Minggu lalu, saya bersama seorang teman menghabiskan  akhir pekan di Bandung. Sekedar refreshing.  Kebiasaan ini seperti sudah umum bagi sebagian orang Jakarta. Bandung memang  tujuan wisata yang murah, meriah dan tidak begitu jauh dari Ibukota. Lebih lebih sejak Tol Cipularang dibuka sekitar tiga tahun lalu. Bandung pun semakin dekat.

 

Lucunya, untuk rute kembali ke Jakarta, kami memilih menggunakan kereta. Yes!! Saya sendiri emang rada norak, karena belum pernah seumur-umur naik kereta jarak jauh yang punya embel-embel kereta eksekutif. Hihihi…. Kereta Bandung-Jakarta yang kami pilih adalah Argo Parahyangan yang berangkat pukul 12.00 siang dari Stasiun Bandung.  Bayangan kereta yang sumpek dan tidak nyaman (seperti KRL yang sering saya tumpangi), sama sekali hilang. Argo Parahyangan  kelas eksekutif sangat nyaman. Dari kursinya, kebersihannya, pelayanannya dan ketepatan waktu berangkatnya. Namun bukan itu, yang mau saya ceritakan. Bonus lain yang kita dapatkan dengan membayar Rp 80 ribu saat akhir pekan atau Rp 60 ribu saat hari biasa, adalah pemandangan alam yang sangat indah, terutama sepanjang jalan Bandung-Purwakarta. Komplit-lah, dari sungai, gunung, sawah, rumah rumah penduduk desa yang eksotis ditambah lagi jembatan jembatan dan rel tua peninggalan belanda membawa nuansa baru dalam perjalanan itu.

Saya pikir, memang sebagian nyawa kereta ini didesain dengan konsep kereta wisata, karena di beberapa spot unik, kru kereta akan menjelaskan deskripsi daerah tersebut. Belum lagi, jalannya memang terhitung pelan untuk kereta eksekutif (hingga 3 jam perjalanan).  Sayangnya, sejak Cipularang dibuka, peminat kereta ke Bandung memang berkurang karena munculnya berbagai travel dan bis yang lebih terjangkau. Mungkin PT KAI bener-bener harus lebih serius merombak positioning kereta ini menjadi kereta wisata.

So, buat yang lagi cari alternatif perjalanan yang unik.. Ini bisa dicoba loo!

Hits: 1830

Kalau yang keseringan ganti-ganti status di bbm itu, ABG alias anak umur belasan hingga awal 20an, gw maklum. Nah ini, emak emak beranak tiga yang dikit-dikit ganti status untuk menunjukkan keeksisan dirinya.

http://images.kontan.co.id/v2/detail_kartun_benny/72

Rasanya kok ajaib banget.  Gini nih, contoh status yang biar dibilang eksis: “Vonny, Santi begitu yee kalian ninggalin gw ngumpul2”.  Tidak berapa lama berubah lagi: “Duh, gak usah gitu deh von,..biasa aja, kan ntar ada gw.. hahaha* Selang kurang dari sepuluh menit : “Bye, girls.. Ntar kapan2 ngegosip lagi yee”.   Kalo satu dua-kali sih gakpapa. Nah ini… mampus lo…kurang dari 30 menit bisa ganti berkali-kali.  Bikin tulisan yang bernada ngobrol kok di status? Gak langsung aja di grupnya (kalo ada) atau di orang yang dituju? Maksudnya apa ya? Buat seseruan gitu? Biar keliatan eksis dan banyak temen? Trus apa bener kalo niatnya begitu, maksud dan tujuannya tercapai? Gak ngerti saiah.. *tepok jidat*

Duh, ini belum mereka dengan status selalu galau. Saya coba berpikir positif mungkin emang bbm adalah wilayah untuk menggalau. Oke oke aja. Cuman ya mbok, yaa.. Gak usah sering-sering atuh galaunya, ya kan? Ada juga yang demen banget mencurahkan isi hati cinta-cintaannya kepada seseorang. Kalo isinya itu-itu aja, jangan heran lo akan dicap manusia alay bin lebay.

Itu baru penyakit ganti status. Salah satu temen bbm saya paling doyan ganti foto. Herannya fotonya jarang stok baru. Itu itu saja yang diputer-puter gantian dipasang.  Dengan intensitas penggantian bisa 2-3 kali dalam 30 menit, tentu saja aktivitas ini juga patut dipertanyakan. Maksudnya apa yah? Sumpah seperti yang banci status, logika saya juga belom masuk. Misal stok foto yang diganti-ganti adalah foto dengan pasangan, tujuannya biar dikomenin sama orang gitu? Emang ada yg komen? Gw yakin kalo keseringan akan lebih sering dapet cibiran daripada komen. Masih urusan di urusan percintaan, gak sedikit orang yang demen meng-capture pembicaraannya dengan pasangannya yang menurut gw pribadi, menjadi display picture mereka. Seperti gini : Sayang hujan nih, aku rindu kamu| Iya, sayang.. aku juga makin hujan makin rindu| Met bobo ya, sayang…sleep well nice dream| *emoticon lope lope*. Again, maksudnya apa?  Biar orang tau gitu kalian pasangan romantis? Hadeuh.. ntar kalo berantem atau putus, bikin status galau lebih rempong lo, boo..

Meski BBM  notabene ranah pribadi,  menjaga “kenyamanan” mereka yang ada di contact list kita adalah hal yang wajib dilakukan. Kalau mau sering-sering ngasih kata2 indah dan motivasi lebih baik gunakan twitter, semakin bagus kata-kata Anda, semakin banyak follower yang merasakan manfaatnya.   Meskipun di twitter juga tetap ada etika yang wajib dijaga seperti halnya bbm.  Kalo mau nulis status bernada ngobrol, sungguh gak ada gunanya di forum umum yang gak semua kenal dengan elo. Mending langsung aja dong ke orangnya, kan? Again..sekali dua kali gakpapa, namanya juga manusia kan kadang-kadang pengen tampil, tapi kalo keseringan? *Siap siap aja gw delete*

Etapi.. ngomong-ngomong ya.. sebenernya kalo sering-sering ganti status, foto dan sejenisnya itu bisa jadi indikator kalau kita agak kurang kerjaan. Iya gak sih? Wah..kalo gitu gw sama dong,-meski gw juga demen ganti foto dan status (gak sampe alay.. boleh dicek)- gw juga sebenernya kurang kerjaan..karena sempet-sempetnya mengamati bahkan memonitor aktivitas update orang di bbm. Pisss!! Hahahahaha..

