Wah, kalian yang sering baca blog saya ini pasti bosen kalau saya cerita soal Aceh lagi… Aceh lagi.. Tapi begitulah kenyataannya, saya selalu punya stok cerita lama dan cerita-cerita baru tambahan dari wilayah terbarat Indonesia ini.   Minggu ini (lagi dan lagi) saya berkesempatan menyambangi Aceh. Asal tau aja, di kunjungan sebelumnya, saya yakin banget kalau gak bakalan kesana lagi. Tapi ternyata salah tuh… (hehehe..) Karena pernah punya “kisah sinetron disini”, saya ingin menghindari banyak hal yang berbau Aceh. Tetapi kemanapun pergi, selalu ada ujung yang akhirnya mendamparkan saya kembali kesana. Intinya udah muter-muter kemanapun baliknya kesana lagi.  Akhirnya saya berkesimpulan, Tuhan memang mendukung saya “move on” dengan caraNya; yaitu mendekatkan saya kepada hal yang saya hindari. Bukan untuk membuat galau, tapi untuk membuat saya lebih kuat menghadapi semua yang akan terjadi. 🙂

Kepergian terakhir, judulnya tetep; Kerja. Kali ini partner in crime saya adalah Aichiro Suryo, rekan sekantor saya. Alhamdullillah urusan pekerjaan hampir tidak menemui kendala apa-apa. Ekstra bonusnya apalagi kalau bukan jalan-jalan. Saya, Aichiro ditemani beberapa teman lokal menyusuri pantai-pantai Aceh yang indah, napak tilas berbagai monumen tsunami dan tentu saja yang wajib nomer satu: Ngopi. Alhamdulillah saya masih punya banyak teman yang sudah seperti keluarga disana.

 

Aceh masih seperti dulu menawarkan keindahan alam, keramahan masyarakat, keunikan budaya dan prasasti tsunami 2004 yang monumental terpatri  di hampir setiap sudut kota.  Meskipun semua belum berjalan sempurna, saya mencintai Aceh, saya ingin Aceh lebih baik dari masa ke masa. Semoga.

Hits: 922

Di pertengahan tahun ini, saya dikontak oleh seorang teman yang menawarkan sebuah pekerjaan menulis buku.  Mulanya saya pikir, ini pekerjaan sambilan biasa, karena saya –yang suka gak pede ini– yakin kalau fungsi saya di pekerjaan itu hanya supporting.  Sampai akhirnya saya bertemu dengan Devi, National Project Manager R2C3, Bappenas UNDP yang menyatakan “serius” ingin meminang saya untuk pekerjaan ini sebagai penulis inti. Tidak ada seleksi, tidak ada tes ini itu.  Devi dan timnya hanya mendengar nama saya dari rekomendasi beberapa teman BRR bahwa saya mampu untuk pekerjaan ini. Agak kaget setelah mendengar penjelasannya. Ternyata ini adalah pekerjaan cukup besar. Kok mereka percaya-percaya aja gitu sama gw, yah? Padahal belum kenal secara pribadi, tidak pernah liat CV saya. Hanya dari obrolan “head hunter”  dadakan teman-teman saya. Akhirnya saya mem-pede-kan diri untuk menerima pekerjaan ini. Karena materinya tentang pekerjaan saya di Aceh dulu, karena saya mencintai Aceh dan saya percaya cinta selalu membuat yang tidak bisa menjadi bisa, yang tak kuasa menjadi kuasa. 🙂

UNDP juga menginginkan muatan buku ini lebih dalam dan sedikit berbau “scientist”. UNDP kemudian berinisiatif; saya dengan pengetahuan materi tulisan “dikolaborasikan” dengan Dr Yanuar Nugroho. Seorang akademi “lokal” yang mengajar di Universitas Manchester, UK dan banyak berkiprah di bidang teknologi dan sosial di Eropa. Ini satu lagi blessing in disquise buat saya. Sedikit berkilas balik, awal 2012 saya bertemu Mas Yan, demikin beliau biasa akrab dipanggil di UKP4, kantor saya. Beliau memberi pencerahan dan masukan untuk pekerjaan kami kala itu.  Waktu yang singkat itu (satu hari) membuat saya begitu “terpesona” akan kedalaman pengetahuan dan cara beliau membaginya. Terbersit sedikit pikiran, andai suatu saat bisa bekerja sama dengan beliau.  Ternyata pikiran itu doa yang beberapa bulan setelahnya benar-benar menjadi kenyataan. Lebih nyata lagi, karena  akhirnya beliau pindah ke Indonesia dan bekerja di kantor yang sama dengan saya. Woott!!

