain di Indonesia.. Musim hujan dengan kondisi cuaca yang sangat tidak  menentu membuat lingkungan rumah rawan akan penyakit. Minggu lalu saya melakukan pembasmian tikus besar-besaran di rumah saya di Bogor.  Meski saya senang bebersih rumah dan benci dengan kejorokan, pengerat yang satu ini masih saja sering eksis tanpa dosa dan menggerogoti apapun yang ada di dapur.  Bukan hanya makanan tetapi juga beberapa jenis wadah wadah plastik.  *Hmmm, gak tau rasa plastik gimana, belom nyoba.. Enak kalii yee.. * Kerugian material itu kadang tidak sebanding dengan kotorannnya yang sering juga sering nangkring di bagian belakang rumah.  Duh, rasanya benciiiiiiiii banget sama hewan yang satu ini.

Berbekal racun tikus berwarna hijau metalik yang saya beli di pasar Bogor, “perang” ini pun dimulai.  Sengaja saya pilih racun dibanding jebakan tikus yang bisa membuat kita dengan mata kepala sendiri melihat si tikus menjadi pesakitan.  Saya meletakkan “barang berbahaya” tersebut di beberapa tempat strategis yang diyakini sering dilalui tikus-tikus. Racun menyerupai makanan itu, rupanya menarik perhatian para tikus, terbukti dalam beberapa hari tanda-tanda “kedatangan” mereka tidak saya temui lagi. Namun jeleknya, ada “korban” yang terkapar alias tewas dengan sukses di  tempat tempat tertutup yang akhirnya menimbulkan aroma yang sangat luar biasa. Haduuh, binatang ini memang keparat.. Hidup ngerepotin, mati lebih ngerepotin. Saya  yang dasarnya sangat takut dan jijik sama hewan ini (jangankan yg sudah jadi bangkai, yang masih bernyawa aja sangat menyeramkan buat saya), sempet bingung bagaimana membuang jenazah tikus itu.  Untunglah di komplek saya ada seorang bapak tua yang sangat multitasking alias bisa dimintain tolong untuk mengerjakan apapun, termasuk membersihkan bangkai tikus ini.  Thank God.

Nun jauh di Amerika sana, keponakan saya menangis sesegukan melepas kepergian tikusnya. Walau jenis tikusnya berbeda, disini saya tertawa bahagia karena berhasil membuat tikus-tikus saya pergi. Anomali sekali. Mungkin juga yang di Amerika itu tikus bule, jadi wajar kalau disayang-sayang. Sementara yang disini tikus kampung, jelek, item dan bau, jadi wajar kalau dimusnahkan. Hihihi.. Apapun itu, yang jelas rumah saya untuk sementara bebas tikus. Gak tau juga, kalau di habitat aslinya mereka sedang melakukan regenerasi dan berniat melakukan penyerangan kembali.  Let See… 😀

 

Hits: 1785

Tempat merenung bagi setiap orang, bisa jadi berbeda. Di kamar tidur, di taman, di tempat-tempat sepi bahkan di kloset.  Tapi akhir-akhir ini saya punya kebiasaan beda, merenung di bis. Yah, perjalanan Jakarta-Bogor atau sebaliknya menjadi waktu yang sangat leluasa buat melamun (baca: merenung). Untungnya bis bis ke Bogor sangat cozy dan nyaman buat aktivitas ini. Kadang disambi dengan ber-bbm ria dengan teman-teman  ditemani earphone yang setia menancap di kuping.

Dalam perjalanan antara 1-2 jam tersebut, banyak sekali yang saya dapat. Memandangi jagorawi yang lurus seolah tak berbatas kadang menimbulkan keyakinan dan kepercayaan bahwa apapun  masalah yang terjadi pasti  ada akhirnya meskipun Nampak seolah tak berujung.   Di sini juga, sering lahir ide-ide kreatif yang kemudian menjadi rencana kegiatan besok hari.  Bahkan beberapa tulisan di blog ini, juga lahir dalam perjalanan yang  awalnya ditulis pada ponsel, atau terkadang  ngetik di iPad kalo lagi gak pegel . Terus terang , di bis saya juga suka melamun.  Kata beberapa temenku,  persis kayak syuting video klip karena di kuping backsound-nya pasti lagu-lagu mellow dan kadang-kadang secara gak sadar aku juga sering lypsinc sendiri (hihihi). Kalo diliat penumpang lain, pasti mereka pikir saya sedang desperado 😀  Walau begitu, saya juga sering mendengarkan musik terapi Quantum Ikhlas yang benar benar menenangkan dan selalu bikin tertidur.