Hits: 2043

RIP- our mouse, Mr. Luke Skywalker 2009 – 2011. He was a good mouse and a great friend to Natalya

 

Itulah sepenggal status Facebook  Lisa,  adikku yang bermukim di Amerika Serikat pagi ini.  Tertawa geli rasanya, karena Luke yang “meninggal” hanyalah seekor tikus putih peliharaam putrinya. Tadi pagi saya sempat menelpon Lisa dan berbicara dengan Natalya, putri kecilnya yang berumur tujuh tahun. Dengan suara yang lemah dan sedikit isak tangis, bule kecil itu mengatakan : Ibuk. My mouse was passed away yesterday.  Agak absurd dan terdengar lucu, Saya pun bingung mau merespon bagaimana,  dia juga hanya menjawab “yes.. ketika saya bertanya: are you sad?  Saya sendiri sebenernya kurang paham apa padanan kata “passed away” alias wafat cocok digunakan untuk seekor tikus? Entahlah…

Lain di Amerika, lain di Indonesia.. Musim hujan dengan kondisi cuaca yang sangat tidak  menentu membuat lingkungan rumah rawan akan penyakit. Minggu lalu saya melakukan pembasmian tikus besar-besaran di rumah saya di Bogor.  Meski saya senang bebersih rumah dan benci dengan kejorokan, pengerat yang satu ini masih saja sering eksis tanpa dosa dan menggerogoti apapun yang ada di dapur.  Bukan hanya makanan tetapi juga beberapa jenis wadah wadah plastik.  *Hmmm, gak tau rasa plastik gimana, belom nyoba.. Enak kalii yee.. * Kerugian material itu kadang tidak sebanding dengan kotorannnya yang sering juga sering nangkring di bagian belakang rumah.  Duh, rasanya benciiiiiiiii banget sama hewan yang satu ini.

Berbekal racun tikus berwarna hijau metalik yang saya beli di pasar Bogor, “perang” ini pun dimulai.  Sengaja saya pilih racun dibanding jebakan tikus yang bisa membuat kita dengan mata kepala sendiri melihat si tikus menjadi pesakitan.  Saya meletakkan “barang berbahaya” tersebut di beberapa tempat strategis yang diyakini sering dilalui tikus-tikus. Racun menyerupai makanan itu, rupanya menarik perhatian para tikus, terbukti dalam beberapa hari tanda-tanda “kedatangan” mereka tidak saya temui lagi. Namun jeleknya, ada “korban” yang terkapar alias tewas dengan sukses di  tempat tempat tertutup yang akhirnya menimbulkan aroma yang sangat luar biasa. Haduuh, binatang ini memang keparat.. Hidup ngerepotin, mati lebih ngerepotin. Saya  yang dasarnya sangat takut dan jijik sama hewan ini (jangankan yg sudah jadi bangkai, yang masih bernyawa aja sangat menyeramkan buat saya), sempet bingung bagaimana membuang jenazah tikus itu.  Untunglah di komplek saya ada seorang bapak tua yang sangat multitasking alias bisa dimintain tolong untuk mengerjakan apapun, termasuk membersihkan bangkai tikus ini.  Thank God.

Nun jauh di Amerika sana, keponakan saya menangis sesegukan melepas kepergian tikusnya. Walau jenis tikusnya berbeda, disini saya tertawa bahagia karena berhasil membuat tikus-tikus saya pergi. Anomali sekali. Mungkin juga yang di Amerika itu tikus bule, jadi wajar kalau disayang-sayang. Sementara yang disini tikus kampung, jelek, item dan bau, jadi wajar kalau dimusnahkan. Hihihi.. Apapun itu, yang jelas rumah saya untuk sementara bebas tikus. Gak tau juga, kalau di habitat aslinya mereka sedang melakukan regenerasi dan berniat melakukan penyerangan kembali.  Let See… 😀

 

Hits: 1711

Tempat merenung bagi setiap orang, bisa jadi berbeda. Di kamar tidur, di taman, di tempat-tempat sepi bahkan di kloset.  Tapi akhir-akhir ini saya punya kebiasaan beda, merenung di bis. Yah, perjalanan Jakarta-Bogor atau sebaliknya menjadi waktu yang sangat leluasa buat melamun (baca: merenung). Untungnya bis bis ke Bogor sangat cozy dan nyaman buat aktivitas ini. Kadang disambi dengan ber-bbm ria dengan teman-teman  ditemani earphone yang setia menancap di kuping.

Dalam perjalanan antara 1-2 jam tersebut, banyak sekali yang saya dapat. Memandangi jagorawi yang lurus seolah tak berbatas kadang menimbulkan keyakinan dan kepercayaan bahwa apapun  masalah yang terjadi pasti  ada akhirnya meskipun Nampak seolah tak berujung.   Di sini juga, sering lahir ide-ide kreatif yang kemudian menjadi rencana kegiatan besok hari.  Bahkan beberapa tulisan di blog ini, juga lahir dalam perjalanan yang  awalnya ditulis pada ponsel, atau terkadang  ngetik di iPad kalo lagi gak pegel . Terus terang , di bis saya juga suka melamun.  Kata beberapa temenku,  persis kayak syuting video klip karena di kuping backsound-nya pasti lagu-lagu mellow dan kadang-kadang secara gak sadar aku juga sering lypsinc sendiri (hihihi). Kalo diliat penumpang lain, pasti mereka pikir saya sedang desperado 😀  Walau begitu, saya juga sering mendengarkan musik terapi Quantum Ikhlas yang benar benar menenangkan dan selalu bikin tertidur.