Buku ini bercerita tentang bagaimana sebuah aplikasi berbasis internet bernama RANDatabase mampu menjadi jembatan penghubung antara pemerintah dengan ratusan organisasi lokal dan dunia yang bekerja di Aceh pasca tsunami. Saya bersama Mas Yan mencoba menyajikan sebuah pembelajaran bahwa sebuah aplikasi tidak hanya sebuah “mesin” kaku yang berpendar di layar computer. Tetapi juga memainkan peranan fungsi sosial yang menyatukan banyak pihak.  Banyak hikmah yang dipetik, yang bisa digunakan untuk penerapan aplikasi serupa tidak saja pada kondisi bencana tetapi juga kondisi normal.

 

Buku ini memang secara “harfiah” bukan buku saya, kepemilikannya ada di Bappenas. Tetapi bagi saya ini satu portofolio baru dan pembuktian kalau saya bisa selangkah lebih maju tidak cuma menulis blog curhatan *gak penting.  Sekali lagi, bertepatan dengan momentum 8 tahun tsunami (26 Desember 2012); saya bangga pernah menjadi bagian dari perubahan Aceh, perubahan menjadi lebih baik.

 

Hits: 1099

Seringkali saya membaca berita tentang kekerasan suami kepada istri, bahkan pacar kepada pacarnya.  Dari yang “cuma”luka-luka sampai yang berakibat kematian. Sadis. Sebagian pelaku pada berita-berita tersebut datang dari kelompok masyarakat menengah bawah dengan tingkat pendidikan yang minim. Lalu, ketika saya menemui hal yang sama terjadi di lingkungan saya, tepatnya dengan beberapa sahabat, saya sedikit shock. Oh, ternyata cerita-cerita begitu bukan cuma berita murahan detikcom, koran lampu merah atau sinetron. Itu nyata adanya.  Lalu, postulat bahwa kejadian begitu datang dari mereka yang tidak sekolah tinggi-tinggi ternyata salah. Yang saya lihat di depan mata, pelaku kekerasan ini adalah mereka dengan pendidikan di atas rata-rata bahkan mengagumkan. Beberapa waktu lalu, seorang sahabat saya memutuskan untuk berpisah dari suaminya, karena tidak tahan atas perlakuan kasar sang suami yang tak ubahnya seperti petinju. Bahkan berani melakukan kekerasan itu di depan umum. Padahal saya pikir teman saya ini sangat beruntung dari sisi materi, pendidikan bahkan kehidupan sosialnya yang sangat baik.  Saya tidak bisa bercerita lebih detail tentang kekerasan yang terjadi, kecuali satu kata: kejam. Sahabat saya kedua, seorang ibu satu anak yang belum lama saya kenal. Ini bener-bener gw harus bilang WOW, sambil koprol. Dia menuturkan dalam lima tahun pernikahannya, kekerasan adalah makanan biasa sehari-hari. Bahkan di tahun pertama, dia pernah terapi saraf otak selama enam bulan karena benturan keras di kepala yang dilakukan suaminya, sempat membuatnya tak sadarkan diri beberapa saat. Jujur, saya yang ngeliat kucing kejepit pintu aja ngeri apalagi melihat manusia (baca: perempuan) dianiaya oleh orang yang katanya paling mencintainya sejagad dunia raya. Sekarang sih, katanya… (katanya) kalau mukul gak di kepala lagi. Tetap saja namanya mukul.

Sahabat yang pertama, tidak perlu dibahas, karena akhirnya mata hatinya terbuka bahwa ini bukan hidup yang normal. Nah, teman saya yang kedua ini masih terkukung dengan satu teori bahwa mengabdi pada suami adalah ibadah, dan menerima kekerasan adalah bagian dari itu. Pengabdian jelas ibadah, apalagi sebagai muslim, itu wajib. Tapi mengabdi dengan “bonus” kekerasan fisik apa masih ibadah namanya? Adakah prinsip yang lebih bodoh dari itu?! Atas nama cinta? Ya Tuhan,..tetapi membiarkan badan lebam dimana-mana, hati yang sakit ditambah lagi ongkos berobat tidak sedikit (yang ditanggung sendiri). Disini, Saya  tidak tahu cinta itu dimana dan bentuknya seperti apa.

Saya masih sulit menerima alasan kalau ada yang bilang di beberapa kasus, cinta sering diungkapkan melalui kekerasan. Buat saya ini konsep edan.

Saya pernah mengalami kekerasan verbal dari seseorang, sekarang saya sudah memaafkan dia. Meskipun masih ada kengerian yang besar kalau itu terjadi lagi.  Efeknya  luar biasa, membuat mental sangat sangat down. Bahkan kata-kata buruknya masih membekas dan kalau diulik-ulik itu pengaruhnya besar sekali buat kejiawaan saya. Perasaan hina, dina tidak berarti setelah memperjuangkan hampir semua hal untuknya itu masih lekat sekali.  Untungnya, saya segera bangkit dan sadar, ini tidak boleh berlanjut.  Terlepas siapa yang benar dan salah, ternyata kemarahan pun perlu manajemen agar tidak merusak kejiwaan orang lain. Bukan saya tidak kuat mental ya, tapi ada tetap ada koridornya. Dan yang pernah terjadi sudah melewati koridor sebuah kemarahan verbal yang normal. Ah, sudahlah.. Ini bagian curcol aja. 😀

