Ini sedikit cerita tentang masalah tim kerja. Mulai punya “anak b
uah” -saya lebih suka menyebutnya “tim saya”- sejak aku kerja di Palyja, sebuah perusahaan provider jasa air minum di Jakarta. Itu terjadi sekitar awal 2006. Kalo gak salah waktu itu title pekerjaannya’ “Analytical Services Coordinator”. Kerjanya apalagi kalo gak jauh-jauh dari riset dan analisis yang memang menjadi bidangku. Bagiku ini yang pertama me-maintain people dalam pengalaman kerjaku. Waktu pertama masuk saya tidak diberi tahu bahwa akan membawahi sembilan orang staf yang semuanya laki-laki dan hampir semuanya berumur diatas 40 tahun, yang berarti akulah yang paling muda. Pada pekerjaan sebelumnya di SWA, yang namanya teori leadership itu udah sering banget dibahas, tapi baru pas masuk Palyja aku niat dengan serius belajar leadership sampe beli beberapa buku tentang itu. Kacau-nya (baca: tantanganya), bapak bapak itu sebagian besar adalah karyawan yang bermasalah dengan motivasi kerja karena sebuah perubahan dan restrukturisasi lumayan besar yang terjadi di perusahaan itu. Dengan segala dinamikanya saya berusaha masuk menyelami masing-masing mereka dan menempatkan diri di posisi mereka. Intinya saya benar-benar melakukan pendekatan secara personal, karena sangat sulit menjadi “diktator” saat dimana bos besar pun tidak berdaya, apalagi gue yang istilahnya cuman “bos kecil”. Teori motivasi yang diberikan melalui briefing, seminar dan sejenisnya nyaris tidak mempan ke mereka. Dengan kondisi begini, saya tidak berharap punya achievement yang luar biasa dari tim ini, bisa “menggerakkan” mereka saja kata bosku saat itu sudah merupakan prestasi yang bisa dibanggakan. Akhirnya dirancanglah berbagai riset dan survey yang bersifat missal dan bisa membuat mereka tuh keliatan “ada” kerjaan, tentu saja kegiatan itu juga dibutuhkan perusahaan. Huhh..jangan salah lo.. aku juga ikutan tuh ke rumah rumah pelanggan, jalan kaki panas-panasan dan ikut ngecek meteran air di tiap rumah. Setelah 1,5 tahun, mid of 2007 karena mendapatkan tawaran lebih menggiurkan di Aceh, finally…aku tinggalkan deh Palyja. Oya, waktu pamitan sempet sedih lohh.. pake nangis segala.. Hikss.. Jadi kangen juga sama Pak Djoko, Pak Sapto, Pak Maradat, Pak Iqbal, … 🙂
Author: Vika
Jadi yah, melanjutkan cerita bikin thesis kemarin, akhirnya, dari 13-24 Maret lalu, aku dengan manis nangkring di Banda Aceh. Agenda utamanya yang pasti ngumpulin data buat penelitian thesisku. Tapi setelah berjalan seminggu, omak…ternyata lebih banyak jalan jalannya dibanding penelitiannya. Hari pertama saja, baru landing aku sudah meluncur ke acara kawinan seorang teman dengan kondisi perut yang sangat lapar, karena sejak berangkat belum makan. Karena sudah siang, makanan yang masih tersedia tinggal nasi dan lauk pauknya. Doh, gw pake nambah 2 kali lohh…biar gak malu,..nambahnya pake strategi, ganti piring baru dan ikut ngantri dari awal. Wkwkwkwkw..
Hari hari selanjutnya dipenuhi dengan janji ngopi, makan mie aceh, nongkrong,ke pantai dan sejenisnya. Upss, misi utama mencari data untuk penelitian tentu tetap dilakukan dong, hanya saja porsinya kalo dipikir-pikir tetep banyakan yg aku sebutkan di awal. Rundown-nya begini, pertama cari responden sejumlah 250an orang, kedua nyari data sekunder di TDMRC sebagai obyek tesis gw. Misi pertama, ini gampang-gampang susah. Gampangnya, tinggal kumpulin umat se-banda aceh, masing-masing nyebarin 20 kuesioner dapet deh langsung 100an. Sisanya hunting di warung kopi dan maksa temen-temen yang gak bisa ketemu secara langsung buat ngisi online. Susahnya adalah gak semua responden mengisi dengan baik, apalagi yang via online *make software gratisan* sering banget down-nya, bikin kuesioner jadi banyak bolongnya. Huhh.. Belom lagi setelah tersebar kurang lebih 100 kuesioner, ada bagian yang menurut “Pak Dosen” kurang tepat yang diprediksi akan membuat deviasi hasilnya nanti besar. Buru buru deh aku ganti, konsekuensinya, sebagian yg kira kira akan membuat deviasi tinggi, yaa aku drop ajah. 😀 Misi kedua dijalankan dengan metode “kuliah”, alias menyambangi TDMRC nyaris tiap hari untuk menimba ilmu, itu pun gak lama, sehari hanya 1-2 jam., Ngebrel ngebrel perkenalan organisasi kemudian dokumen dokumen lebih banyak dikirim by email.
