Kalau bisa dapat harga murah, kenapa harus beli yang mahal? Betul gak? Dengan frekuensi traveling yang cukup kerap, memesan hotel melalui internet menjadi pilihan saya beberapa tahun terakhir ini. Praktis, murah dan mudah. Lebih asyik lagi banyaknya situs yang menawarkan memesan kamar hotel secara online membuat harga makin bersaing yang tentunya akan menguntungkan kita sebagai pelanggan.

Nah, akhir-akhir ini dengan kondisi kantong yang mepet, hasrat buat liburan sulit terlawan. Iseng-iseng saya mengecek Pegipegi.com yang memang sudah jadi langganan Saya. Dari sekian banyak situs pemesanan hotel, harganya yang lebih murah dan pilihan hotelnya banyak. Bahkan hotel-hotel baru yang belum terdaftar di situs lain, sudah ada di Pegipegi.Com.  Tidak usah traveling jauh-jauh, saya sering sekedar mampir satu-dua hari untuk menyegarkan suasana ke kawasan Puncak di Bogor atau leyeh leyeh di Bandung. Beberapa waktu lalu saya malah memesan hotel di Semarang dan Yogyakarta untuk mampir sebentar setelah menghadiri sebuah pernikahan. Jadi lebih super irit lagi, karena Saya perginya rame-rame yang artinya bayar kamar pun bisa sharing. Duh, ini sih udah emak-emak tapi masih bergaya anak kos… Uniknya lagi, dengan menjadi anggota Pegipegi.com, kita terus mendapatkan potongan jika membagi pengalaman kita melalui situsnya. Never ending diskon deh!

 

jangan lupa piknik!
jangan lupa piknik!

Baru-baru ini saya diberi tahu oleh seorang teman tentang situs Paylesser.Com. Ternyata situs yang bermarkas di India ini sudah menjalin banyak kerjasama dalam bentuk pembelian voucher diskon dengan berbagai e-commerce di Indonesia. Dan salah satunya Diskon Voucher Pegipegi Indonesia. Yess!! Rejeki anak sholeh banget nih! Hehehe.. Jadi deh short escape saya bulan lalu di Bandung menggunakan Paylesser voucher juga.  Paylesser juga bekerja sama toko-toko online terkenal di Indonesia, tidak hanya pembelian tiket dan hotek untuk traveling. Jadi jangan khawatir, kita bisa dapet paylesser voucher untuk barang-barang yang mungkin selama ini kita idam-idamkan. 

payless1

Mau nyontek resep hemat ala saya?  Yuk, hunting Diskon Voucher Pegipegi Indonesia !! Cukup ikuti langkah-langkahnya. Sekarang lagi ada ada promo potongan hingga 50% di beberapa destinasi utama wisata di Indonesia. Plus bisa juga sekalian mencari potongan untuk beli tiket kereta api. Untuk pemegang kartu kredit dari beberapa bank, silakan juga dicek. Lumayan loh! Menghemat biaya traveling sama dengan kita bisa jalan-jalan sepanjang tahun. Yeay!!

payless2

Hits: 742

Kalau masih bisa mudik, mudiklah. Biarpun ribet, macet, mahal dan capek. Karena pada saatnya nanti, saat semua sudah terpisah, berkumpul dengan keluarga menjadi sesuatu yang sangat mewah

Siang ini saya seharian di rumah, menonton TV yang hampir seluruh siarannya berisi berita arus mudik. Ah, baru sadar sudah berapa lama saya tidak ada dalam rombongan itu. Beberapa tahun lalu saya masih merasakan mengantri hingga belasan jam di Pelabuhan Merak untuk menyebrang ke Bakauheni. Mobil kami berdesak-desakan dengan ribuan kendaraan lain. Saking penuhnya, untuk membuka pintu mobil pun tidak bisa. Kebelet pipis ? Yah, silakan keluar lewat jendela. Serius loh! Di masa kuliah tidak kalah parahnya. Namanya mahasiswa yang hidup pas-pasan, saya pernah mudik dengan bis ekonomi tanpa AC dan kaca jendela yang tepat di kursi saya copot. Jadilah selama perjalanan yang hampir 24 jam itu, saya tertampar-tampar angin malam dan udara lepas.  Masuk angin deh, ketika sampai kampung. Ketika bekerja di Aceh, saya juga pernah mudik dengan rute yang lumayan. Banda Aceh-Medan-Jakarta-Palembang disambung 5 jam perjalanan darat ke Lahat. Pake pesawat terbang memang, cuma namanya musim liburan, bandara pun tidak ubahnya terminal bis. Apalagi, saat itu tiket pesawat Banda Aceh tujuan Jakarta habis. Terpaksalah saya transit di Medan hingga setengah hari lamanya.  Tidak heran kalau saya sering sekali tiba di rumah menjelang Sholat Ied.  

Kalau pun sekarang sudah lebih mampu dan mudik pasti pakai pesawat, ternyata saya merindukan masa-masa itu. Berdesak-desakan dengan sejumlah oleh-oleh buat handai taulan, macet, antri lama seolah tidak berarti jika ingin berlebaran bersama keluarga. Bahkan tidak sedikit yang mudik dengan menantang bahaya. Bermotor dengan keluarga dengan barang bawaan yang tidak sedikit dan jarak tempuh ke kampung yang hingga ratusan kilometer. Malah, tetangga teman saya yang seorang pengemudi bajaj, pernah mudik dengan bajajnya! Gila memang. Hebatnya orang Indonesia, mereka menjalani itu setiap tahun tanpa kapok dan bosan! Persiapan mudik, mulai dari mencari tiket hingga menyiapkan oleh-oleh terkadang malah melebih persiapan ibadah puasa itu sendiri. Kalau pun sekarang moda dan infrastruktur transportasi kian dibenahi, namun itu tidak mengurangi “kehebohan” ritual tahunan ini.

Family Time
Family Time

Sekarang kondisi di keluarga saya sudah berubah. Setelah anak-anak sudah pindah, menetap jauh hingga ke luar negeri dan orang tua saya ikut salah satunya anaknya, rasanya keseruan mudik seperti yang dulu-dulu hanya sudah menjadi kenangan manis yang tersimpan di pigura-pigura foto di rumah Ibu Saya. Sedih? Pasti. Sampai tiba masanya, terasa sekali waktu bersama keluarga adalah hal yang paling mewah. Kerepotan dan kelelahan menjalani mudik ternyata tidak ada artinya jika kita menyadari kembali ke kampung halaman, berkumpul dengan sanak saudara adalah sesuatu yang sangat berharga. 

***

Data menyebutkan total pemudik atau migrasi orang saat lebaran rata-rata sekitar 26 juta orang per tahun. Saya yakin, jutaan pemudik tersebut menyadari indahnya kebersamaan di kampung halaman. Ya, memang ada sih yang niatnya mudik adalah untuk pamer kesuksesan. Tapi di sisi lain, hal itu justru memacu para perantau untuk bekerja lebih giat di perantauannya. Meskipun mudik juga terlihat konsumtif, tapi sejatinya mudik justru mampu menggiatkan perekonomian. Ada berapa banyak THR yang dibagikan ke keluarga di kampung? Ada berapa banyak perdagangan yang bergerak karena budaya ini? Namun yang perlu menjadi perenungan adalah; Indonesia memang terlalu luas ya… sehingga pembangunan di beberapa tempat khususnya Pulau Jawa, jauh lebih cepat dibandingkan daerah lain. Mungkin nantinya jika pembangunan sudah lebih merata, arus mudik tidak akan sedahsyat ini. 

Ah, apapun namanya…bagi saya mudik adalah berkumpul dengan keluarga. Setelah satu tahun berjibaku dengan pekerjaan yang terkadang menjemukan dan monoton. Mudik adalah hakikat kita agar tidak menjadi kacang yang lupa kulitnya. Mudik adalah momen untuk merasakan kebersamaan, yang bisa saja tidak terulang lagi. Yuk Mudik!

Hits: 1280

“Haa? Lo dapet duit dari ngeblog?”  

Seorang teman kayaknya cukup kaget mendengar penuturan saya, setelah saya mentraktirmya menikmati secangkir cappucino hangat yang nikmat. Beberapa tahun yang lalu saya juga agak kaget ketika ada yang mengontak saya, menanyakan rate sponsorship di blog ini. Karena saat itu saya belum tahu apa-apa tentang hal ini, dilala saya malah balik bertanya apa alasannya memilih blog saya. Lalu si sponsor memberi gambaran nilai rupiah berdasarkan beberapa indikator seperti Page Authority, Page Rating, Alexa Rating dan lain lain. Loh, loh..ini bikin saya bengong lagi.. Lah, hewan apa tuh? Sumpah saya mah nulis ya nulis aja! Sama sekali belum terpikir, kalau tulisan kita bisa dipantau dan dianggap berprospek oleh pemasang iklan.

