Adakah cinta pada pandangan pertama? Dulu saya yakin 100% itu tidak ada. Bagi saya cinta itu merupakan sebuah rangkaian, bagaimana bisa suka apalagi cinta kalau cuma melihat sekelebat. Menurut saya, cinta pada pandangan pertama hanya merupakan proses visual sementara cinta sebenarnya  perlu “bukan hanya sekedar apa yang kelihatan oleh mata” Ok, ok..jangan di-argue ya.. kan semua orang sah sah saja memiliki pendapat yang berbeda.

Gara-gara baca buku dan nonton film Critical Eleven, opini saya tadi tiba-tiba sedikit berubah. Kata buku itu, dalam dunia penerbangan, ada istilah critical eleven yaitu sebelas menit paling kritis di dalam pesawat – tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Alasannya, secara statistik 80% kecelakaan pesawat terjadi dalam rentang waktu sebelas menit tersebut. Ternyata itu bisa dianalogikan pula dengan pertemuan kita dengan seseorang. Tiga menit pertama merupakan titik kritis, karena disitulah kesan pertama terbentuk. Kemudian ada delapan menit sebelum berpisah, dimana ekspresi dan sikap orang tersebut akan jadi pertanda apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah merupakan pertemuan yang pertama dan terakhir.

Saya tidak akan menganalogikan 11 menit pada pertemuan dengan seseorang merupakan pertanda dari ada tidaknya cinta pada pandangan pertama. Bukan! Beneran bukan! Tapi saya mencoba menarik benang merah dari pengalaman jatuh cinta saya sampai akhirnya nekad (baca: iseng) menulis artikel ini . Ciyeee.

Jadi gini, bagi saya cinta pada pandangan pertama itu ibarat sebuah kebohongan besar. Tapi saya (mungkin juga kamu) sering lupa bahwa selalu ada kesan yang terbentuk dari pertemuan pertama.

Tidak selalu kesan yang manis, imut, lucu, baik, ganteng, sopan, menarik atau apalah yang bagus-bagus lainnya. Bisa juga kesan, seperti “duh, ini cowok jutek amat jadi laki” atau “hmm…gak banget deh nih orang”, atau “yah, kayaknya oke juga nih orang, tapi kok tengil banget mentang-mentang keren”.

Persepti seperti itu tanpa sadar tersimpan di kepala hingga cukup lama, meskipun mungkin beberapa waktu setelah itu, tidak lagi bertemu orang yang dimaksud. Eh, tapi siapa sangka kesan-kesan itu akhirnya nempel di memori otak dan melahirkan “kekuatan” tersendiri yang bisa jadi justru membuat kita ingin mengenal dia lebih jauh. Kemudian semua berjalan begitu saja, ada dorongan yang secara biologis memancing hormon-hormon untuk bergerak ke arah yang lebih jauh. Menurut saya, itu adalah “chemistry” yang memang sudah Tuhan ciptakan buat kita. Jangan dibantah, itu takdir!

love-at-first-sight_100286346

Pada pertemuan pertama, syaraf-syaraf otak sudah bergerak menumbuhkan rasa “ketertarikan”, makanya ada kesan tercipta otomotis. Ingat, “ketertarikan disini tidak seujug-ujug berarti: “I want to stay with you”. Sederhananya begini; kalau kita sampai bisa menyimpulkan karakter orang yang kita jumpai hanya dalam beberapa menit saja, artinya otak bekerja lebih keras mencari sesuatu tentang dirinya dalam waktu yang singkat itu. Nah, otak yang bekerja lebih keras tadi, sejatinya memang pertanda yang semesta kirim ke kita. Kamu percaya kan, kita terkadang memang tidak bisa memilih dengan siapa kita harus jatuh cinta? #uhuy. Kalau alam tidak memberikan sinyal, artinya otak juga diem-diem aja makan gaji buta dan akhirnya kita cuma bisa bilang: Ah, biasa saja atau hmm, standar aja nih orang, dan atau sejenisnya.

Memang kesimpulan dari kesan tadi, sifatnya sangat prematur, tapi itulah yang menjadi bekal kita untuk melangkah ke depan. Misal kesan pertama tentang dia adalah : memang jutek orangnya, memang tengil, memang cuek. Eh, ternyata itulah sisi-sisi dari dirinya yang membuat kita tanpa sadar (TANPA SADAR) memberinya ruangan dalam memori kita yang kemudian bisa tumbuh dan berkembang jadi cinta. Eh…ini beneran, coba kalian cek lagi pengalaman pribadi masing-masing. Atau yang lebih ekstrim, kita mungkin bisa total benci maksimal sama seseorang, ini bisa jadi lebih gawat. Kata orang, jangan terlalu benci nanti jadinya suka. Bener banget sih, soalnya benci dan suka kan bedanya tipis banget. Setipis kain kelambu. Hehehe..

Hmm, kok saya bisa-biasanya sok biologis bin psikologis ngomong begini ya? Tapi percayalah: nothing beat experiences. Orang-orang yang pernah mengisi hati saya (#eaaa) semuanya adalah mereka yang SELURUHNYA tidak memberi kesan menyenangkan saat pertemuan pertama. Dan saya juga percaya, sebagian besar dari kita pasti mengingat pertemuan pertama dengan orang-orang yang pernah (atau masih ada di hati). Mau langsung suka, atau tidak suka, semuanya selalu tersimpan rapih di memori masing-masing. Iya, kan? Dan harus diakui sebenarnya itu adalah asal muasal cinta. Iya, kan?

So, do you believe in love at first sight?

Hits: 2572

Would you like to eat, madam? We have chicken with rice and beef with potatos…

Belum sempat saya menjawab, pramugari cantik itu meralat: Oh, I think you’d better get moslem meal? We have that one too..

Ok, moslem meal, please ..

Saya tidak tahu ini makan malam, makan siang atau mungkin sarapan. Perpindahan waktu yang begitu cepat dari benua Amerika menuju benua Asia terkadang membuat disorientasi waktu terjadi. Jendela pesawat masih tertutup rapat, mungkin dimaksudkan agar penumpang juga tidak bingung ini siang atau malam. Karena masih kenyang, santapan itu tidak saya habiskan. Belum lagi moslem meal yang disajikan sangat otentik Timur Tengah lengkap dengan bumbu rempah menyengat dan porsi yang cukup besar.

IMG20170223032926

Saya mencoba memanjangkan kaki, mengurangi rasa pegal yang mulai menyerang. Lama dan sungguh perjalanan yang melelahkan. Layar monitor sekaligus pusat hiburan di depan saya menunjukkan masih tersisa 8 jam 40 menit lagi di perjalanan ini. Artinya baru kurang dari sepertiga periode terlalui dari total waktu 12 jam 45 menit penerbangan. Masih jauh, pikir saya. Namun setahun yang lalu saya pernah menempuh penerbangan selama 17 jam nonstop dari Los Angeles menuju Riyadh di Arab Saudi. Katanya itu adalah salah satu rute pesawat terpanjang di dunia. Jadi, perjalanan kali ini belum apa-apa dibandingkan tahun lalu.

Beberapa penumpang nampak masih menghabiskan hidangan, sementara para awak kabin mulai masih meneruskan melayani penumpang. Sesaat kemudian, lampu sabuk pengaman mendadak menyala. Kapten pilot meminta seluruh penumpang untuk kembali ke tempat duduknya. Saya masih santai, sesuatu yang sangat biasa terjadi di sebuah penerbangan. Tiba tiba seluruh awak pesawat berlari-lari kecil ke bagian belakang pesawat, menyusul pengumuman tambahan dari Kokpit, untuk menghentikan seluruh pelayanan karena turbulensi yang semakin kencang. 

Cepat-cepat saya menegakkan sandaran kursi, guncangan yang sangat keras membuat saya harus menutup laptop mini saya. Entah kenapa tiba-tiba kecemasan menelusup ke sendi sendi tubuh. Saya mencoba memejamkan mata, sembari kedua tangan berpegang kuat pada sandarannya. Guncangan kian kencang, terasa sekali pesawat terhempas ke bawah berkali kali. Untung saja masker oksigen belum meluncur dari posisinya. Tak berapa lama dari balik kemudi kapten pesawat memohon maaf atas ketidaknyamanan yang diprediksi akan berlangsung selama satu jam ke depan. “We do ensure that everything is under control”, ujarnya.

IMG20170224044729

Badan ini seperti membeku, entah berapa banyak doa yang tiba-tiba begitu saja meluncur. Dalam keremangan kabin, beberapa penumpang terlihat tegang, beberapa diantaranya masih tertidur atau berusaha tidur. Begitu saja termemori beberapa kejadian di kepala saya. Sepuluh tahun lalu dalam sebuah penerbangan Jakarta-Makassar, pesawat saya terpaksa mendarat di Bandara Ngurah Rai. Cuaca sangat buruk, membuat penerbangan tidak memungkinkan untuk dilanjutkan. Lima tahun lalu, pesawat saya menuju Aceh terpaksa kembali ke Jakarta, akibat ada salah satu bagian pesawat yang tidak berfungsi. Kami pun terpaksa mendarat di luar landasan pacu Bandara Soekarno Hatta, disambut puluhan pemadam kebakaran dan ambulans. Saya tidak ingat dengan pasti perasaan saya di dua peristiwa itu, namun kecemasannya mungkin tidak sekuat kali ini.

Turbulensi kian kencang. Entah kenapa begitu saja muncul pikiran, bisa jadi ini adalah akhir hidup saya. Mungkin, sangat mungkin. Terlintas apa saja yang sudah saya siapkan untuk pindah ke dunia yang berbeda? Ibadah sepertinya belum banyak peningkatan, berbuat baik untuk sesama juga masih di derajat yang seperti dulu. Terbayang satu-satu wajah orang-orang di sekeliling saya. Keluarga yang penuh cinta, sahabat-sahabat yang selalu menanyakan kapan saya kembali, relasi yang sudah menunggu dengan setumpuk pekerjaan dan semuanya.

Apa yang akan mereka kenang dari saya? Beberapa menit ke depan mungkin saya akan hilang. Samudera atlantik biru pekat kehitaman ribuan mil di bawah sana menanti saya. Apakah saya juga akan hilang dari ingatan mereka? Rasanya Saya belum berarti apa-apa. Rasanya Saya belum banyak berbuat kebaikan. Rasanya saya belum banyak bermanfaat untuk mereka. “Ah, tenang.. sepertinya tidak perlu khawatir, saya toh menumpang salah satu maskapai terbaik di dunia dengan tingkat keamanan nomor satu”

Sloppp…tiba-tiba pesawat turun drastis dari posisinya. Saya tersentak. Ternyata Ini bukan masalah saya menumpang pesawat terbaik di dunia, bukan masalah teknologi paling canggih yang digunakan di burung besi bermerek terkenal yang katanya nyaris tanpa histori kecelakaan. Tapi ini urusan nyawa, bahwa semua bisa diambil Tuhan kapan saja Ia berkendak. Mungkinkah Ia menghendaki Saya sekarang?!

Ya, Tuhan…darah saya tiba-tiba berdesir, saya lupa apa yang sudah saya siapkan untuk “masa depan’ saya. Amalan baik? Mana?! Saya juga tidak yakin dengan ibadah Saya. Ya, Allah tolong.. saya tidak tahu lagi kemana meminta pertolongan. Mungkin inilah masa dimana saya menyerahkan seluruhnya kepadaMu. Seluruhnya. Saya sungguh tidak tahu lagi.  