Ada lagi, bergabung dengan sekian banyak orang yang tidak kita kenal di bis menumbuhkan rasa bersyukur yang dalam. Penumpang dengan beraneka ragam model dan datang dari berbagai lapisan ekonomi membuat kita melek kalau kita “lebih” dari mereka.  Misal ada ibu-ibu dengan tiga anak balita plus barang bawaan yang penuh, keliatan repot sekali tanpa ditemani suaminya.  Yang kepikir di saya: “duh.. kalo ntar gw punya anak segitu banyak, gak bakal deh mau naik kendaraan umum sendirian plus bawa anak-anak”.  Rempong.  Selain orang-orang kantoran yang berbaju rapih dan bergadget canggih, di bis juga akan sering kita temui para seniman alias pengamen. Di bis Bogor biasanya pengamennya keren-keren, gak modal kantong bekas aja buat nampung duit, tapi punya dasar nyanyi dan musik yang lumayanlah.  Terhibur.  Lebih dari itu banyak pelajaran tentang perjuangan hidup yang saya peroleh dari mereka. Saat kita sedang capek sepulang kantor, menghadapi macet dan kondisi-kondisi lain yang tidak bersahabat, ternyata perjuangan  “mencari nafkah” itu, belum seberapa dibanding mereka-mereka itu.  Itulah hidup, terkadang pilihannya memang tidak pisah dipilih, tetapi dijalani.

Dimana pun, termasuk dalam perjalanan,  makna senang, sedih, susah bisa kita hayati karena pada dasarnya setiap hari kita butuh waktu untuk bermeditasi. Secara teori mungkin meditasi dilakukan di tempat yang sunyi dan tenang. Namun buat saya, di bis pun bisa. Tinggal bagaimana kita menciptakan suasana itu. 🙂

Hits: 1790

Masih oleh oleh dari liburan panjang tiga hari karena Natal, saya mencoba kembali rajin berolahraga dengan judul “jalan pagi”. Seperti biasanya, di seputaran Sempur dan Kebun Raya Bogor setiap hari minggu dari pukul 6 hingga 10 pagi ditutup bagi. kendaraan bermotor. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberi ruang berolahraga dan menikmati sejuknya pagi bagi masyarakat Bogor.

 

Namun, bukan orang Indonesia namanya,  kalo ada keramaian tanpa ada lapak jualan. Begitu juga di Bogor Car Free Day ini. Lapangan Sempur yang harusnya dipenuhi orang-orang yang yang melakukan senam massal justru padat dengan segala macam barang dagangan. Tidak hanya makanan untuk sarapan namun pakaian, sepatu, mainan anak, stand cicilan motor bahkan hewan piaraan pun dijual disini.Harganya pun murah-murah. Walau sedikit “melenceng” dari niat awal berolahraga, acara ini bisa jadi alternatif  mengisi akhir pekan yang unik.  Badan sehat, barang-barang lucu nan murah pun didapat.

Mau ikutan? Yukk ditunggu di Bogor..

 

 

 

Hits: 742

Saya memang sangat jarang menulis ulasan tentang film. Selain karena saya bukan seorang movie freak, terkadang muncul perasaan gak pede kalo baca resensi-resensi orang yang (katanya) profesional dan ahli di urusan ini. Di blog ini, saya hanya pernah menulis beberapa hal soal film yaitu;  nonton India, laskar pelangi dan kite runner

Namun karena momennya istimewa yaitu bertepatan pada peringatan tujuh tahun tsunami saya ingin membagi pengalaman dan perasaan saya akan film berjudul Hafalan Shalat Delisa yang baru saja saya tonton tadi sore. Film ini diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Tere Liye. Terus terang, saya sendiri belum pernah membaca novelnya. Niat utama menonton film ini karena saya masih merasa punya keterikatan batin yang cukup dalam dengan Aceh sejak sempat bekerja disana.

Saya sempat membaca resensi film ini di beberapa situs hasil googling, seperti yang berikut ini. Yah, mungkin secara sinematografi film ini kurang terasa gregetnya, keliatan masih kurang disana-sini. Bukan bagian saya deh, untuk mengomentari hal berbau “teknikal” begitu. Namun, di beberapa sisi yang bisa ditangkap oleh penonton awam seperti saya, saya pun merasa ada hal yang kurang pas seperti dialek Aceh yang sangat kurang dalam hampir semua dialog. Gambaran tentang bencananya pun kurang banyak terwakili dan terkesan dibuat seadanya. Barak pengungsian, tentara-tentara asing, pekerja kemanusiaan nampaknya memerlukan riset yang mendalam untuk menggambarkan bagaimana bencana besar dunia 2004 lalu meluluhlantakkan Aceh. Setting-nya pun “sangat kurang Aceh” , buat para penonton yang tinggal atau pernah ke Aceh pasti merasakan perbedaan ini. Baik dari sisi lokasinya, gambaran masyarakatnya dan kultur daerahnya. Setting ini sangat saya sayangkan, karena alam Aceh sangat indah, idealnya film ini dapat menggambarkan hal itu dan bisa menjadi media bagi promosi the New Aceh.

Upss.. tapi tunggu dulu, terlepas dari beberapa kekurangan diatas, saya pribadi merekomendasikan film ini dengan sangat. Tema keikhlasan yang diangkat mampu memancing emosi penonton apalagi kalau yang menonton masyarakat Aceh sendiri. Saya menghargai upaya keras pembuat film ini untuk melahirkan sesuatu yang beda yang menggiring kita untuk bersyukur, tidak putus asa dan mengambil hikmah dari sebesar apapun peristiwa yang terjadi pada kita. Oke, apapun itu.. film ini ditayangkan pada saat yang tepat yaitu di masa liburan anak sekolah dan menjelang peringatan tujuh tahun tsunami. Terbukti di Botani 21, Bogor seluruh kursi hampir terisi penuh di setiap show.