Satu yang sangat aku syukuri dan aku banggakan adalah, disana aku masih punya temen temen yang sangat bisa aku andalkan di segala macam kondisi. Mulai dari penginapan gratis, supir kemana mana, nemenin ngopi, nyariin responden, nonton bola, nonton music sampe beliin oleh oleh buat pulang. *Maka nikmat Allah mana lagi yang kamu dustakan* 😀 Sumpah, kalo Insya Allah gw lulus ntar, kalian adalah nama nama utama yang ada dalam ucapan terimakasih, meskipun mungkin pake font 8 :D. Hahahhaa.. Thanks guys, kalian adalah teman teman terbaik yang pernah aku miliki..
Dengan waktu yang terasa sangat banyak, penelitian ini lebih cocok disebut liburan berkedok penelitian. Tapi apapun namanya, yang penting tujuan utamanya terlaksana dan semoga diriku bisa lulus tepat waktu di tahun ini. Amin.
From my friend’s note http://emphy-poemkisahceritaku.blogspot.com/
Gara-gara ada begitu banyak orang yang usil menanyakan another classic question about a woman “Kapan Nikah??”, membuatku menuangkan segala jawabanku. Pertanyaan mengenai“Kapan nikah” tentu menjadi hal yang menyebalkan. Dan disaat aku sudah menyiapkan sejuta jawaban dari pertanyaan tersebut, pasti ada aja kalimat yang semakin tidak mengenakkan ditelingaku, seperti:
“Udahlah… gak usah terlalu milih2 kali”
“Tinggal nentuin aja kapan, kan gak susahkan?”
“Sibuk kali kerja, nanti nikahnya lupa lagi”
Huuuhh… menyebalkan sekali pastinya!
Well, akan aku urutkan satu-persatu segala pertanyaan dan kalimat-kalimat ajaib itu dan jaawaban yang harus dikeluarkan saat di tanya nantinya.
kapan nikah?
Pertanyaan itu bagusnya ditanyakan aja langsung kepada Yang Masa Tahu. Kan yang menentukan ada dan kapan jodoh ku adalah Tuhan. Lagian aku kan gak membuat dunia menjadi semakin panas kan dengan kesendirianku ini? *plaaaak… kena tampar 😛
udah ga usah terlalu pilih-pilih lah!
kenapa aku gak boleh milih2 sih? kan untuk menikah gak boleh sembarangan juga kali, kalo nantinya menyesal gimana?? situ mau tanggung jawab? hah?hidup itu penuh pilihan, aku jadi curiga situ gak punya pilihan kali ya dalam hidup?? *ckckckk.. kasiannya dikau..masak nikah juga gak boleh milih-milih
tentuin aja kapan, ga usah lama-lama
kalo memang semuanya yang kita jalani didunia ini bisa kita tentuin kapannya, aku juga mau dong nentuin tanggal aku meninggal. berisik amat sih situ, yang punya urusan aku kok situ pula yang sibuk?? kirain mudah kali yah, menyatukan dua hati, dua jiwa, dua keluarga?? *dasar orang yang gak pinter banget!
Sibuk banget kerja, nikah nanti lupa
Gak gitu-gitu juga kali mengejar karier, tapi aku kan mau ngejar gajinya. wkwkwkwkkkk
Terserah mau bilang apa, tapi coba deh dipikir menikah itu butuh modal yang harus dikumpulin, memang nya situ mau bayarin saya menikah?? *Herraaannn…
Hidup itu butuh materi. bohong aja kalau nggak. emang bisa makan cuma pake cinta aja?? nanti malahan ribut terus gara-gara ekonomi. kalu udah begini, yang tadinya sibuk terdiam kan? Gak tau apa kali yah, rata-rata kasus perceraiaan saja itu 70% karena faktor ekonomi. *asal aja tuh orang kalo ngomong
Jadi?
Yah aku akan menikah dengan alasan yang tepat, ketika hidup ini terlalu berat untuk dijalani sendirian. hehehehee… karena aku sadar kok kita butuh seseorang untuk disayangi, menyayangi dan berbagi.
Aku gak mau menikah hanya karena tuntutan dan paksaan dari siapapun atau hanya karena umur. karena sebelum Ruh kita di tiupkan didunia ini, kita sudah bikin kontrak dengan Tuhan bahwa langkah, rejeki, pertemuan dan mau itu sudah ada ditentukan oleh-Nya.
Yang ngejalani pernikahan adalah diri kita sendiri bukan orang yang sok tau diluar sana. dan yang bakalan nanggung resiko juga kita bukan mereka yang sok perhatian itu. gak kebayang gimna jadinya kalo semuanya karna terpaksa dan bakalan sengsara seumur hidup.