 
Itu baru yang verbal, bagaimana dengan fisik plus verbal yang dialami teman-teman saya itu?! Saya belum menikah, tapi saya perempuan yang sangat sangat bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Dari beberapa artikel-artikel psikologi yang saya baca, laki-laki yang terbiasa melakukan kekerasan fisik kepada pasangannya, 90% pasti akan mengulanginya. Tidak mudah dan butuh waktu yang lama untuk merubah karakter ini. Jika ditelurusi lagi, pasti ada latar belakang yang menyebabkan seorang laki-laki bertemperan keras dan main tangan begini. Tapi masalahnya, masihkah perempuan bertahan “menyerah”, mengorbankan fisiknya, perasaan dan harga dirinya atas nama cinta dan pengabdian kepada suaminya? Oh.. Come on…

Hits: 779

Saya baru saja melakukan riset kecil tentang kegalauan. Huh, pasti kalian semua akan berkomentar: “Haduh, gak penting banget sih, lo…” Tapi tenang, ini penting loh! Penting banget malah! Jadi, tadi sore berturut-turut mendengarkan lagu-lagu Glenn Fredly dan Anang. Kalo Glenn semua orang sudah tahulah ya.. dia master galau banget! Terbukti lagu-lagu beliau yang galau abis, selalu meledak di pasaran. Sepengetahuan saya, lagu-lagu itu kebanyakan dia ciptakan saat lagi bermasalah sama pasangannya yang sesama artis juga. Siapa? Yaa, masak lo yang pengamat infotainment nanya gw? Hehehhe.. Cari sendirilah..

Selanjutnya Anang, ingatkan lagu Separuh jiwaku pergi? Lagu itu laris juga di pasaran. Dikenal semua orang, dari office boy sampai presiden direktur.  Sebelumnya sih, Anang memang sudah cukup beken dan banyak berkarya di blantika musik Indonesia (bahasa gw berat bener yak).. Tapi, konon lagu yang dibuat di masa awal perpisahannya dengan KD itu, menjadi lagu hits-nya sepanjang masa. Lagu cengeng yang haram dinyanyikan di pesta kawinan itu pun, laku keras (pasti bajakannya lebih laku).

Kalau kalian menyimak baik-baik, kesamaan Glenn dan Anang adalah menyanyikan lagunya penuh perasaan. Dalemm banget dah.  Ya, tentu saja,..karena mereka menyanyikannya pun dengan hati. Hati yang apa Yaaa, hati yang galau!!  “Ini kerja dengan passion”, istilah pakar HRD.

Nah, kelihatannya dua tiga tahun terakhir, kiprah Glenn di talenta khususnya lagu-lagu mellow-nya agak menurun. Malah, dari garis masa di twitter-nya, dia sedang banyak melakukan kegiatan kemasyarakatan, misal aktif mempromosikan kampong halamannya Ambon Manise, bahkan menjadi pendukung salah seorang Cagub DKI melalui iklan-iklannya. Mana Glenn yang dulu? Sementara Anang sudah menemukan tambatan hati baru yang menghilangkan kegalauannya. Anang menurut saya sekarang sangat lebay dengan istri barunya itu.  Karyanya pun ya, lebay-lebay gitu. Nyaris tidak ada yang memorable lagi.  Saya yakin, duitnya pun lebih banyak datang dari lagu-lagu galau itu daripada lagu-lagu lebay yang cuma pamer kemesraan.  *sirik banget sih, lo

See? Siapa bilang galau itu konotasinya selalu negatif? Galau itu halal kok! Bahkan penemu-penemu besar konon menghasilkan temuannya setelha galau gagal berkali-kali tetapi tetap mencoba. Thomas Alva Edison gagal nyaris 999 kali sebelum akhirnya menemukan 1 kali bohlam listrik. Isaac Newton sedang duduk di bawah pohon ketika apel jatuh di kepalanya, lalu karena kepikiran terus dan bikin galau akhirnya ia menemukan gravitasi. Yang paling maju adalah presiden kita tercinta yang sering curhat dan galau sama keadaan tanah air beta ini. Sah-sah aja kan? Karena galaunya presiden adalah untuk berbagai kesusahan tantangan  untuk membuat negara ini lebih baik

Saya pun seperti itu, ditengah kegalauan beberapa waktu lalu, karena sesuatu hal, tiba-tiba Tuhan yang Mahabaik memberikan banyak tanggung jawab dan tantangan baru yang lebih penting dari sekedar mikirin perasaan. Kadang-kadang masih berasa galau, tapi itu masih dalam koridor yang wajar.  Yang tidak wajar itu kalau permanen. Eh,..galau kok permanen?!, Ada yah?!  Atau kadang-kadang malah pengen galau, tapi karena kerjaan banyak, jadinya gak sempet deh.. (hahaha). Maksudnya kegalauannya dialihkan ke kegiatan yang produktif mirip mirip Glenn dan Anang deh, tapi bukan ngarang lagu yah…  Kalau galau itu menghasilkan sesuatu yang produktif, yuk kita galau bersama-sama, alias galau berjamaah.. 