Tapi itu cerita dulu. Hehehe.. Dari sana saya mulai tertarik mengikuti perkembangan dunia blogging. Ikut komunitas blogger dan sedikit demi sedikit mulai belajar tentang SEO (Search Engine Optimization). Kalau dulu nulis juga asal-asalan, makin kesini makin belajar menulis yang menarik, tanpa menghilangkan style saya menulis Saya. Tapi itu semua saya lakukan bukan semata karena mengejar uang. loh! Memang..so far, dari blog ini saya sudah bisa dapet uang buat ngopi-ngopi sambil nulis. Belum apa-apa sih, di luar sana, banyak blogger profesional yang bisa menghasilkan uang jutaan dari blog. Namun saya belajar, ternyata hobi saya ini juga bisa menghasilkan uang asal tahu caranya.

Sebuah majalah Pemasaran yang terbit di Jakarta, beberapa bulan lalu menyebutkan bahwa kini format blogging cenderung dinilai lebih powerful dibanding iklan biasa. Pemasang iklan mulai melirik blogger untuk memasarkan produknya. Tidak melulu harus dagang, popularitas sebuah website juga bisa dikatrol oleh blog. Oleh karena itulah, eebsite-website e-commerce dan non e-commerce berebut tampil di halaman pertama Google. Caranya gimana? Dengan memperbanyak penempatan link pada blog-blog yang setema dengan produk mereka.

Tidak itu saja, maraknya trend jalan-jalan, selfie dan kemudian diposting di sosial media, membuat blogger makin dilirik oleh pelaku pariwisata. Mulai jamak, pemerintah maupun swasta mengundang sejumlah blogger untuk menulis tentang daerahnya. Sejumlah blogger diajak jalan-jalan dengan biaya yang ditanggung oleh panitia. Sebagai imbalannya mereka harus menulis tentang daerah wisata yang dikunjunginya dan memposting foto, status atau sejenisnya di sosial media. Makin banyak dibicarakan viral, makin besar peluang wisatawan untuk berkunjung. Menarik sih, apalagi buat saya yang memang seneng jalan-jalan gratis. Hehehe.. Bahkan saat ini, beberapa perusahaan pemerintah dan swasta yang dulunya terkesan kaku dan old school, makin melek menggunakan jasa blogger untuk mengkomunikasikan produk atau menguatkan branding-nya di masyarakat.

Perubahan yang sangat dinamis itu akhir-akhir ini justru banyak menggeser arti blogging itu sendiri. Banyak blogger yang mulai menjadikan tulisannya menjadi sebuah advetorial, lupa dengan review dan persepsi pribadi.  “Enak, ya.. lo masih bisa nulis dengan cara lo sendiri, tidak melulu ada titipan merek.  Kata seorang rekan yang juga blogger dan redaktur senior di sebuah majalah digital kepada saya. Padahal bedanya blogger dengan advetorial  salah satunya blogger harus mampu menghasilkan tulisan dengan persepsi sendiri dengan review yang jujur apa adanya. Saya sering menolak tawaran review produk-produk yang belum pernah saya gunakan. Sumpah, saya pernah ditawarin review lingerie dan pakaian bayi! Ini kok menghina jomblo banget yaa ? Untuk travel blogger, kini banyak bermunculan travel blogger profesional yang bayarannya sekali jalan-jalan bisa ngalahin gaji rata-rata bulanan manajer di perusahaan swasta!

Semua memang sah sah saja. Tapi tetap tidak boleh lupa, blogging pada dasarnya bukan reportase dan advetorial. Beri tempat masing-masing pada posisinya, jangan dicampur aduk. Tetap upayakan agar pembaca blog kita mendapat informasi sesuai porsinya. Tetap kritis, menginspirasi dan memberi kebahagian kepada pembacanya. Happy Blogging!

Hits: 958

Di sebuah kedai kopi dengan secangkir cappucino hangat, Saya mencatat beberapa beberapa aktivitas yang harus saya lakukan hari ini. Mulai dari membayar tagihan, merespon email-email klien, mengupdate website, belanja beberapa kebutuhan sehari-hari, membeli tiket liburan saya bulan depan hingga mengirim beberapa pesanan teman. Beberapa tahun lalu, saya tidak membayangkan jika kini semua itu bisa dilakukan hanya dengan jari, sembari duduk santai mendengarkan musik.

***

Teknologi yang mengubah dunia

Kesibukan, keterbatasan waktu dan kompleksitas aktivitas kita sehari-hari menuntut semua hal dapat dikelola dalam sebuah platform yang dapat digunakan dimana saja dan dipantau kapan saja. Kalau dulu komputerisasi sistem hanya digunakan sebagai repository (media penyimpanan data), kini pergerakan perkembangan sistem menjadi bagian penting sejak pengelolaan informasi hingga proses pengambilan keputusan. Pergerakan jumlah pelanggan, perubahan pembelian bahkan kondisi komplain customer bisa dipantau secara real time yang bisa berubah dalam hitungan menit. Tidak untuk pekerjaan-pekerjan strategis saja, hampir semua sisi kehidupan kini sudah menyatu dengan digitalisme. Seperti kegiatan saya pagi ini, pernahkah dulu kita berpikir,  dari membeli saham bluechip hingga membeli nasi bungkus bisa dilakukan cukup dengan satu jempol saja?!

Media Sosial pun mulai naik pangkat, kalau dulu “cuma” dianggap buku harian personal digital, kini menjadi bidang yang digarap sangat serius oleh berbagai perusahaan swasta bahkan pemerintah. Pernahkah dulu Anda berpikir ocehan kecil kita di twitter ternyata bisa mempengaruhi satu perusahaan mengambil keputusan penting?  Kumpulan  status, ocehan, foto, pendapat, komplain itu menjadi bagian dari  big data, sebuah terminologi yang sedang hits di dunia teknologi. Sudah tidak aneh, saat ini mulai banyak perusahaan kecil maupun besar membuka jalur sosial media sebagai wadah untuk memasarkan produknya, berkomunikasi dengan pelanggan, memperoleh feedback, masukan hingga keluhan dari pelanggannnya. Bahkan beberapa lembaga pemerintah pun mulai terbuka melalui keseriusan mengelola  media sosial untuk membangun komunikasi dengan masyarakat terutama terkait pelayanan publik.

***

Kompetensi Digital Sebagai Kunci

Seperti yang tadi diuraikan diatas, teknologi sudah menjadi keniscayaan yang tidak  bisa dihindari.  Techniasia.com sebuah website yang khusus membahas perkembangan teknologi digital menyebutkan, hingga 2015  ada 72 juta pengguna internet aktif di Indonesia, dimana 62 juta diantaranya menggunakan sosial media. Dalam gambaran lebih luas lagi, kepemilikan ponsel di Indonesia sudah mencapai 308 juta ponsel.  Pertumbuhan pengguna sosial media tahun lalu sebesar 19%. Wajar, jika akhirnya pejabat dari tingkat lurah hingga Presiden pun aktif di sosial media. Dunia digital sudah menjadi satu ekosistem baru dimana semua orang akan terlibat di dalamnya. Tidak terlibat berarti ketinggalan.

Nah, Kalau sudah begini…masihkah kita enggan mempelajari lebih jauh tentang dunia digital?  Eits, ini bukan cuma masalah gagap teknologi (gaptek) atau tidak, loh!… Kadang kita merasa, jika sudah mahir menggunakan ponsel canggih,  menggunakan berbagai aplikasi online, rajin mengupdate status di media sosial artinya kita tidak gaptek. Jangan salah, yang sebenarnya lebih penting dipahami adalah bagaimana kita dapat mengimplementasikan teknologi itu dalam pekerjaan dan perusahaan. Pengetahuan dan penguasaan akan teknologi digital menjadi keharusan di semua lini perusahaan dan pelaku bisnis. Mengikuti training-training atau seminar bertema penguatan kompetensi digital bisa jadi satu pilihan yang bagus. Namun sejatinya, pengetahuan hal ini akan lebih “nendang” jika kita terlibat di dalam proses yang menggunakan teknologi itu sendiri. Jangan lupa, sering membaca dan mengikuti perkembangan teknologi juga  bisa jadi tempat belajar yang mumpuni.