Menikah atau tidak juga pilihan, so… nikmati saja hidup ini. menikah bukan karna umur, target atau paksaan dari siapapun. Enjoy in you life, Why you worried about My age. I’m Still Young…
Kalau memang sudah waktunya, pasti semuanya akan terjadi kok. Lagian toh kita bukannya nggak berusaha tho?
Buat yang masih jomblo, nikmati dulu masa kejombloannya sampai tiba jodoh yang cocok dengan kalian. Buat yang sudah punya pacar tapi belum menikah, nikmati saja dulu masa pacarannya sambil nunggu restu orangtua & lamaran sang pacar. Buat yang sudah menikah tapi belum punya anak, nikmati dulu masa pacaran bareng suami sambil nabung buat persiapan punya baby. Nggak usah terlalu mikirin omongan orang, nanti malah stress & nggak menikmati hidup. Sayang banget kan?
Percaya deh, semua akan indah pada waktunya kok.. 🙂
Saat dimabuk cinta,
kita merasa bahwa insting kita
telah cukup untuk meyakini
bahwa dia adalah belahan jiwa
yang akan membahagiakan kita
sepanjang hidup.
Tapi, kemudian ternyata
bahwa tidak ada penipuan
yang lebih kejam daripada cinta
yang digunakan untuk menyadap
keuntungan sepihak.
Maka, berhati-hatilah
jika Anda sedang dimanjakan oleh cinta,
karena bahkan insting terbaik Anda,
akan mati rasa.
(copas from my bhiksu, 22 Februari 2011)
Konsep ini pada dasarnya sama seperti outsourcing, hanya saja secondment menekankan pada jasa/service yang berbasiskan proses, sedangkan outsourcing cenderung menekankan pada jasa/service berbasiskan manusia, sehingga outsourcing bersifat supply tenaga kerja saja. Dalam konsep secondment, karyawan dari perusahaan vendor ditugaskan dan dialihfungsikan ke perusahaan pengguna jasa dalam periode waktu tertentu dan deskripsi fungsi tertentu, umumnya antara 6-12 bulan. Karyawan yang bersangkutan menjadi tanggung jawab penuh pihak vendor, tidak hanya kompensasi atas remunerasi, tapi juga resiko atas kualitas dan kesinambungan kerjanya (kemungkinan karyawan tersebut mengundurkan diri dari perusahaan vendor). Perusahaan vendor juga bertanggung jawab atas indikator kinerja kunci dari proses fungsi yang akan dijalankan oleh karyawan yang ditugaskannya. Di dalam konsep secondment, terjadi proses “transfer knowledge” dari karyawan perusahaan vendor yang ditugaskan ke perusahaan pengguna jasa dalam bentuk pendekatan-pendekatan dan metodologi yang diterapkan di perusahaan vendor. Dalam konsep secondment, program pengembangan keahlian karyawan juga menjadi tanggung jawab perusahaan vendor. Beberapa hal di atas, yang biasanya menjadi resiko yang masih harus dipikirkan oleh perusahaan pengguna jasa apabila menggunakan konsep jasa outsourcing, menjadi minimal bahkan tidak ada pada saat menggunakan konsep jasa secondment.
Apa kelebihan secondment dibanding outsourcing biasa ?
Pertama: Secondment merupakan jasa yang menekankan pada proses (process-based) bukan hanya pada penyediaan tenaga kerja (people-based) seperti outsourcing. Kedua: pada outsourcing umumnya, berdasarkan regulasi yang berlaku, tenaga kerja yang dialihdayakan adalah tenaga kerja untuk menjalankan fungsi non-utama (non–core function). Ketiga adalah adanya continuous learning program yang diberikan oleh vendor secondment, Keempat, dapat dilihat dari supervisi yang dilakukan pada karyawan. Dalam konsep secondment, perusahaan vendor mengirimkan staf senior untuk mendampingi user (klien) melakukan supervisi kepada kepada karyawan yang ditugaskan vendor ke klien, dalam hal ini disebut Mobile Reviewer (MR).
Kelima adalah; vendor biasanya menyiapkan cadangan karyawan pengganti secara fleksibel untuk karyawan yang ditugaskan, apabila di kemudian hari karyawan yang ditugaskan berhalangan hadir atau mengundurkan diri sebagai karyawan perusahaan vendor. Keenam, dalam secondment, perusahaan vendor sangat memperhatikan pengembangan karyawan, karena itu sangat dimungkinkan adanya rotasi baik internal maupun eksternal untuk pengembangan wawasan dan pengalaman karyawan itu sendiri. Faktor terakhir (Ketujuh) adalah masa kontrak penugasan. Dalam secondment, perusahaan vendor bisa menetapkan kontrak penugasan dengan klien dan menyediakan tenaga kerja yang terampil dan berpengalaman hanya untuk masa kontrak minimal tiga bulan
Revolusi konsep outsourcing menjadi secondment tersebut di atas sebenarnya dipicu oleh beberapa concern dari pengguna outsourcing, baik dari bagian Human Capital Department maupun dari pihak Direct User (bagian akuntansi, keuangan, pajak, internal audit, atau administrasi kantor).