 

Hits: 773
sebelum...

Wooohooo.. akhirnya bisa juga pamer rumah hejo-ku di blog ini. Alhamdulillah, setelah hunting beberapa lama, dapet juga rumah yang terjangkau oleh isi tabungan. Letaknya lumayan strategis, pola pembayarannya sangat kompromistis dan rumahnya gw bangett!!.

Dalamnya tentu saja harus putih full, agar rumah mungil seluas total 60 meter persegi (2 lantai) ini terlihat luas. Saya menambah ornamen wallpaper di ruang utama dan ruang tidur utama. Kamar kedua, difungsikan sebagai kamar tamu dan ruang baca

Againnn… karena saya penggemar hijau, hampir semua pernah pernik di rumah ini bernuansa hijau. Biar gak terkesan monoton, saya tambahin sedikit warna merah dan emas. Ini foto-foto rumahnya sebelum dan sesudah ditempatin..

Yuk..kapan mampir?

tampak depan...hejo royo royo..
ruang utama dan kamar tidur angry bird..
the cozy corner and the books!
pernak pernik.. love it!
Hits: 1248

shutterstock.com

Sudah hampir tiga puluh menit kita disini. Aku masih saja mengaduk-ngaduk sanger* dingin yang sebenarnya tidak perlu diaduk lagi.  Aku merapihkan kerudung merah jambuku  sambil sesekali menyimak obrolan tetangga sebelah meja kami. Topik politik daerah ini nampaknya tidak pernah habis untuk digunjingkan.  Ah, menyesal. Kalau tahu begini, harusnya tadi aku membawa komputer jinjingku, memanfaatkan wifi kedai kopi ini dan menulis hal-hal random di blog-ku. Bisa juga membawa buku bacaaan sambil menikmati nasi kuning terenak di kota ini.

Sementara kamu masih saja sibuk mengutak-ngatik telepon genggammu yang sudah butut, berbunyi pun aku rasa susah. Aku tahu, telepon itu sudah jatuh berkali-kali sampai-sampai kamu “menambalnya” dengan plester bening lebar yang aneh.  Kopi hitam yang kamu pesan sama sekali belum kamu sentuh. Kualihkan tatapanku ke wajahmu, kamu mengetuk-ngetukkan telepon itu ke meja kayu kedai ini. Matamu memandang dengan tatapan kosong dan bingung ke sungai kecil di depan kedai kopi di pusat kota Banda Aceh ini. Dingin sekali.

Aku kembali bertanya; “Ada, apa.. kamu sakit?” dan untuk ketiga kalinya kamu balik bertanya bertubi-tubi:

“Kamu tidak marah kalau aku jujur akan sesuatu?”,

“Kamu masih mau jadi sahabatku?”,

“Kamu yakin tidak akan meninggalkan aku?” .

Aku menarik nafas. Kuambil batang korek api dari perangkat rokokmu. Aku menyusun beberapa batang seperti mainan masa kecilku. Aku pun bingung harus menjawab apa. Pertanyaan yang sangat retorik untuk sepasang sahabat baik seperti kita.

“Aneh, perlu dijawab?”, kataku..

“Kamu sakit?” HIV? AIDS?

Langsung saja aku ucapkan nama penyakit itu. Dalam bayanganku hanya itu penyakit paling parah sampai sampai kamu perlu waktu khusus untuk mengakuinya padaku.  Tapi jawabanmu tetap hanya diam.

Read More

Hits: 981

Rasanya tidak pernah sesedih kemarin, ketika saya harus meninggalkan Aceh setelah sempat tiga hari singgah disana untuk urusan sebuah pekerjaan.  Cukup lama saya tidak menginjakkan kaki di tanah rencong ini. Terakhir berkunjung kesini 1,5 tahun lalu untuk menyelesaikan riset tesis saya.  Memang sebelumnya saya sempat hampir tiga tahun bekerja disini untuk sebuah proyek pemerintah dalam misi rehabilitasi dan rekonstruksi pasca tsunami maha dahsyat akhir 2004 lalu. Saya sadar saya punya keterikatan batin yang sangat dalam dengan Aceh. Padahal pertama kali kesini ogah-ogahan luar biasa, tapi apa boleh buat sebuah komitmen kerja sudah saya tanda tangani. Siapa sangka itu kemudian merubah dan mempengaruhi hampir setiap sisi kehidupan saya setelahnya.

Saya tidak pernah menghitung sudah berapa puluh kali saya bolak balik ke Aceh untuk urusan pekerjaan. Dan setiap kembali ke Jakarta, saya selalu yakin akan kembali kesana suatu saat. Tapi tidak kemarin. Memang tidak ada alasan yang jelas, hanya perasaan saja. Entah kenapa itu rasanya sangat kuat dan terus menari-menari di pikiran saya.   Simpang Lima, sanger dingin, Masjid Baiturrahman, mi kepiting, Lampuuk, Motor Honda, Labi-labi  dan sudut-sudut Peunayong memenuhi imajinasi saya.