Dalam masa-masa yang mendebarkan itu, entah doa apa saja yang sudah saya lantunkan. Saya coba pejamkan mata, apa yang akan terjadi, terjadilah. Inilah titik terendah kepasrahan saya kepadaMu, sang pencipta.

Kemudian hening, guncangan terasa mulai mereda. Pelan tapi pasti pesawat makin seimbang. Beberapa menit kemudian, Pilot memberikan instruksi kepada awak kabin dan semua kembali normal.

Saya berucap syukur. Dua puluh menit mencekam yang baru berlalu membuat saya makin menyadari tipisnya jarak antara hidup dan mati. Akhirat sejatinya ada di depan mata kita, semua bisa mati dimana pun kapan pun dengan cara apapun. Maka… Tuhan, ampuni kami….

Incheon Airport, 23 Februari 2017

 

Hits: 5109

Kalau dipikir-pikir banyak yang lucu dalam hidup saya. Semua seperti sebuah kebetulan, tepatnya kebetulan yang membawa berkah. Ya, mungkin hidup saya tidak tertata apik seperti sekelompok orang. Padahal, sebagai seorang yang cukup well educated, hidup saya itu seharusnya lurus-lurus saja. Sekolah, kuliah, bekerja, punya karir yang menanjak terus, menikah lalu pensiun dengan bahagia. Dan saya yakin 80% orang di dunia ini menghendaki proses yang demikian. Tapi, saya beda (dan pasti bukan saya saja), karena hidup saya selalu penuh kejutan dan mungkin kebetulan. Eh, tapi apa bener semua itu serba kebetulan? Katanya selembar daun yang jatuh pun Tuhan tahu, jadi apa benar semua ini kebetulan?!

Titik balik kehidupan saya, adalah saat saya nekad pindah ke Aceh pada 2007. Menerima tawaran pekerjaan yang tidak pernah saya duga apalagi inginkan. Pindah ke daerah yang sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya. Boro-boro sampai di ujung Sumatera yang baru saja dilanda tsunami besar, daerah konflik perang dan memiliki budaya yang saya sungguh tidak paham sebelumnya,- kerja di luar Jakarta pun tidak pernah ada dalam benak saya. Meskipun waktu itu saya galau dan gamang cukup lama untuk memutuskan, akhirnya berangkat juga. Entah angin dan inspirasi apa yang membawa ke keputusan itu. Padahal di Jakarta, saya bekerja di perusahaan cukup besar dan menjanjikan karir manis manja. Ah, mungkin kebetulan? Entahlah, namun Aceh adalah turning point terpenting bagi saya dan kehidupan setelah itu. Makanya, jangan heran di blog ini selalu ada bagian khusus buat Aceh.

Aceh membawa banyak perubahan paradigma dalam diri Saya. Paradigma tentang hidup, kehidupan spritual, kedewasaan berpikir, memberi cerita cinta (accidently in love..hmm..), jatuh bangun, susah senang dan tentu saja menjadi bagian terbesar dalam lika liku pekerjaan saya. Lebih luas lagi, dari Aceh-lah saya menemukan sahabat-sahabat terbaik sebagai keluarga baru yang akan selalu dan selamanya ada di kehidupan saya. Tidak itu saja, dalam kehidupan sehari-hari, Aceh pun memberi pengaruh besar, sampai-sampai minum kopi pun saya belajar dari Aceh. Asal tahu saja, dulunya saya anti dengan kopi. Bisa gemetar seharian kalau minum secangkir kopi.

Blog yang saat ini kalian baca pun adalah buah dari saya bekerja di Aceh. Begitu banyak cerita yang ingin saya tuliskan hingga akhirnya saya belajar teknologi internet dan mulai menulis online. Gara-gara itu, selepas Aceh saya nekad lagi mengambil Magister Manajemen Sistem Informasi. Jauhhh sekali dari S1 saya di Fakultas Perikanan dan Kelautan. Dan tau gak sih, gara-gara blog ini lah, beberapa tahun terakhir hidup saya juga mulai bergeser. Kok bisa? Lanjut baca dulu ya…

Setelah dari Aceh saya sempat merasakan bekerja di Istana Kepresidenan di masa Presiden SBY. Lagi-lagi bisa masuk ke pusat pemerintahan ini karena jaringan dari pekerjaan di Aceh. Awalnya saya tidak nyaman disini, bekerja dengan pelajaran tambahan ilmu politik, pemerintahan dan birokrasi yang dulu sangat sangat saya benci. Namun semua berjalan sebaliknya, saya mulai mengenal birokrasi, punya hubungan baik dengan banyak Pemda dan mulai merasa saya harus punya kontribusi bagi negara ini bukan cuma mencaci maki Pemerintah. Mungkin cuma kebetulan. Eh, tapi apa ini kebetulan juga atau tidak, ternyata pengetahuan dan jaringan dari sanalah yang kemudian membuka jalan saya ke dunia yang sekarang.  

 

Setelah dari Istana, saya sempat “mampir”  dengan mudah ke sebuah bank terbesar di tanah air. Lagi-lagi kok bisa? Bisalah, soalnya yang merekomendasikan juga salah satu atasan saya di Aceh dulu. Tidak merasa berkembang di disana saya nekad lagi, keluar dari karyawan bank yang hidupnya sangat rapih dan tertata apik. Pergi pagi, pulang menjelang malam rutin selama lima hari dalam seminggu. Itu tentu saja belum termasuk lembur-lembur cantik hingga malam atau hari libur. Banyak yang bertanya, kenapa saya mau masuk ke bank yang penuh rutinitas (menjemukan). Hemmm, jawabnya; saya ingin hidup saya (kembali) seperti orang pada umumnya. Bekerja di perusahaan besar, gaji lumayan, semua ditanggung dan kemudian pensiun dengan damai. Tapi akhirnya, saya berani juga (menurut sebagian orang super berani), keluar dari zona super nyaman (yang sebenarnya tidak nyaman), cuma bermodal menulis blog saja dasarnya!

Ya, akhirnya dari blog yang saya kenal tak sengaja di Aceh, saya melanjutkan S2 di bidang yang sesuai. Dari sini saya kenal banyak orang, belajar banyak ilmu baru dan ternyata semua pada akhirnya bisa saya kombinasikan dengan pengalaman-pengalaman “kebetulan” saya yang lain.  Singkat cerita, jadilah saya dan beberapa teman merintis Kamadigital.com. Sebuah start up yang misinya ingin membantu stakeholders pariwisata nasional khususnya Pemerintah Daerah mempromosikan potensi wisatanya dalam format-format digital. Kenapa sasarannya Pemda saat banyak orang menghindari berurusan dengan pemerintah? Nah disitulah peluangnya! Jujur, Saya tidak punya ilmunya, semua berjalan sendiri. Modal dasar kenal banyak orang, senang dan mau membantu pengembangan pariwisata lokal dan sedikit tahu birokrasi pemerintah (gara-gara pernah bergulat dengan Pemda di pekerjaan sebelumnya) yang selama ini justru banyak dijauhi pekerja seperti saya.

Senangnya lagi, saat ini saya bekerja sama dengan teman-teman sejiwa yang asyik. Tidak mungkin kan saya bekerja sendiri. Dan semuanya adalah teman-teman yang bertemu kebetulan. Kebetulan kenal dari teman, kebetulan saya nonton tayangan youtube-nya. Kebetulan kenal di sebuah acara, dan kebetulan-kebetulan lain yang sama sekali tidak pernah saya duga. Seperti jodoh bukan dijodohkan, semua mengalir begitu saja.

Betul, ini memang belum apa-apa. Di depan perjuangan hidup masih panjang. Tantangan masih menghadang. Tapi saya yakin, masih ada “kebetulan kebetulan” lain yang luar biasa.  Kita memang bisa mengatur dan merencanakan hidup ini dengan cara terbaik, tetapi jangan terlalu  ketat juga seperti absen kantor. Banyak hal yang bisa dibiarkan berjalan mengalir seperti air sungai yang ujungnya bermuara ke laut. Pasti.

Hits: 803

Makin sering jalan dan bertemu berbagai tipe orang, akhirnya saya bisa mengelompokkan beberapa tipe-tipe teman seperjalanan. Nah, kamu masuk tipe yang mana yaa?!

1. Tipe tertib administrasi

Teman tipe ini adalah paling yang rajin mencatat, semua dicatat. Pengeluaran setiap hari dibukukan secara rinci, sangat patuh dengan itinerary dan tidak boleh telat sedikit pun. Baiknya, mahluk seperti ini bisa jadi jam weker dengan bertugas mengingatkan anggota rombongan yang lelet atau santainya kebangetan. Cuma yang membuat males dari golongan ini, adalah kadang liburan menjadi tidak ubahnya seperti harus ngantor dan ngabsen sidik jari. Menegangkan! Semua seperti terburu-buru, kayak ada deadline yang ditungguin bos killer. Yah, namanya juga liburan sih ya.. tapi kalau sudah terlalu ketat waktunya, gimana bisa dinikmati, kan? Untuk mensiasati hal yang begini, buatlah itinerary dengan skedul yang sedikit longgar. Toh, liburan itu memang masa santai, kan?

Sebagai blogger, saya lebih senang liburan yang waktunya leluasa, bisa mengamati lingkungan baru, mengamati kehidupan masyarakat lokal dan menikmati makanannya dengan santai. Semuanya tentu saja buat bahan nulis blog!

sumber: www.theberry.com
sumber: www.theberry.com

2. Tipe rempong sendiri

Tipe ini ditandai dengan kemana-mana pergi, bawaannya selalu banyak. Pakaian hingga beberapa pasang, padahal perginya cuma dua hari. Bajunya gak bisa kotor dikit, baju basah dikit harus ganti yang baru. Kalau ikutan wisata alam di ruang terbuka, bisa jadi ia tidak nyaman. Apalagi kalau harus tinggal di homestay yang tidur barengan dengan berbagai model peserta open trip. Bahkan ada temen saya, yang tidak bisa tidur jika tidak menggunakan seprei yang dibawa dari rumah. Kebayang kan?! Kalau nginepnya di hotel yang bagus sih, oke ya.. tapi kalau jalan-jalan yang harus sharing dengan banyak orang?!..

Memang sih, kita tidak direpotkan secara langsung, karena dia melakukan sendiri semuanya, tetapi kondisi begini sungguh-sungguh bikin kita gemess sendiri. Saat mau santai-santai, rasanya tidak afdol kalau ada teman yang masih heboh sendiri dengan dirinya dan barang bawaannya. Orang seperti ini cocoknya memang liburan syantik ala Syahrini. Basah-basahan di laut, atau becek-becekan di sawah?! Pasti gak banget deh!

sumber:  blog.virtuoso.com/
sumber: blog.virtuoso.com/

Positifnya punya temen yang kayak gini, biasanya punya perlengkapan tempur lengkap. Mulai dari obat sakit gigi hingga obat kolesterol, semua dibawa. Lumayan, ada fungsi jaga-jaga kan?

