Masih melanjutkan cerita tentang liburan singkat saya di Belitung minggu lalu, kali ini sedikit ulasan tentang pantai-pantainya. Ini adalah liburan kedua saya bulan ini ke tempat bernama pantai. Bulan lalu disela-sela tugas ke Aceh saya menyempatkan mampir ke beberapa pantai di bumi nanggroe tersebut. Di Belitung saya berkunjung ke beberapa pantai yaitu, pantai Tanjung Tinggi, Tanjung Binga, Tanjung Kelayang hingga ke Pulau Lengkuas dan Pulau Burung. Komplit-lah, meski capeknya juga komplit. Tapi seneng dan puas banget.

Komentar saya secara keseluruhan, pantai-pantai di Belitung sangat eksotis dan punya karakter yang belum tentu ada di daerah lain terutama di Indonesia. Namun lagi lagi (dan selalu begitu), pariwisata Belitung (seperti juga sebagian besar provinsi lain di Indonesia) masih jauh dari optimal pengelolaannya. Sayang banget. Transportasi umum di Belitung sangat minim, bahkan nyaris tidak ada.  Akibatnya wisatawan mau tidak mau harus ikut dalam rombongan travel. Selain harga yang kadang sedikit lebih mahal, tidak semua wisatawan enjoy bepergian dengan biro travel yang jadwalnya cenderung mengikat. Apalagi kini makin banyak orang yang senang bepergian ala backpacker. Belitung khususnya Penduduk Tanjung Pandan pun menurut saya belum siap daerahnya menjadi daerah wisata.  Belum banyak usaha souvenir barang-barang khas Belitung, tempat makan yang masih terhitung sedikit pilihannya. Harusnya kedua hal tadi bisa membuka lapangan kerja baru bagi penduduk Belitung. Yah, ini sih bisa dimaklumi, meski sudah banyak yang mengenal keindahannya sejak dulu, tetapi harus diakui fenomena Andrea Hirata dan Laskar Pelangi-nya membuat Belitong alias Belitung menjadi lebih mendunia. Namun, apapun kekurangannya, Belitung sangat direkomendasikan sebagai tempat berlibur baru. Saya selalu dan selalu menyimpan semangat optimism akan majunya pariwisata Indonesia.

Industri ini adalah salah satu industry dengan pertumbuhan paling tinggi beberapa tahun terakhir.  Belum optimal saja, pertumbuhannya sudah tinggi, gimana jika dikelola lebih serius? I’m proud being an Indonesian. Lovely Indonesia.

berasa jadi putri duyung..hehehe
berasa jadi putri duyung..hehehe

Hits: 936

Tahun 2012, bagi saya adalah satu periode dengan kondisi jiwa dan batin seperti naik roaller coaster atau seperti naik ontang anting di Dufan. Terpelanting kesana kemari, naik turun, takut, cemas tapi diselingi banyak kegembiraan dan berkah.  Campur aduk. Setelah menyelasaikan pendidikan master saya di akhir 2011, awal 2012 saya diterima di kantor saya yang sekarang (ukp.go.id). Bagi saya bekerja di UKP4, seperti sebuah rendevouz dari pekerjaan lama di Aceh dulu. Ya, karena pimpinan lembaga ini adalah juga atasan saya di BRR dulu. Beberapa kolega-nya pun adalah teman lama. Suasana kerja yang dibangun juga kurang lebih sama. Bedanya, sekarang saya berkantor di Jakarta bukan di Banda Aceh dan bekerja untuk cakupan yang lebih nasional. Its grateful!

Di sisi kehidupan pribadi, bagi saya 2012 adalah tahun pengayaan batin yang luar biasa. Setelah satu puncak tragedi di Maret 2012, banyak cara pandang saya yang berubah terhadap sebuah hubungan manusia.   Tapi ibarat roda kehidupan, periode ini adalah sebuah titik balik maha penting bagi saya. Ini adalah cerita sebuah cinta, kasih sayang yang berujung mentally abusing. Duh, kalo teringat itu, mau nulisnya saja rasanya gak sanggup.  Tapi tidak apa-apa, setiap manusia pasti pernah punya periode berat dalam hidupnya.  Apapun yang sudah terjadi, ya sudahlah. Pasti ada hikmahnya entah besar  atau kecil yang ketahuannya juga entah kapan. Sedikit trauma di kejiwaan saya, tapi sepertinya saya tidak punya alasan untuk berlama-lama di masa lalu.  Memang tidak ada ilmu yang lebih sulit dipelajari selain ilmu ikhlas.  Dan saya rasa, nilai keikhlasan saya sudah terdongrak signifikan karena peristiwa ini. Sedih, tapi tetap bersyukur. Alhamdulillah ya, Allah…

Ada yang pergi, pasti ada yang datang. Mungkin saya memang belum beruntung untuk urusan “pribadi”, tapi tahun ini saya dilimpahi banyak berkah yang dulu sepertinya di luar kemampuan saya. Selain mensyukuri pekerjaan baru saya tahun ini saya diberi kepercayaan menulis dua buah buku. Bukan buku besar, sih.. tapi paling tidak ada, saya punya portofolio baru yang bolehlah…saya tarok di CV. Hehehehe. Buku pertama; Manual Guide Decission Support System For Sustainable Peaceful Development in Aceh, Database Rencana Pembangunan Gampong  yang merupakan proyek dari World Bank. Buku kedua masih tentang Aceh (teteuppp ya, booo.).  Silakan diliat di tautan ini.  Ini adalah milestone penting bagi saya. Akhirnya, saya bisa punya sesuatu  (untuk Aceh) dan untuk cita-cita saya menjadi seorang penulis sungguhan (Amin..) Oya, kumpulan tulisan di blog ini juga sedang dalam proses dibukukan. Mohon doa restunya dari teman-teman semua. Pada 2012 ini juga saya menempati rumah baru kecil mungil meski statusnya belum lunas alias masih nyicil. Hihihi.. Rumah yang konsep interiornya saya rancang sendiri dan terus pengen didandanin jika ada rejeki lagi.