Lebih lengkapnya boleh buka www.mbs-consult.com
Yihaaa.. setelah masuk bulan ke-10 akhirnya thesis juga!! Sempet repot mau nyari judul apa, tapi prinsipku sama seperti waktu S1, cari mata kuliah yang paling aku kuasai :D. Gak usah sok-sok-an ngambil yang keliatannya paling gaya, tapi sebenernya kita kurang expert disitu. Pun soal topik dan lokasi, aku juga punya gambaran pemikiran yang sama. Waktu di IPB gw skripsinya di Palembang, waktu itu dengan pertimbangan deket rumah, lingkungannya aku kenal dan topiknya waktu itu tentu saja yang gw ngerasa paling pinter dah.. heheh..

Nah sekarang pas mau thesis juga simper bingung mau ngambil judul apa. Yang tergambar besar di otakku tentu saja sistem informasi jaman BRR dulu, secara dulu itu bagian dari kerjaan gw dan beberapa data yang mungkin bisa kepake, masih aku simpan dengan baik. Setelah bertapa dan bersemedi cukup sebentar, kenapa gak coba menganalisis knowledge management untuk disaster management? Pertimbangannya, manajemen pasca tsunami 2004 sudah menjadi benchmark kebencanaan nasional bahkana internasional. Apalagi yang namanya bencana aliasa musibah bisa terjadi kapan saja tanpa kita tahu. Setidaknya jika masyarakat mengetahui bagaimana penyebaran informasi sebagai upaya preventif untuk mengurangi dampak bencana.
Yah, begitulah..dengan proses yang Alhamdulillah dimudahkan oleh Allah SWT, jadi deh.. Rencananya penelitian ini akan dimulai di TDMRC Banda Aceh, pertengahan Maret nanti. Sekalian reuni dengan temen-temen disana.. Waktu ujian proposal, dosen pengujinya nanya; “kok mesti di Aceh sih penelitiannya, bukannya enakan ke Singapura? “ Hahahhaha.. belom tauuuu diaaaa… Itu si Ibuk dosen harus gw suruh makan ayam tangkap dan minum sanger dulu, biar dia bisa ngerasa, Singapura gak ada apa-apanya dibanding Banda Aceh..
Wismilak!!
Gak kerasa, kuliahku sudah hampir masuk satu tahun.. Aku pikir dulu S2 sambil kerja gak bakal berat-berat banget, ya paling gitu gitu aja..gak macem S1 yang banyak tetek bengek praktikum-nya. Dan ternyata, aku salah saudara saudara!! Ceritanya per maret 2010, dengan alasan “mencari kepuasan batin” baru,…gw coba daftar di Magister Manajemen Sistem Informasi dibawah Fakultas Ilmu Komputer,di Binus University. Kenapa ngambil jurusan ini? Secara S1 gw perikanan yg ngurus pelelangan ikan dan sempet belajar bagaimana mengetahui ikan sudah layak memijah (alias kawin) kok tiba tiba menclok aja di urusan mesin bernama komputer.
Eitss…jangan salah..sebenernya yang gw dalamin di S2 gw adalah manajemen sistem informasi-nya bukan gimana cara nyambungnya kabel komputer. Kebetulan (eh…kebetulan gak sih?), pengalaman gw kerja selama ini selalu berkaitan sama yang namanya data dan sistem informasi. Terutama waktu di riset majalah SWA trus sempet mampir sebentar nemenin tukang ledeng di Palyja dan terakhir tentu saja di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD Nias. Di tempat yang terakhir, karena dibawah divisi Pusat Data Informasi yang juga memayungi departemen IT, mata-ku makin melek teknologi. Pengalaman berharga itu membuatku makin “napsu” mengetahui sistem informasi. It was really change my point of view… Jaman dulu mungkin gw pengen kayak orang, kuliah di manajemen, marketing atau yang sejenisnya yang pada masanya kesannya sangat “gaya”. Namun setelah dipikir-pikir, Insya Allah topik seperti itu bisa gw dapet sambil jalan di pekerjaan dan dari buku-buku yang gw baca.
Alhamdulillah banget…pilihan gw gak salah…Meski tugas tugas kuliah sungguh sungguh menyita waktu dan pikiran gw..Tapi aku sangat menikmati semuanya. Meskipun harus pulang malem terus,dan pacarannya cuman sama laptop (hikss) Trus ketemu temen temen yang asyik…dari yang berondong sampe yang kakek-kakek, dosen-dosen yang lucu dan unik.. Paper dan tugas yang bejibun…Bagi waktu yang susah susah gampang… Oya, buat sombong dikit sampe hari ini gw belom punya nilai B lohhh…. (bukan berarti C semua). Heheheheheh… Semoga bisa terus lancar sampai akhir..amin…
A note from Hengky Herwanto on Monday, March 29, 2010

email pertama dari Aceh buat GGJ…
========================
From: Vika Octavia [mailto:vikhasy@yahoo.com]
Sent: 02 Juli 2007 15:20
To: 7bi@rpoppy.com; Baya’s; carbelyn@palyja.co.id
Subject: my trip today
Hi angels….