3. Tipe traveler checklist

Hayo, siapa yang masuk tipe ini? Ciri-cirinya adalah kemana pun pokoknya harus mampir foto di setiap tempat. Dan yang penting cuma fotonya aja! Foto tok! Gak perlu lama-lama, gak perlu tau itu tempat apa, gak perlu menikmati semua atmosfer. Pokoknya setelah kelar foto, ya udah…cuss! Biasanya traveler seperti ini hanya ingin memenuhi ibadah update sosmed ajah. Hehehhe. Eh, ngomong-ngomong kalau waktunya mepet, saya juga sering sih begini..:D Hehehe..

sumber: www.123rf.com
sumber: www.123rf.com

4. Tipe yang penting gaya dulu

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah pergi dengan rombongan open trip yang terdiri dari sekelompok cewek-cewek keren. Sejak ketemu di bandara, saya sudah keder sendiri soalnya perlengkapan mereka lengkap banget. Ranselnya saja keluaran merek terkenal yang memang ditujukan untuk backpacker-an. Sementara saya, cuma bawa tas batik tentengan beli di Malioboro yang harganya tidak lebih dari 80 ribuan. Cewek-cewek ini juga membawa perlengkapan snorkeling yang lengkap dan tentu saja muaahalll. Intinya, gaya mereka sungguh menyakinkan sebagai petualang alam. Belum lagi outfit-nya, memang khusus buat traveling jauh. Mantep banget dah! Sementara saya, senengnya bawa rok bunga-bunga yang murah meriah biar bisa foto ala-ala princess gitu! :p

sumber: www.emaze.com
sumber: www.emaze.com

Ini namanya bener-bener dont judge a book by its cover! Tiba di tempat tujuan yang luar biasa indahnya, saya pikir mereka akan langsung nyebur dengan perlengkapan snorkeling yang super keren itu. Ternyata.. (hahahaha…) boro-boro!! Mereka lebih banyak berdiam di tepi pantai dan diatas kapal, kelihatan ragu-ragu untuk terjun ke laut. Olala, ternyata takut untuk nyebur! Padahal, tempatnya landai sekali dan memang untuk pemula. Pelampung pun sudah disiapkan oleh operator trip. Akhirnya sih, mereka nyebur juga (mungkin setelah baca doa berkali-kali) itu pun didampingi oleh seorang guide. Selama menunggu keberanian mereka, malah saya dan teman lain yang mencoba perlengkapan mereka, hehehe.. Makasih, ya mbak…

5. Tipe gak bisa moto, tapi doyan difoto!

Ada yang bilang, hindari bepergian dengan orang yang gak bisa moto! Huaaaa…bener banget sih sebenernya. Apalagi buat blogger, kayak saya. Kenapa? Karena saya ini blogger malas mencatat, jadi hampir setiap sepuluh langkah saya mampir berfoto. Nantinya, foto-foto itulah yang menjadi bahan tulisan saya. Dulu sih, waktu belum  jalan-jalan sekerap sekarang, saya juga guoblokk banget kalau ambil foto. Sekarang juga belum jago-jago amat, tapi setidaknya jauh lebih baik daripada dulu. Dari traveling-lah, saya belajar. Mengambil foto atau difoto itu masalah kebiasaan kok! Bukan masalah kamu lebih dominan pake otak kiri atau otak kanan.

Kalau kita sering jalan-jalan, otomatis taste kita meningkat dengan sendirinya kok. Foto yang baik adalah foto yang bisa bercerita, tanpa harus ditulis denga caption yang banyak. Foto-foto yang keren juga bikin nilai jual kita di sosmed naik. Eh, jangan mikir miring dulu loh! Positifnya, kalau kita jalan-jalan di negeri sendiri, foto yang keren bisa membantu mempromosikan daerah yang kita kunjungi! Beramal buat negara, boleh dong…

sumber:  www.123rf.com
sumber: www.123rf.com

Nah, paling menyebalkan adalah jalan-jalan sama orang yang doyannya difoto tapi gak bisa moto. Ini pernah banged saya temui di beberapa perjalanan. Akhirnya, saya seringgg banget jadi tukang foto, tapi foto saya nyaris gak ada! Belum lagi, ada golongan yang sukanya difoto, dimana mukanya muncul lebih dari 70% di frame. Masih musim ya, gitu? Fokusnya bukannya lokasi yang kita kunjungi?! Kalo di setiap foto muka lo semua,..hhmm…mending bikin foto KTP aja kali yee…

Oke, segitu dulu… jangan marah yaa..kalau ada yang merasa. *nyengir…

 

 

Sumber featured image: https://blog.rentini.com/2013/05/08/which-type-of-traveler-are-you/

 

 

Hits: 2704

“Apaaa? Lo yakin mau resign dari Mandi** ? Gila aja lu, masuk kesana kan susah. Sekian banyak yang tes, belum tentu keterima. Nah, lu tinggal duduk manis aja kok mau keluar?!”

“Ah, sayang banget kamu resign, fasilitasnya kan oke tuh.. Hidupmu dan keluarga terjamin sampe pensiun. Kalau terjadi apa-apa, asuransinya kan lengkap…”

Blah…blah…blah…dst…dst..

Itulah sebagian komentar orang-orang di sekitar saya, ketika saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan terakhir di sebuah bank terkemuka. Padahal keputusan ini sebenarnya  sudah saya pikirkan lebih dari 6 bulan sebelumnya, bukan hanya dalam satu dua malam saja.

Lalu kenapa resign? Oke, here we go…

Kalau orang bilang saya kutu loncat, sebenenarnya nggak salah-salah juga sih. Tapi benar juga tidak 100% benar. Yes, betul selama hampir 10 tahun bekerja, saya memang sering pindah-pindah, tapi semua itu karena memang hampir semua sifat pekerjaannya yang project based. Sebelum bekerja di Aceh (yang kemudian merubah separuh hidup dan pandangan hidup saya), sama seperti kebanyakan orang, saya mencari kerja permanen dengan karir dan masa depan yang terjamin hingga pensiun. Tidak neko-neko, walaupun hidup dengan jam biologis seperti terpenjara. Bangun sebelum jam lima pagi, berjibaku dengan kemacetan ibukota dan jam delapan pagi sudah duduk manis di meja kantor.

Setelah jungkir balik dan malang melintang, saya menyadari bahwa sudah masanya kembali ke pekerjaan yang “secure”, yang menjamin keamanan hidup saya hingga masa tua. Kemudian terdamparlah saya di salah satu lembaga keuangan terbesar di tanah air. Kata orang itu merupakan prestasi membanggakan, karena bagi sebagain orang untuk masuk kesana – terbilang sulit. Hmmm…

Namun setelah dijalani, semua terakumulasi pada satu titik dimana banyak kondisi “given” yang tenyata tidak bisa saya ubah dan mungkin ke depannya tidak akan mendukung kebebasan saya berekspresi. Kata teori, jika kamu tidak bisa mengubah duniamu, maka ubahlah dirimu sendiri. And, Yes I did it! Semua yang saya rasakan di pekerjaan sebelumnya justru memacu semangat saya. Bukan semangat buat melamar pekerjaan lain, namun semangat untuk pindah kuadran, menjadi pekerja mandiri. Selain itu, saya juga punya keinginan lain untuk lebih bermanfaat buat orang lain melalui apa yang saya kerjakan.  Sejatinya arti hidup terbaik adalah berbagi dan bermanfaat buat orang lain, kan?

Saya bersyukur dikelilingi banyak teman-teman hebat yang memberikan masukan, semangat bahkan dukungan nyata bahwa saya bisa kok berdiri di kaki sendiri. Banyak potensi dari diri sendiri yang bisa saya gali, dan bisa dijual!  Basicly, saya ini orang yang gak pedean, tapi dukungan mereka membuat saya yakin untuk membuat sesuatu yang beda. Memang masih ada juga temen yang memandang sebelah mata, terutama yang berpikir bahwa kerja kantoran dengan gaji bulanan-lah yang akan membuat hidup lebih bermasa depan. Lucunya, justru banyak diantara mereka yang saban hari bahkan hingga bertahun-tahun berkeluh kesah tentang pekerjaannya, tetapi tidak berani mengambil keputusan (resign), karena berjuta kekhawatiran dan pertimbangan. Saya meyakini sebenarnya yang membuat berat adalah kekhawatiran dan pertimbangan itu sendiri bukan bagaimana setelahnya. Kuncinya cuma satu kok; love your job, or do a job you love (look and fight for it). 

Saat mantap memutuskan resign, yakinlah semua jalan akan terbuka sendiri selama kita tetap berusaha. Toh hidup itu pilihan. Kalau dipikir-pikir, saya juga keluar dari zona nyaman (yang sejatinya tidak nyaman) hanya bermodal doa, keyakinan dan rasa optimis bahwa banyak cara mencari nafkah tanpa harus harus me-Nuhankan mesin absen dan menghamba-sahaya pada atasan.

g08_large

Lalu mau ngapain? Bersama beberapa orang teman, saya mencoba merintis sebuah bisnis jasa dengan core digital tourism campaign dan modalnya nyaris nol. Alhamdullillah makin kesini makin menunjukkan kemajuan, biarpun banyak juga kerjaan yang serabutan. Hehehe..  

***

Sekarang, setelah hampir dua bulan dijalani, saya baru merasakan betapa komitmen terhadap diri sendiri adalah hal yang paling sulit di pekerjaan ini.   Saya terbiasa bekerja 9 to 5 membuat pola hidup teratur dimana pekerjaan boleh tidak selesai yang penting bisa kembali ke rumah tepat waktu. Dalam periode itu, saya bekerja dari pagi ke sore bahkan kadang hingga malam jika lembur. Kadang boleh bolos dengan berbagai alasan tetapi tetap gajian tepat waktu di akhir bulan.

Kini ritme hidup saya pun nyaris semua berubah. Saya memang tidak perlu menunggu dan berdesak-desakan di bis atau kereta setiap pagi. Saya bebas menentukan kapan saya harus keluar rumah. Kalau ada meeting pun, saya boleh menentukan sendiri misal tidak mau di Senin pagi yang terkenal macet. Ternyata, itu justru menjadi tantangannya. Dari sekian banyak jadwal, saya harus pandai-pandai mengatur waktu agar semua bisa dijalani dan pekerjaan bisa selesai tepat waktu.  Kelihatanya asyik ya, bisa bangun siang, leyeh-leyeh dulu dan tidak cemas akan telat karena macet atau gangguan KRL. Wah, kenyataannya gak gitu-gitu amat. Merubah kebiasaan pekerja kantor menjadi pekerja mandiri sungguh tidak mudah. Dibutuhkan komitmen dan disiplin yang tinggi agar tidak ada waktu yang terbuang percuma. Betul, kelihatannya memang santai, namun terlihat santai malah gampang membuat terlena.

Sulit loh tetap menjaga mood dan semangat saat bekerja di rumah dimana jarak antara meja kerja, TV dan tempat tidur hanya sejengkal. Apalagi kita bekerja tanpa absen dan tanpa mandor alias bos. Tinggal diri sendiri harus pandai-pandai menjelma menjadi bos yang mengingatkan diri sendiri juga di setiap deadline. Meski tidak punya “bos langsung”, kalau punya beberapa klien dalam satu waktu lumayan repot juga, karena tanpa disadari mereka semua adalah bos. Hmmm, bayangin aja kalau punya lebih dari satu bos gimana….

Membagi fokus adalah tantangan lain yang tidak kalah sulitnya. Saat bersamaan kadang saya harus menulis dua laporan dengan topik dan sumber  yang sangat berbeda. Tiba tiba ada teman yang menawari pekerjaan baru dan proposal pun harus segera disusun. Semua menarik, sayang kalau diabaikan. Masalahnya, saya ini agak perfeksionis, pengennya semua bagus, bukan sekedar jadi dan numpang lewat. Maka dari itu, saya harus benar-benar mengerti konteks yang membutuhkan waktu. Pusing deh… Hehehe..  Tidak heran, kadang saya bisa bekerja hingga larut malam. Tidak kalang penting, di sisi income  yang tidak ada lagi kamus tanggal gajian, membuat kita harus lebih lincah  mengatur pengeluaran.