Banyak hal-hal lain yang memorable, namun secara garis besar tahun ini saya diberi banyak karunia, teman-teman baru, pekerjaan baru dan tantangan tantangan hidup yang Insya Allah akan menjadikan saya lebih dewasa menghadapi hidup saya ke depannya. Meski kondisi iman terkadang juga seperti cuaca yang berubah-rubah, Alhamdulillah selalu ada yang mengingatkan saya kalau saya tidak pantas untuk tidak bersyukur. Mulai dari anak kecil penyemir sepatu, tukang buah buta keliling yang lewat di depan rumah hingga abang becak renta di depan stasiun Bogor.

Resolusi 2013? Banyak! Tapi yang paling penting, saya selalu minta dikasih kesehatan lahir batin sama Tuhan agar semua cita-cita bisa tercapai.  Tidak kalah penting lagi, masiih harus terus memperdalam ilmu ikhlas. Agar segala daya upaya yang kita lakukan, hasil sepenuh-penuhnya saya tawakkal-kan kepada Tuhan. Semoga. Amin.

Hits: 705

Bulan ini saya bisa liburan sebentar ke Pulau Belitung. Kebetulan ada teman lama, Yeni yang sudah bermukim disana. Selain pantainya, lima tahun terakhir Belitung diberi “julukan” baru Negeri Laskar Pelangi. Yah, asal muasalnya apalagi kalau bukan buku mega bestseller tulisan Andrea Hirata yang sudah buanyakkkkk saya tulis di blog ini.  Saya sudah menggagendakan harus mengunjungi Gantong, kampong si Bang Ikal dan ngopi di Manggar. Sekedar ingin merasakan atmosfer yang sering Andrea ungkapkan di buku-bukunya.  Saya juga mampir ke SD Muhammadiyah Gantong, sekolah Laskar Pelangi.  Jangan salah yah, ini hanya bangunan yang didirikan sebagai lokasi syuting film Laskar Pelangi 2008. Bangunan aslinya tentu sudah tidak bisa menggambarkan cerita akhir 1970an itu.

Setiba disana, saya baru tahu ada Museum Kata, museum-nya Andrea Hirata. Saya yang mengaku fans beratnya jadi malu sendiri, ternyata saya tidak tahu ada museum yang sudah didirikan sejak 2010 ini. Hehehehe. Awalnya kok kesannya “berat” banget ya.. Ada museum di desa kecil  yang bahkan belum tentu seluruh penduduknya mengerti apa itu museum. Namun anggapan itu berubah ketika kami tiba disana. Memasuki museum yang berupa rumah tua dengan 1 ruangan utama dan 4 ruangan lain, ada box sumbangan Rp2000/orang yang mereka sebut sebagai “uang kebersihan” Di setiap dinding terpampang apa dan siapa Andrea Hirata, karya-karyanya, foto-foto dari scene film Laskar Pelangi, puisi-puisi Andrea bahkan kata-kata motivasi dari berbagai tokoh dunia. Lantai museum hanya dilapisi dengan tikar pandan kampung yang sangat biasa, tapi rumah seluas kurang lebih 15×15 m ini sangat bersih, resik dan  nyaman. Di sebelahnya ada bangunan setengah jadi yang nampaknya akan menjadi perluasan museum ini. Nuansa semangat, ketulusan dan pentingnya pendidikan sangat-sangat terasa.  Sebutlah ada sebuah foto berlatar belakang sekolah Laskar Pelangi dengan langitnya yang biru bertuliskan:  “Sekolah adalah kesempatan, berkah dan kegembiraan” (Andrea Hirata). Disisi lain sebuah kalimat: Berkaryalah, karena karya itu akan menemukan nasibnya sendiri.  Tentu saja masih banyak kata-kata indah sarat makna dari berbagai orang yang sudah menorehkan sejarah dunia.  Keseluruhan tema yang ingin diangkat ruangan kecil ini adalah: DO I INSPIRE YOU?  Kalimat berbahasa Inggris ini hampir ada di setiap tulisan di ruangan ini.

Saya  nampaknya sedang beruntung. Ketika saya pamit ingin ke kamar kecil, jreng..jreng..ternyata di ruang belakang saya bertemu si empunya. Sedikit kaget, sampai saya mundur sesaat. Tapi kemudian saya mengulurkan tangan dan mengenalkan diri sambil bilang: Bang, kita pernah ngopi di Banda Aceh, 1,5 tahun lalu, loh.. Andrea Hirata sedikit lupa mungkin, tapi kemudian dia tertawa dan akhirnya ingat kalau satu malam di Banda Aceh, 2011 lalu dia pernah membayarkan kopi sanger saya dan dua orang teman saya. Bang Ikal sangat ramah, dia bertutur  1,5 tahun belakangan, ia bermukin di Perancis karena sedang mengerjakan buku baru karena editornya orang sana. Wow, ternyata saya juga tidak tahu soal ini. Hahahha.. katanya fans..