Satu lagi yang pasti saya sangat menikmati film ini, karena saya merasa pernah menjadi bagian daerah Aceh dan tsunami-nya dan tentu saja karena saya yakin masih menyisakan satu bagian dari hati dan perasaan saya untuk Aceh karena bangga dan bersyukur pernah menjadi bagian dari perubahan Aceh yang lebih baik.

Hits: 793
http://remaja.suaramerdeka.com

Ini curcol soal kejenuhan dengan seseorang. Kejenuhan itu ternyata efeknya buruk banget saudara-saudara.. Hemm…cerita darimana ya, yang gak berkesan alay, drama atoo “gampangan’? Oke. Gini deh, punya temen dekat dengan yang terpisah jarak geografis itu ternyata membuat jenuh. Kita beriteraksi melalui telepon dan sms setiap hari. Hampir tidak ada bagian dari hari-hari masing-masing yang luput dari obrolan-obrolan kita. Awalnya sih baik baik saja, karena memang pertemuan alias copy darat memang belum bisa dijadwalkan dalam waktu dekat. Sungguh sulit. Namun seminggu terakhir, kebosananku sudah sampai di ubun-ubun, dan dampak dari situ jelek banget. Kangen kali sebenernya asal muasalnya. Aku menjadi sangat sensitif, emosional, curigaan dan gak pernah nyaman dengan apapun yang ia lakukan. Bodoh sekali ya.. Tapi kenyataannya memang begitu.. Hiks..

Tiba-tiba saja hal yang sebelumnya bukan masalah pun menjadi masalah dan tiba tiba juga aku jadi sangat capek sama semua ini. Aku sebenarnya juga terganggu dengan sikapku sendiri, apalagi dia!! Awalnya dia berusaha santai dan semua dibawa becanda, tapi aku gak puas dengan respon begitu dan akhirnya bersikap seperti mengintimidasi.  Akhirnya jadi ribut karena semua jadi emosi. Gak tau deh, kalo ditinjau dari sisi psikologis ini masih masuk kategori normal apa gak.

Cuman yang jelas aku belajar dari sini, sebuah hubungan apapun nama dan bentuknya tapi terpisah karena jarak itu sangat tidak mudah. Komunikasi yang katanya jadi kunci semua interaksi manusia ternyata tidak selalu mempan digunakan pada semua kondisi. Pantas saja, Islam mewajibkan ada silaturahmi secara langsung. Kata hadits, silaturahmi itu memperpanjang umur. Dan emang bener, mau dibawa santai, digampangin atau gak dipikirin sekalipun, jarak itu merupakan satu kendala yang besar.  Kalo stress karena ini, emang bakal bikin cepet mati! Tidak ada yang lebih berharga dari pertemuan fisik. Semua tips yang sering didengungkan di artikel, media komunikasi dengan teknologi tinggi sekalipun tidak bisa menggantikan arti nyata kehadiran seseorang.

Dan aku nyaris menyerah untuk ini..

Hits: 640

Sebenernya gue agak anti nulis yang berbau-bau moral. Secara katanya batas moral-immoral, dosa -gak dosa itu makin absurd. Takut salah, berkesan sok suci, sok alim ato malah ntar dicap mo bikin aliran baru. Hahahaha.  Karena isinya agak-agak sensi, buat kalian yang gak setuju, tinggal bilang aja: emang urusan lo?  Suka suka gw dong..kan gak mengganggu hidup lo.. Prettt..Terserah elo dah, Gakpapa kok! Intinya ini cuma tulisan perempuan yang (lagi) labil tentang fenomena dosa gak bukan dosa yang makin absurd ajah. Terserah gw juga, kan.. blog..blog gw.. dan gak usah khawatir semuanya anonim kok.. :p

http://www.squidoo.com

Gue abis blog walking ke blog seorang wanita karir hebat di Jakarta, masih muda tapi sudah punya posisi cukup keren di sebuah perusahaan bergengsi. Gw pikir gak perlu gw kasih link-nya. Males bener kan, promosiin blog orang. Hahahahaha.. Secara blog model begini berhamburan di dunia maya. Jadi si cewek ini, sangat gamblang bercerita soal seks. Tentu saja dengan polesan dan gaya menulis seorang perempuan berpendidikan, cerdas, mature dan mapan. Jadi bikin gw atau temen temen gw yang “agak bodoh” bisa tertarik bahkan setuju dengan pendapatnya.  Untung gw masih lumayan pinter (ehmmm), untuk bisa berpikir dengan cara gw sendiri. Komen di blognya pun macem-macem. Dari yang sok bicara soal moral, agama, pake hadits, dsb, dsb.. sampe yang mendukung dengan ceria. :D. Lucunya dia sempat menjawab sebuah komen dengan bilang : ‘saya muslim, sedang menamatkan Al-Quran dan berencana naik haji. Gubrakk..

Lanjut cerita berikutnya ini seorang temen gw, yang “tiba tiba” hamil sebelum menikah. No Wonder sih, secara dia emang hidupnya memang terbiasa bebas ria “berpasangan” tanpa ikatan  pernikahan. Hebatnya dia bangga loooo..sama kehamilan di luar pernikahan itu, bahkan sempet nyindir temen lain yang sudah lama menikah tetapi belum hamil-hamil juga, kalo dia dan pasangannya “lebih tokcer”.  Kalo liat “penampakannya” di depan umum sih, waduh..sangat religius banget. Kata-kata menyangkut Tuhan selalu terselip dalam omongan dan tulisannya.  Ambigu.

Tunggu, jangan protes dulu! gak ada yang salah.. Gw sangat mahfum, kehidupan kota besar Jakarta ini sudah banyak mengubah pola pikir dan perilaku manusia akan soal empat huruf yang jaman nenek moyang kita dulu hal sangat tabu untuk dibicarakan di muka umum.  Gue yakin dua contoh,  diatas orang baik baik di lingkungannya yang pasti dicintai para kerabatnya. Gw sendiri tetap harus obyektif menilai orang tidak dari satu sisi dan menghargai apapun “pilihan” jalan hidup orang.