Urusan sosialisasi beda lagi. Selain memang ada sosialisasi yang berhubungan dengan pekerjaan, ngopi-ngopi bersama teman-teman pun sekarang menjadi sesuatu yang cukup pelik. Sebagian besar teman-teman saya adalah karyawan yang bisa nongkrong after office hour. Sebaliknya, saya malah sering punya waktu saat office hour, karena sering punya janji meeting di sore hari dan mood kerjanya memang lebih baik di malam hari. Beberapa teman bilang; kok lu tambah lebih susah ditemui, sejak gak punya kantor?! Begitulah.

***

Biarpun penuh hal-hal baru, saya menikmati sekali hari-hari saya kini.  Cuti bisa kapan saja, bahkan bekerja sambil liburan pun tetap menyenangkan. Di pantai bisa dapat inspirasi, sambil ngopi bisa nulis bahkan sambil ngobrol pun bisa ketemu rencana kreativitas baru. Pelan tapi pasti saya yakin bisa hidup dari apa yang saya suka, apa yang bisa saya lakukan dengan bahagia dan apa yang saya pilih dari hati. Kata Rene Suhardono; when we put our heart on our works, dont be surprised when you hear cash register rings..

Ada satu kutipan dari seorang tokoh: Berbeda dengan orang pintar, orang idiot percaya bahwa kreativitas adalah syarat mutlak untuk mencapai kekayaan finansial. Kreativitas tidak muncul saat kita sedang dan serius, kreativitas muncul saat kita sedang bersantai dan bersenang-senang. Cari waktu luang, pergilah ke tempat favorit bersama-sama teman-teman terbaik Anda dan bersenang-senanglah. *So, Am I idiot as well ?

Hits: 3084

Jokowi sudah tahu kan siapaa? Yaa taulaahh… keblinger aja kalau ada anak Indonesia yang ditanya siapa Presiden RI masih jawab Pak Harto. Hehehe.. Tapi Raim Laode? Apa semua orang sudah tahu? Pasti banyak yang belum kaann?? Coba deh sebelum lanjutin baca tulisan ini, kalian masuk Youtoube sebentar dan search “Raim Laode”.………… Gimana ? Udah ketemu? Udahhh? Lucu kaann??! Dia anaknya baik kok…bukan cuma lucu. Serius.

Oke, silakan baca juga tulisan saya tentang Raim yang sempat juga dimuat di Kompasiana. Dengan “berat hati”, sejak kemunculannya di TV, saya ngefans-banget sama Raim. Eh, gak berat hati deng…beneraan serius ngefans.. (takut ditimpuk Raim). Padahal aslinya saya jarang nonton TV! Gara-gara tulisan dan segala macam urusan yang sangat duniawi akhirnya kita ngobrol via sosmed. Penasaran dengan wujudnya, gimana (Raim, pisss!!! Jangan maraahhhhh), kita janjianlah buat ketemu. Sekalian sih, saya juga pengen nanya-nanya tentang Wakatobi sebagai salah satu daerah yang ingin saya kunjungi untuk sebuah pekerjaan.

Dan pada sebuah hari yang mendung (namun tak berarti hujan), kami merencanakan bertemu setelah sholat Jumat di sebuah tempat di bilangan Jakarta Pusat. Pagi-pagi saya sudah kontak Raim untuk mengingatkan janji tersebut. Baru sekitar 20 menit rekonfirmasi dengan Raim, jreng..jreng..jreng, saya mendapat telepon dari Istana (beneran Istana Negara, bukan Istana Boneka) untuk makan siang bersama Jokowi. Ini Beneraann Joko Widodo  yang RI 1. Ini baca deh ceritanyaaa disini, jadi saya gak perlu cerita panjang lebar lagi.

Di tengah suhu badan yang panas dingin, linglung, bingung dan kacau karena dipanggil Presiden, saya telepon Raim. 

“Im, aduhh…sorry banget, aku dapet undangan dari Istana untuk makan siang dengan Jokowi”. Dari ujung telepon, reaksi Raim kayaknya terdiam sesaat. Dia pasti mikir baru kali ini ada yang “berani-berani-nya” batalin janji sama calon artis besar Indonesia, dan alasannya mau makan siang dengan Presiden!! Hayoo, pernah gak ada yang janjian dibatalin gara-gara Presiden??!  Hahahaha… Sesaat kemudian Raim bilang: What??? Tidak apa-apa, kaka.. Nanti kita bisa atur ulang. Saya mengerti pasti kaka pilih Jokowi . Saya cuma ketawa, yaaa iyaalah, Im.. saya pasti pilih ketemu RI 1! Hahahaa… 

Namun singkat cerita, sore itu saya tetap bertemu Raim -yang kebetulan lagi kosong jadwalnya- dan bersedia menunggu Saya. Sosok aslinya ternyata jauh sekali dari panggung megah. Kalem, lebih banyak diam dan tidak seheboh di panggung.  Meskipun tidak banyak ngomong, saya tahu Raim cerdas, banyak kata-katanya yang singkat tapi tajam. Saya kaget, waktu  dia bilang ingin melanjutkan kuliah S2 di jurusan Sejarah seperti S1-nya bukan jurusan-jurusan keren seperti marketing, teknologi atau manajemen yang diminati banyak orang. Alasannya, justru karena banyak orang yang tidak mau mendalami sejarah, makanya dia mau belajar sejarah. Dengan semua kesederhanaannya kita bercerita tentang banyak hal, dari musik, seni, Jakarta yang kejam, pariwisata, teknologi, politik hingga mantan (uhuk…)

***

Cerita pendek tentang Raim tadi, menjadi pembuka saya untuk turut serta di Kompetisi Blog Review SUCA 2 ini. Seperti yang saya tulis pada paragraf sebelumnya, saya sendiri jarang banget nonton TV. Stand Up Comedy di hampir seluruh TV mungkin satu-satunya acara selain talkshow berita yang saya ikuti. Saya juga tahu SUCA awalnya dari Youtube. Dan Raim-lah yang membuat saya bergegas pulang ke rumah setiap hari lebih cepat demi menonton SUCA. Walaupun banyak juga tayangan SUCA yang saya tonton lewat Youtube. Maklumlah, pekerja seperti saya kadang waktunya memang tidak bisa diprediksi pukul berapa bisa tiba di rumah.

Saya memang tidak dapat me-review tayangan SUCA dari awal sampai akhir. Namun keinginan saya bertemu langsung dengan Raim seharusnya bisa menjadi tolak ukur bagaimana saya mengagumi acara ini. Raim memberikan warna pada komedi yang renyah, cerdas, khas Indonesia dan mengandung kritik sosial. Saat banyak anak muda mengidolakan selebgram yang hidupnya jauh dari norma-norma Indonesia pada umumnya, Raim justru membawa pesan bahwa Indonesia ini kaya akan budaya dan alam yang indah. Dia pede dengan ketimurannya. Dia bangga akan asalnya. Sesuatu yang hampir langka dengan anak muda yang kini makin kebarat-baratan. 

https://www.youtube.com/watch?v=EPEiprfQ8jE

Ternyata jadi stand up comedian itu tidak mudah loh! Bukan perkara gampang berdiri di muka umum, ngomong sendirian, harus lucu dan lebih lebih lagi harus punya muatan mencerdaskan kehidupan bangsa (ciyeee). Karena itu saya  percaya semua komika yang terpilih di SUCA pasti orang-orang dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Itulah yang membedakan komika dengan penyanyi. Kalau penyanyi, dia bisa menyanyikan lagu yang sama di setiap konsernya. Kalau komika membawakan materi yang sama itu-itu saja, pasti penontonnya bosan. Kerennya SUCA memiliki barisan mentor-mentor berpengalaman mampu membuat penampilan komika tetap segar setiap minggu bahkan setiap hari. 

Meski tidak sempurna, SUCA sangat patut menjadi salah satu talent show terbaik di Indonesia.  Yah, alasannya itu. Bukan hanya menghibur, program ini bisa jadi inspirasi untuk anak-anak muda yang kreatif. Dengan 42 peserta yang datang dari seluruh Indonesia dari berbagai kalangan dan kelas sosial ekonomi, SUCA adalah wadah baru bagi ide-ide kreatif generasi muda.  Tidak hanya Raim, saya bangga karena peserta SUCA sebagian besar datang dari daerah yang memiliki misi mengenalkan daerahnya. Ternyata komedi bisa menjadi bahasa yang sangat universal. Kamu yang besar di Papua dan kamu yang lahir di Aceh, disatukan untuk bersama-sama melihat luas dan indahnya Indonesia hanya dari satu panggung. Luar Biasa!

Walau masih ada kekurangan, ya namanya juga program TV yang tidak terlepas dari bisnis untuk mencari profit. Tapi Saya yakin kedepannya program ini masih akan terus diminati. Tentu saja harus dibarengi kerja keras Tim Indosiar. Maju terus, jadikan komedi bagian dari bangsa yang sudah “makin tidak lucu” ini. Jadikan lebih banyak seniman komika yang membuat Indonesia lebih segar dan berwarna. Dan paling penting jadikan generasi bangsa yang penuh inspirasi dan makin cinta negerinya.

 

 

 

Hits: 890

“Saya membatasi penggunaan teknologi untuk anak-anak di rumah” ungkap Steve Jobs seperti dikutip oleh New York Times 2010 lalu. Pada masa-masa bermain, Jobs membiarkan anak-anaknya menghabiskan waktu di luar rumah, bercengkerama dengan alam bukan games online yang membuat mereka seperti tidak kenal dunia lain. Jobs ngeri membayangkan hilangnya kehangatan di meja makan, karena anak-anak mulai kecanduan gadget. 

45d7772b-ff4d-4a94-b44b-ffa9c0d6a167

Jika Steve Jobs saja masih percaya alam adalah tempat bermain terbaik, kita sendiri kapan terakhir bermain di luar ruang? Mungkin generasi yang lahir setelah tahun 2000 apalagi anak-anak yang tinggal di kota metropolitan, tidak tahu namanya engklek, tidak pernah main kelereng dan tidak tahu apa itu gobag sodor. Kini mana ada lagi anak-anak yang bermain petak umpet di halaman rumah. Mana ada lagi anak-anak berpeluh mengejar layangan putus di sore hari.  Sudah sulit mencari anak-anak perempuan bermain tali dan bermain bekel di teras rumah, karena update status dan posting foto di sosial media (yang ternyata tidak sosial) lebih diminati. 

lagi kerja ini..bukan main games online..
lagi kerja ini..bukan main games online..