Teknologi digital bukan saja tools tapi sudah menjadi bisnis itu sendiri. Memahami dunia digital tidak sekedar dapat mengoperasikan aplikasi dan mengetahui proses bisnis penggunaan teknologi itu. Namun lebih jauh dari itu, setiap individu yang terlibat wajib mengetahui bagaimana teknologi mampu membuat proses bisnis menjadi lebih mudah, efektif, efisien yang pada akhirnya memberikan profit lebih baik bagi perusahaan dan memenangkan kompetisi.

***

Vika Octavia. Cisarua, 3 Mei 2016

 

Hits: 1223

Bulan Ramadhan tidak ubahnya seperti Bulan Silaturahmi dan reuni. Bulan suci itu,kini bukan hanya milik mereka yang muslim, karena mereka yang tidak puasa pun kalau yang namanya makan-makan, rasanya pantang ditolak! Hehehe.. Acara Buka Puasa Bersama seakan sudah menjadi wajib dalam 30 hari Ramadhan. Dari yang kecil-kecilan sampai gede-gedean. Selama 1 bulan, yakin deh rata-rata sepertiganya kita habiskan dengan acara buka puasa bersama. Jadi kebayang kan rempongnya kalau kegiatan ini tidak direncanakan dengan baik.

Lucunya terkadang puasanya belum mulai, panitia buka bersama sudah dibentuk dimana-mana. Namanya jadi Panitia Buka Puasa Bareng itu paling repot itu mencari venue. Jangankan untuk acara yang lebih dari 20 orang, untuk ngumpul teman-teman dekat saja, kita harus booking beberapa hari sebelumnya. Kalau datang langsung ke mall tepat saat magrib dipastikan kita tidak akan mendapatkan restoran yang diinginkan. Untuk mengakalinya, biasanya ada 1-2 orang teman yang rela datang dua jam lebih dulu sebelum beduk berkumandang.

source: http://www.kaskus.co.id/
source: http://www.kaskus.co.id/

Dalam memilih venue pun terkadang ada beberapa yang harus dipertimbangkan. Seperti lokasinya, kenyamanan, kebersihan, harga makanan, pelayanan dan keberadaan Musholla pun turut menjadi aspek penting acara ini. Mau tidak mau kita harus survei mendapatkan lokasi idaman. Nah, hari gini…survey paling mudah tentu saja lewat Embah Google. Sayangnya, belum banyak website yang menyediakan informasi tentang restoran yang oke, lengkap dan review dan fasilitas booking online.

Tapi mulai tahun ini, kalian bisa memanfaatkan qenue.launchrock.com. Untuk kamu yang setiap tahun merencanakan buka puasa bersama teman atau keluarga, Qenue adalah pilihan yang paling tepat. Qenue adalah sebuah system online yang mempermudah kamu mencari dan memesan tempat berdasarkan jumlah orang plus pendukungnya seperti fotografer dan dekorasi.

Dalam waktu dekat aplikasi/website Qenue akan segera tersedia. Namun kamu mulai sekarang sudah bisa mendaftar untuk mendapatkan spesial invitation plus promo langsung saat nanti dirilis awal Ramadhan 2016. Sila submit email kamu di email disini. Jadi nantinya tidak perlu rempong lagi untuk mencari tempat buka puasa bersama terbaik. Tinggal klik klik secara online, dan semua sudah kami yang urus.

Oya, ke depannya Qenue tidak hanya untuk booking resto loh! Dengan pakai aplikasi ini kamu juga bisa mendapatkan fasilitas acara-acara penting seperti bridal shower, baby shower, mini workshop, product launch, wedding, birthday party, family dinner dan semuanya. Nanti semuanya akan dibocorin ke kamu yang sudah daftar di Qenue

Qenue juga mengundang para pengusaha resto untuk bekerja sama. Silakan krim data resto ke email qenue.info@gmail.com. DItunggu yah!

Hits: 964

Tadi malam saya bertemu seorang pejabat sebuah provinsi di Sulawesi. Beliau ini adalah counterpart Saya di pekerjaan yang lama. Kurang lebih dua tahun tidak bertemu, Ia menawarkan berkunjung kembali ke daerahnya. Saya yang memang niat cari jalan-jalan gratisan tentu saja bersemangat!.  Asal tahu saja, ketika masih bekerja di lingkungan Istana, kami tidak diperkenankan menerima satu rupiah pun dan dalam bentuk apapun dari provinsi-provinsi yag menjadi mitra kami. Nah, sekarang sejak pindah kerja.. ceritanya sudah beda kan?  Karena tidak punya conflict of interest lagi, tawaran itu kayaknya bakal saya follow up!  Hehehe…

Eits, tapi tunggu dulu… Tentu saja tidak ada yang free kan di dunia ini. Kami ngobrol banyak tentang pariwisata di daerahnya.  Mereka punya potensi alam yang indah, kuliner yang enak-enak dan budaya yang unik. Namun sayangnya, sejauh ini kegiatan yang dibuat Pemda tersebut untuk mempromosikan daerahnya masih terbatas pada kegiatan-kegiatan “konvensional” seperti Pemilihan Putri Pariwisata, Pagelaran Tari dan sejenisnya yang lebih bersifat hiburan rakyat. Intinya kegiatan-kegiatan yang tidak memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan kunjungan wisatawan di daerah itu. Kemudian pembicaraan itu pun mengalir, hingga terpikir apa yang bisa saya lakukan untuk pariwisata daerah itu.

***

Pada 2015, Presiden Joko Widodo, menyebutkan pariwisata Indonesia tumbuh di atas rata-rata negara lain di dunia yang hanya 4,4%,  rata-rata pertumbuhan pariwisata negara-negara di kawasan Asean juga hanya sebesar 6%, namun pariwisata Indonesia justru tumbuh 7,2%. Indonesia menargetkan pariwisata akan tumbuh hingga 12% per tahun. Melengkapi data tersebut, Menteri pariwisata menambahkan kunjungan turis mancanegara tahun 2015 mencapai 10,4 juta orang naik sangat signifikan dan estimasi perolehan devisa di sektor ini Rp144 triliun.

Untuk menarik wisatawan, promosi gencar dilakukan oleh banyak provinsi. Namun, istilah “tourism digital media campaign” mungkin baru populer akhir-akhir ini. Pada dasarnya definisi istilah ini adalah upaya kampanye pariwata melalui format-format digital seperti website dan sosial media. Tourism Digital Campaign juga sejalan dengan kebijakan pemerinth pusat dimana salah satu stregi pemasaran yang harus diaplikasian adalah BAS (Branding, Advertising & Selling) dengan kekuatan pada aspek digital.

Menteri Pariwisata Arief Yahya bahkan mengungkapkan satu-satunya cara agar promosi wisata Indonesia bisa lebih masif adalah dengan beralih dari promosi wisata melalui media konvensional seperti TV dan media cetak menjadi media digital

Lalu, ngerjain apa saja sih kegiatan tourism digital campaign ini? Pertama saya menggarisbawahi dikelolanya akun sosial media secara khusus dan serius. Keliatannya sepele, karena sosial media masih dianggap sebagian orang sebagai ajang pamer dan selfie. Tapi kini bahkan perusahaan-perusahaan kelas dunia sudah mulai mengelola akun sosial medianya dengan serius sebagai jembatan berkomunikasi dengan pelanggannya. Untuk tourism, menurut saya hal ini mutlak dan wajib dilakukan oleh Pemda. Pengguna internet di Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Sebanyak 93% (72 juta) diantaranya merupakan pengguna Sosial Media, dimana 30 juta diantaranya anak muda (usia 18-35 tahun) yang merupakan pangsa pasar baru pariwisata.

Pada dasarnya, ada beberapa tujuan pengelolaan akun sosial media untuk pariwisata seperti: 1. Sebagai media informasi kegiatan-kegiatan pariwisata  yang digagas oleh pemerintah, swasta maupun Lembaga Non Profit(NGO), 2. media pertukaran informasi antar wisatawan dan calon wisatawan, 3.Referensi/wadah tempat bertanya tentang pariwisata daerah dan 4. media komunikasi dengan berbagai stakeholders.

Memang ada diantara kita yang menghubungi Miss Pariwisata Indonesia jika perlu informasi tentang tempat jalan-jalan yang asyik? Sekarang informasi mana yang tidak bisa diperoleh dengan jari jemari? Sementara itu, hampir seluruh aspek traveling sudah tersentuh teknologi. Dari pemesanan tiket, hotel, provider trip hingga rekomendasi perjalanan semua sangat tergantung dengan internet.