 

Kami mengobrol sedikit, ia banyak menceritakan museum yang ternyata dibeli dan dikelola oleh manajemennya sejak 2010. Saya juga sedikit nanya-nanya tips menerbitkan buku kepadanya. Saya lupa bilang, saking ngefans-nya saya nonton musikal Laskar Pelangi sampai di Singapura, tidak saja mengoleksi buku-bukunya. Hari itu masih pagi, pengunjung museum belum banyak, karena agenda jalan-jalan saya masih padat, saya pamit pulang. Ia mengantar saya dan rombongan sampai ke depan pintu. Saya tersanjung dan tak sabar untuk membagi cerita ini

Ada satu yang juga belum sempat saya bilang ke beliau. Kalau saya dan dia punya kesamaan. Sama-sama menjadikan Aceh sebagai awal inspirasi untuk menulis… ^__^

Andrea Hirata menulis Laskar Pelangi terinspirasi setelah pulang dari tugas sebagai relawan tsunami Aceh 2004.Pada salah satu memoar yang terpampang di museumnya, ia menuturkan: di Aceh ia melihat sekolah-sekolah yang hancur dan anak-anak yang tidak dapat bersekolah lagi. Baginya, ini membangkitkan kenangannya di masa kecil  yang berjuang memperoleh pendidikan. Saya pun begitu, selama dan setelah bekerja di Aceh, otak saya hampir selalu penuh dengan inspirasi untuk menulis. Entah dari melihat alamnya, ataupun dari semua kenangan dan peristiwa yang pernah terjadi di dalamnya. See?! .. *selamat menikmati foto-fotonya*

Hits: 845

Masih ngomongin Aceh, tepatnya inspirasi dari Aceh. Setiap kembali dari sana, saya seolah “tidak siap” bertemu dengan Jakarta.  Yang terbayang, macet dimana-mana, orang-orang yang terburu-buru, angkutan publik yang buruk dan dunia sosial yang jauh sekali berbeda dengan di daerah. Saya bersyukur pernah kerja di daerah (baca; Aceh) dan merasakan atmosfir yang tidak melulu dalam suasana kompetisi dan yang dikejar itu hanya posisi dan materi.  Kemana-mana dekat, semua orang ramah, tidak saling curiga dan suasana kekeluargaan yang bukan cuma “sampul” seperti orang Jakarta. Kehidupan sosial juga begitu, tidak perlu harus punya dompet tebel untuk nongkrong di café-café mahal  Cukup di warung kopi sederhana dengan uang kurang dari 10 ribu, makna kekerabatan itu diperoleh.  Malahan “ngumpul-ngumpul” ala warung kopi tanpa AC begini, bagi saya melahirkan banyak ide, menjalin relasi bahkan menghilangkan kegalauan. Wah, aku udah persis orang Aceh banget kalo begini.

Bagi saya bekerja di Jakarta kemudian menclok sesaat dengan pergumulan kerja ala Aceh adalah proses keseimbangan.  Terkadang memang timbul rasa bosan, karena Aceh tidak menjanjikan hiburan ala metropolitan; café, karaoke dimana-mana, bioskop, mall yang bertebaran tetapi Aceh punya pantai yang indah, alam yang rupawan, wisata religius dan artefak-artefak tsunami yang sangat monumental bagi daerah ini bahkan dunia. Buat saya yang mulai bosan dengan kekejaman Jakarta, semua itu indah dan damai.  Kebahagian di keramaian ala Jakarta terkadang membosankan dan sangat individual menurut saya.  Orang-orang Jakarta semakin memandang orang lain dengan penuh kecurigaan. Sudah jarang saya temui senyum ramah dan orang yang sekedar mau menjawab pertanyaan kecil -seperti lokasi sebuah tempat- di jalanan.

Padahal bahagia itu sederhana, ketika detak jantung tidak sekencang ritme Jakarta, ketika melihat pemandangan tepi jalan yang indah, ketika semua orang saling menyapa, ketika semua masalah seakan selesai karena kebersamaan yang bukan cuma kulit. Saya masih percaya, indikator kualitas hidup manusia dilihat dari hal-hal itu, bukan koneksi internet berkecepatan tinggi dan berapa banyak saldo di rekening Anda.

Ah, saya selalu rindu suasana itu. Cukuplah di Jakarta untuk mengejar sedikit prestasi dan sejumput materi yang terbungkus bentuk pengabdian kepada  negara ini. Biar cuma Jakarta yang semerawut dengan semua gejolaknya. Dan, suatu saat, saya ingin kembali ke satu  tempat, dimana saya dapat menemukan semua itu. Amin.

Hits: 977

Di pertengahan tahun ini, saya dikontak oleh seorang teman yang menawarkan sebuah pekerjaan menulis buku.  Mulanya saya pikir, ini pekerjaan sambilan biasa, karena saya –yang suka gak pede ini– yakin kalau fungsi saya di pekerjaan itu hanya supporting.  Sampai akhirnya saya bertemu dengan Devi, National Project Manager R2C3, Bappenas UNDP yang menyatakan “serius” ingin meminang saya untuk pekerjaan ini sebagai penulis inti. Tidak ada seleksi, tidak ada tes ini itu.  Devi dan timnya hanya mendengar nama saya dari rekomendasi beberapa teman BRR bahwa saya mampu untuk pekerjaan ini. Agak kaget setelah mendengar penjelasannya. Ternyata ini adalah pekerjaan cukup besar. Kok mereka percaya-percaya aja gitu sama gw, yah? Padahal belum kenal secara pribadi, tidak pernah liat CV saya. Hanya dari obrolan “head hunter”  dadakan teman-teman saya. Akhirnya saya mem-pede-kan diri untuk menerima pekerjaan ini. Karena materinya tentang pekerjaan saya di Aceh dulu, karena saya mencintai Aceh dan saya percaya cinta selalu membuat yang tidak bisa menjadi bisa, yang tak kuasa menjadi kuasa. 🙂