Mengurangi kerinduan akan masa-masa itu, Sabtu 8 Oktober 2016 lalu saya dan beberapa teman blogger mendapat kehormatan dari Menpora untuk meliput Tafisa (The Association For International Sport For All) Games 2016. Berbanggalah, pada 2016 Indonesia jadi Tuan Rumah perhelatan akbar olahraga tradisonal yang dihadiri oleh 87 negara ini. Tafisa merupakan satu-satunya pesta olahraga internasional yang berisi berbagai perlombaan dan eksibisi olahraga tradisional dan rekreasi dengan keunikan kultural. Ajang empat tahunan ini menjadi media pertemuan dan penjalinan persahabatan yang erat antar seluruh warga dunia yang mencintai olahraga tradisional. 

bersama Pak Menteri sebelum muter muter...
bersama Pak Menteri sebelum muter muter…

Satu hari penuh Pak Menteri mengajak kami berkeliling Ancol, melihat dari dekat berbagai perlombaan yang digelar. Bahkan beberapa kali Pak Menteri dengan asyik mengajak kita mengikuti beberapa lomba. Beliau semangat banget mencoba hampir semua permainan. Salut saya dengan staminanya! Gak ada capeknya!! Cuaca mendung dan sedikit gerimis sama sekali bukan halangan. Dari naik perahu naga, mencoba permainan lempar bola ala Perancis, jalan kaki keliling Ecopark, main dengan Enggrang, mencoba lembar batu ala Polan hingga menonton pagelaran tari asal Jambi. Belum lagi melayani ratusan pengunjung yang mau selfie. Aduhhhh…..begitu toh kalo jadi menteri! *Siap siap kali aja besok-besok ditelpon Jokowi lagi. Hahahaha.. 

197f7060-02ba-480c-9b56-6bf3d8479e4e
salah satu tarian lokal…

Saya baru tahu ternyata permainan engklek  juga ada di Spanyol dan Perancis. Itu loh, permainan dimana kita harus meloncati tanah atau batu yang sudah dibentuk persegi atau bulatan. Buat yang gak tau, bisa jadi kalian “terlalu anak kota” sehingga mungkin tidak pernah main di luar rumah. 😀  Engklek Indonesia lebih sederhana, kita tinggal loncat pada batu  yang berurutan, bisa dengan satu atau dua kaki. Sementara engklek Spanyol, harus jalan mundur dengan satu kaki pada kotak-kotak yang sudah diberi nomor. Kalo diperhatikan memang lebih mudah engklek Indonesia, seolah jadi cermin bangsa kita memang senang yang “mudah mudah” saja. Hehehehe.  

Pak Menteri main engklek..
Pak Menteri main engklek..

Uniknya, -meskipun seperti turnamen- Tafisa bukan seperti olympiade.  Tidak ada juara dan medali. Juaranya adalah kebersamaan, sesuai dengan tagline Tafisa : Unity in Divesity. Puluhan atlet berkumpul dari berbagai negara berbagi kebersamaan dengan keceriaan dan kegembiraan. Di satu sisi, sekelompok bule bertanding menyodok bambu panjang dengan beberapa pria lokal. Persis seperti main tarik tambang, tapi tambangnya diganti bambu serupa yang sering digunakan dalam panjang pinang. Hmm, kebayang gak?!

Sementara itu di pantai karnival, siapa pun boleh mencoba volley pantai asal bisa mengumpulkan pemain sendiri. Boleh juga mencoba perahu naga pun bersama siapa pun yang kita mau. Lintas bahasa, lintas negara. Wah, ternyata, permainan tradisional bisa juga menjadi bahasa yang universal. Kostum unik dan lucu dari para delegasi, membuat kegembiraan terpancar jelas di wajah mereka. Ya, ini memang bukan seperti kompetisi.

6bb60653-3359-444e-b917-8efbf70eaea2

Salah satu yang juga menarik adalah sekelompok orang Bandung yang menamakan diri Komunitas Hong. Saya sempat berbincang dengan salah seorang pendiri satu-satunya komunitas yang melestarikan permainan tradisiona ini.  Katanya, komunitas ini juga mempelajari banyak permainan tradisional dari negara lain. Tidak main-main loh, mereka melakukan riset yang serius untuk mengetahui makna dan filosofi dibalik sebuah permaianan.

a046886c-261f-4d16-aaa6-c330c9112386
di barak komunitas hong..

Sayang,  gaung acara ini tidak terlalu kinclong. Namun bagi saya, bukan masalah publikasinya, tapi semangat Tafisa-lah yang harus lebih banyak ditularkan. Kita mungkin lupa berapa banyak kultur  dengan “local wisdom” diperoleh dari bermain, dan bagaimana semua itu hampir tinggal cerita, saat nyaris semua permainan telah menjelma dalam format digital.  

Tafisa 2016 jadi awal kita bernostalgia, mengenang masa-masa dimana kekerabatan ada tanpa sekat dan masa  saat kuota internet bukan segala-galanya. Lebih penting lagi sebenarnya ini adalah cara kita menjaga budaya bangsa.  Cara kita “menjual” Indonesia yang kaya akan budaya, nilai dan filosofi. Kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.

Credit Picture to:

www.obendon.com

www.adlienerz.com

www.peekholidays.com

www.thetravelearn.com

www.bawangijo.com

www.tindaktandukarsitek.com

www.winnymarlina.com

www.parah1ta.jalanjalanyuk.com

missnidy.blogspot.co.id/

 

Hits: 1081

Lagi asik menikmati sarapan pecel, whats app saya berbunyi. Riesma, sahabat saya ingin memastikan alamat-alamat sosial media dan blog Saya. Katanya lagi ada yang hunting, kalau beruntung bisa diajak makan siang dengan Presiden Jokowi hari ini. Iseng saya jawab: “Wah, kasian amat… Presiden lagi gak punya temen makan siang, ya?!!” Hehehe..

Tak berapa lama, ponsel saya berbunyi. Seorang perempuan mengaku dari Tim Komunikasi Istana bertanya beberapa hal terkait kegiatan digital saya. Saya jawab dengan jujur, baik di blog ini maupun di Kompasiana, saya sering menulis tentang Pemerintah secara umum, meski tidak menyinggung Presiden secara khusus. Tidak ada tulisan yang menunjukkan saya ini “die hard” nya Jokowi, bahkan beberapa tulisan malah memberikan kritik bagi beliau. Telepon ditutup, saya tidak berharap banyak. Bener-bener gak ngarep. Siapalah gw ini…

Telepon berbunyi lagi 30 menit kemudian. “Mbak Vika, bisa ready di Istana pukul 11 siang?” kata suara di seberang sana. Saat itu waktu tengah menunjukkan pukul 09.40 WIB, artinya saya cuma punya waktu 1 jam lebih sedikit untuk tiba di Istana. Sarapan pecel saya sudah habis, sementara layar laptop masih menayangkan angka-angka yang harus dianalisis. Di sisi meja kerja, tergeletak beberapa pesanan buku Jam Weker yang harus ditandatangani.  Siangnya saya ada janji dengan Raim Laode (akan saya ceritakan ini di tulisan berbeda). Tiba-tiba saya terserang sesak nafas, mual dan panic attack! Saat itu juga saya langsung menghubungi Riesma: Bo, gw jalan ke Istana, sekarang!!

Buru-buru semua peralatan kerja saya bereskan.. Di luar hujan lumayan deras. Mas Adi, pramubakti kantor membantu saya mencari taksi menuju Sarinah tujuannya jelas buat cari baju, karena tidak mungkin pulang ke rumah di Bogor. Hari itu tidak ada janji meeting formal, saya berbusana casual; baju kaos dan celana semi jins. Sementara pihak Istana mewajibkan dresscode baju putih, tanpa celana jins dan tidak menggunakan sandal. Keputusan saya ambil degan cepat meski masih diliputi rasa kurang percaya. Ini serius? Beneran? Ah, mimpi kali….*cubit cubit pipi sendiri..

Taksi pun meluncur. Dalam perjalanan, saya batalkan seluruh janji hari itu. Beberapa kolega mengira saya bercanda, satu dua yang lain bilang; setelah kembali saya wajib lapor lengkap dengan foto. No Pic Hoax katanya! Saking sibuk dengan ponsel, saya tidak memperhatikan pak driver taksi mengambil jalur yang salah. Dari daerah Bendungan Hilir menuju Sarinah yang paling praktis melalui Sudirman-Bundaran HI malah lewat Pejompongan, muter dari Dukuh Atas yang macet parah. Mau marah sama driver-nya pun gak guna juga… Nyaris 20 menit kami masih stag di Depan Pemakaman Karet, saya cuma bisa ngedumel sendiri. Sampai di putaran Dukuh Atas, saya turun (meskipun masih gerimis), dan melanjutkan dengan ojek menuju Sarinah. Pas mau bayar, eh…ternyata uangnya gak cukup. Untung, mas mas ojek bersedia menunggu.

Waktu sudah di 10.35, bergegas saya menuju rak pakaian wanita. Tanpa banyak pilah pilih, saya ambil sepasang yang kira-kira paling pas, langsung diganti di kamar pas, gak nyoba-nyoba lagi dan hampir gak liat harganya! Hahahaa.. Untung ketika bayar di kasir, masih terjangkau sama dompet. Kurang dari 10 menit, semua selesai. Gilaaa..ini shopping tercepat dalam hidup gw! Setengah berlari saya menuju ATM. Mas ojek masih setia menunggu, saya bayar dan kemudian ganti moda taksi menuju istana. Masih dengan rasa nervous plus deg-deg-an, tempat pukul 10.55 saya tiba di Gerbang Sekretariat Negara.

img20160930123636
menunggu…

Wah, tiba-tiba Saya terserang dejavu! Saya pernah bekerja di lingkungan Istana selama 2,5 tahun di masa Presiden SBY. Lorong-lorong Istana dulu begitu akrab dengan deretan foto-foto Ibu Negara di hampir semua sisi. Pohon besar yang dibentuk bak payung masih berdiri tegak di depan Istana Negara. Kantin Istana yang dihiasi akuarium Ikan Arwana dan rawon terenak di Kantin Setneg membayangi pikiran saya.  Ruang pers sudah berbeda, toko souvenir sudah pindah posisi dan minimarket di parkiran motor sudah tidak ada. Terasa sekali kini banyak yang berubah.

Tiba di gedung utama, saya dan undangan lain sudah ditunggu panitia yang rapih berbaju batik. Mereka menyapa dengan ramah dan meminta kami mengisi daftar hadir. Kelihatan mereka serius sekali menyambut para tamu. Kami di-briefing hingga pukul 12.15 sambil menunggu Presiden selesai menunaikan sholat Jumat. Semua Dos and Donts diberi tahu di forum ini. Eitss… saat itu Saya baru sadar, ponsel saya dalam posisi lowbat. Sementara ponsel satu lagi ketinggalan lengkap dengan chargernya di kantor, karena buru-buru tadi. Panik dong!! Gimana ceritanya, gak ada ponsel, gak ada kamera. Untungnya ada Paspamres dan panitia yang berbaik hati meminjamkan charger ke Saya

Kami dikenalkan dengan koordinator media digital Jokowi. Ia menjelaskan bagaimana tim-nya secara acak mengundang peserta. Ada algoritma dan beberapa pertimbangan, yang memang tidak bisa dijelaskan secara gamblang. Ya sudah ya… anggap saja, saya dan undangan yang lain sedang beruntung. Hehehe. Saya juga sempat berkenalan dengan undangan-undangan lain, beberapa diantaranya bahkan datang dari luar Jawa. Jangan kalian kira mereka itu para buzzer dengan akun ribuan follower, banyak diantara mereka orang-orang biasa, yang terlacak pernah memberikan usulan kepada Presiden melalui akun-akun sosmed beliau.