Akhirnya gue nyampe juga di Aceh pas jam 1 siang tadi, setelah melalui perjalanan yang menjemukan dan pikiran campuran aduk!! Thanks to Jolie, Arlia, Belyn and Baya yang udah nganterin gue !
Panasss banget..nget.nget..
Pas di jalan gw bilang ama Pak Rudi yang barengan gw, apakah gw harus pake kerudung ? Trus dia nanya “Are u moslem?” OMG! Dia kira orang chinese.. Coba yah… darimana asalnya ada encik-encik kok bleki.. Sebenernya kata dia, not necessary tapi pas gw liat di jalanan..ampir semuanya pake kerudung, dan kayaknya emang kudu deh..secara panasss banget gitu !!
Trus ke kantor BRR untuk lapor, sekaligus bikin ID.
Gw itu di bawah departemen informasi yang dikoordinasi oleh BRR tetapi personilnya dari berbagai lembaga spt UNDP,..and beberapa NGO lain.
Ternyata, bayangan gw tidak seseram sebelumnya.. orangnya ramah-ramah,.dan kayaknya sih enak buat kerjasama,..mereka juga udah tau kalo gw mo masuk hari ini.. Baru masuk, gw dikasi komputer yang buat public coz kayaknya semua kerjanya pake notebook, jadi gw pake kompi umum dulu. Dan bahagianya..tentu saja ada yahoomessanger..Hhehehe.. Tapi gw belum berani bukanya! Maybe tomorrow!
Bos-nya katanya lagi meeting di Jakarta, seminggu.. jadi yang ngajarin gw..yah orang2 yg ada itu, kayaknya sih seumuran.. (gak ada yg setua pak udin ato pak sapto di pejompongan *I miss them*) Di posisi gw ada 1 orang cowok namanya Wasi, tampangnya sih serius.. dia dari PBB juga, cuman gw gak tau lembaganya. Kayaknya sih job-nya lebih mirip ke swa deh…tapi disini ada yg ngumpulin data, gw bikin report ama analisis aja.. Jelas gak ada kerjaan ngecek meteran atu nambel pipa bocor. Hehehhe.. Orang2nya sepertinya juga lumayan bisa diajak begajulan ! Apakah aku akan memporakporandakan peraturan ?? Semoga !
Thanks God..moga2 gw gak homesick
Sementara itu..gw tetep nerima telpon dari orang palyja..yang mengabari berita macem2, dari barang gw yg ketinggalan, bapaknya si anu meninggal sampe anak pak anizar yang ikut sunatan massal !! serasa masih disana…
Ya sutra yg angels.. gw jam 4an mo pulang liat mess. Sekarang gw belum boleh, kudu nunggu abis jam kantor.. Besok mulai gawe,..masuknya jam 8.. sepertinya aku tidak lewat UKI.
Miss u all
Email ini masih dikirim buat GGJ….
—————————
what a small world
Dear Nenek2 Grondongs,..
5th Day di Aceh.. lumayan udah mengenal situasi..emang kerjanya lumayan berat, tapi kayaknya nyantainya juga banyak..secara semua pada YM-an gitu..sempet2nya masuk room segala..Skype juga, but gw belum berani, coz belum dapet notebook..gak enak aja.. Karena keseringan mati lampu (maklum energinya terbatas), makanya susah kalo di desktop, switch ke generator makan waktu 1-2 menit lagi. Karena itu, gw gak update nih infotainment (gak pernah nonton TV)..cuman tahu terakhir Kristina menggugat cerai suaminya. Heheheh..
Bos-nya aku belum ketemu neh, sampe today masih di Jkt, jadi yg ngasih gawe para senior2 gitu termasuk si Wasi. Kayaknya orangnya serius banget, tapi chat juga seh… Mungkin itulah satu-satunya hiburan disini. Ternyata kalo wik-en sepi, coz banyak yg pulang ke Jkt apalagi kalo bulan muda. So, besok gw di rumah aja deh,..karena gak ada temen juga kemana-mana..
Dannnnnnn.. salah satunya yg juga ada disini adalah kakak kelas masa lalu yg suram dan gelap gulita.. Tak sengaja ! OMG, ternyata dia sering dateng ke tempatku (tepatnya ruanganku), untuk report kegiatan NGO-nya. Dia kerja di NGO lingkungan gitu deh..dari dulu. Temen seruanganku cerita2 dan sengaja nyebut nama oknum itu sebagai salah satu yg sering mampir. Sebenernya sih gw udah tau dia disini dari milis, tapi gw pikir gak bakal ketemu-lah, secara gw juga males ketemu dan Aceh gak sekecil itu bukan ??!! … Huhh.. He’s the worst thing in my life! Sumpah mampus ! Nah, biar gak kaget kalo ketemuan, aku email aja dia duluan. Hehehhehe..Terakhir sekitar 3 bulan yg lalu sempet online sama dia dan katanya dia mo merit ama ce Aceh. Good-lah.