Tapi sebagai blogger yang nyinyir… *cengengesan* Gimana ya, mau komennya..asli gw takut salah. Gw gak bilang gw ini suci. Ampun Tuhan.. gw juga masih punya tabungan banyak dosa. Yang bikin gw bingung adalah ternyata dosa pun sekarang definisinya bergeser.  Pendapat si eksekutif muda bahwa seks bukan hal tabu untuk dibicarakan, karena pada dasarnya seks juga perlu edukasi: gw setuju banget.  Tapi kok gw kurang setuju dengan status dia yang single dia dengan gamblang menceritakan kehidupan seks dia? Pasti diantara yang baca ini akan jawab: “lebih baik gitu dong, daripada munafik.. keliatan di depannya “alim” tapi dalemnya lebih “garang”. Oh, jadi makna munafik juga sudah berubah yah? Cckckck..  Silakan cari definisi munafik di KBBI ato kalo kalian yang muslim, buka buku pelajaran Agama Islam SMP tentang definisi munafik.  Nah buat kasus kedua, yaa kurang lebih sama deh. Lebih parah malah yang satu ini. Karena dia berhasil mengecoh orang dengan tampilan religius dia. Hahahhah.. Emang sih, jaman sekarang pendalaman agama sama tingkah laku orang gak berbanding lurus. Buktinya.. eh, katanyaaa.. masih ada aja pemuka agama yang berbuat tidak pantas. Katanya looh…katanyaaa.. *takut disomasi*

Tapi dasarnya gw masih orang yg primitif untuk menanggapi dua kasus diatas dan Thank God..Alhamdulillah gw masih ada disana. Semoga ini Alhamdulillah yang “sesuatu yah” alias yang bener bener Alhamdulillah. Buat gw seks itu bukan hal tabu. Yang tabu dan perlu dipikirkan adalah tempat untuk membicarakannya, siapa yang membicarakannya dan kapan saat yang tepat untuk diperbincangkan. Dan sama sekali tidak penting untuk mengumbar kehidupan seks pra nikah di muka publik. Masih ada kosa kata “malu” yang harusnya kita miliki.

Sekali lagi bukan gw sok suci, sama aja dosa mah..dimana-mana ada ajah *nyengir* Dengan posisi status yang single gw merasa sangat tidak pantas untuk membicarakan hal tersebut di forum umum apalagi “membanggakannya”. Silakan kalian men-judge gw munafik. Gak bisa gw pungkiri, urusan yang berbau moral dan dosa sekarang ini warnanya macem-macem tergantung penafsiran masing-masing orang. Dan itu sejatinya tidak ada yang bisa disalahkan. Tapi buat gw -yang orang kampung masuk kota ini- masih ada yang mutlak ini Dosa dan itu Bukan Dosa.  Masih ada yang saklek hitam putih, bukan abu-abu. Jadi ketika kita “tergelincir” melakukan itu, ya tobatlah.. insyaf.. bukan malah dibanggain dan diceritain sama semua orang. Dan seks menurut gw masuk ke kategori itu. Kalo yang jelas jelas tidak pada tempatnya dan kita tau itu  DENGAN PASTI bukan hal yang pantas (baca: dosa) masih juga kita berargumen untuk mendebatkannya hemm.. enak banget jadi manusia ya, gak perlu pertanggungjawaban horizontal.

Hehehehe..just a small thought dari orang yang masih banyak dosa.   Kalo ada yang salah-salah maaf ya, saya ini lugu, naif, labil dan suka gak jelas.  Semoga ntar gak ada yang ngebandingin sama dosa korupsi yang banyak dilakukan orang penting negeri ini dan ngeles dengan dalil; mending begitu daripada korupsi yang merugikan negara. Atoo komen yang bilang: gakpapa dong, yang penting gw bertanggung jawab. Upss gw setuju banget tuh dengan kata-kata tanggung jawab, tapi gw yakin kalian yang hidup dengan budaya Timur ini pasti menentang hati nurani kalian sendiri. Ato sudah gak juga? *salaman deh kita kalo gitu…. 😀

Hits: 1087
http://www.zazzle.com

Gak tau kenapa, bawaannya kalo nelpon operator yang satu ini, mau marah aja..  Sebenernya  cerita di bawah ini sudah terjadi kurang lebih setahun yang lalu, sempat saya kirim ke Surat Pembaca di DetikCom, tapi entah kenapa gak dimuat.  Karena barusan terjadi lagi kejadian yang nyaris serupa, saya inget lagi deh, surat ini, iseng posting aja ke blog sendiri.

——

Sejujurnya kalau tidak terlanjur benar-benar kesal dengan pelayanan Telkomsel, saya tidak akan menulis surat ini, apalagi saya sudah menggunakan Telkomsel (Kartu Halo) sejak 2004. Terhitung sejak Mei/Juni 2010 saya tidak menerima tagihan Telkomsel. Tapi waktu itu saya belum komplain, karena saya pikir terlambat 1-2 bulan masih wajar. Hingga Agustus belum juga ada tagihan, saya disarankan untuk mengganti ke sistem e-bill.  Namun sayangnya tidak terkirim juga hingga September, padahal saya sudah melakukan registrasi via sms. Setelah dicek, kata CS Telkomsel belum terdaftar. Maka saya pun melakukan registrasi ulang.  Namun anehnya hingga Oktober juga belum dikirim.