Pada tiga hari yang singkat namun padat itu, saya bertemu hampir semua sahabat-sahabat terbaik saya disana. Mereka yang rela meluangkan waktu meladeni saya yang bawel ini, memberi bantuan materi untuk pekerjaan saya dan tidak henti-hentinya memberi dukungan moral karena sejujurnya saya sendiri agak senewen dengan pekerjaan itu.   Di bandara saya tercenung, disini ada jarak  yang samar antara jauh dan dekat, antara datang dan pergi, antara sedih dan bahagia, antara penghubung dan pemisah dan antara mimpi dan  kenyataan.  Saya sedikit menitikkan air mata ketika pesawat mulai lepas landas dengan hamparan pemandangan sawah dan pantai yang khas Aceh di bawahnya.  Yah, mungkin memang ada cerita dibalik semua itu, cerita yang tidak bisa dilisankan dan tidak tahu harus dimulai darimana jika ingin dituliskan.

Saya bahagia karena punya keluarga dan sahabat-sahabat yang tak tergantikan disana. Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari Aceh. Saya merasa terhormat mendapat kepercayaan (lagi) untuk berkontribusi demi nama Aceh. Apalah saya ini…

Semoga satu karya (terakhir) itu nantinya menjadi kenang-kenangan bahwa disana pernah ada terlalu banyak cerita, cinta dan cita-cita. Terima kasih Aceh

 

Hits: 883

http://tattletailzz.com/know-your-role-why-the-independent-woman-struggles-with-dating/

Saat kemandirian sudah jadi nilai positif bahkan “keunggulan komparatif” seorang perempuan, hari ini saya menyatakan kalau saya BOSAN menjadi mandiri.  Beberapa bulan terakhir, kepalaku memang mumet dipenuhi segala urusan.  Pekerjaan yang jadi rutinitas sudah pasti jadi makanan. Tapi bukan itu saja, ada lagi urusan keluarga, kerjaan-kerjaan lain, transaksi beli rumah beserta tetek bengek-nya yang ribet serta penuh dengan unpredictable issue. Pindah rumah baru bulan lalu benar-benar menyita pikiran. Urusan lumayan besar seperti renovasi minor kamar belakang, benerin tangga, memilih wallpaper  yang oke, memasang antenna TV, kran air buat mesin cuci sampai urusan colokan listrik yang tidak pas posisinya bener-bener bikin rungsing! Kesimpulannya, ketika beli cabe sampai beli rumah diurusin sendiri itu melelahkan! Dan jrenggg..jrengg..tiba-tiba saya bosan jadi perempuan mandiri!! *nangis meraung-raung

Sejatinya, Saya sudah terbiasa mandiri sejak kuliah di Bogor dan tinggal sendiri, jauh dari orang tua. Mengambil keputusan sendiri bukan lagi barang baru. Ya, pasti ada pertimbangan dan masukan dari keluarga dan teman-teman untuk banyak hal besar, tapi pada akhirnya keputusan selalu saya tentukan sendiri. Banyak yang bilang mandiri itu adalah salah satu berita baik wanita masa kini. Mandiri sudah jadi poin plus bagi  seorang wanita. Di jaman dimana wanita punya posisi yang sama dengan laki-laki,  ketergantungan terhadap sosok kaum adam pun mulai berkurang. Tapi, eh. Apa bener begitu adanya?. Hasil survei kecil saya terhadap beberapa teman yang sudah menikah, umumnya mereka menertawakan saya dan mengatakan bahwa setelah menikah pun sebagian besar keputusan diambil sendiri. Kesimpulannya, gak ada bedanya deh, lo single atau doble karena hal-hal yang saya keluhkan diatas  berdasarkan pengalaman, tetap diputuskan sendiri oleh mereka (sebagai wanita). Kurang valid sih, survei ini..,karena respondennya adalah teman-teman  saya yang semuanya wanita bekerja dan punya karier yang cukup cemerlang. Biasanya sih wanita-wanita seperti itu mandirinya suka “kelewatan”. Padahal buat saya yang jomblo bahagia ini (*batuk batuk), fungsi pasangan terutama adalah tempat berbagi dan rekan untuk menentukan keputusan-keputusan penting dalam hidup.  Hehehhe.. Barangkali surveinya memang harus dikaji lebih dalam, keputusan mana yang bisa sendiri, keputusan mana yang harus bersama dan respondennya pun harus lebih variatif. Gubrak, kok jadi ngomongin model kerjaan?!