Tepat pukul 12.35 kami dipersilakan masuk ke ruang utama. Semua tas dan gadget dititipkan pada Paspamres. Hemm, sebel gak bisa cari pokemon deh! … Rasanya gimana gitu, masuk ke ruang makan megah Istana dengan lampu-lampu kristal mewah dan di meja makannya sudah ada label nama kita masing-masing. Waktu masih kerja disana, saya ingat yang bisa dapat label nama seperti itu minimal Gubernur! Serius! Gak Boong! Ini beneran kayak mimpi!!

Tak berapa lama, Presiden memasuki ruangan. Tidak ada protokoler, tidak ada MC seperti acara resmi. Presiden -dengan baju putih dan celana hitam standarnya- dengan  ramah dan menanyakan kabar dan darimana domisili kita. Hebatnya, Presiden-lah yang mengelilingi kursi kita masing-masing, bukan kita yang antre salaman dengan beliau.

 blog4

Setelah sedikit beramah tamah, Presiden langsung mengajak makan siang. Meja panjang kecil tertata rapih di sudut ruangan. Menunya apaa yaa?! Ternyata bukan menu barat yang mewah. Ada goreng burung punai (konon ini masakan favorit beliau), gulai kepala kakap, sambel goreng ati, bakso, rebusan daun pepaya, beberapa jenis sambal dan emping. Tidak ada makanan penutup alias dessert. Bayangan makan siang penuh formalitas, seketika menguap, karena Presiden sangat santai. Ia mempersilakan kita mengambil makanan bersamaan dengannya, tidak perlu sungkan. Bahkan Ia rela antre di belakang tamu undangan. Sambil becanda, beliau bilang: boleh nambah dan boleh bungkus buat pulang 😀

***

Saat makan bersama, pembicaraan dan diskusi dibuka, dengan suasana yang begitu cair. Dari rencana awal ngobrol tentang sosmed, melebar kemana-mana. Mulai dari tax amnesty, HAM, masalah Papua, pariwisata, pendidikan hingga gaji pensiunan. Setiap peserta diberi kesempatan satu-satu untuk ngomong. Boleh saran, pertanyaan, kritik apapun dengan rambu-rambu yang sudah diberi tahu saat briefing. Berat? Gak kok, obrolan meja makan ini kerasa ringan banget. Sepertinya Presiden kita sudah cukup terlatih menjelaskan banyak hal dengan logika sederhana. Kalimatnya pun patah-patah dan berjeda agar kita bisa ikutan nimbrung. Beberapa hoax yang selama ini berhembus di masyarakat pun, dijelaskannya dengan santai. Ada beberapa isu yang coba diluruskan oleh Presiden seperti Freeport, full day school hingga utang luar negeri. Sebenarnya Saya sempat pengen nanya gini: Pak, bosen gak dengan sidang Jessica yang bertele-tele? Tapi takut dikeprok sama Paspamres.. Wakakkaka.

 

Sumber: Biro Setpres
Sumber: Biro Setpres

Setelah sesi makan siang selesai, tibalah saat sesi foto. Presiden begitu sabar  meladeni undangan yang sebagian besar pengen selfie. Fotografer istana kayaknya dilewatin aja.. Hehehe.. Kadang-kadang Paspamres memang sibuk dengan segala aturan. Tidak boleh terlalu dekat, tidak boleh lewat batas ini, batas itu. Tapi so far sih, Jokowi-nya sendiri gak protes! Aduhh..ini beda banget dengan pengalaman saya mengejar beliau di Car Free Day Bogor atau Cap Go Meh Festival di Bogor tahun lalu.  Lebih bahagia lagi, Saya bisa langsung memberikan kenang-kenangan Buku Jam Weker buat beliau. Semoga sempat dibaca ya, pak..

antre selfie
antre selfie

Saya tidak akan mengulas satu-satu isi diskusi siang itu. Akan saya bagi ke teman-teman nanti secara lisan saja. Namun yang jelas saya sangat sangat senang dan bangga bisa jadi sepersekian persen rakyat jelata yang diundang makan langsung dengan orang nomer satu di negeri ini. Tanpa sekat, tanpa jarak, tanpa banyak aturan protokoler. Saya tahu Jokowi kerap mengundang beberapa kelompok, profesi dari berbagai kalangan untuk makan siang di Istana. Sebuah kebiasaan yang nyaris tidak pernah dilakukan oleh Presiden-Presiden sebelumnya. Pencitraan? Politik memang citra (kata Presiden RI ke-6). Tapi sesuatu yang dikerjakan secara rutin hanya demi citra tanpa datang dari hati, pasti melelahkan. Dan…saya percaya, Pak Jokowi melakukan semua ini dari hati bukan hanya demi citra. Believe me..

blog3

Tidak pernah sedikit pun  pernah mimpi dan terlintas di kepala, bisa semeja makan dengan RI 1. Mimpi saya cuma satu; pengen banget bisa naik pesawat Kepresidenan. Halal kan kalau mimpi saja? Hmmm.. Siapa tahu ini jadi jalan untuk mewujudkan mimpi itu. Aaamin… Who knows? We never know, because life is so unpredictable!

 

 

 

 

 

Hits: 5339

There comes a time, when you have to choose between turning the page and closing the book.

Kalau orang bilang saya kutu loncat, sebenenarnya nggak salah-salah juga sih. Tapi benar juga tidak 100% benar. Yes, betul selama hampir 10 tahun bekerja saya memang sering pindah-pindah tapi semua itu karena hampir semua nature pekerjaan saya yang sifatnya kontrak atau project based. Sebelum bekerja di Aceh, samalah seperti orang-orang kantoran lainnya. Saya mencari kerja yang permanen, kalo bisa karir dan masa depan terjamin hingga pensiun. Tidak neko-neko. Hidup dengan jam biologis bangun jam lima pagi, dan jam delapan pagi sudah duduk manis di meja kantor.  Sampai akhirnya kepindahan saya ke Aceh di 2007 merubah paradigma saya akan arti sebuah “pekerjaan”. Aceh memang telah “menghancurkan” hidup Saya.

Tahun 2015 dengan usia yang bukan fresh graduate lagi, saya menyadari bahwa sudah masanya saya kembali ke pekerjaan yang “secure”, yang menjamin keamanan hidup saya hingga masa tua. Kemudian, terdamparlah saya di salah satu lembaga keuangan terbesar di tanah air. Kata orang itu merupakan prestasi membanggakan, karena konon untuk masuk kesana -yang menjadi salah satu Most Admired Company di Indonesia- terbilang sulit. Bahkan ada dua pekerjaan yang saya tolak dan memutuskan untuk memilih bekerja disana. Saya terima tawaran itu, karena niat utamanya memang ingin belajar. *belakangan saya sedih, karena saya dinilai tidak mau belajar* Gaji saya disana bahkan sama dengan gaji saya lima tahun sebelumnya. Artinya secara bulanan, nyaris tidak ada peningkatan. Untung ada bonus dan THR yang  membuat penghasilan saya lebih baik secara tahunan. Fasilitas kesehatan pun sangat baik, Alhamdulillah. 

Hingga semua terakumulasi pada satu titik, saya merasa disini bukanlah tempat saya untuk berkembang. Banyak kondisi “given” yang tenyata di luar ekspektasi saya. Ya, katakanlah saya over expectation ketika pertama kali bergabung. Saya sering terkaget-kaget dengan keadaan yang dulunya saya kira disini sudah sempurna. Not to mention those things.  Mungkin kesimpulannya, nama besar ternyata memang bukan jaminan. 

Ada pertentangan batin yang saya rasakan, tapi dengan kedudukan saya yang terbatas, sepertinya sulit bagi Saya untuk mengubah semua itu.Tidak ada tempat dan atasan yang sempurna memang, namun Saya takut, takut ikut arus yang kemudian menjadikan saya orang-orang yang “kelamaan ada di zona nyaman”.  Lalu, saya hanya menjadi robot ibukota pergi gelap, pulang gelap dan miskin sosialisasi. Pendek kata agar tidak berkesan “menyalahkan orang dan lembaga” anggap saja memang saya tidak cocok di lingkungan itu berlama-lama.

Banyak yang bilang: “mungkin disana memang bukan “passion” elo”. Lagi-lagi passion disalahkan. Kasian si passion. Ada benarnya sih, tapi sejatinya bukan itu alasan utama. Saya senang menulis, senang jalan-jalan mungkin itu passion. Namun so far, passion itu sendiri belum membuahkan penghasilan yang cukup. Mungkin karena memang belum saya tekuni dengan sungguh sungguh. Jadi kalau ada yang bilang saya resign demi ‘mengejar passion’, keakuratannya cuma 50%. Hehehe.. Toh, saya tahu dengan pasti saya ada di lingkungan dimana sebagian besar orang-orangnya pun bukan bekerja pada passionnya. Malah lebih parah lagi, mereka tidak tau passionnnya apa! They just doing their work regularly, want to leave but still having so so many consideration… Somehow,..I think,..ummm perhaps they had no choice also. Or precisely : Dont want or dont know how TO CREATE the choices. 

Betul, pekerjaan selanjutnya yang akan saya jalani, sangat dekat dengan passion dan mimpi-mimpi Saya. Namun yang saya cari adalah ruang dimana saya bisa bereksplore dengan imajinasi saya, ruang dimana tidak ada sekat-sekat formal antara senior dan junior, ruang dimana ide dan gagasan itu lebih dihargai. Ruang dimana siapun dia, ada potensi yang bisa digali untuk melengkapi tim. Ruang dimana tidak ada yang lebih pandai dan lebih bodoh. Ruang dimana semua orang punya kesempatan dan jalur yang sama untuk meraih achievement setinggi-tingginya. Dan ruang dimana semua personil dinilai dengan obyektif. 

Saya sedih meninggalkan sahabat-sahabat baru saya disini. Setidaknya hampir 2 tahun terakhir, merekalah yang mengisi hari-hari Saya. Saya telah menjadikan mereka sebagai keluarga baru saya. Berat memang. Tapi saya perlu membenahi masa depan saya. Menyiapkan cita-cita besar Saya.  Pun memenuhi mimpi-mimpi saya. Mimpi menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi orang lain.

Finally, packing the stuffs is easy but packing the memories is not… 

 

Hits: 905

Alhamdulillah, akhirnya buku saya kelar jugaa!  Meskipun tidak semua tulisan baru, tapi proses editing dan bolak balik cek perintilannya, ternyata lumayan menyita waktu juga loh! Untung, saya happy banget melakukannya, tantangannya jadi tidak terasa.

Dan kalau kalian pikir ini buku traveling, kamu salah besar! Tidak ada satupun cerita jalan-jalan disini. Ada sekitar 30 tulisan yang salah tulis pada periode 2008-2016 yang sebagian besar sudah pernah saya publish. Padahal di blog ini, ada lebih dar 250 tulisan loh! Sisanya mau dibukukan lagi gak? Mau dong… moga-moga tahun depan, ada penerbit mayor yang mau mensponsori buku saya! Hehehe.. Aminn..