Ada lagi, bergabung dengan sekian banyak orang yang tidak kita kenal di bis menumbuhkan rasa bersyukur yang dalam. Penumpang dengan beraneka ragam model dan datang dari berbagai lapisan ekonomi membuat kita melek kalau kita “lebih” dari mereka.  Misal ada ibu-ibu dengan tiga anak balita plus barang bawaan yang penuh, keliatan repot sekali tanpa ditemani suaminya.  Yang kepikir di saya: “duh.. kalo ntar gw punya anak segitu banyak, gak bakal deh mau naik kendaraan umum sendirian plus bawa anak-anak”.  Rempong.  Selain orang-orang kantoran yang berbaju rapih dan bergadget canggih, di bis juga akan sering kita temui para seniman alias pengamen. Di bis Bogor biasanya pengamennya keren-keren, gak modal kantong bekas aja buat nampung duit, tapi punya dasar nyanyi dan musik yang lumayanlah.  Terhibur.  Lebih dari itu banyak pelajaran tentang perjuangan hidup yang saya peroleh dari mereka. Saat kita sedang capek sepulang kantor, menghadapi macet dan kondisi-kondisi lain yang tidak bersahabat, ternyata perjuangan  “mencari nafkah” itu, belum seberapa dibanding mereka-mereka itu.  Itulah hidup, terkadang pilihannya memang tidak pisah dipilih, tetapi dijalani.

Dimana pun, termasuk dalam perjalanan,  makna senang, sedih, susah bisa kita hayati karena pada dasarnya setiap hari kita butuh waktu untuk bermeditasi. Secara teori mungkin meditasi dilakukan di tempat yang sunyi dan tenang. Namun buat saya, di bis pun bisa. Tinggal bagaimana kita menciptakan suasana itu. 🙂

Hits: 1855

Sejujurnya saya suka sirik kalo jalan jalan ke blog orang yang foto-fotonya banyak dan keren. Pengen rasa seperti mereka, tapi sayang ternyata itu bukan “takdir” saya. Pernah beberapa kali saya coba bikin postingan dengan heboh krasak krusuk cari foto yang bagus dan saya anggap bisa mewakili apa yang saya rasakan. Agaiiin…, sayangnya fotonya tetep aja gak keren, meski udah sekian banyak aplikasi iPad dari yang free sampai yang bayar saya gunakan.

Hiks..

Tapi sudahlah, memang spek orang beda-beda. Finally saya tau, kekuatan blog saya bukan di foto-foto yang terkadang malah memperlama proses loading situs kita, tapi justru di tulisan dan artikel yang saya  tulis dengan pikiran dan perasaan sendiri. Loh, nulis pake perasaan toh? Yess!! Absolutely yess!! Menurut saya menulis itu pekerjaan hati. Mungkin blogger lain menyampaikan itu dengan bahasa gambar, tapi saya mencoba menyampaikan itu dengan bahasa tulisan.  Saya percaya,  kenapa penulis penulis kaliber tulisannya enak dibaca, karena mereka menulis dengan hati.  Hati manusia kan bahannya sama, jadi stimulus apapun yang diberikan (termasuk bahasa tulisan) akan pula berdampak sama.

Saya pun percaya, apapun yang dibuat dengan hati, maka tersampaikannya juga melalui hati.

Menulis pada dasarnya bukan pekerjaan teknikal yang bisa didesak desak oleh deadline. Hmm..susah-susah gampang sih, ya… Kalau penulis profesional pasti sudah sangat tahu bagaimana caranya memunculkan mood dan menghilangkan rintangan agar ketika mereka bekerja  hati dan perasaan juga terbawa dalam tulisan.

Bagaimana dengan tulisan ilmiah? Hemm.. sama aja sih, sama-sama memerlukan hati untuk menyelesaikannya, tapi kalo yang ini lebih capek lagi.. tambahin hati dan niat untuk baca jurnal dan referensi. Hahahahah..