Kini, sudah menjadi trend bahwa berbagai platform sosial media, website dan blogging membuat semua orang seakan menjadi duta wisata daerahnya. Konsep kebangsaan dan nasionalisme yang selama ada di kalangan anak muda, menjadi unsur tak terpisahkan. Ada kebanggaan tersendiri, jika  bisa menayangkan foto-foto keindahan alam di sosial media mereka. Budaya latah selfie di tempat-tempat wisata yang lagi tenar memang sudah mewabah. Ada positif  ada negatifnya, sih.. tapi seharusnya Pemda sebagai pemasar utama pariwisata di daerahnya harus menganggap ini sebagai peluang besar. Kemudian ada fenomena blogging ditengarai lebih “powerful” dibandingkan beriklan secara konvensional. Bahkan biayanya pun terhitung lebih murah dibandingkan membuat satu kemasan iklan khusus di media. 

source: poweredbysearch.com
source: poweredbysearch.com

Sejatinya Pemda dapat merangkum sosial media, blogger, dan orang-orang yang konsen di bidang ini. untuk lebih banyak menulis tentang daerah kita. Caranya macam-macam. Misal undang 20 orang blogger selama beberapa hari untuk mengeksplore daerahnya. Pilih blogger-blogger kompeten dengan banyak follower dan mampu mengemas apa yang mereka lihat dalam tulisan yang apik dan mengundang (bukan mengundang birahi, ya…) Format publikasinya bisa beragam mulai dari blogging, video, foto, post update di Facebook, Instagram, Twitter, Path dll.

Eh, saya bukan promosi blogger loh! Tapi Bapak/Ibu Pejabat Yth, bugdet mengundang mereka itu jauh lebih kecil daripada Bapak/Ibu bikin event pemilihan Putri-Putrian. Serius! Seperti saya bilang, blogger itu kebanyakan mereka yang senang jalan-jalan, suka menulis, hobilah yang membuat mereka menjadi blogger. Paling penting lagi, rasa nasionalisme dan idealisme merekalah yang dengan suka rela menyebarluaskan cerita tentang Indonesia. Diundang dan dipercaya saja sudah sebuah kehormatan bagi mereka.

Masih banyak kegiatan-kegiatan lain yang bisa digagas. Tentu setiap provinsi akan tampil dalam kemasan yang berbeda tergantung kebutuhan, potensi dan berbagai pertimbangan lain. Tertarik? Saya dan teman-teman dengan semangat membangun negeri akan senang hati membantu Bapak/Ibu! Please free to contact me…

<span data-iblogmarket-verification=”bHSl68xC9WFo” style=”display: none;”></span>

Hits: 677

Pertanyaan yang paling sering akhir-akhir ini datang ke saya adalah: Bagaimana caranya bisa menulis, gimana caranya memulai untuk menulis atau apa sih yang bisa kita tulis. Eh, ini sumpah bikin GR loh! Berasa kayak gw udah mahir banget dan keren gitu… Hahaha. Padahal mungkin mereka-temen-temen gw yang suka baca blog- ini cuma iseng doang, mau bikin eyke GR. Secara di luar sana, temen-temen saya yang lain sudah canggih-canggih sampe bikin buku bahkan nulis di harian-harian ternama ibukota. Apalah awak ini. 🙁 Tapi okelah, untuk menghargai mereka para fans saya itu, saya akan sedikit memberikan tips menulis,wejangan atau lebih tepatnya sharing tentang topik ini. Sama sekali saya belum merasa jago loh.., tapi ini saya anggap sebagai sarana pembelajaran juga. Tarikkk mang…

Menulis itu dimulai, bukan “dipelajari”
Menurut saya sih awalnya emang agak lucu pertanyaan seperti itu. Toh, hal pertama yang diajarkan ketika kita masuk sekolah adalah membaca dan menulis. Namun ternyata menulis dengan baik, nyaman dibaca, runut dan punya isi itu, memang bukan pekerjaan mudah. Saya pun hingga kini masih terus belajar. Ini dia jawaban pertama dari pertanyaan-pertanyaan tadi: Belajar! Bagaimana cara belajarnya?! Saya percaya belajar menulis yang baik itu adalah memulainya. Bukan mempelajari teorinya. Nah loh?! Toh, sebenarnya menulis sudah jadi pekerjaan sehari-hari kita sejak jaman sekolah. Minimal banget deh kita pernah merangkai kata saat menjawab pertanyaan essay. Memulainya pun sebenarnya bisa dimana saja, apalagi saat ini ketika gadget sudah menjadi pendamping yang paling setia karena ditenteng kemana-mana. Bagi mereka yang kerja kantoran, berkomunikasi via email sebenarnya bisa sebagai ajang belajar untuk mengungkapkan ide melalui tulisan. Ini susah-susah gampang sebenarnya. Oleh karena itulah saya membiasakan diri memberi laporan secara tertulis dibandingkan laporan secara lisan. Manfaatnya, selain akan punya “record” tentang pekerjaan, kita juga bisa belajar banyak menulis dari sini.

12645068_1078677352184496_3629225290308695949_n

Mulai dari ide sederhana.
Pasti banyak yang sering merasakan susahnya mencari ide menulis. Sama!! saya juga begitu. Tapi setelah sering-sering main ke tetangga, maksudnya ke blog-blog orang, ternyata banyak tulisan sederhana tapi menarik. Tidak usah dululah berpikir untuk menghasilkan tulisan cerdas yang penuh dengan teori-teori keren yang seolah menunjukkan tingkat intelektualitas penulisnya. Terkadang banyak hal-hal di sekitar kita yang keliatan bodoh tetapi menarik untuk ditulis. Pernah baca buku-buku Raditya Dika kan? Dia sukses mengangkat cerita-cerita yang kayaknya “cemen” jadi luar biasa. Idenya yang “sederhana” itu justru kena di segmen yang ia tuju. Tidak heran kalau bukunya pun laris manis. Intinya, simplicity is the best. Banyak juga yang enggan menulis karena takut salah, takut dihujat, takut hantu, padahal menulis sesungguhnya adalah berbagi persepsi, bukan masalah benar atau salah.  Urusan benar atau salah jadi nomer enam (karena nomer 1 sampai 5 tetep Pancasila). Semakin sering kita menulis, pendapat kita akan semakin berkembang, percaya diri kita pun turut meningkat. Tentu tetap dengan mengindahkan kaidah kaidah tata bahasa dan kepatutan ya, bukan menjurus ke tulisan-tulisan penyebar kebencian yang marak saat ini.

Lebih banyak membaca
Kemampuan menulis, pada dasarnya berbanding lurus dengan kekerapan membaca. Dari sering membaca, kita jadi tahu bagaimana merangkai kalimat, menyampaikan maksud dan tujuan penulisan. Sering dtemukan, banyak orang-orang pandai tapi kalau membuat kalimat panjang-panjang bahkan satu paragraf kadang hanya untuk 1 kalimat. Kebiasaan seperti ini, saya yakin karena ia jarang membaca. Repot kan kalau kita harus bolak balik membaca ulang satu kalimat, karena terlalu panjang yang ujungnya malah membuat bingung. Lebih dari itu, dari membaca, kosa kata kita akan bertambah banyak, ini akan mempengaruhi cara pemilihan kata (diksi) saat menulis, Paling penting lagi, dengan menulis, wawasan kita akan bertambah yang akan berguna banget untuk menjaring ide.

Jadi diri sendiri!
Tulisan kita sejatinya adalah jati diri kita. Banyak orang yang mencoba menggunakan cara dan gaya penulis yang sudah tenar. Yah, gak ada salahnya sih, tapi terus menerus menulis dengan cara orang akan membuat kebosanan dan kelelahan (lelah hayati, bang,,,) Tidak usah berpikir bahwa menulis harus sesuai pola bahasa yang baku. Tulisan itu sama seperti bahasa, kuncinya komunikatif alias nyambung dengan pembacanya. Untuk menemukan gaya masing-masing, jalan satu-satunya: mulailah menulis! Seorang teman pernah bercerita, bahwa dia masih bingung mau menulis, padahal sudah ikut kursus. Balik lagi, teori is nothing tanpa praktek. Membiasakan diri menulis memang tidak mudah, tapi percayalah…kalau sudah dijalani pasti jadi candu.