UNDP juga menginginkan muatan buku ini lebih dalam dan sedikit berbau “scientist”. UNDP kemudian berinisiatif; saya dengan pengetahuan materi tulisan “dikolaborasikan” dengan Dr Yanuar Nugroho. Seorang akademi “lokal” yang mengajar di Universitas Manchester, UK dan banyak berkiprah di bidang teknologi dan sosial di Eropa. Ini satu lagi blessing in disquise buat saya. Sedikit berkilas balik, awal 2012 saya bertemu Mas Yan, demikin beliau biasa akrab dipanggil di UKP4, kantor saya. Beliau memberi pencerahan dan masukan untuk pekerjaan kami kala itu.  Waktu yang singkat itu (satu hari) membuat saya begitu “terpesona” akan kedalaman pengetahuan dan cara beliau membaginya. Terbersit sedikit pikiran, andai suatu saat bisa bekerja sama dengan beliau.  Ternyata pikiran itu doa yang beberapa bulan setelahnya benar-benar menjadi kenyataan. Lebih nyata lagi, karena  akhirnya beliau pindah ke Indonesia dan bekerja di kantor yang sama dengan saya. Woott!!

Buku ini bercerita tentang bagaimana sebuah aplikasi berbasis internet bernama RANDatabase mampu menjadi jembatan penghubung antara pemerintah dengan ratusan organisasi lokal dan dunia yang bekerja di Aceh pasca tsunami. Saya bersama Mas Yan mencoba menyajikan sebuah pembelajaran bahwa sebuah aplikasi tidak hanya sebuah “mesin” kaku yang berpendar di layar computer. Tetapi juga memainkan peranan fungsi sosial yang menyatukan banyak pihak.  Banyak hikmah yang dipetik, yang bisa digunakan untuk penerapan aplikasi serupa tidak saja pada kondisi bencana tetapi juga kondisi normal.

 

Buku ini memang secara “harfiah” bukan buku saya, kepemilikannya ada di Bappenas. Tetapi bagi saya ini satu portofolio baru dan pembuktian kalau saya bisa selangkah lebih maju tidak cuma menulis blog curhatan *gak penting.  Sekali lagi, bertepatan dengan momentum 8 tahun tsunami (26 Desember 2012); saya bangga pernah menjadi bagian dari perubahan Aceh, perubahan menjadi lebih baik.

 

Hits: 1052
sebelum...

Wooohooo.. akhirnya bisa juga pamer rumah hejo-ku di blog ini. Alhamdulillah, setelah hunting beberapa lama, dapet juga rumah yang terjangkau oleh isi tabungan. Letaknya lumayan strategis, pola pembayarannya sangat kompromistis dan rumahnya gw bangett!!.

Dalamnya tentu saja harus putih full, agar rumah mungil seluas total 60 meter persegi (2 lantai) ini terlihat luas. Saya menambah ornamen wallpaper di ruang utama dan ruang tidur utama. Kamar kedua, difungsikan sebagai kamar tamu dan ruang baca

Againnn… karena saya penggemar hijau, hampir semua pernah pernik di rumah ini bernuansa hijau. Biar gak terkesan monoton, saya tambahin sedikit warna merah dan emas. Ini foto-foto rumahnya sebelum dan sesudah ditempatin..

Yuk..kapan mampir?

tampak depan...hejo royo royo..
ruang utama dan kamar tidur angry bird..
the cozy corner and the books!
pernak pernik.. love it!
Hits: 1174

http://tattletailzz.com/know-your-role-why-the-independent-woman-struggles-with-dating/

Saat kemandirian sudah jadi nilai positif bahkan “keunggulan komparatif” seorang perempuan, hari ini saya menyatakan kalau saya BOSAN menjadi mandiri.  Beberapa bulan terakhir, kepalaku memang mumet dipenuhi segala urusan.  Pekerjaan yang jadi rutinitas sudah pasti jadi makanan. Tapi bukan itu saja, ada lagi urusan keluarga, kerjaan-kerjaan lain, transaksi beli rumah beserta tetek bengek-nya yang ribet serta penuh dengan unpredictable issue. Pindah rumah baru bulan lalu benar-benar menyita pikiran. Urusan lumayan besar seperti renovasi minor kamar belakang, benerin tangga, memilih wallpaper  yang oke, memasang antenna TV, kran air buat mesin cuci sampai urusan colokan listrik yang tidak pas posisinya bener-bener bikin rungsing! Kesimpulannya, ketika beli cabe sampai beli rumah diurusin sendiri itu melelahkan! Dan jrenggg..jrengg..tiba-tiba saya bosan jadi perempuan mandiri!! *nangis meraung-raung