Oya, Anabella PPh itu 10% ya, bo ? Secara yah, waktu di Jkt gw kagak nanya juga who’s pay PPh itu, ternyata kita bayar sendiri, mana transfernya ke BRI pula…Emang sih akomodasi ditanggung (kecuali makan dan kebutuhan pribadi) tapi makan lumayan mahal disini. Trus orang sini kayaknya doyan makan. Makannya porsi kuli semua, sementara gw tetep porsi kucing. Heheheh..
Alhamdulillah temen2 disini baek2,gak banyak yg berubah karna semua juga datang dari Jakarta dan sekitarnya. Jadi gak berasa orang asing gitu.. Suka muter I’m sorry goodbye juga, ngomongin hal-hal gaul (padahal di aceh gak ada tempat gaul) Asyiklah..ketakutan yang bikin gw nervous 7 hari 7 malem sebelum kesini, tampaknya tak terbukti, secara dalam beberapa hal disini lebih maju dibanding palyja (hehehhehehh…)
Miss you all…
Beberapa tahun terakhir ini, situs jaringan social seperti Facebook, Twitter, MySpace, Linked atau pendahulunya Friendster seperti sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam keseharian masyarakat. Tidak hanya di kota besar, tapi juga sudah merambah ke daerah dimana telepon genggam dengan jaringan GPRS sudah hampir menjangkau hingga pelosok.
Facebook merupakan situs yang paling popular saat ini. Menurut data statistik yang dilansir CheckFacebook.com, jumlah pengguna Facebook di Indonesia telah masuk 10 besar jumlah pengguna Dalam hal persentase populasi online, Indonesia mencapai angka 23,8 persen. April 2010 pengguna Facebook di Indonesia mencapai 21.027.660 tumbuh tertinggi kedua di Asia setelah Malaysia serta melampaui pengguna Facebook di Turki selama bulan Maret 2010. Artinya, kurang lebih 23,8 persen dari total populasi penduduk di Indonesia telah terdaftar di Facebook. (Vivanews dan Wikipedia)
Besarnya pengguna jejaring ini membuka celah baru media pemasaran. Jika dulu masih konvensional kemudian berkembang menjadi online system dengan pengembangan software dan jaringan secara khusus, kini ada media yang berada di tengah-tengah yaitu situs jejaring sosial seperti facebook tersebut. Jika sebelumnya untuk membangun sistem penjualan online membutuhkan biaya yang mahal dan sistem yang mumpuni, kini siapapun bisa “jualan” melalui facebook. Tidak diperlukan keahlian TI yang canggih karena pada dasarnya media ini hanya menampilkan item barang yang dijual melalui foto maupun penyisipan link perusahaan pada berbagai aplikasinya.
Selain alasan di atas, tingkat akses ke situs ini yang sangat tinggi dan terus menerus mendorong aspek psikologis penggunanya untuk berbelanja. Pada umumnya barang yang dijual lebih bersifat ringan seperti pakaian, kebutuhan rumah tangga, mainan anak-anak hingga kosmetik. Yang lebih memudahkan lagi, saat ini belum ada ketentuan perpajakan untuk penggunaan media ini.
Ada beberapa trik yang bisa dijalankan agar facebook sebagai media promosi menjadi maksimal. (http://jangandibaca.blogsome.com/)
- Perbanyak teman di facebook anda, kenapa karena dengan semakin banyak teman otomatis yang melihat produk anda pun semakin banyak
- Ikut dengan banyak group facebook yang berhubungan dengan produk anda, misal produk anda tentang kerajinan tangan coba anda cari group facebook yang membicarakan tentang kerajinan tangan. Tidak menutup kemungkinan anda ikut group lain yang tidak berhubungan dengan produk anda, dengan ikutan group sebanyak banyak nya otomatis bisa ketemuan dengan banyak orang.
- Upload gambar produk anda di Photo Album facebook anda dan beri keterangan tentang produk anda sampai dengan harganya
Jika tidak cukup dengan tips diatas, kini sudah ada beberapa aplikasi gratis yang khusus digunakan untuk kegiatan promosi maupun marketing melalui facebook yang bisa ditelusuri dengan mesin pencari.
Wikipedia :
Applications Architecture
is the science and art of ensuring the suite of applications being used by an organization to create the composite application is scalable, reliable, available and manageable. One not only needs to understand and manage the dynamics of the functionalities the composite application is implementing but also help formulate the deployment strategy and keep an eye out for technological risks that could jeopardize the growth and/or operations of the organization.
Enterprise architecture (EA)
is a rigorous description of the structure of an enterprise, its decomposition into subsystems, the relationships between the subsystems, the relationships with the external environment, the terminology to use, and the guiding principles for the design and evolution of an enterprise This description is comprehensive, including enterprise goals, business functions, business process, roles, organisational structures, business information, software applications and computer systems. Practitioners of EA call themselves “enterprise architects.” An enterprise architect is a person responsible for developing the enterprise architecture and is often called upon to draw conclusions from it. By producing an enterprise architecture, architects are providing a tool for identifying opportunities to improve the enterprise, in a manner that more effectively and efficiently pursues its purpose.