Bagi saya, menulis adalah wujud eksistensi diri. Mungkin blog saya belum sepopuler mereka-para profesional blogger. Saya juga tidak terlalu peduli, tulisan-tulisan saya akan jadi hits atau tidak, nantinya akan dibaca orang atau tidak,  bagi saya menulis ibarat mencatatkan pengalaman-pengalaman hidup yang bisa jadi warisan untuk anak cucu kelak.  If you would not be forgotten as soon as you are dead, either write things worth reading or do things worth writing (Benjamin Franklin)

Hits: 1170

Buat saya yang sering traveling, menemukan kamar hotel atau penginapan yang nyaman adalah tantangan tersendiri. Dengan sebagian besar gaya liburan yang simple, praktis dan backpacking, harga selalu menjadi konsen utama saya dalam memilih hotel. Walapun demikian, kamar yang bersih, nyaman, lokasi strategis juga tidak kalah pentingnya. Gak mau dong tinggal di kamar yang bikin liburan jadi ribet dan bukannya refreshing, malah kita tidak nyaman untuk beristirahat. Urusan pesen kamar ini memang keliatan simpel, tapi survei membuktikan biaya penginapan umumnya adalah salah satu budget terbesar dalam liburan. Untuk mengakalinya, sebagai traveler kita harus pandai mengatur strategi. Kalau saya, strategi pertama liburan adalah, menentukan hari libur justru bukan saat liburan panjang. Poin awal ini penting banget. Selain harga-harga bisa melonjak 2-3 kali lipat saat musim liburan, rasanya menikmati tempat wisata yang penuh sesak juga bukan sesuatu yang menyenangkan. Buat yang kerja kantoran, simpen jatah cuti baik-baik ya..

Baru baru ini saya menemukan website www.airyrooms.com yang menawarkan konsep berbeda dibandingkan berbagai online travel agent yang sudah lebih dulu eksis. Ternyata airyrooms juga sudah banyak direkomendasikan oleh teman-teman traveler. Airyrooms adalah sebuah perusahaan teknologi di bidang hospitality yang istilah kerennya adalah Virtual Hotel Operator (VHO) yang bermitra dengan berbagai hotel budget terbaik di seluruh Indonesia. Kini airyrooms telah memiliki jaringan di lebih dari 18 kota dan akan terus bertambah.

sumber: airyrooms.com
sumber: airyrooms.com

Hotel Budget dengan Fasilitas Oke
Nah, buat kamu-kamu yang ingin pelesiran yang tetap nyaman namun budget terbatas, Airyrooms wajib banget jadi pertimbangan. Uniknya, meskipun kamarnya tersebar dimana-mana dan dikelola sendiri oleh hotel/penginapan partner, Airyrooms memberi standar yang sama untuk setiap kamarnya. Jadi jangan khawatir, kita tetap bisa menikmati fasilitas yang sama di seluruh jaringan Airyrooms diantaranya AC, TV layar datar, air hangat, wifi gratis, air minum gratis dan lain-lain. Tentu saja kita masih bisa mendapatkan fasilitas lain yang memang disediakan oleh hotel partner. Enaknya lagi hotel-hotel yang bermitra dengan Airyrooms dijamin ada di lokasi strategis yang sebagian besar tidak jauh dari tempat-tempat wisata terkenal di kota-kota yang menjadi jaringan Airyrooms.

Soal harga, Airyrooms menjamin harga kamar mereka sangat bersaing dengan hotel-hotel terkemuka seperti hotel aston, whiz, swiss belinn, holiday inn, ibis, mercure, harris hotel, 1o1 hotel, padahal fasilitasnya bisa sama dengan hotel-hotel tersebut. Gak percaya, silakan cek beberapa testimonial dan review-nya di online travel agent lain seperti Traveloka dan Tripadvisor.

Review Hotel Airy Pakuan Bogor

Review Hotel Airy Airy Citraland International Surabaya

 

 

Pesan dan Bayar Mudah
Satu lagi keunggulan Airyrooms, jika kalian berada di daerah dengan akses internet yang terbatas, pemesanan bisa dilakukan melalui telepon dan aplikasi whats app. Proses pembayaran sepenuhnya akan dibantu oleh Customer Services yang siap melayanin 24 jam! Ini tentu inovasi baru, karena Airyrooms bisa jadi adalah travel agent online  pertama yang menyediakan pemesanan via whats app. Satu lagi, harga yang tertera di website Airyrooms sudah net alias tidak ada pungutan biaya macam-macam transaksi. Metode pembayaran pun sangat simple, bisa transfer atau menggunakan kartu kredit. Masalah keamanan, jangan khawatir. Airyrooms menjamin semua transaksi aman dan terkendali!

Buat yang mau rame-rame, banyak juga kamar yang ditawarkan cocok buat kita kita yang mau liburan bareng keluarga dan sahabat. Asik kan, selain harga terjangkau ,kalau rame-rame malah jadi lebih murah lagi, karena kita bisa sharing.  Pilihannya pun beragam, dari sekedar hotel yang hanya tempat transit, hingga hotel yang menyediakan fasilitas-fasilitas lain seperti kolam renang, fitness center atau tempat bermain anak.

source: airyrooms.com
source: airyrooms.com

Mau tau dimana saja lokasinya dan mau booking hotel yang murah dan fasilitasnya memadaiYuk ke Airyrooms! Happy Holiday

Hits: 812

Kadang-kadang reuni-an itu beda-beda tipis kayak kondangan. Pertanyaan gak jauh-jauh dari: Sudah punya anak berapa? Kerja dimana? Jadi apa? Suami/Istri kerja apa? dimana? Memang sih, reuni itu tujuannya silaturahim. Saya juga kalau dateng ke reuni, niatnya begitu plus sedikit nyari jaringan buat kepentingan nyari rejeki. Tapi ujungnya, reuni cuma jadi ajang bertemunya orang-orang yang saling kepo. Kok, gw kok kayaknya baper banget ya.. Hahaha.. Mungkin inilah derita jomblo ngenes,suka sensitif duluan kalau ditanya status. Hahahaha…

Soal pekerjaan apalagi. Paling males kalau ada yang menyodori pertanyaan yang tidak bisa dijawab dalam 1-2 kalimat pendek. Misal: Kerja dimana? Dan saya jawab: Oh, saya konsultan freelance untuk pengelolaan fasilitas publik (beuh…contoh kok ribet amat..). Si penanya pun mengernyitkan dahi tanda bingung. Jaman saya (apalagi sebelum saya) dan mungkin sebagian orang jaman sekarang, menjawab pertanyaan seperti itu dengan merek-merek keren seperti:  Saya kerja di Pertamini, Saya kerja di Bank Midun atau Saya kerja di Oil Company pasti akan keliatan lebih keren, mantep dan membuat derajat kita seolah naik tiga level. Masih sulit rasanya membuat wajah si penanya terkagum-kagum jika kita menjawab: “Saya sekarang punya bisnis online, jualan lewat instagram. Kesannya pasti lebih mewah jika dijawab: Saya sekarang dinas di Kementerian Keuangan. Uhuk.

Ujung-ujungnya reuni sering bahkan selalu berujung gengsi. Percaya deh, pasti banyak yang males, kalo setelah lebih dari sepuluh tahun terpisah, dan kita masih naik bajaj datang ke lokasi reuni. Reuni seolah menjadi ajang pembuktian kesuksesan yang diukur dari “penampilan” kita saat datang. Jadi bahan obrolan seru, jika si Udin yang dulu dekil, kumel, item dan jelek sekarang hanya 11-12 dengan bintang iklan televisi dan bergaya bak eksekutif muda. Lebih enak digosipin jika si Wati yang dulu tidak pernah dilirik cowok di kampus tetiba menjadi bintang reuni. Atau bahkan sebaliknya si Robert yang dulu keren, kini beda tipis dengan pencandu narkoba sama hebohnya jika si Bianca yang dulu bunga sekolah sekarang sudah menjanda tiga kali.

Memang, reuni itu niat utamanya silaturahim, apalagi menurut agama saya, silaturahmi adalah media untuk memperpanjang umur. Tapi saya pribadi lebih senang datang ke reuni-reuni kecil dengan teman-teman dekat yang memang sudah mengenal saya, plus masih sering kontak meskipun tidak intens. Saya paling males untuk “mempresentasikan” diri dalam  sebuah reuni. Kini kecanggihan teknologi membuat “reuni dunia maya” bisa dilakukan kapan saja. Di beberapa kejadian, saya malah sering kagok datang ke sebuah reuni besar sendirian. Bertemu orang-orang lama membuat kita butuh sedikit waktu untuk “menyesuaikan diri”. Namun adanya grup-grup chat di smartphone membuat rasa kagok itu sedikit berkurang.

Lucunya, selain alasan-alasan diatas ada hal lain yang membuat orang enggan datang ke reuni. CLBK! Yes, dari beberapa rubrik relationship, saya sering sekali membaca banyak perselingkuhan yang terjadi adalah buah dari reuni. Ini benar-benar patut diwaspadai oleh suami/istri yang pasangannya punya niat reuni. Serius! Mungkin dulu banyak cinta yang belum kesampean. Dan kini kita bertemu lagi sang mantan dalam rupa yang lebih kinclong dan lebih mengejutkan lagi, seperti Bianca diatas, dia sudah kembali single. Tiba-tiba anak istri di rumah pun terlupakan! Beware!