Sejatinya, Saya sudah terbiasa mandiri sejak kuliah di Bogor dan tinggal sendiri, jauh dari orang tua. Mengambil keputusan sendiri bukan lagi barang baru. Ya, pasti ada pertimbangan dan masukan dari keluarga dan teman-teman untuk banyak hal besar, tapi pada akhirnya keputusan selalu saya tentukan sendiri. Banyak yang bilang mandiri itu adalah salah satu berita baik wanita masa kini. Mandiri sudah jadi poin plus bagi  seorang wanita. Di jaman dimana wanita punya posisi yang sama dengan laki-laki,  ketergantungan terhadap sosok kaum adam pun mulai berkurang. Tapi, eh. Apa bener begitu adanya?. Hasil survei kecil saya terhadap beberapa teman yang sudah menikah, umumnya mereka menertawakan saya dan mengatakan bahwa setelah menikah pun sebagian besar keputusan diambil sendiri. Kesimpulannya, gak ada bedanya deh, lo single atau doble karena hal-hal yang saya keluhkan diatas  berdasarkan pengalaman, tetap diputuskan sendiri oleh mereka (sebagai wanita). Kurang valid sih, survei ini..,karena respondennya adalah teman-teman  saya yang semuanya wanita bekerja dan punya karier yang cukup cemerlang. Biasanya sih wanita-wanita seperti itu mandirinya suka “kelewatan”. Padahal buat saya yang jomblo bahagia ini (*batuk batuk), fungsi pasangan terutama adalah tempat berbagi dan rekan untuk menentukan keputusan-keputusan penting dalam hidup.  Hehehhe.. Barangkali surveinya memang harus dikaji lebih dalam, keputusan mana yang bisa sendiri, keputusan mana yang harus bersama dan respondennya pun harus lebih variatif. Gubrak, kok jadi ngomongin model kerjaan?!

Mungkin saya lagi “manja” aja, lagi perlu perhatian. Tepatnya perhatian dari orang yang istimewa. Eh, beneran begitu? Eitsss..jangan berkilah dulu.. Saya tahu itu masalah standar. Everybody does, kan?! Lagian ini konteksnya bukan mengeluh, tapi “bercerita”.   Catet ya!! Sebenernya kan wajar-wajar aja kalau perempuan seperti saya tiba-tiba punya perasaan begitu. Selama perasaan itu tidak “dipelihara” yang bisa menimbulkan efek galau berkelanjutan.  Saya bukan feminis yang (mungkin) sangat perkasa bisa total hidup sendiri tanpa bantuan lawan jenis. Ya, apapun bentuknya, laki-laki dan perempuan kan mahluk sosial yang memang ditakdirkan untuk saling melengkapi di koridor dan kodratnya masing-masing.. 🙂

Hits: 711

Saya mungkin termasuk orang yang agak susah move on. Eits, ntar…jangan berasosiasi lain dulu… Ini bukan menyangkut sebuah hubungan yang berakhir atau sejenisnya. Tapi tentang “hobi” saya menyimpan barang-barang yang menurut saya bersejarah dan mengandung nilai-nilai tertentu dalam perjalanan hidup sayah.  Ttsssahhh… berat bener bahasanya.

Liburan ini saya membongkar semua koleksi pakaian, sebenernya ini hal biasa. Kalau lemari sudah kepenuhan, pasti beberapa baju yang masih layak saya hadiahkan ke saudara-saudara ataupun orang-orang yang memerlukan. Anehnya ada beberapa baju yang sudah jelas-jelas tidak bakal dipakai lagi (umumnya karena udah ketinggalan mode), masih aja nangkring dengan manis di lemari.  Kenapa? Karena baju-baju itu ada jin-nya ..eh, ada sejarahnya. Saya masih menyimpan baju hari kerja pertama saya di Aceh, baju kuno hadiah dari teman yang jelas jelas udah gak muat, baju jadul jahitan mama, kaos merah hadiah terakhir (alm) papa, baju yang pernah saya pakai “kencan” gak penting dengan seseorang dari masa lalu banget. Hahaha..  Sepatu juga begitu. Saya mencintai sepatu, seneng beli sepatu tapi gak punya koleksi yang banyak, soalnya sepatu yang saya suka sering mahal (dan gw belum mampu beli).   Saya masih menyimpan sepasang sepatu SMP cuma karena alasan sentimentil, itu hadiah Papa untuk kenaikan kelas. Jadul abis.

Tidak cuma sandang. Saya masih menyimpan kartu-kartu ucapan selamat ulang tahun teman lama yang kini belum tentu saya tahu keberadaannya.  Kartu ucapan perpisahan  kantor bahkan sebundel surat-surat cinta pertama (yang akhirnya saya putuskan untuk dimusnahkan setelah saya simpan hampir 10 tahun)! Saya juga masih menyimpan buku harian saya sejak kelas 3 SD sampai akhirnya saya lebih senang menulis di internet dibanding di buku. Bahkan… saya sempat menyimpan beberapa bukti transfer atau pengiriman barang struk belanjaan karena mengingat “sesuatu” di balik semua itu.  Kalo pernak pernik sih udah gak keitung deh harta karun saya. Dipake gak, dikasih ke orang juga gak.. Disimpen doang buat dipandang-pandangin sambil menerawang sejarah dibalik barang-barang itu. *orang gila… orang gila…

Kalau soal file digital, jangan ditanya deh.. Selain foto dan sejenisnya, saya juga rajin memback-up segala macem isi gadget. Saya menyimpan sms-sms yang berkesan, mengaktifkan archive percakapan YM, BBM dan sejenisnya dan membacanya kembali disaat-saat lowong. Kadang emang bener-bener gak penting, tapi hal-hal seperti ini sering bikin senyum senyum sendiri. Aneh kan gw?

Gimana dengan lagu? Samaa ajaaaa.. malah setiap peristiwa dalam hidup saya ini, ada lagunya! Hebring banget kan? Lagi sama si A, lagu anu, waktu sama si B lagu ini, bla.. bla.. Wakakakakka..