Service-Oriented Architecture (SOA)
is a flexible set of design principles used during the ases of systems development and integration. A deployed SOA-based architecture will provide a loosely-integrated suite of services that can be used within multiple business domains. SOA also generally provides a way for consumers of services, such as web-based applications, to be aware of available SOA-based services. For example, several disparate departments within a company may develop and deploy SOA services in different implementation languages; their respective clients will benefit from a well understood, well defined interface to access them. XML is commonly used for interfacing with SOA services, though this is not required. SOA defines how to integrate widely disparate applications for a world that is Web based and uses multiple implementation platforms. Rather than defining an API, SOA defines the interface in terms of protocols and functionality. An endpoint is the entry point for such an SOA implementation. Service-orientation requires loose coupling of services with operating systems, and other technologies that underlie applications. SOA separates functions into distinct units, or services[1], which developers make accessible over a network in order to allow users to combine and reuse them in the production of applications. These services and their corresponding consumers communicate with each other by passing data in a well-defined, shared format, or by coordinating an activity between two or more services
Jaman kuliah dulu, di salah satu mata kuliah ada materi dengan studi kasus yang membandingkan kemajuan antara India dan Indonesia pada akhir tahun 1980-an. Ternyata dilihat dari berbagai sisi, negara tercinta ini konon banyak memiliki keunggulan dibandingkan India. Sayangnya komparasi itu tidak menyebutkan bahwa dalam soal perfilm-an, India tetap lebih unggul bahkan hingga kini.
Cerita punya cerita, tiga hari berturut-turut aku nangkring di 21. Hari pertama, memuaskan rasa penasaran akan film Arisan Berondong, Meski mendapat caci maki dari teman teman yang underestimate sama film Indonesia, aku toh enjoy banget.. Yah, filmnya sih gak terlalu istimewa, tapi lumayanlah untuk hiburan film sekali lewat buat ketawaan tanpa menguras emosi. Kalau ditanya hikmah moralnya…ada sih,..tapi gak banyak… hihihi. Hari ke-2, diajak temen nonton film Bollywood bertajuk : 3Idiots. Walah..setelah film Slumdog Millionaire, sumpahhhhhh, ini film India terkeren yang pernah gw nonton (secara gw jarang banget nonton India). Hari ke-3 aku dibuat lebih ternganga dengan lagi lagi film dari negeri Hindustan berjudul; My Name Is Khan, kisah seorang imigram muslim asal India di Amerika yang memperjuangkan martabatnya sebagai seorang muslim dan bukan teroris seperti yang banyak dituduhkan masyarakat barat.
Film pertama, 3 Idiots menceritakan persahabatan tiga anak muda, Farhan (R. Madhavan), Raju (Sharman Joshi) dan Rancho (Aamir Khan) yang penuh suka duka, pengorbanan dan perjuangan serta usaha mencapai cita cita mereka. Dengan alur cerita yang bolak balik, film ini enak dinikmati. Konon di India, ada sebuah tradisi bahwa setiap anak yang baru lahir akan langsung dicap untuk memiliki status. Jika anak laki-laki, maka ia harus menjadi insinyur, sementara jika anak perempuan harus menjadi seorang dokter. Untuk itu, sang orangtua bisa mengorbankan segalanya untuk pendidikan si anak. Dikisahkan ada tiga siswa cerdas yakni Farhan (R. Madhavan), Raju (Sharman Joshi) dan Rancho (Aamir Khan) yang menyadari bahwa masa depan mereka tidak benar-benar tertulis dalam buku-buku teknik. Mereka menyadari bahwa masa depan yang cerah tidak selalu harus menjadi seorang insinyur. Namun apa mau dikata, menolak keinginan orang tua merupakan satu hal yang nyaris mustahil. Penonton juga dibuat penasaran, karena hanya latar belakang keluarga Raju dan Farhan yang banyak diceritakan di awal dan pertengahan film. Latar belakang siapa dan bagaimana Rancho -yang menjadi tokoh sentral- justru menjadi titik kulminasi cerita yang disajikan dengan apik. Meskipun di menit menit terakhir, nuansa “India-nya” sangat terasa, film karya sutradara Rajkumar Hirani ini boleh dikatakan penuh dengan pesan moral, terutama di dunia pendidikan.
Nah, yang namanya film India, gak mungkinlah kalo gak ada yang namanya nyanyi dan joget joget, hanya sekarang bedanya, joget joget gak perlu tiang atau pohon seperti dulu. Toilet dan tong bekas pun bisa jadi tempat joget. Seru! Untuk yang gampang terharu, tidak ada salahnya menyiapkan tissue untuk menyeka air mata. Perjalanan tiga sahabat tersebut mencapai puncak diwarnai dengan perjuangan yang tidak kenal menyerah. Mendobrak pakem-pakem yang ada, menantang bahaya , melewati berbagai keterbatasan namun tetap dengan semangat cinta kasih sesama manusia.