Eh… ini buku apaan sih? Dan Kenapa judulnya Jam Weker? Yang jelas ini bukan diktat kuliah, bukan buku teori motivasi (yang membosankan) dan bukan buku yang membacanya harus pake mikir… Biar seru, ini saya kasih kisi-kisi dari beberapa teman saya yang sudah baca:

  • Tulisan dan pemikiran yang kreatif, menghibur, dan out of the box. Dengan bahasa yang santai, renyah, menginspirasi, edukatif namun tidak menggurui, membuka jendela pikiran kita untuk lebih open minded terhadap paradigma hidup. Wajib dijadikan teman untuk menikmati secangkir kopi di sore hari setelah berjibaku dengan rutinitas pekerjaan di kota metropolitan yang carut marut ini (Windy Liestyani, Auditor Bank Mandiri)
  • Bukan sekedar bercerita, buku ini mengajarkan bagaimana cara menghargai, saling berbagi dan mencari ilmu disetiap kesempatan (Hendikin, IT Manager PT Indoferro)
  • Warna warni kehidupan yang sederhana tapi mengesankan dalam buku ini, hal yang sebenarnya biasa tapi menjadi menarik karena ditulis dengan tulus (Rynal May Fadly, Social Worker)
  • Buku ini asik banget dibaca, ringan, mudah dicerna dan sangat menghibur dengan gaya penulisan yang santai. Berbagai macam cerita ada disitu, dari yang serius, santai, humor, inspiratif, bahkan cerita hororpun ada loh. (Arlia Gustini, Make Up Artist)
  • Bacaan ringan yang enggak perlu pake mikir untuk bacanya. Penuh dengan kejadian yang inspiratif namun kocak yang terkadang membuat gw cekikikan sendiri saat a sampe ga berasa tiba-tiba sudah diujung halaman terakhir buku ini (Riesmayanti Nastinasari, Field Marketing Supervisor PT Nojorono)

Nah, sebagai rasa bersyukur…saya mau bagi bagi 3 buku ini FREE! Bebas ongkir dan bebas pajak! Heheh.. Gimana caranya

  • Tulis komen yang unik, apa yang kalian pikirkan tentang “Jam Weker”. Apapun tentang Jam Weker. Mungkin kamu punya cerita tentang jam weker di rumah juga boleh… Gak usah panjang-panjang, ringkas, lucu, menarik dan mudah dimengerti.
  • Pastikan alamat email kamu sudah diinput dengan benar agar saya mudah menghubungi, jika kamu menang,
  • Bagikan (share) link berikut  Pemesanan Buku Jam Weker  ini   lewat twitter atau Facebook kalian. Kalau twitter mention ke @vikhasy (Jangan lupa follow dulu), Kalau Facebook mention ke Jussmengkaa (huruf a-nya memang 2. Jangan lupa like dulu yaa.. http://www.facebook.com/jussemangka. Beri hastag #BukuJamWeker
  • Saya akan memilih 3 terbaik dan hadiah akan dikirim gratis ke alamat kalian!

Gimana, gampang kannn ??? Ditunggu hingga 10 Oktober 2016!

 

 

 

 

 

Hits: 1363

“Malam ini, saya tidak menunduk. Saya menatap lampu-lampu studio Indosiar yang terang ini, karena saya yakin suatu saat pasti akan kembali kesini.  Uang 100 juta hanya nominal yang akan habis di kemudian hari. Tapi setelah ini masih banyak yang akan saya lakukan, so tetap temani Saya”

Namanya Raim Laode, saya jatuh cinta saat pertama menonton audisinya melalui Youtube untuk Talent Show Stand Up Comedy. Pemuda berusia 22 tahun membuat saya hobi bolak balik nonton rekamannya. Komedinya renyah, cerdas, khas Indonesia dan mengandung kritik sosial. Ternyata saya tidak sendiri, ia digemari banyak orang. Dan tiba-tiba saja saya tidak mau terlewatkan satu episode pun penampilannya. 

Sampai akhirnya mata saya malam tadi berkaca-kaca. Seumur hidup yang bukan ABG alay lagi, baru kali ini saya begitu emosional akan hasil sebuah talent show. Raim Laode tereliminasi setelah diunggulkan oleh banyak pihak. Yah, harus diakui dua kali terakhir penampilannya memang bukan yang paling prima. Namun jika diukur rata-rata sejeblok-nya penampilan Raim Laode, masih tetap memiliki ambang bawah yang lebih baik dari beberapa kontestan lain. Masalahnya, ada kontestan lain -yang lolos”menurut saya” jauh sekali kualitasnya dibawah Raim. Materi kontestan yang satu ini, garing, tanpa pesan, tanpa wawasan dan (maaf) keliatan cetek. Harus diakui, pada beberapa penampilan sebelumnya, dia memang bagus. Tapi makin kesini, keliatan makin membosankan, tidak ada “isi” dan sangat monoton.

Dann…ternyata “Patah Hati” karena Raim tereliminasi jauhhh lebih sakit dibandingkan ketika tahu Jokowi mengeliminasi Menteri idola saya, Jonan dan Anis Baswedan. Serius!! Hahaha..

Yah, komedi memang masalah selera. Tapi bagi saya; komedi yang bagus itu: komedi yang cerdas dan berwawasan, bukan cuma lucu cengar cengir dengan subyek yang absurd. Dan semua itu ada pada Raim Laode. Mungkin dia memang “orang kampung”, tapi keliatan sekali pola pikirnya tidak “kampungan”.  Sementara tetangga sebelah? Entahlah…

Saya yang jarang banget nonton TV, awalnya berharap program ini, tidak sekedar komedi tetapi ada inspirasi dan pesan untuk anak-anak muda agar kian berkreasi, makin kenal negerinya dan makin cinta bangsanya. Raim membawa pesan itu, kehadirannya membuat kita jadi makin yakin bahwa Indonesia ini kaya. Dia pede dengan ketimurannya. Dia bangga akan asalnya. Sesuatu yang hampir langka dengan anak muda yang kini makin kebarat-baratan. Beberapa orang teman saya, bahkan penasaran banget hingga merencanakan ke Wakatobi. Bahkan, ada teman saya yang baru tau bahwa Wakatobi itu terletak di Sulawesi Tenggara bukan di Papua. Hahaha..

Setelah eliminasi itu, sosial media pun ramai. Saya pikir hanya saya yang kecewa dengan hasilnya. Saya pikir saya ini penonton biasa, saya gak ngerti teknik tenik nasihat juri. Saya taunya cuma; lucu, terhibur dan terselip “pesan” di dalamnya. Twitter penuh dengan ungkapan kekecewaan, kesedihan bahkan bully-an terhadap juri. Juri memang pakar, tapi di komedi, menurut saya JURI SESUNGGUHNYA ADALAH PENONTON! Anggaplah kami ini orang awam, tidak paham teori penilaian stand up comedy. Tapi saya kira juri harusnya cukup cerdas untuk menambah bobot acara ini dengan memilih peserta yang pantas ke babak final. Ada idealisme juri yang ternyata digadaikan (mungkin) demi…entahlah demi apa…

Dan.. kompetisi adalah tetap kompetisi. Ada yang kalah, ada yang menang. Ada kompetisi yang sebenarnya, ada pula yang setting-an. Ada pula yang tak jauh berbeda dengan sinetron drama. Kompetisi pun bukan akhir justru awal dari dunia yang sebenarnya. 

Hanya sedikit saya sayangkan, kenapa anak-anak seperti Raim tidak diberi kesempatan lebih lama untuk lebih banyak menginspirasi melalui ajang ini. Sadarkah sudah begitu banyak porsi telah kita berikan kepada selebgram yang gaya hidupnya jauh dari tata krama bangsa kita. Sementara, ada Raim dan (mungkin) Raim lain dan Raim selanjutnya yang “terpaksa” turun panggung, karena penilaian yang entah dasarnya apa…

Finally, Tetap semangat Raim, ini cerita manis untuk awal yang lebih manis. Indonesia bangga punya anak muda seperti kamu. Jangan lelah memberi inspirasi bagi banyak anak negeri. Maju terus! Saya yakin kamu bahkan jauh jauh lebih baik dari para juara. 

 

 

Hits: 1609

“Laper banget, tapi malas keluar dan lagi nggak punya duit!” Kalimat tersebut mungkin sering kamu dengar, bahkan kita ucapkan ketika jam makan siang atau malam tiba. Bagaimana ingin makan di restoran, wong belum gajian dan malas gerak alias mager. Lalu apa solusi yang tepat untuk kondisi seperti ini?

Pernahkah terbersit untuk menggunakan catering  konsumsi harian? Mungkin sebagian dari kita sudah pernah menggunakan jasa ini. Nah, buat yang belum.. tak banyak yang mengetahui terdapat manfaat “tersembunyi” dari menggunakan jasa catering harian. Mau tahu apa saja manfaat tersebut? Cek penjelasan di bawah ini, yuk!

Jasa Catering Menghemat Pengeluaran

Coba hitung, berapa pengeluaran kita setiap bulannya? Jika belum termasuk biaya makan, berarti jadi lebih besar lagi. Untuk kita-kita yang orang kantoran, pastilah ditambah pula dengan acara ngopi-ngopi bersama teman untuk menhindari stress akibat tumpukan pekerjaan.  Nah, jika sering pula makan siang ke restoran atau cafe, harga makanan pasti lebih mahal karena dibebankan biaya pajak dan service yang tinggi. Belum lagi jika ditambah pesan minum, yang seringkali bahkan lebih mahal daripada makanannya! Bikin bangkrut deh!

Namun berbeda soal jika menggunakan jasa catering. Mereka sudah memiliki standar harga yang sesuai dengan makanan yang disajikan. Kita juga gak perlu keluar ongkos buat menuju cafe atau restoran. Dengan sistem pembayaran catering yang jelas, kita menghemat biaya pengeluaran hingga 2 juta per bulan! Lumayan kan, uangnya selain bisa ditabung, juga bisa dipakai buat piknik! Yeay!!

Jasa Catering Menghadirkan Variasi Makanan

Pernah mengalami kebosanan yang tak terhingga saat makan di restoran favorit ? Ya, walaupun makan di restoran favorit, tetap saja kita bisa dihinggapi rasa bosan. Lain ceritanya jika menggunakan jasa catering. Pengusaha catering sudah menyusun menu yang pas dan variatif untuk menghindari rasa bosan pelanggannya. Selain memberikan berbagai pilihan menu yang variatif, mereka juga memastikan makanan tersebut sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Bahkan ada jasa catering yang menunya bisa kita atu sendiri loh!

Jasa Catering Memberikan Menu dengan Gizi Seimbang

Makanan yang dikonsumsi di restoran boleh jadi lezat dan nikmat, namun apakah makan tersebut menerapkan pola gizi seimbang dengan menghadirkan makanan 4 sehat 5 sempurna? Hemmm, gak tau deh… Tubuh kita membutuhkan perpaduan karbohidrat dengan sumber protein nabati, lengkap dengan sayuran dan buah-buahan di setiap makanan yang kita konsumsi. Jasa catering memastikan kita mendapatkan menu makanan dengan gizi yang seimbang. Jangan abaikan kesehatan hanya demi melahap makanan enak!

Jasa Catering Menjamin Ketepatan Waktu

Di tengah kesibukan  yang padat, rata-rata kita harus “menyelipkan” minimal 15 menit untuk makan. Untuk orang dengan kesibukan yang tinggi, mengatur jadwal jam makan adalah hal yang cukup sulit. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Gunakan jasa catering dong! Dan kita selalu menyantap makanan tepat pada waktunya. Pelanggan catering dapat menentukan sendiri waktu dan lokasi yang sesuai untuk pengiriman. Jadi, gak ada lagi kelewat atau lupa makan akibat harus cari-cari dulu makanannya…

Jasa Catering Menjamin Kebersihan Makanan

Makan di luar, entah itu di kantin atau restoran pasti menggugah selera makan.  Padahal kebersihan makanan yang disajikan di tempat tersebut belum tentu terjamin! Jasa catering memastikan makanan yang kita konsumsi bersih dan sehat.  Sekarang makin banyak catering sehat yang selain enak juga bisa membantu program diet dengan tetap mengutamakan kecukupan gizi.