Hits: 1416

Namanya Supardi. Saya mengenalnya hanya beberapa hari dalam perjalanan umroh beberapa waktu lalu.  Kami tergabung dalam rombongan yang sama. Kami sebenarnya  tidak intens berkomunikasi, hanya sesekali di sela ibadah atau dalam perjalanan tour di di dalam bis. Terakhir saya berbincang cukup lama ketika menunggu keberangkatan pesawat kami kembali ke Jakarta.

Kalau ada sinetron tukang bubur naik haji, nah ini cerita tentang tukang sayur pergi umroh. Supardi, don’t judge a book by its cover… Datang bukan dari keluarga berpunya dan berprofesi sebagai pedagang sayur keliling di sebuah daerah di pinggiran kota Bandung –tidak menjadi alasan untuk tidak memenuhi panggilan Allah.

supardiUsianya belum genap 25 tahun. Awalnya saya pikir ia salah satu anggota dari rombongan yang mendapatkan hadiah umroh dari sebuah institusi di Bandung. Dari gerak gerik, pembawaaan dan cara bicaranya kita pasti bisa menebak bahwa ia bukan dari kalangan “luar biasa”. Pertama kenal dia cuma bilang; “Saya kerjanya di pasar”. Kelihatan, Ia juga bukan orang dengan pendidikan tinggi. Saya lupa menanyakan pastinya. tapi sepertinya ia hanya sempat bersekolah hingga SMP. Namun dalam caranya bertutur sama sekali tidak ada rasa rendah diri malah terkesan sangat bersahabat.

Selama umroh saya jarang bertemu dengannya, sepertinya dia lebih banyak beri’tikaf di masjid. Belakangan dia baru memberi tahu, selama program yang hanya 10 hari (plus perjalanan) itu, ia berusaha menamatkan Al Qur’an. Luar biasa menurut saya (baca: dibandingkan dengan saya yang suka males-malesan) Tak jarang setiap mengaji Supardi menangis, karena sama sekali tidak terbayangkan bisa sampai jazirah Arab. Frekuensinya melakukan rukun umroh juga lebih banyak dibanding jamaah lain. Hebatnya lagi karena perawakannya yang kecil, ia berhasil menerobos ke depan hajar aswad melalui kaki-kaki jamaah yang berebutan mencium batu hitam itu. Sementara untuk mencapai batu itu, perjuangan “mengalahkan” jamaah dengan badan-badan super besar berkulit hitam tentu bukan hal mudah. Benar-benar berkah Allah buat Supardi.

Di obrolan terakhir, ia banyak bercerita tentang perjuangannya menuju Baitullah. Setahun terakhir, setiap pulang kerja ia selalu menangis jika melewati sebuah masjid di kampungnya. Tiba tiba saja terbersit keinginan yang sangat kuat untuk pergi ke tanah suci. Berbagai cara yang halal pun diupayakannya.  Selama setahun ia berusaha melunasi dulu hutang modal jualan sayur ke koperasi di desanya. Setelah lunas, barulah ia menabung untuk memenuhi mimpinya itu.  Ia mengaku juga dibantu oleh seorang pemuka agama di desa yang menguatkan untuk menyisihkan laba dagangannya. Hingga awal Maret 2013, ia sama sekali tidak menyangka jika Pak Ustadz itu sudah mendaftarkannya untuk berangkat di bulan April ini. Tentu saja bekal tabungannya belum cukup. Dalam waktu kurang dari sebulan, ia pun “jungkir balik” mencukupi biaya yang totalnya mencapai Rp18 juta. Jumlah yang bukan sedikit, apalagi harus dicukupi dalam waktu kurang dari sebulan.  Anehnya, ada saja jalan halal untuk mendapatkan uang lebih.  Ia sendiri bingung, baru kali ini jualannya bisa mendapatkan untung hingga Rp2 juta dalam seminggu. Masyaallah..

Dari semua cerita panjangnya, saya terkesima ketika ia mengatakan; “betapa adilnya Allah yang menurunkan Islam di bumi Arab Saudi yang gersang, tandus dan nyaris tidak ada apa-apa”. Saya diam, mencoba mencerna apa yang ia katakan dengan analisis yang tidak terlalu tinggi-tinggi.  Ternyata jawaban dia sungguh di luar imajinasi dan kemampuan analisis saya (yang sok tinggi). Katanya (dengan dialek Sunda-nya yang kental): “Coba bayangkeun, kalau Islam turun di Pulau Jawa yang subur, siapa yang mau bercocok tanam?  Siapa yang mau memanfaatkan hasil bumi?” Semua akan sibuk beribadah seperti hiruk pikuk di Tanah Haram. Jlebb!!! Pernahkah saya berpikir begitu? Kayaknya belum pernah deh…..dan saya yakin lingkungan saya yang penuh dengan orang-orang sekolahan dengan pekerjaan mentereng dan mengaku beriman, belum tentu juga berpikir yang sama. Ya Allah, Supardi pedagang sayur keliling yang tidak makan bangku sekolahan ini membuka mata saya, bahwa Allah juga begitu adil memberikan ia pemikiran sederhana tapi mendalam. Bahwa pada akhirnya dunia dan akhirat memang harus seimbang, hingga sedetail itu alasan Allah menurunkan Islam di Tanah Arab.

Kemudian kami berpisah, mungkin ia sudah lupa dengan saya, namun terima kasih Supardi, kamu sudah memberi keyakinan lagi, bahwa buat pergi ke Tanah Suci bukan masalah waktu dan masalah biaya tapi masalah niat yang kuat. Terima kasih juga sudah membuka mata saya untuk tidak boleh memandang rendah orang lain dari kalangan mana pun ia berasal. Semoga kapan-kapan kita bisa ketemu lagi, yah..  Oh, ya kalo sempet baca ini (mungkin gak, Supardi googling-an??.. Thanks juga waktu di bandara sempet gotong-gotong jatah air zam-zam saya yang 10 liter itu… 🙂

Tulisan bersama-sama dengan Komunitas TravelBloggerIndonesia untuk 14 Februari. #travelmate. Yuk dibaca posting teman-teman saya berikut ini..

1. Shabrina – 14 Signs You Found The Perfect Travel Mate
2. Astin Soekanto – Travelmate, Tak Selalu Harus Bareng Terus Traveling Kemana-mana
3. Parahita Satiti – #UltimateTravelmate: Rembulan Indira Soetrisno
4. Dea Sihotang – Hindari 7+1 Hal Ini Saat Sedang Ingin Cari Teman Jalan
5. Titiw Akmar – 10 Alasan Mengapa Suami Adalah Travelmate Terbaik
6. Mas Edy Masrur – Istriku Travelmate-ku
7. Olive Bendon – My Guardian Angel
8. Leo Anthony – Travelmate(s), It’s Our Journey
9. Indri Juwono – Si Pelari Selfie, sebut saja namanya Adie
10. Rembulan Indira – Ultimate Travelmate : Kakatete
11. Karnadi Lim – Teman Perjalananku dan Kisahnya
12. Rey Maulana – Ke Mana Lagi Kita Berjalan, Kawan?
13. Atrasina Adlina – Menjelajah Sebagian Ambon Bareng Bule Gila
14. Richo Sinaga – My Travelmate, Pria Berjenggot dengan Followers 380K
15. Puspa Siagian – Travelmate : GIGA
16. Sutiknyo Tekno Bolang – Mbok Jas Teman Perjalanan Terbaik
17. Taufan Gio – Travelmate Drama, Apa Kamu Salah Satunya?
18. Lenny Lim – 3 Hal Tentang Travel-Mate
19. Matius Nugroho – 3 Host, 3 Negara, 3 Cerita
20. Wisnu Yuwandono – Teman Menapaki Perjalanan Hidup
21. Fahmi Anhar – Teman Perjalanan Paling Berkesan
22. Liza Fathia – Naqiya is My Travelmate
23. Imama Insani – Teman Perjalanan
24. Indri Juwono- Si Pelari Selfie
25. Putri Normalita- My Unbelievable Travelmate

Hits: 3020

Membaca status Facebook seorang teman, saya sering terkagum-kagum sendiri. Hari ini dia bisa berkomentar lancar tentang Partai Golkar yang tiba-tiba menyatakan dukungannya ke Pemerintah. Kemarin, dengan canggihnya ia mengeluarkan analisis teror Bom Thamrin (Sarinah). Saat bersamaan, ia membagi berita tentang Gafatar, kelompok aliran terlarang disertai komentar yang (kelihatannya) cukup cerdas. Kemudian ia tiba-tiba jadi detektif ulung mengomentari kasus kriminal pembunuhan Mirna yang sedang ramai dibicarakan.  Dan populasi orang seperti itu tidak sedikit. Coba buka  sosial media, masyarakat kita selalu mampu menjadi pakar ahli atau komentator ulung terhadap kasus-kasus yang lagi marak. Eh, dilala.. saya pun kadang merasa diri saya bagian dari mereka. Hahahha..