*senin sore tanpa makna*

Hits: 1347

Masih oleh oleh dari liburan panjang tiga hari karena Natal, saya mencoba kembali rajin berolahraga dengan judul “jalan pagi”. Seperti biasanya, di seputaran Sempur dan Kebun Raya Bogor setiap hari minggu dari pukul 6 hingga 10 pagi ditutup bagi. kendaraan bermotor. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberi ruang berolahraga dan menikmati sejuknya pagi bagi masyarakat Bogor.

 

Namun, bukan orang Indonesia namanya,  kalo ada keramaian tanpa ada lapak jualan. Begitu juga di Bogor Car Free Day ini. Lapangan Sempur yang harusnya dipenuhi orang-orang yang yang melakukan senam massal justru padat dengan segala macam barang dagangan. Tidak hanya makanan untuk sarapan namun pakaian, sepatu, mainan anak, stand cicilan motor bahkan hewan piaraan pun dijual disini.Harganya pun murah-murah. Walau sedikit “melenceng” dari niat awal berolahraga, acara ini bisa jadi alternatif  mengisi akhir pekan yang unik.  Badan sehat, barang-barang lucu nan murah pun didapat.

Mau ikutan? Yukk ditunggu di Bogor..

 

 

 

Hits: 773

Saya memang sangat jarang menulis ulasan tentang film. Selain karena saya bukan seorang movie freak, terkadang muncul perasaan gak pede kalo baca resensi-resensi orang yang (katanya) profesional dan ahli di urusan ini. Di blog ini, saya hanya pernah menulis beberapa hal soal film yaitu;  nonton India, laskar pelangi dan kite runner

Namun karena momennya istimewa yaitu bertepatan pada peringatan tujuh tahun tsunami saya ingin membagi pengalaman dan perasaan saya akan film berjudul Hafalan Shalat Delisa yang baru saja saya tonton tadi sore. Film ini diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Tere Liye. Terus terang, saya sendiri belum pernah membaca novelnya. Niat utama menonton film ini karena saya masih merasa punya keterikatan batin yang cukup dalam dengan Aceh sejak sempat bekerja disana.

Saya sempat membaca resensi film ini di beberapa situs hasil googling, seperti yang berikut ini. Yah, mungkin secara sinematografi film ini kurang terasa gregetnya, keliatan masih kurang disana-sini. Bukan bagian saya deh, untuk mengomentari hal berbau “teknikal” begitu. Namun, di beberapa sisi yang bisa ditangkap oleh penonton awam seperti saya, saya pun merasa ada hal yang kurang pas seperti dialek Aceh yang sangat kurang dalam hampir semua dialog. Gambaran tentang bencananya pun kurang banyak terwakili dan terkesan dibuat seadanya. Barak pengungsian, tentara-tentara asing, pekerja kemanusiaan nampaknya memerlukan riset yang mendalam untuk menggambarkan bagaimana bencana besar dunia 2004 lalu meluluhlantakkan Aceh. Setting-nya pun “sangat kurang Aceh” , buat para penonton yang tinggal atau pernah ke Aceh pasti merasakan perbedaan ini. Baik dari sisi lokasinya, gambaran masyarakatnya dan kultur daerahnya. Setting ini sangat saya sayangkan, karena alam Aceh sangat indah, idealnya film ini dapat menggambarkan hal itu dan bisa menjadi media bagi promosi the New Aceh.

Upss.. tapi tunggu dulu, terlepas dari beberapa kekurangan diatas, saya pribadi merekomendasikan film ini dengan sangat. Tema keikhlasan yang diangkat mampu memancing emosi penonton apalagi kalau yang menonton masyarakat Aceh sendiri. Saya menghargai upaya keras pembuat film ini untuk melahirkan sesuatu yang beda yang menggiring kita untuk bersyukur, tidak putus asa dan mengambil hikmah dari sebesar apapun peristiwa yang terjadi pada kita. Oke, apapun itu.. film ini ditayangkan pada saat yang tepat yaitu di masa liburan anak sekolah dan menjelang peringatan tujuh tahun tsunami. Terbukti di Botani 21, Bogor seluruh kursi hampir terisi penuh di setiap show.

Satu lagi yang pasti saya sangat menikmati film ini, karena saya merasa pernah menjadi bagian daerah Aceh dan tsunami-nya dan tentu saja karena saya yakin masih menyisakan satu bagian dari hati dan perasaan saya untuk Aceh karena bangga dan bersyukur pernah menjadi bagian dari perubahan Aceh yang lebih baik.

Hits: 832