Setelah membaca manfaat “tersembunyi” dari menggunakan jasa catering, lalu dari mana kita bisa mendapatkan jasa catering yang terpercaya tersebut? Sejasa.com sebagai marketplace jasa No.1 di Indonesia dapat menghubungkan Anda dengan penyedia jasa catering profesional terpercaya. 

sejasa

Uniknya di Sejasa.Com calon pelanggan bisa mengkustomisasi catering sesuai kebutuhan.  Isi form dan request di web-nya, sesuaikan dengan kebutuhan dan budget masing-masing. Biar gak beli kucing dalam karung, lihat dulu review dan  portofolio penyedia jasa di halaman business profile, sehingga kita dapat memilih penyedia jasa catering yang terbaik!  Tinggal tunggu penawaran berupa estimasi harga dari beberapa penyedia jasa catering. 

Hits: 941

Sejak beberapa tahun ini, bagi Saya batik ibarat seragam sekolah. Bayangin aja, dalam satu minggu, saya wajib 3 kali menggunakan batik ke kantor. Alhasil, koleksi batik saya sekarang lumayan banyak.  Hebatnya, batik sebagai warisan leluhur kini bukan lagi dianggap baju resmi Indonesia. Kalau dulu dianggap seragam kondangan atau baju resmi Pak RT, kini batik makin dekat dengan kita. Sudah umum di setiap sudut jalanan kita melihat orang menggunakan batik. Kerennya lagi, modelnya pun kian beragam.

Seiring dengan berkembangnya mode saat ini, kain batik tidak hanya digunakan sebagai pasangan dari kebaya atau pakaian tradisional saja, namun banyak designer yang sudah menggunakan batik sebagai bahan dasar rancangan mereka. Belakangan batik sedang banyak diminati juga oleh kalangan muda dikarenakan modelnya yang beragam, coraknya yang lebih “muda” dan warna-warnanya yang makin bervariasi. Harus kita tahu, bahwa batik itu tidak cuma berasal dari Jawa loh, hampir seluruh daerah di Indonesia punya batik. Kaya kan negeri kita ?

Hampir semua model pakaian gini sudah menggunakan batik, mulai dari mulai kemeja, jaket, hem, celana bahkan rok batik wanita saat ini lagi hits banget. Dari model resmi hingga santai. Rok batik juga bisa dijadikan pilihan yang tepat untuk digunakan di berbagai macam acara dari resmi hingga santai. Ada beberapa model yang bisa jadi pilihan kamu menggunakan batik, sekaligus tips agar menggunakan batik tidak monoton.

Kain batik untuk Rok

Belakangan ini banyak tutorial untuk memakai kain batik menjadi rok tanpa harus dijahit terlebih dahulu, cara ini memang cara yang paling mudah dan simple untuk menggunakan kain batik yang kamu punya. Selain itu kamu juga bisa memakainya di acara-acara formal, ataupun santai. Padanannya pun bisa kebaya semi formal, blouse ringan bahkan cardigan.

batik1

Celana batik

Selain dibentuk sebagai rok, kain batik juga dibentuk menjadi celana. Bagi kamu yang tomboy pasti lebih senang menggunakan model ini karena simple dan membuat kamu jadi lebih mudah bergerak. Kalau dulu celana batik cuma jadi pakaian tidur, kini naik pangkat bahkan bisa digunakan untuk acara resmi tergantung potongannya. Buat kamu yang suka traveling, saya rekomen banget nih punya koleksi celana batik. Selain ringan, lembut, gampang kering, pilihan warna-warna cerah juga bakal bikin foto kamu instagramable!

Dress

Cara ini mungkin agak sedikit unik, namun sudah banyak artis dan beberapa fashion blogger yang membuat tutorialnya. Kamu bisa mem-variasikan kain batik kamu sebagai dress, mulai dari neck dress, atau one shoulder dress. Dress batik dalam potongan sederhana sudah lazim digunakan sebagai pakaian kerja. Biar terlihat lebih formal, kamu bisa menambahkan blazer warna senada.

Dari berbagai pilihan model serta tutorial memakai kain batik yang ada saat ini pasti akan membuat kamu lebih mudah untuk menentukan model dari kain batik sesuai dengan keinginan kamu. Memakai kain batik menjamin penampilan kamu terlihat lebih menarik dan elegan.  Bagi kalian yang lebih senang membeli rok, atau kemeja batik bisa juga dilihat di mataharimall.com untuk berbagai macam koleksi batik.

Hits: 699

“Nonton Rudi Habibie yuk”, kata saya ke seorang teman saat kami sama-sama bingung mau melakukan apa di sebuah akhir pekan bulan lalu.

Upss, dua setengah jam tak terasa berlalu. Saya menengok arloji, sudah menjelang tengah malam rupanya. Rasanya belum ingin beranjak dari kursi empuk sinema ini. Masih belum ingin meninggalkan Reza Rahardian yang memainkan lakonnya begitu apik di film itu. Reza benar-benar menjelma menjadi Habibie muda dengan kobaran nasionalisme yang tertular pada Saya. 

Setelah film usai, saya bergegas meng-update sosial media saya. Tidak sabar ingin menularkan rasa cinta kepada negeri yang mendadak menjalari sekujur tubuh Saya. Saat yang sama, sebagian teman-teman saya justru enggan menonton film Indonesia, karena menganggap film lokal tidak sekeren film Amerika yang penuh efek canggih mengagumkan. Mungkin mereka lupa, ini bukan soal film, tapi tentang seorang yang turut membesarkan bangsa ini.

***

Sekitar delapan belas tahun lalu, Ia pernah memimpin negara ini walau hanya selama 512 hari. Tampuk pemerintahan “mampir” padanya setelah gejolak besar terjadi dan memberi perubahan luar biasa pada Republik ini. Sebelum itu, jabatan Menteri Riset dan Teknologi menjadi jabatan yang melekat bertahun-tahun padanya sejak Ia kembali dipanggil pulang untuk mengabdi ke tanah kelahiran. 

Kala benda bernama pesawat terbang masih jadi barang langka dan mewah sebagai moda transportasi, Habibie bahkan sudah membuat dan merakit sendiri pesawat untuk negeri ini. Sederhana, baginya gugusan kepulauan Nusantara yang luas ini hanya dapat terhubung dengan industri kedirgantaraan yang mandiri. Konteks yang sama pernah dicetuskan Patih Gajah Mada ketika bersumpah Palapa, bahwa Indonesia adalah Nusantara. Habibie meneruskan cita-cita itu dengan membangun mimpi menghubungkan Indoensia melalui pesawat ciptaannya.

Habibie pun menjelma menjadi merek bagi manusia Indonesia yang jenius. Ketekunan, keuletan dan kegigihannya mengilhami banyak orang. Terlebih kecintaanya pada Indonesia yang membuatnya memilih kembali mengabdi pada negeri, walaupun Jerman sudah menganugerahi warga negara kehormatan karena paten-paten yang Ia hasilkan untuk industri aerodinamika penerbangan.

 

Memang, perjalanan hidup Habibie tak selamanya mulus dan tak bergelombang. Kehilangan figur Ayah di masa kecil, dibesarkan oleh Ibu yang single parent dan berjuang sendiri menuntut ilmu di negeri orang bukan perkara yang mudah yang harus dilalui Habibie Pun ketika berhasil menduduki kursi orang nomer satu di negara ini. Cibiran, penolakan hadir dari berbagai lapisan karena Habibie sejatinya bukan dibesarkan dari politik. 

Pada masanya, Ia berprestasi dalam diam. Mungkin orang mengira Habibie cuma tahu soal pesawat terbang dan teknologi. Tidak lebih dari itu. Namun di kurang dari dua tahun pemerintahannya, Ia menelurkan berbagai peraturan yang hingga kini berpengaruh signifikan bagi Indonesia. Masih ingat, nilai dollar yang naik hingga 500% pada 1998? Cuma Habibie yang dalam waktu singkat mampu mengawal penurunannya menjadi ke Rp6700 saja. Habibie hadir saat Indonesia dalam kondisi sakit parah. Ekonomi kacau, politik amburadul dan masyarakat kian lemah. Habibie ada di masa transisi besar bangsa ini. Masa yang kemudian menjadi salah satu milestone paling penting sejarah bangsa.  

Ah, sungguh…saya malas dan muak dengan politik!  Walau para politikus itu berkampanye (katanya)  atas nama rakyat, selalu ada kepentingan lain atas nama kekuasaan dibaliknya. Tiga puluh tahun berkuasa, Eyang meninggalkan begitu banyak prasasti kebaikan dan meninggalkan dosa-dosa masa lalu. Para suksesornya seluruhnya orang-orang hebat, namun akhir-akhir ini, semua seakan kembali berebut panggung.  Maju ke depan kembali dan lagi lagi atas nama rakyat.  Entah itu demi masa depan partai, entah karena masih belum puas atas kekuasaan

Namun Habibie berbeda. Pidato Pertanggungjawabannya sebagai Preseiden RI pada 1999 memang ditolak MPR, tapi itu bukan menjadi alasan  mundur untuk berkontribusi. Bola matanya yang besar, seolah  ingin menunjukkan semangatnya yang menyala-nyala. Dijembataninya seluruh kepentingan. Tidak memihak, tidak sibuk mencari-cari kesalahan pelaku politik. Habibie sadar, di usia senjanya sudah sepatutnya Ia mendorong generasi yang kini berjuang mengisi kemerdekaan. Habibie jauh dari riak-riak kepentingan satu golongan. Ia ada di setiap kondisi yang membangkitkan semangat, motivasi dan inspirasi. Ia berpikiran terbuka, pandangannya jauh ke depan. tidak terdoktrin cara-cara lama. Bagi saya Habibie adalah Bapak Bangsa Generasi Millenium. 

Sementara tanpa disadari, kita hidup di generasi yang nyaris kehilangan figur. Kita ada di masa ketika selebgram (sebutan pengguna aplikasi instagram dengan ribuan pengikut) justru menjadi idola dan panutan. Baru-baru ini seorang artis Amerika komplain dengan panitia konsernya di Jakarta, yang tidak memperbolehkannya menggunakan baju terbuka. Gara-gara itu, katanya Ia tidak dapat berekspresi secara maksimal. Aspirasi yang dituliskan di akun sosial media -dengan lebih dari 90 juta pengikut-, justru didukung oleh penggemarnya di Indonesia. Mereka ikut-ikutan mem-bully negara sendiri yang seharusnya mereka banggakan karena punya prinsip dan budaya. Banyak anak-anak muda kemudian yang dimanjakan teknologi namun lupa menghasilkan karya. 

***

Minggu lalu, senang rasanya bisa mengunjungi Pameran Foto Habibie sebagai penghormatan terhadap Ulang Tahun beliau yang ke 80. Acara ini bertajuk Pameran Foto Habibie dan Gebyar Aneka Lomba yang diselenggarakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends of Mandiri Museum.  Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli – 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua.

Sosok cerdas, nasionalis dan penuh cinta dirunut dalam rangkaian foto yang bercerita. Bangga masih ada juga komunitas anak muda yang menjadikan Habibie sebagai panutan bagi negeri.  Habibie adalah inspirasi yang sebenarnya.

 

 

Hits: 657