Wow, luar biasa, darimana kita bisa begitu multitasking?!

Dengan hanya membaca satu berita, kita sudah cukup percaya diri untuk berkomentar. Kadang baca beritanya pun hanya dari satu media -dimana kini sebagian besar media memang tidak netral-. Cckckck.. Belum lagi, kita sering sekali menelan mentah-mentah apa kata media tanpa mencari informasi pembanding. Lebih lucu lagi, kalau baca berita, coba lihat bagian komentarnya. Saya salut, meski banyak yang belum tentu punya  pengetahuan yang cukup tentang topiknya, ternyata tidak menghalangi mereka untuk berkomentar. Wah, seru-seru.Bahkan kadang ada yang saling berantem, mengeluarkan kata-kata tidak pantas padahal sejatinya mereka tidak saling mengenal. Kalau dibikin Komentator Championship, saya yakin pesertanya pasti banyak!  Kebalikannya, di media sosial kolom komentar justru sudah sangat lazim digunakan sebagai tempat promosi jualan. Makin banyak follower, siap-siap akan akan dapet makin banyak komentator buka lapak. Nah, loh?!

8906476-Illustration-of-a-Group-of-Kids-Talking-Stock-Illustration-talking-children-people

Jangan heran kalau sekarang komentator menjadi sebuah profesi. Kalau dulu cuma ada profesi komentator bola, sekarang semua  bisa punya komentator yang kalo di televisi sering disebut dengan julukan keren seperti: pengamat atau pakar. Saya tidak bilang, komentator itu jelek loh, banyak dari mereka memang pakar di bidangnya. Contohnya beberapa ajang pencarian bakat di Televisi sangat mengandalkan komentator. Mereka umumnya memang tidak memberi penilaian kepada peserta, tetapi komentar mereka nyaris bisa mempengaruhi vote penonton di rumah. Tapi lebih banyak lagi komentator karbitan yang mendadak ditodong stasiun televisi untuk memberi pendapat tentang satu kasus yang lagi marak, tapi knowledge-nya terhadap kasus yang dia komentari masih sepotong-sepotong. Para komentator ini, entah yang profesional maupun yang amatir, tanpa disadari mampu menggiring opini publik. Setiap komentator hampir selalu mempunyai sudut pandang yang berbeda dengan komentator satunya. Celakanya, sebagian masyarakat kita belum cukup dewasa dan cerdas untuk melihat semuanya secara imbang. Akhirnya, mana yang paling banyak disorot, mana yang paling sering tampil, perlahan tapi pasti akan mempunyai lebih banyak “pengikut”.

Gejala apa ini?! Coba tanyakan kepada ahli psikologi atau ahli sosial kemasyarakatan. Boleh juga tanya sama pakar IT, telekomunikasi atau telematika. Satu dekade yang lalu, fenomena ini mungkin nyaris tidak ada, setelah dunia digital makin marak, rasanya hidup itu garing kalau tidak berkomentar setiap hari. Hahahaha..Nah, berkomentar sebenernya sah-sah saja.

Cuma baiknya kalau mau berkomentar, coba cari tahu dulu lebih banyak bukan asbun mengikuti trend. Baiknya sih, berkometarlah hanya untuk sesuatu yang benar-benar kita pahami, gak cuma bikin rame doang. Lebih penting lagi, jangan cuma berkomentar, tapi do something real!

Hits: 700

Destinasi-destinasi berikut saya temukan paling banyak di sosial media dan internet. Ada yang jauh, ada yang dekat. Good news buat pariwisata lokal. Selfie memang seru, tapi tetap perlu hati-hati. Sudah banyak kejadian selfie yang menantang bahaya benar-benar merenggut nyawa.

and..here they are…

1. Gunung Padang, Cianjur: Terletak  sekitar 1,5 jam dari Pusat Kota Cianjur Situs peninggalan kuno yang asal-muasalnya masih menjadi misteri Sebenernya bukan tempat baru, tapi ngetrend belakangan ini, karena banyak ditulis di blog-blog dan sosial media.

Mejeng di Puncak Gunung Padang
Mejeng di Puncak Gunung Padang

2. Kalibiru, Yogyakarta. Pernah liat orang yang foto seperti diatas pohon diatas ketinggian? Nah itulah Kalibiru, Yogyakarta. Baru tenar 1-2 tahun belakangan. Saya sih belum pernah kesana, tapi yang foto disanaa…ampunnn buanyaakk bangett..

Kalibiru sumber: paketwisatayogyakarta.com
Kalibiru
sumber: paketwisatayogyakarta.com

3. Tebing Keraton, Bandung. Bandung Memang gak pernah kehabisan lokasi wisata.  Konon katanya tebing ini baru ditemukan (mungkin maksudnya sih baru keliatan). Selain dekat dari Jakarta, tentu saja mampir kesini gak perlu effort besar, karena Bandung sudah hampir jadi tujuan wisata utama orang Jakarta dan sekitarnya

sumber: portalindonesianews.com
Tebing Keraton sumber: portalindonesianews.com

4. Benteng Martelo, Kepulauan Seribu. Ini dia wisata bahari yang dekat dari Jakarta, murah dan keren! Kita bisa berfoto ala miss universe disini…

sumber: http://reviewwisataindonesia.blogspot.com
Benteng Martelo sumber: http://reviewwisataindonesia.blogspot.com

5. Gunung Munara, Bogor. Hasil survei saya di Instagram banyak juga yang berfoto disini. Disini memang ada situs peninggalan kerajaan Pajajaran, tapi menjadi tenar karena di puncaknya yang menghadap langsung ke Bogor.

munara
Gunung Munara sumber: jalanpendaki.com

6. Pulau Padar, NTT. Upsss.. inilah tempat selfie yang saya tunggu-tunggu!. Jangan lupa mampir kesini buat ber-selfie aneka gaya… dan. jagalah kebersihan!

Pulau Padar sumber: wisatapriangan.com
Pulau Padar
sumber: wisatapriangan.com

7. Pulau Pianemo (Raja Ampat). Foto disini udah berasa kayak naik haji bagi sebagian traveler.Ada kebanggaan luar biasa kalau bisa sampai disini. Sampe-sampe tahun baruan kemarin, Presiden Jokowi pun nyari kecebong disini.. #Eh….:p

raja ampat
Pulau Pianemo

Hits: 1553

Judul tulisan diatas, semoga bukan cuma mimpi saya. Setiap awal tahun, ada yang jelas-jelas bikin target : tahun depan gak jomblo lagi, tahun depan beli rumah, tahun depan beli jet pribadi…bla..bla.. Tapi Saya rasa, sebagian besar orang membuat resolusi setiap tahunnya dengan tema-tema yang abstrak, seperti karir makin meningkat, rejeki makin lancar, ibadah makin baik, hidup lebih damai, dll. Padahal banyak yang lupa, meletakkan ukuran apa yang bisa menunjukkan peningkatan pada indikator-indikator tersebut. Apakah misalnya jadi manager atau direktur menunjukkan karir makin baik, apakah naik gaji, banyak proyek menunjukkan rejeki makin lancar?, atau seminggu minimal lima kali ke mesjid menunjukkan ibadah makin baik? Dan ukuran orang memang akan selalu berbeda-beda.

Setelah jungkir balik jadi orang kantoran (yang membosankan), saya mungkin terlambat membuat resolusi ini. Memang sih, kalau soal jalan-jalan mungkin frekuensi saya lebih banyak dari orang kantoran pada umumnya. Meski sejujurnya, harus diakui beberapa jalan-jalan memang “hadiah” alias dinas dari kantor. Nah, awal 2016 ini saya sudah bikin prasasti:  do more, travel more, learn more. Yes, meski saya sadar dengan pasti… kemungkinan besar akan mengorbankan kehidupan normal saya sebagai mbak-mbak kantoran (ciyeee…) yang seperti robot: bangun jam 4 pagi, mengejar kereta sebelum pukul 6 pagi. Duduk cantik di meja sebelum jam 8 pagi dan selalu kembali ke rumah setelah malam menjelang. Sounds boring, itu pun belum bonus macet, kereta ngadat dan keluh kesah (yang harus dijalani dengan ikhlas dan tawakkal setiap harinya).