Sebenernya tidak ada tujuan apa-apa selain sisi sentimentil saya aja yang kelewatan.  Saya pernah baca satu artikel di internet, katanya ini masuk  salah satu“penyakit” dalam ilmu psikologis. Tapi saya masih dalam taraf yang normal soalnya yang disimpen memang sesuatu yang “berarti”. Di level yag lebih tinggi, ada “penderita” yang doyan menyimpan bahkan barang barang bekas seperti botol sampo, bungkus sabun atau rongsokan yang secara logika, sulit dimengerti dimana nilai historisnya. Hiii.. untunglah gw belum sampe segitunya..  Malahan sekarang, banyak hal yang kira-kira berdampak gak baik untuk psikologis, saya buang.  Hehehe..

Manusia selalu punya kenangan akan masa lalu, baik dan buruk. Tapi tidak semua kenangan itu harus dikenang, kan? Memori otak manusia kan lebih hebat dari komputer, tidak ada bekasnya pun masih bisa tetap terlacak meskipun tanpa media-media pengingat seperti diatas. 🙂

 

Hits: 911

Sekitar dua minggu lalu ada satu kejadian yang mungkin bisa jadi salah satu kejadian paling buruk dalam hidup saya.  Baru kali itulah, saya bener-bener diintimidasi dengan perkataan yang sangat sangat merendahkan dan mungkin benar-benar menghina saya sampai titik terendah. Gak perlu  diceritain sebab musababnya, namun yang membuat saya bersyukur orang orang terdekat mendukung dan membesarkanku sepenuh hati dengan sangat obyektif memandang semua yang menjadi latar belakang terjadinya hal tersebut.  Meskipun kemarahan sudah di ubun atas semua asumsi yang melenceng ke saya, pengen rasanya labrak orangnya, pengen ngamuk, pengen bales ngata-ngatain dengan ucapan-ucapan yang sama sadisnya, pengen maen fisik dan semua-muanya.. Tapi Alhamdulillah, saya kuat untuk nyaris tidak bereaksi apa-apa. Buat apa juga ditanggapin dengan serius, perdebatan tidak akan menyelesaikan apa-apa. Berargumen pun rasanya tidak perlu. Energinya sudah habis, selama ini udah capek dengan semua yang terjadi.

Biarlah apa yang ada di pikirannya tentang aku, seperti apa yang dia pikirkan.

Bukan dia penentu benar salah satu masalah.  Meskipun sakit akibat perkataan itu berefek ke fisik saya yang nyaris drop selama tiga hari. Its really mentally abuse.  Sakitnya bukan karena “ditinggalin” tapi karena kata-kata yang ternyata memang lebih tajam dari belati.  Ah sudahlah, finally timbangan salah bener dan ganjaran yang pantas untuk kita (sebagai manusia) terima itu, udah ada yang ngatur.  Seorang sahabat hanya berpesan kecil tapi menohok; “jangan kotori tangan lu dengan balas dendam ya, vik.. “ .. dan saya pun menangis. 🙁

Ini cuma catatan kecil kehidupan. Apapun yang terjadi, baik buruk, up and down, semua ada hikmahnya. Minimal bisa jadi bahan perenungan dan introspeksi untuk menjadi orang yang lebih baik.. Amin..

 

Hits: 1005

Putus cinta itu biasa, sakit hati itu biasa, kecewa itu biasa. Yang tidak biasa adalah kalau didalamnya ada perlakuan penghinaan yang menjurus ke abuse.

Kali ini saya ingin menulis topik yang agak serius.  Kekerasan pada perempuan. Weitss, jangan berpikir saya mendadak sudah jadi ahli gender atau malah feminis ya, ini jadi semacam bahan alert saja buat kita perempuan bahwa ada porsi-porsi hal-hal atau “perlakuan menyakitkan” yang biasa kita terima sebenernya sudah masuk kategori women abuse.  Bahwa pelecehan itu tidak hanya fisik, tetapi juga ada yang sifatnya verbal. Oke, chek this out, girl!

Dari hasil googling, saya mendapatkan beberapa terminologi tentang topik ini.  Deklarasi PBB tentang anti kekerasan terhadap perempuan pasal 1, 1983 menyebutkan women abuse adalah; Segala bentuk kekerasan berbasis jender yang berakibat atau mungkin berakibat, menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap perempuan ; termasuk ancaman dari tindakan tsb, pemaksaan atau perampasan semena-mena kebebasan, baik yang terjadi di lingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi. Literatur lain menyebutkan kekerasan pada perempuan sebenarnya terdiri dari beberapa bentuk yaitu; Physical abuse, emotional or psychological abuse, Sexual abuse, Economic or financial abuse dan Spiritual abuse.

Oke, karena ini bukan diktat kuliah, gw mau bicara yang kedua aja dari sekian kategori di atas, yaitu emotional or psychological abuse khusunya yang terkait dengan verbal abuse.

Siapa yang tidak pernah disakiti? Siapa yang tidak pernah kecewa dan dikecewakan? Apalagi soal cinta.. Hemm, nggak hidup namanya kalau gak pernah disakiti, entah itu oleh pasangan (suami atau pacar) atau bisa jadi adanya perlakukan tidak menyenangkan dari orang-orang lain di sekitar kita.

Khusus untuk orang yang kita sayangi tanpa sadar sebenarnya kita sering sekali mengalami yang namanya “abuse” dari level kecil hingga level tinggi. Sering sekali timbul kata-kata yang dasarnya menghina, merendahkan atau menyudutkan perempuan yang kemudian atas nama cinta semua itu kita tolerir dan dianggap biasa. Lebih buruknya lagi, hampir semua laki-laki yang melakukan itu, sering tidak menyadari kalau perlakukan mereka itu sebenernya sudah masuk kategori verbal abuse.  Akibatnya tindakan yang sama  terus saja berlangsung dan terus saja dimaklumi dan dimaafkan.