Sementara itu, My name is Khan benar benar satu film yang layak ditonton apalagi buat orang yang mengaku dirinya muslim. Bagaimana tidak, seorang Khan yang dalam film itu diperankan oleh Shah Rukh Khan yang punya keterbatasan fisik (menderita semacam syndrome dan autism) punya semangat yang demikian besar untuk membuktikan bahwa Islam itu adalah agama damai dan bukan teroris. Dengan mengambil lokasi dia Amerika Serikat yang konon sangat membenci teroris, tentu saja itu bukan perjuangan yang mudah. Memang Rizvan Khan melakukan itu untuk menepati janji kepada Mandira (Kajol) istri yang sangat dicintainya untuk berbicara kepada seluruh masyarakat dan jika perlu kepada Presiden Amerika. Disinilah kisah ini dimulai, menggunakan tagline: My name is Khan..and I am not a terrorist, penonton dibuat terharu dengan perjuangan laki laki yang berasal dari keluarga miskin di India sana. Akhirnya Khan memang berhasil menyelesaikan perjuangannya. Meski harus hidup di jalanan berbulan bulan lamanya, namun dalam disitulah, Khan membuktikan bahwa ia dan Islam agamanya adalah pencinta damai dan penyayang bagi sesama umat manusia tanpa memandang perbedaan keyakinan , suku, ras dan perbedaan perbedaan lain.
Film yang satu ini, nyaris tanpa joget dan bernyanyi ala India, tapi memang ada bagian akhir tatkala Khan menolong musibah kebanjiran yang terlihat agak berlebihan, tapi semua itu tertutupi dengan alur cerita dan ending yang sangat mengharukan. So, nonton India ?? Siapa Takut ?!!
Dimasa pengangguran saat ini, ternyata banyak sekali hikmah yang aku dapat. Selain bisa bangun siang dan bermalas-malasan (loh..ini mah “hikmah” buruk ya…) jadi punya banyak banget waktu untuk “bersilaturahmi” dengan teman teman. Akibatnya profesi pengangguran agak naik dikit menjadi konsultan per-curhat-an. Padahal, sebelumnya aku tuh termasuk kategori orang yang demen curhat..dimana mana curhat. Tapi kini, justru jadi tempat curhatan orang, meski sebenernya dari jaman kuliah dulu “profesi” ini sempat aku rintis, walau kemudian terhalang karena menjadi pekerja kantoran. 😀 . Dan ternyataaaaa…hikmah terbaiknya adalah, dari curhatan curhatan para sahabat itu, aku justru menemukan jawaban atas hampir semua problema-ku yang sering aku curhatkan sebelumnya. Ternyata emang masalah hidup itu muter muter disana ajah.. Alhamdulillah, dari cuman ngobrol ngobrol yang kesannya gak jelas, justru melahirkan makna bersyukur yang lebih indah.
Materi curhatnya sebenernya gak ada baru, seputar keluarga, pekerjaan dan yang paling mendominasi tentu saja masalah percintaan. Hemm…yang ini nih, rumit rumit sepele, mudah mudah gampang. Ada temen yang terobsesi sama masa lalu suaminya, masalah perselingkuhan, masalah pacar yang belum disetujui orang tua, KDRT, pacar yang super sibuk, HTS, hubungan terlarang, hunting cewek gak dapet dapet, ditinggalin tanpa pesan, pernikahan diam-diam, suami yang punya WIL, sampe urusan kekerasan yang pake acara lapor polisi… Wuihh, kalo diwakilkan ke lagu, pasti setiap cerita ada lagunya.
Disadari atau tidak banyak diantaranya yang menyebabkan sendiri masalah masalah itu terjadi, tapi aku sama sekali tidak pernah men-judge kalau yang sudah terjadi adalah kesalahan mereka. Kucoba membayangkan seandainya ada di posisi itu, bisa jadi kita juga akan melakukan hal yang sama. Sekarang kita mencoba melihat dari sisi lain untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Memang melakukan tidak segampang teori-nya. Sama seperti diri sendiri, untuk menuntaskan satu masalah terkadang kita butuh waktu yang tidak sebentar dan dalam perjalanan kesana, up and down sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Lepas dari itu, sebagian besar sharing dan curhat ini sesungguhnya hanya sebagai pengukuhan bahwa kita sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri, perlu teman dan tempat untuk berbagi. Sebagai manusia dewasa, pada dasarnya kita sendiri sudah tahu apa yang harus dilakukan dalam menghadapi masalah yang terjadi,…tapi yaa itu tadi, ada kebutuhan untuk didengarkan dan diperhatikan. Karena itulah, jika ada sahabat yang curhat,..aku tidak memaksakan diri untuk memberikan saran kalau memang tidak bisa,..toh,..mereka hanya butuh teman untuk berbagi perasaan .
Waduh,..kalo buka biro konsultan percurhatan kira-kira laku gak ya ??!!