Mungkin saya lagi “manja” aja, lagi perlu perhatian. Tepatnya perhatian dari orang yang istimewa. Eh, beneran begitu? Eitsss..jangan berkilah dulu.. Saya tahu itu masalah standar. Everybody does, kan?! Lagian ini konteksnya bukan mengeluh, tapi “bercerita”.   Catet ya!! Sebenernya kan wajar-wajar aja kalau perempuan seperti saya tiba-tiba punya perasaan begitu. Selama perasaan itu tidak “dipelihara” yang bisa menimbulkan efek galau berkelanjutan.  Saya bukan feminis yang (mungkin) sangat perkasa bisa total hidup sendiri tanpa bantuan lawan jenis. Ya, apapun bentuknya, laki-laki dan perempuan kan mahluk sosial yang memang ditakdirkan untuk saling melengkapi di koridor dan kodratnya masing-masing.. 🙂

Hits: 741

Aku kira sudah habis, ternyata masih ada,

Seperti hujan malam ini

Semalam benar-benar menghilang. Aku sangka itu selamanya

Aku bahagia

Tapi hujan semalam, menghapus panas sehari

Seperti hari ini

Kamu kembali, terbawa hujan.

Oh, ternyata begitu..

Pergilah bersama panas. Hujan pasti akan datang lagi.

Tapi Mohon jangan lagi ikut bersamanya

 

Aku harap sudah habis


Bogor, 6 Juni 2012

 

Hits: 952

Perempuan itu seperti robot, laki laki itu seperti tuannya.

Robot itu bisa melakukan apapun untuk tuannya.  Dari pekerjaan rumah tangga, pekerjaan kantor hingga mendengarkan keluh kesah tuannya. Kalau diperlukan, si tuan tinggal menekan remote dan si robot mulai bekerja untuknya.. Si robot nyaris menemani setiap aktivitas tuannya. Mendengarkan semua masalahnya dengan baik, memberi saran, memberi dukungan dan selalu berusaha memberi kenyamanan dengan kasih sayang.  Robot selalu bangga akan tuannya, begitu juga sebaliknya. Setidaknya seperti yang sering diucapkan tuan ke robotnya.

Robot itu nyaris tidak pernah lelah,  meski tuannya sering pergi tanpa pernah peduli onderdil-onderdil yang ada di dirinya. Dia tahu, sangat tahu bahwa tuannya yang baik itu, mempunyai banyak teman di luar rumah, yang sering membuat si tuan melupakan si robot. Tapi si robot, tidak peduli, karena si tuan selalu meyakinkan, bahwa hanya si robot yang dia butuhkan. “Mereka itu hanya selingan”, kata si tuan. Dan si robot selalu percaya. Dia tahu apapun kejadian di luar sana, si tuan selalu pulang ke rumah, menemaninya bermain, mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya sebagai robot dan bercengkrama dengan penuh tawa setiap hari.

Kadang-kadang robot juga ingin diajak bergabung bersama teman-teman si tuan. Diperkenalkan sebagai benda yang selama ini sangat berarti seperti yang sering si tuan ungkapkan padanya. Namun itu nyaris tidak pernah, jangankan untuk bertatap muka, foto-foto mereka di  sosial media pun harus dikaburkan. Kadang ada alasan yang tidak dimengerti oleh si  robot.  Menurut si robot, selama masih dalam batas wajar, toh tidak apa karena tuannya pun sering bercengkrama dengan teman-temannya di dunia maya dengan bahasa-bahasa mereka. Hmm, tapi  robot mencoba memahami mungkin si tuan malu kalau ketahuan teman-temannya ia dekat dengan sebuah robot. Bukan manusia,  gadis  muda dan cantik, santun berkulit putih seperti impian si tuan  yang pasti sangat membanggakan kalau digandeng kemana-mana. Atau, takut ketahuan keluarganya mungkin? Ya, bisa jadi, karena toh selama ini dengan beban dan tanggung jawab ke orang tua si tuan yang berat, dia harus menyelesaikan sendiri semuanya. Orang tua tuan pasti tidak tau ada robot mekanik yang selalu duduk manis disamping tuannya sangat dibutuhkan. Ah, itu tidak jadi masalah bagi si robot.  Selama ini tuan sangat baik karena  membantu robot menyelesaikan banyak hal, teman sharing yang luar biasa dan sosok yang paling mengerti diri robot. Tuan selalu obyektif menilai robot, sehingga robot bisa jadi robot yang luar biasa, Setidak seperti itu yang si robot tangkap selama ini.

Read More

Hits: 1590

Saya mungkin termasuk orang yang agak susah move on. Eits, ntar…jangan berasosiasi lain dulu… Ini bukan menyangkut sebuah hubungan yang berakhir atau sejenisnya. Tapi tentang “hobi” saya menyimpan barang-barang yang menurut saya bersejarah dan mengandung nilai-nilai tertentu dalam perjalanan hidup sayah.  Ttsssahhh… berat bener bahasanya.