Contohnya gimana sih?

Gini, kalo ada laki-laki yang sudah menyinggung masalah fisik, usia, pengalaman masa lalu, derajat sosial, latar belakang keluarga dan sejenisnya untuk mengukuhkan eksitensi diri dia (lebih dari kita), pembenaran atas suatu kesalahan atau sebagai argumen dari sebuah peristiwa dan sejenisnya dengan kata-kata yang tidak sopan dan merendahkan, itu adalah abuse. Konkritnya seperti ada perkataan seolah-olah saya tidak pantas untuk sesuatu hal (baca: urusan percintaan) karena sesuatu hal menyangkut diri saya. Dan seterusnya, dan seterusnya…

Kata beberapa rujukan yang saya baca, reaksi yang emosional yang timbul biasanya: shock, rasa tidak percaya diri, marah, malu, menyalahkan diri sendiri, kacau, bingung bahkan sampai histeris. *hemmm,.. I think I’d been there :D* Ungkapan kata-kata lebih kejam dari pedang mungkin pantas buat topik ini. Tidak selalu kekerasan itu menyangkut fisik, mental yang dirusak itu lebih parah akibatnya dari sekedar luka fisik .

Namun dari sisi lain, perempuan juga harus bisa mengintrospeksi BISA jadi abuse itu asal muasalnya karena sikap kita sendiri. Namun apapun masalahnya,  laki-laki yang baik, dewasa dan bertanggung jawab juga seharusnya “ngomong pake mikir”, berpikir jauh dan ke depan, bukan hanya meluapkan emosi dan mengeluarkan kata-kata tidak pantas.

Sayangnya, fakta menyebutkan pelaku abuse ini tidak memandang level pendidikan dan strata sosial, tindakan abuse sepertinya berakar dari karakter dan tingkat kedewasaan dan emosi psikologis pelaku.  Parahnya,  reaksi dan proses penyembuhan perempuan yang di-abuse pun bisa berbeda-beda tergantung bagaimana si perempuan menyikapi  dan berpikir akan hal tersebut. Tidak sedikit perempuan yang mengalami verbal abuse mengalami trauma berkepanjangan ibarat luka, sembuhnya sangat sulit.

Jika sudah ada di level yang membahayakan, sebaiknya perempuan juga tidak berdiam diri. Semua perempuan, terlahir cantik dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang berhak untuk menghakimi semua itu.

But dont forget, lets move on…hidup ini terlalu indah untuk mikirin orang yang sudah menyakiti bahkan yang sudah “abusing” sekalipun … (dont be blinded by love, my dear friend…)

Hits: 1134

Tulisan ini bukan dalam rangka membuat kesombongan atau pamer atau sejenisnya.  Gw juga gak terlalu menganggap ini sebagai sebuah kelebihan lebih tepatnya mungkin sebuah kebetulan. Eh, tapi apapun itu kan harus disyukuri ya. Alhamdulillah

Sebenernya awalnya iseng,  gw dari dulu sering banget menebak “kelangsungan hubungan asrama” teman-temanku.  Misal kalau ada temen yang memperkenalkan  pacar atau pasangannya ke gw, sering sekali gw bisa “melihat” kira-kira mereka berjodoh atau tidak tanpa harus berpikir panjang, hanya dengan melihat orangnya atau minimal fotonya. Lucunya “ramalan” itu nyaris gak pernah salah.  Bisa bisa ditebak, gw sering banget nerima kiriman foto gebetan, kecengan atau pacar teman-teman.  Tapi ini bukan contoh yang baik ya, secara percaya sama yang beginian kan bisa menjurus jadi dosa. So, kalo ada “pasien” , hal pertama yang gw sampaikan adalah: “jangan percaya sama gw”. Meski pun biasanya mereka akan datang kedua kali, entah karena ramalan pertama sukses ato mungkin niat iseng iseng doang. Atooo karena ngefans sama gw? Hemmm, yang terakhir sih wallahualam deh..  Aku sempat beberapa kali “meramal”  beberapa teman dan temannya lagi yang sudah hampir menikah, sudah siap semua tapi karena  terawang gw bilang “kayaknya gak deh… “ , kok jadi kejadian beneran. Heemm, okelah..itu semua cuma kebetulan (anggap saja begitu).

Read More

Hits: 846

Kata orang kerjaan itu seperti halnya jodoh, kadang meski kita yakin banget cocok sama satu kerjaan bisa jadi belum tentu bertahan lama. Atau ada kerjaan lain yang sebenernya di awal “ogah-ogahan” dijalani, ternyata itu yang terbaik.   Begitu juga yang terjadi dengan gw. Ini adalah pekerjaan kedua (eh, atau ketiga yaaa) yag berhubungan dengan pemerintahan.  Setelah dari Aceh lalu sempet menclok setaun di Kementrian Keuangan sebagai lanjutan dari Aceh dan akhirnya disini.  Setelah “kemana-mana”, finally tanpa proses yang panjang dan berbelit-belit setidaknya sampai pertengahan tahun ini gw akan stay disini.

Gak ada yang baru, pekerjaan yang nyaris sama dengan yang sudah-sudah; ngutak ngatik data, nulis, meeting dan meeting. Tapi sepertinya makin kesini, gw makin merasa kuat di bidang ini. Pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, memberi rekomendasi berdasarkan data dan menulis dengan gaya bahasa sederhana agar orang awam pun mengerti. Its my passion already!! Love it!!