Saya sudah berkali kali menelpon 111, dan menanyakan status pengiriman bill tsb. Petugas mengatakan belum ada status dari kurir, menurut saya ini aneh sekali  kurir macam apa yang dipake Telkomsel sampe kiriman 3 bulan sebelumnya kok belum ada status ?!! Sekitar bulan September-Oktober 2010, saya sempat ke GRAPARI Bogor. Saya diberi tahu status tagihan yang tidak sampai (periode Mei-Juli 2010) ternyata menurut Telkomsel udah diterima tapi oleh pihak/orang yang menerima sama sekali tidak saya kenal (alias bukan penghuni rumah saya)

Saya juga SELALU dijanjikan untuk dikirimkan ulang hardcopy-nya (by kurir) untuk tagihan tagihan yang belum saya terima sebelum ebill berjalan. Mulai dijanjikan dari waktu 3 hari, 7 hari hingga 1 bulan, tapi belum juga diterima.  Tentang e-bill yang belum saya terima pun, CS 111 pernah menjanjikan hal yang sama dari pengiriman 1×24 jam, 3 hari kerja hingga 7 hari kerja. Semuanya tidak ada realisasinya. Ketika saya tanyakan apakah ebill tsb bisa dikirim manual alias sendiri-sendiri per pelanggan diluar batas billing cycle-nya, -khusus untuk pelanggan yg belum menerima tagihan spt saya-? Jawabannya pun berbeda-beda.  Pada Sept-Oktober 2010, CS 111 menyatakan BISA. CATAT BISA! ! Sementara pada Nopember 2010, petugas yang lain mengantakan TIDAK BISA, harus menunggu periode pengirimannya alias gelondongan dengan pelanggan lain.  Gak jelas banget!!

Saya sangat sudah bosan dengan pernyataan CS Telkomsel yang selalu mengatakan; AKAN DILAPORKAN ke pihak TERKAIT, akan dilakukan pengecekan, akan dilakukan tindak lanjut, mohon bersabar…bla..bla..bla..

Ya, kalo masih 1-2 bulan saya rasa wajar, tapi kalo hampur 6 bulan? Saya pikir Telkomsel TIDAK SERIUS dalam hal ini. Saya mengerti, Telkomsel sebagai market leader di industri Telekomunikasi di Indonesia mempunya jutaan pelanggan yang harus di-maintain satu perasatu. Tapi apa begini caranya??? Jangan “membodohi” pelanggan dengan alasan perbaikan pada sistem, ingat pelanggan juga bisa mengerti soal sistem. Ini masalah manajemen kerja Anda.

Akhirnya kasus saya ini selesai di Desember 2010, saya mulai rutin menerima tagihan. Tapi anehnya di rumah saya hampir tiap bulan ada tagihan untuk penghuni rumah ini sebelumnya, tanpa ditanya dulu apa benar ybs masih berdomisili disana. Tidak heran juga kalau banyak tagihan tidak sampai, karena kurir melempar begitu saja tagihan ke teras atau halaman rumah, yang sering kena panas dan hujan apalagi saat penghuni rumah tidak ditempat, bukan memasukkan baik baik di bawah pintu saat penghuninya tidak ada. Jadi wajar kalo pada kasus saya diatas, nama yang dikonfirmasi oleh kurir ke Telkomsel tidak saya kenal sama sekali, karena itu memang dikarang-karang saja oleh kurirnya.

Semoga Telkomsel lebih SERIUS melayani pelanggannya!

 

Hits: 705
http://jilbablovers.wordpress.com

Kata kata di judul itu sering banget kebaca atau kedenger dari cerita cerita orang. Sebagai orang yang berhijab, kadang agak merasa sedikit terintimidasi dengan kata-kata itu. Kesan yang gw tangkep karena berjilbab tiba-tiba kita gak boleh berbuat salah atau menyimpang sedikit. Jaman dulu, kalo ada teman yang baru berjilbab, banyak yang ngasih selamat atas “hijrah” yang ia lakukan. Padahal aneh banget tuh kata gw, ada muatan dimana berjilbab seolah-olah membuka dunia baru yang seakan membatasi ruang gerak yang sudah ada.  Padahal gak sama sekali tuh,..kata gw taat sama perintah agama (berhijab) tidak selalu linear dengan baik buruknya sikap seseorang. Itu dua hal yang berbeda. Ok,..lanjuttt dulu…

Here we go.. Gue berjilbab sejak 2007 menjelang akhir setelah beberapa bulan kerja di Aceh. Yes, Aceh!!  secara emang disana perempuan muslim wajib menggunakan pakaian islami. Asli bukan ikut-ikutan kewajiban itu, karena jauh sebelumnya sempet udah punya niat bahkan waktu masih kuliah di IPB yang dulu sering diplesetin menjadi Institut Pesantren Bogor. Tapi lagi-lagi aku gak mau karena latah melihat teman temanku yang hampir semuanya sudah berhijab, masih banyak pikiran yang bersifat racun waktu itu. Seiring berjalannya waktu, pikiranku juga makin terbuka dan keinginan itu semakin kuat di tahun 2005-2006. Beberapa kali sempat tercetus dihati, kalau Allah mengabulkan untuk dapet kerjaan baru, Insya Allah aku berjilbab. Dan…. Juli 2007 aku bener bener dapet kerjaan baru di Aceh yang di kemudian hari memberi pengaruh besar dalam hidupku. Kayaknya kelewatan kalo gw gak bener-bener melaksanakan niat (nazar) itu.

 

Read More

Hits: 1099

Dalam perjalanan ke kampus menumpang sebuah kendaraan umum beberapa waktu lalu, gw sempat mendengar lagu dangdut yang syairnya begini:

awalnya aku cium-ciuman
akhirnya aku peluk-pelukan
tak sadar aku dirayu setan
tak sadar aku ku kebablasan

ku hamil duluan sudah tiga bulan
gara-gara pacaran tidurnya berduaan
ku hamil duluan sudah tiga bulan
gara-gara pacaran suka gelap-gelapan

Gila, langsung aja berasa shock banget dengan syair yang to the point dan tanpa tedeng aling-aling begitu, tapi herannya lagu itu keinget terus di memori gw. Setelah diselidiki.. *upsss.. ketauan gw penggemar dangdut neh*, banyak juga lagu dangdut lain yang serupa dan parah abis.