Wonderful-Indonesia

Resolusi tadi sudah saya catat dengan indikator-indikator konkrit yang juga sudah saya tentukan, misal dalam tahun ini saya akan mengunjungi minimal 4 pantai di Indonesia. So far waktunya memang masih menyesuaikan dengan liburan umum dan kantong pastinya, tapi bisa jadi lima enam bulan ke depan berubah. Heheheh.. Entah kenapa, dua tiga tahun ini  saya semangat banget untuk jalan-jalan terutama keliling Indonesia. Pengen juga lebih banyak ke luar negeri, tapi saya bukan Trinity-lah. Saya cuma cinta Indonesia dan memang gak punya cita-cita lain selain keliling Indonesia. Keluar negeri bagi saya adalah bonus. Mungkin memang sekarang jamannya mengukuhkan diri sebagai seorang “traveler” lagi trend. Tapi tenang, bagi saya jalan-jalan itu bukan cuma foto-foto update status, dan bilang sama orang: Oh, I was there! Lebih dari itu dari jalan-jalan saya belajar banyak, tentang alam, pembagunan, infrastruktur, hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan Tuhannya bahkan belajar politik! Nambahin tulisan di blog adalah salah satu bonus lain bahwa saya ingin lebih banyak orang kita mengenal negeri kita sendiri. Ada satu tulisan blog orang yang bilang, gak usah memprovokasi orang untuk pergi ke satu daerah, kalau nanti malah merusak daerah itu. Weks.. Buat saya itu gak salah, tapi benernya juga gak banyak :p. Justru dengan menulis dengan baik dan mengajak orang adalah cara mengedukasi calon wisatawan lokal. Karena cuma sektor pariwisata yang pertumbuhannya stabil dan berpotensi besar bagi negara. 

Di sisi lain, saya bingung banyak sekali orang yang “sangat menikmati” pekerjaan kantorannya. Dateng jam 7 pagi, pulang rata-rata jam 9 malem (bisa lebih), hampir gak pernah cuti dan sering lembur di sabtu minggu. Wow, luar biasaa.. Salut! Saya pikir mereka enjoy, eh…ternyata masih ada juga yang mengeluh “capek”. Wah..ternyata masih manusia biasa yang gak super… Dulu saya pikir quality time -yang sering diagung-agungkan oleh pemuja kesibukan- adalah slogan yang penting. Sayangnya sekarang bagi saya quality without quantity is nothing.  Di awal-awal bekerja secara profesional saya juga hampir tidak pernah cuti, pikiran sepenuhnya buat pekerjaan menjadi nomer satu, kadang gaji pun tekor atas nama loyalitas.  Saya tidak menyesal pernah di posisi seperti itu, justru saya belajar banyak karena saya mencintai pekerjaan Saya. Seiring berjalannya waktu, saya baru sadar sestrategis apapun posisi saya di satu perusahaan, saya tetap karyawan yang dibayar. Jika ada apa-apa dengan saya, perusahaan akan mudah mencari pengganti saya dalam hitungan hari, dan perusahaan akan berjalan baik-baik saja. Sementara waktu-waktu pribadi  saya dengan keluarga, dengan teman-teman, dengan kegiatan sosial sudah banyak hilang karena pengabdian yang tidak mengenal waktu. So,You’re not as important as you think.. 

Saya percaya orang-orang yang suka piknik adalah orang-orang yang asyik. Percaya deh, kalo kurang piknik akibatnya seperti J**ru, yang setiap hari adaaa aajaa caranya untuk menebar kebencian.  Adalah paradigma lama yang menyuruh kita bekerja keras di masa muda kemudian menikmatinya di masa pensiun. Bagi saya -meskipun mungkin telat-, keseimbangan hidup itu dimulai dari sekarang, bukan setelah pensiun.  Manusia butuh hidup yang seimbang. Seimbang kerja, seimbang keluarga dan seimbang kehidupan pribadi dan bagi saya ada tambahan satu: seimbang jalan-jalan, melihat dunia lain, dan mengganti paradigma.  Kamu?

Hmmm… survei membuktikan, orang yang sering traveling adalah orang yang paling bahagia..

Hits: 840

Bulan lalu, kali pertama saya menumpang pesawat Saudia (Saudi Arabia Ailines) PP Jakarta-Los Angeles. Ada beberapa hal yang bisa saya bagi, semoga berguna untuk teman-teman pembaca Jus Semangka

  • The longest trip ever..perginya 37 jam, pulangnya 31 jam (include transit). Rute Jeddah-Los Angeles menghabiskan 16 jam nonstop, sisanya merupakan waktu transit. Mungkin rute ini adalah rute terpanjang dari Asia ke Amerika Serikat, karena melewati Samudera Antlantik. Kalau liat globe, hitung-hitung Jakarta-Los Angeles, melintasi dua pertiga bola dunia. Bandingkan dari China-LA atau Seoul LA yang maksimal 13 jam saja (direct). Sebagai perbandingan, untuk Jakarta-LA (PP) harga tiketnya di November kemarin USD 850. Tahun lalu, rute yang sama dengan Korean Air seharga USD1315.
  • Transit 8 jam Bandara Riyadh yang dingin kayak kulkas. Dinginnya sumpah kelewatan,hampir sama dengan winter di Amerika. Toiletnya bersih tapi fasilitas waiting room untuk transit yang lama, sangat minim. Transit selama itu benar-benar tidak nyaman. Restoran pun minim. The worst thing is,.. wifi is never work!! Belum lagi tidak ada information desk, nggak bisa nanya-nya kalau ada apa-apa.
20151120_185056
Ruang Tunggu Bandara Riyadh
  • Ketika boarding di LAX, Ketinggalan bantal tidur di ruang tunggu LAX,udah boarding dan gak boleh turun pesawat, jadi diambilin sama mereka. Good job! * maaf ngerepotin. Ini sih nilai plus ya buat crew-nya!
  • Bagusnya, Alhamdulillah, makan selalu kenyang… (karena porsi Arab) Hihihi… Transit pun dikasih makan. Wajar sih, wong bandaranya hampir nggak punya restoran.
  • Seat ekonomi lumayan sempit…beda banget sama Korea Air, Garuda apalagi Emirates
  • Pramugari/a agak-agak cuek (kalau kurang sopan bilang; cuek banget) Bukannya bantuin narok koper di rak kabin, malah bilang: berat amat sih bawaannya.. (Helloow…ini gw ngindarin over bagasi kalee…). Beberapa kali ingin minta bantuan. Saya tekan logo attendant assistance di seat, tapi tidak pernah sekali pun ada yang dateng. Lebih afdol manggil mereka pas lewat dekat seat kita… GRRR…rrr..rrr…

 

Kabin Ekonomi
Kabin Ekonomi
  • LAX- Jeddah sebelahan sama bapak2 orang A**b yg jorookkkkk banget. Kursi, lantai semua jadi tempat sampah, numpahin teh.. Bahkan makanan sisa orang juga dimakanin. Makan pake tangan..gak cuci tangan, lap di selimut..ihhh.. Gak bisa diem dan ngoceh2 sendiri. Annoying banget!!
  • Dari poin di atas, semua kekacauan dan kejorokan si Bapak, nggak ada crew/pramugari yang mau bantu beresin..  Katanya: its not my duty, why you complaining. Sementara si a**b tadi ilang gak tau kemana..   Fine…lapor supervisor nya..baru diberesin. Gila ajaa kebungkem 15 jam di kabin..tp keliling lo bekas makanan berceceran yang baunya bikin mual. Huekss.
  • meal
    meal
  • Transit jeddah 1,5 jam..stay on cabin. Tapi gak ada cleaning service utk bersih bersih cabin. Katanya CS cuma bersihin toilet kalo transit bentar. Ok.. Fine..
  • Ada musholla, di beberapa pesawat (tidak semua);
  • LAX- Jeddah..video on demand nggak ada suaranya. Sudah lapor, tapi tetep juga gak bener. Okelah..gpp
  • Kopi, teh dan minuman lain cukup lengkap, tapi memang frekuensi penyajiannya tidak sering (hanya 1 atau 2 kali untuk 16 jam perjalanan)
  • Iseng nonton film India. Yes..berbahasa India, tp subtitle nya arab gundul. yassalam… :p
  • Entah karena masuk angin, capek atau kurang nyaman, landing LA langsung mulesss sakit perut luar biasa. 
  • Total nilai 6,578 dr skala 9. Karena taun depan sepertinya masih harus ke Amerika balikin koper pinjeman, gak gak lagi dengan saudia:p

 

Hits: 1188