Liburan ini saya membongkar semua koleksi pakaian, sebenernya ini hal biasa. Kalau lemari sudah kepenuhan, pasti beberapa baju yang masih layak saya hadiahkan ke saudara-saudara ataupun orang-orang yang memerlukan. Anehnya ada beberapa baju yang sudah jelas-jelas tidak bakal dipakai lagi (umumnya karena udah ketinggalan mode), masih aja nangkring dengan manis di lemari.  Kenapa? Karena baju-baju itu ada jin-nya ..eh, ada sejarahnya. Saya masih menyimpan baju hari kerja pertama saya di Aceh, baju kuno hadiah dari teman yang jelas jelas udah gak muat, baju jadul jahitan mama, kaos merah hadiah terakhir (alm) papa, baju yang pernah saya pakai “kencan” gak penting dengan seseorang dari masa lalu banget. Hahaha..  Sepatu juga begitu. Saya mencintai sepatu, seneng beli sepatu tapi gak punya koleksi yang banyak, soalnya sepatu yang saya suka sering mahal (dan gw belum mampu beli).   Saya masih menyimpan sepasang sepatu SMP cuma karena alasan sentimentil, itu hadiah Papa untuk kenaikan kelas. Jadul abis.

Tidak cuma sandang. Saya masih menyimpan kartu-kartu ucapan selamat ulang tahun teman lama yang kini belum tentu saya tahu keberadaannya.  Kartu ucapan perpisahan  kantor bahkan sebundel surat-surat cinta pertama (yang akhirnya saya putuskan untuk dimusnahkan setelah saya simpan hampir 10 tahun)! Saya juga masih menyimpan buku harian saya sejak kelas 3 SD sampai akhirnya saya lebih senang menulis di internet dibanding di buku. Bahkan… saya sempat menyimpan beberapa bukti transfer atau pengiriman barang struk belanjaan karena mengingat “sesuatu” di balik semua itu.  Kalo pernak pernik sih udah gak keitung deh harta karun saya. Dipake gak, dikasih ke orang juga gak.. Disimpen doang buat dipandang-pandangin sambil menerawang sejarah dibalik barang-barang itu. *orang gila… orang gila…

Kalau soal file digital, jangan ditanya deh.. Selain foto dan sejenisnya, saya juga rajin memback-up segala macem isi gadget. Saya menyimpan sms-sms yang berkesan, mengaktifkan archive percakapan YM, BBM dan sejenisnya dan membacanya kembali disaat-saat lowong. Kadang emang bener-bener gak penting, tapi hal-hal seperti ini sering bikin senyum senyum sendiri. Aneh kan gw?

Gimana dengan lagu? Samaa ajaaaa.. malah setiap peristiwa dalam hidup saya ini, ada lagunya! Hebring banget kan? Lagi sama si A, lagu anu, waktu sama si B lagu ini, bla.. bla.. Wakakakakka..

Sebenernya tidak ada tujuan apa-apa selain sisi sentimentil saya aja yang kelewatan.  Saya pernah baca satu artikel di internet, katanya ini masuk  salah satu“penyakit” dalam ilmu psikologis. Tapi saya masih dalam taraf yang normal soalnya yang disimpen memang sesuatu yang “berarti”. Di level yag lebih tinggi, ada “penderita” yang doyan menyimpan bahkan barang barang bekas seperti botol sampo, bungkus sabun atau rongsokan yang secara logika, sulit dimengerti dimana nilai historisnya. Hiii.. untunglah gw belum sampe segitunya..  Malahan sekarang, banyak hal yang kira-kira berdampak gak baik untuk psikologis, saya buang.  Hehehe..

Manusia selalu punya kenangan akan masa lalu, baik dan buruk. Tapi tidak semua kenangan itu harus dikenang, kan? Memori otak manusia kan lebih hebat dari komputer, tidak ada bekasnya pun masih bisa tetap terlacak meskipun tanpa media-media pengingat seperti diatas. 🙂

 

Hits: 937

Sosok bapak yang satu ini, rame diperbincangkan  media massa setahun terakhir. Mulai dari sepak terjangnya ketika masih menjadi Dirut PLN lebih lebih lagi  sekarang ,saat ia menjabat Menteri BUMN. Pemimpin Koboy menjadi julukannya. Saya sendiri sih, sebenernya udah cukup lama tahu Bapak ini sejak saya bekerja di Majalah SWA yang sering menjadikan beliau sebagai contoh sukses pengusaha media. Bagi yang belum tahu, Dahlan Iskan adalah pemilik Jawa Pos Grup salah satu konglomerasi media di tanah air. Tahun 2011 “tanpa sengaja” saya jadi ikut mengamati sepak terjang beliau karena “bantuin” ide karya ilmiah seseorang menyangkut BUMN. Hadeuhhh… Dari sini, saya mulai membaca hal-hal terkait BUMN dan beberapa buku yang ditulis sendiri oleh Dahlan Iskan. Buku beliau yang paling berkesan buat saya adalah Ganti Hati (2008) yang menceritakan pengalamannya menjalani proses Transplantasi yang juga mengandung cerita otobiografi beliau. Bahasa bukunya sih kata gw, rada acak-acakan, harus banyak melalui proses editing agar kalimatnya lebih sempurna. Eh, tapi justru itu yang jadi kekuatan buku ini. Bahasanya yang “asal” itu membuat isi buku ini jadi lebih “nancep” di  kepala pembacanya.