Read More

Hits: 808
yes…got the ticket!!

Kegilaanku terhadap Laskar Pelangi (LP) dan Andrea Hirata tahun 2007-2008 lalu, aku pikir sudah berakhir sejak filmnya dirilis diikuti dengan film Sang Pemimpi di tahun 2010, ternyata belum tuh.. Gue mengoleksi semua buku Andrea Hirata hingga yang terakhir (Sebelas Patriot) dan tentu saja Tetralogi Laskar dan Pelangi serta buku kembar Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas serta beberapa buku tulisan pengarang lain yang ada bau-bau Laskar Pelanginya. Ah, gw sempet gila gara gara Bang Ikal ini. Jadi inget pertama kali hunting dia di Unsyiah awal 2008 lalu. Gue juga sempet ngeblog tentang ini, di beberapa tulisan gue; Nonton Buku Baca Film, Sekte Penyakit Gila, Laskar Pelangi The Movie is Coming dan My Maryaman Karpov. Bahkan tanpa sengaja gw juga pernah ngopi bareng Bang Ikal ini di sebuah warung kopi di Banda Aceh pertengahan Maret 2011. Dibayarin pulak!!

Fenomena buah tangan Andrea Hirata ini ternyata tidak berhenti sampai disini saja, tahun 2010 mulai digagas pementasannya dalam bentuk drama musikal. Yah, gw emang ketinggalan nonton di putaran pertama. tapi ternyata pertengahan tahun ini, ada lagi dong… dan meski di detik detik terakhir, gw sempetin juga nonton dengan @rpoppy. Kesan gw: speechless dan amazing.. dan gw nangis aja gitu di adegan pertama ketika Bu Muslimah dan Pak Arfan menunggu 10 murid untuk memulai sekolahnya. . Kesan lain, Dira Sugandi (@dirasugandi) berhasil memerankan Ibu Muslimah dengan suaranya bikin merinding. Secara gw ngefans banget sama Dira. Anak-anak yang main pun sangat natural, suranya bagus, tata panggungnya keren dan mereka semua nyanyi live dengan olah vokal yang..yaa ampun,..gw pasti malu kalo ikut karaokean sama mereka.. Hihihih… Pementasan di Taman Ismail Marzuki (TIM) yang (kalo gak salah) sampai dua minggu dengan rata-rata 2 show per hari itu, sukses berat. Nyari tiketnya kalo gak buru buru susaah, penonton selalu penuh bahkan gak sedikit yang nonton lebih dari sekali. Padahal harga tiketnya gak bisa dibilang murah, wong yang paling bawah Rp 150.000 per seat (Rp 100.000,- pada saat presale) hingga Rp 500.000,- Gue aja dapet tiketnya dari orang yang batal nonton dan itu untung dapet!!

Eh, tau tau dapet kabar..awal Oktober ini Musikal LP diundang pementasan dalam rangka Pesta Raya-Malay Festival of Arts di Esplanade Singapura , salah satu gedung pementasan paling besar di Asia. Dua bulan sebelum itu, lagi lagi bersama @rpoppy, planning pun disusun. Alhamdulillah, gw dikasih rejeki dan waktu buat mampir kesana buat nonton LP dengan atsmosfir Esplanade yang lebih megah dibandingkan TIM, Jakarta. Daan gilaaaa… theatre dengan kapasitas 2000 orang itu penuh!! Penontonnya pun mayoritas orang Singapura. Seperti biasa, gw tetep mewek di adegan menunggu 10 murid, meski setelah itu ngakak abis ngeliat tingkah Kucai yang kecil, kerempeng , jahil tapi luwes banget dan punya suara yang mantap!! Aduh, dek.. (eh, nak..) kamu latihan nyanyi dimana sih?? Tante ikutan dunk… 😀 Tidak ada bagian yang berbeda dengan pementasan Jakarta bahkan propertinya pun nyaris sama, gw pikir bisa jadi sepeda ontel dan kaleng kalengnya juga dibawa dari Jakarta. Hehehehe..

Dengan harga tiket S$28 atau kira kira setara Rp 200.000, Laskar Pelangi Musikal di Esplanade ini, kata gue.. kereennnn bangettt.. Apalagi, gw dapet duduknya di tiga baris pertama yang bisa ngeliat para pemain dari jarakkk sangatttt dekat… Kalo di Jakarta untuk kursi di posisi itu harga tiketnya bisa jadi sampe Rp 500 ribu! Denger denger dari temen, pemerintah Singapura sangat mendukung acara pagelaran seni seperti ini, makanya dapet subsidi.. Hehehhe.. silakan Anda bandingkan dengan pemerintah Indonesia, negara kita tercinta ini.

Udah gak tau mau me-review apalagi. Pemainnya keren, ceritanya oke, panggungnya bagus, musiknya luar biasa,..hanya sayang lampu pelanginya macet gak nyala. Setelah selesai pertunjukan yang total lamanya hingga 3,5 jam itu, penontonnya ber-standing applause nyaris nonstop hingga tiga menit. Bukti bahwa hasil karya anak bangsa bisa diterima tidak hanya di Indonesia. Bangga aja gitu sama Indonesia. Selamat untuk Laskar Pelangi.

Hits: 1131

source: http://blogalwafa.blogspot.com/

Lima tahun lalu, dalam sebuah interview pekerjaan saya ditanya : what would you be in next five years? Kala itu saya perlu berpikir 20 detik sebelum akhirnya menjawab: saya ingin jadi manajer.  Beberapa hari lalu saya ditanyakan hal yang sama dan tanpa berpikir panjang saya jawab : I wanna be a mom yang kemudian saya tegaskan menjadi  “a working mom”  yang disambut dengan tertawa oleh para interviewer. So far, saya belum mencapai sepenuhnya jawaban saya lima tahun lalu, tapi Alhamdulillah saya pernah dan sedang duduk di posisi manajerial, meski gak tinggi tinggi amat dan masih banyak ruang yang bisa saya perjuangkan, tapi saya sudah bersyukur.