Orang-orangnya pun begitu, sebagian besar malah rekan-rekan kerja lama dengan di Aceh dulu. Menyenangkan. Bedanya adalah tentu saja tantangannya lebih baru, tugasnya juga membutuhkan standar hasil yang lebih tinggi. Oya, yang baru lagi banyak barang “aneh” di kantor ini. Karena sayah ini orang kampung banget,  pas masuk sini gak tau gimana cara make coffee maker. Hahahahha..

Tapi, anyway..  bismillah..harus yakin kalau bisa. Beda yang lain apa yaah? Hmm.. keknya banyak perubahan di gw, udah agak berkurang hobi “hore-hore”, pecicilan dan petakilan kayak dulu.  Pengaruh makin “tua” kali ya, boo. Yah, meskipun makin lama hidup gw udah makin mengarah ke “autis” semoga tetap bisa “care” sama lingkungan sekitar dan yang paling penting bisa menghasilkan hasil kerja yang membanggakan.. 🙂

Keep up the good work, everyone!!

Hits: 567

Akhirnya memang ada yang harus ditinggalkan..

Ada sesuatu yang berubah, ada sesuatu yang berbeda

Gakpapa, ini pasti akan lebih baik..

Kenapa harus menahan sesuatu yang keliatannya indah dan baik baik saja,

Tapi di dalamnya penuh keganjilan dan kepura-puraan yang tidak sengaja terus dijalankan.

Semu..

Tidak mudah ketika, rasa lebih berperan dari logika.

Ketika usaha fisik tidak mampu mengalahkan psikis

Tapi, mau dibolak balik bagaimanapun, ternyata ada kuasa yang lebih berkuasa dari keinginan dan harapan dan cita-cita..

Kata Aa Gym: semuanya ada takdirnya, sesuatu ada waktunya, segala ada hikmahnya

God put people in your Life for a reason & removes them for a better reason..

*yang ga kelar-kelar juga*

Hits: 669

Minggu lalu seorang teman bilang: tau gak penyakit generasi muda yang paling parah sekarang ini? Gw pikir awalnya apa, eh.. ternyata jawabannya: penyakit takut kehilangan sinyal ponsel!  Wkakakak.. Bener banget!!

 

Baru-baru ini gw  memenuhi panggilan interview untuk sebuah pekerjaan di pedesaan di Pulau Kalimantan. Ketika pewawancara menjelaskan deskripsi pekerjaannya, ia juga memaparkan kondisi lokasi pekerjaan tersebut dengan sebuah peta. Tidak ada yang terpikirkan pertama di otak gw, kecuali spontan bertanya: “Sinyal handphone disana, bagus gak, pak?” Beliau pun menjawab: ya, dari tujuh desa lokasi proyek sebagian besarnya memang tidak mendapat sinyal yang bagus”. Wekss,..tiba-tiba aku menjadi ilfil dengan pekerjaan tersebut meskipun benefit yang ditawarkan keliatannya lumayan.  Bayangin aja, kalo GSM pun susah gimana dengan GPRS? Apakabar twitter dan BBM? Hahahah.. Ke laut aja deh.. *penting yah?*

Dua tahun lalu, gw juga pernah ditugaskan di kementrian yang (katanya) paling keren di negeri ini. Kami menempati lantai 20 gedung terbaru lembaga itu di bilangan Lapangan Banteng, Jakarta.  Karena gedungnya sangat baru, katanya penguat sinyal selular memang belum dipasang. So, hampir setahun hidup di lantai 20, rasanya benar-benar seperti fakir sinyal. Kalau perlu sinyal harus turun dulu minimal ke lantai 15. Mau ngobrol lebih panjang yaa, silakan turun lagi ke lantai lobi. Saat itu gw merasa gak hidup di Jakarta. Lebay, yah?

Cerita temanku lain lagi. Dia pernah bekerja di remote area perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kalimantan sana. Lebih sinting lagi untuk ketemu sinyal harus mendayung sampan dilanjutkan dengan mendaki sebuah bukit. Kemudian berteriak : Eurekaa!! , saat bar penunjuk sinyal di handphone  menunjukkan pergerakan. Sedih banget gak sih, boo ??

Setelah banci kabel, sekarang banci sinyal. Yah, kalo buat yang tinggal di kota besar sih mungkin nyaris gak ada masalah.  Biar begitu masih  ada aja keluhan pelanggan selular saat ada gangguan jaringan yang bikin blankspot atau  gak dapet akses data minimal GPRS . Kalo udah begini, siap-siap deh semua operator dicaci-maki. Lucunya kalo diperhatikan iklan-iklan selular saat ini yang disorot justru VAS (Value Added Service)-nya seperti layanan data sosmed, internet dan beberapa konten lain.  Hmmm, mungkin emang udah masanya kesana kali yee..karena dianggap ketersediaan jaringan sudah memenuhi  dan tuntutan pasarnya emang kesana. Gitu ya?!  Kali…… Padahal ada segmen pasar lain yaitu mereka yang sering kerja maupun pelesiran ke pedalaman  dimana kadang-kadang sinyal masih jadi masalah. Apalagi yang pake nomor dari operator-operator baru yang belum tentu sudah membangun BTS hingga ke pelosok.

Btw, sekali-kali sebenernya gak ada salahnya loh, hidup tanpa handphone, tanpa sinyal.  Rejeki gak bakal kemana deh, gak usah takut ketinggalan berita dan banyak hal manakala gak pegang handphone. Sekarang gw lagi mencoba untuk itu, meskipun hanya pada saat-saat tertentu. Asal jangan balik ke masa telpon umum koin ajah.. 😀

Hits: 747