Nah, apa hubungannya dengan Adversity Quotient (AQ)? Oh, ya AQ ini jenis kecerdasan “baru”  (eh gak baru baru amat sih…) setelah IQ, EQ, SQ dan ESQ atau mungkin aja masih ada Q-Q yang lain. Hehehehe. Definisi Q-Q itu cari sendiri aja di mbah google ya.. Gw mo cerita soal AQ aja.  AQ pada dasarnya adalah kekuatan mental seseorang untuk berjuang menghadapi semua tantangan dalam hidupnya. AQ dapat menjadi indikator seberapa kuatkah seseorang untuk terus bertahan dalam suatu “perjuangan” sampai pada akhirnya ia dapat keluar sebagai pemenang, mundur di tengah jalan atau bahkan tidak mau menerima tantangan sedikit pun.

Dengan kata lain AQ dapat digunakan sebagai indikator bagaimana seseorang dapat keluar dari kondisi yang penuh tantangan. So, AQ itu bukan bawaan lahir tapi didapat dari tempaan dan pengalaman hidup. Ada proses yang tidak sebentar untuk melihat AQ seseorang.

Read More

Hits: 821

Bahagia itu relatif. Bahagia gak selamanya tergantung duit, tapi katanya duit itu sarana pembahagia paling besar (katanya….). Cara orang buat bahagia pun beda-beda.

Temen gw, bahagia kalau dua kali  sehari bisa naik ke rooftop lantai paling atas kantor buat merokok di sela jam kerja yang padat.  Katanya, hal itu kebahagiaan karena “sukses” meracuni diri sendiri. Aneh. Temen yang lain (termasuk gw) bahagia kalo seminggu sekali bisa latihan vocal alias karaoke. Adik gw keliatannya bahagia kalo malem-malem kebangun kelaperan trus bikin indomie. Anak-anak deket rumah gw, kayaknya bahagia banget kalo malem minggu nge-trak kebut-kebutan di fly over deket rumah (gw doain celaka, abis nyebelinn,..upss). Temen gw yang lain doyan banget ama yang gratisan ampe malu-maluin. Tapi mungkin dia bahagia karena itu, gw harus ngerti.  Cowok yang merasa “kegantengan” pasti bahagia kalo bisa tepe-tepe alias tebar pesona dimana-mana. Seniornya bisa jadi bahagia kalo berhasil punya istri lebih dari satu. *Curcol banget.

Gw sendiri juga memandang bahagia itu relatif dan tergantung waktu. Apalagi perempuan yang emosinya lebih labil menjelang datang bulan. Itu serius bikin gak bahagia. Cuma ada pepatah: you choose your own happiness. Gue setuju, meskipun itu gak mudah, secara kita hidup dengan banyak orang yang saling mempengaruhi. But eniwei sekarang gw suka merumuskan apa-apa yang membuat gw bahagia. So, kalo kira-kira tiba-tiba ada hal yang membuat gw jatuh, gw langsung menjalankan “strategi” ini buat bahagia lagi. Ini diaaa… :

Read More

Hits: 1091

Haaa? Aceh gempa lagi? Terkaget kaget sore itu aku membaca sms BMKG  tentang peringatan dini tsunami di Aceh dan beberapa wilayah Sumatera dengan kekuatan sekitar 8,9 SR. Oh My God.  Hal pertama yang aku lakukan menghubungi teman-temanku disana. Seperti diduga, tiba-tiba semua koneksi terganggu.  Tapi tidak lama satu orang teman berhasil dihubungi dan mereka sedang dalam proses evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Alhamdulillah. 🙂

Setelah mencari informasi , akhirnya baru ketauan jenis gempanya sedikit berbeda dibandingkan gempa akhir 2004 lalu, karena itulah kerusakan yang ditimbulkan tidak begitu parah. Walaupun demikian tetep aja membuat sebagian besar masyarakat Aceh was was karena sirene tsunami warning sudah menggema di seluruh penjuru kota Banda Aceh.

Membaca hasil liputan berbagai media, sepertinya tidak berlebihan jika gempa kemarin direspon masyarakat dengan lebih tenang dan tidak panik. Mereka sudah tau harus melakukan evakuasi kemana, Koordinasi berjalan cukup baik dan informasi selalu ter-update dengan cukup cepat dan akurat. Ini bukan pendapat media saja, ngobrol dengan teman-teman disana pun tanggapannya kurang lebih  begitu. Ya, meski belum 100% sempurna sih, tapi paling gak pengalaman disertai lesson learn selama tujuh tahun terakhir ini jadi hal yang sangat penting bagi knowledge mitigasi bencana penduduk Aceh atau Kota Banda Aceh pada khususnya.

Read More

Hits: 914