Mungkin saya gak sekonsisten Andrea Hirata yang sejak kecil memang sudah bercita cita kuliah di Sorbonne, Perancis atau gak segigih Iwan Setyawan penulis Nine Summer Ten Autumns yang cuman punya satu cita cita yaitu punya kamar tidur pribadi hingga ia mencapai posisi Direktur di sebuah perusahaan kelas dunia di New York.  Tapi buat saya perubahan itu wajar termasuk perubahan cita cita. Waktu masih kecil cita cita saya malah ingin jadi dokter hewan karena keluarga saya, pencinta binatang yang memelihara banyak hewan di rumah Lulus SMA lucunya malah saya nyaris tidak punya cita cita dan terdampar di Fakultas Perikanan, IPB.

Jawaban terakhir tadi, mungkin dipicu  saya yang sudah mulai bosan dengan ambisi pekerja kantoran pergi pagi, pulang malem demi eksistensi diri. Saya sudah tidak punya banyak keinginan untuk jadi manajer besar apalagi direktur.  Saya masih perempuan biasa yang tidak  ingin kebablasan dengan istilah emansipasi. Masih pengen jadi Ibu, ngurus suami, anak-anak, mencoba resep ini-itu, sibuk dengan belanja bulanan  dan harga sembako yang terus naik dan ngomel ngomel sama suami yang pulang telat. 😀  Biar begitu, saya masih selalu ingat pesan Ibu saya bertahun-tahun lalu bahwa apapun alasannya,  seorang perempuan, ibu, istri harus tetap bekerja produktif yang menghasilkan uang. Ada fungsi “jaga jaga”  disini, kita tidak bisa memastikan masa depan rumah tangga dari sisi ekonomi salah satunya jika suami kehilangan penghasilan utama. Kalau bukan istri yang menopang, siapa lagi?!  Ini kejadian di keluarga saya, ayah meninggal dunia di usian 40an saat kami anak-anaknya masih dalam usia sekolah yang butuh biaya banyak, sementara keluarga tidak punya tabungan apalagi asuransi yang cukup.

Sekarang buat saya, mengamalkan, menggunakan dan menyebarluaskan ilmu yang saya punya untuk kepentingan banyak orang itu sudah luar biasa. Malah kepikir kalau sudah lebih mapan secara ekonomi saya ingin punya kegiatan sosial yang membantu anak anak putus sekolah. Kasian di jalan masih banyak anak-anak yang “dipaksa” mencari nafkah di jam-jam yang harusnya mereka duduk manis mendengarkan gurunya.  Semoga yang ini akan tercapai dalam lima tahun ke depan, Amin. Sumpah, ini bukan cita cita sok  idealis,..tapi masih sungkan dan malu aja kalo diomongin di sebuah interview kerjaan. Pun kata orang, kalo ada niat baik, katanya pamali belom apa apa sudah bilang kemana mana. *loh..kok ditulis di blog?* Hehehehe

Apapun itu, semoga lima tahun ke depan saya menjadi manusia yang berguna buat orang lain. Amin..

Hits: 657


Yihaaaa.. Ini beneran gak bermaksud pamer dan saya juga sama sekali gak pernah ditunjuk jadi brand ambassador-nya Apple. Agak ketinggalan juga kali yee..tapi seneng buanget..karena Ssstt…dan bocorannya ini juga gratisan.. Hahahaha.. Jadi itu lebih membuat bahagia. Sutralah, gak penting asal usulnya.. yang penting sekarang berasa makin eksis aja dengan iPad2 keren bersarung warna hejo ini.

 

 

Karena stok iPad 2, 3G lagi kosong dimana-mana dan setelah dipikir pikir aku tidak terlalu perlu online di iPad tiap saat, aku pilih yang Wifi saja. Toh, hidup saya lebih banyak di kantor yang pasti ada wifi-nya. Yah, emang sih kalo di kantor atau di kampus pasti ketemu wifi. Nah, gimana ngakalinnya biar tetep bisa konek saat berada di lokasi tanpa wifi? Tentu saja adaa.. saya beli Modem 3G wifi yang sekaligus berfungsi sebagai router. Produknya kecil mungil dan bisa dikantongin.

Produk ini sih emang masih baru, tapi kalo diitung itung beli iPad wifi plus modem 3G tadi jatuhnya malah lebih murah dibanding beli iPad 3G. Saya juga punya pertimbangan lain, yaitu pengiritan biaya internet. Saya sudah terbiasa menggunakan modem USB biasa dengan 1 kartu selular unlimited untuk internet. Kalo saya pakai iPad 3G, itu berarti saya butuh 2 kartu, karena menjadi tidak praktis kalau harus mindah-mindahin kartu dari iPad ke Laptop. Apalagi simcard buat iPad itu harus dipotong dari ukuran aslinya (micro chip).  Dengan modem ini juga kita tetap bisa konek via laptop (bye bye modem USB), bahkan bisa dipake hingga 5 user..

Niatnya sih, kalo punya iPad lebih rajin baca Ebook, cari informasi yang berguna buat kerjaan dan kuliah. Eh, ternyata gak tuh.. dalam seminggu ini, aku sangat sibuk mengunduh berbagai macam game dan macem macem aplikasi sosial media. Wah, gak bener nih.. tapi emang sih pada dasarnya iPad tidak bisa menggantikan fungsi laptop, akhirnya seperti juga sekian juta umat Indonesia, iPad ini Cuma bagian dari life style. Yaah, bahasa kerennya buat gaya-gayaan doang. Toh gw (masih) males tuh cari artikel serius dengan iPad. Baca email juga seadanya. Aku masih berprinsip, yang serius serius itu dikerjainnya depan laptop, iPad apalagi BB itu hanya fungsi komplementer saja.

Hadoohh..sekarang saya mendadak sibuk ngajarin Mama maen angry bird dan make Skype buat liat cucunya di Amerika..

 

Hits: 759